Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
604 research outputs found
Sort by
Teh Kompos dan Pemanfaatannya sebagai Sumber Hara dan Agen Ketahanan Tanaman
Teh kompos akhir-akhir ini menarik perhatian para peneliti dan praktisi pertanian organik karena berfungsi ganda sebagai sumber unsur hara dan sekaligus sebagai biopestisida terutama bagi pengembangan pertanian organik karena terbatasnya pilihan dalam pengendalian penyakit. Riset tentang teh kompos sebagai biopestisida berkembang sangat pesat, sementara hasil riset mengenai fungsi teh kompos sebagai sumber unsur hara masih terbatas, sehingga review ini lebih diarahkan kepada fungsi yang terakhir. Secara lebih spesifik, tujuan review ini adalah untuk mengkaji esensi teh kompos sebagai sumber hara, diawali dari kualitas kompos sebagai bahan baku, tujuan pengadukan (brewing) di dalam proses pembuatan, dilanjutkan dengan metode aplikasi, efektivitas teh kompos sebagai sumber hara dan diakhiri dengan pemikiran riset ke depan. Kualitas kompos ditentukan terutama oleh kematangan dan stabilitas kompos. Kualitas dan efektivitas teh kompos sebagai sumber unsur hara sangat tergantung terutama kepada kualitas kompos, pengadukan, metode aplikasi dan faktor abiotik. Teh kompos akhir-akhir ini menarik perhatian para peneliti dan praktisi pertanian organik karena berfungsi ganda sebagai sumber unsur hara dan sekaligus sebagai biopestisida terutama bagi pengembangan pertanian organik karena terbatasnya pilihan dalam pengendalian penyakit. Riset tentang teh kompos sebagai biopestisida berkembang sangat pesat, sementara hasil riset mengenai fungsi teh kompos sebagai sumber unsur hara masih terbatas, sehingga review ini lebih diarahkan kepada fungsi yang terakhir. Secara lebih spesifik, tujuan review ini adalah untuk mengkaji esensi teh kompos sebagai sumber hara, diawali dari kualitas kompos sebagai bahan baku, tujuan pengadukan (brewing) di dalam proses pembuatan, dilanjutkan dengan metode aplikasi, efektivitas teh kompos sebagai sumber hara dan diakhiri dengan pemikiran riset ke depan. Kualitas kompos ditentukan terutama oleh kematangan dan stabilitas kompos. Kualitas dan efektivitas teh kompos sebagai sumber unsur hara sangat tergantung terutama kepada kualitas kompos, pengadukan, metode aplikasi dan faktor abiotik. 
Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Petani terhadap Produksi Usahatani Jagung di Desa Badarai Kecamatan Wewiku Kabupaten Malaka
Untuk mempertahankan atau meningkatkan produksi usahatani jagung di desa Badarai maka perlu diketahui gambaran usahatani secara detail dan faktor sosial ekonomi yang berpengaruh. Penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui 1) gambaran usahatani jagung; dan 2) faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi usahatani jagung di desa Badarai kecamatan Wewiku kabupaten Malaka. Penelitian dilaksanakan di desa Badarai, Kecamatan Wewiku, kabupaten Malaka, pada Bulan Mei sampai Agustus 2016. Teknik pengambilan dan penetapan jumlah sampel penelitian dilakukan dengan cara menggunakan rumus slovin. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder diperoleh dari instansi atau lembaga terkait. Data yang diperoleh dikumpulkan kemudian ditabulasi dan dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan usahatani jagung di desa Badarai dilakukan melalui tahapan 1) persiapan dan pengolahan lahan dengan cara tofa rumput atau membabat rumput-rumput liar lalu membakarnya; 2) penanaman dilakukan dua kali setiap musim tanam yakni batar ahuklean (jagung musim panjang) dan batar tinan (jagung umur pendek) dengan cara ditugal menggunakan asuak, setiap lubang diisi 2-3 biji jagung lalu lubang ditutup dengan tanah; 3) pemeliharaan dilakukan dengan cara manual yakni tofa rumput yang telah tumbuh lalu dikumpulkan dan ditumpuk di sekitar tanaman sehingga nantinya berubah menjadi kompos; 4) pemanenan dilakukan dengan manual yakni jagung dipatah dan dipisahkan dari tangkainya lalu dikumpulkan untuk diangkut ke tempat penyimpanan. Luas lahan, bibit, curahan tenaga kerja, pengalaman, jumlah tanggungan keluarga, pendidikan, dan umur secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap produksi usahatani jagung, sedangkan secara parsial hanya variabel luas lahan, bibit, dan pendidikan yang berpengaruh nyata terhadap produksi usahatani jagung, sedangkan pengalaman berusahatani, jumlah tanggungan keluarga, umur, dan tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap produksi usahatani jagung
Pertanian Konservasi di Areal Pegunungan Cycloop Kabupaten Jayapura Papua
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan sistem pertanian konservasi di Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik observasi dan wawancara. Variabel penelitian yang diamati meliputi kegiatan tindak agronomi, kepemilikan luas lahan, jenis-jenis komoditi, pola unsur-unsur iklim, tindak agronomi berbasis konservasi. Kegiatan tindak agronomi terdiri dari pengolahan tanah, pola tanam, jarak tanam, pemupukan, pemeliharaan dan pengendalian hama penyakit tanaman, Rata-rata kepemilikan luas lahan adalah 2131 m2. Berdasarkan data yang diperoleh dari responden dilapangan terdapat 19 jenis komoditi yaitu 4 jenis komoditi tanaman pangan dan 15 tanaman hortikultura. Penggunaan unsur-unsur iklim dalam penelitian ini adalah untuk mengamati pola dari masing-masing unsur iklim terutama curah hujan yang akan dihubungkan dengan tindak agronomi dan tindak konservasi yang dilakukan pada areal pegunungan Cycloop. Berdasarkan pola curah hujan dapat disesuaikan dengan jenis komoditi yang akan ditanam yaitu pada bulan November sampai Maret adaah komoditi jagung dan pisang, dan pada periode bulan April sampai Oktober dapat ditanam komoditi legume, ubi-ubian dan sayuran. Sehingga areal disekitar pegunungan Cycloop selalu tertutup serta banjir dan erosi dapat diminimalisir. Umumnya penggunaan tindak agronomi di areal pegunungan Cycloop perlu diterapkan dengan optimal, sehingga perlu pendampingan bagi para petani di areal pegunungan Cycloop. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan sistem pertanian konservasi di Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik observasi dan wawancara. Variabel penelitian yang diamati meliputi kegiatan tindak agronomi, kepemilikan luas lahan, jenis-jenis komoditi, pola unsur-unsur iklim, tindak agronomi berbasis konservasi. Kegiatan tindak agronomi terdiri dari pengolahan tanah, pola tanam, jarak tanam, pemupukan, pemeliharaan dan pengendalian hama penyakit tanaman, Rata-rata kepemilikan luas lahan adalah 2131 m2. Berdasarkan data yang diperoleh dari responden dilapangan terdapat 19 jenis komoditi yaitu 4 jenis komoditi tanaman pangan dan 15 tanaman hortikultura. Penggunaan unsur-unsur iklim dalam penelitian ini adalah untuk mengamati pola dari masing-masing unsur iklim terutama curah hujan yang akan dihubungkan dengan tindak agronomi dan tindak konservasi yang dilakukan pada areal pegunungan Cycloop. Berdasarkan pola curah hujan dapat disesuaikan dengan jenis komoditi yang akan ditanam yaitu pada bulan November sampai Maret adaah komoditi jagung dan pisang, dan pada periode bulan April sampai Oktober dapat ditanam komoditi legume, ubi-ubian dan sayuran. Sehingga areal disekitar pegunungan Cycloop selalu tertutup serta banjir dan erosi dapat diminimalisir. Umumnya penggunaan tindak agronomi di areal pegunungan Cycloop perlu diterapkan dengan optimal, sehingga perlu pendampingan bagi para petani di areal pegunungan Cycloop. 
Analisis Pendapatan Usahatani Jagung di Desa Bannae Kecamatan Insana Barat Kabupaten Timor Tengah Utara
Desa Bannae merupakan salah satu desa yang berada di wilayah kecamatan Insana Barat dan memiliki produktivitas jagung yang tinggi karena masyarakat pada umumnya berprofesi sebagai petani dan menggantungkan hidup mereka pada hasil pertanian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) besarnya pendapatan yang diperoleh petani; dan 2) keuntungan relatif yang diperoleh para petani jagung di desa Bannae kecamatan Insana Barat, kabupaten TTU. Penelitian dilaksanakan di Desa Bannae, kecamatan Insana Barat, kabupaten TTU pada bulan Februari hingga Juni 2017. Populasi berjumlah 413 KK dengan sampel 40 responden. Untuk mengetahui pendapatan usahatani jagung dilakukan analisis pendapatan sedangkan untuk mengetahui keuntungan relatif dilakukan analisis R/C Rasio. Hasil penelitian menunjukkan biaya yang dikeluarkan selama berusahatani jagung selama satu musim tanam ada dua jenis biaya yaitu biaya variabel dan biaya tetap dengan total biaya sebesar Rp17.236.516,00 dengan rata-rata biaya sebesar Rp430.913,00 sedangkan total penerimaan yang diperoleh petani jagung Rp63.190.000,00 dengan rata-rata penerimaan sebesar Rp1.579.750,00 sehingga total pendapatan petani jagung sebesar Rp45.953.483,00 dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp1.148.837,00. Keuntungan relatif yang diperoleh petani rata-rata 3,61 dan dapat dikatakan bahwa kegiatan usahatani jagung menguntungkan secara ekonomis dan setiap pengeluaran satu rupiah dapat memberikan rata-rata keuntungan sebesar 3,61. 
Profil Cuaca dan Parameter Nisbah Bowen di Areal Persawahan Kabupaten Indramayu Saat Periode Kering Musim Tanam II
The objectives of this experiment were to study the weather profile and parameters of Bowen ratio in the Indramayu rice field area during a dry period season of planting II. Results showed that daily weather fluctuations and Bowen ratio parameters were in line with incoming net radiation of each element. Temperature, dry bulb temperature gradient, wind speed, soil heat flux, and latent heat flux increased at midday and decreased in the early afternoon, whereas wet bulb temperature gradient, humidity, and air pressure were decreased at midday and increased at afternoon. Diurnal variation of net radiation ranged from -47 to 487 Wm-2 with the mean was 241 Wm-2. Mean, maximum and minimum temperatures were 28.3 of 31.5oC, and 20.5oC, respectively. Mean of relative humidity was 66% with the range was 52% to 80%, and mean of air pressure was 101 kPa. Soil heat flux ranged from 10.3 to 19.3 Wm-2 with the mean was 8.1 Wm-2. Mean and range of Bowen ratio were 0.16 and -0.76 to 0.65, accordingly. Mean and range of latent heat flux were 172.9 Wm-2 and -85.3 to 392.3 Wm-2. Surface incoming net radiation during the measurement period was constantly ranged from 183 to 268 Wm-2 with the mean was 231 Wm-2. Mean, maximum and minimum temperatures were 29.4 of 35.5oC, and 20oC, respectively. Mean of relative humidity was 59% with the range was 45% to 67%, and mean of air pressure was 101 kPa. Wind velocity was 0.9 ms-1 and its flow direction was mostly from the Southeast (138.4o). Soil heat flux was high at the end of measurement period; ranged from 4.7 to 14.6 Wm-2 with the mean was 7.9 Wm-2. Mean and range of Bowen ratio were 0.10 and 0.02 to 0.22, accordingly. Latent heat flux value was directly proportional to incoming net radiation, ranged from 134.4 to 226.5 Wm-2 and the mean was 184 Wm-2. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil cuaca serta semua komponen yang mempengaruhi neraca energi selama periode kering musim tanam II yang terjadi di areal persawahan Kabupaten Indramayu, dilaksanakan bulan Juni hingga September 2012. Hasil penelitian menunjukkan fluktuasi cuaca harian dan parameter Nisbah Bowen umumnya mengikuti penerimaan radiasi neto sesuai karakter masing-masing seperti suhu, gradien suhu bola kering, kecepatan angin, limpahan bahang tanah dan limpahan bahang laten yang meningkat selama siang hari dan menurun kembali menjelang sore hari. Sebaliknya, gradien suhu bola basah, kelembaban dan tekanan udara, menurun selama siang hari dan kembali meningkat menjelang sore hari. Rata-rata harian unsur cuaca dan parameter bowen antara lain radiasi neto 241 W m-2, suhu udara 28,3 oC, kelembaban relatif 66%, tekanan udara 101 kPa, limpahan bahang tanah 8,1 W m-2, nisbah bowen 0,16, limpahan bahang laten 172,9 W m-2. Radiasi neto yang diterima permukaan selama penelitian relatif konstan antara 183 W m-2 sampai 268 W m-2 dengan rata-rata 231 W m-2, suhu udara rata-rata 29,4 oC. Kelembaban relatif berkisar antara 45% hingga 67% dengan rata-rata 59%, sedangkan tekanan udara rata-rata 101 kPa. Angin bertiup lebih banyak ke arah tenggara (138,4 o) dengan kecepatan rata-rata 0,9 m s-1. Limpahan bahang tanah berkisar antara 4,7 W m-2 sampai 14,6 W m-2 dengan rata-rata 7,9 W m-2 sedangkan Nisbah Bowen berkisar antara 0,02 sampai 0,22 dengan rata-rata 0.10. Limpahan bahang laten berbanding lurus terhadap penerimaan radiasi neto dengan nilai berkisar antara 134,4 W m-2 sampai 226,5 W m-2 dengan rata-rata 184 W m-2. 
Pendugaan Evapotranspirasi Padi Sawah Dengan Metode Nisbah Bowen
The objectives of this experiment were to test the accuracy of the Bowen ratio method of predicting actual evapotranspiration value of paddy rice. The case study in Indramayu regency, held from June to September 2012. The weather components measured by the Bowen Nisbah system are net radiation, wet ball and dry ball temperature, wet ball gradient and the dry ball at altitudes between 140 cm and 160 cm and at altitudes between 160 cm and 180 cm and soil heat flux. Measurements every 30 minutes from 6.00 AM to 6.00 PM. The components measured by AWS are radiation, temperature, humidity, air pressure, rainfall, wind direction, and speed. The daily evapotranspiration value estimated with Bowen ratio was compared to the correspondent value obtained from FAO Penman-Monteith method using a paired t-test. Results shown the rice field daily evapotranspiration in Indramayu measured at a dry period during the second growing season estimated with Bowen ratio method was 3.3 mm, ranging from 2.4 to 4.3 mm. The corresponding values estimated with the FAO Penman-Monteith was 3.5 mm, ranged from 2.4 to 4.6 mm. The daily evapotranspiration values estimated with two approaches were comparable. Penelitian ini bertujuan untuk menduga nilai evapotranspirasi dengan metode Nisbah Bowen di lahan sawah. Studi kasus di Kabupaten Indramayu, dilaksanakan bulan Juni hingga September 2012. Komponen cuaca yang diukur dengan sistem Nisbah Bowen adalah radiasi neto, suhu bola basah dan bola kering, gradien suhu bola basah dan bola kering pada ketinggian antara 140 cm dan 160 cm serta pada ketinggian antara 160 cm dan 180 cm dan limpahan bahang tanah. Pengukuran setiap 30 menit mulai pukul 06.00 sampai pukul 18.00 Komponen yang diukur dengan AWS adalah radiasi, suhu, kelembaban, tekanan udara, curah hujan, arah dan kecepatan angin. Perhitungan dengan metode Nisbah Bowen kemudian dibandingkan dengan perhitungan menggunakan metode FAO Penman-Monteith. Hubungan evapotranspirasi harian hasil perhitungan dengan dua metode tersebut dianalisis dengan Korelasi (Pearson Correlation). Hasil penelitian menunjukkan evapotranspirasi harian di areal persawahan Kabupaten Indramayu pada saat periode kekeringan musim tanam II yang diduga menggunakan metode Nisbah Bowen berkisar antara antara 2,4 mm sampai 4,3 mm dengan rata-rata 3,3 mm, sedangkan evapotranspirasi harian yang diduga menggunakan metode FAO Penman-Monteith bervariasi antara 2,4 mm sampai 4,6 mm dengan rata-rata 3,5 mm. Rata-rata hasil estimasi evapotranspirasi harian dari kedua metode secara statistik tidak berbeda nyata. 
Pengaruh Jenis dan Dosis Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kacang Buncis (Phaseolus vulgaris L.)
Research to determine the effect of type and dosage of manure on the growth and yield of french bean and also type and dosage of manure that can increase growth and yield, implemented in December 2016 - February 2017 in the experimental garden of the Faculty of Agriculture, Timor University, Sasi Village. The research used Randomized Block Design with two factors, namely, the first factor is the type of manure, consisting of cow manure, pig manure, goat manure. The second factor is the dosage of manure, consisting of 5 t / ha, 10 t / ha, 15 t / ha. The results showed no interaction between the type and dosage of manure. Giving of pig manure with the dosage of 15 t / ha can give the highest growth, ie at the end of vegetative reaching height 56,78 cm and highest yield in the form of, number of pods per plant most (39 pods), number of fresh pods per plot (235 pods) , fresh pods per heaviest plant (240 g), and fresh pods per heaviest plot (1.28 kg). Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan dosis pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan hasil kacang buncis serta mendapatkan jenis dan dosis pupuk yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil, dilaksanakan pada bulan Desember 2016–Februari 2017 di kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Timor Kelurahan Sasi, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor yakni faktor pertama adalah jenis pupuk kandang, terdiri dari pupuk kandang sapi, pupuk kandang babi, pupuk kandang kambing. Faktor kedua adalah dosis pupuk kandang, terdiri dari 5 t/ha, 10 t/ha, 15 t/ha. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara jenis dan dosis pupuk kandang. Pemberian jenis pupuk kandang babi dengan dosis 15 t/ha dapat memberikan pertumbuhan tertinggi, yakni pada akhir vegetatifnya mencapai tinggi 56,78 cm dan hasil tertinggi berupa, jumlah polong per tanaman terbanyak (39 polong), jumlah polong segar per petak terbanyak (235 polong), polong segar per tanaman terberat (240 g), dan polong segar per petak terberat (1,28 kg). 
Analisis Pendapatan dan Keuntungan Relatif Usahatani Jagung di Desa Bitefa Kecamatan Miomaffo Timur Kabupaten TTU
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) gambaran umum usahatani jagung; 2) besarnya pendapatan yang diperoleh dari petani; 3) keuntungan relatif yang diperoleh para petani jagung di Desa Bitefa Kecamatan Miomaffo Timur Kabupaten Timor Tengah Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember sampai bulan April 2014. Penentuan sampel dilakukan menggunakan rumus Slovin, sehingga dari 460 orang yang berusahatani jagung di Desa Bitefa akan di ambil 46 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa total pendapatan usahatani jagung di Desa Bitefa adalah Rp 623.145.000 dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp 13.546.630.43 / musim tanam. Dengan total luas lahan 3.513 are dan rata-rata luas lahan 76,37 are. Sedangkan Rata-rata Keuntungan relatif dalam kegiatan usahatani jagung yang diperoleh petani sebesar 25,83 artinya kegiatan usahatani jagung menguntungkan secara ekonomis karena hasil perhitungannya lebih besar dari 1 (25,83 ≥1). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) gambaran umum usahatani jagung; 2) besarnya pendapatan yang diperoleh dari petani; 3) keuntungan relatif yang diperoleh para petani jagung di Desa Bitefa Kecamatan Miomaffo Timur Kabupaten Timor Tengah Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember sampai bulan April 2014. Penentuan sampel dilakukan menggunakan rumus Slovin, sehingga dari 460 orang yang berusahatani jagung di Desa Bitefa akan di ambil 46 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa total pendapatan usahatani jagung di Desa Bitefa adalah Rp 623.145.000 dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp 13.546.630.43 / musim tanam. Dengan total luas lahan 3.513 are dan rata-rata luas lahan 76,37 are. Sedangkan Rata-rata Keuntungan relatif dalam kegiatan usahatani jagung yang diperoleh petani sebesar 25,83 artinya kegiatan usahatani jagung menguntungkan secara ekonomis karena hasil perhitungannya lebih besar dari 1 (25,83 ≥1). 
Pengaruh Aplikasi PGPR dan Jenis Pestisida terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada (Lactuca sativa L.)
The aim of this research is to know PGPR application frequency and the type of pesticide that's right for growth and yield of lettuce. The experimental design used was a Factorial Randomized Block Design 3 x 3 with three replications. The first factor is PGPR application consisting of three levels ie, without PGPR, watering once a week, watering every two weeks. The second factor is pesticide type with three levels ie without pesticide, betel leaf extract pesticide, and biological pesticide. The study was conducted from February to March 2017 in the experimental garden of the Faculty of Agriculture, Timor University. The results showed that there was no interaction effect between PGPR application and pesticide type on growth and lettuce yield. PGPR application only has a significant effect on root dry weight, whereas pesticide type only influences to dry weight of yields. PGPR application once two-week yields the most heavily plated lettuce (253.71 g), while the type of pesticide that produces the most weight lettuce is biological pesticide (198.38 g). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui frekuensi aplikasi PGPR dan jenis pestisida yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada (Lactuca sativa L.). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok faktorial 3 x 3 dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah aplikasi PGPR yang terdiri dari 3 aras yaitu, tanpa PGPR, penyiraman 1 minggu sekali, penyiraman 2 minggu sekali. Faktor kedua jenis pestisida dengan 3 aras yakni tanpa pestisida, pestisida ekstrak daun sirih dan pestisida hayati. Penelitian dilaksanakan dari bulan Februari sampai Maret 2017 di kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Timor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh interaksi antara aplikasi PGPR dan jenis pestisida terhadap pertumbuhan dan hasil selada. Aplikasi PGPR hanya berpengaruh nyata terhadap berat kering akar sedangkan jenis pestisida hanya berpengaruh terhadap berat kering trubus. Aplikasi PGPR dengan frekuensi dua minggu sekali menghasilkan selada setiap petak paling berat (253,71 g), sedangkan jenis pestisida yang menghasilkan selada setiap petak paling berat adalah pestisida hayati (198,38 g). 
Pemasaran Sirih Buah di Desa Sunsea, Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timur Tengah Utara
Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui saluran pemasaran sirih buah; 2) mengetahui fungsi–fungsi pemasaran sirih buah yang dilakukan oleh petani dan pedangang perantara, dan; 3) mengetahui pemasaran sirih buah. Metode pengambilan sampel yang digunakan melipui 1) purposive sampling untuk penentua petani, dan; 2) snow ball sampling untuk pedangang. Metode analisis data menggunakan metode analisis kulitatif untuk menjawab tujuan pertama dan kedua, metode analisis margin pemasaran untuk menjawab tujuan ketiga. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 3 saluran pemasaran sirih buah yaitu: a) Petani Produsen Ke Konsumen; b) Petani Produsen – Pengecer – Wini - Konsumen Wini, dan; c) Petani Produsen – Pemborong – Pengecer Kefamenanu – Konsumen kefamenanu. Petani dan pedagang tidak menjalankan semua fungsi pemasaran. Terdapat perbedaan margin disetiap saluran pemasaran yaitu: (a) margin pemasaran sirih buah/tumpuk pada saluran II yaitu: Rp. 540,000 (b) margin pemasaran sirih buah/bugkus pada saluran III yaitu: Rp. 753,333. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui saluran pemasaran sirih buah; 2) mengetahui fungsi–fungsi pemasaran sirih buah yang dilakukan oleh petani dan pedangang perantara, dan; 3) mengetahui pemasaran sirih buah. Metode pengambilan sampel yang digunakan melipui 1) purposive sampling untuk penentua petani, dan; 2) snow ball sampling untuk pedangang. Metode analisis data menggunakan metode analisis kulitatif untuk menjawab tujuan pertama dan kedua, metode analisis margin pemasaran untuk menjawab tujuan ketiga. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 3 saluran pemasaran sirih buah yaitu: a) Petani Produsen Ke Konsumen; b) Petani Produsen – Pengecer – Wini - Konsumen Wini, dan; c) Petani Produsen – Pemborong – Pengecer Kefamenanu – Konsumen kefamenanu. Petani dan pedagang tidak menjalankan semua fungsi pemasaran. Terdapat perbedaan margin disetiap saluran pemasaran yaitu: (a) margin pemasaran sirih buah/tumpuk pada saluran II yaitu: Rp. 540,000 (b) margin pemasaran sirih buah/bugkus pada saluran III yaitu: Rp. 753,333.