Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
604 research outputs found
Sort by
Pertumbuhan Fusarium verticillioides, Aspergillus flavus, dan Eurotium chevalieri pada Berbagai Media
Fusarium verticillioides, Aspergillus flavus, dan Eurotium chevalieri merupakan cendawan perusak bahan pangan yang ditemukan pada saat bahan pangan belum dipanen atau setelah bahan pangan dipanen. Pertumbuhan ketiga cendawan ini sangat dipengaruhi oleh nutrisi yang terkandung pada media tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan Fusarium verticillioides, Aspergillus flavus, dan Eurotium chevalieri pada beberapa media untuk isolasi dan identifikasi. Ketiga cendawan tersebut ditumbuhkan pada media yang berbeda yaitu Chloramphenicol Peptone Agar (DCPA), Dichloran 18% Glycerol Agar (DG18), Czapek Yeast Extract Agar (CYA), Czapek Yeast Extract Agar 20% Sucrose (CY20S), Malt Extract Agar (MEA), dan 25% Glycerol Nitrate Agar (G25N) dan diinkubasi pada suhu + 280C. Pengamatan koloni dilakukan setiap 2 x 24 jam, 4 x 24 jam, dan 6 x 24 jam selanjutnya diameter isolat diukur. Hasil isolasi pertumbuhan dan panjang diameter koloni dari A. Flavus (61 mm) dan E. Chevalieri (45mm) diketahui dapat tumbuh baik pada media DG18, sedangkan F. verticillioides (46 mm) tumbuh baik di media DCPA. Sementara pada media identifikasi A. Flavus (80 mm) dapat tumbuh baik pada media CY20S, sedangkan E. Chevalieri (40 mm) dapat tumbuh baik pada media G25N dan CY20S. Koloni F. verticillioides (62 mm) dapat tumbuh baik di media CYA dan CY20S. Fusarium verticillioides, Aspergillus flavus, dan Eurotium chevalieri merupakan cendawan perusak bahan pangan yang ditemukan pada saat bahan pangan belum dipanen atau setelah bahan pangan dipanen. Pertumbuhan ketiga cendawan ini sangat dipengaruhi oleh nutrisi yang terkandung pada media tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan Fusarium verticillioides, Aspergillus flavus, dan Eurotium chevalieri pada beberapa media untuk isolasi dan identifikasi. Ketiga cendawan tersebut ditumbuhkan pada media yang berbeda yaitu Chloramphenicol Peptone Agar (DCPA), Dichloran 18% Glycerol Agar (DG18), Czapek Yeast Extract Agar (CYA), Czapek Yeast Extract Agar 20% Sucrose (CY20S), Malt Extract Agar (MEA), dan 25% Glycerol Nitrate Agar (G25N) dan diinkubasi pada suhu + 280C. Pengamatan koloni dilakukan setiap 2 x 24 jam, 4 x 24 jam, dan 6 x 24 jam selanjutnya diameter isolat diukur. Hasil isolasi pertumbuhan dan panjang diameter koloni dari A. Flavus (61 mm) dan E. Chevalieri (45mm) diketahui dapat tumbuh baik pada media DG18, sedangkan F. verticillioides (46 mm) tumbuh baik di media DCPA. Sementara pada media identifikasi A. Flavus (80 mm) dapat tumbuh baik pada media CY20S, sedangkan E. Chevalieri (40 mm) dapat tumbuh baik pada media G25N dan CY20S. Koloni F. verticillioides (62 mm) dapat tumbuh baik di media CYA dan CY20S. 
Pengaruh Pemangkasan Akar dan Waktu Aklimatisasi terhadap Pertumbuhan Bibit Tanaman Kemiri (Aleurites moluccana Willd) Asal Stum
Penggunaan anakan yang tumbuh liar sebagai bibit (stump) umum dilakukan pada tanaman kemiri oleh masyarakat di pulau Timor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Pemangkasan akar dan Waktu Aklimatisasi terhadap pertumbuhan bibit tanaman kemiri Aleurites maluccana, Willd) asal stum dengan menggunakan Rancangan petak terbagi (Split Plot Design) faktorial 3x3 dengan 3 ulangan. Petak utama perlakuan adalah waktu aklimatisasi, dengan 3 aras yaitu, diaklimatisasi selama 3 minggu (C3), 4 minggu (C4), dan 5 minggu (C5). Anak petak perlakuan adalah pemangkasan akar yang terdiri dari 3 aras yaitu, pemotongan dengan menyisakan panjang akar 15 cm (P0), 10 cm (P1), dan 5 cm (P2). Hasil penelitian menunjukkan; tidak terjadi interaksi antar perlakuan sisa pangkasan akar dengan waktu aklimatisasi. Pengaruh utama perlakuan sisa pangkasan akar 5 cm menghasilkan persentase peningkatan bobot kering tanaman (99,7 %) dan pertumbuhan terbaik. Pengaruh utama perlakuan waktu aklimatisasi 5 minggu menghasilkan persentase peningkatan bobot kering tanaman terbaik (95,27 %) dan pertumbuhan terbaik. Penggunaan anakan yang tumbuh liar sebagai bibit (stump) umum dilakukan pada tanaman kemiri oleh masyarakat di pulau Timor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Pemangkasan akar dan Waktu Aklimatisasi terhadap pertumbuhan bibit tanaman kemiri Aleurites maluccana, Willd) asal stum dengan menggunakan Rancangan petak terbagi (Split Plot Design) faktorial 3x3 dengan 3 ulangan. Petak utama perlakuan adalah waktu aklimatisasi, dengan 3 aras yaitu, diaklimatisasi selama 3 minggu (C3), 4 minggu (C4), dan 5 minggu (C5). Anak petak perlakuan adalah pemangkasan akar yang terdiri dari 3 aras yaitu, pemotongan dengan menyisakan panjang akar 15 cm (P0), 10 cm (P1), dan 5 cm (P2). Hasil penelitian menunjukkan; tidak terjadi interaksi antar perlakuan sisa pangkasan akar dengan waktu aklimatisasi. Pengaruh utama perlakuan sisa pangkasan akar 5 cm menghasilkan persentase peningkatan bobot kering tanaman (99,7 %) dan pertumbuhan terbaik. Pengaruh utama perlakuan waktu aklimatisasi 5 minggu menghasilkan persentase peningkatan bobot kering tanaman terbaik (95,27 %) dan pertumbuhan terbaik. 
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Jagung di Desa Tesi Ayofanu, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan
Penelitian ini berujuan untuk mengetahui gambaran usahatani jagung, dan faktor-faktor yang mempengaruhi usahatani jagung. Metode analisis data yang digunakan adalah analasis deskriptif kualitatif dan model analis data Cobb-Douglas. Hasil penelitian menunjukkan usahatani jagung di desa Tesi Ayofanu dimulai dari persiapan lahan, persiapan benih, penanaman, penyiangan, panen, pasca panen dan penyimpanan. Pada uji f semua faktor yang diuji secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi usahatani jagung. Sedangkan pada uji t atau secara parsial variabel yang berpengaruh terhadap produksi usahatani jagung yaitu luas lahan dan benih sedangkan variabel tenaga kerja, pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh terhadap produksi usahatani jagung. Nilai koefisien determinasi sebesar sebesar 88,5% terhadap produksi usahatani jagung, sisanya sebesar 11,5% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Penelitian ini berujuan untuk mengetahui gambaran usahatani jagung, dan faktor-faktor yang mempengaruhi usahatani jagung. Metode analisis data yang digunakan adalah analasis deskriptif kualitatif dan model analis data Cobb-Douglas. Hasil penelitian menunjukkan usahatani jagung di desa Tesi Ayofanu dimulai dari persiapan lahan, persiapan benih, penanaman, penyiangan, panen, pasca panen dan penyimpanan. Pada uji f semua faktor yang diuji secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi usahatani jagung. Sedangkan pada uji t atau secara parsial variabel yang berpengaruh terhadap produksi usahatani jagung yaitu luas lahan dan benih sedangkan variabel tenaga kerja, pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh terhadap produksi usahatani jagung. Nilai koefisien determinasi sebesar sebesar 88,5% terhadap produksi usahatani jagung, sisanya sebesar 11,5% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. 
Analisis Pemasaran Pinang Kering Oleh Pedagang di Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) saluran pemasaran pinang kering; 2) fungsi pemasaran; dan 3) margin pemasaran pinang kering di Kecamatan Kota Kefamenanu kabupaten Timor Tengah Utara yang dilaksanakan pada bulan September 2016 sampai bulan Februari 2017. Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskripsi kualitatif dan analisis margin pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua saluran pemasaran pinang kering di Kecamatan Kota Kefamenanu yakni saluran I: Pedagang Besar→Pengecer→Konsumen; dan saluran II: Pedagang Besar→Konsumen. Fungsi yang dilakukan oleh Pedagang Besar adalah fungsi penjualan dan fungsi penyimpanan, pengangkutan, penyediaan dana, penanggung risiko, dan informasi pasar, sedangkan fungsi yang dilakukan oleh pedagang Pengecer yaitu fungsi pembeli, penjualan, penyimpanan, pengangkutan, standarisasi dan grading, penanggung risiko, informasi pasar, dan penyediaan dana. Margin total pada tingkat Pedagang Besar sebesar Rp. 9.000/kg (44.4%), sedangkan margin total Pengecer sebesar Rp. 20,000/kg (0,33%). Hal ini menunjukkan bahwa selisih antara harga beli dengan harga jual Pedagang Besar lebih besar dari selisih harga beli dan harga jual oleh lembaga Pengecer. Karena dalam margin pemasaran terdapat dua komponen yaitu komponen biaya dan komponen keuntungan, maka yang disumbangkan oleh komponen biaya adalah untuk Pedagang Besar sebesar Rp. 40.000/kg (0,23%), untuk Pengecer sebesar Rp.60.000/kg (2,18%) dan Rp.5000/tumpuk (181,81%). Hal ini menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan oleh Pedagang Besar lebih besar dari pada pedagang Pengecer. Margin pemasaran terbesar untuk pinang kering terdapat pada saluran I yaitu Rp. 9.000 dengan persentase (44.44%). 
Analisis Pendapatan Usahatani Sawi Manis di Kelurahan Oelami, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara
Masyarakat Kelurahan Oelami yang berada di Kecamatan Bikomi Selatan pada umumnya menggantungkan hidup mereka pada usahatani sayuran daun seperti sawi, kangkung, bayam, dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) gambaran usahatani sawi manis; 2) pendapatan yang diperoleh dari usahatani sawi manis; dan 3) keuntungan relatif yang diperoleh dari usahatani sawi manis di kelurahan Oelami, Kecamatan Bikomi Selatan. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Oelami, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten TTU, pada Bulan Mei sampai Agustus 2016. Populasi dalam penelitian ini adalah semua petani sawi manis yang berjumlah 50 KK dengan 33 orang diambil sebagai responden. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dengan teknik wawancara langsung dengan responden atau petani dan data sekunder diperoleh dari instansi terkait. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif, analisis pendapatan dan analisis R/C Rasio. Hasil penelitian menunjukkan usahatani sawi manis yang dilakukan petani di Kelurahan Oelami menggunakan lahan sendiri. Tahap kegiatan usahatani sayur sawi manis dimulai dari pengolahan lahan, persemaian, penanaman, penyulaman, pemeliharaan, pengendalian hama, pemupukan, panen dan pasca panen. Biaya yang di keluarkan dalam kegiatan usahatani sayur sawi manis adalah biaya variabel dan biaya tetap dengan rata-rata total biaya sebesar Rp 962.255,55 dan total biaya sebesar Rp 31.754.433, sedangkan penerimaan dari petani sayur manis dalam satu kali musim tanam rata-rata Rp. 2.754.090 dan total penerimaan sebesar Rp. 90.885.000, sehingga petani sayur sawi manis memperoleh pendapatan rata-rata sebesar Rp. 1.791.835,354 dengan total pendapatan sebesar Rp. 59.130.566. Rata-rata keuntungan relatif dalam kegiatan usahatani sayur sawi manis yang diperoleh petani sebesar 2,86 artinya kegiatan usahatani sayur sawi manis yang dilakukan oleh petani di kelurahan Oelami menguntungkan secara ekonomis. 
Dampak Faktor Sosial Ekonomi terhadap Produksi Home Industri Tempe di Kelurahan Oelami Kecamatan Bikomi Selatan
Sebagian pemenuhan kebutuhan akan tempe di kabupaten TTU khususnya dalam kota Kefamenanu berasal dari industri kecil atau industri rumahan yang dilakukan oleh masyarakat, salah satunya adalah usaha pembuatan tempe di kelurahan Oelami kecamatan Bikomi Selatan. Industri kecil tempe menjadi salah satu primadona industri berbasis keluarga bagi masyarakat di Kelurahan Oelami, karena secara ekonomis industri ini cukup menjanjikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui 1) gambaran usaha pembuatan tempe; 2) dampak faktor sosial ekonomi terhadap produksi home industri tempe di kelurahan Oelami, kecamatan Bikomi Selatan, kabupaten TTU. Penelitian dilaksanakan di kelurahan Oelami, kecamatan Bikomi Selatan, kabupaten TTU, pada bulan Desember 2016 sampai April 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pengusaha tempe di kelurahan Oelami yang berjumlah 11 pengusaha. Data yang diperoleh dikumpulkan kemudian ditabulasi dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan Cobb-Douglass. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan pembuatan tempe di kelurahan Oelami meliputi kacang kedelai disortir dari kotoran, direbus dengan air selama 30 menit, direndam dengan air dingin selama 5-8 jam, dicuci untuk dipisahkan dari kulit kacang, disiram dengan air panas untuk membunuh kuman dan menghilangkan zat asam, dicampur dengan ragi, dibungkus dengan menggunakan plastik yang dilubangi kecil dengan ukuran plastik 15 x 25 cm, kemudian diratakan untuk memperlancar proses fermentasi. Secara bersama-sama umur, tenaga kerja, pendidikan, pengalaman, bahan penolong, biaya produksi, dan bahan baku berpengaruh nyata pada produksi tempe. Pendidikan, bahan penolong, biaya produksi, dan bahan baku secara parsial berpengaruh secara nyata terhadap produksi tempe sedangkan umur, tenaga kerja, dan pengalaman tidak berpengaruh secara nyata. 
Analisis Pendapatan Usahatani Jagung pada Kelompok Tani Oelbubuk di Desa Oeolo Kecamatan Musi Kabupaten Timor Tengah Utara
Jagung di pulau Timor masih menjadi bahan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat di pedesaan sehingga selalu dibudidayakan pada saat musim hujan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) gambaran usahatani jagung; dan 2) pendapatan usahatani jagung Kelompok Tani Oelbubuk di Desa Oeolo Kecamatan Musi Kabupaten TTU. Penelitian dilaksanakan di kelompok tani Oelbubuk, desa Oeolo, Kecamatan Musi, Kabupaten TTU, pada Bulan Januari sampai Agustus 2016. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sensus sehingga semua anggota kelompok tani menjadi responden yakni 20 responden. Untuk menjawab tujuan pertama digunakan metode analisis deskriptif kualitatif, sedangkan untuk menjawab kedua dilakukan analisis pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jagung yang dibudidayakan adalah jagung lokal yang dipersiapkan dari musim panen tahun lalu. Persiapan lahan dilakukan dengan memilih lahan yang akan mencukupi bagi seluruh anggota kelompok tani selanjutnya melakukan pembersihan dengan sistem tebas bakar pada lahan yang akan diolah. Penanaman jagung dilakukan pada bulan September-November dengan membuat lubang tanam dengan kedalaman 2,5 cm dan pada tiap lubang ditanami 3-4 biji jagung dengan jarak tanam 40-50 cm. Penyiangan dilakukan sekali dalam seminggu dengan menggunakan Roundup untuk membasmi gulma yang tumbuh di antara tanaman. Pupuk yang digunakan yaitu pupuk kandang. Jagung dipanen setelah berumur 95-100 hari. Panen dilakukan dengan cara memetik jagung dalam bentuk berkelobot setelah itu jagung dijemur di bawah sinar matahari hingga kering kemudian disimpan dan hasil produksinya siap untuk dipasarkan. Produksi pada musim panen tahun 2016 berkisar antara 195-250 kg dengan total keseluruhan produksi usahatani jagung sebesar 4.648 kg. Total produksi yang dijual sebesar 3,448 kg dengan harga jual Rp. 3.500/kg. Total penerimaan kelompok tani Oelbubuk sebesar Rp. 12,068,000. dengan rata-rata Rp. 603.400 per anggota. Pendapatan total sebesar Rp. 5,732,500 dengan rata-rata pendapatan masing-masing anggota sebesar Rp. 286,625. per musim tanam
Pengaruh Bagian Setek dan Lama Perendaman Ekstrak Daun Kelor terhadap Pertumbuhan Bibit Sirih Daun (Piper betle L.)
This research is very useful to know the effect of cutting and immersion length times in the extract of Moringa leaf on the growth of betel seedlings, as well as its benefits which gives the best growth of betel seedlings. Two parts of cuttings, budding, and middle, soaked in Moringa extract for 1, 3 and 5 hours, were performed in the pots experiment arranged according to a factorial randomized block design with seven replications. This research was conducted from January to April 2016 in experimental garden of Agricultural Faculty of Timor University, Kefamenanu, TTU, NTT, Indonesia. The results showed that cuttings originating from the middle with 3 hours of immersion resulted in the best betel seedlings growth, bud growth rate (0.24 g / wk), net assimilation rate (0.0044 g / cm2 / wk), root-crown ratio (5.01 g) dry weight of bud (1.76 g). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bagian setek dan lama perendaman dalam ekstrak daun kelor terhadap pertumbuhan bibit sirih daun serta memperoleh bagian setek dan lama perendaman dalam ekstrak daun kelor yang memberikan pertumbuhan bibit sirih daun yang terbaik. Dua bagian setek, pucuk dan tengah direndam dalam ekstrak kelor selama 1, 3 dan 5 jam dan dilakukan dalam sebuah percobaan pot yang disusun menurut rancangan acak kelompok faktorial dengan tujuh ulangan. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari–April 2016 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Timor, Kefamenanu, TTU, NTT, Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan setek yang berasal dari bagian tengah dengan lama perendaman 3 jam menghasilkan pertumbuhan bibit sirih yang paling baik, laju pertumbuhan tunas (0,24 g/minggu), laju asimilasi bersih (0,0044 g/cm2/minggu), Rasio tajuk akar (5,01 g) bobot kering tunas (1,76 g). 
Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan Melalui Transformasi Nilai-Nilai Kewirausahaan dalam Pelaksanaan Program Desa Mandiri Cinta Petani (Sari Tani) di Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara
Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pemberdayaan masyarakat pedesaan melalui Program Sari Tani serta transformasikan nilai-nilai kewrirausahaan kepada masyarakat desa melaui Program Sari Tani di Kecamatan Insana Kabupaten Timor Tengah Utara. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan Target pengurangan KK Miskin selama 5 tahun RPJMD adalah Tahun 2010 sebesar 65,62% atau 36.225 KK, Tahun 2011 sebesar 61.92 % atau 34.182 KK, Tahun 2012 sebesar 58.22 % atau 32.139 KK, Tahun 2013 54.52 % atau 30.097 KK, Tahun 201 sebesar 50.82 % = 28.054 KK dan Tahun 2015 sebesar 47.12 % atau 26. 012 KK. Prosentase penurunan per tahun adalah: 3.7 %. Sehingga akumulasi penurunan prosentase kemiskinan di Kabupaten TTU selama lima tahun adalah sebesar 18.53%. Di tahun 2015 diharapkan jumlah KK miskin di TTU: 26.012 KK. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten TTU menurut Data Terpadu PPLS tahun 2011 adalah 31.175 KK atau sebesar 55,54 % dari 56. 494 KK. Tahun 2012, data BPS menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Kabupaten Timor Tengah Utara: 51.200 jiwa atau 25.600 KK atau 44,47 %. Dalam implementasinya progran Sari Tani bertujuan meningkatkan populasi ternak. Tetapi dalam pelaksanaan Sari Tani belum berjalan baik yang disebabkan karena 1) masyarakat masih memposisikan dirinya sebagai obyek dalam program Sari Tani, sehingga cenderung untuk tidak pro aktif dalam pengelolaan dana; 2) Pendamping Kelompok Masyarakat (PKM) belum memahami tupoksinya secara baik dan benar; 3) Unit Pelaksana Sari Tani (UPST) belum memahami tupoksinya secara baik dan benar; 4) Rendahnya dukungan Pemerintah Desa; 5) Sikap dan perilaku masyarakat yang masih terikat dengan budaya (adat istiadat) sehingga pola pikir terhadap program Sari Tani belum memadai. Kondisi ini menjadi tantangan dalam mentransformasi semangat kewirausahan bagi masyarakat dalam mengembangkan dirinya menjadi masyarakat yang madiri, terutama secara ekonomi. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pemberdayaan masyarakat pedesaan melalui Program Sari Tani serta transformasikan nilai-nilai kewrirausahaan kepada masyarakat desa melaui Program Sari Tani di Kecamatan Insana Kabupaten Timor Tengah Utara. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan Target pengurangan KK Miskin selama 5 tahun RPJMD adalah Tahun 2010 sebesar 65,62% atau 36.225 KK, Tahun 2011 sebesar 61.92 % atau 34.182 KK, Tahun 2012 sebesar 58.22 % atau 32.139 KK, Tahun 2013 54.52 % atau 30.097 KK, Tahun 201 sebesar 50.82 % = 28.054 KK dan Tahun 2015 sebesar 47.12 % atau 26. 012 KK. Prosentase penurunan per tahun adalah: 3.7 %. Sehingga akumulasi penurunan prosentase kemiskinan di Kabupaten TTU selama lima tahun adalah sebesar 18.53%. Di tahun 2015 diharapkan jumlah KK miskin di TTU: 26.012 KK. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten TTU menurut Data Terpadu PPLS tahun 2011 adalah 31.175 KK atau sebesar 55,54 % dari 56. 494 KK. Tahun 2012, data BPS menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Kabupaten Timor Tengah Utara: 51.200 jiwa atau 25.600 KK atau 44,47 %. Dalam implementasinya progran Sari Tani bertujuan meningkatkan populasi ternak. Tetapi dalam pelaksanaan Sari Tani belum berjalan baik yang disebabkan karena 1) masyarakat masih memposisikan dirinya sebagai obyek dalam program Sari Tani, sehingga cenderung untuk tidak pro aktif dalam pengelolaan dana; 2) Pendamping Kelompok Masyarakat (PKM) belum memahami tupoksinya secara baik dan benar; 3) Unit Pelaksana Sari Tani (UPST) belum memahami tupoksinya secara baik dan benar; 4) Rendahnya dukungan Pemerintah Desa; 5) Sikap dan perilaku masyarakat yang masih terikat dengan budaya (adat istiadat) sehingga pola pikir terhadap program Sari Tani belum memadai. Kondisi ini menjadi tantangan dalam mentransformasi semangat kewirausahan bagi masyarakat dalam mengembangkan dirinya menjadi masyarakat yang madiri, terutama secara ekonomi. 
Partisipasi Anggota Kelompok Tani dalam Berusahatani Bawang Putih di Desa Sallu Kecamatan Miomaffo Barat Kabupaten Timor Tengah Utara
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik, tingkat partisipasi dan hambatan-hambatan partisipasi anggota kelompok tani bawang putih di Desa Sallu Kecamatan Miomaffo Barat Kabupaten Timor Tengah Utara. Metode penelitian menggunakan metode survey dan pengumpulan data meliputi data primer dan data sekunder. Analisis data digunakan Skala likert. Hasil penelitian menunjukkan 1) karakteristik anggota kelompok tani bawang putih memiliki potensi yang layak dikembangkan produktivitasnya yakni umur, pendidikan formal, pengalaman berusahatani bawang putih, jumlah anggota keluarga, luas lahan garapan, dan kelembagaan kelompok taninya; 2) tingkat partisipasi dari 95 responden anggota kelompok tani berada dalam kategori 3 yakni “Kadang-kadang†dengan nilai skor rata-rata tingkat partisipasi kelompok tani dari 5 indikator penilaian adalah 63,6; dan 3) kendala-kendala dalam berusahatani bawang putih: kurang bibit bawang putih yang unggul, akses informasi harga pasar, pola usahatani bawang putih masih tradisional, pelatihan budidaya bawang putih, iklim yang kurang bersahabat, usaha bawang putih semakin sempit, kurangnya modal usaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik, tingkat partisipasi dan hambatan-hambatan partisipasi anggota kelompok tani bawang putih di Desa Sallu Kecamatan Miomaffo Barat Kabupaten Timor Tengah Utara. Metode penelitian menggunakan metode survey dan pengumpulan data meliputi data primer dan data sekunder. Analisis data digunakan Skala likert. Hasil penelitian menunjukkan 1) karakteristik anggota kelompok tani bawang putih memiliki potensi yang layak dikembangkan produktivitasnya yakni umur, pendidikan formal, pengalaman berusahatani bawang putih, jumlah anggota keluarga, luas lahan garapan, dan kelembagaan kelompok taninya; 2) tingkat partisipasi dari 95 responden anggota kelompok tani berada dalam kategori 3 yakni “Kadang-kadang†dengan nilai skor rata-rata tingkat partisipasi kelompok tani dari 5 indikator penilaian adalah 63,6; dan 3) kendala-kendala dalam berusahatani bawang putih: kurang bibit bawang putih yang unggul, akses informasi harga pasar, pola usahatani bawang putih masih tradisional, pelatihan budidaya bawang putih, iklim yang kurang bersahabat, usaha bawang putih semakin sempit, kurangnya modal usaha.