Jurnal Online Universitas Katolik Parahyangan / Parahyangan Catholic University Journal
Not a member yet
3954 research outputs found
Sort by
ANALISIS SYARAT ADMINISTRATIF PROSES PEWARGANEGARAAN DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF PELAYANAN PUBLIK
Indonesia’s citizenship system offers three distinct pathways for applicants, each with unique administrative processes. These variations impact the agencies involved, the associated costs, and the implementation of citizenship procedures. This research aims to examine the differences in administrative requirements within Indonesia’s citizenship framework from a public policy perspective, as outlined in Law Number 25 of 2009 concerning Public Services. The analysis employs a juridical-normative approach to explain the administrative prerequisites for obtaining Indonesian citizenship. The findings highlight the need for transformative measures under Law Number 12 of 2006 concerning Citizenship, particularly by enhancing coordination among ministries and agencies to deliver more effective and efficient citizenship services
PEMANFAATAN POTENSI ARSITEKTUR RUMAH LIMASAN DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA BERKELANJUTAN DI KALURAHAN MANGUNAN – KABUPATEN BANTUL
Abstract - In the development of tourism villages, it is necessary to study the local potential that can be raised to empower the community, give a distinctive feature to local local tourism, while still emphasizing sustainable principles, including cultural preservation. Mangunan Village located in Bantul District – Yogyakarta Province has local Javanese architectural characters (including Limasan House Architecture) which can be appointed as one of the tourist attractions. For this purpose, documentation, studies of the condition of existing buildings, as well as studies of the potential and constraints of their use more broadly/long-term in supporting tourism. In addition, tourism development policies that have been implemented also need to be evaluated in order to improve the development plan of Mangunan Tourism Village.
Keywords: Tourism Village, Sustainable Tourism, Limasan Architecture, MangunanAbstrak – Dalam pengembangan desa wisata, perlu adanya kajian mengenai potensi lokal yang dapat diangkat untuk memberdayakan masyarakat, memberikan ciri khas pada wisata lokal setempat, dengan tetap menekankan pada prinsip-prinsip berkelanjutan, antara lain pelestarian budaya. Desa Mangunan yang terletak Kabupaten Bantul, Provinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) memiliki karakter arsitektur lokal Jawa (antara lain Arsitektur Rumah Limasan) yang dapat diangkat sebagai salah satu daya tarik wisata. Untuk mendukung hal tersebut, dilakukan pendokumentasian, kajian terhadap kondisi bangunan eksisting, serta kajian terhadap potensi dan kendala pemanfaatannya secara lebih luas/jangka panjang dalam mendukung pariwisata. Selain itu, kebijakan pengembangan pariwisata yang telah dijalankan juga perlu dievaluasi dalam rangka penyempurnaan rencana pengembangan Desa Wisata Mangunan.
Kata Kunci: Desa Wisata, Pariwisata Berkelanjutan, Arsitektur Limasan, Manguna
PENEMPATAN TURBIN ANGIN OPTIMAL UNTUK GEDUNG PUSAT PEMBELAJARAN ARNTZ-GEISE 2 UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN, BANDUNG UNTUK MENGHASILKAN ENERGI BERSIH SEPANJANG TAHUN
Abstract-In today’s climate condition, green building technologi is no longer a luxury but a necessity. Wind is one of the natural resources that we can harvest using wind turbines to generate clean energy. Unfortunately, winds that blows in cities on tropical countries tends to have less speed than ones that blows in other climates and areas. Fortunately, winds speed can be manipulated through building orientation and forms to produce high speed winds that can be used by wind turbines to generate clean energy. There are many wind phenomenons that occurs due to building orientation and form, some of these phenomenons are: Wind Tunnel Effect, Cumulative Effect, and winds on the peaks of buildings. Other than that, buildings that have sharp edges tend to produce higher wind speeds than those that have curved edges. Pusat Pembelajaran Arntz-Geise 2 (PPAG 2) UNPAR, Bandung is a building that can produce these 4 phenomenons in order to generate high speed winds through its form and orientation.
This evaluative research will analyze PPAG 2’s form againts winds that it will experience and evaluate where in the building are optimal spots to install wind turbines. The wind datas that will be used is a daily data throughout 2021. Those data will then be used as a base for wind simulations using the Computational Fluid Dynamics (CFD) Software. The results from the simulation will be analyzed to determine the optimal placements of wind turbines in order for PPAG 2 to generate clean energy year-round.
The result of this research says that all outer edges of PPAG 2 is suitable for wind turbine placements, along with the top of both towers and the bridge connecting the northern and souther tower.
Keywords: Wind Turbine, PPAG 2, placement, year-round, clean energyAbstrak- Dalam kondisi iklim dunia sekarang, bangunan yang hemat energi bukan lagi sebuah kemewahan tetapi sebuah kebutuhan. Angin adalah salah satu sumber daya alam yang dapat digunakan untuk menghasilkan energi bersih; akan tetapi pada negara tropis, angin yang bertiup di perkotaan mempunyai kececpatan yang sangat kecil dibanding angin di iklim dan kawasan lain. Untungnya, angin dapat dimanipulasi oleh bentuk bangunan untuk menghasilkan kecepatan yang tinggi agar dapat digunakan untuk menghasilkan energi bersih melalui turbin angin. Banyak fenomena angin yang dapat dihasilkan berdasarkan orientasi dan bentuk bangunan, beberapa dari fenomena itu adalah Wind Tunnel Effect, Cumulative Effect, dan Angin Puncak Bangunan. Selain itu, bentuk bangunan yang bersudut akan menghasilkan kecepatan angin yang tinggi. Gedung Pusat Pembelajaran Arntz-Geise 2 (PPAG 2) UNPAR, Bandung mempunyai orientasi dan bentuk yang dapat menghasilkan fenomena-fenomena tersebut untuk menghasilkan angin yang kencang.
Penelitian ini yang bersifat evaluatif akan menganalisa bentuk bangunan PPAG 2 terhadap angin yang akan dialaminya menilai penempatan turbin angin yang optimal pada gedung PPAG 2. Data angin yang akan digunakan adalah data angin sepanjang tahun 2021. Data tersebut lalu akan digunakan untuk mensimulasikan angin terhadap bangunan PPAG melalui software Computational Fluid Dynamics (CFD). Hasil dari simulasi akan dianalisa untuk menentukan titik letak turbin angin yang optimal agar bangunan dapat menghasilkan energi bersih sepanjang tahun.
Hasil dari penelitian ini mengatakan bahwa titik letak turbin angin yang optimal adalah pada semua sudut luar bangunan, area jembatan penyebrangan gedung selatan dan utara, dan pada puncak atap gedung utara dan selatan.
Kata-kata kunci: Turbin angin, PPAG 2, titik letak, Sepanjang tahun, Energi bersi
The Development of the Indonesian Football Industry and its influence Towards National Reputation
The Indonesian football industry has undergone significant transformation and growth over the years, making it a noteworthy aspect of the nation\u27s cultural and economic landscape. This paper explores the dynamic development of the Indonesian football industry and its profound influence on the country\u27s national reputation. It delves into the historical roots of football in Indonesia, tracing its evolution from a grassroots movement to a professional and commercialized sport. The analysis covers various facets of the football industry, including club competitions, player development, infrastructure investment, and fan engagement. Moreover, it examines how football has become a powerful soft power tool for Indonesia, enhancing its global image and fostering international diplomatic relations. The study underscores the multifaceted impact of the Indonesian football industry on national identity, pride, and diplomacy, illustrating its role as a pivotal driver of the country\u27s reputation on the global stage.
Keywords: Football, Indonesia, Nation, Reputation, Image
China on Preserving Energy Resilience: An Analysis of China’s Carbon Market System
The urgency of energy transition continuously presents itself in various conditions and situations. Within this article, the background used to visualize the problem is of how the energy transition could be achieved whilst still preserving energy resilience. The way to do so is through the implementation of an accurate and effective carbon market system. China, as one of the biggest contributors of energy and carbon emissions, has the urgency to implement said system. This article tries to analyze using the method of qualitative research through the carbon market effectivity—particularly within China\u27s Carbon Market System—that is purposefully one of the most significant efforts to urge energy transition, the issues that are disruptive and harmful towards the projection of results are analyzed. This article seeks to find the core problem and reasonings behind the ineffectiveness of China’s carbon market.
Keywords: Energy transition, energy resilience, carbon market, China, foreign affairsUrgensi transisi energi terus muncul dalam berbagai kondisi dan situasi. Dalam artikel ini, latar belakang yang digunakan untuk memvisualisasikan masalah adalah bagaimana transisi energi dapat dicapai sambil tetap mempertahankan ketahanan energi. Cara untuk melakukannya adalah melalui implementasi sistem pasar karbon yang akurat dan efektif. Tiongkok, sebagai salah satu kontributor terbesar emisi energi dan karbon, memiliki urgensi untuk menerapkan sistem tersebut. Artikel ini berusaha menganalisa dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui efektivitas pasar karbon - khususnya dalam Sistem Pasar Karbon Tiongkok - yang ditujukan sebagai salah satu upaya terpenting untuk mendorong transisi energi, masalah-masalah yang mengganggu dan berbahaya terhadap proyeksi hasil dianalisis. Artikel ini bertujuan untuk menemukan masalah utama dan alasan di balik ketidakberhasilan pasar karbon Tiongkok.
Kata Kunci: Transisi Energi, ketahanan energi, pasar karbon, Tiongkok, hubungan luar neger
Absensi Regionalisme di Asia Timur dari Perspektif Jepang
The absence of East Asian regionalism has become a problem along with the increasing political tensions and the competition for military power from the member countries of the region. However, the bright spot for the creation of regionalism is not increasingly emerging and instead Japan, China and Korea choose their respective allies in the uncertainty of this international political contestation. History proves the truth today, that disputing countries will not easily cooperate in the same forum unless assisted by a third party. In this case, ASEAN is a liaison through ASEAN+3 and from Japan\u27s perspective this situation is good. Cooperation between Japan and China, Japan and Korea and a mixture of the three often occurs bilaterally or non-bilaterally through ASEAN. Following the flow of the existing problems, a research question was formulated, "From a Japan perspective, why didn\u27t regionalism have been created in the East Asia region even though a regionalization process had been established?" To help formulate answers in this article the author uses qualitative methods and critical security studies theory. From a Japan perspective, the absence of East Asian regionalism occurs because of the long history experienced by powerful countries in the region. Regionalism is increasingly suppressed in its development because the dynamics of the region are tenuous, tense and tend to experience fluctuations due to social, economic and military struggles, especially nuclear weapons.
Keywords: Regionalism; East Asia; Japan; ASEAN+3; History
Absensi regionalisme Asia Timur menjadi masalah seiring dengan meningkatnya ketegangan politik dan perlombaan adu kekuatan militer dari negara-negara anggota kawasannya. Hal tersebut menunjukkan kegagalan kohesi kawasan. Titik terang untuk pembuatan regionalisme ini tidak kian muncul dan malahan Jepang, Cina dan Korea Utara memilih sekutunya masing-masing dalam ketidakpastian kontestasi politik internasional ini. Sejarah membuktikan kebenarannya hari ini, bahwa negara yang pernah berselisih tidak akan secara mudah bekerja sama dalam satu wadah mereka sendiri kecuali diikuti bantuan oleh pihak ketiga. Keterlibatan pihak ketiga seperti ASEAN dalam ASEAN+3 membuat kohesi antar negara ini semakin hilang, akibat mereka tidak terkoneksi secara langsung dan independen. ASEAN yang menjadi penghubung melalui ASEAN+3 dianggap baik dari perspektif Jepang. Mengikuti alur permasalahan yang ada, dirumuskan sebuah pertanyaan penelitian, “Dari perspektif Jepang, mengapa tidak tercipta regionalisme di kawasan Asia Timur walaupun telah terjalin proses regionalisasi?.” Untuk membantu perumusan jawaban, dalam artikel ini penulis menggunakan metode kualitatif dan teori konstruktivisme serta konsep dilema keamanan. Dari perspektif Jepang, absensi regionalisme Asia Timur terjadi karena sejarah panjang yang dilalui oleh negara-negara kuat di kawasan tersebut dan itu menciptakan permasalahan identitas yang membedakan Jepang dengan Korea Utara dan juga Cina. Regionalisme semakin melemah karena dinamika kawasan yang renggang, menegang dan fluktuatif.
Kata kunci: Regionalisme Asia Timur; Jepang; ASEAN+3; Konstruktivisme; Dilema KeamananAbsensi regionalisme Asia Timur menjadi masalah seiring dengan meningkatnya ketegangan politik dan perlombaan adu kekuatan militer dari negara-negara anggota kawasannya. Namun, titik terang untuk pembuatan regionalisme ini tidak kian muncul dan malahan Jepang, Cina dan Korea memilih sekutunya masing-masing dalam ketidakpastian kontestasi politik internasional ini. Sejarah membuktikan kebenarannya hari ini, bahwa negara yang berselisih tidak akan secara mudah bekerja sama dalam wadah yang sama kecuali diikuti bantuan oleh pihak ketiga. Dalam hal ini, ASEAN menjadi penghubung melalui ASEAN+3 dan dari perspektif Jepang keadaan ini adalah baik adanya. Kerja sama antara Jepang dengan Cina, Jepang dengan Korea dan campuran antar ketiganya sering terjadi secara bilateral maupun non-bilateral melalui ASEAN. Mengikuti alur permasalahan yang ada, dirumuskan sebuah pertanyaan penelitian, “Dari perspektif Jepang, mengapa tidak tercipta regionalisme di kawasan Asia Timur walaupun telah terjalin proses regionalisasi?.” Untuk membantu perumusan jawaban, dalam artikel ini penulis menggunakan metode kualitatif dan teori studi keamanan kritis. Dari perspektif Jepang, absensi regionalisme Asia Timur terjadi karena sejarah panjang yang dilalui oleh negara-negara kuat di kawasan tersebut. Regionalisme semakin ditekan perkembangannya karena dinamika kawasan yang renggang, tegang dan cenderung mengalami fluktuasi akibat pergulatan sosial, ekonomi dan militer secara khusus senjata nuklir.
Kata kunci: Regionalisme; Asia Timur; Jepang; ASEAN+3; Sejara
Konsep Manusia Menurut Dayak Wehea: Tinjauan Filosofis Berdasarkan Filsafat Ersnt Cassirer
The focus of this research is to delve into the concept of humanity according to the Dayak Wehea, examined through Ernst Cassirer\u27s philosophy. The Dayak Wehea upholds a distinctive tradition of customs that remains practiced by a significant portion of their community. These customary traditions include rituals surrounding birth, marriage, and death, which inherently contain a wealth of anthropological and philosophical values specific to the Dayak Wehea. Presently, these traditions face cultural degradation due to the overwhelming influence of modern culture. Consequently, this study is motivated by concern and awareness regarding the existence of the Dayak Wehea people, particularly the erosion of their noble traditions over time. The objective is to explore and document the traditional values of Dayak Wehea customs, specifically focusing on the human concept embedded within the three rituals: birth, marriage, and death. This exploration of anthropological values is guided by Ernst Cassirer\u27s philosophical framework. Additionally, the research aims to provide readers with an understanding of the anthropological significance of these rituals. The methodology employed is qualitative, involving a literature review and data analysis. To ensure authenticity, interviews were conducted with key informants, notably traditional leaders who possess firsthand knowledge and continue to practice these customs. The findings reveal the Dayak Wehea\u27s concept of humanity as symbolic beings, beings of noble dignity, relational beings, pilgrims of hope, and religious beings.Penelitian ini bertujuan untuk menggali konsep manusia menurut suku Dayak Wehea, yang dianalisis melalui filsafat Ernst Cassirer. Suku Dayak Wehea mempertahankan tradisi adat istiadat yang khas dan masih dijalankan oleh sebagian besar komunitas mereka. Tradisi adat istiadat ini meliputi upacara-upacara seputar kelahiran, perkawinan, dan kematian, yang secara inheren mengandung nilai-nilai antropologis dan filsafat yang kaya khusus bagi suku Dayak Wehea. Saat ini, tradisi ini menghadapi degradasi budaya akibat dominasi budaya modern. Oleh karena itu, penelitian ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran dan kesadaran tentang eksistensi masyarakat Dayak Wehea, terutama terkikisnya nilai-nilai luhur tradisi mereka seiring berjalannya waktu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali dan mendokumentasikan nilai-nilai tradisional dari adat istiadat suku Dayak Wehea, dengan fokus khusus pada konsep manusia yang terkandung dalam tiga upacara tersebut: kelahiran, perkawinan, dan kematian. Penggalian nilai-nilai antropologis ini dipandu oleh kerangka filsafat Ernst Cassirer. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada pembaca tentang signifikansi antropologis dari ketiga upacara adat tersebut. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, melibatkan studi kepustakaan dan analisis data. Untuk memastikan keaslian informasi mengenai adat istiadat suku Dayak Wehea, dilakukan wawancara dengan narasumber kunci, terutama para tokoh adat yang memiliki pengetahuan langsung dan masih menjalankan tradisi tersebut. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa konsep manusia menurut suku Dayak Wehea adalah sebagai makhluk simbolis, makhluk yang memiliki martabat luhur, makhluk relasional, peziarah yang penuh harapan, dan makhluk religius
Kinerja Industri Manufaktur pada Masa Pandemi Covid-19
Abstrak Industri manufaktur merupakan saah satu sektor yang memberikan kontribusi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk melihat kinerja industri manufaktur pada masa pandemi Covid-19 serta proses pemulihannya. Penelitian ini menggunakan data PMI Manufaktur dari tahun 2018-2022 dengan Teknik analisis deskriptif. Ketika pandemic Covid-19 melanda Indonesia, sektor manufaktur pun turut terdampak akibat adanya kebijakan pembatasan mobilitas yang dilakukan pemerintah. Ketika komponen pembentuk nilai PMI mengalami penurunan, hal tersebut berdampak pada nilai PMI yang ikut menurun. Namun, saat memasuki tahun 2021 sekotr industri manufaktur kembali menunjukkan pemulihan. Hal tersebut ditunjukkan dengan peningkatan nilai PMI yang cenderung mengalami fase ekspansi. Pemulihan pada industri manufaktur diharapkan dapat memacu kembali perekonomian dengan dampak yang diberikan pada sektor lainnya.
 
ANALISIS KESELAMATAN LALU LINTAS DI LINGKUNGAN UNIVERSITAS TADULAKO
Universitas Tadulako (UNTAD), sebagai kampus terbesar di Sulawesi Tengah dengan luas wilayah mencapai sekitar 200 Ha, menampung lebih dari 44.173 orang mahasiswa serta staf pengajar dan tenaga kependidikan mencapai 2.518 orang dalam waktu bersamaan. Tingginya aktivitas di kampus ini berpotensi mengakibatkan risiko keselamatan berlalu lintas. Oleh karena itu, sebuah penelitian dilakukan untuk menganalisis kondisi keselamatan lalu lintas di lingkungan kampus UNTAD dengan menggunakan metode observasi lapangan secara visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah rambu lalu lintas tidak memenuhi standar karena posisinya yang terhalang pohon, sehingga sulit terbaca dan dipahami. Selain itu, marka jalan hanya terbatas pada marka kejut dan memerlukan perbaikan. Fasilitas trotoar juga perlu diperbaiki agar dapat memberikan perlindungan yang lebih baik bagi pejalan kaki. Meskipun demikian, pintu masuk dan pintu keluar umumnya memenuhi standar jarak pandang kecuali pada pintu keluar di Pascasarjana yang memerlukan perbaikan. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk meningkatkan keselamatan lalu lintas di lingkungan kampus UNTAD melalui perbaikan infrastruktur yang diperlukan
IMPROVING ROAD NETWORK CONSIDERING RICE SUPPLY CHAIN NETWORK
The stakeholders involved in the rice supply chain, who rely on transportation networks, have a shared objective of enhancing their operational efficiency to maximise surplus. This paper presents a model that aims to evaluate the impact of road network improvement on the stakeholders involved in the rice supply chain network. The entities considered as related stakeholders in this context encompass collectors, wholesalers, and retailers, that have a distinct logistics cost structure and profit ratio.The model is developed within the framework of bi-level optimization, in which the upper level decides the road network improvement action and the lower level describes the optimality conditions of the rice supply chain network. The method of successive averages (MSA) is proposed to solve the lower-level problem, where a full enumeration-based approach is conducted in the upper-level problem The case study is situated in the Cugenang District of the Cianjur Regency, an area renowned for its productivity value in the rice farming sector, surpassing other sectors in economic significance. The numerical experiment evaluates three alternatives for road development, with the alternative consisting of solid connectivity to stakeholders yielding the greatest surplus, refer to Alternative 1 with highest surplus investment ratio (0.0000232)