Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
Not a member yet
    277 research outputs found

    Back Cover

    No full text

    SEJARAH DAN ARKEOLOGI TANETE BARRU PROPINSI SULAWESI SELATAN

    No full text
    Sejarah Sulawesi Selatan di awali dengan mitos La Galigo, meskipun naskah tersebut mereupakan sebuah karya sastra yang dijadikan penuntun hidup. Naskah tersebut merupakan visualisasi tentang aspek kehidupan pada masyarakat Tanete masa lalu. Tanete adalah sebuah nama kerajaan kecil di kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Tulisan kecil ini mencoba mengungkapkan sejarah Tanete yang kurang dikenal. keterbatasan data mendorong untuk mengeksplorasi pada tingkat semi makro. Tujuan dari penelitian ini untuk menggambarkan sejarah pemukiman wilayah Tanete Barru nerdasarkan tinggalan arkeologi. Metode yang dilakukan berupa pengumpulan data dan pengelompokkan data yang dihasilkan melalui survei dan deskripsi. Hasil yang diperoleh bahwa sumber sejarah dari beberapa buku dan naskah banyak yang relevan dengan hasil penelitian mengenai makam-makam raja-raja disekitar wilayah kabupaten Barru. Sejarah di dalam naskah kuna menunjukkan pemerintahan tradisional Tanete abad XVII-XVIII telah banyak memiliki peranan, seperti upaya mengembangkan wilayah Tanete sampai ke desa-desa sebagai daerah kekuasaan

    JEJAK AUSTRONESIA DI MAMASA, SULAWESI BARAT: KAJIAN TRADISI TUTUR, ETNOGRAFI, DAN ARKEOLOGIS

    No full text
    Austronesian speakers do not just settle along Das Karama, Mamuju, but also spread to other mas in South and West Sulawesi. Austronesian settlers spread into a number of places due to several factors, including factors of land, security and others. Landscape of a residence be the deciding factor, because the community is Austronesian farming communities that require land suitable for agricultural development, especially domestication tubers, grains and livestock. From the safety factor, the possibility of migration of one group to another, for trying to protect the group from other groups attack.Penutur Austronesia tidak hanya berdiam di sepanjang Das Karama, Kabupaten Mamuju, tetapi juga menyebar ke daerah lainnya di Sulawesi Selatan dan Barat. Pemukim Austronesia menyebar ke sejumlah tempat karena beberapa faktor, termasuk faktor alam, keamanan dan lainnya. Lansekap tempat tinggal menjadi faktor penentu, karena masyarakat Austronesia adalah masyarakat petani yang membutuhkan tanah yang cocok untuk pengembangan pertanian, terutama domestikasi umbi-umbian, padi-padian dan ternak. Dari faktor keamanan, kemungkinan migrasi dari satu kelompok ke kelompok lain, untuk mencoba melindungi kelompok dari kelompok lain.

    PENELITIAN ARKEOLOGI YANG IMPLEMENTATIF “SATU OBSESI HASIL PENELITIAN ARKEOLOGI MASA DEPAN”

    No full text
    Why the system of archaeological resource management, archaeological research sector still feel marginalized? The question is this controversial writer intentionally throwing at the beginning of this essay to discourse can arouse the attention of the honorable readers. There are two dominant factors affecting the occurrence of disharmony in the archaeological re­source management system in Indonesia. Both these factors are internal factors, namely errors in determining the strategy and work program of archaeological research. Thus far the research results are always the conclusion that the research should be continued for the future or the next financial year (never ending research). Apart from that research results in the form of archaeological research reports are stopped at the library. Recapitulation of the results of research reports in the three Branch of Archaeological Research Centre Such as Balai Arkeologi Yogyakarta, Banjarmasin, and Makassar, almost all of the results of archaeo­logical research for a decade (1994 - 2004) not able to enter the "realm of implementation". Another internal factor is not the development of methods and techniques in laboratory ar­chaeological research institute, which studies the consequences of substance will decrease the weight and quality of research results.Mengapa sistem manajemen sumber daya arkeologis, sektor penelitian arkeologi masih merasa terpinggirkan? Pertanyaannya adalah apakah penulis kontroversial yang sengaja dilontarkan di awal esai ini untuk wacana dapat membangkitkan perhatian pembaca yang terhormat. Ada dua faktor dominan yang mempengaruhi terjadinya ketidak harmonisan dalam sistem manajemen sumber daya arkeologi di Indonesia. Kedua faktor ini adalah faktor internal, yaitu kesalahan dalam menentukan strategi dan program kerja penelitian arkeologi. Sejauh ini hasil penelitian selalu menjadi kesimpulan bahwa penelitian harus dilanjutkan untuk masa depan (penelitian tidak pernah berakhir). Terlepas dari itu, hasil penelitian dalam bentuk laporan penelitian arkeologi dihentikan di perpustakaan. Rekapitulasi hasil laporan penelitian di tiga Cabang Pusat Penelitian Arkeologi Seperti Balai Arkeologi Yogyakarta, Banjarmasin dan Makassar, hampir semua hasil penelitian arkeologi selama satu dekade (1994 - 2004) tidak dapat masuk ke ranah implementasi ". Faktor internal lainnya bukanlah pengembangan metode dan teknik di lembaga penelitian arkeologi laboratorium, melainkan mempelajari konsekuensi terhadap subsistensi yang akan mengurangi bobot dan kualitas hasil penelitian

    Cover

    No full text

    PENGELOLAAN KAWASAN CAGAR BUDAYA SULAA DI KOTA BAU-BAU, SULAWESI TENGGARA

    No full text
    Cultural resource management is not only focused on archaeological remains, but also in­cludes other cultural remains in an area. Therefore, the management of cultural resources located in one area, it's conducted in the frame of management of the heritage area. The main subject of cultural resource management of heritage area is a space where cultural resources are. This study focuses on the management of Sulaa Heritage Area which is located in the coastal area of Bau-Bau, Sulawesi Tenggara Province. It is located in the coastal beach, making the management of Sulaa Heritage Area can not be released with local management and integrated coastal area. Therefore, the proposed management model is management based on spatial. Objects of research are cultural resources found in the area, including Sulaa heritage sites and other cultural resources such as customs, religious rituals and traditional handicrafts. Heritage site consists of Moko Cave, Ancient Tomb Betoambari and Kasulana Tombi Sipanjonga. Customs include traditional dances and ceremonies which reflect the cycle of human life. Religious rituals consist of Pakandeana Anana Maelu, Sumpuana Uwena Syafara, Gorana Oputa, Mauluduna Hukumu, Haroa Rajabu, and Nisifu Syabani. Tradi­tional handicrafts such as handmade weaving crafts typical Buton. The management of Sidaa Heritage Area integrate cultural resources management and landscape of Sulaa area. Thus, this region is integrating cultural and natural heritage as heritage objects that has significant value to maintain the perspective of preservation concept. The expected impact is not only preserving the cultural and natural resources, but also carrying out sustainable benefit for the local community.Pengelolaan sumber daya budaya tidak hanya berfokus pada peninggalan arkeologis, tetapi juga termasuk peninggalan budaya lainnya di suatu daerah. Karena itu, pengelolaan sumber daya budaya yang berada di satu kawasan, itu dilakukan dalam kerangka pengelolaan kawasan cagar budaya. Subjek utama dari pengelolaan sumber daya budaya kawasan cagar budaya adalah ruang di mana sumber daya budaya berada. Penelitian ini berfokus pada pengelolaan Kawasan Warisan Sulaa yang terletak di kawasan pesisir Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Letaknya di pantai, membuat pengelolaan Kawasan Warisan Sulaa tidak bisa dilepaskan dengan pengelolaan lokal dan kawasan pesisir terpadu. Oleh karena itu, model manajemen yang diusulkan adalah manajemen berdasarkan spasial. Objek penelitian adalah sumber daya budaya yang ditemukan di daerah tersebut, termasuk situs warisan Sulaa dan sumber daya budaya lainnya seperti adat, ritual keagamaan, dan kerajinan tangan tradisional. Situs warisan terdiri dari Gua Moko, Makam Kuno Betoambari dan Kasulana Tombi Sipanjonga. Adat istiadat termasuk tarian dan upacara tradisional yang mencerminkan siklus kehidupan manusia. Ritual keagamaan terdiri dari Pakandeana Anana Maelu, Sumpuana Uwena Syafara, Gorana Oputa, Mauluduna Hukumu, Haroa Rajabu, dan Nisifu Syabani. Kerajinan tradisional opsional seperti kerajinan tenun khas Buton. Manajemen Area Warisan Sidaa mengintegrasikan pengelolaan sumber daya budaya dan lansekap wilayah Sulaa. Dengan demikian, kawasan ini mengintegrasikan warisan budaya dan alam sebagai benda cagar budaya yang memiliki nilai signifikan untuk mempertahankan perspektif konsep pelestarian. Dampak yang diharapkan tidak hanya melestarikan sumber daya budaya dan alam, tetapi juga membawa manfaat berkelanjutan bagi masyarakat setempat

    Panduan Penulisan

    No full text

    Back Cover

    No full text

    TEKS KUNA UNTUK KEPENTINGAN ANALISIS KRONOLOGI

    No full text
    Dalam penelitian arkeologi, teks kuna yang dapat dijadikan sebagai media informasi yang sangat penting dan dapat diperlukan untuk mengungkapkan situs-situs penting yang akan diteliti dan dapat membantu melacak situs, melalui toponim-toponim yang ada untuk melaksanakan kegiatan eksplorasi. Angka tahun yang tertera pada benda seperti daun lontar, bangunan makam kuna, masjid, mata uang keramik stempel dll, dalam hal ini angka tahun tersebut dapat mengetahui kronologi situs yang berkaitan dengan konteks temuan lainnya.In archaeological research, ancient text can be used as crucial information media. It is also required to reveal important researched sites and to support sites tracking through available toponymses in exploration activity. Digit year written on objects like palm leaves, papers, ancient graveyard, ancient mosques, cur­rency, ceramics, stamps, etc. The digit year tells about the chronological sites related to the other finding context

    Resensi Buku

    No full text

    36

    full texts

    277

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇