Jurnal Online Universitas Katolik Parahyangan / Parahyangan Catholic University Journal
Not a member yet
3954 research outputs found
Sort by
Toleransi Beragama sebagai Penghormatan pada Pluralitas Quidditas Manusia: Telaah Pemikiran Nicholas dari Cusa
This article aims to explore Nicholas of Cusa’s views on religious tolerance based on a reading of his work De Pace Fidei. There are some of his ideas that might be useful in the context of religious tolerance. A dialogue among various religious beliefs is one way to find the common ground. For Nicholas, ratio is the way to unify diverse religions, because by nature humans have a desire to know truth, wisdom and God. He believes that the power of ratio is at the same time a belief in the universal grace of God. Nicholas concludes that the purpose of interreligious dialogue is to affirm “uno religio in rituum varietate.” People worship “the same God” in various rites, and different rites are tolerated because through them humans are active and creative in their ways to arrive at the Divine. The basis of Nicholas’ religious tolerance lies in respect to the plurality of unique individuals. He tolerates the plurality of religious rites to a certain degree insofar as they adhere to certain universal principles and live in harmony as expressions of belief in the “One” and bases such plurality on the ontological plurality of human beings
PERAN PERTANIAN DALAM MENURUNKAN KEMISKINAN DAN KETIMPANGAN PENDAPATAN DI NEGARA BERKEMBANG KAWASAN ASIA TIMUR DAN PASIFIK
Negara-negara berkembang di Kawasan Asia Timur dan Pasifik merupakan daerah padat penduduk dengan kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Sektor pertanian merupakan alat pengentasan kemiskinan di wilayah ini. Oleh karena itu, penelitian ini akan membahas kontribusi sektor pertanian terhadap pengentasan kemiskinan di negara-negara berkembang di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Pengentasan kemiskinan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pertumbuhan nilai tambah pertanian, nilai tambah pertanian per kapita, jumlah penduduk pedesaan, persentase total tenaga kerja di bidang pertanian, pangsa perempuan dalam angkatan kerja pertanian, pangsa pendapatan/konsumsi kuintil terendah, dan produktivitas pertanian (penggunaan lahan pertanian dan pupuk). Penelitian ini menggunakan data panel dengan teknik regresi data panel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produktivitas tenaga kerja pertanian, kontribusi perempuan dalam angkatan kerja pertanian, dan ketersediaan lahan pertanian dapat mengurangi kemiskinan di kawasan Asia Timur dan Pasifik
Pendidikan Literasi Keuangan Siswa SD Menggunakan Game-board “Petualangan Anak Pintar”
Dalam kurikulum SD sudah terdapat pendidikan ekonomi, hitung keuangan, dan kewirausahaan di dalam pelajaran IPS atau Matematika, sebatas pengetahuan. Namun pendidikan literasi keuangan bagi anak usia dini lebih sesuai dilakukan sebagai upaya pembiasaan/pembudayaan “good habit”. Maka peneliti memandang perlu Pendidikan Literasi Keuangan bagi siswa SD untuk ditambahkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan dilakukan oleh siswa kelas IV, V, VI di 5 SD Kota Bandung pada periode September-November 2021. Menggunakan game-board “Petualangan Anak Pintar”, permainan monopoli yang mengakomodasi 4 aspek pendidikan literasi keuangan. Selain siswa dapat belajar juga merasakan kegembiraan, di sini mahasiswa pendamping atau guru ikut berinteraksi dalam prosesnya. Kemampuan membaca-menulis-berhitung para siswa yang memadai menjadi prasyarat penting untuk melakukan permainan. Dalam mendukung pendidikan literasi keuangan di sekolah diperlukan fasilitas sejumlah game-board “PAP” yang mencukupi, dan peran mahasiswa pendamping
Pembelajaran Berbasis Proyek STEM “Water Level Sensor” Dalam Mendukung Penguatan Profil Pelajar Pancasila Pada Kurikulum Merdeka
Pengabdian ini bertujuan untuk memperlengkapi guru melalui Pelatihan Pembelajaran Berbasis Proyek STEM untuk memperkuat Profil Pelajar Pancasila dalam kerangka Kurikulum Merdeka. Pengabdian ini dilakukan di SMA Katolik Yos Sudarso Karawang dengan membawakan topik STEM yaitu merancang sensor alarm gempa dalam pembuatan Smart City. Hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah guru dapat menerapkan pembelajaran berbasis STEM pada pembuatan Smart City untuk memperkuat Profil Pelajar Pancasila dalam kerangka Kurikulum Merdeka. Dengan mengintegrasikan proyek ini, siswa terlibat dalam pembelajaran interdisipliner yang mendukung siswa mampu bernalar kritis, mandiri, gotong royong, dan kreatif. Pendekatan ini direkomendasikan sebagai strategi dalam pelaksanaan kurikulum guna mempersiapkan siswa menghadapi tantangan masa depan dan menanamkan nilai-nilai Pancasila.
Keywords: Kurikulum Merdeka, P5, Pembelajaran Berbasis Proyek, STE
Erosi Demokrasi: Memikirkan Ulang Keberadaan Oligarki dalam Melorotnya Perwujudan Demokrasi di Kolombia Pasca-Perang Saudara hingga 2022
Nowadays, the democratization process is often hampered not by power struggles, but by the presence of \u27invisible hands\u27 (certain organizations, elites, and groups) that penetrate the government structure and disrupt the circulation of democratization in a country. This case occurred in the Colombian government, where there is a specific pattern of nonstate social order - companies, political elites, mafia, and so on - that influences the government structure of a country, and plays the role of power behind the official government. This causes an issue that affects the lives of the Colombian people and government, namely the existence of mafia elites who infiltrate various aspects of society, including the law and government of Colombia itself. The research method used is qualitative descriptive based on data collection through books, journals, articles, and other reliable sources. This paper aims to explain how the presence of mafia elites in Colombia affects the country\u27s democracy and civil society life using Robert Michels\u27 Iron Law of Oligarchy theory. The results of the study show that the existence of drug cartels uses power to make unilateral decisions by taking actions that ignore the official government and the voices of civil society, the dominance of elites and criminals by launching violence and repression for their own interests, and the apathy of the Colombian people towards the existing government system, seen from their indifference to the leaders elected during the election.
Keywords: democracy, elite, oligarchy, iron law of oligarchy, mafia, ColombiaDewasa ini, proses demokratisasi seringkali terhambat bukan lagi oleh gonjang-ganjing kekuasaan, namun oleh karena adanya ‘tangan-tangan tak terlihat’ (organisasi, elit, dan golongan tertentu) yang mempenetrasi struktur pemerintahan, dan mengganggu sirkulasi demokratisasi suatu negara. Kasus ini terjadi dalam pemerintahan Kolombia oleh karena eksistensi lembaga nonformal—perusahaan, elit politik, mafia, dan sebagainya—yang mempengaruhi struktur pemerintahan suatu negara, dan memainkan lakon-lakon kekuasaan di balik pemerintahan resmi. Terdapat sebuah isu yang mempengaruhi kehidupan rakyat dan pemerintahan Kolombia, yaitu keberadaan elit-elit kriminal yang menginfiltrasi berbagai aspek dalam masyarakat, termasuk hukum dan pemerintahan Kolombia itu sendiri. Penelitian ini mempergunakan metode deskriptif-kualitatif yang ditengarai oleh pengumpulan data melalui buku, jurnal, artikel, dan sumber terpercaya lainnya. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana kehadiran elit mafia di Kolombia mempengaruhi demokrasi negara dan kehidupan masyarakat sipil dengan menggunakan teori Iron Law of Oligarchy milik Robert Michels. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa adanya kartel narkoba menggunakan kekuasaan untuk mengambil keputusan secara sepihak dengan melakukan tindakan yang mengabaikan pemerintah resmi dan suara-suara masyarakat sipil, dominasi para elit serta kriminal dengan melancarkan sebuah kekerasan dan represi demi kepentingan sendiri, serta apatisnya rakyat Kolombia terhadap sistem pemerintahan yang ada, terlihat dari ketidakpedulian mereka terhadap pemimpin yang dipilih saat pemilu.
Kata Kunci: demokrasi, elit, oligarki, iron law of oligarchy, mafia, Kolombi
Seni sebagai Media Penyaluran Emosi bagi Remaja yang Mengalami Burnout
Seni kontemporer hadir di dunia abad 21 yang digital dan informasional. Seni menduduki tempat dalam yang disebut oleh Han Byung-Chul sebagai masyarakat pencapaian atau achievement society dengan keindahan digital yang serba memuluskan persepsi, didominasi oleh pola-pola konsumsi, dan menjauh dari keindahan natural yang bersifat Ilahi. Dengan menggunakan gagasan tentang festival dan kontemplasinya sebagai asal seni, tulisan ini hendak mengelaborasi bagaimana seni dapat menyingkap persepsi baru dengan cara memisahkan eksistensi kerja dan cipta. Melalui studi literatur, tulisan ini mendapati bahwa seni dengan daya ciptanya mampu memulihkan kemanusiaan supaya kembali berserah dan memberi ruang kepada Tuhan. Seni memunculkan kesunyian yang merupakan medium dari keindahan natural, sehingga manusia menjadi kembali terhubung dengan pengadanya (being) sendiri. Dengan demikian, seni dapat membantu memaknai kehidupan spiritual kontemporer secara berarti.Fase remaja merupakan fase di mana diri manusia mengalami banyak kemungkinan-kemungkinan tekanan baik dari dirinya sendiri seperti pencarian jati diri maupun dari luar dirinya dan orang lain. Tekanan-tekanan tersebut terkadang menjadikan remaja stres dan mengalami burnout. Burnout akhirnya memengaruhi emosi remaja, sekaligus fisik dan mentalnya. Salah satu penyaluran yang mungkin untuki menghindari keadaan tersebut adalah melalui media seni. Peran seni bagi remaja dapat dipusatkan sebagai salah satu media untuk melampiaskan emosi akibat dari burnout yang dihadapi dalam kehidupan mereka, lewat ekspresi-ekspresi remaja yang sedang dialami atau dirasakan. Seni sering kali dipercayai sebagai media yang dapat melakukan katarsis atau pelepasan dan penyaluran emosi bagi berbagai kalangan usia karena dalam penciptaan karya seni. Sehingga, ekspresi emosi yang sedang dirasakan remaja dapat dituangkan secara ekspresif. Remaja dapat merasakan peran seni sebagai terapi atau yang biasanya disebut dengan art therapy. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan berbagai media art therapy sebagai tinjauan utama. Di antaranya adalah media seni rupa, seni musik, seni tari, seni menulis, dan metode integrated arts
DARURAT DEMOKRASI: KRISIS KEADILAN DAN BIAS KEPENTINGAN
Democracy emergencies often become a phenomenon and issue in Indonesia. Responses to this issue are certainly very diverse. There are biases and prejudices directed at the state of democracy in Indonesia. At the concrete and practical level, democracy itself is a tool to achieve common goals. However, on the other hand, democracy is in an emergency condition because it has been used as a non-transparent tool, and democracy is even used as a means to perpetuate the pursuit of interests. This research aims to provide new discourse and insights into the crisis situation and democratic bias that is occurring, while also trying to find answers regarding the political role of citizens in overcoming the crisis. The method used in the activities is the qualitative discourse method through literature study, observation, and focus group discussion. (FGD). The research results indicate that the issues of demos and krator need to be returned to their essence, both conceptually and in practice, in the political life of the nation and state. Individuals who are called to enter the world of politics and run a democracy need to be accompanied by knowledge and experience (arête). The practice of democracy becomes effective when those involved in political decision-making are able to perform their duties and produce policies that do not lead to the common good. If placed in the context of Indonesia, Pancasila should become a source and inspiration for democracy that prioritises common interests and justice.Darurat demokrasi sering menjadi fenomena dan persoalan di Indonesia. Respon terhadap persoalan iini tentunya sangat beragam Ada bias dan prasangka yang tertuju pada kondisi demokrasi di Indonesia. Pada level konkret dan praktisnya, demokrasi sendiri merupakan suatu alat untuk mensukseskan cita-cita bersama. Namun di sisi lain, demokrasi berada dalam kondisi darurat karena telah dipakai sebagai alat yang tidak transparan, bahkan demokrasi digunakan sebagai alat untuk melanggengkan usaha mencapai kepentingan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan wacana dan insight baru atas situasi krisis dan bias demokrasi yang terjadi sekaligus mencoba mencari jawaban atas peran politik warga negara untuk keluar dari krisis itu. Metode yang digunakan melalui kegiatan adalah metode diskursus kualitatif melalui studi pustaka, observasi, dan focus group discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persoalan demos dan krator perlu dikembalikan pada suntansinya baika secara konspetual maupun praksis dalam pratik hidup politik berbangsa dan bernegara. Individu yang terpanggil untuk masuk ke dalam dunia politik dan menjalankan demokrasi, perlu diiringi oleh pengetahuan dan pengalaman (arête). Praktik demokrasi menjadi efektif apabila mereka yang terlibat dalam pengambilan keputusan politik mampu menjalankan tugasnya dan melahirkan kebijakan yang tidak mengarah pada bonum communae. Jika ditarik ke dalam konteks Indoensia, Pancasila hendaknya menjadi sumber dan inpirasi demokrasi yang mengedepanakan kepentingan dan keadilan bersama
RUANG INTERPERSONAL PENGGUNA TERKAIT AKTIVITAS IBADAH PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI MASJID AGUNG AL-UKHUWWAH BANDUNG
Abstract - The mosque is an architectural space that is essential, to accommodate various kinds of worship activities for Muslims. This worship activity refers to the arguments of Islam which are dogmatic and complex. The procedures and practices of worship, both prayer and non-prayer are already listed in the Quran and hadith. As well as worship activities that are recommended in congregation and stay in touch with each other. However, at this time the world is faced with a global reality, namely the Covid-19 pandemic which requires the implementation of the 6M protocol.
This situation is indicated to cause a shift in individuals\u27 perceptions of their personal space for activities. Because basically architecture doesn\u27t always talk about visible and touchable forms, but there is a three-dimensional space that is both invisible and untouchable. This three-dimensional space pivots on every architectural actor and is dynamic not static. This concept is called interpersonal space, and is used as a formal object in this research.
This research departs from observing user activity patterns at the Great Mosque of Al-Ukhuwwah Bandung during the Covid-19 pandemic which consists of two categories, namely, prayer activities and non-prayer activities. The observation process carried out with this behavior mapping method, records user activities before, during, and after Fardhu prayers, Friday prayers, Tarawih prayers, I\u27tikaf, as well as studies or lectures. The results of this recording are then justified by matrix data or questionnaire and interviews tables which are processed using the Likert scale method. These two data will determine whether or not the interpersonal space of users of the Al-Ukhuwwah Great Mosque will shift in carrying out worship activities during this pandemic.
The results of the analysis were carried out by answering two research questions. The results of this study indicate that at this time (omicron period) users tend to return to religious dogma. The dominant interpersonal distance in all worship activities is personal distance. In essence, at this time (omicron period) there is no shift in the interpersonal space of prayer, which still remains at a personal distance, while activities other than prayer have a backward shift of interpersonal space from social distance to personal distance. The purpose of this study was to explore and observe the distance between individuals regarding the concept of interpersonal space based on patterns of worship activities during this pandemic. In addition, the benefit of this research is to provide new knowledge about interpersonal space which is expected to achieve the privacy and personal level of each individual who carries out worship activities at the Great Mosque of Al-Ukhuwwah Bandung during the Covid-19 pandemic.
Keywords: Behavior Mapping, Interpersonal Space, Non-Prayer Activities, Prayer Activities Three-Dimensional SpaceAbstrak - Masjid merupakan sebuah ruang arsitektur yang sifatnya esensial, untuk mewadahi berbagai macam aktivitas ibadah bagi Umat Muslim. Aktivitas ibadah ini mengacu pada dalil-dalil Agama Islam yang sifatnya dogmatis dan kompleks. Tata cara dan laksana ibadah, baik itu salat maupun selain salat sudah tercantum di dalam Quran dan hadits. Seperti halnya, aktivitas-aktivitas ibadah yang dianjurkan secara berjemaah dan saling bersilaturahmi. Namun pada saat ini dunia sedang dihadapkan dengan realitas global, yaitu pandemi Covid-19 yang mengharuskan jemaah menjalankan protokol 6M.
Situasi tersebut diindikasikan dapat menyebabkan pergeseran persepsi individu terhadap ruang pribadi mereka beraktivitas. Karena pada dasarnya arsitektur tidak selalu membahas wujud yang kasat dan teraba saja, melainkan ada ruang tiga dimensional yang justru tidak kasat dan tidak teraba. Ruang tiga dimensional ini berporos pada setiap pelaku arsitektur dan bersifat dinamis, tidak statis. Konsep inilah yang dinamakan ruang interpersonal, serta dijadikan sebagai objek formal dalam penelitian ini.
Penelitian ini berangkat dari pengamatan pola aktivitas pengguna di Masjid Agung Al-Ukhuwwah Bandung pada masa pandemi Covid-19 yang terdiri atas dua kategori yaitu, aktivitas salat dan aktivitas selain salat. Proses pengamatan yang dilakukan dengan metode behavior mapping ini, merekam kegiatan pengguna sebelum, saat, dan sesudah salat Fardhu, salat Jumat, salat Tarawih, I’tikaf, serta kajian atau ceramah. Hasil dari rekaman ini, kemudian dijustifikasi oleh data matriks atau tabel kuesioner dan wawancara yang diolah dengan metode skala Likert. Kedua data ini yang akan menentukan bergeser atau tidaknya jarak ruang interpersonal pengguna ruang Masjid Agung Al-Ukhuwwah dalam menjalankan aktivitas ibadah di masa pandemi ini.
Hasil analisis dilakukan dengan menjawab dua buah pertanyaan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan, bahwa pada saat ini (periode omicron) pengguna cenderung kembali pada dogma agama. Jarak interpersonal dominan pada semua aktitivitas ibadah adalah jarak pribadi atau personal. Pada intinya, saat ini (periode omicron) aktivitas salat tidak ada pergeseran ruang interpersonal masih tetap berada pada jarak pribadi atau personal, sedangkan aktivitas selain salat ada pergerseran ruang interpersonal secara mundur dari jarak sosial ke jarak pribadi atau personal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali dan mengamati jarak antar individu terkait konsep ruang interpersonal berdasarkan pola-pola aktivitas ibadah pada masa pandemi ini. Selain itu, manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan pengetahuan baru mengenai ruang interpersonal yang diharapkan untuk mencapai tingkat privasi dan personal setiap individu yang menjalankan aktivitas ibadah di Masjid Agung Al-Ukhuwwah Bandung pada masa pandemi Covid-19.
Kata kunci: aktivitas salat, aktivitas selain salat, behavior mapping, ruang interpersonal, ruang tiga dimensiona
Cultural Fusion: The Impact of K-Pop on the Indonesian Perspectives and Identities: English
The growth of the South Korean entertainment sector, particularly K-Pop, has had a big influence on Indonesian identity and worldview. With its distinctive dance, music, fashion, and fan culture, K-Pop has shaped Indonesia\u27s younger generation and allowed for a shift in cultural preferences and ways of thinking. The purpose of this research is to examine how K-Pop has influenced Indonesian identities and viewpoints. This study clarifies how Indonesians\u27 perceptions of music, fashion, and other popular culture have been impacted by K-Pop\u27s widespread appeal. The diversity of music and fashion styles in Indonesia is also enhanced and broadened by the influence of K-Pop. But there has also been some discussion over how K-Pop has influenced Indonesian identity. According to certain viewpoints, K-Pop\u27s influence may change local preferences and threaten Indonesia\u27s cultural identity. On the other hand, some perspectives see K-Pop\u27s influence as a type of cultural globalization that can deepen and expand knowledge and appreciation of South Korean culture.
Keyword: K-Pop, Perspectives and Identities, Culture
Pertumbuhan sektor hiburan Korea Selatan, khususnya K-Pop, memberikan pengaruh besar terhadap identitas dan pandangan dunia Indonesia. Dengan tarian, musik, pakaian, dan budaya penggemarnya yang khas, K-Pop telah membentuk generasi muda Indonesia dan memungkinkan terjadinya pergeseran preferensi budaya dan cara berpikir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana K-Pop mempengaruhi identitas dan sudut pandang Indonesia. Studi ini melihat bagaimana persepsi masyarakat Indonesia terhadap musik, pakaian, dan budaya populer lainnya dipengaruhi oleh daya tarik K-Pop yang luas. Keberagaman gaya musik dan pakaian di Indonesia juga diperkuat dan diperluas oleh pengaruh K-Pop. Namun, terdapat juga beberapa diskusi mengenai bagaimana K-Pop telah mempengaruhi identitas Indonesia. Menurut sudut pandang tertentu, pengaruh K-Pop dapat mengubah preferensi lokal dan mengancam identitas budaya Indonesia. Disisi lain, beberapa perspektif melihat pengaruh K-Pop sebagai salah satu jenis globalisasi budaya yang dapat memperdalam dan memperluas pengetahuan dan apresiasi terhadap budaya Korea Selatan. Kata Kunci:
K-Pop, Perspektif dan Identitas, Budaya
The Hard Power Limitation: The Failure of Russia to Bring Back the Great Power Status
This journal provides a comprehensive examination of the evolving dynamics surrounding Russia\u27s rise in global power and the challenges it encounters in aligning with Vladimir Putin\u27s vision. By using the Smart Power concept, which uses military power and diplomacy to achieve goals on the international stage, it is known as "Smart power". We examine how Russia has become more dominant in the military, economic and energy sectors over the past 20 years. However, Russia\u27s influence is not as great as expected despite progress. Russia’s strong military capabilities could neither create fear of the enemy nor form friendship as it should. In addition, this country\u27s economy does not get the full benefits of alliances with other countries. Furthermore, Russia finds it difficultto build trust with other countries because Russia tendsto use violence ratherthan discussions disguised in diplomacy. This analysis reveals a complex picture of Russia\u27s future, highlighting the need to bridge the gap between hard and soft power in order to have a more unified and influential presence in the international stage.
Keywords: Russia, Hard Power, Soft Power, Military, Economy, Diplomac