Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
604 research outputs found
Sort by
Pengaruh Pemangkasan Tunas Lateral dan Bunga terhadap Pertumbuhan dan Hasil Terung (Solanum melongena L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemangkasan tunas lateral dan bunga terhadap pertumbuhan dan hasil terung. Penelitian mengunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 3 x 3 yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah pemangkasan tunas lateral yang terdiri dari tiga aras yaitu pangkas satu tunas, pangkas dua tunas, pangkas tiga tunas. Pemangkasan bunga yang terdiri dari tiga aras yaitu pangkas satu bunga, pangkas dua bunga dan pangkas tiga bunga. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara pemangkasan tunas lateral dan pemangkasan bunga berpengaruh nyata terhadap diameter batang, diameter buah, berat per buah, berat buah per tanaman, berat buah per petak panen III dan total panen, berat segar berangkasan dan indeks panen. Pemangkasan satu tunas lateral memberikan hasil buah per petak yang lebih baik seberat 14,327 t/ha jika dibandingkan dengan pemangkasan dua atau tiga tunas lateral. Pemangkasan satu bunga memberikan hasil buah per petak yang lebih baik seberat 14,419 t/ha jika dibandingkan dengan pemangkasan dua atau tiga bunga. Pemangkasan satu tunas dan satu bunga yang dilakukan bersama menghasilkan buah setiap petak tertinggi yang mencapai 19,264 t/ha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemangkasan tunas lateral dan bunga terhadap pertumbuhan dan hasil terung. Penelitian mengunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 3 x 3 yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah pemangkasan tunas lateral yang terdiri dari tiga aras yaitu pangkas satu tunas, pangkas dua tunas, pangkas tiga tunas. Pemangkasan bunga yang terdiri dari tiga aras yaitu pangkas satu bunga, pangkas dua bunga dan pangkas tiga bunga. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara pemangkasan tunas lateral dan pemangkasan bunga berpengaruh nyata terhadap diameter batang, diameter buah, berat per buah, berat buah per tanaman, berat buah per petak panen III dan total panen, berat segar berangkasan dan indeks panen. Pemangkasan satu tunas lateral memberikan hasil buah per petak yang lebih baik seberat 14,327 t/ha jika dibandingkan dengan pemangkasan dua atau tiga tunas lateral. Pemangkasan satu bunga memberikan hasil buah per petak yang lebih baik seberat 14,419 t/ha jika dibandingkan dengan pemangkasan dua atau tiga bunga. Pemangkasan satu tunas dan satu bunga yang dilakukan bersama menghasilkan buah setiap petak tertinggi yang mencapai 19,264 t/ha. 
Pengaruh Takaran Pupuk Kandang Sapi dan Jarak Tanam terhadap Pembentukan Umbi Siung Tunggal Bawang Putih Lokal (Allium sativum L.)
Meningkatkan pemupukan dapat meningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman, dan kerenanya perlu jarak tanam yang sesuai. Mengurangi jarak tanam pada bawang putih meningkatkan kompetisi antar tanaman dan diduga memacu peningkatan terbentuknya umbi suing tunggal yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan takaran pupuk kandang sapi terhadap pembentukan umbi siung tunggal bawang putih lokal menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial diulang tiga kali. Faktor pertama adalah takaran pupuk kandang sapi yang terdiri dari 3 aras yaitu 10 t/ha, 15 t/ha dan 20 t/ha. Faktor kedua adalah jarak tanam yang terdiri dari 3 aras yaitu 5 cm x 5 cm, 5 cm x 10 cm dan 10 cm x 10 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara takaran pupuk kandang sapi dan jarak tanam terjadi terhadap pengamatan hasil; jumlah umbi siung tunggal perpetak, berat kering umbi majemuk perpetak, berat kering siung tunggal per petak, persentase siung tunggal per petak dan indeks panen. Pemberian takaran pupuk kandang sapi 15 t/ha dengan jarak tanam 5 cm x 5 cm memberikan hasil berat kering umbi bawang putih siung tunggal 2,28 t/ha dengan persentase jumlah umbi siung tunggal per petak 86,42%. Meningkatkan pemupukan dapat meningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman, dan kerenanya perlu jarak tanam yang sesuai. Mengurangi jarak tanam pada bawang putih meningkatkan kompetisi antar tanaman dan diduga memacu peningkatan terbentuknya umbi suing tunggal yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan takaran pupuk kandang sapi terhadap pembentukan umbi siung tunggal bawang putih lokal menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial diulang tiga kali. Faktor pertama adalah takaran pupuk kandang sapi yang terdiri dari 3 aras yaitu 10 t/ha, 15 t/ha dan 20 t/ha. Faktor kedua adalah jarak tanam yang terdiri dari 3 aras yaitu 5 cm x 5 cm, 5 cm x 10 cm dan 10 cm x 10 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara takaran pupuk kandang sapi dan jarak tanam terjadi terhadap pengamatan hasil; jumlah umbi siung tunggal perpetak, berat kering umbi majemuk perpetak, berat kering siung tunggal per petak, persentase siung tunggal per petak dan indeks panen. Pemberian takaran pupuk kandang sapi 15 t/ha dengan jarak tanam 5 cm x 5 cm memberikan hasil berat kering umbi bawang putih siung tunggal 2,28 t/ha dengan persentase jumlah umbi siung tunggal per petak 86,42%. 
Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Teh Kompos terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bayam Merah (Alternanthera amoena Voss)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi teh kompos terhadap pertumbuhan dan hasil bayam merah (Alternanthera amoena, Voss) varietas Red R. Dua jenis teh kompos, guano dan campuran arang sekam+hijauan, diberikan dalam konsentrasi 100, 50 dan 25% pada bayam merah dalam sebuah percobaan pot yang disusun menurut rancangan acak lengkap faktorial dengan tiga ulangan. Teh kompos diberikan setiap minggu semenjak tanaman berumur 14 hingga 35 hari setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi teh kompos meningkatkan jumlah daun 106,9-126,3% dan hasil (berat segar total) bayam merah 136,6-237,3% dibandingkan dengan kontrol. Hasil tertinggi bayam merah yang diekspresikan dalam bentuk berat segar per tanaman yakni 6,81 g atau 2,4 kali lipat dibandingkan dengan kontrol diperoleh dari aplikasi teh kompos guano 25%. Hasil yang serupa diperoleh dari pemberian teh kompos arang sekam + hijauan 50%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi teh kompos terhadap pertumbuhan dan hasil bayam merah (Alternanthera amoena, Voss) varietas Red R. Dua jenis teh kompos, guano dan campuran arang sekam+hijauan, diberikan dalam konsentrasi 100, 50 dan 25% pada bayam merah dalam sebuah percobaan pot yang disusun menurut rancangan acak lengkap faktorial dengan tiga ulangan. Teh kompos diberikan setiap minggu semenjak tanaman berumur 14 hingga 35 hari setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi teh kompos meningkatkan jumlah daun 106,9-126,3% dan hasil (berat segar total) bayam merah 136,6-237,3% dibandingkan dengan kontrol. Hasil tertinggi bayam merah yang diekspresikan dalam bentuk berat segar per tanaman yakni 6,81 g atau 2,4 kali lipat dibandingkan dengan kontrol diperoleh dari aplikasi teh kompos guano 25%. Hasil yang serupa diperoleh dari pemberian teh kompos arang sekam + hijauan 50%. 
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Kacang Tanah di Kecamatan Kota Kabupaten Timor Tengah Utara
Penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan kacang tanah di Kecamatan Kota Kabupaten Timor Tengah Utara dilakukan di Kecamatan Kota Kefamenanu. Penentuan sampel menggunakan metode Cluster Sampling yakni sampel diambil berdasarkan wilayah penelitian. Untuk sampel wilayah diambil hanya 2 dari 9 kelurahan yang ada di Kecamatana Kota Kefamenanu yakni Kelurahan Kefa Selatan dan Kelurahan Kefa Tengah dengan alasan bahwa kedua kelurahan tersebut memiliki jumkah penduduk yang lebih banyak dari pada kelurahan lainya dan penentuan responden diambil secara acak dengan jumlah 30 responden dari Kelurahan Kefa Selatan dan 30 responden dari Kelurahan Kefa Tengah. Untuk mengetahui identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan kacang tanah di kecamatan kota dilakukan dengan metode deskriptif. Sedangkan untuk mengetahui besar pengaruh faktor-faktor terhadap permintaan kacang tanah maka dapat digunakan analisis Cobb-Douglas. Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan kacang tanah di Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten TTU adalah harga kacang tanah, harga jagung, harga kacang hijau, pendapatan, jumlah tanggungan keluarga dan selera konsumen. Pada hasil dan pembahasan dapat diketahui besar pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan kacang tanah di Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten TTU, yakni koefisien determinasinya (R2) 0,89. Hal ini berarti bahwa variable-variabel yang diamati berpengaruh terhadap permintaan kacang tanah sebesar 0,89% sedangkan 11%-nya merupakan pengaruh factor-faktor di luar variabel-variabel yang diamati. Penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan kacang tanah di Kecamatan Kota Kabupaten Timor Tengah Utara dilakukan di Kecamatan Kota Kefamenanu. Penentuan sampel menggunakan metode Cluster Sampling yakni sampel diambil berdasarkan wilayah penelitian. Untuk sampel wilayah diambil hanya 2 dari 9 kelurahan yang ada di Kecamatana Kota Kefamenanu yakni Kelurahan Kefa Selatan dan Kelurahan Kefa Tengah dengan alasan bahwa kedua kelurahan tersebut memiliki jumkah penduduk yang lebih banyak dari pada kelurahan lainya dan penentuan responden diambil secara acak dengan jumlah 30 responden dari Kelurahan Kefa Selatan dan 30 responden dari Kelurahan Kefa Tengah. Untuk mengetahui identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan kacang tanah di kecamatan kota dilakukan dengan metode deskriptif. Sedangkan untuk mengetahui besar pengaruh faktor-faktor terhadap permintaan kacang tanah maka dapat digunakan analisis Cobb-Douglas. Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan kacang tanah di Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten TTU adalah harga kacang tanah, harga jagung, harga kacang hijau, pendapatan, jumlah tanggungan keluarga dan selera konsumen. Pada hasil dan pembahasan dapat diketahui besar pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan kacang tanah di Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten TTU, yakni koefisien determinasinya (R2) 0,89. Hal ini berarti bahwa variable-variabel yang diamati berpengaruh terhadap permintaan kacang tanah sebesar 0,89% sedangkan 11%-nya merupakan pengaruh factor-faktor di luar variabel-variabel yang diamati. 
Model Pengembangan Koperasi Unit Desa (KUD) Berbasis Agribisnis di Pedesaan Swapraja Biboki
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pengembangan koperasi unit desa (KUD) berbasis agribisnis di pedesaan swapraja Biboki. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan yang memiliki Lembaga KUD yaitu Kecamatan Biboki Utara, Biboki Selatan dan biboki Anleu. Data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pembangunan KUD di swapraja Biboki untuk percepatan ekonomi daerah, sangat perlu adanya kemitraan. Kemitraan yang dimaksud adalah dalam bentuk partisipasi dari semua unsur yang terkait untuk pengembangan KUD. Pembangunan koperasi didasari oleh adanya potensi di daerah yang dapat mendukung berjalannya KUD, antara lain: masyarakat tani, pengusaha kecil dan industri rumah tangga. Peran serta pihak swasta, yaitu perusahaan-perusahaan besar sangat diperlukan untuk mengisi dan melengkapi berbagai program pemerintah. Pihak pengusaha yang berada pada posisi yang kuat dapat membantu KUD pada posisi yang lemah dalam bentuk jaringan kemitraan. Hubungan ini dapat memberikan keuntungan kepada KUD, yaitu: transfer teknologi yang lebih unggul; memperoleh informasi dan peluang pasar secara cepat; dapat membuka akses terhadap modal dan pasar; serta adanya jaminan dan kepastian pasar bagi produk industri kecil dan industri rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model pengembangan koperasi unit desa (KUD) berbasis agribisnis di pedesaan swapraja Biboki. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan yang memiliki Lembaga KUD yaitu Kecamatan Biboki Utara, Biboki Selatan dan biboki Anleu. Data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pembangunan KUD di swapraja Biboki untuk percepatan ekonomi daerah, sangat perlu adanya kemitraan. Kemitraan yang dimaksud adalah dalam bentuk partisipasi dari semua unsur yang terkait untuk pengembangan KUD. Pembangunan koperasi didasari oleh adanya potensi di daerah yang dapat mendukung berjalannya KUD, antara lain: masyarakat tani, pengusaha kecil dan industri rumah tangga. Peran serta pihak swasta, yaitu perusahaan-perusahaan besar sangat diperlukan untuk mengisi dan melengkapi berbagai program pemerintah. Pihak pengusaha yang berada pada posisi yang kuat dapat membantu KUD pada posisi yang lemah dalam bentuk jaringan kemitraan. Hubungan ini dapat memberikan keuntungan kepada KUD, yaitu: transfer teknologi yang lebih unggul; memperoleh informasi dan peluang pasar secara cepat; dapat membuka akses terhadap modal dan pasar; serta adanya jaminan dan kepastian pasar bagi produk industri kecil dan industri rumah tangga. 
Analisis Pendapatan Budidaya Ikan Nila di Kelompok Tani Mandiri Desa Popnam Kecamatan Noemuti
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran budidaya ikan Nila, besarnya pendapatan petani yang diperoleh dari budidaya ikan Nila, dan keuntungan relatif dari budidaya ikan Nila di Kelompok Tani Mandiri Desa Popnam Kecamatan Noemuti Kabupaten Timor Tengah Utara. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode sensus sebanyak 25 orang pada kelompok tani Mandiri, metode pengumpulan data dilakukan dengan metode survey, data yang diambil berupa data primer dan sekunder, sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis data deskripsi kualitatif, metode analisis pendapatan dan metode analisis keuntungan relatif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pembudidayaan ikan Nila dilalui 4 tahap dan tahap awal atau pertama yaitu persiapan kolam dan kegiatan persiapan kolam terdiri dari 2 kegiatan besar yaitu mengeringkan kolam kemudian kolam dijemur sampai tanah terlihat retak dan mengisi air pada kolam lalu dibiarkan terkena sinar matahari, tahap yang kedua penebaran benih yang mana umur benih ikan Nila, selanjutnya adalah pemeliharaan kolam dan ikan Nila, pemeliharaan kolam dilakukan dengan memungut sampah yang jatuh di atas kolam dan pemeliharaan ikan dilakukan dengan pemberian pakan ikan secara rutin dua kali sehari dan tahap terakhir yaitu panen dan pasca panen dilakukan setelah melewati masa pemeliharaan selama 4 bulan. Perolehan pendapatan dari anggota kelompok tani berkisar antara Rp. 2.051.741,- sampai Rp. 5.803.695,- dengan rata-rata pendapatan dari satu kali produksi budidaya ikan Nila sebesar Rp. 3.082.665,- sedangkan total pendapatan anggota kelompok tani dalam satu kali produksi budidaya ikan Nila Rp. 77.066.633,-. Keuntungan relatif dari anggota kelompok tani berkisar antara 2 sampai 4 dan rata-rata keuntungan relatif dari anggota kelompok tani adalah 3 sehingga bisa dikatakan bahwa budidaya ikan Nila yang di lakukan oleh anggota kelompok tani secara ekonomis menguntungkan sebab hasil perhitungan keuntungan relatif dari anggota kelompok tani lebih dari 1 (> 1). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran budidaya ikan Nila, besarnya pendapatan petani yang diperoleh dari budidaya ikan Nila, dan keuntungan relatif dari budidaya ikan Nila di Kelompok Tani Mandiri Desa Popnam Kecamatan Noemuti Kabupaten Timor Tengah Utara. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode sensus sebanyak 25 orang pada kelompok tani Mandiri, metode pengumpulan data dilakukan dengan metode survey, data yang diambil berupa data primer dan sekunder, sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis data deskripsi kualitatif, metode analisis pendapatan dan metode analisis keuntungan relatif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pembudidayaan ikan Nila dilalui 4 tahap dan tahap awal atau pertama yaitu persiapan kolam dan kegiatan persiapan kolam terdiri dari 2 kegiatan besar yaitu mengeringkan kolam kemudian kolam dijemur sampai tanah terlihat retak dan mengisi air pada kolam lalu dibiarkan terkena sinar matahari, tahap yang kedua penebaran benih yang mana umur benih ikan Nila, selanjutnya adalah pemeliharaan kolam dan ikan Nila, pemeliharaan kolam dilakukan dengan memungut sampah yang jatuh di atas kolam dan pemeliharaan ikan dilakukan dengan pemberian pakan ikan secara rutin dua kali sehari dan tahap terakhir yaitu panen dan pasca panen dilakukan setelah melewati masa pemeliharaan selama 4 bulan. Perolehan pendapatan dari anggota kelompok tani berkisar antara Rp. 2.051.741,- sampai Rp. 5.803.695,- dengan rata-rata pendapatan dari satu kali produksi budidaya ikan Nila sebesar Rp. 3.082.665,- sedangkan total pendapatan anggota kelompok tani dalam satu kali produksi budidaya ikan Nila Rp. 77.066.633,-. Keuntungan relatif dari anggota kelompok tani berkisar antara 2 sampai 4 dan rata-rata keuntungan relatif dari anggota kelompok tani adalah 3 sehingga bisa dikatakan bahwa budidaya ikan Nila yang di lakukan oleh anggota kelompok tani secara ekonomis menguntungkan sebab hasil perhitungan keuntungan relatif dari anggota kelompok tani lebih dari 1 (> 1). 
Uji Viabilitas Spermatozoa Sapi Bali Jantan dengan Menggunakan Larutan Natrium Clorida (NaCl) yang Berbeda Level
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan level Natrium Clorida (NaCl) terhadap viabilitas spermatozoa sapi bali, dimana ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah ternak sapi bali jantan dewasa yang berumur ± 4 tahun sebanyak satu ekor jantan dan satu ekor betina. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan sehingga terdapat 16 unit percobaan. Perlakuan yang akan diuji adalah r1 (5 ml larutan NaCl + 0,2 ml semen), r2 (10 ml larutan NaCl + 0,2 ml semen), r3 (15 ml larutan NaCl + 0,2 ml semen) dan r4 (20 ml larutan NaCl + 0,2 ml semen). Hasil penelitian viabilitas atau daya tahan hidup spermatozoa dalam penelitian adalah sangat baik karena sel spermatozoa masih dapat bertahan hidup pada penambahan level tertinggi larutan NaCl yakni 20 ml, walaupun persentase sel spermatozoa yang mati tidak mencapai 100% karena masih terdapat sel spermatozoa yang hidup sebanyak 5,63% namun terjadi penurunan persentase hidup sel spermatozoa yang signifikan. Penambahan NaCl tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pH semen. ©2016 dipublikasikan oleh JAS.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan level Natrium Clorida (NaCl) terhadap viabilitas spermatozoa sapi bali, dimana ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah ternak sapi bali jantan dewasa yang berumur ± 4 tahun sebanyak satu ekor jantan dan satu ekor betina. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan sehingga terdapat 16 unit percobaan. Perlakuan yang akan diuji adalah r1 (5 ml larutan NaCl + 0,2 ml semen), r2 (10 ml larutan NaCl + 0,2 ml semen), r3 (15 ml larutan NaCl + 0,2 ml semen) dan r4 (20 ml larutan NaCl + 0,2 ml semen). Hasil penelitian viabilitas atau daya tahan hidup spermatozoa dalam penelitian adalah sangat baik karena sel spermatozoa masih dapat bertahan hidup pada penambahan level tertinggi larutan NaCl yakni 20 ml, walaupun persentase sel spermatozoa yang mati tidak mencapai 100% karena masih terdapat sel spermatozoa yang hidup sebanyak 5,63% namun terjadi penurunan persentase hidup sel spermatozoa yang signifikan. Penambahan NaCl tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pH semen. ©2016 dipublikasikan oleh JAS
Pengaruh Komposisi Media Tanam dan Ukuran Polybag Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tomat (Licopercicum escelentum Mill)
This study aims to determine the effect and prove the composition of planting media and polybag size that can provide the best growth and yield of tomato. The design used was factorial randomized block design with three replications. The first factor is the composition of planting medium which is a mixture of soil, husk charcoal and manure consisting of three levels namely 1: 2: 3, 2: 1: 3 and 3: 2: 1. The second factor is a polybag size consisting of three levels namely 15 x 20 cm, 20 x 20 cm and 20 x 25 cm. The results showed that interaction between planting media composition and polybag size only occurred at plant height 14 DAP and fruit weight per plant of harvest III. The composition of planting medium has a significant effect on stem diameter 28 DAP and 42 DAP, fruit weight per plant of harvest I, harvest II and harvest III, the fresh and dry weight of stover. While the size of polybag significantly affect the soil temperature at each observation time, plant height 14 HST and 28 HST, stem diameter 28 HST, leaf area, weight per fruit, number of fruits per plant, fruit weight per plant harvest I, harvest II, harvest III and total harvest, fresh weight and dried fruits and dry weight of the roots. While the size of polybag significantly affect the soil temperature at each observation time, plant height 14 HST and 28 HST, stem diameter 28 HST, leaf area, weight per fruit, number of fruits per plant, fruit weight per plant harvest I, harvest II, harvest III and total harvest, fresh and dry weight of stover and dry weight of roots. Planting media with a 1: 2: 3 composition yields the highest total yield per crop of 964.5 g compared to 2: 1: 3 and 3: 2: 1. The use of polybags with a size of 20 x 25 gives the highest total yield per plant of 1,022.7 g compared to 15 x 20 and 20 x 20. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan membuktikan komposisi media tanam dan ukuran polybag yang dapat memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman tomat terbaik. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah komposisi media tanam yang merupakan campuran tanah, arang sekam dan pupuk kandang yang terdiri dari tiga aras yakni 1:2:3, 2:1:3 dan 3:2:1. Faktor yang kedua adalah ukuran polybag yang terdiri dari tiga aras yakni 15 x 20 cm, 20 x 20 cm dan 20 x 25 cm. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara komposisi media tanam dan ukuran polybag hanya terjadi pada tinggi tanaman 14 HST dan berat buah per tanaman panen III. Komposisi media tanam berpengaruh nyata terhadap diameter batang 28 HST dan 42 HST, berat buah per tanaman panen I, panen II dan panen III, berat segar maupun kering berangkasan. Sedangkan ukuran polybag berpengaruh nyata terhadap suhu tanah setiap waktu pengamatan, tinggi tanaman 14 HST dan 28 HST, diameter batang 28 HST, luas daun, berat per buah, jumlah buah per tanaman, berat buah per tanaman panen I, panen II, panen III dan total panen, berat segar maupun kering berangkasan dan berat kering akar. Media tanam dengan komposisi 1:2:3 memberikan hasil total panen per tanaman tertinggi yakni 964,5 g dibandingkan komposisi media tanam 2:1:3 dan 3:2:1. Penggunaan polybag dengan ukuran 20 x 25 memberikan hasil total panen per tanaman tertinggi yaitu 1.022,7 g dibandingkan ukuran polybag 15 x 20 dan 20 x 20. 
Pengaruh Takaran Pupuk Kandang Babi dan Jarak Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Wortel (Daucus carota L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh takaran pupuk kandang babi dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil wortel serta mengetahui takaran pupuk kandang dan jarak tanam yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil wortel yang optimum. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 3 x 3 yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah takaran pupuk kandang babi yang terdiri dari tiga aras yaitu 15 t ha-1, 25 t ha-1 dan 35 t ha-1. Faktor kedua adalah jarak tanam yang terdiri dari tiga aras yaitu 10 cm x 15 cm, 10 cm x 20 cm dan 15 cm x 15 cm. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi pengaruh interaksi antara takaran pupuk kandang babi dan jarak tanam terhadap semua parameter. Takaran pupuk kandang babi berpengaruh nyata pada parameter kadar lengas 50 HST dan panjang umbi, sedangkan jarak tanam tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter. Pemberian pupuk kandang babi dengan takaran 35 t ha-1 memberikan hasil tertinggi yakni 30,95 t ha-1, sedangkan jarak tanam 15 cm x 15 cm memberikan hasil wortel tertinggi yakni 30,85 t ha-1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh takaran pupuk kandang babi dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil wortel serta mengetahui takaran pupuk kandang dan jarak tanam yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil wortel yang optimum. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 3 x 3 yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah takaran pupuk kandang babi yang terdiri dari tiga aras yaitu 15 t ha-1, 25 t ha-1 dan 35 t ha-1. Faktor kedua adalah jarak tanam yang terdiri dari tiga aras yaitu 10 cm x 15 cm, 10 cm x 20 cm dan 15 cm x 15 cm. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi pengaruh interaksi antara takaran pupuk kandang babi dan jarak tanam terhadap semua parameter. Takaran pupuk kandang babi berpengaruh nyata pada parameter kadar lengas 50 HST dan panjang umbi, sedangkan jarak tanam tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter. Pemberian pupuk kandang babi dengan takaran 35 t ha-1 memberikan hasil tertinggi yakni 30,95 t ha-1, sedangkan jarak tanam 15 cm x 15 cm memberikan hasil wortel tertinggi yakni 30,85 t ha-1. 
Pengaruh Waktu Pembenaman Pupuk Hijau dan Aplikasi Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Putih Siung Tunggal (Allium sativum L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu pembenaman pupuk hijau dan aplikasi pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan hasil bawang putih siung tunggal dengan mengunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah waktu pembenaman pupuk hijau yang terdiri dari empat aras yaitu tanpa pembenaman pupuk hijau, -7 HST, -14 HST dan -21 HST. Faktor kedua adalah waktu aplikasi pupuk organik cair yang terdiri dari empat aras yaitu tanpa penyiraman pupuk organik cair, 15 HST, 30 HST dan 45 HST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara waktu pembenaman pupuk hijau dan aplikasi pupuk organik cair hanya terjadi terhadap luas daun. Secara umum pembenaman pembenaman pupuk hijau berpengaruh nyata terhadap suhu tanah 50 HST, tinggi tanaman setiap waktu pengamatan, berat kering umbi per tanaman maupun per petak, berat siung tunggal per petak, persentase siung tunggal per petak dan indeks panen tetapi penerapan waktu pembenaman pupuk hijau yang berbeda hanya berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 25 HST, sedangkan waktu aplikasi pupuk organik cair hanya berpengaruh nyata terhadap suhu tanah 50 HST. Pembenaman pupuk hijau pada -14 HST memberikan hasil panen tertinggi yakni 4,99 t/ha. Aplikasi pupuk organik cair pada 45 HST memberikan hasil panen tertinggi yaitu 3,95 t/ha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu pembenaman pupuk hijau dan aplikasi pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan hasil bawang putih siung tunggal dengan mengunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah waktu pembenaman pupuk hijau yang terdiri dari empat aras yaitu tanpa pembenaman pupuk hijau, -7 HST, -14 HST dan -21 HST. Faktor kedua adalah waktu aplikasi pupuk organik cair yang terdiri dari empat aras yaitu tanpa penyiraman pupuk organik cair, 15 HST, 30 HST dan 45 HST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara waktu pembenaman pupuk hijau dan aplikasi pupuk organik cair hanya terjadi terhadap luas daun. Secara umum pembenaman pembenaman pupuk hijau berpengaruh nyata terhadap suhu tanah 50 HST, tinggi tanaman setiap waktu pengamatan, berat kering umbi per tanaman maupun per petak, berat siung tunggal per petak, persentase siung tunggal per petak dan indeks panen tetapi penerapan waktu pembenaman pupuk hijau yang berbeda hanya berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 25 HST, sedangkan waktu aplikasi pupuk organik cair hanya berpengaruh nyata terhadap suhu tanah 50 HST. Pembenaman pupuk hijau pada -14 HST memberikan hasil panen tertinggi yakni 4,99 t/ha. Aplikasi pupuk organik cair pada 45 HST memberikan hasil panen tertinggi yaitu 3,95 t/ha.