Jurnal Online Universitas Katolik Parahyangan / Parahyangan Catholic University Journal
Not a member yet
3954 research outputs found
Sort by
KAJIAN HUBUNGAN ARSITEKTUR MAJAPAHIT DENGAN ARSITEKTUR KERATON SURAKARTA DAN YOGYAKARTA DITINJAU DARI TATANAN RUANG, WUJUD, ORNAMENTASI, DAN TEKTONIKA
Abstract - The Hindu-Buddhist kingdoms emerged in Indonesia due to trade relations with other countries such as India, China, and the Middle East. One of the largest Hindu-Buddhist kingdoms with a vast territory covering the Nusantara region was the Majapahit Kingdom. Centered in East Java, this kingdom had a significant influence on the development of architecture in Indonesia, especially in Java, which was the center of governance at that time.
One of the factors that led to the downfall of the Majapahit Kingdom was the phenomenon of Islamization. This led to the rapid growth of Islamic kingdoms on the island of Java. One prominent Islamic kingdom during that period was the Mataram Sultanate. The palaces established during the Mataram Sultanate included Keraton Kutagede, Kerta, Plered, Kartasura, and Surakarta Hadiningrat. In 1755, the Mataram Sultanate split due to power struggles, resulting in the establishment of the Surakarta Hadiningrat Sunanate and the Ngayogyakarta Hadiningrat Sultanate. As a result, the Ngayogyakarta Hadiningrat Palace was built in 1755.
This research employs a descriptive method with a qualitative approach. The research data was obtained from literature studies, field observations, and interviews with experts. The aim of this study is to explore the relationship between Majapahit architecture and the palace buildings in Surakarta and Yogyakarta in terms of spatial order, form, ornamentation, and tectonics. Although the establishment of the Surakarta and Yogyakarta palaces occurred long after the Majapahit Kingdom, it is expected that Majapahit architecture had an influence on the architecture of the Surakarta and Yogyakarta palaces. However, it is possible that certain elements of Majapahit architecture have been lost over time due to cultural assimilation and adaptation to Islam.
The analysis is conducted in a comparative manner and presented in the form of tables with accompanying explanations. From the comparative analysis, it is indeed evident that there are influence of Majapahit architecture on the palaces of Surakarta and Yogyakarta, which can be observed in terms of spatial order, form, ornamentation, and tectonics. The conclusion drawn from this research is that there is continuity and cultural acculturation between Hindu-Buddhist and Islamic cultures, which has influenced the design of the Surakarta and Yogyakarta palaces to this day.
Keywords: Majapahit Architecture, Surakarta Palace, Yogyakarta Palace, Spatial Orders, Shapes, Ornamentation, TectonicsAbstrak - Kerajaan Hindu-Buddha mulai muncul di Indonesia karena ada pengaruh dengan hubungan dagang dengan negara-negara lain seperti India, Tiongkok, dan wilayah Timur Tengah. Salah satu kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang terbesar dengan wilayah kekuasaan yang hampir mencakup Nusantara adalah Kerajaan Majapahit. Kerajaan yang berpusat di Jawa Timur ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan arsitektur di Indonesia, khususnya di pulau Jawa yang merupakan pusat pemerintahan pada masanya.
Salah satu faktor penyebab Kerajaan Majapahit runtuh adalah fenomena islamisasi. Hal ini menyebabkan berkembangnya kerajaan Islam secara pesat di Pulau Jawa. Salah satu kerajaan Islam yang besar dan dominan pada masanya adalah Kesultanan Mataram. Keraton yang didirikan pada masa Kesultanan Mataram adalah Keraton Kutagede, Kerta, Plered, Kartasura, dan Surakarta Hadiningrat. Pada tahun 1755, Kesultanan Mataram terpecah akibat perebutan kekuasaan menjadi Kesunanan Surakarta Hadiningrat dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Oleh karena peristiwa ini, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan pada tahun 1755.
Penelitian ini akan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data-data penelitian diperoleh dari studi literatur, observasi lapangan, serta wawancara dengan beberapa ahli. Tujuan dari penelitian adalah mencari hubungan arsitektur Majapahit terhadap bangunan keraton di Surakarta dan Yogyakarta dalam aspek tatanan ruang, wujud, ornamentasi, dan tektonika. Meskipun waktu berdirinya Keraton Surakarta dan Yogyakarta dengan masa Kerajaan Majapahit memiliki rentang waktu yang cukup lama, arsitektur Majapahit tentunya memiliki pengaruh terhadap arsitektur keraton Surakarta dan Yogyakarta, namun terdapat kemungkinan beberapa elemen-elemen arsitektur Majapahit yang hilang akibat berkembangnya zaman, peleburan budaya, serta penyesuaian dengan agama Islam.
Analisis dilakukan secara komparatif yang disajikan dalam bentuk tabel dan dilengkapi dengan keterangan. Dari analisis komparatif yang telah dilakukan, ditemukan bahwa memang benar terdapat pengaruh arsitektur Majapahit pada Keraton Surakarta dan Yogyakarta yang dapat ditemui dalam aspek tatanan ruang, wujud, ornamentasi, dan tektonika. Kesimpulan yang ditarik dari penelitian ini adalah terdapat kontinuitas dan akulturasi budaya antara budaya Hindu-Buddha dengan Islam, sehingga mempengaruhi desain Keraton Surakarta dan Yogyakarta hingga saat kini.
Kata-kata kunci: Arsitektur Majapahit, Keraton Surakarta, Keraton Yogyakarta, Tatanan Ruang, Wujud, Ornamentasi, Tektonik
ADHOCISM PADA PERBEDAAN KONSEP SAYEMBARA ARSITEKTUR DENGAN HASIL AKHIR BANGUNAN, STUDI KASUS PADA 3 SAYEMBARA TERBANGUN
Abstract - Not all design concepts from architectural competitions are in accordance with the final results of the buildings being built. In this context, the theory of adhocism becomes relevant as an approach to understanding the changes and improvisations that occur in the process after the competition is over. This study aims to identify improvisation or change based on the Adhocism teory. The research method uses a qualitative descriptive method on 3 research objects. Data was collected through interviews with winners, and analysis regarding differences in contest bids and final results. Of the 3 study objects discussed, the design realization shows a significant difference. The design change factor in the realization of the building is due to design personalization or differences in design preferences between the project owner and the jury. case, has a tendency to occur the principle of "Re-personalizing subsystem," and "High Adhocism". Changes to the design of the contest evoked responses for a simple reason (High Adhocism), namely because the project owner has different preferences or tastes from the jury (Re-personalizing subsystem). This shows that there is a dynamic that occurs after judging, where the project owner has the freedom to influence the final outcome based on personal preferences.
Keywords: adhocism, architecture competition, built architecture competitionAbstrak - Tidak semua desain konsep dari sayembara arsitektur sesuai dengan hasil akhir bangunan. Dalam konteks ini, teori adhocism sebagai pendekatan untuk memahami perubahan dan improvisasi yang terjadi dalam proses setelah sayembara selesai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi improvisasi atau perubahan berdasarkan teori Adhocism. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif pada 3 objek studi. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan pemenang sayembara, dan analisis terkait perbedaan pada ditawarkan pada sayembara dan hasil akhirnya. Dari 3 objek studi yang dibahas, realisasi desain terlihat perbedaan yang signifikan. Faktor perubahan desain pada realisasi bangunan karena adanya personalisasi desain atau perbedaan preferensi desain pada pemilik proyek dengan dewan juri. Adhocism terjadi dan tercerminkan pada setiap objek studi yang dibahas. Kasus ini, memiliki kecenderungan terjadinya prinsip “Re-personalizing subsystem,” dan “High Adhocism”. perubahan desain pada sayembara terbangun didasari dengan alasan yang sederhana (High Adhocism), yaitu karena pemilik proyek memiliki preferensi atau selera yang berbeda dengan dewan juri (Re-personalizing subsystem). Hal ini menunjukkan adanya dinamika yang terjadi setelah penjurian, di mana pemilik proyek memiliki kebebasan untuk mempengaruhi hasil akhir berdasarkan preferensi pribadi.
Kata-kata kunci: adhocism, sayembara arsitektur, sayembara arsitektur terbangu
Safety and Comfort of Environmental Settings for The Elderly in Semampir Utara Settlement, Surabaya
East Java has the largest elderly population in the country. This presents a challenge, requiring special treatment, particularly in terms of environmental comfort and safety. One factor influencing a settlement is the development of road infrastructure in Surabaya, which has impacted surrounding settlements, such as the Semampir Utara Settlement. This settlement is a modest slum, so the quality of the environmental setting needs to be questioned, especially in terms of accommodating elderly activities. This study aims to identify comfort and security factors as one aspect of the quality of the environmental setting in accommodating elderly activities in the settlement. This study is a qualitative study using a snowball sampling method reinforced by triangulation to combine various sources of information from elderly people, families, and surrounding community groups to ensure consistent perspectives on environmental quality and elderly activities. Thematic analysis was used in this study to identify several factors related to comfort and security in elderly activity patterns, namely memory, social support, passive interaction, and noise
Symbolic Modification and Declining Community Participation in Cultural Traditions: A Study of the Ngarot Ritual in Tugu Village, Indramayu, West Java
This study aims to analyze the impact of modification on the declining community participation in the Ngarot ceremony in Tugu Village, Lelea Subdistrict, Indramayu Regency. Ngarot is an agrarian tradition that emphasizes the regeneration of cultural values through the active involvement of youth. Unlike Lelea Village, which has preserved the symbolic structure and educational function of Ngarot, Tugu Village has undergone format changes—such as the removal of agricultural training, the addition of religious recitations (pengajian), and entertainment—that have led to a disorientation of meaning and decreased engagement among younger generations. This study employs a qualitative approach using a descriptive-interpretative method. Data were obtained through interviews, observation, and document analysis, and were analyzed thematically and reflectively. The findings reveal that modifications that disregard the cultural structure of meaning can trigger symbolic alienation, interpretive conflict between cultural and religious narratives, and a sustainability crisis in traditional practices. The original contribution of this research lies in mapping the relationship between local policy, symbolic transformation, and cultural participation. This study recommends a contextual meaning-based preservation model and active youth engagement as an alternative approach to sustaining traditions amid ongoing social change
Islamic Art at the Crossroads of Modernity: Aesthetic and Spiritual Interpretations in the Works of Ahmad Sadali and A.D. Pirous in Indonesia
This study examines how contemporary Indonesian Islamic painting functions as a medium of spiritual reflection and as an intellectual project that negotiates Islamic tradition with global modernity. Focusing on the works of Ahmad Sadali and A.D. Pirous, the study responds to an academic concern regarding the persistent fragmentation in Islamic art scholarship among aesthetic, symbolic, and philosophical approaches, as well as the limited comparative readings of Indonesian Muslim artists within the global discourse of Islamic art. Employing a qualitative approach with an interpretive-analytical research design, the study collects data through direct observation of artworks at the exhibition Seabad Sadali: Menjejak Bumi Menembus Langit at Selasar Sunaryo Art Gallery and through visits to Studio Galeri Serambi Pirous, complemented by a literature review of theoretical works and previous studies on Islamic art, abstraction, calligraphy, and visual theology. The findings demonstrate that Ahmad Sadali and A.D. Pirous represent two distinct yet complementary aesthetic strategies within modern Indonesian Islamic painting. Sadali articulates tawḥīd through a quiet and contemplative mode of symbolic abstraction, whereas Pirous advances the deconstruction of calligraphy and heightened visual intensity as a dialogical expression of spiritual anxiety and faith. Together, their works affirm that Islamic painting does not operate merely as decorative art, but functions as a practice of visual theology—a mode of Islamic thinking enacted through symbols, color, and spatial composition. The implications of this study underscore the importance of visual art as an integral part of contemporary Islamic intellectual tradition, while also opening pathways for the development of more inclusive approaches to Islamic art education, curatorial practice, and public dialogue. The originality of this research lies in its comparative reading of Sadali and Pirous as an intellectual project of Indonesian Islamic art, positioning Indonesia not as a peripheral case but as a reflective and active contributor to the global discourse on Islamic art
Transformasi Ekonomi: Menggali Potensi Investasi Tiongkok di Smelter Nikel Indonesia
Penelitian ini mengkaji penyebab tingginya keterlibatan Tiongkok melalui investasi smelter nikel di Indonesia, meskipun telah melarang ekspor bijih nikel sebagai upaya pemutusan rantai kerjasama yang tidak seimbang. Dengan kurun waktu tahun 2020-2022, penelitian ini mengesampingkan industri energi di komoditas lainnya meskipun terdapat aturan serupa. Pengumpulan data dilakukan secara kualitatif menggunakan studi literatur dengan pendekatan The World Theory yang menjelaskan hubungan struktural antara negara core dan periphery akibat kurangnya modal dan sumber daya yang memadai. Hasilnya, penelitian ini menunjukkan pentingnya investasi smelter Tiongkok terhadap inovasi pengolahan bijih nikel dan mendukung kebijakan larangan ekspor sebagai langkah tepat yang diambil pemerintah Indonesia. Penelitian ini memberikan perspektif baru dari penelitian serupa yang tidak melihat sisi positif dari hubungan asimetris antara negara berkembang dan maju
PENERAPAN UJI LAIK FUNGSI JALAN DENGAN METODE PEMERINGKATAN BINTANG DI KOTA SEMARANG
Keselamatan jalan merupakan elemen penting dalam pembangunan berkelanjutan, sebagaimana diakui oleh Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Jalan Prof. Dr. Hamka di Kota Semarang dipilih untuk studi kelaikan menggunakan pemeringkatan bintang. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan rekomendasi peningkatan keselamatan jalan berdasarkan hasil uji laik fungsi jalan. Metode penelitian meliputi studi literatur, survei lapangan, pengumpulan data primer dan sekunder, serta analisis hasil survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jalan Prof. Dr. Hamka secara keseluruhan memenuhi standar keselamatan dengan peringkat bintang 3, namun beberapa segmen memerlukan perbaikan untuk meningkatkan keselamatan
ANALISIS DAMPAK KEMACETAN LALU LINTAS TERHADAP PEMBOROSAN BAHAN BAKAR MINYAK (STUDI KASUS: JALAN PROF. DR. HAMKA, PADANG)
Banyaknya bus yang mencari penumpang di Jalan Prof. Dr. Hamka mengakibatkan kemacetan dibeberapa ruas jalan. Kemacetan menyebabkan kerugian bagi masyarakat, terutama dalam bentuk pemborosan Bahan Bakar Minyak (BBM). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pemborosan BBM dan nilai derajat kejenuhan di Jalan Prof. Dr. Hamka untuk mengetahui hubungan derajat kejenuhan dengan pemborosan BBM. Penelitian ini bersifat kuantitatif. Penelitian dimulai dengan survei geometrik, survei jumlah kendaraan, survei kecepatan, dan survei hambatan samping. Selanjutnya, data survei diolah berdasarkan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (2023) untuk menentukan volume lalu lintas, hambatan samping, kecepatan arus bebas, kapasitas, dan derajat kejenuhan. Pemborosan BBM dihitung menggunakan persamaan dari Departemen Pekerjaan Umum Indonesia (2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemborosan BBM tertinggi terjadi pada hari Minggu, arah Utara – Selatan sebesar 364,83 liter/kilometer pada pukul 17.00 – 18.00, dengan nilai derajat kejenuhan sebesar 1,34. Terdapat korelasi kuat antara derajat kejenuhan dengan pemborosan BBM, dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,673
SIFAT AKUSTIK KOMPOSIT SERAT CALATHEA LUTEA BERMATRIKS EPOXY SEBAGAI KOMPONEN DINDING KERETA API
Kebisingan pada interior kereta merupakan faktor penting dalam pengembangan material dinding kabin. Hasil penelitian tahun 2023 menunjukkan bahwa tingkat kebisingan kabin mencapai 86 dB, melebihi batas maksimum 80 dB sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 49 Tahun 2023. Penelitian ini bertujuan mengkaji sifat akustik komposit serat alam Calathea lutea dan membandingkannya dengan material GFRP milik PT INKA. Spesimen dibuat menggunakan metode hand lay-up dengan dua variasi: spesimen A (40% serat) dan spesimen B (60% serat). Uji absorpsi suara dilakukan dengan tabung impedansi sesuai standar ISO 11654. Hasil menunjukkan spesimen B memiliki nilai koefisien absorpsi tertinggi sebesar 0,64 pada 1200 Hz dan mampu mereduksi kebisingan hingga 27,5 dB, lebih baik dibanding spesimen A yang mereduksi 12 dB. Kinerja spesimen B mendekati GFRP yang mampu mereduksi kebisingan hingga 30,5 dB, sehingga berpotensi menjadi material dinding ramah lingkungan untuk kereta api
Pengembangan Metode Kansei Engineering dan Design with Intent (DwI) untuk Meningkatkan Respons Emosi Positif dan Daya Persuasif Tampilan User Interface
The rise of digitalization has greatly impacted consumer behavior in Indonesia, leading to a significant increase in e-commerce consumption. As businesses compete for market share through digital channels, research has focused on developing methods to create display designs that evoke positive emotions and are persuasive. This study utilized Kansei Engineering (KE) and Design with Intent (DwI) to develop design patterns of user interface that elicit positive emotional responses and are cognitively beneficial. Kansei word data were collected through interviews and user reviews, resulting in five groups of Kansei Word. DwI was then applied to this data to produce a design pattern that enhances positive emotions. The study concludes that KE and DwI are effective in enhancing users\u27 positive emotional responses and experiences, despite the implementation complexities. The integration of these two methods effectively identifies emotional needs and formulates appropriate design patterns to fulfill those needs. However, further research is needed to explore other factors that influence emotional responses, such as brand image, product price, and user reviews. It is important to note that while product design is important, other aspects of business strategy also require attention.Meningkatnya digitalisasi telah berdampak besar pada perilaku konsumen di Indonesia, yang mengarah pada peningkatan signifikan dalam konsumsi e-commerce. Seiring dengan persaingan bisnis untuk mendapatkan pangsa pasar melalui saluran digital, penelitian telah berfokus pada pengembangan metode untuk menciptakan desain tampilan yang dapat membangkitkan emosi positif dan memiliki daya persuasif. Penelitian ini menggunakan Kansei Engineering (KE) dan Design with Intent (DwI) untuk mengembangkan pola desain dari user interface yang dapat menimbulkan respons emosional positif dan bermanfaat secara kognitif. Data kata Kansei dikumpulkan melalui wawancara dan ulasan pengguna, yang menghasilkan lima kelompok kata Kansei. DwI kemudian diterapkan pada data ini untuk menghasilkan pola desain yang meningkatkan emosi positif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa KE dan DwI efektif dalam meningkatkan respons emosi dan pengalaman positif pengguna, terlepas dari kerumitan implementasinya. Integrasi kedua metode ini secara efektif mengidentifikasi kebutuhan emosional dan merumuskan pola desain yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi faktor-faktor lain yang memengaruhi respons emosional, seperti citra merek, harga produk, dan ulasan pengguna. Penting untuk dicatat bahwa meskipun desain produk itu penting, aspek-aspek lain dari strategi bisnis juga perlu diperhatikan