Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
PEMANFAATAN DATA BIOLOGI BAGI KEPENTINGAN ARKEOLOGI
Dalam sepanjang sejarah di depannya terdpat interaksi yang terjalin terus-menerus antara manusia dan lingkungannya. Tulisan ini memberikan pemahaman kepada kita terkait pemanfaatan data biologi bagi kepentingan penjelasan terkait budaya masalalu. Dalam perkembangannya data arkeologi menjadi sangat luas tidak hanya terbatas pada perkakas-perkakas hidup sehari-hari yang di tinggalkan oleh manusia pada masa itu. Dengan menggunakan data dari disiplin ilmu biologi seperti vegetasi, iklim, dan jenis-jenis hewan dapat dijelaskan berbagai aspek lingkungan yang bisa mempengaruhi perjalanan sejarah kebudayaan masyarakat
PERAN SELAT MAKASSAR SEBAGAI JALUR MARITIM ANTARA KALIMANTAN TIMUR DAN SULAWESI SELATAN
This paper examined the relationship between South Sulawesi in eastern Kalimantan through archaeological heritage. Integration of the existing archaeological remains of the East Kalimantan and is found in South Sulawesi West Sulawesi or, in fact has an interesting cultural similarity to be studied in an integrated manner. The emergence of the kingdom of Kutai in IV-V century AD in East Kalimantan, shows that the role of the Makassar Strait is very large in delivering the merchants and Brahmins (propagator of religion) who came from outside Indonesia and along the Mahakam River to the interior of Borneo. Similarly, the lines of rivers in South Sulawesi and West Sulawesi is very important since prehistoric times to show a connection between the two regions bridged by the Makassar strait.Tulisan ini membahas hubungan antara Sulawesi Selatan di Kalimantan Timur melalui warisan arkeologi. Integrasi sisa-sisa arkeologi Kalimantan Timur yang ada dan ditemukan di Sulawesi Selatan atau Sulawesi Barat ternyata memiliki kesamaan budaya yang menarik untuk dipelajari secara terintegrasi. Munculnya kerajaan Kutai pada abad IV-V M di Kalimantan Timur, menunjukkan bahwa peran Selat Makassar sangat besar dalam mengantarkan para pedagang dan Brahmana (penyebar agama) yang datang dari luar Indonesia dan menyusuri Sungai Mahakam ke pedalaman Kalimantan. Demikian pula, garis-garis sungai di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat sangat penting sejak zaman prasejarah untuk menunjukkan hubungan antara dua wilayah yang dijembatani oleh selat Makassar
TRADISI MEGALITIK DALAM RANAH PEMAHAMAN SAKRAL DAN PROFAN DI SITUS LAWO, SOPPENG
Lawo megaliihic site located in Ompo village, Lalabata Soppeng District is to identify data to produce a number of findings such as a stone mortar, dakon, ornamental stone in a settlement system that the distance from water sources (river). Various forms of the findings indicate the development of more advanced technology in the form of sculptures produced a number of images such as chakra, and others. In addition, Megalithic objects beside have a function as a means of ritual, also used in connection with the fulfillment of needs that are profane. Situs megalitik Lawo yang terletak di desa Ompo, Lalabata Kabupaten Soppeng adalah untuk mengidentifikasi data sejumlah temuan seperti lesung batu, dakon, batu bergores dalam sistem pemukiman yang jaraknya dekat dari sumber air (sungai). Berbagai bentuk temuan menunjukkan perkembangan teknologi yang lebih maju dalam bentuk figur yang menghasilkan sejumlah gambar seperti chakra, dan lainnya. Selain itu, benda-benda megalitik selain memiliki fungsi sebagai sarana ritual, juga digunakan sehubungan dengan pemenuhan kebutuhan yang bersifat profan
NASKAH KUNA KERATON BUTON SULAWESI TENGGARA
Archaeological site of Buton has a very important thing besides many ancient archaeology, that contains many Islamic material, Prays, Moslem poem, as a basic ideology. The archaeological site of Buton reconstruct the history of Buton and the role of Islam, in improvement of social politic and the econome of society of Buton.Situs arkeologi Buton memiliki hal yang sangat penting selain banyak naskah kuno, yang berisi baajaran Islam, Doa, puisi Muslim, sebagai ideologi dasar. Situs arkeologi Buton merekonstruksi sejarah Buton dan peran Islam, dalam perbaikan politik sosial dan ekonom masyarakat Buton
POLA PIKIR DAN TINGKAH LAKU MANUSIA PRASEJARAH (TOALA?) DI SITUS GUA BATTI, BONTOCANI: BERDASARKAN VARIABILITAS TEMUAN ARKEOLOGIS
Sejalan dengan tugas studi arkeologi, yaitu merekonstruksi kehidupan manusia pada masa lampau melalui hasil budaya yang ditinggalkan yang sampai pada kita. Untuk merekonstruksi pola hidup manusia prasejarah, belum ada keterangan tertulis yang dapat menuntun kita, yang tersedia hanyalah budaya yang berbentuk materi, seperti artefak (alat batu, gerabah, alat logam, alat tulang dll) makanan (tulang binatang, kerang, biji-bijian dll). Dari tinggalan budaya inilah sehingga dapat diketahui tahap-tahap perkembangan yang telah dicapai manusia. Artefak sebagai sarana yang digunakan masa lalu untuk memenuhi kebutuhan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya. Selain itu, artefak juga dapat memberikan gambaran tentang kegiatan sosial dan aktivitas masa lampau. Jadi melalui kegiatan penelitian, artefak maupun non-artefak yang kita temukan dapat memberikan gambaran tentang proses perkembangan budaya (cultur change) dari masa ke masa sebagai bahan perbandingan kebudayaan kita pada dewasa ini. In line with the task of archaeological studies, namely reconstructing the past human life through the cultural left that up to us. To reconstruct patterns of prehistoric human life, there is no written statement can lead us, which is available only in the form of remnants of material culture, such as artifacts (stone tools, pottery, metal tools, bone tools, etc.) and food waste (animal bones, shells, seeds grains, etc.). Of cultural relics is so knowable stages of human development has been achieved. Artifacts as a means by which humans use the past to meet the needs of continued survival. In addition, artifacts can also give an overview of social activities and activities of the past. So through research activities, artefacts and non-artifacts that we found can provide a snapshot of the process of cultural development (Cultur change) from time to time as a comparison of our culture at present
PERENCANAAN TATA RUANG KAWASAN CAGAR BUDAYA BAWAH AIR GUA MOKO, DI KOTA BAUBAU SULAWESI TENGGARA
Situs arkeologi bawah air Gua Moko terletak di Pantai Nirwana di Betoambari, Baubau, Provinsi Sulawesi Seiatan. Situs Gua Moko merupakan satu-satunya situs arkeologi bawah air berupa gua yang terdapat di Indonesia. Fakta ini, semakin memperlihatkan bukti bahwa kajian arkeologi bawah air tidak hanya difokuskan pada kapal karam di laut semata. Dalam konteks pengelolaan berbasis komunitas tinggalan arkeologi bawah air, berdasarkan pada sumberdaya lokal berupa sumberdaya budaya termasuk ruang, lansekap dan ekosistem di sekitarnya. Terkait dengan pernyataan tersebut, salah satu yang penting dalam mewujudkan pengelolaan berbasis komunitas adalah perencanaan tata ruang. Hasil kajian memperlihatkan bahwa perencanaan tata ruang yang melibatkan masyarakat dalam konteks kekinian tidak mudah dilakukan. Terdapat banyak nilai, kepentingan, dan aspek lain yang harus diakomodasi. Setidaknya kajian ini menjadi langkah awal dalam perencanaan tata ruang area situs arkeologi bawah air, semoga langkah kecil ini menjadi sesuatu yang besar di masa yang akan datang. The Underwater archaeology sites, named Moko cave located in Nirwana beach which is administratively belonged to Betoambari, Baubau Southeast Sulawesi province. Moko is the only underwater archaeology cave sites in Indonesia. This fact brings us to realize that underwater archaeology study not only focused on the shipwreck at sea. In the context of community-based management of the underwater archeological remains which intended, according to the local resource is in form of cultural resources, including space and landscape and the ecosystem around it. Related to previous statement, one thing that is important in creating community-based management is a spatial region plans. Study conducted shows that the spatial arrangement of a site involving society in the present context is not an easy thing to do. There are a lot of values, interests, sectors and other aspects must be considered and accommodated. However this study expected to at least be a first step in arranging the spatial underwater archaeology heritage area, hopefully, this small step, will be greater someday future