Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
604 research outputs found
Sort by
Korelasi PBBH dengan Perubahan Ukuran Linear Tubuh pada Ternak Kambing Kacang Betina Lokal yang Diberikan Kombinasi Hijauan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai korelasi antara pertambahan bobot badan harian (PBBH) dengan perubahan ukuran linear tubuh ternak kambing betina lokal yang diberi kombinasi hijauan berupa rumput alam, lamtoro dan turi. Penelitian ini menggunakan 16 ekor ternak kambing yang berumur 6-9 bulan dengan berat badan awal 10 kg – 21 kg. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan tersebut adalah r0 (100% rumput alam), r1 (40% rumput alam, 30% lamtoro, 30% turi), r2 (30% rumput alam, 35% lamtoro, 35% turi) dan r3 (20% rumput alam, 40% lamtoro, 40% turi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa besaran nilai korelasi antara PBBH dengan perubahan lingkar dada yakni 0,163774, panjang badan 0,9889526, tinggi pundak 0,35564, sehingga disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara PBBH dan perubahan ukuran linear tubuh ternak (lingkar dada, panjang badan, tinggi pundak). ©2016 dipublikasikan oleh JAS.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai korelasi antara pertambahan bobot badan harian (PBBH) dengan perubahan ukuran linear tubuh ternak kambing betina lokal yang diberi kombinasi hijauan berupa rumput alam, lamtoro dan turi. Penelitian ini menggunakan 16 ekor ternak kambing yang berumur 6-9 bulan dengan berat badan awal 10 kg – 21 kg. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan tersebut adalah r0 (100% rumput alam), r1 (40% rumput alam, 30% lamtoro, 30% turi), r2 (30% rumput alam, 35% lamtoro, 35% turi) dan r3 (20% rumput alam, 40% lamtoro, 40% turi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa besaran nilai korelasi antara PBBH dengan perubahan lingkar dada yakni 0,163774, panjang badan 0,9889526, tinggi pundak 0,35564, sehingga disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara PBBH dan perubahan ukuran linear tubuh ternak (lingkar dada, panjang badan, tinggi pundak). ©2016 dipublikasikan oleh JAS
Faktor Sosial Ekonomi yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Sayuran Sawi di Kelompok Tani Mitra Timor
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran usahatani sayuran sawi dan untuk mengetahui faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi produksi usahatani sayuran sawi pada Kelompok Tani Mitra Timor di Kelurahan Benpasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, yang dilaksanakan di Kelompok tani Mitra Timor Kelurahan Benpasi Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara pada bulan Desember 2015 – bulan Maret 2016, dengan metode penetuan sampelnya adalah metode sensus yakni keseluruh anggota kelompok tani Mitra Timor di Kelurahan Benpasi sebanyak 20 orang dijadikan sebagai responden. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran usahatani sayuran sawi terdiri dari pengolahan lahan, persemaian, pemeliharaan terdiri dari penyiraman dan penyingan, panen, dan pasca panen. Berdasarkan uji F, secara bersama-sama luas lahan, bibit, pupuk kandang, curahan tenaga kerja, umur, pendidikan, dan jumlah tangungan keluarga berpengaruh nyata terhadap produksi sawi. Sedangkan berdasarkan uji t, secara parsial variabel luas lahan, bibit, pupuk kandang, dan jumlah tangungan keluarga berpengaruh nyata terhadap produksi sawi, sedangan variabel curahan tenaga kerja, umur, dan pendidikan, tidak berpengaruh nyata terhadap produksi sawi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran usahatani sayuran sawi dan untuk mengetahui faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi produksi usahatani sayuran sawi pada Kelompok Tani Mitra Timor di Kelurahan Benpasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, yang dilaksanakan di Kelompok tani Mitra Timor Kelurahan Benpasi Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara pada bulan Desember 2015 – bulan Maret 2016, dengan metode penetuan sampelnya adalah metode sensus yakni keseluruh anggota kelompok tani Mitra Timor di Kelurahan Benpasi sebanyak 20 orang dijadikan sebagai responden. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran usahatani sayuran sawi terdiri dari pengolahan lahan, persemaian, pemeliharaan terdiri dari penyiraman dan penyingan, panen, dan pasca panen. Berdasarkan uji F, secara bersama-sama luas lahan, bibit, pupuk kandang, curahan tenaga kerja, umur, pendidikan, dan jumlah tangungan keluarga berpengaruh nyata terhadap produksi sawi. Sedangkan berdasarkan uji t, secara parsial variabel luas lahan, bibit, pupuk kandang, dan jumlah tangungan keluarga berpengaruh nyata terhadap produksi sawi, sedangan variabel curahan tenaga kerja, umur, dan pendidikan, tidak berpengaruh nyata terhadap produksi sawi. 
Analisis Pendapatan Usaha Industri Jamu di Kelompok Tani Prima Mandiri Desa Usapinonot
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Insana Barat Kabupaten Timor Tengah Utara, tujuan penelitian ini untuk mengetahui pendapatan usaha industri jamu di Kelompok Tani Prima Mandiri, dan untuk mengetahui keuntungan relatif usaha industri jamu di Kelompok Tani Mandiri. Metode pengambilan data dilakukan secara survei dengan jenis data berupa data primer dan data sekunder. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif, analisis pendapatan dan analisis R/C ratio. Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa kesimpulan yakni, penerimaan untuk keseluruhan responden dalam empat kali produksi (1 bulan) adalah sebesar Rp. 44.000.000 dengan rata-rata per responden adalah sebesar Rp. 4.000.000. Total biaya produksi untuk keseluruhan responden dalam empat kali produksi (bulan) adalah sebesar Rp. 18.329.500 dengan rata-rata Rp. 1.666.318 per responden. Total pendapatan usaha industri jamu untuk keseluruhan responden dalam satu kali produksi adalah sebesar Rp. 4.776.500 dengan rata-rata Rp. 434.277, sedangkan total pendapatan untuk keseluruhan responden dalam empat kali produksi (bulan) adalah sebesar Rp. 19.248.000 dengan rata-rata per responden adalah sebesar Rp.1.749.818. hal ini menunjukkan bahwa penerimaan, biaya produksi dan pendapatan sangat bervariasi. Nilai rata-rata R/C ratio dari usaha industri jamu adalah sebesar 1,9 sehingga usaha industri jamu tersebut secara ekonomis menguntungkan dan dapat dilanjutkan.Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Insana Barat Kabupaten Timor Tengah Utara, tujuan penelitian ini untuk mengetahui pendapatan usaha industri jamu di Kelompok Tani Prima Mandiri, dan untuk mengetahui keuntungan relatif usaha industri jamu di Kelompok Tani Mandiri. Metode pengambilan data dilakukan secara survei dengan jenis data berupa data primer dan data sekunder. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif, analisis pendapatan dan analisis R/C ratio. Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa kesimpulan yakni, penerimaan untuk keseluruhan responden dalam empat kali produksi (1 bulan) adalah sebesar Rp. 44.000.000 dengan rata-rata per responden adalah sebesar Rp. 4.000.000. Total biaya produksi untuk keseluruhan responden dalam empat kali produksi (bulan) adalah sebesar Rp. 18.329.500 dengan rata-rata Rp. 1.666.318 per responden. Total pendapatan usaha industri jamu untuk keseluruhan responden dalam satu kali produksi adalah sebesar Rp. 4.776.500 dengan rata-rata Rp. 434.277, sedangkan total pendapatan untuk keseluruhan responden dalam empat kali produksi (bulan) adalah sebesar Rp. 19.248.000 dengan rata-rata per responden adalah sebesar Rp.1.749.818. hal ini menunjukkan bahwa penerimaan, biaya produksi dan pendapatan sangat bervariasi. Nilai rata-rata R/C ratio dari usaha industri jamu adalah sebesar 1,9 sehingga usaha industri jamu tersebut secara ekonomis menguntungkan dan dapat dilanjutkan
Pemanfatan Nutrisi pada Sapi Bali Betina Afkir yang Diberi Pakan Komplit Fermentasi Berbasis Daun Gamal dengan Level Energi Berbeda
Penelitian ini bertujuan untuk menilai respon kenaikan berat badan sapi bali yang diberi pakan komplit fermentasi berbasis daun gamal (Gliricidia sepium) yang mengandung tingkat tambahan energi metabolis sebesar 7 MJ. Rancangan penelitian menggunakan RAL dengan dua puluh satu ekor sapi Bali (berumur 5-8 tahun dan berat badan 174,8 - 188,9 kg) yang terdiri dari tiga perlakuan dan tujuh ulangan. Pemberian pakan berlangsung selama 12 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan komplit fermentasi berbasis daun gamal dengan level energi metabolis berbeda (EM 7 MJ/Kg BK, EM 8 MJ/Kg BK dan EM 9 MJ/Kg BK) tidak mempengaruhi konsumsi dan kecernaan protein kasar, energy metabolis, konsumsi bahan kering tercerna, konsumsi nutrien kemudian juga cenderung meningkatkan PBB sapi Bali betina afkir yang digemukan dengan protein kasar 12,3%, dari pakan EM 8 MJ/kgBK menjadi EM 9 MJ/kgBK cenderung meningkatkan PBBHnya sebesar 0,63-0,75kg/hari. ©2016 dipublikasikan oleh JAS.Penelitian ini bertujuan untuk menilai respon kenaikan berat badan sapi bali yang diberi pakan komplit fermentasi berbasis daun gamal (Gliricidia sepium) yang mengandung tingkat tambahan energi metabolis sebesar 7 MJ. Rancangan penelitian menggunakan RAL dengan dua puluh satu ekor sapi Bali (berumur 5-8 tahun dan berat badan 174,8 - 188,9 kg) yang terdiri dari tiga perlakuan dan tujuh ulangan. Pemberian pakan berlangsung selama 12 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan komplit fermentasi berbasis daun gamal dengan level energi metabolis berbeda (EM 7 MJ/Kg BK, EM 8 MJ/Kg BK dan EM 9 MJ/Kg BK) tidak mempengaruhi konsumsi dan kecernaan protein kasar, energy metabolis, konsumsi bahan kering tercerna, konsumsi nutrien kemudian juga cenderung meningkatkan PBB sapi Bali betina afkir yang digemukan dengan protein kasar 12,3%, dari pakan EM 8 MJ/kgBK menjadi EM 9 MJ/kgBK cenderung meningkatkan PBBHnya sebesar 0,63-0,75kg/hari. ©2016 dipublikasikan oleh JAS
Identifikasi Ciri Eksterior Ternak Babi Jantan pada Peternakan Rakyat di Kecamatan Atambua Selatan Kabupaten Belu
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Atambua Selatan Kabupaten Belu dengan tujuan untuk mengetahui ciri eksterior ternak babi jantan yang ada pada wilayah ini dengan melihat pada variabel 1) warna bulu; 2) bobot badan; 3) panjang telinga; 4) panjang badan; 5) lingkar dada; dan 6) tinggi pundak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa warna bulu ternak babi jantan lokal di Kecamatan Atambua Selatan pada umumnya memiliki warna bulu tebal yang berwarna hitam pekat dan tebal di seluruh tubuh ternak, sebagian pula memiliki warna bercak putih-hitam, kecokelatan bercak hitam-putih, dan warna hitam yang menjadi dominan sehingga warna hitam dan bulu agak kasar menjadi karakteristik ternak babi jantan lokal, sedangkan pengukuran sifat kuantitatif pada babi lokal jantan menunjukkan bahwa rata-rata dari bobot badan jantan anak 7,66 kg, jantan muda 28,59 kg, dan jantan dewasa 111,00 kg, pajang telinga jantan anak 8,26 cm, jantan muda 11,42 cm dan jantan dewasa 20,44 cm, panjang badan jantan anak 36,30 cm, jantan muda 46,52 cm, dan jantan dewasa 107,67 cm, lingkar dada jantan anak 36,30 cm, jantan muda 46,56 cm, jantan dewasa 94,91 cm dan tinggi pundak jantan anak 28,84 cm, jantan muda 36,36 cm, jantan dewasa 62,71 cm. Hasil pengukuran sifat kuantitatif pada ternak babi jantan peranakan VDL menunjukkan bahwa rata-rata bobot badan adalah jantan anak 11,79 kg, jantan muda 78,31 kg dan jantan dewasa adalah 131,60 kg, panjang telinga jantan anak 10,69 cm, jantan muda 12,79 cm, dan jantan dewasa 21,61 cm, panjang badan jantan anak 32,23 cm, jantan muda 63,21 cm, dan jantan dewasa 108,94 cm, lingkar dada jantan anak 42,83 cm, jantan muda 59,88 cm dan jantan dewasa 103,13 cm, tinggi pundak jantan anak 30,74 cm, jantan muda 51,27 cm dan jantan dewasa 71,84 cm. ©2016 dipublikasikan oleh JAS.Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Atambua Selatan Kabupaten Belu dengan tujuan untuk mengetahui ciri eksterior ternak babi jantan yang ada pada wilayah ini dengan melihat pada variabel 1) warna bulu; 2) bobot badan; 3) panjang telinga; 4) panjang badan; 5) lingkar dada; dan 6) tinggi pundak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa warna bulu ternak babi jantan lokal di Kecamatan Atambua Selatan pada umumnya memiliki warna bulu tebal yang berwarna hitam pekat dan tebal di seluruh tubuh ternak, sebagian pula memiliki warna bercak putih-hitam, kecokelatan bercak hitam-putih, dan warna hitam yang menjadi dominan sehingga warna hitam dan bulu agak kasar menjadi karakteristik ternak babi jantan lokal, sedangkan pengukuran sifat kuantitatif pada babi lokal jantan menunjukkan bahwa rata-rata dari bobot badan jantan anak 7,66 kg, jantan muda 28,59 kg, dan jantan dewasa 111,00 kg, pajang telinga jantan anak 8,26 cm, jantan muda 11,42 cm dan jantan dewasa 20,44 cm, panjang badan jantan anak 36,30 cm, jantan muda 46,52 cm, dan jantan dewasa 107,67 cm, lingkar dada jantan anak 36,30 cm, jantan muda 46,56 cm, jantan dewasa 94,91 cm dan tinggi pundak jantan anak 28,84 cm, jantan muda 36,36 cm, jantan dewasa 62,71 cm. Hasil pengukuran sifat kuantitatif pada ternak babi jantan peranakan VDL menunjukkan bahwa rata-rata bobot badan adalah jantan anak 11,79 kg, jantan muda 78,31 kg dan jantan dewasa adalah 131,60 kg, panjang telinga jantan anak 10,69 cm, jantan muda 12,79 cm, dan jantan dewasa 21,61 cm, panjang badan jantan anak 32,23 cm, jantan muda 63,21 cm, dan jantan dewasa 108,94 cm, lingkar dada jantan anak 42,83 cm, jantan muda 59,88 cm dan jantan dewasa 103,13 cm, tinggi pundak jantan anak 30,74 cm, jantan muda 51,27 cm dan jantan dewasa 71,84 cm. ©2016 dipublikasikan oleh JAS
Respon Pertumbuhan dan Hasil Jagung (Zea mays L.) Varietas Pioner terhadap Berbagai Takaran Pupuk Kandang Babi dan Jarak Tanam
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh takaran pupuk kandang babi dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil jagung hibrida varietas Pioner serta mengetahui takaran pupuk kandang babi dan jarak tanam yang tepat bagi pertumbuhan dan hasil jagung hibrida varietas Pioner yang optimum. Penelitian mengunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 3 x 3 yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah takaran pupuk kandang babi yang terdiri dari tiga aras yaitu tanpa pupuk kandang babi, 20 t/ha dan 25 t/ha. Faktor kedua adalah jarak tanam yang terdiri dari tiga aras yaitu 70 x 30 cm, 70 x 40 cm dan 70 x 50 cm. Hasil penelitian menunjukan takaran pupuk kandang babi dan jarak tanam memberikan pengaruh interaksi terhadap panjang tongkol, berat 100 biji dan berat pipilan kering per petak. Takaran pupuk kandang babi berpengaruh nyata terhadap luas daun, panjang tongkol, diameter tongkol, jumlah biji per baris, berat pipilan kering per tanaman, berat pipilan kering per petak, berat segar berangkasan dan berat kering berangkasan. Jarak tanam berpengaruh nyata terhadap luas daun, jumlah baris per tongkol, jumlah tongkol per petak, berat pipilan kering per petak, berat segar berangkasan, berat kering berangkasan dan indeks panen. Takaran pupuk kandang babi 25 t/ha dengan jarak tanam 70 x 30 cm memberikan hasil jagung tertinggi berupa pipilan kering 3,48 t/ha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh takaran pupuk kandang babi dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil jagung hibrida varietas Pioner serta mengetahui takaran pupuk kandang babi dan jarak tanam yang tepat bagi pertumbuhan dan hasil jagung hibrida varietas Pioner yang optimum. Penelitian mengunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 3 x 3 yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah takaran pupuk kandang babi yang terdiri dari tiga aras yaitu tanpa pupuk kandang babi, 20 t/ha dan 25 t/ha. Faktor kedua adalah jarak tanam yang terdiri dari tiga aras yaitu 70 x 30 cm, 70 x 40 cm dan 70 x 50 cm. Hasil penelitian menunjukan takaran pupuk kandang babi dan jarak tanam memberikan pengaruh interaksi terhadap panjang tongkol, berat 100 biji dan berat pipilan kering per petak. Takaran pupuk kandang babi berpengaruh nyata terhadap luas daun, panjang tongkol, diameter tongkol, jumlah biji per baris, berat pipilan kering per tanaman, berat pipilan kering per petak, berat segar berangkasan dan berat kering berangkasan. Jarak tanam berpengaruh nyata terhadap luas daun, jumlah baris per tongkol, jumlah tongkol per petak, berat pipilan kering per petak, berat segar berangkasan, berat kering berangkasan dan indeks panen. Takaran pupuk kandang babi 25 t/ha dengan jarak tanam 70 x 30 cm memberikan hasil jagung tertinggi berupa pipilan kering 3,48 t/ha. 
Efisiensi Penggunaan Dana Bantuan Pemda NTT melalui Program Anggur Merah Bagi Kelompok Usaha Produktif di Kelurahan Maubeli, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengeluaran terhadap penerimaan dan laba/rugi bagi kelompok usaha penerima bantuan Program Anggur Merah di Kelurahan Maubeli. Jika pengeluaran lebih kecil dari penerimaan maka kelompok memperoleh keuntungan. Sebaliknya pengeluaran lebih besar dari penerimaan maka kelompok menderita kerugian. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari lima belas kelompok yang memanfaatkan dana bantuan, sebanyak tujuh kelompok (46,67%) masuk dalam kategori efisien karena memperoleh keuntungan. Sedangkan delapan kelompok lainnya (53,33%) menderita kerugian. Ada beberapa kelopompok usaha yang cukup produktif dalam memanfaatkan modal bantuan. Kelompok yang memperoleh keuntungan lebih besar sepuluh juta setahun berjumlah 2 kelompok (28,57%). Kelompok yang memperoleh keuntungan lima juta, namun lebih kecil sepuluh juta berjumlah 2 kelompok (28,57%). Kelompok yang memperoleh keuntungan lebih besar satu juta, namun di bawah lima juta berjumlah 3 kelompok (42,86%). Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa ada delapan kelompok usaha yang kurang beruntung atau mengalami kerugian. Kelompok yang mengalami kerugian di atas sepuluh juta berjumlah 2 kelompok (25%), sedangkan kelompok yang mengalami kerugian diatas 5 juta namun di bawah 10 juta, berjumlah 3 kelompok (37,5%). Sedangkan kelompok yang mengalami kerugian diatas 1 juta namun dibawa lima juta berjumlah 3 kelompok (37,5%). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengeluaran terhadap penerimaan dan laba/rugi bagi kelompok usaha penerima bantuan Program Anggur Merah di Kelurahan Maubeli. Jika pengeluaran lebih kecil dari penerimaan maka kelompok memperoleh keuntungan. Sebaliknya pengeluaran lebih besar dari penerimaan maka kelompok menderita kerugian. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari lima belas kelompok yang memanfaatkan dana bantuan, sebanyak tujuh kelompok (46,67%) masuk dalam kategori efisien karena memperoleh keuntungan. Sedangkan delapan kelompok lainnya (53,33%) menderita kerugian. Ada beberapa kelopompok usaha yang cukup produktif dalam memanfaatkan modal bantuan. Kelompok yang memperoleh keuntungan lebih besar sepuluh juta setahun berjumlah 2 kelompok (28,57%). Kelompok yang memperoleh keuntungan lima juta, namun lebih kecil sepuluh juta berjumlah 2 kelompok (28,57%). Kelompok yang memperoleh keuntungan lebih besar satu juta, namun di bawah lima juta berjumlah 3 kelompok (42,86%). Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa ada delapan kelompok usaha yang kurang beruntung atau mengalami kerugian. Kelompok yang mengalami kerugian di atas sepuluh juta berjumlah 2 kelompok (25%), sedangkan kelompok yang mengalami kerugian diatas 5 juta namun di bawah 10 juta, berjumlah 3 kelompok (37,5%). Sedangkan kelompok yang mengalami kerugian diatas 1 juta namun dibawa lima juta berjumlah 3 kelompok (37,5%). 
Pengaruh Iradiasi Sinar Gamma Pada Benih Terhadap Keragaan Tanaman Jengger Ayam (Celosia cristata L.)
Study the effect of gamma irradiation on the performance of the plant seed from the chicken's comb (Celosia cristata L.) aims to Obtain mutant plants Celosia unique, interesting, and stable that can be used as a lucrative new varieties on the market. Getting a mutant plant that has the highest diversity in LD50. The experiment was conducted in February 2013 to April 2013. This research was conducted at the Nuclear Energy Agency (BATAN) Pasar Minggu and Development Center of Ornamental Plants Bogor Agricultural Institute (IPB), Taman Kencana, Bogor. This study uses Celosia seeds irradiated with various doses. The dose used is: 0 Gy, 10 Gy, 20 Gy, 30 Gy, 40 Gy, 50 Gy. Observations were made on the Reduction parameter Dose (RD) 50, High Plant (cm), Number Buds (buds), Flower color and Form Flowers. The results showed that the highest dose of 10 plants and 20 gy is 29 cm, while the plant height is lowest at a dose of 40 gy is 24 cm. The highest number of shoots was shown by a dose of 50 gy, gy that radiation dose 10 purplish pink flowers and red. Irradiated interest is soaring upwards but then widened to the side. Study the effect of gamma irradiation on the performance of the plant seed from the chicken's comb (Celosia cristata L.) aims to Obtain mutant plants Celosia unique, interesting, and stable that can be used as a lucrative new varieties on the market. Getting a mutant plant that has the highest diversity in LD50. The experiment was conducted in February 2013 to April 2013. This research was conducted at the Nuclear Energy Agency (BATAN) Pasar Minggu and Development Center of Ornamental Plants Bogor Agricultural Institute (IPB), Taman Kencana, Bogor. This study uses Celosia seeds irradiated with various doses. The dose used is: 0 Gy, 10 Gy, 20 Gy, 30 Gy, 40 Gy, 50 Gy. Observations were made on the Reduction parameter Dose (RD) 50, High Plant (cm), Number Buds (buds), Flower color and Form Flowers. The results showed that the highest dose of 10 plants and 20 gy is 29 cm, while the plant height is lowest at a dose of 40 gy is 24 cm. The highest number of shoots was shown by a dose of 50 gy, gy that radiation dose 10 purplish pink flowers and red. Irradiated interest is soaring upwards but then widened to the side. 
Pengaruh Model Penyimpanan Benih dan Jumlah Biji Per Lubang Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung (Zea mays L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model penyimpanan dengan jumlah biji per lubang tanam yang tepat sehingga memberikan pertumbuhan dan hasil jagung yang terbaik. Percobaan lapangan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 3 × 3. Faktor yang diteliti adalah pengaruh model penyimpanan yang terdiri dari tiga aras yaitu model penyimpanan di klobot, penyimpanan di lumbung dan penyimpanan di drum. Faktor kedua adalah jumlah biji per lubang tanam yang terdiri dari tiga aras yaitu 1 biji, 2 biji dan 3 biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara model penyimpanan benih dan jumlah biji per lubang tanam hanya terjadi terhadap parameter tinggi tanaman 35 HST, panjang tongkol dan jumlah baris per tongkol. Model penyimpanan dalam klobot berpengaruh nyata terhadap diameter batang 56 HST dan panjang tongkol, sedangkan jumlah biji per lubang tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 56 HST, luas daun, jumlah baris per tongkol, jumlah biji per baris, jumlah tongkol per petak, berat pipilan kering per tanaman maupun per petak, berat 100 biji dan berat segar maupun kering berangkasan. Penyimpanan benih dengan cara klobot memberikan hasil jagung tertinggi sebesar 2,385 t/ha. Penanaman dengan jumlah tiga biji per lubang tanam memberikan hasil jagung tertinggi yakni 3,178 t/ha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model penyimpanan dengan jumlah biji per lubang tanam yang tepat sehingga memberikan pertumbuhan dan hasil jagung yang terbaik. Percobaan lapangan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 3 × 3. Faktor yang diteliti adalah pengaruh model penyimpanan yang terdiri dari tiga aras yaitu model penyimpanan di klobot, penyimpanan di lumbung dan penyimpanan di drum. Faktor kedua adalah jumlah biji per lubang tanam yang terdiri dari tiga aras yaitu 1 biji, 2 biji dan 3 biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara model penyimpanan benih dan jumlah biji per lubang tanam hanya terjadi terhadap parameter tinggi tanaman 35 HST, panjang tongkol dan jumlah baris per tongkol. Model penyimpanan dalam klobot berpengaruh nyata terhadap diameter batang 56 HST dan panjang tongkol, sedangkan jumlah biji per lubang tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 56 HST, luas daun, jumlah baris per tongkol, jumlah biji per baris, jumlah tongkol per petak, berat pipilan kering per tanaman maupun per petak, berat 100 biji dan berat segar maupun kering berangkasan. Penyimpanan benih dengan cara klobot memberikan hasil jagung tertinggi sebesar 2,385 t/ha. Penanaman dengan jumlah tiga biji per lubang tanam memberikan hasil jagung tertinggi yakni 3,178 t/ha. 
Pengaruh Model Ajir dan Pemangkasan Tunas Lateral terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) Cv. Lentana
Tomat merupakan salah satu komoditas yang bernilai ekonomis yang sangat tinggi. Dalam usaha untuk memperoleh hasil yang tinggi maka diperlukan teknik budidaya yang tepat seperti penggunaan model ajir yang tepat serta dilakukan pemangkasan tunas lateral. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh model ajir dan pemangkasan tunas lateral terhadap pertumbuhan dan hasil tomat varietas Lentana, dilaksanakan bulan Februari – Mei 2015 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor pertama adalah model ajir yang terdiri dari tiga aras yaitu ajir tunggal, ajir pagar dan ajir segi tiga. Faktor kedua adalah pemangkasan tunas lateral yang terdiri dari dua aras yaitu tanpa pangkas dan pangkas. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara model ajir dan pemangkasan tunas lateral tidak terjadi pada semua parameter yang diamati. Model ajir hanya berpengaruh nyata pada parameter diameter batang 42 HST sedangkan pemangkasan tunas lateral tidak berpengaruh nyata pada semua parameter. Pemberian ajir model pagar memberikan hasil tertinggi yakni 41,80 t/ha dibandingkan ajir model tunggal dan segitiga. Perlakuan tanpa pangkas memberikan hasil tertinggi yaitu 39,62 t/ha dibandingkan perlakuan pemangkasan tunas lateral. Tomat merupakan salah satu komoditas yang bernilai ekonomis yang sangat tinggi. Dalam usaha untuk memperoleh hasil yang tinggi maka diperlukan teknik budidaya yang tepat seperti penggunaan model ajir yang tepat serta dilakukan pemangkasan tunas lateral. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh model ajir dan pemangkasan tunas lateral terhadap pertumbuhan dan hasil tomat varietas Lentana, dilaksanakan bulan Februari – Mei 2015 menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor pertama adalah model ajir yang terdiri dari tiga aras yaitu ajir tunggal, ajir pagar dan ajir segi tiga. Faktor kedua adalah pemangkasan tunas lateral yang terdiri dari dua aras yaitu tanpa pangkas dan pangkas. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara model ajir dan pemangkasan tunas lateral tidak terjadi pada semua parameter yang diamati. Model ajir hanya berpengaruh nyata pada parameter diameter batang 42 HST sedangkan pemangkasan tunas lateral tidak berpengaruh nyata pada semua parameter. Pemberian ajir model pagar memberikan hasil tertinggi yakni 41,80 t/ha dibandingkan ajir model tunggal dan segitiga. Perlakuan tanpa pangkas memberikan hasil tertinggi yaitu 39,62 t/ha dibandingkan perlakuan pemangkasan tunas lateral.