Jurnal Online Universitas Katolik Parahyangan / Parahyangan Catholic University Journal
Not a member yet
    3954 research outputs found

    PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN DAN TRANSPORTASI AKIBAT OPERASIONAL BANDARA DHOHO MENGGUNAKAN METODE ANALISIS SPASIAL

    No full text
    Penggunaan lahan dan transportasi memiliki hubungan yang saling berkaitan. Perubahan tata guna lahan membangkitkan pergerakan dari dan ke lahan tersebut. Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu bentuk perubahan dalam penggunaan lahan. Bandara Dhoho merupakan bandara baru di Kabupaten Kediri yang memiliki luas 475 hektare. Tujuan penelitian ini agar bisa mengetahui adanya pengaruh operasional Bandara Dhoho terhadap perkembangan sistem transportasi menggunakan citra satelit Google Earth. Studi ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif dengan analisis spasial untuk mengidentifikasi dan menganalisis perubahan tata guna lahan serta dampaknya terhadap sistem transportasi akibat operasional Bandara Dhoho. Data yang didapat dari citra satelit, pada tahun 2018 guna lahan di area pembangunan Bandara Dhoho merupakan lahan hijau. Menurut data BPS Kabupaten Kediri dari tahun 2018-2023 terdapat 395 hektar lahan pertanian di Kecamatan Banyakan, Tarakan, dan Grogol yang beralih fungsi, hal tersebut diakibatkan adanya pembangunan bandara dan perubahan kawasan di sekitarnya. PO Damri dan PO Harapan Jaya sebagai operator layanan menyediakan angkutan khusus yang melayani 2 rute yaitu Terminal Tulungagung dan Terminal Pare menuju Bandara Internasional Dhoho di Kabupaten kediri. &nbsp

    Analisis Gelombang Kejut pada Perlintasan Sebidang Kereta Api di Jam Sibuk (Studi Kasus: Perlintasan Sebidang Jalan Sunda, Kota Bandung)

    No full text
    Penelitian ini menganalisis tundaan dan antrean yang terjadi di lokasi perlintasan kereta api Jalan Sunda di Kota Bandung. Pengambilan data dilakukan pada dua lokasi pengamatan yang berbeda. Data pada lokasi pengamatan 1 dilakukan selama 12 jam ditujukan untuk membangun hubungan arus, kecepatan, dan kerapatan. Sementara pengamatan 2 ditujukan untuk menganalisis antrean dan tundaan pada jam puncak. Hubungan antara arus, kecepatan, dan kerapatan dibangun menggunakan model Greenshields, Greenberg, dan Underwood, kemudian dipilih model yang terbaik. Model terbaik yang terpilih adalah model Greenshields. Dari model ini didapatkan nilai kecepatan arus bebas sebesar 51,1 km/jam dan nilai kerapatan macet sebesar79,2 smp/km. Analisis tundaan dan antrean menggunakan metode gelombang kejut. Saat kondisi pintu perlintasan tertutup, hasil tundaan terbesar 159,7 detik dan antrean terbesar 82,3 smp/lajur pada interval waktu penutupan 16:05:30 – 16:08:23. Sementara itu, saat kondisi pintu perlintasan terbuka, hasil tundaan rata-rata sebesar 2,4 detik

    PERENCANAAN GEOMETRI JALUR KERETA API KECEPATAN TINGGI LINTAS CIREBON-SEMARANG FASEI(CIREBON-BREBES)MENGGUNAKANAUTOCAD CIVIL 3D

    No full text
    Jalur kereta api kecepatan tinggi memiliki potensi besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di wilayah yang dilaluinya terutama wilayah yang menjadi tempat transit atau pemberhentian. Sesuai dengan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS) pembangunan jalur kereta api kecepatan tinggi di Indonesia akan berlanjut sampai ke Kota Surabaya. Tujuan penelitian ini untuk merencanakan jalur kereta api kecepatan tinggi lintas Cirebon-Semarang Fase I (Cirebon-Semarang) dengan acuan titik awal penelitian dari penelitian terdahulu. Data yang dibutuhkan yaitu survei lapangan sebagai data primer dan data topografi sebagai data sekunder. Penelitian ini dibagi menjadi 3 tahap, antara lain perencanaan geometri, desain trase menggunakan Autodesk Civil 3D, dan animasi trase menggunakan Autodesk Infraworks. Jalur direncanakan memiliki 7 lengkung SCS menggunakan radius 3000 m sebagai radius terkecil dan radius 11000 m sebagai radius terbesar serta direncanakan memiliki 8 lengkung vertikal menggunakan radius 25000 m sebagai radius terkecil dan radius 28000 m sebagai radius terbesar serta dengan kelandaian maksimum 1,41%

    ANALISIS PERGERAKAN DAN KORELASI KOMODITAS KOPI DI SUMATERA SELATAN

    No full text
    Kopi merupakan salah satu komoditi unggulan perkebunan yang memiliki pangsa pasar secara luas, nasional serta internasional. Indonesia memiliki banyak wilayah penghasil kopi, salah satunya Sumatera Selatan dengan hasil produksi sebesar 26,72% dari total produksi kopi di seluruh Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis pergerakan dan korelasi komoditas kopi di Sumatera Selatan. Penelitian ini dilakukan dengan mengkaji lima kabupaten/kota sebagai penghasil kopi terbesar yang ada di Sumatera Selatan dengan menggunakan metode analisis data deskriptif melalui pendekatan kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian, analisis korelasi menunjukkan bahwa luas lahan adalah variabel independen yang paling mempengaruhi produksi kopi. Analisis regresi tipe 1 mengidentifikasi luas lahan dan PDRB sebagai faktor dominan dengan didapatkan hasil Y = 4542,216452+ 0,543022168 X1 + 0,000709158 X3. Nilai koefisien dari data tarikan serta data bangkitan bernilai positif hampir mendekati nilai 1. Uji ANOVA dan t-test menunjukkan kondisi teknis tidak mempengaruhi PDRB kopi. Proyeksi produksi menunjukkan peningkatan signifikan dalam 10 dan 20 tahun ke depan. Analisis sistem distribusi menggunakan metode UCGR memperlihatkan biaya operasional kendaraan dan pergerakan komoditas kopi antar zona. Simulasi komputasi Visum menunjukkan pola pergerakan komoditas terbesar di zona Empat Lawang dan Ogan Komering Ulu

    PENYUSUNAN UPAYA PENINGKATAN KESELAMATAN JALAN PADA RUAS JALAN RAYA SUKAPURA MENGGUNAKAN PENDEKATAN ANALISIS NILAI RISIKO

    No full text
    Gunung Bromo merupakan salah satu wisata yang terletak dalam Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dari tahun ke tahun jalur akses menuju wisata Gunung Bromo melalui Kabupaten Probolinggo memiliki jumlah pengunjung lebih banyak dari pada jalur akses lainnya, jalur wisata tersebut merupakan Jalan Raya Sukapura. Perhatian terhadap keselamatan jalan sangat diperlukan karena menyangkut dengan nyawa manusia. Dengan begitu, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui nilai risiko kecelakaan dari kondisi eksisting Jalan Raya Sukapura dengan menghitung penyimpangan subkomponen jalan yang berpotensi terhadap kecelakaan lalu lintas, subkomponen jalan tersebut akan dibandingkan sesuai standar teknis jalan yang diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Hasil dari dari analisis ini berupa upaya peningkatan subkomponen jalan dengan prioritas perbaikan yang berasal dari nilai risiko terhadap kecelakaan. Upaya peningkatan keselamatan yang diberikan pada Jalan Raya Sukapura berdasarkan subkomponen jalan yaitu pelebaran bahu jalan, pengendalian akses persil, pemenuhan kebutuhan marka, rambu, trotoar, dan tempat penyeberangan, pemeliharaan marka jalan dengan melakukan pengecatan ulang, serta kebutuhan lampu penerangan jalan dan patok pengarah

    TREN KESEHATAN MENTAL DAN KAITANNYA DENGAN ETOS KERJA GENERASI Z DI ERA DIGITAL

    No full text
    Generation Z, the latest working generation born between 1995 and 2012, has grown amidst the advancement of the digital technology era. As a generation that coexists with technology and benefits from easy access to information, Generation Z demonstrates a heightened sensitivity to various forms of information available on social media, including the trending awareness of the importance of mental health. The increasing trend of mental health awareness within Generation Z significantly influences their work ethic. This research aims to assess the extent of the impact of mental health trends on the work ethic behavior of Generation Z in the professional world. The research employs a qualitative descriptive approach utilizing Systematic Literature Review methodology. The findings of this study reveal the substantial influence of mental health trends on the work ethic of Generation Z. Moreover, the outcomes contribute to a better understanding of how mental health awareness trends shape the work behavior of this generation in the workplace.Generasi Z adalah generasi  kerja terbaru, lahir antara tahun 1995 sampai 2012, yang tumbuh di tengah perkembangan era teknologi digital. Sebagai generasi yang hidup berdampingan dengan teknologi dengan kemudahan informasi membuat generasi Z menjadi generasi yang peka terhadap segala informasi yang ada di media sosial salah satunya adalah tren kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di media sosial. Tren kesehatan mental yang meningkat di kalangan generasi Z ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap etos kerja mereka. Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tren kesehatan mental terhadap perilaku etos kerja generasi Z dalam dunia kerja. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan Systematic Literature Review. Sedangkan temuan penelitian ini ialah mengungkapkan pengaruh substansial tren kesehatan mental terhadap etos kerja Generasi Z. Selain itu, hasil penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana tren kesadaran kesehatan mental membentuk perilaku kerja generasi Z di tempat kerja

    PENGARUH BRAND EXPERIENCE DAN BRAND PERSONALITY TERHADAP REPURCHASE INTENTION PRODUK ESQA COSMETICS

    No full text
    The cosmetics market is growing rapidly with innovation, influenced by lifestyle trends. Dependence on the use of cosmetics has become a daily habit, especially for generation Z women, who are considered important by the environment around them. This research aims to determine the influence of brand experience and brand personality on repurchase intention for ESQA Cosmetics. The research method used in this research is a quantitative method with a descriptive-causality type of research. Sampling was carried out using a non-probability sampling technique used, namely purposive sampling, a total of 346 consumer respondents who had used or purchased ESQA Cosmetics products among generation Z in Bandung City. The data analysis technique used was descriptive analysis and multiple linear regression analysis. The results of this research show that there is a significant influence between brand experience on repurchase intention on ESQA  products and there is a significant influence between brand personality on repurchase intention on ESQA Cosmetics. Then brand experience and brand personality simultaneously have a significant effect on repurchase intention at ESQA Cosmetics. The contribution of influence from the brand experience and brand personality variables influences the dependent variable repurchase intention.Pasar kosmetik berkembang pesat dengan inovasi yang dipengaruhi oleh tren gaya hidup. Ketergantungan terhadap penggunaan kosmetik sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, terutama bagi wanita generasi Z yang dianggap penting oleh lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengalaman merek dan kepribadian merek terhadap niat beli ulang ESQA Cosmetics. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif-kausalitas. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non-probability sampling yang digunakan yaitu purposive sampling, sebanyak 346 responden konsumen yang pernah menggunakan atau membeli produk ESQA Cosmetics pada kalangan generasi Z di Kota Bandung. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pengalaman merek terhadap niat membeli ulang pada produk ESQA dan terdapat pengaruh yang signifikan antara kepribadian merek terhadap niat membeli kembali pada Kosmetik ESQA. Kemudian pengalaman merek dan kepribadian merek secara simultan berpengaruh signifikan terhadap minat beli ulang pada ESQA Cosmetics. Kontribusi pengaruh dari variabel pengalaman merek dan kepribadian merek mempengaruhi variabel terikat minat beli ulang

    PENGARUH DESAIN BUKAAN CAHAYA TERHADAP KENYAMANAN VISUAL DI WHEELS COFFEE ROASTERS RIAU BANDUNG

    No full text
    Abstract - Daylighting is one of the important aspects in architecture. Daylighting in cafes or restaurants can provide various benefits, including creating a comfortable and pleasant atmosphere for visitors and helping to reduce energy costs. However, excessive brightness can cause glare and become a problem that disrupts the comfort of customers and employees. Insufficient daylight can also affect visual comfort, making objects less clear and causing contrast between the workspace and the openings. Generally, natural light enters the room through side openings such as windows. However, natural light often struggles to penetrate the room due to nearby buildings or the bulky shape of the building, hence the use of overhead openings such as skylights. Wheels Coffee Roasters Riau Bandung is one of the cafes in the city of Bandung. Wheels Coffee Roaster has two indoor spaces with very different characteristics of daylighting. The first indoor space is the dining and bar area in the atrium, with top lighting in the form of a combination of skylights and clerestory. In addition to being a source of daylight, the skylight also serve as a distinctive feature of this cafe and support the micro-tropical concept used in its interior design. The second indoor space is the dining area adjacent to the atrium, which has two side openings, namely openings facing the atrium and the outside. The research conducted is descriptive-evaluative with a quantitative-qualitative approach. The research areas include the space below the atrium skylight, which serves as the dining and bar area, and the space adjacent to the atrium, which serves as the dining area. Simulation of sunlight movement on the building is used to determine the research time. In addition, simulations are used to collect data and evaluate the quantity and quality of existing natural lighting. Simulations are also used to optimize the study object. This research resulted in several conclusions. First, the visual comfort of the dining and ba area has not been achieved in terms of daylighting quality due to disruptive glare that is intolerable. Second, the visual comfort of the dining area adjacent to the atrium has not been achieved in terms of quantity and quality of daylighting because the illuminance does not meet the standards, and there is contrast when looking towards both side openings. Changing the type of translucent glass for the skylights and clear glass for the clerestory with a glass 50% significantly reduces glare in the dining and bar area in the atrium, although some glare still persists at certain times and is intolerable. Changing the shading elements and dimensions of the openings facing the outside can improve illuminance and reduce contrast ratios in the dining area adjacent to the atrium.   Keywords: café, daylighting, visual comfort, opening designAbstrak - Pencahayaan alami merupakan salah satu hal yang penting dalam arsitektur. Pencahayaan alami di kafe atau restoran dapat memberikan berbagai manfaat, termasuk menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan bagi pengunjung, serta membantu mengurangi biaya energi. Akan tetapi, cahaya yang terlalu terang dapat menyebabkan silau dan menjadi masalah yang mengganggu kenyamanan pelanggan dan karyawan. Cahaya alami yang kurang pun dapat menggangu kenyamanan visual seperti membuat objek menjadi kurang jelas dan menyebabkan kontras antara bidang kerja dengan bukaan. Pada umumnya, cahaya alami masuk ke dalam ruangan melalui bukaan samping seperti jendela. Namun seringkali cahaya alami sulit berpenetrasi ke dalam ruangan karena letak bangunan yang berdekatan atau bentuk bangunan yang gemuk sehingga digunakan bukaan atas seperti skylight.  Wheels Coffee Roasters Riau Bandung adalah salah satu kafe di kota Bandung. Wheels Coffee Roaster memiliki dua ruang indoor dengan karakteristik pencahayaan alami yang sangat berbeda. Ruang indoor pertama adalah ruang makan dan bar di atrium dengan bukaan atas berupa kombinasi skylight dan clerestory. Selain sebagai sumber cahaya alami, skylight juga menjadi ciri khas dari kafe ini sekaligus mendukung konsep micro-tropical yang digunakan sebagai desain interiornya. Untuk ruang indoor kedua adalah ruang makan di samping atrium yang memiliki dua bukaan samping, yaitu bukaan samping ke atrium dan ke luar. Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif – evaluatif dengan pendekatan kuantitatif - kualitatif. Area penelitiannya berada pada ruang di bawah skylight atrium yang berfungsi sebagai area makan sekaligus area barista dan ruang di samping atrium yang berfungsi sebagai area makan. Simulasi pergerakan matahari terhadap bangunan digunakan untuk menentukan waktu penelitian. Selain itu, simulasi juga digunakan untuk mengumpulkan data dan mengevaluasi mengenai kuantitas dan kualitas pencahayaan alami pada eksisting. Simulasi juga digunakan untuk melakukan optimasi pada objek studi. Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan. Pertama, kenyamanan visual ruang makan dan bar belum tercapai secara kualitas pencahayaan alaminya karena terjadi silau yang mengganggu bahkan tidak dapat ditoleransi. Kedua, kenyamanan visual pada ruang makan di samping atrium belum tercapai secara kuantitas dan kualitas pencahayaan alaminya karena illuminance belum memenuhi standar dan terjadi kontras ketika melihat ke arah kedua bukaan samping. Perubahan jenis kaca translucent untuk skylight dan kaca bening untuk clerestory dengan kaca transparansi 50% mampu mengurangi silau pada ruang makan dan bar di atrium secara signifikan, meskipun di beberapa waktu masih terjadi silau yang mengganggu bahkan tidak dapat ditoleransi. Perubahan elemen pembayang dan dimensi bukaan samping ke luar dapat meningkatkan illuminance dan mengurangi rasio kontras pada ruang makan di samping atrium.    Kata Kunci: kafe, pencahayaan alami, kenyamanan visual, desain bukaa

    PERPADUAN ARSITEKTUR ART DECO DAN INTERNATIONAL STYLE PADA BANGUNAN GAIA HOTEL BANDUNG DAN PADMA HOTEL

    No full text
    Abstract - Modernization gradually leads to the development of modern architecture, leaving local architecture behind. Consequently, modern architecture begins to overshadow the existence of Indonesian local architecture. Thus, there’s an urgent need for a fusion of the local and modern elements in architecture.Notably, through observation, the distinctive Art Deco context is a strong character in Bandung. Moreover, Bandung is ranked 9th in the City Of Art Deco in The World. During the modern architecture era, international style was developed as one of the architectural styles. This style has been appreciated and favored by the public up to this day because it is considered to follow the development of the industry and technology while remaining functional. This research method is descriptive qualitative and analytical methods. The first step is to identify the building designs, followed by identifying the Art Deco and international style characteristics in the buildings and the fusion. Theoretically and practically, this research is expected to provide additional insights for both the author and readers regarding Bandung\u27s Art Deco heritage, thereby contributing to the field of architectural knowledge In general, the result reveals that both hotels exhibit Art Deco and international style features in their designs. In terms of percentage, The Gaia Hotel Bandung has a dominance of 46.7% classified as Modern Art Deco. Meanwhile, Padma Hotel Bandung has a percentage of 47.02% classified as Modern Art Deco. It can be observed that Padma Hotel has a higher Art Deco percentage.   Keywords:  fusion, art deco, international style, dominance  Abstrak - Akibat dari perkembangan zaman, tren, dan mudahnya akses informasi, arsitektur modern mulai menggeser eksistensi arsitektur lokal Indonesia. Sehingga terdapat kebutuhan mendesak yaitu paduan antara elemen lokal dan modern dalam arsitektur. Apabila dilakukan pengamatan lebih lanjut, konteks Art Deco sangat kuat ditemukan di Bandung karena merupakan salah satu kota yang mendapat predikat ke-9 pada City Of Art Deco In The World. Salah satu gaya arsitektur yang berkembang dalam masa arsitektur modern adalah gaya arsitektur international style. Gaya ini cukup diminati oleh khalayak umum sampai zaman ini, karena dirasa mengikuti perkembangan industri dan teknologi baru namun tetap fungsional. Metode penelitian yang digunakan berupa metode deskriptif kualitatif dan metode analitis. Analisa data dilakukan dengan mengenali desain bangunan dilanjutkan dengan identifikasi karakter Art Deco dan karakter international style pada bangunan serta paduannya. Penelitian ini secara teoritis dan praktis diharapkan dapat memberi manfaat berupa penambahan wawasan bagi penulis dan pembaca mengenai art deco Bandung serta diharapkan dapat memberi kontribusi pada pengetahuan arsitektur. Secara garis besar, ditemukan dari hasil analisis bahwa kedua hotel tersebut memiliki karakter art deco dan karakter international style dalam desain. The Gaia Hotel Bandung memiliki dominasi sebesar 46.7% (Modern Art Deco). Sedangkan Padma Hotel Bandung memiliki persentase sebesar 47.02% (Modern Art Deco).   Kata-kata kunci: paduan, art deco, international style, dominas

    Comparative Evaluation of Hospital Inpatient Room Design against Regulations and Integrated Project Delivery (IPD) Principles

    No full text
    This study conducts a comparative evaluation of the inpatient room design in JIH Hospital Purwokerto and the Universitas Islam Indonesia Hospital (RSA UII) Yogyakarta in relation to the technical standards stipulated in the Decree of the Minister of Health Number HK.01.07/MENKES/1122/2022 on Technical Standards for Hospital Inpatient Rooms and the principles of Integrated Project Delivery (IPD). The study focuses on three central issues: the inadequacy of inpatient room dimensions, potential risks to patient safety and the limited interdisciplinary coordination during the design process. A comparative qualitative method was employed, combining direct observation, architectural document analysis, and regulatory review. The findings indicate that the inpatient rooms at JIH Hospital Purwokerto do not meet the minimum spatial requirements and exhibit suboptimal evacuation patterns, which may affect patient safety. In contrast, RSA UII demonstrates greater conformity to dimensional standards and better functional integration. The study also identifies that the absence of Building Information Modeling (BIM) in the design process contributes to reduced coordination among design professionals. Based on these findings, the study recommends design improvements that include meeting minimum spatial standards, separating clean and dirty zones, optimizing cross ventilation, and strengthening collaborative planning grounded in IPD principles and supported by BIM technology

    0

    full texts

    3,954

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Universitas Katolik Parahyangan / Parahyangan Catholic University Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇