Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
    604 research outputs found

    Perbandingan Penggunaan Dua Jenis Ransum terhadap Berat Potong Berat Karkas dan Berat Lemak Abdominal Broiler

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan kualitas ransum buatan dengan ransum komersial terhadap berat pemotongan, berat karkas dan berat lemak abdominal ayam broiler. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan melakukan pengujian terhadap perbandingan pada perlakuan ransum buatan dan ransum komersial. Variabel yang diukur pada penelitian ini terdiri dari Berat potong (g/ekor); Berat karkas (g/ekor) dan Berat lemak abdominal (g/ekor). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat potong tertinggi ditunjukkan pada perlakuan Ransum komersial 1772,94 g/ekor lebih tinggi dibandingkan ransum buatan 1761,06 g/ekor atau selisih 11,88 g/ekor, Pada berat karkas tertinggi yaitu pada perlakuan ransum komersial 1584,03 gr/ekor lebih tinggi dibandingkan ransum buatan 1573,37 g/ekor atau selisih 10,66 g/ekor, pada berat lemak abdominal tertinggi pada perlakuan ransum komersial 27,37 g/ekor dibandingkan ransum buatan 9,94 g/ekor atau selisih 17,44 g/ekor. Hasil uji t menunjukkan bahwa pada variabel berat potong dan berat karkas menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0,05) antara ransum buatan terhadap ransum komersial atau dengan kata lain kedua perlakuan memiliki kualitas yang sama sedangkan pada variabel lemak abdominal menunjukkan perbedaan nyata (p<0,01) hal ini menunjukkan bahwa ransum buatan menghasilkan lemak lebih sedikit dibanding ransum komersial. Dapat dikatakan bahwa kualitas ransum buatan sama baiknya dengan ransum komersial namun lebih baik pada lemak abdominal.©2016 dipublikasikan oleh JAS.Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan kualitas ransum buatan dengan ransum komersial terhadap berat pemotongan, berat karkas dan berat lemak abdominal ayam broiler. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan melakukan pengujian terhadap perbandingan pada perlakuan ransum buatan dan ransum komersial. Variabel yang diukur pada penelitian ini terdiri dari Berat potong (g/ekor); Berat karkas (g/ekor) dan Berat lemak abdominal (g/ekor). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat potong tertinggi ditunjukkan pada perlakuan Ransum komersial 1772,94 g/ekor lebih tinggi dibandingkan ransum buatan 1761,06 g/ekor atau selisih 11,88 g/ekor, Pada berat karkas tertinggi yaitu pada perlakuan ransum komersial 1584,03 gr/ekor lebih tinggi dibandingkan ransum buatan 1573,37 g/ekor atau selisih 10,66 g/ekor, pada berat lemak abdominal tertinggi pada perlakuan ransum komersial 27,37 g/ekor dibandingkan ransum buatan 9,94 g/ekor atau selisih 17,44 g/ekor. Hasil uji t menunjukkan bahwa pada variabel berat potong dan berat karkas menunjukkan tidak berbeda nyata (p>0,05) antara ransum buatan terhadap ransum komersial atau dengan kata lain kedua perlakuan memiliki kualitas yang sama sedangkan pada variabel lemak abdominal menunjukkan perbedaan nyata (p<0,01) hal ini menunjukkan bahwa ransum buatan menghasilkan lemak lebih sedikit dibanding ransum komersial. Dapat dikatakan bahwa kualitas ransum buatan sama baiknya dengan ransum komersial namun lebih baik pada lemak abdominal.©2016 dipublikasikan oleh JAS

    Pengaruh Jenis dan Cara Aplikasi Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan cara aplikasi pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat serta mengetahui cara aplikasi yang tepat dari setiap jenis pupuk kandang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) pola faktorial yang diulang sebanyak tiga kali. Faktor petak utama adalah jenis pupuk yang terdiri dari tiga aras yaitu pupuk kandang ayam, pupuk kandang sapi dan pupuk kandang kambing. Faktor anak petak adalah cara aplikasi pupuk yang terdiri dari tiga aras yaitu tebar, pop up dan fertigasi. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara jenis dan cara aplikasi pupuk kandang hanya berpengaruh nyata terhadap diameter batang 14 HST, jumlah buah per anak petak dan indeks panen. Jenis pupuk kandang nyata mempengaruhi suhu tanah setiap waktu pengamatan, berat volume tanah 14 HST, tinggi tanaman 14 HST dan 28 HST, berat per buah, jumlah buah per tanaman dan jumlah buah per anak petak, sedangkan cara aplikasi berpengaruh nyata terhadap kadar lengas tanah 28 HST, tinggi tanaman 42 HST, diameter batang 14 HST dan 28 HST. Setiap jenis pupuk kandang mempunyai cara aplikasi yang berbeda untuk berfungsi dengan baik terhadap tanaman tomat, pupuk kandang ayam lebih baik jika diaplikasikan menggunakan cara pop up dengan hasil mencapai 74,543 t/ha, pupuk kandang sapi lebih baik jika diaplikasikan menggunakan cara tebar dengan hasil mencapai 74,468 t/ha sedangkan pupuk kandang kambing lebih baik jika diaplikasikan menggunakan cara fertigasi dengan hasil mencapai 71,714 t/ha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan cara aplikasi pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat serta mengetahui cara aplikasi yang tepat dari setiap jenis pupuk kandang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) pola faktorial yang diulang sebanyak tiga kali. Faktor petak utama adalah jenis pupuk yang terdiri dari tiga aras yaitu pupuk kandang ayam, pupuk kandang sapi dan pupuk kandang kambing. Faktor anak petak adalah cara aplikasi pupuk yang terdiri dari tiga aras yaitu tebar, pop up dan fertigasi. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara jenis dan cara aplikasi pupuk kandang hanya berpengaruh nyata terhadap diameter batang 14 HST, jumlah buah per anak petak dan indeks panen. Jenis pupuk kandang nyata mempengaruhi suhu tanah setiap waktu pengamatan, berat volume tanah 14 HST, tinggi tanaman 14 HST dan 28 HST, berat per buah, jumlah buah per tanaman dan jumlah buah per anak petak, sedangkan cara aplikasi berpengaruh nyata terhadap kadar lengas tanah 28 HST, tinggi tanaman 42 HST, diameter batang 14 HST dan 28 HST. Setiap jenis pupuk kandang mempunyai cara aplikasi yang berbeda untuk berfungsi dengan baik terhadap tanaman tomat, pupuk kandang ayam lebih baik jika diaplikasikan menggunakan cara pop up dengan hasil mencapai 74,543 t/ha, pupuk kandang sapi lebih baik jika diaplikasikan menggunakan cara tebar dengan hasil mencapai 74,468 t/ha sedangkan pupuk kandang kambing lebih baik jika diaplikasikan menggunakan cara fertigasi dengan hasil mencapai 71,714 t/ha.&nbsp

    Pengaruh Takaran Arang Sekam dan Guano terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kacang Hijau (Vigna radiata L.)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh takaran arang sekam padi dan guano terhadap petumbuhan dan hasil kacang  hijau. Kombinasi pelakukan dirancang menggunakan rancangan acak lengkap faktorial 3 x 3 diulang 3 kali, yang terdiri dari dua faktor yaitu:  takaran arang sekam padi yang terdiri dari tiga aras yaitu kontrol 0, 5  dan 10 t/ha dan guano yang terdiri dari tiga aras yaitu tanpa pupuk guano, 5 dan 10 t/ha. Efek arang sekam dan guno terhadap tanah dan kacang hijau diukur pada suhu, pH dan daya hantar listrik tanah, pertumbuhan dan hasil kacang hijau. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian arang sekam dikombinasikan dengan guano secara signifikan meningkatkan pertumbuhan dan hasil kacang hijau. Hasil kacang hijau tertinggi yakni 7,33 g per tanaman diperoleh dari pemberian arang sekam 5 t/ha dikombinasikan dengan guano 5 t/ha.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh takaran arang sekam padi dan guano terhadap petumbuhan dan hasil kacang  hijau. Kombinasi pelakukan dirancang menggunakan rancangan acak lengkap faktorial 3 x 3 diulang 3 kali, yang terdiri dari dua faktor yaitu:  takaran arang sekam padi yang terdiri dari tiga aras yaitu kontrol 0, 5  dan 10 t/ha dan guano yang terdiri dari tiga aras yaitu tanpa pupuk guano, 5 dan 10 t/ha. Efek arang sekam dan guno terhadap tanah dan kacang hijau diukur pada suhu, pH dan daya hantar listrik tanah, pertumbuhan dan hasil kacang hijau. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian arang sekam dikombinasikan dengan guano secara signifikan meningkatkan pertumbuhan dan hasil kacang hijau. Hasil kacang hijau tertinggi yakni 7,33 g per tanaman diperoleh dari pemberian arang sekam 5 t/ha dikombinasikan dengan guano 5 t/ha. &nbsp

    Pengaruh Mulsa terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kultivar Terung Lokal (Solanum Melongena L.)

    Get PDF
    Penggunaan mulsa bertujuan untuk mempertahankan suhu tanah, kelembaban tanah, kandungan bahan organik, mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan, meningkatkan penyerapan air, dan menekan pertumbuhan gulma, sehingga dapat tersedia kondisi lingkungan yang optimum bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu diduga beberapa kultivar lokal memiliki tanggapan berbeda terhadap penggunaan mulsa. Percobaan lapangan dilaksanakan untuk mempelajari pengaruh mulsa terhadap pertumbuhan dan hasil kultivar terung lokal di kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Timor, Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, menggunakan Rancangan Petak Berjalur (Strip Plot Design) 3 x 3 diulang 3 kali. Faktor pertama adalah kultivar terung (kualoto) lokal yaitu; buah bulat kecil (fua bubu ana) , buah bulat besar (fua bubu naek) dan buah bulat panjang (fua bubu mnanu). Faktor kedua adalah Mulsa yaitu; dari alang-alang, plastik hitam, dan tanpa mulsa. Hasil Penelitian menyimpulkan bahwa semua kultivar terung lokal cocok pada lahan yang ditutupi mulsa alang-alang dan hasil tertinggi diperoleh terung lokal buah bulat panjang. Pada lahan tanpa mulsa, maupun yang ditutupi mulsa plastik, kultivar terung lokal buah bulat besar beradaptasi lebih baik. Penggunaan mulsa bertujuan untuk mempertahankan suhu tanah, kelembaban tanah, kandungan bahan organik, mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan, meningkatkan penyerapan air, dan menekan pertumbuhan gulma, sehingga dapat tersedia kondisi lingkungan yang optimum bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu diduga beberapa kultivar lokal memiliki tanggapan berbeda terhadap penggunaan mulsa. Percobaan lapangan dilaksanakan untuk mempelajari pengaruh mulsa terhadap pertumbuhan dan hasil kultivar terung lokal di kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Timor, Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, menggunakan Rancangan Petak Berjalur (Strip Plot Design) 3 x 3 diulang 3 kali. Faktor pertama adalah kultivar terung (kualoto) lokal yaitu; buah bulat kecil (fua bubu ana) , buah bulat besar (fua bubu naek) dan buah bulat panjang (fua bubu mnanu). Faktor kedua adalah Mulsa yaitu; dari alang-alang, plastik hitam, dan tanpa mulsa. Hasil Penelitian menyimpulkan bahwa semua kultivar terung lokal cocok pada lahan yang ditutupi mulsa alang-alang dan hasil tertinggi diperoleh terung lokal buah bulat panjang. Pada lahan tanpa mulsa, maupun yang ditutupi mulsa plastik, kultivar terung lokal buah bulat besar beradaptasi lebih baik.&nbsp

    Model Penanaman dan Frekuensi Aplikasi Bio-Insektisida Sebagai Upaya Pengendalian Hama terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Sawah (Oryza sativa L.)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan aplikasi bioinsektisida dan sistem tanam yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil  padi sawah yang maksimal, dilaksanakan di lahan sawah Benkoko, Desa Letmafo, Kecamatan Insana Tengah, Kabupaten TTU pada bulan Februari  sampai Juni 2014. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok  (RAK) 2 x 3 yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah frekuensi aplikasi bioinsektisida yang terdiri dari satu kali aplikasi dan dua kali aplikasi bioinsektisida. Faktor kedua adalah sistem tanam yang terdiri dari sistem legowo 2:1, sistem legowo 3:1, sistem legowo 4:1 dan sistem tegel 20 x 20 cm. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan cara tanam jajar legowo lebih cenderung meningkatkan bobot gabah kering panen dan mengurangi adanya serangan hama pada tanaman padi sawah. Penggunaan bioinsektisida 2 kali aplikasi cenderung meningkatkan hasil namun secara ekonomis 1 kali aplikasi bioinsektisida sudah cukup untuk mengurangi populasi hama. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan aplikasi bioinsektisida dan sistem tanam yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil  padi sawah yang maksimal, dilaksanakan di lahan sawah Benkoko, Desa Letmafo, Kecamatan Insana Tengah, Kabupaten TTU pada bulan Februari  sampai Juni 2014. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok  (RAK) 2 x 3 yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah frekuensi aplikasi bioinsektisida yang terdiri dari satu kali aplikasi dan dua kali aplikasi bioinsektisida. Faktor kedua adalah sistem tanam yang terdiri dari sistem legowo 2:1, sistem legowo 3:1, sistem legowo 4:1 dan sistem tegel 20 x 20 cm. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan cara tanam jajar legowo lebih cenderung meningkatkan bobot gabah kering panen dan mengurangi adanya serangan hama pada tanaman padi sawah. Penggunaan bioinsektisida 2 kali aplikasi cenderung meningkatkan hasil namun secara ekonomis 1 kali aplikasi bioinsektisida sudah cukup untuk mengurangi populasi hama.&nbsp

    Pengaruh Konsentrasi dan Dosis Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan Bibit Sengon Laut (Paraserianthes falcataria L.)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan dosis pupuk organik cair terhadap pertumbuhan bibit sengon laut serta mengetahui konsentrasi dan dosis pupuk organik cair yang tepat untuk pertumbuhan bibit sengon laut yang optimum. Penelitian mengunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 3 x 3 yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah konsentrasi pupuk organik cair yang terdiri dari tiga aras yaitu 1 ml/l air, 3 ml/l air dan 5 ml/l air. Faktor kedua adalah dosis pupuk organik cair yang terdiri dari tiga aras yaitu 200 ml/polybag, 250 ml/polybag dan 300 ml/polybag. Hasil penelitian menunjukan tidak terjadi pengaruh interaksi antara konsentrasi dan dosis pupuk organik cair terhadap semua parameter. Konsentrasi pupuk organik cair hanya memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 30 HSS sedangkan dosis pupuk organik cair tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter yang diamati. Konsentrasi pupuk organik cair 3 ml/l air merupakan konsentrasi yang optimum bagi pertumbuhan bibit sengon sedangkan dosis 300 ml/polybag adalah dosis yang tepat bagi bibit sengon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan dosis pupuk organik cair terhadap pertumbuhan bibit sengon laut serta mengetahui konsentrasi dan dosis pupuk organik cair yang tepat untuk pertumbuhan bibit sengon laut yang optimum. Penelitian mengunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 3 x 3 yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah konsentrasi pupuk organik cair yang terdiri dari tiga aras yaitu 1 ml/l air, 3 ml/l air dan 5 ml/l air. Faktor kedua adalah dosis pupuk organik cair yang terdiri dari tiga aras yaitu 200 ml/polybag, 250 ml/polybag dan 300 ml/polybag. Hasil penelitian menunjukan tidak terjadi pengaruh interaksi antara konsentrasi dan dosis pupuk organik cair terhadap semua parameter. Konsentrasi pupuk organik cair hanya memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 30 HSS sedangkan dosis pupuk organik cair tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter yang diamati. Konsentrasi pupuk organik cair 3 ml/l air merupakan konsentrasi yang optimum bagi pertumbuhan bibit sengon sedangkan dosis 300 ml/polybag adalah dosis yang tepat bagi bibit sengon.&nbsp

    Pengaruh Olah Tanah dan Jenis Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan dan Hasil Cabe Rawit Varietas Bara (Capsicum frutescens L.)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh olah lahan dan jenis pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan hasil cabe rawit serta mendapatkan jenis olah tanah dan pupuk kandang yang tepat. Penelitian  mengunakan rancangan petak terbagi pola faktorial. Faktor petak utama adalah olah tanah yang terdiri dari tiga aras yaitu olah lubang, olah jalur dan olah maksimum. Faktor anak petak adalah jenis pupuk kandang yang terdiri dari tiga aras yaitu pupuk kandang sapi, pupuk kandang ayam dan pupuk kandang babi. Hasil penelitian menunjukan pengaruh interaksi antara olah tanah dan jenis pupuk hanya terjadi pada parameter berat buah per petak panen pertama. Olah tanah hanya memberikan pengaruh nyata terhadap suhu tanah 21 HST dan 63 HST dan diameter buah sedangkan jenis pupuk memberikan pengaruh yang nyata terhadap suhu tanah 42 HST, jumlah buah per tanaman, berat buah per tanaman, serta berat buah per petak panen I, panen II dan panen III. Olah jalur memberikan produksi cabe rawit tertinggi yakni 4,22 t/ha sedangkan jenis pupuk yang memberikan produksi tertinggi yakni pupuk kandang sapi yakni 4,30 t/ha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh olah lahan dan jenis pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan hasil cabe rawit serta mendapatkan jenis olah tanah dan pupuk kandang yang tepat. Penelitian  mengunakan rancangan petak terbagi pola faktorial. Faktor petak utama adalah olah tanah yang terdiri dari tiga aras yaitu olah lubang, olah jalur dan olah maksimum. Faktor anak petak adalah jenis pupuk kandang yang terdiri dari tiga aras yaitu pupuk kandang sapi, pupuk kandang ayam dan pupuk kandang babi. Hasil penelitian menunjukan pengaruh interaksi antara olah tanah dan jenis pupuk hanya terjadi pada parameter berat buah per petak panen pertama. Olah tanah hanya memberikan pengaruh nyata terhadap suhu tanah 21 HST dan 63 HST dan diameter buah sedangkan jenis pupuk memberikan pengaruh yang nyata terhadap suhu tanah 42 HST, jumlah buah per tanaman, berat buah per tanaman, serta berat buah per petak panen I, panen II dan panen III. Olah jalur memberikan produksi cabe rawit tertinggi yakni 4,22 t/ha sedangkan jenis pupuk yang memberikan produksi tertinggi yakni pupuk kandang sapi yakni 4,30 t/ha.&nbsp

    Kajian Dinamika Kelompok Tani Usaha Ternak Sapi Potong di Kelompok Tani Nekmese Desa Manusasi Kecamatan Miomaffo Barat

    Get PDF
    Penelitian dilakukan di kelompok tani Nekmese Desa Manusasi Kecamatan Miomaffo Barat, pada bulan Maret - Mei  2014 dengan tujuan mendapatkan gambaran dinamika kelompok, mengukur kedinamisan serta mengetahui hubungan antara kedinamisan kelompok  tani dengan tingkat  kemampuan dalam melakukan kegiatan usahatani ternak sapi potong.. Metode yang digunakan adalah metode survey. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) dalam satu tahun satu ekor sapi betina dewasa memproduksi satu ekor anak sapi bakalan, kepemilikan sapi  setiap anggota kelompok  4-11 ekor, jumlah keseluruhan ternak sapi di Desa Manusasi 256 ekor, sedangkan jumlah ternak sapi Kecamatan Miomaffo Barat 4601 ekor; 2) Kedinamisan terhadap usaha ternak sapi didasari oleh tujuan, struktur, fungsi, pembinaan, kekompakan, suasana, keefektifan, tekanan dan maksud tersembunyi, rata-rata petani peternak puas dengan skor rata-rata 3,916 (78,33%) dengan penyebarannya sebanyak 22 orang (92%), sedangkan petani peternak berpendapat cukup puas sebanyak 0,08 (8,33%);  3) Hubungan kedinamisan kelompok terhadap kemampuan melakukan usaha ternak sapi petani peternak kelompok Nekmese berpendapat puas dengan skor rata-rata 4,08 (81,66%), sedangkan berdasarkan hasil analisis Rank Sperman hubungan dinamika meliputi umur memiliki hubungan  nyata terhadap kedinamisan kelompok dimana nilai Rshitung lebih besar Rstabel : umur (0,665>0,409), pendidikan formal (0,713>0,409), non formal (0,624>0,409), pengalaman usaha (0,641>0,409). Sedangkan hubungan kemampuan meliputi umur memiliki hubungan nyata dimana nilai Rshitung lebih besar Rstabel : umur (0,711>0,409), pendidikan formal (0,696>0,409), non formal (0,775>0,409), pengalaman (0,695>0,409). Penelitian dilakukan di kelompok tani Nekmese Desa Manusasi Kecamatan Miomaffo Barat, pada bulan Maret - Mei  2014 dengan tujuan mendapatkan gambaran dinamika kelompok, mengukur kedinamisan serta mengetahui hubungan antara kedinamisan kelompok  tani dengan tingkat  kemampuan dalam melakukan kegiatan usahatani ternak sapi potong.. Metode yang digunakan adalah metode survey. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) dalam satu tahun satu ekor sapi betina dewasa memproduksi satu ekor anak sapi bakalan, kepemilikan sapi  setiap anggota kelompok  4-11 ekor, jumlah keseluruhan ternak sapi di Desa Manusasi 256 ekor, sedangkan jumlah ternak sapi Kecamatan Miomaffo Barat 4601 ekor; 2) Kedinamisan terhadap usaha ternak sapi didasari oleh tujuan, struktur, fungsi, pembinaan, kekompakan, suasana, keefektifan, tekanan dan maksud tersembunyi, rata-rata petani peternak puas dengan skor rata-rata 3,916 (78,33%) dengan penyebarannya sebanyak 22 orang (92%), sedangkan petani peternak berpendapat cukup puas sebanyak 0,08 (8,33%);  3) Hubungan kedinamisan kelompok terhadap kemampuan melakukan usaha ternak sapi petani peternak kelompok Nekmese berpendapat puas dengan skor rata-rata 4,08 (81,66%), sedangkan berdasarkan hasil analisis Rank Sperman hubungan dinamika meliputi umur memiliki hubungan  nyata terhadap kedinamisan kelompok dimana nilai Rshitung lebih besar Rstabel : umur (0,665>0,409), pendidikan formal (0,713>0,409), non formal (0,624>0,409), pengalaman usaha (0,641>0,409). Sedangkan hubungan kemampuan meliputi umur memiliki hubungan nyata dimana nilai Rshitung lebih besar Rstabel : umur (0,711>0,409), pendidikan formal (0,696>0,409), non formal (0,775>0,409), pengalaman (0,695>0,409).&nbsp

    Strategi Pengembangan Usaha Pembuatan Tepung Tapioka pada Kelompok Tani Basamtasa Kecamatan Insana Barat

    Get PDF
    Penelitian ini di lakukan di Kecamatan Insana Barat, tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana gambaran umum pengelolahan tepung dan strategi pengembangan industri tepung tapioka. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif kualitatif dan analisis SWOT. Pembuatan tepung tapioka yang dilakukan dikelompok tani basamtasa semi modern dan relatif mudah mulai dari pengadaan bahan baku, pemotongan ubi, pengeringan, pengilingan, pengayakan sampai pemasaran. Berdasarkan grafik analisis SWOT titik kordinat 0,88 dan 1,24  berada pada kuadran I (Agresif) yang berarti posisi ini menandakan bahwa  situasi dalam usaha kelompok tani menguntungkan. Sesuai hasil matriks SWOT di peroleh 4 strategi utama yang dilakukan berdasarkan matriks SWOT diantara:1) Strategi SO : Kekuatan yang ada memiliki lahan sendiri,  ketersediaan bahan baku, kebersamaan yang dimiliki kelompok, dan komitmen dalam berusaha produksi tapioka  untuk memperoleh peluang dukungan PEMDA dan permintaan pasar yang ada. 2) Strategi WO : meningkatkan SDM untuk memproduksi tapioka, belum ada surat ijin,  dan promosi harus segara diatasi pelayanan yang lebih baik dari pemerintah  daerah untuk lebih membuka peluang permintaan pasar, yang lebih tinggi. 3) Strategi ST : Kekuatan yang ada komitmen dalam berusaha, dengan ketersedian bahan baku lebih diperkuat untuk mengantisipasi ancaman persaingan produk sejenis dari luar TTU. 4) Strategi WT : Meningkatkan SDM untuk dapat bersaing dengan pengusaha sejenis dari luar TTU dan meningkatkan promosi untuk jangkuan pemasaran yang lebih luas. Penelitian ini di lakukan di Kecamatan Insana Barat, tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana gambaran umum pengelolahan tepung dan strategi pengembangan industri tepung tapioka. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif kualitatif dan analisis SWOT. Pembuatan tepung tapioka yang dilakukan dikelompok tani basamtasa semi modern dan relatif mudah mulai dari pengadaan bahan baku, pemotongan ubi, pengeringan, pengilingan, pengayakan sampai pemasaran. Berdasarkan grafik analisis SWOT titik kordinat 0,88 dan 1,24  berada pada kuadran I (Agresif) yang berarti posisi ini menandakan bahwa  situasi dalam usaha kelompok tani menguntungkan. Sesuai hasil matriks SWOT di peroleh 4 strategi utama yang dilakukan berdasarkan matriks SWOT diantara:1) Strategi SO : Kekuatan yang ada memiliki lahan sendiri,  ketersediaan bahan baku, kebersamaan yang dimiliki kelompok, dan komitmen dalam berusaha produksi tapioka  untuk memperoleh peluang dukungan PEMDA dan permintaan pasar yang ada. 2) Strategi WO : meningkatkan SDM untuk memproduksi tapioka, belum ada surat ijin,  dan promosi harus segara diatasi pelayanan yang lebih baik dari pemerintah  daerah untuk lebih membuka peluang permintaan pasar, yang lebih tinggi. 3) Strategi ST : Kekuatan yang ada komitmen dalam berusaha, dengan ketersedian bahan baku lebih diperkuat untuk mengantisipasi ancaman persaingan produk sejenis dari luar TTU. 4) Strategi WT : Meningkatkan SDM untuk dapat bersaing dengan pengusaha sejenis dari luar TTU dan meningkatkan promosi untuk jangkuan pemasaran yang lebih luas.&nbsp

    Perbandingan Kualitas Nutrisi Ransum Buatan Berbahan Baku Lokal dan Ransum Komersial Ayam Broiler pada Perlakuan Waktu Penyimpanan yang Berbeda

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan kualitas nutrisi ransum buatan berbahan baku lokal dan ransum komersial ayam broiler pada perlakuan waktu penyimpanan yang berbeda. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 3 x 3. Faktor pertama adalah jenis ransum yang terdiri dari 2 taraf yaitu ransum komersial dan ransum buatan, sedangkan faktor kedua adalah lama penyimpanan yang terdiri dari 3 taraf yaitu penyimpanan 0 hari, penyimpanan 2 minggu, dan penyimpanan 4 minggu. Dari setiap faktor dihasilkan 6 kombinasi perlakuan dimana setiap kombinasi perlakuan akan diulang sebanyak 3 kali. Adapun variabel yang diamati terdiri dari: 1) kandungan protein kasar; 2) kandungan serat kasar, 3) kandungan lemak kasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan serat kasar ransum komersial memiliki kisaran 1,51-2,30% sedangkan pada ransum buatan 3,24-3,46%, kandungan protein kasar pada ransum komersial 21,33-22,63% lebih tinggi dibanding ransum buatan 20,88-21,35%, kandungan lemak kasar pada ransum buatan 5,02-5,80% lebih rendah dibanding ransum komersial 6,81-7,41%. Adapun nilai serat kasar, protein kasar dan lemak kasar pada ransum dipengaruhi oleh jenis ransum sedangkan faktor penyimpanan hanya memberikan kontribusi terhadap nilai protein kasar. Dari hasil penelitian tidak ditemukan interaksi antara jenis ransum dan penyimpanan. Secara umum disimpulkan bahwa nilai nutrisi ransum buatan memiliki kualitas yang baik karena tidak jauh berbeda dengan ransum komersial. ©2016 dipublikasikan oleh JAS.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan kualitas nutrisi ransum buatan berbahan baku lokal dan ransum komersial ayam broiler pada perlakuan waktu penyimpanan yang berbeda. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 3 x 3. Faktor pertama adalah jenis ransum yang terdiri dari 2 taraf yaitu ransum komersial dan ransum buatan, sedangkan faktor kedua adalah lama penyimpanan yang terdiri dari 3 taraf yaitu penyimpanan 0 hari, penyimpanan 2 minggu, dan penyimpanan 4 minggu. Dari setiap faktor dihasilkan 6 kombinasi perlakuan dimana setiap kombinasi perlakuan akan diulang sebanyak 3 kali. Adapun variabel yang diamati terdiri dari: 1) kandungan protein kasar; 2) kandungan serat kasar, 3) kandungan lemak kasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan serat kasar ransum komersial memiliki kisaran 1,51-2,30% sedangkan pada ransum buatan 3,24-3,46%, kandungan protein kasar pada ransum komersial 21,33-22,63% lebih tinggi dibanding ransum buatan 20,88-21,35%, kandungan lemak kasar pada ransum buatan 5,02-5,80% lebih rendah dibanding ransum komersial 6,81-7,41%. Adapun nilai serat kasar, protein kasar dan lemak kasar pada ransum dipengaruhi oleh jenis ransum sedangkan faktor penyimpanan hanya memberikan kontribusi terhadap nilai protein kasar. Dari hasil penelitian tidak ditemukan interaksi antara jenis ransum dan penyimpanan. Secara umum disimpulkan bahwa nilai nutrisi ransum buatan memiliki kualitas yang baik karena tidak jauh berbeda dengan ransum komersial. ©2016 dipublikasikan oleh JAS

    564

    full texts

    604

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇