Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
604 research outputs found
Sort by
Pengaruh Jenis dan Dosis Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kacang Hijau (Vigna radiata L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan dosis pupuk kandang serta mendapatkan jenis pupuk kandang dan dosis pupuk yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil kacang hijau yang terbaik. Percobaan lapangan menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah jenis pupuk kandang yang terdiri dari tiga aras yaitu pupuk kandang sapi, pupuk kandang babi dan pupuk kandang ayam. Faktor kedua adalah dosis pupuk yang terdiri dari tiga aras yaitu 5 t/ha, 10 t/ha dan 15 t/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh interaksi hanya terjadi pada parameter jumlah biji per polong dan berat kering berangkasan sedangkan parameter lainnya tidak terjadi interaksi antara perlakuan jenis dan dosis pupuk kandang. Jenis pupuk kandang berpengaruh nyata pada tinggi tanaman 14 HST dan panjang polong, sedangkan dosis pupuk kandang berpengaruh nyata terhadap suhu tanah 28 HST dan 42 HST serta jumlah polong per tanaman. Pemberian pupuk kandang babi memberikan hasil tertinggi pada kacang hijau yakni 1,43 t/ha, sedangkan dosis pupuk kandang 10 t/ha memberikan hasil tertinggi pada kacang hijau yakni 1,58 t/ha. Pemberian pupuk kandang babi dengan dosis 10 t/ha dapat mencapai hasil kacang hijau 1,91 t/ha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan dosis pupuk kandang serta mendapatkan jenis pupuk kandang dan dosis pupuk yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil kacang hijau yang terbaik. Percobaan lapangan menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah jenis pupuk kandang yang terdiri dari tiga aras yaitu pupuk kandang sapi, pupuk kandang babi dan pupuk kandang ayam. Faktor kedua adalah dosis pupuk yang terdiri dari tiga aras yaitu 5 t/ha, 10 t/ha dan 15 t/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh interaksi hanya terjadi pada parameter jumlah biji per polong dan berat kering berangkasan sedangkan parameter lainnya tidak terjadi interaksi antara perlakuan jenis dan dosis pupuk kandang. Jenis pupuk kandang berpengaruh nyata pada tinggi tanaman 14 HST dan panjang polong, sedangkan dosis pupuk kandang berpengaruh nyata terhadap suhu tanah 28 HST dan 42 HST serta jumlah polong per tanaman. Pemberian pupuk kandang babi memberikan hasil tertinggi pada kacang hijau yakni 1,43 t/ha, sedangkan dosis pupuk kandang 10 t/ha memberikan hasil tertinggi pada kacang hijau yakni 1,58 t/ha. Pemberian pupuk kandang babi dengan dosis 10 t/ha dapat mencapai hasil kacang hijau 1,91 t/ha. 
Pengaruh Kondisi Simpan terhadap Viabilitas dan Vigor Benih Tomat (Lycopersicum esculentum Mill)
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kondisi simpan yang tepat terhadap viabilitas dan vigor benih tomat selama penyimpanan serta mengetahui lama periode simpan terhadap viabilitas dan vigor benih tomat. Penelitian mengunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), pola faktorial, dengan dua perlakuan yang terdiri dari kondisi simpan dan periode simpan benih.Faktor pertama kondisi simpan, yang terdiri dari dua aras yakni penyimpanan benih pada suhu kamar (KM ), dan penyimpanan benih pada suhu kulkas (KL), faktor kedua periode simpan, terdiri dari 7 aras yakni 0 minggu (S1), 2 minggu (S2), 4 minggu (S3), 6 minggu (S4), 8 minggu (S5), 10 minggu (S6), dan 12 minggu (S7). Hasil penelitian menunjukkan kondisi simpan dan lamanya periode simpan memberikan pengaruh interaksi terhadap parameter kadar air dan kecepatan tumbuh. Suhu kulkas selama periode simpan S12 memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter kecepatan tumbuh, potensi tumbuh maksimum, daya berkecambah, dan indeks vigor, dan memberikan pengaruh yang sangat nyata pada parameter kadar air, keserempakan tumbuh, dan berat kering kecambah normal. Kondisi simpan pada benih yang disimpan pada suhu kulkas selama 12 minggu memberikan nilai kecamabah normal tertinggi untuk setiap parameter pengamatan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kondisi simpan yang tepat terhadap viabilitas dan vigor benih tomat selama penyimpanan serta mengetahui lama periode simpan terhadap viabilitas dan vigor benih tomat. Penelitian mengunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), pola faktorial, dengan dua perlakuan yang terdiri dari kondisi simpan dan periode simpan benih.Faktor pertama kondisi simpan, yang terdiri dari dua aras yakni penyimpanan benih pada suhu kamar (KM ), dan penyimpanan benih pada suhu kulkas (KL), faktor kedua periode simpan, terdiri dari 7 aras yakni 0 minggu (S1), 2 minggu (S2), 4 minggu (S3), 6 minggu (S4), 8 minggu (S5), 10 minggu (S6), dan 12 minggu (S7). Hasil penelitian menunjukkan kondisi simpan dan lamanya periode simpan memberikan pengaruh interaksi terhadap parameter kadar air dan kecepatan tumbuh. Suhu kulkas selama periode simpan S12 memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter kecepatan tumbuh, potensi tumbuh maksimum, daya berkecambah, dan indeks vigor, dan memberikan pengaruh yang sangat nyata pada parameter kadar air, keserempakan tumbuh, dan berat kering kecambah normal. Kondisi simpan pada benih yang disimpan pada suhu kulkas selama 12 minggu memberikan nilai kecamabah normal tertinggi untuk setiap parameter pengamatan. 
Pengaruh Takaran Arang Sekam Padi dan Frekuensi Penyemprotan Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabe Merah (Capsicum annum L.)
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh takaran arang sekam dan frekuensi penyemprotan pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabe merah. Penelitian mengunakan rancangan acak kelompok (RAK). Faktor pertama adalah takaran arang sekam, terdiri dari 3 level yaitu 1 kg/petak, 1,5 kg/petak dan 2 kg/petak. Faktor kedua adalah frekuensi penyemprotan yang terdiri dari 3 level, yakni 1 kali (15 HST), 2 kali (15 dan 30 HST dan 3 kali (15, 30, 45 HST). Hasil penelitian menunjukan bahwa interaksi antara takaran arang sekam padi dan frekuensi penyemprotan terjadi pada kadar lengas tanah 30 HST, tinggi tanaman 48 HST, dan diameter batang 48 HST. Takaran arang sekam padi berpengaruh nyata terhadap suhu tanah 30 dan 48 HST, kadar lengas tanah 30 HST, diameter batang 48 HST, dan panjang buah per tanaman. Sedangkan frekuensi penyemprotan berpengaruh nyata terhadap kadar lengas tanaman 48 HST, tinggi tanaman pada 48 HST. Takaran arang sekam padi 2 kg menghasilkan berangkasan segar dan berangkasan kering yang paling berat. Frekuensi penyemprotan tiga kali memberikan hasil panen per tanaman berupa buah yang paling panjang dan yang paling banyak. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh takaran arang sekam dan frekuensi penyemprotan pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabe merah. Penelitian mengunakan rancangan acak kelompok (RAK). Faktor pertama adalah takaran arang sekam, terdiri dari 3 level yaitu 1 kg/petak, 1,5 kg/petak dan 2 kg/petak. Faktor kedua adalah frekuensi penyemprotan yang terdiri dari 3 level, yakni 1 kali (15 HST), 2 kali (15 dan 30 HST dan 3 kali (15, 30, 45 HST). Hasil penelitian menunjukan bahwa interaksi antara takaran arang sekam padi dan frekuensi penyemprotan terjadi pada kadar lengas tanah 30 HST, tinggi tanaman 48 HST, dan diameter batang 48 HST. Takaran arang sekam padi berpengaruh nyata terhadap suhu tanah 30 dan 48 HST, kadar lengas tanah 30 HST, diameter batang 48 HST, dan panjang buah per tanaman. Sedangkan frekuensi penyemprotan berpengaruh nyata terhadap kadar lengas tanaman 48 HST, tinggi tanaman pada 48 HST. Takaran arang sekam padi 2 kg menghasilkan berangkasan segar dan berangkasan kering yang paling berat. Frekuensi penyemprotan tiga kali memberikan hasil panen per tanaman berupa buah yang paling panjang dan yang paling banyak.  
Pengaruh Model Penyimpanan Benih dan Jenis Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung (Zea mays L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model penyimpanan benih dan jenis pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan hasil jagung serta mengetahui model penyimpanan benih dan jenis pupuk kandang yang tepat dan memberikan pertumbuhan dan hasil jagung yang terbaik. Penelitian mengunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah model penyimpanan benih yang terdiri dari tiga aras yaitu penyimpanan benih di dapur dengan klobot (pengasapan), penyimpan di lopo atau lumbung dan penyimpan dalam drum atau jerigen. Faktor kedua adalah jenis pupuk kandang yang terdiri dari tiga aras yaitu pupuk kandang sapi, pupuk kandang kambing dan pupuk kandang ayam. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara model penyimpanan benih dan jenis pupuk kandang tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan dan hasil jagung. Model penyimpanan benih tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan dan hasil jagung yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model penyimpanan benih dan jenis pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan hasil jagung serta mengetahui model penyimpanan benih dan jenis pupuk kandang yang tepat dan memberikan pertumbuhan dan hasil jagung yang terbaik. Penelitian mengunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah model penyimpanan benih yang terdiri dari tiga aras yaitu penyimpanan benih di dapur dengan klobot (pengasapan), penyimpan di lopo atau lumbung dan penyimpan dalam drum atau jerigen. Faktor kedua adalah jenis pupuk kandang yang terdiri dari tiga aras yaitu pupuk kandang sapi, pupuk kandang kambing dan pupuk kandang ayam. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara model penyimpanan benih dan jenis pupuk kandang tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan dan hasil jagung. Model penyimpanan benih tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan dan hasil jagung yang baik.  
Analisis Efisiensi Teknis dan Alokatif Usahatani Jagung (Studi Kasus di Desa Bitefa Kecamatan Miomafo Timur Kabupaten Timor Tengah Utara)
Penenitian analisis efisiensi teknis dan alokatif usahatani jagung dilakukan di desa Bitefa Kecamatan Miomafo Timur Kabupaten Timor Tengah Utara dengan pertimbangan lokasi ini memiliki produksi tertinggi di Kecamatan Miomafo Timur. Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder, sampel yang diambil menggunakan metode Slovin sehingga diperoleh responden sebanyak 46 orang. Analisis yang digunakan adalah analisis fungsi produksi stichastic frontier. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi jagung adalah luas lahan pada taraf signifikan 1 persen dan benih pada taraf signifikan 1 persen. Sedangkan untuk faktor tenaga kerja, biaya dan pupuk tidak berpengaruh nyata. Tingkat efisiensi teknik usahatani jagung di daerah penelitian terendah yaitu sebesar 0,80 dan tingkat efisiensi tertinggi dari usahatani jagung yaitu sebesar 0,99. Penggunaan luas lahan dan benih ternyata masih belum efisien, hal ini ditunjukan dengan besarnya perbandingan antara NPMx / Px < 1. Faktor-faktor yang berpengruh terhadap efek inefisiensi adalah pendidikan formal berpengaruh negatif yang berarti semakin tinggi pendidikan formal dapat menurunkan efisiensi secara teknis. Sementara pendidikan nonformal berpengaruh positif yang berarti jika petani responden semakin sering mengikuti pelatihan dan penyuluhan di bidang pertanian akan bermanfaat untuk meningkat efisiensi teknis usahatni jagung, karena pengetahuan yang diperoleh dalam mengikuti pelatihan dan penyuluhan lebih diarahkan pada penerapan budidaya dan usahatani di bidang pertanian agar petani dapat mengetahui cara mengelola usahataninya dengan baik dan benar, terutama dalam menggunakan faktor-faktor produksi seperti lahan, benih, biaya, tenaga kerja dan pupuk. Penenitian analisis efisiensi teknis dan alokatif usahatani jagung dilakukan di desa Bitefa Kecamatan Miomafo Timur Kabupaten Timor Tengah Utara dengan pertimbangan lokasi ini memiliki produksi tertinggi di Kecamatan Miomafo Timur. Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder, sampel yang diambil menggunakan metode Slovin sehingga diperoleh responden sebanyak 46 orang. Analisis yang digunakan adalah analisis fungsi produksi stichastic frontier. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi jagung adalah luas lahan pada taraf signifikan 1 persen dan benih pada taraf signifikan 1 persen. Sedangkan untuk faktor tenaga kerja, biaya dan pupuk tidak berpengaruh nyata. Tingkat efisiensi teknik usahatani jagung di daerah penelitian terendah yaitu sebesar 0,80 dan tingkat efisiensi tertinggi dari usahatani jagung yaitu sebesar 0,99. Penggunaan luas lahan dan benih ternyata masih belum efisien, hal ini ditunjukan dengan besarnya perbandingan antara NPMx / Px < 1. Faktor-faktor yang berpengruh terhadap efek inefisiensi adalah pendidikan formal berpengaruh negatif yang berarti semakin tinggi pendidikan formal dapat menurunkan efisiensi secara teknis. Sementara pendidikan nonformal berpengaruh positif yang berarti jika petani responden semakin sering mengikuti pelatihan dan penyuluhan di bidang pertanian akan bermanfaat untuk meningkat efisiensi teknis usahatni jagung, karena pengetahuan yang diperoleh dalam mengikuti pelatihan dan penyuluhan lebih diarahkan pada penerapan budidaya dan usahatani di bidang pertanian agar petani dapat mengetahui cara mengelola usahataninya dengan baik dan benar, terutama dalam menggunakan faktor-faktor produksi seperti lahan, benih, biaya, tenaga kerja dan pupuk. 
Perbandingan Penggunaan Dua Jenis Ransum terhadap Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH), Konsumsi Ransum dan Konversi Ransum Ayam Broiler
Penelitian ini bertujuan membandingkan kualitas ransum yang dibuat sendiri dengan ransum konvensional terhadap penampilan (PBBH ), konsumsi ransum, dan konversi ransum ayam broiler, dilaksanakan di kandang peternakan, Fakultas Pertanian Universitas Timor, Kabupaten Timor Tengah Utara selama 1 (satu) bulan lebih berlangsung dari tanggal 17 Februari sampai dengan 24 Maret 2015. Masing-masing ransum di berikan pada ayam Broiler dari umur 0-35 hari atau 5 minggu dengan melihat penampilan ayam broiler dan PBBH. Jumlah ayam broiler yang digunakan sebanyak 80 ekor. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan ransum buatan memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertambahan bobot badan, konsumsi dan konversi ransum. Bobot badan akhir umur 35 hari pada perlakuan ransum buatan dengan rataan pada kisaran 184,58-223,15 gram/ekor; dengan rata- rata akhir 205,39 gram/ekor lebih tinggi dibandingkan pada perlakuan ransum konvensional yang menghasilkan kisaran rataan 181,88-209,91 gram/ekor; dengan rata-rata 194,62 gram/ekor. Konsumsi ransum selama 35 hari pada perlakuan ransum buatan pada kisaran rataan 629,39-658,78 gram/ekor, dengan rata-rata 640,43 gram/ekor, lebih rendah dibandingkan pada perlakuan ransum konvensional yang menghasilkan rataan 695,15-728,48, dengan rata-rata 713,81 gram/ekor. Konversi ransum pada perlakuan ransum buatan berada pada kisaran ratan 2,81-3,48 gram/ekor, dengan rata- rata konversi ransum 3,12 gram, lebih baik dibandingkan pada perlakuan ransum konvensional yang menghasilkan kisaraan rataan 3,08-3,88 gram/ekor, dengan rata-rata konversi 3,67 gram. ©2016 dipublikasikan oleh JAS.Penelitian ini bertujuan membandingkan kualitas ransum yang dibuat sendiri dengan ransum konvensional terhadap penampilan (PBBH ), konsumsi ransum, dan konversi ransum ayam broiler, dilaksanakan di kandang peternakan, Fakultas Pertanian Universitas Timor, Kabupaten Timor Tengah Utara selama 1 (satu) bulan lebih berlangsung dari tanggal 17 Februari sampai dengan 24 Maret 2015. Masing-masing ransum di berikan pada ayam Broiler dari umur 0-35 hari atau 5 minggu dengan melihat penampilan ayam broiler dan PBBH. Jumlah ayam broiler yang digunakan sebanyak 80 ekor. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan ransum buatan memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertambahan bobot badan, konsumsi dan konversi ransum. Bobot badan akhir umur 35 hari pada perlakuan ransum buatan dengan rataan pada kisaran 184,58-223,15 gram/ekor; dengan rata- rata akhir 205,39 gram/ekor lebih tinggi dibandingkan pada perlakuan ransum konvensional yang menghasilkan kisaran rataan 181,88-209,91 gram/ekor; dengan rata-rata 194,62 gram/ekor. Konsumsi ransum selama 35 hari pada perlakuan ransum buatan pada kisaran rataan 629,39-658,78 gram/ekor, dengan rata-rata 640,43 gram/ekor, lebih rendah dibandingkan pada perlakuan ransum konvensional yang menghasilkan rataan 695,15-728,48, dengan rata-rata 713,81 gram/ekor. Konversi ransum pada perlakuan ransum buatan berada pada kisaran ratan 2,81-3,48 gram/ekor, dengan rata- rata konversi ransum 3,12 gram, lebih baik dibandingkan pada perlakuan ransum konvensional yang menghasilkan kisaraan rataan 3,08-3,88 gram/ekor, dengan rata-rata konversi 3,67 gram. ©2016 dipublikasikan oleh JAS
Estimasi Nilai Ripitabilitas dan MPPA (Most Probable Producing Ability) Produksi Susu Sapi FH di Peternakan Noviciat Claretian Benlutu, Kabupaten Timor Tengah Selatan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya nilai ripitabilitas (angka pengulangan) dan MPPA (Most Probable Producing Ability) produksi susu perlaktasi sapi FH yang dihasilkan di peternakan Noviciat Claretian Benlutu, dilaksanakan di Peternakan Sapi Perah FH Novisiat Claretian Benlutu selama 1 bulan yakni 5 Januari sampai dengan 5 Februari 2015. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah catatatan (recording) umur sapi betina pada waktu mengalami laktasi, lama laktasi pada setiap periode laktasi, frekuensi pemerahan per hari dan produksi susu per laktase sapi FH. Catatan tersebut merupakan catatan dari 13 ekor induk sapi FH dengan jumlah laktasi 5 kali. Metode yang digunakan adalah metode survei. Data yang diambil adalah data primer tentang gambaran umum peternakan sapi perah dan data sekunder yakni catatan produksi susu per laktasi. Nilai ripitabilitas yang diperoleh dalam penelitian ini diestimasi dengan metode korelasi intra kelas karena semua induk sapi FH yang datanya digunakan dalam penelitian ini memiliki catatan produksi susu sebanyak lima kali. Hasil penelitian menunjukkan nilai estimasi ripitabilitas produksi susu sapi FH di Peternakan Noviciat Claretian Benlutu adalah 0.54% ± 0.27%. Estimasi nilai MPPA tertinggi berdasarkan lebih dari dua catatan produksi dicapai oleh induk sapi Delia yakni 1937,42 liter dan terendah dimiliki oleh induk sapi Lusia 1806,21 liter dengan rata-rata MPPA produksi susu adalah 1869,68 liter ± 47.48 liter. Hal ini menunjukkan bahwa induk sapi FH di lokasi penelitian memiliki kemampuan yang bervariasi dalam menghasilkan air susu. ©2016 dipublikasikan oleh JAS.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya nilai ripitabilitas (angka pengulangan) dan MPPA (Most Probable Producing Ability) produksi susu perlaktasi sapi FH yang dihasilkan di peternakan Noviciat Claretian Benlutu, dilaksanakan di Peternakan Sapi Perah FH Novisiat Claretian Benlutu selama 1 bulan yakni 5 Januari sampai dengan 5 Februari 2015. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah catatatan (recording) umur sapi betina pada waktu mengalami laktasi, lama laktasi pada setiap periode laktasi, frekuensi pemerahan per hari dan produksi susu per laktase sapi FH. Catatan tersebut merupakan catatan dari 13 ekor induk sapi FH dengan jumlah laktasi 5 kali. Metode yang digunakan adalah metode survei. Data yang diambil adalah data primer tentang gambaran umum peternakan sapi perah dan data sekunder yakni catatan produksi susu per laktasi. Nilai ripitabilitas yang diperoleh dalam penelitian ini diestimasi dengan metode korelasi intra kelas karena semua induk sapi FH yang datanya digunakan dalam penelitian ini memiliki catatan produksi susu sebanyak lima kali. Hasil penelitian menunjukkan nilai estimasi ripitabilitas produksi susu sapi FH di Peternakan Noviciat Claretian Benlutu adalah 0.54% ± 0.27%. Estimasi nilai MPPA tertinggi berdasarkan lebih dari dua catatan produksi dicapai oleh induk sapi Delia yakni 1937,42 liter dan terendah dimiliki oleh induk sapi Lusia 1806,21 liter dengan rata-rata MPPA produksi susu adalah 1869,68 liter ± 47.48 liter. Hal ini menunjukkan bahwa induk sapi FH di lokasi penelitian memiliki kemampuan yang bervariasi dalam menghasilkan air susu. ©2016 dipublikasikan oleh JAS
Respon Pertumbuhan dan Produksi Rumput Benggala (Panicum maximum) terhadap Aplikasi FMA (Fungi micoriza arbuscula) dengan Beberapa Jenis Pupuk Kandang
Penelitian ini bertujuan mengetahui sejauh mana nilai pertumbuhan (tinggi tanaman, diameter batang dan lebar daun) dan produksi (berat segar tajuk, berat kering tajuk dan kadar air) rumput Benggala (Panicum maximum) yang diberi aplikasi FMA (Fungi micoriza arbuscula) dengan variasi beberapa jenis pupuk kandang. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada lahan milik masyarakat dikelurahan benpasi, kecamatan kota kefamenanu, kabupaten TTU. Adapun rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diuji dalam peneltian ini terdiri dari : R0: Tanpa FMA dan pupuk kandang; 2) R1: FMA 30 g Â+ feses sapi 500 g per lubang tanam; 3) R2: FMA 30 g Â+ feses ayam 500 g per lubang tanam; 4) R3: FMA 30 g Â+ feses kambing 500 g per lubang tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kecepatan tumbuh (tinggi tanaman, lebar daun, diameter batang dan jumlah anakan) pada tanaman rumput Benggala pada masa produksi I dan II, sedangkan secara komulatif dari hasil penelitian nampak bahwa pemberian Mikoriza 30 g + feces sapi 500 g memberikan kontribusi terbaik terhadap variabel tinggi tanaman (57,72 cm/bedeng/minggu) dan berat kering tajuk (563,44 gr/bedeng) sedangkan pada perlakuan Mikoriza 30 g + ayam 500 g memberikan kontribusi terbaik terhadap variabel lebar daun (2,34 cm/bedeng/minggu), diameter batang (1.43 cm/bedeng/minggu), jumlah anakan (13.86 bedeng/minggu), berat segar tajuk (2752,10 gr/bedeng) dan kadar air daun (80,63%). ©2016 dipublikasikan oleh JAS.Penelitian ini bertujuan mengetahui sejauh mana nilai pertumbuhan (tinggi tanaman, diameter batang dan lebar daun) dan produksi (berat segar tajuk, berat kering tajuk dan kadar air) rumput Benggala (Panicum maximum) yang diberi aplikasi FMA (Fungi micoriza arbuscula) dengan variasi beberapa jenis pupuk kandang. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada lahan milik masyarakat dikelurahan benpasi, kecamatan kota kefamenanu, kabupaten TTU. Adapun rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diuji dalam peneltian ini terdiri dari : R0: Tanpa FMA dan pupuk kandang; 2) R1: FMA 30 g Â+ feses sapi 500 g per lubang tanam; 3) R2: FMA 30 g Â+ feses ayam 500 g per lubang tanam; 4) R3: FMA 30 g Â+ feses kambing 500 g per lubang tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kecepatan tumbuh (tinggi tanaman, lebar daun, diameter batang dan jumlah anakan) pada tanaman rumput Benggala pada masa produksi I dan II, sedangkan secara komulatif dari hasil penelitian nampak bahwa pemberian Mikoriza 30 g + feces sapi 500 g memberikan kontribusi terbaik terhadap variabel tinggi tanaman (57,72 cm/bedeng/minggu) dan berat kering tajuk (563,44 gr/bedeng) sedangkan pada perlakuan Mikoriza 30 g + ayam 500 g memberikan kontribusi terbaik terhadap variabel lebar daun (2,34 cm/bedeng/minggu), diameter batang (1.43 cm/bedeng/minggu), jumlah anakan (13.86 bedeng/minggu), berat segar tajuk (2752,10 gr/bedeng) dan kadar air daun (80,63%). ©2016 dipublikasikan oleh JAS
Kualitas Nutrisi Silase Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) yang Diberi Dedak Padi dan Jagung Giling dengan Level Berbeda
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan dedak padi dan jagung giling terhadap kualitas nutrisi silase rumput gajah serta mengetahui level terbaik pemberian dedak padi dan jagung giling terhadap kualitas nutrisi silase rumput gajah. Dilakukan di laboratorium Fakultas Pertanian Unimor dan laboratorium Peternakan Undana selama dua bulan yakni Februari sampai Maret 2013. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan sehingga terdapat 16 unit percobaan. Adapun perlakuan yang diuji dalam penelitian ini terdiri dari 1) R0 : rumput gajah 3 kg tanpa dedak padi dan jagung giling; 2) R1 : rumput gajah 3 kg + dedak padi100 gr + jagung giling 100 gr; 3) R2 : rumput gajah 3 kg + dedak padi 200 gr + jagung giling 200 gr dan; 4) R3 : rumput gajah 3 kg + dedak padi 300 gr + jagung giling 300 gr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuatan silase rumput gajah dengan kombinasi dedak padi 200 gram ditambah jagung giling 200 gram pada setiap 3 kilogram hijauan rumput gajah mampu memberikan hasil terbaik terhadap variabel kandungan protein kasar 12,61% dan serat kasar sebesar 28,37% sedangkan pada variabel kandungan bahan kering menunjukan nilai perlakuan yang relatif sama. Secara Umum dapat dikatakan bahwa pemberian dedak padi yang dikombinasikan dengan jagung giling pada pembuatan silase rumput gajah mampu mempertahankan nilai nutrisi kandungan rumput gajah. ©2016 dipublikasikan oleh JAS.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan dedak padi dan jagung giling terhadap kualitas nutrisi silase rumput gajah serta mengetahui level terbaik pemberian dedak padi dan jagung giling terhadap kualitas nutrisi silase rumput gajah. Dilakukan di laboratorium Fakultas Pertanian Unimor dan laboratorium Peternakan Undana selama dua bulan yakni Februari sampai Maret 2013. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan sehingga terdapat 16 unit percobaan. Adapun perlakuan yang diuji dalam penelitian ini terdiri dari 1) R0 : rumput gajah 3 kg tanpa dedak padi dan jagung giling; 2) R1 : rumput gajah 3 kg + dedak padi100 gr + jagung giling 100 gr; 3) R2 : rumput gajah 3 kg + dedak padi 200 gr + jagung giling 200 gr dan; 4) R3 : rumput gajah 3 kg + dedak padi 300 gr + jagung giling 300 gr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuatan silase rumput gajah dengan kombinasi dedak padi 200 gram ditambah jagung giling 200 gram pada setiap 3 kilogram hijauan rumput gajah mampu memberikan hasil terbaik terhadap variabel kandungan protein kasar 12,61% dan serat kasar sebesar 28,37% sedangkan pada variabel kandungan bahan kering menunjukan nilai perlakuan yang relatif sama. Secara Umum dapat dikatakan bahwa pemberian dedak padi yang dikombinasikan dengan jagung giling pada pembuatan silase rumput gajah mampu mempertahankan nilai nutrisi kandungan rumput gajah. ©2016 dipublikasikan oleh JAS
Penampilan Produksi Babi Jantan Peranakan VDL dari Berbagai Kelompok Umur di Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penampilan produksi babi jantan peranakan VDL dari berbagai kelompok umur di Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara. Metode yang digunakan adalah metode survey dan wawancara langsung dengan petani peternak. Variabel yang di ukur terdiri dari ukuran linear tubuh (panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak) dan bobot badan untuk setiap kelompok umur ternak (anak, muda, dewasa). Hasil penelitian menunjukkan panjang badan ternak babi jantan anak, muda dan dewasa masing-masing sebesar 18,09 ± 2,13; 33,74 ± 7,95 dan 75,52 ± 11,82 dengan koefsien variasi 11,77%, 23,56% dan 15,16%. Lingkar dada ternak babi jantan anak, muda, dewasa sebesar 36,28 ± 3,48; 56,85 ± 11,6 dan 105,34 ± 22,22 dengan koefisien variasi 9,60%, 18,79%, 21,09%. Tinggi pundak ternak babi jantan anak, muda dan dewasa sebesar 2,97 ± 21,15; 36,99 ± 6,95 dan 78,89 ± 1,01 dengan koefisien variasi 14%, 18,79% dan 1, 28%. Bobot badan ternak babi jantan anak, muda, dewasa sebesar 3,74 ± 1,16, 24,2 ± 7,7 dan 98,2 ± 31,99, dengan koefisien variasi 42,8%, 3,82% dan 32,6 4 %. ©2016 dipublikasikan oleh JAS.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penampilan produksi babi jantan peranakan VDL dari berbagai kelompok umur di Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara. Metode yang digunakan adalah metode survey dan wawancara langsung dengan petani peternak. Variabel yang di ukur terdiri dari ukuran linear tubuh (panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak) dan bobot badan untuk setiap kelompok umur ternak (anak, muda, dewasa). Hasil penelitian menunjukkan panjang badan ternak babi jantan anak, muda dan dewasa masing-masing sebesar 18,09 ± 2,13; 33,74 ± 7,95 dan 75,52 ± 11,82 dengan koefsien variasi 11,77%, 23,56% dan 15,16%. Lingkar dada ternak babi jantan anak, muda, dewasa sebesar 36,28 ± 3,48; 56,85 ± 11,6 dan 105,34 ± 22,22 dengan koefisien variasi 9,60%, 18,79%, 21,09%. Tinggi pundak ternak babi jantan anak, muda dan dewasa sebesar 2,97 ± 21,15; 36,99 ± 6,95 dan 78,89 ± 1,01 dengan koefisien variasi 14%, 18,79% dan 1, 28%. Bobot badan ternak babi jantan anak, muda, dewasa sebesar 3,74 ± 1,16, 24,2 ± 7,7 dan 98,2 ± 31,99, dengan koefisien variasi 42,8%, 3,82% dan 32,6 4 %. ©2016 dipublikasikan oleh JAS