Poltek-EJS (Politeknik Katolik Saint Paul Sorong - Jurnal Elektronic System)
Not a member yet
661 research outputs found
Sort by
ANALISIS PECOBAAN KARAKTERISTIK BEBAN NOL GENERATOR INDUKSI 1 FASA
Generator Induksi adalah bagian dari mesin listrik arus bolak balik. Generator arus bolak balik berfungsi mengubah tenaga mekanis menjadi tenaga listrik arus bolak balik. Pada generator Induksi terdapat dua jenis karakteristik yaitu karakteristik beban nol dan berbeban. Karakteristik beban nol adalah karakeristik generator saat tidak ada beban. Sedangkan karakeristik berbeban adalah karakteristik generator saat telah di berikan beban. Karakteristik Beban Nol Meliputi Besarnya Tegangan Terminal, Arus Medan, Dan Fluks Magnetic Yang Di Hasilkan. Generator induksi bekerja dengan penguatan sendiri dengan menggunakan kapasitor. Kapasitor sangat berpengaruh pada karakteristik beban nol, karena kapasitor yang dialiri arus bolak balik akan menghasilkan reaktansi kapasitif, yang akan menghasilkan arus medan. Arus medan yang di hasilkan akan mempengaruhi besarnya tegangan terminal.sehingga pada saat nilai tegangan terminal telah di ketahui maka dapat di buat perhitungan untuk mencari besarnya nilai fluks magnetik
STUDI POTENSI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH (PLTSa) PADA TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) MAKBON KOTA SORONG
TPA mengemisikan Landfill Gas (LFG) yang mengandung paling banyak metana dan karbondioksida. Metana memiliki efek pemanasan beberapa kali lebih kuat dalam menyebabkan pemanasan bumi dibandingkan dengan CO2. Oleh karena itu pemanfaatan metana TPA sebagai bahan bakar pembangkit listrik telah menjadi target negara-negara berkembang untuk mengurangi green house gas emissions (GHGs). Sebelum membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di sebuah TPA dibutuhkan serangkaian studi untuk menentukan apakah PLTSa layak dibangun di TPA tersebut, salah satunya adalah mengetahui jumlah LFG dari TPA untuk menghitung potensi energi listrik yang dapat dihasilkan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jumlah LFG yang dihasilkan oleh TPA Makbon Kota Sorong dan selanjutnya menghitung potensi PLTSa berdasarkan kandungan metana dalam LFG. Tahapan penelitian dimulai dari pengumpulan data kuantitatif berupa jumlah ton sampah yang masuk ke TPA setiap tahun, ukuran TPA, dan jumlah penduduk. Untuk estimasi LFG digunakan LandGEM-v302 yang diunduh dari website US EPA. Sedangkan untuk estimasi potensi energi listrik digunakan rumus. Dari hasil penelitian, TPA Makbon Kota Sorong model sanitary landfill menghasilkan emisi maksimal metana sebesar 7,321 x 105 m3 pada tahun 2035 jika diasumsikan tahun 2020 mulai menerima sampah. Berdasarkan hasil penghitungan dengan menggunakan rumus diperoleh potensi energi listrik maksimal yang dihasilkan 1,685 x 106 kWh.TPA mengemisikan Landfill Gas (LFG) yang mengandung paling banyak metana dan karbondioksida. Metana memiliki efek pemanasan beberapa kali lebih kuat dalam menyebabkan pemanasan bumi dibandingkan dengan CO2. Oleh karena itu pemanfaatan metana TPA sebagai bahan bakar pembangkit listrik telah menjadi target negara-negara berkembang untuk mengurangi green house gas emissions (GHGs). Sebelum membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di sebuah TPA dibutuhkan serangkaian studi untuk menentukan apakah PLTSa layak dibangun di TPA tersebut, salah satunya adalah mengetahui jumlah LFG dari TPA untuk menghitung potensi energi listrik yang dapat dihasilkan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jumlah LFG yang dihasilkan oleh TPA Makbon Kota Sorong dan selanjutnya menghitung potensi PLTSa berdasarkan kandungan metana dalam LFG. Tahapan penelitian dimulai dari pengumpulan data kuantitatif berupa jumlah ton sampah yang masuk ke TPA setiap tahun, ukuran TPA, dan jumlah penduduk. Untuk estimasi LFG digunakan LandGEM-v302 yang diunduh dari website US EPA. Sedangkan untuk estimasi potensi energi listrik digunakan rumus. Dari hasil penelitian, TPA Makbon Kota Sorong model sanitary landfill menghasilkan emisi maksimal metana sebesar 7,321 x 105 m3 pada tahun 2035 jika diasumsikan tahun 2020 mulai menerima sampah. Berdasarkan hasil penghitungan dengan menggunakan rumus diperoleh potensi energi listrik maksimal yang dihasilkan 1,685 x 106 kWh
RANCANG BANGUN PROTOTYPE SISTEM PENGENDALIAN KECEPATAN DAN PENGEREMAN MENGGUNAKAN SENSOR JARAK
The research carried out aims to create an electric motor speed control and braking system that is used as a reference for electric car safety systems. By regulating the voltage received by a DC motor.
This system uses Arduino UNO as a controller. To measure the distance of a car with a barrier using the Ping Parallax proximity sensor. Signal PWM (Pulse Width Modulation) from the microcontroller is used to regulate the speed of the DC motor as the main driver of the vehicle. Tests carried out using a miniature car with a track length of 2 (two) meters.
The speed of a miniature electric car will stop before a collision occurs. braking uses the method of plugging by reversing the source polarity at distances below 10 (ten) cm, so that the motor will spin back to avoid the rest of the motor rotation that does not get a supply voltage. From this method, several motor conditions will be stopped gradually. Display distance between the vehicle with a barrier and motor rotation speed can be seen on the LCD
Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk membuat sistem pengendalian kecepatan dan pengereman motor DC secara elektris yang digunakan sebagai referensi sistem keamanan mobil listrik. Dengan mengatur besar kecil tegangan yang diterima motor DC.
Sistem ini menggunakan Arduino UNO sebagai controller. Untuk mengukur jarak mobil dengan penghalang menggunakan sensor jarak Ping Parallax. Sinyal PWM (Pulse Width Modulation) dari mikrokontroler digunakan untuk mengatur kecepatan motor DC sebagai penggerak utama kenderaan. Pengujian dilakukan menggunakan miniatur mobil dengan jaraki lintasan ssepanjang 2 (dua) meter.
Laju miniatur mobil listrik akan berhenti sebelum terjadi tabrakan. pengereman menggunakan metode secara plugging yaitu dengan membalik polaritas sumber pada jarak dibawah 10 (sepuluh) cm, sehingga motor akan berputar balik untuk menghindari sisa putaran motor yang sudah tidak mendapatkan supply tegangan. Dari metode ini didapat beberapa kondisi motor akan berhenti secara bertahap. Tampilan jarak antara kenderaan dengan penghalangdan kecepatan putaran motor dapat dilihat pada LCD
Pembangkit Listrik Tenaga Surya Di Waisai Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat
The electrical energy needs become one of the basic needs of both people who live in cities and people who live in villages. The government continues to strive to provide these electricity needs so that the electrification ratio and electricity villages in Indonesia can be gradually increased. Based on data from the Directorate General of Electricity and Energy Utilization of the Ministry of Energy and Mineral Resources in 2017, parts of western Indonesia ranging from the Aceh Special Region to Sulawasi, the electrification ratio reaches an average of above 70%. For the province of West Papua, has an electrification ratio of 82.7% but there is an imbalance in terms of equity where the ratio of electrified villages is only 54.47%. West Papua are rural and archipelago with geographical conditions making mobilization of tools very difficult. To increase the ratio of electricity villages, one solution that can be done is to optimize the use of natural resources for construction of electricity generation. The potential of natural resources in West Papua especially in the Waisai region of Raja Ampat Regency is abundant solar energy both in the intensity of solar radiation and the length of time of irradiation due to geographical location located on equator.
The research was carried out experimentally by making solar power plants using photovoltaic 50 Wp to obtain empirical data that provides information on the potential parameters of solar power plants. The results obtained indicate that in Waisai Raja Ampat the maximum radiation intensity can reach 1101.2 W / m2, the maximum input power and maximum power output of photovoltaic cells are 339.9404 Watt and 30.46640 Watt and maximum efficiency reaching 9.26%. Based on these empirical data, the prospect of utilizing photovoltaic type solar power plants in Waisai Raja Ampat Regency is very good and appropriate.Pada masa sekarang kebutuhan akan energi listrik telah menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat baik yang tinggal di kota maupun masyarakat yang tinggal di desa. Penyediaan kebutuhan energi listrik tersebut terus diupayakan oleh pemerintah agar rasio elektrifikasi dan desa belistrik di Indonesia dapat ditingkatkan secara bertahap. Berdasrkan data Direktorat Jenderal Listrik Dan Pemanfaatan Energi Kementerian ESDM tahun 2017 sebagian wilayah barat indonesia mulai dari Daerah Istimewa Aceh hingga Sulawasi ratio elektrifikasinya mencapai rata-rata di atas 70%. Khususnya provinsi Papua Barat rasio elektrifikasinya mencapai 82,7% namun terdapat ketimpangan dalam hal pemerataan dimana rasio desa berlistrik hanya mencapai 54,47%. Hal ini disebabkan oleh karena sebagian wilayah Papua Barat adalah pedesaan, daerah terpencil dan kepulauan dengan kondisi geografis berupa pegunungan meyebabkan mobilisasi alat sangat sulit. Untuk meningkatkan rasio desa belistrik maka salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam untuk pembangunan pembangkitkan listrik. Potensi sumber daya alam Provinsi Papua Barat khususnya wilayah Waisai Kabupaten Raja Ampat adalah energi sinar matahari yang melimpah baik dalam intensitas radiasi matahari maupun lamanya waktu penyinaran karena letak geografis yang terletak pada garis khatulistiwa.
Pada penelitian dilakukan secara eksperimen dengan membuat pembangkit listrik tenaga surya type photovoltaic 50 Wp untuk memperoleh data secara empiris yang memberikan informasi parameter potensi pembangkit listrik tenaga surya. Hasil penelitian yang diperoleh menyatakan bahwa di Waisai Raja Ampat intensitas radiasi maksimumum dapat mencapai 1101.2 W/m2, daya input maksimum dan daya ouput maksimum sel photovoltaik masing-masing 339,9404 Watt dan 30,46640 Watt dengan efisiensi maksimum mencapai 9,26%. Berdasarkan data empiris tersebut maka prospek pemanfataan pembangkit listrik tenaga surya type photovoltaic di Waisai Kabupaten Raja Ampat sangat baik dan tepat
RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI DAN MONITORING LEVEL, DEBIT AIR DAN PROTEKSI POMPA LISTRIK
Air adalah elemen terkuat di bumi dan mahluk hidup di dunia sangat membutuhkan air manusia, tumbuhan dan hewan,air menjadi bahan pokok untuk kehidupan. Penggunaan pompa listrik untuk kebutuhan air pada umumnya memiliki kekurangan dimana pompa listrik menjadi rusak (terbakar) disebabkan kurang efisiennya penggunaan pompa yang hidup terus menerus dan tidak terkontrol. Di dalam penelitian ini penulis akan merancang alat pompa otomatis yang dapat mendeteksi level air, debit air dan dapat proteksi pompa listrik dari kerusakan apabila terjadi arus listrik lebih dan apabila air tidak mengalir dalam waktu tertentu. Dengan adanya alat ini mempermudah manusia untuk mengatur pemakaian air, mengetahui debit air yang masuk ke bak penampungan air dan apabila pompa air tersebut bermasalah, tanpa harus bersusah payah mencari kerusakan karena semua sudah dapat di lihat pada layar lcd. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa alat tersebut sangat berguna untuk mengatur penggunaan air dengan mengatur batas level maksimum dan batas level minimum maka pompa akan hidup dan mati secara otomatis. Dan apabila karena kurang debit air yang mengalir pompa akan mati secara otomati
PENENTUAN DAN PENGUNGKAPAN PENDAPATAN DAN BEBAN MENGGUNAKAN METODE PENENTUAN TAHAP PENYELESAIAN SUATU KONTRAK DAN WAKTU PENGAKUAN PENDAPATAN DAN BEBAN KONTRAK
Revenue should be measured by the fair value of earned or earned rewards. The amount of revenue arising from a transaction is usually determined by an agreement between the company and the buyer or user of the actuva. AIA (IASC) defines costs in Financial Accounting Standards (2002) as follows: Expense is a decrease in economic benefits during an accounting period in the form of outflows or reduced assets or the occurrence of liabilities that result in a decrease in revenue that does not involve distribution to investors. According to AIA (2010) in the percentage settlement method, contract revenue is related to contract costs incurred in reaching the completion stage. Fair value as the price that will be accepted to sell the asset or the price that will be paid to transfer a liability in an orderly transaction between market participants on the measurement date. During the early stages of a contract, it often happens that the outcome of the contract cannot be estimated reliably. However, it is possible that the entity will recover the contract costs incurre
PENGARUH JUMLAH KATALISATOR PADA HYDROCARBON CRACK SYSTEM (HCS) DAN JENIS BUSI TERHADAP DAYA MESIN SEPEDA MOTOR HONDA SUPRA X 125
Penelitian ini dilakakukan untuk (1) Menyelidiki pengaruh jumlah katalisator pada Hydrocarbon Crack System terhadap daya mesin sepeda motor supra x 125. (2) menyelidiki pengaruh Variasi jenis busi terhadap daya mesin sepeda motor supra x 125. (3) Menyelidiki interaksi pengaruh jumlah katalisator pada Hydrocarbon Crack System dan Variasi jenis busi terhadap daya mesin sepeda motor supra x 125. Hasil yang diperoleh ternyata : (1) Ada pengaruh sinifikan jumlah katalisator Hydrocarbon Crack System terhadap daya mesin sepeda motor supra x 125. Dimana pemasangan dua buah katalis Hydrocarbon Crack System menghasilkan daya yang paling besar dengan rerata daya sebesar 4,58 kW, disusul selanjutnya pemasangan satu buah katalis Hydrocarbon Crack System dengan rerata 4,47 kW. Dan yang terakhir tanpa pemasangan Hydrocarbon Crack System dengan rerata 4,31 kW. (2) Pengaruh Variasi jenis Busi terhadap Daya mesin Sepeda motor supra x 125. Hal ini dapat ditunjukan pada hasil uji data, dimana pemakain busi platinum menghasilkan daya lebih besar dengan rerata 4,50 kW dibandingkan dengan pemakaian busi stndart dengan rerata 4,45 kW. (3) Interaksi pengaruh antara penggunaan jumlah katalisator pada Hydrocarbon Crack System dan Variasi jenis busi terhadap daya mesin dimana pemakaian dua buah katalisator dengan variasi jenis busi platinum dapa menghasilkan daya yang besar dengan rerata 4,63 kW
ANALISIS PERBANDINGAN DAYA DAN TORSI PADA ALAT PEMOTONG RUMPUT ELEKTRIK (APRE)
APRE merupakan alat pemotong rump ut elektrik yang menggunakan motor induksi 1 fasa sebagai motor penggeraknya. Untuk mengetahui seberapa besar daya listrik dan torsi yang dihasilkan, maka perlu adanyaanalisis perhitungan daya dan torsi ketika APRE berkerja tanpa diberikan dan dengan diberikan beban secara teoritis. Pada percobaan, perhitungan dan analisis yang telah dilakukan, diketahui bahwa untuk daya listrik APRE tanpa beban sebesar 62,65 Watt dan torsi APRE sebesar 0,45 Nm, sedangkan untuk daya listrik APRE dengan beban sebesar 103,7 Watt dan torsi APRE sebesar 1,14 Nm. Dari percobaan ini, juga dapat diketahui terdapat adanya hungan antara torsi dan daya, ketika motor diberikan beban maka akan terjadi kenaikan torsi yang juga akan berpengaruh terhadap naiknya daya listrik
ANALISIS ENERGI PADA PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP (PLTU) DENGAN CYCLE TEMPO
Penelitian ini bertujuan untuk membuat pemodelan siklus uap (steam cycle) untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan menggunakan program Cycle-Tempo dan untuk Mengetahui besarnya prestasi (energi) yang dihasilkan oleh siklus Uap (steam cycle) untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) pada berbagai kondisi dengan menggunakan program Cycle-Tempo.Data yang diambil adalah data spesifikasi dan desain termal serta beberapa data pendukung yang berkaitan dengan bahan bakar dan perhitungan ekonomi dengan formulasi yang ada berdasarkan hukum pertama dan kedua termodinamika. perhitungan mengenai kesetimbangan energi pada sistem PLTU dapat digambarkan dengan diagram sankey (gambar 4.14), besar energi yang dihasilkan dari pembakaran batubara yakni 36088,89 kW sedangkan jumlah yang dapat diserap oleh fluida dalam boiler adalah 25262,22 kW. Kerugian energi pada boiler adalah sebesar 10826,67 kW atau sebesar 29,99% merupakan kerugian energi yang terbawa melalui gas asap, adanya karbon yang tidak terbakar, kerugian energi akibat kelemba ban bahan bakar, terdapatnya hidrogen dalam bahan bakar, kerugian energi akibat radiasi dan konveksi serta kerugian energi yang terbawa melalui abu dan terak. Sedangkan energi yang diteruskan sebagai penggerak (input) komponen-komponen lain adalah sebesar 16651,96 kW namun dari sejumlah energi tersebut sebanyak 14993,25 kW dari energi yang keluar dari turbin masih dilepaskan melalui pendingin pada konsensor. Jumlah energi yang dapat ditransfer untuk menghasilkan energi listrik maksimum adalah 8351,95 kW atau sekitar 21,14%. Dengan perhitungan berdasarkan hukum pertama termodinamika dimana daya yang dibangkitkan sebesar 8351,95 kW dan absorbsi energi pada boiler dari hasil pembakaran sebesar 36088,89 kW diperoleh efisiensi termal siklus sebesar 22,44%
KUALITAS AIR TANAH BERDASARKAN KANDUNGAN TEMBAGA [Cu(II)], MANGAN [Mn(II)] DAN SENG [Zn(II)] DI DUSUN – DUSUN SEKITAR TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH NGRONGGO, SALATIGA
Penelitian tentang kualitas air tanah berdasarkan kandungan tembaga [Cu(II)], mangan [Mn(II)], dan seng [Zn(II)] di dusun - dusun sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Ngronggo, Salatiga. Data dianalisa di Laboratorium Kimia Lingkungan, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Tujuan dari penelitian ini adalah: Pertama, menentukan kualitas air sumur berdasarkan kandungan tembaga [Cu(II)], mangan [Mn(II)], dan seng [Zn(II)] dalam sumur di dusun – dusun sekitar TPA dalam radius kurang dari 1 km dan lebih dari 1 km ditelaah dengan PP No. 82 Tahun 2001. Kedua, menentukan tingkat pencemaran air sumur dengan menggunakan Indeks Pencemaran (IP). Contoh air sumur diambil dari 37 lokasi secara acak stratifikasi disproporsional di dusun – dusun sekitar TPA dalam radius kurang dari 1 km dan lebih dari 1 km. Data hasil analisis logam berat, parameter kimiawi dibandingkan dengan PP No. 82 Tahun 2001, sedangkan parameter fisiko dan bakteriologis dibandingkan dengan Keputusan MenKes RI No.907/MENKES/SK/VII/2002. Untuk menentukkan tingkat pencemaran air tanah digunakan Indeks Pencemaran (IP) berdasarkan keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.115 Tahun 2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam radius kurang dari 1 km dari TPA Ngronggo, dari 15 sumur yang telah diteliti terdapat 6 sumur tercemar Cu(II), Mn(II) dan Zn(II) (40%), 3 sumur tercemar Cu(II)dan Mn(II) (20%). 3 sumur tercemar Mn(II) dan Zn(II)(20%), sedangkan 3 sumur yang lain hanya tercemar Zn(II) (20%). Selanjutnya dari ke 22 sumur yang telah diteliti dalam radius lebih dari 1 km dari TPA Ngronggo terdapat 4 sumur yang tercemar Cu(II), Mn(II) dan Zn(II) (18,18%), 10 sumur tercemar Mn(II) dan Zn(II) (45,45%), 2 sumur tercemar Cu(II)dan Zn(II) (9,09%), dan 6 sumur hanya tercemar Zn(II) (27,27%). Berdasarkan indeks pencemaran dari 37 sumur yang diteliti semua sumur berstatus cemar ringan (100%) baik yang berada dalam radius kurang dari 1 km maupun lebih dari 1 k