Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
604 research outputs found
Sort by
Analisis Struktur Anatomi Batang Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) dan Kontribusinya Terhadap Sistematik Ordo Caryophyllales
Caryophyllales is known as an order that has anomaly secondary growth. The anatomy of the carnation stem (Dianthus caryophyllus L.) was analyzed to obtain valid data on relationships with other family members. The primary structure of the stem, consists of epidermis composed of a layer of cells; cortex and pith are composed of parenchymal cells and have intercellular space; and the primary vascular tissue composed of the fingers consists of several tracheas of xylem, where the xylem is located on the inside and the phloem on the outside. Furthermore, in secondary growth, the stem has a normal structure with abnormal cambium activity. This is included in the characteristics of plants that have anomaly secondary growth. The results of this study can be used as a limiting character to strengthen the relationship between taxon, especially in the higher categoryOrdo Caryophyllales dikenal sebagai takson yang memiliki pertumbuhan sekunder anomaly. Anatomi batang Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) dianalisis untuk mendapatkan data yang valid pada hubungan kekerabatan dengan anggota family yang lain. Struktur primer batangnya terdiri dari epidermis yang tersusun dari selapis sel; korteks dan empulur tersusun dari sel-sel parenkim dan memiliki ruang antarsel; dan jaringan pembuluh primer yang tersusun membentuk jari – jari terdiri atas beberapa trachea xilem, dimana xilem terletak di bagian dalam dan floem di bagian luar. Selanjutnya, pada pertumbuhan sekunder, batangnya memiliki struktur yang normal dengan aktivitas kambium yang tidak normal. Hal ini termasuk dalam ciri tumbuhan yang memiliki pertumbuhan sekunder anomali. Hasil penelitian ini dapat dijadikan karakter pembatas untuk memperkuat hubungan kekerabatan antar takson khususnya pada kategori yang lebih tinggi
Pengaruh Jarak Tanam dan Takaran Pupuk Kandang Sapi terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Buncis (Phaseolus vulgaris L.)
This study aims to determine the effect of spacing and dosage of manure on the growth and yield of chickpeas and to determine the dosage of manure and the appropriate spacing for growth and optimum bean yield. The design used was factorial randomized block design (RBD) 3 x 3 which was repeated three times. The first factor is the spacing consisting of three levels, namely 20 cm x 40 cm, 20 x 50 cm and 20 cm x 60 cm. the second factor is the dose of manure consisting of three levels, namely 5 t / ha, 10 t / ha and 15 t / ha. Parameters observed included soil temperature, soil moisture content, plant height, stem diameter, number of leaves, number of pods per plant, pod weight per plant, number of pods per plot, weighted wet weight, dry dry weight, root wet weight, dry weight root, stem wet weight, stem dry weight. The results showed that the interaction between spacing and dosage of cow manure occurred in the parameters of root wet weight and number of pods per plot per harvest. The dosage of manure has a significant effect on moisture content parameters of 60 day after planting and chickpeas, while the spacing does not significantly affect all parameters. The treatment of spacing of 20 cm x 40 cm with a dose of fertilizer 10 t / ha has been sufficient to increase the yield of beans per plot (4.25 t / ha) higher than other treatments.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan takaran pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis serta mengetahui takaran pupuk kandang dan jarak tanam yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil buncis yang optimum. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 3 x 3 yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah jarak tanam yang terdiri dari tiga aras yaitu 20 cm x 40 cm, 20 x 50 cm dan 20 cm x 60 cm. faktor kedua adalah takaran pupuk kandang terdiri dari tiga aras yaitu 5 t/ha, 10 t/ha dan 15 t/ha. Parameter yang diamati meliputi suhu tanah, kadar lengas tanah, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, jumlah polong per tanaman, berat polong per tanaman, jumlah hasil polong per petak, berat basah berangkasan, berat kering berangkasan, berat basah akar, berat kering akar, berat basah batang, berat kering batang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara jarak tanam dan takaran pupuk kandang sapi terjadi pada parameter berat basah akar dan jumlah polong per petak setiap kali panen. Takaran pupuk kandang berpengaruh nyata pada parameter kadar lengas 60 HST dan polong buncis, sedangkan jarak tanam tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter. Perlakuan jarak tanam 20 cm x 40 cm dengan takaran pupuk 10 t/ha sudah cukup meningkatkan hasil tanaman buncis berat polong per petak (4,25 t/ha) lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya
Kajian Cekaman Kekeringan Sesudah Masa Berbunga Tanaman Kacang Merah (Phaseolus vulgaris L.) pada Tanah Entisol
Red beans are important legumes for human consumption and are considered a major source of vegetable protein for direct consumption. This study aimed to determine the effect of drought stress after the flowering period of red bean plants grown in entisol soil. The field trial was conducted from June to December 2017, in the experimental garden of the Faculty of Agriculture, University of Timor. Sasi Village, Kefamenanu City Subdistrict, TTU District, used a single factor Completely Randomized Design which was repeated 14 times. The factor applied is drought stress after the flowering period which consists of control (not stressed), 1 week after primordia without water, and 2 weeks after the flowering period without watering. Observations included air temperature, air humidity, soil moisture content, soil volume weight, plant height, leaf number, leaf area, canopy fresh weight, root fresh weight, plant fresh weight, canopy dry weight, root dry weight, plant-based dry weight, total dry weight, root canopy ratio, number of seeds per pod, number of pods per plant, dry seed weight per plant, harvest index. The results showed that drought stress after the primordial period or flowering of red beans had a negative influence on the red bean plants, resulting in failure of seed production.Kacang merah merupakan legum penting bagi konsumsi manusia dan dianggap sebagai sumber protein nabati utama untuk konsumsi langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cekaman kekeringan pada sesudah masa berbunganya tanaman kacang merah yang ditanam di tanah entisol. Percobaan lapangan dilaksanakan pada bulan Juni sampai bulan Desember 2017, di kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Timor. Kelurahan Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU, menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktor tunggal yang diulang 14 kali. Faktor yang diterapkan adalah cekaman kekeringan sesudah masa berbunga yang terdiri: kontrol (tidak cekaman), 1 minggu sesudah primordia tanpa penyiraman, dan 2 minggu sesudah masa berbunga tanpa penyiraman. Pengamatan meliputi suhu udara, kelembapan udara, kadar lengas tanah, berat volume tanah, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat segar tajuk, berat segar akar, berat segar tanaman, berat kering tajuk, berat kering akar, bobot kering berangkasan tanaman, bobot kering total berangkasan, rasio tajuk akar, jumlah biji per polong, jumlah polong per tanaman, bobot biji kering per tanaman, indeks panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cekaman kekeringan sesudah masa primordia atau berbunganya kacang merah memberikan pengaruh buruk terhadap tanaman kacang merah, sehingga mengakibatkan gagalnya produksi biji
Analisis Kualitas dan Kadar Aflatoksin Jagung pada Pengeringan dengan Udara Alamiah
Corn is a staple food for the majority of people in the East Nusa Tenggara Province, which corn is familiar to the East Nusa Tenggara’s peoples and planted for a long time ago. High production of corn can cause problem in post-harvest handling in terms of drying. Drying carried out by the community has not been well designed affect to degradation of the corn qualities. In addition to quality degradation there is also damage caused by the high moisture content in shelled corn that make them could be attack by fungi (Aspergillus flavus) to produced the aflatoxin. Aim of this study was to analyze the quality and content of corn aflatoxin in drying with natural air. The methods include drying corn with batch drying type, analysis of aflatoxin levels and the quality of carbohydrates, proteins and fat. In drying with an ambient at 30°C temperature and 75% relative humidity (RH) using batch drying type, not affect to decrease the aflatoxin level and corn quality.Jagung merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk di Provinsi Nusa Tenggara Timur sehingga jagung sudah tidak asing lagi dan ditanam secara turun temurun. Produksi jagung yang cukup tinggi juga dapat menimbulkan masalah dalam penanganan pasca panen yakni dalam hal pengeringan. Pengeringan yang dilakukan oleh masyarakat belum terdesain dengan yang baik sehingga dapat menimbulkan penurunan kualitas dan terjadi kerusakan. Selain penurunan kualitas juga terjadi kerusakan yang disebabkan oleh kandungan air dalam biji jagung masih tinggi sehingga biji jagung diserang oleh cendawan (Aspergillus flavus) yang dapat menghasilkan aflatoksin. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kualitas dan kandungan aflatoksin jagung pada pengeringan dengan udara alamiah. Metode penelitian mencakup pengeringan jagung dengan tipe batch drying, analisis kadar aflatoksin dan kualitas berupa kadar karbohidrat, protein dan lemak. Pada pengeringan dengan suhu lingkungan 30°C dan kelembaban relatif (RH) 75% menggunakan tipe pengering batch drying tidak terjadi penurunan kadar aflatoksin maupun kualitas
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Kacang Tanah di Desa Tapenpah Kecamatan Insana Kabupaten Timor Tengah Utara
Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) adalah salah satu daerah yang juga menghasilkan kacang tanah dan Insana merupakan salah satu kecamatan yang memberikan kontribusi terhadap produksi kacang tanah di kabupaten TTU. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran usahatani dan faktor-faktor yang mempengaruhi usahatani kacang tanah di desa Tapenpah kecamatan Insana Kabupaten TTU. Penelitian dilakukan pada bulan Februari sampai Mei 2017 di desa Tapenpah, kecamatan Insana, kabupaten TTU menggunakan metode survei. Populasi penelitian ini adalah semua petani kacang tanah sebanyak 150 KK. Untuk mengetahui gambaran umum usahatani kacang tanah digunakan analisis deskriptif kualitatif, sedangkan untuk mengetahui pengaruh dari faktor-faktor produksi digunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan usahatani kacang tanah di desa Tapenpah dilakukan secara tumpang sari dengan tanaman jagung dan atau kacang hijau. Tahapan usahatani meliputi pembersihan dan pengolahan lahan, persiapan benih, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen. Secara bersama-sama faktor luas lahan, tenaga kerja, pendidikan formal, pengalaman, pendidikan non formal dan pola tanam berpengaruh nyata pada produksi kacang tanah sedangkan secara sendiri-sendiri faktor yang berpengaruh nyata adalah luas lahan dan tenaga kerja, sedangkan faktor pendidikan formal, pengalaman, pendidikan non formal, dan pola tanam tidak berpengaruh nyata
Analisis Pendapatan Usahatani Sawi di Kawasan Ekonomi Masyarakat Desa Bannae Kecamatan Insana Barat
Desa Bannae merupakan desa yang memiliki banyak sumber daya yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) gambaran usahatani sawi; dan 2) pendapatan usahatani sawi di Kawasan Ekonomi Masyarakat desa Bannae, kecamatan Insana Barat, kabupaten TTU. Penelitian dilaksanakan di desa Bannae, kecamatan Insana Barat, Kabupaten TTU, pada bulan April sampai Juli 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah semua petani sawi di desa Bannae yang mengusahakan sawi sehingga populasi dalam penelitian berjumlah 51 orang, teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sensus sehingga semua populasi menjadi sampel yakni sebanyak 51 orang. Data yang diperoleh dikumpulkan kemudian ditabulasi dan dianalisis berdasarkan tujuan penelitian. Untuk mengetahui gambaran umum produksi sawi maka digunakan metode analisis deskriptif kualitatif, sedangkan mengetahui pendapatan usahatani sawi maka dilakukan analisis pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan usahatani sawi di desa Bannae dimulai dari pengolahan lahan dilakukan oleh tenaga kerja pria dan wanita, tanah diolah menggunakan alat-alat meliputi pacul, linggis, parang, dan tajak, kemudian dilanjutkan dengan persiapan benih. Penanaman dilakukan setelah bibit sayur sawi mempunyai 4 sampai 5 helai daun. Sebelum penanaman bedengan disiram terlebih dahulu. Petani membuat lubang tanam pada bedengan jarak + 20 x 20 cm. Bibit sayur sawi ditanam 2-3 bibit per lubang. Setelah tanam bedengan disiram dengan air secukupnya. Selanjutnya dilakukan pemeliharaan hingga panen dan pasca panen. Rata-rata biaya yang dikeluarkan petani dalam berusahatani sawi sebesar Rp697.470,59 dari total keseluruhan biaya yang dikeluarkan sebesar Rp35.571.000,00. Total penerimaan sebesar Rp42.749.000,00 dengan rata-rata sebesar Rp838.215,69. Total pendapatan petani sayur sawi sebesar Rp7.178.000,00 dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp140.745,10 per musim tanam
Aplikasi Pupuk Bokashi Padat Berbahan Dasar Feses Ayam dengan Level Berbeda terhadap Pertumbuhan dan Produksi Lamtoro (Leucaena leucocephala)
Penelitian ini dilaksanakan pada kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Timor, Kelurahan Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU pada bulan Juli sampai September 2017. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk bokashi padat berbahan dasar feses ayam dengan level berbeda terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman lamtoro. Perlakuan yang diuji dalam penelitian ini terdiri dari R0=Tanpa bokashi., R1=Aplikasi pupuk bokashi 250 g/lubang tanam., R2=Aplikasi pupuk bokashi 500 g/lubang tanam., R3=Aplikasi pupuk bokashi 750 g/lubang tanam yang diamati efeknya terhadap Tinggi tanaman, jumlah helai daun, berat segar daun, berat kering daun, berat segar akar, berat kering akar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian bokashi padat pada level 250 g/lubang tanam secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan dan produksi lamtoro yaitu sebesar 43,51 cm/tanaman, jumlah helai daun 59,18 helai/tanaman, berat segar daun 21,79 g/tanaman, berat kering daun 8,45 g/tanaman, berat segar akar 13,20 g/tanaman, berat kering akar 5,74 g/tanaman
Pengaruh Lama Penyimpanan terhadap Viabilitas dan pH Semen Babi Landrace yang di Encerkan Menggunakan Bahan Pengencer Sitrat Kuning Telur
Masalah pengenceran semen segar yaitu adanya pengaruh lama penyimpanan. Kelemahan ini dapat diatasi dengan perlakuan waktu pada semen segar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui viabilitas dan derajat keasaman (pH) semen babi Landrace pada pengencer sitrat kuning telur yang disimpan selama 24 jam. Semen yang digunakan berupa semen segar dari pejantan babi Landrace berusia 1 tahun 8 bulan. Semen dikoleksi dengan metode manual menggunakan induk buatan. Penelitian ini dilaksanakan bulan Februari sampai Maret 2016 menggunakan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan (R1= 60 menit, R2 = 120 menit, R3 = 180 menit, R4 = 240 menit) dan empat ulangan sehingga terdapat 16 unit percobaan. Penelitian ini diawali dengan melakukan penampungan semen segar babi Landrace bertempat di Tunbakun, selanjutnya semen segar langsung dievaluasi makroskopis dan mikroskopis di Laboraturium Faperta Universitas Timor. Kemudian dilakukan perlakuan pengenceran terhadap semen segar dengan lama waktu 60 menit, 120 menit, 180 menit, 240 menit, setelah itu diamati viabilitas dan derajat keasaman (pH) semen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan pengencer sitrat kuning telur dalam semen babi Landrace berpengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap viabilitas semen babi Landrace dengan persentase R1 60 menit 88.38%, R2 120 menit 52.63%, R3 180 menit 43.38%, dan R4 240 menit 24.00%. Penambahan pengencer sitrat kuning telur memberikan daya hidup terbaik dengan lama waktu penyimpanan selama 180 menit. Sedangkan untuk derajat keasaman (pH) tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0.05) dimana nilai rataan pHnya R1 60 menit 5.5, R2 120 menit 5.25, R3 180 menit 5.25 dan R4 20 menit 5.0
Penilaian Kompetisi dan Keuntungan Hasil Tumpangsari Jagung Kedelai di Bawah Tegakan Kayu Putih
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kompetisi dan keuntungan hasil dalam tumpangsari jagung varietas pioner 21 dan kedelai varietas grobogan dibawah tegakan hutan kayu putih. Penelitian ini menggunakan metode percobaan lapangan yang terdiri atas dua faktor dan dirancang dengan menggunakan Rancangan Petak ber-alur. Faktor pertama sebagai petak utama berupa Posisi bidang olah dari kedudukan tegakan kayu putih (Zona) dan faktor kedua sebagai anak petak adalah jarak tanam jagung. Petak utama berupa zona bidang olah terdiri dari 2 aras yaitu zona 1 terletak pada posisi bidang olah yang berjarak 0-1 m dari kedudukan tegakan (Z1); zona 2 terletak pada posisi bidang olah yang berjarak 1-2 m dari kedudukan tegakan (Z2), Anak petak adalah jarak tanam jagung yang terdiri atas 3 aras yaitu: 50 cm x 20 cm (J1), 70 cm x 20 cm (J2) dan 90 cm x 20 cm (J3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tumpangsari tanaman jagung dan kedelai dibawah tegakan kayu putih sangat menguntungkan.Tanaman jagung lebih agresif dan competitif daripada tanaman kedelai sehingga menyumbangkan keuntungan pada land equivalent ratio total dan area time equivalent ratio dan Actual Yeild loss total pada perlakuan zona pengolahan lahan maupun jarak tanaman. Zona pengolahan lahan 0-1 m dari kedudukan pohon kayu putih memberikan hasil land equivalent ratio total, area time equivalent ratio, dan actual yield loss total paling tinggi yaitu sebesar 1,71, 1,66 dan 0,82 sedangkan Jarak tanam 50 cm x 20 cm memberikan hasil land equivalent ratio total, area time equivalent ratio, dan actual yield loss total paling tinggi yaitu sebesar 2,27, 2,25 dan 1,58.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kompetisi dan keuntungan hasil dalam tumpangsari jagung varietas pioner 21 dan kedelai varietas grobogan dibawah tegakan hutan kayu putih. Penelitian ini menggunakan metode percobaan lapangan yang terdiri atas dua faktor dan dirancang dengan menggunakan Rancangan Petak ber-alur. Faktor pertama sebagai petak utama berupa Posisi bidang olah dari kedudukan tegakan kayu putih (Zona) dan faktor kedua sebagai anak petak adalah jarak tanam jagung. Petak utama berupa zona bidang olah terdiri dari 2 aras yaitu zona 1 terletak pada posisi bidang olah yang berjarak 0-1 m dari kedudukan tegakan (Z1); zona 2 terletak pada posisi bidang olah yang berjarak 1-2 m dari kedudukan tegakan (Z2), Anak petak adalah jarak tanam jagung yang terdiri atas 3 aras yaitu: 50 cm x 20 cm (J1), 70 cm x 20 cm (J2) dan 90 cm x 20 cm (J3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tumpangsari tanaman jagung dan kedelai dibawah tegakan kayu putih sangat menguntungkan.Tanaman jagung lebih agresif dan competitif daripada tanaman kedelai sehingga menyumbangkan keuntungan pada land equivalent ratio total dan area time equivalent ratio dan Actual Yeild loss total pada perlakuan zona pengolahan lahan maupun jarak tanaman. Zona pengolahan lahan 0-1 m dari kedudukan pohon kayu putih memberikan hasil land equivalent ratio total, area time equivalent ratio, dan actual yield loss total paling tinggi yaitu sebesar 1,71, 1,66 dan 0,82 sedangkan Jarak tanam 50 cm x 20 cm memberikan hasil land equivalent ratio total, area time equivalent ratio, dan actual yield loss total paling tinggi yaitu sebesar 2,27, 2,25 dan 1,58. 
Pengaruh Takaran Guano dan Konsentrasi Teh Kompos terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kacang Hijau (Vigna radiata L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan takaran guano dan konsentrasi teh kompos yang memberikan pertumbuhan dan hasil yang tertinggi bagi kacang hijau (Vigna radiata, L.) varietas unggul lokal Fore Belu. Guano 0 t/ha, 1 t/ha, 2 t/ha dan 3 t/ha sebagai pupuk akar diberikan yang dikombinasikan dengan teh kompos konsentrasi 1:5 (bokasi 1 kg diekstrak dengan 5 liter air) dan 1:10 (bokasi 1 kg diekstrak dengan 10 liter air) yang disemprotkan melalui daun. Perlakukan disusun menurut Rancangan Acak kelompok faktorial yang diulang dalam empat blok. Teh kompos diberikankan melalui daun dan akar setiap minggu semenjak kacang hijau berumur 14 hari hingga 42 hari setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter pertumbuhan (diameter batang, panjang akar, luas daun) dan hasil kacang hijau (berat biji kering) tertinggi diperoleh dari pemberian guano 2 t/ha. Pemberian teh kompos konsentrasi 1:5 secara signifikan menurunkan serangan karat daun yang mengindikasikan adanya peningkatan ketahanan kacang hijau terhadap penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan takaran guano dan konsentrasi teh kompos yang memberikan pertumbuhan dan hasil yang tertinggi bagi kacang hijau (Vigna radiata, L.) varietas unggul lokal Fore Belu. Guano 0 t/ha, 1 t/ha, 2 t/ha dan 3 t/ha sebagai pupuk akar diberikan yang dikombinasikan dengan teh kompos konsentrasi 1:5 (bokasi 1 kg diekstrak dengan 5 liter air) dan 1:10 (bokasi 1 kg diekstrak dengan 10 liter air) yang disemprotkan melalui daun. Perlakukan disusun menurut Rancangan Acak kelompok faktorial yang diulang dalam empat blok. Teh kompos diberikankan melalui daun dan akar setiap minggu semenjak kacang hijau berumur 14 hari hingga 42 hari setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter pertumbuhan (diameter batang, panjang akar, luas daun) dan hasil kacang hijau (berat biji kering) tertinggi diperoleh dari pemberian guano 2 t/ha. Pemberian teh kompos konsentrasi 1:5 secara signifikan menurunkan serangan karat daun yang mengindikasikan adanya peningkatan ketahanan kacang hijau terhadap penyakit.