Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
    604 research outputs found

    Analisis Tingkat Mortalitas Sapi Bali pada Pemeliharaan Tradisional di Kecamatan Nanaet Dubesi Kabupaten Belu

    Get PDF
    Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat mortalitas Sapi Bali pada pemeliharaan tradisional di Kecamatan Nanaet Dubesi Kabupaten Belu. Penelitian dilakukan pada bulan Maret – April 2018. Metode yang digunakan adalah metode survei terhadap potensi ternak yang dipelihara oleh peternak. Variabel yang diamati meliputi karakteristik peternak, angka kelahiran, tingkat mortalitas, jumlah pemilikan dan pemotongan ternak, tingkat penjualan dan kehilangan ternak, dan tata laksana pemeliharaan ternak. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik peternak sangat berpengaruh tatalaksana pemeliharaan ternak. Tingkat kelahiran pedet pada tahun 2016 sebanyak 378 ekor atau sebesar 45,11% dari 911 ekor induk, dan pada tahun 2017 sebanyak 460 ekor atau sebesar 54,89% dari 934 ekor induk. Tingkat mortalitas Sapi Bali pada tahun 2016 sebesar 23,74% atau sebanyak 61 ekor, dan pada tahun 2017 meningkat menjadi 76,26% atau sebanyak 196 ekor. Sebagian besar (53,3% atau 80 orang peternak) memelihara ternak dengan kisaran 5 sampai 10 ekor. Jumlah pemotongan ternak pada tahun 2016 sebanyak 1 ekor atau sebesar 0,06% dari jumlah populasi 1646 ekor, dan pada tahun 2017 sebanyak 39 ekor atau sebesar 2,24% dari jumlah populasi 1740 ekor. Kehilangan ternak pada tahun 2016 sebanyak 14 ekor atau sebesar 0,9% dari populasi 1640 ekor, dan pada tahun 2017 sebanyak 20 ekor dari populasi 1740 ekor. Disimpulkan bahwa pola pemeliharaan Sapi Bali secara tradisional di Kecamatan Nanaet Dubesi berdampak pada penurunan angka kelahiran, dan cenderung meningkatkan angka mortalitas setiap tahunnya

    Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan Pupuk Bokashi dengan Level Berbeda pada Pertumbuhan dan Produksi Biomasa Rumput Gajah (Pennisetum Purpureum)

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan pada kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Timor, Kelurahan Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara pada bulan Juli sampai Oktober 2017, dengan tujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi biomassa rumput gajah yang di beri Fungi Mikoriza Arbuskula dan pupuk bokashi dengan level berbeda. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial 3 x 3 yang diulang sebanyak 4 kali. Faktor pertama adalah takaran Fungi Mikoriza Arbuskula, terdiri atas 3 aras yakni 0, 20, dan 40 g/pot. Faktor kedua adalah bokashi terdiri atas 3 aras yakni 0, 250, dan 500 g/pot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Fungi Mikoriza Arbuskula 40 g dan Bokashi 500 g dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman tinggi tunas produksi I = 11,1 cm dan produksi II = 18,55 cm, jumlah daun produksi I = 8,60 helai dan produksi II = 13,38 helai, diameter tunas produksi I = 1,53 cm dan produksi II = 2,78 cm, berat segar daun produksi I = 46,55 g dan produksi II = 54,83 g, tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya dan tidak ada interaksi. Disimpulkan bahwa aplikasi bokashi pada level 500 g/pot yang dikombinasikan dengan fungi mikoriza 40 g dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman rumput gajah lebih baik

    Review: Senyawa Bahan Alam Terestrial dengan Aktivitas Antimalaria

    Get PDF
    Malaria is still a major public health problem that urgently needs some new treatments due to the development of resistance by the most dangerous parasitic species, Plasmodium falciparum. The parasite responsible to malaria which claimed as the most lethal disease are endless handled due to increasing prevalence. Based on World Malarial Report in 2015 by WHO, about 214 million cases of malaria and 438,000 death occurred among them. Moreover, discontinue of artemisinin because of its resistance in Southeast Asia indicate that the discovery of new antimalarial drug is highly important. This review present recent research and development progress in antimalarial drug discovery from natural sources especially on terrestrial.Malaria masih merupakan masalah kesehatan yang sangat membutuhkan penanganan baru karena perkembangan resistensi Plasmodium falciparum. Parasit yang bertanggung jawab terhadap penyakit malaria ini terus berkembang dengan menigkatnya prevalensi. Berdasarkan World Malarial Report tahun 2015 oleh WHO, terdapat 214 juta kasus penyakit malaria dan 438.000 diantaranya meninggal dunia. Penghentian penggunaan artemisinin karena resistensi di Asia Tenggara juga merupakan masalah yang urgen. Hal ini mengindikasikan bahwa pencarian senyawa obat antimalaria yang baru merupakan suatu kebutuhan di saat ini. Eksplorasi senyawa bahan alam terestrial terkait aktivitas antimalaria dalam beberapa dekade sudah banyak dilakukan dan dipublikasikan. Ulasan ini menyajikan berbagai data penelitian terbaru dan kemajuan perkembangan dalam penemuan senyawa obat dari sumber bahan alam terestrial. Senyawa antimalaria dapat ditemukan dari sumber alam bukan laut (terrestrial), seperti senyawa antimalaria dari berbagai golongan senyawa seperti alkaloid, terpena, kuasinoid, flavonoid, limonoid, kalkon, peptida, xanton, kuinon dan kumarin. Alkaloid merupakan kelas senyawa bahan alam yang terkenal sejak zaman dahulu. Alkaloid memiliki situs basa nitrogen aktif yang berasal dari prekursor biogenetik. flavonoid dapat menghambat PfENR secara reversibel dengan EGCG (35) yang menunjukkan aktivitas terbaik (Ki = 79 ± 2,67 nM), Dua kuasinoid yang memiliki aktivitas antimalaria adalah ailanthone (36, IC50 = 0,003 µg/mL) dan 6α-tigloyloxychaparrinone (37, IC50 = 0,061 µg/mL)

    Pengaruh Takaran dan Frekuensi Aplikasi PGPR terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada (Lactuca sativa L.).

    Get PDF
    The aim of this research is to know and prove the influence of dosage and frequency of PGPR application on growth and yield of lettuce, and also to know the exact dosage and frequency of PGPR application to get the best growth and yield of lettuce. The design used was factorial randomized block design with three replications. The first factor is a dose of PGPR consisting of three levels ie 25 g, 50 g, and 75 g. The second factor is the application frequency consisting of three levels ie without watering (control), one-time watering, and two times watering. The results showed an interaction between dose and frequency of application of PGPR occur in all parameters of growth and yield of lettuce ie plant height, leaf number, leaf area,  fresh weight and dry weight of the plant without roots, root weight both fresh and dried, fresh weight and dry weight every plant, fresh weight and dry weight of plant every plot and harvest index. The application of PGPR twice with a dose of 25 g gives the best growth and yield of lettuce. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membuktikan pengaruh takaran dan frekuensi aplikasi PGPR terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada dan juga mengetahui takaran dan frekuensi aplikasi PGPR yang tepat untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil tanaman selada yang terbaik. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) faktorial dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah takaran PGPR yang terdiri dari tiga aras yakni 25 g, 50 g dan, 75 g. Faktor yang kedua adalah frekuensi aplikasi yang terdiri dari tiga aras yakni tanpa penyiraman (kontrol), satu kali penyiraman dan, dua kali penyiraman. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara takaran dan frekuensi aplikasi PGPR terjadi pada semua parameter pertumbuhan dan hasil selada yakni tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat trubus baik segar maupun kering, berat akar baik segar maupun kering, berat tanaman baik segar maupun kering, berat tanaman per petak baik segar maupun kering dan indeks panen. Aplikasi PGPR sebanyak dua kali dengan takaran 25 g memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman selada yang terbaik.&nbsp

    Pengaruh Penggunaan Mulsa terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) pada Jarak Tanam yang Berbeda

    Get PDF
    The decline in crop productivity can be caused by environmental factors. Lack of water availability, nutrients, light gain and competition between plants at denser plant spacing and competition for plants with weeds can lead to a less optimal growth of crops, which results in less production. This study aims to determine the effect of mulch use with several different spacing on the growth and yield of mustard plants. The study was conducted using Factorial Complete Group Random Design (RCBD) which was repeated 4 (four) times. The first factor is the type of mulch consisting of three levels, namely M0: without mulch, M1: black silver plastic mulch, M2: straw mulch. The second factor is the spacing which consists of three levels, namely JT1: 20x25 cm, JT2: 30x25 cm, JT3: 40x25 cm. Observation parameters consisted of plant height, number of leaves, leaf area, root length, and plant fresh weight. Data analysis was performed using SAS software with variant analysis (Anova) at the level of 5%. If the results of variance analysis show a significant difference between treatments, the analysis is continued by Duncan's multiple distance test (DMRT). The results showed that the provision of straw mulch with the spacing of 30x25 cm between plants showed a better effect with a higher value, namely the number of leaves 13.50 strands, leaf area 63.13 cm2, root length 8.18 cm and fresh plant weights of 210.00 grams/plant compared to other treatment.Menurunnya produktivitas tanaman dapat disebabkan oleh faktor lingkungan. Kurangnya ketersediaan air, hara, perolehan cahaya serta kompetisi yang terjadi antar tanaman pada jarak tanam yang lebih rapat maupun kompetisi tanaman dengan gulma dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman yang tidak maksimal sehingga berdampak pada hasil produksi yang kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan mulsa dengan beberapa jarak tanam yang berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) Faktorial yang diulang sebanyak 4 (empat) kali. Faktor pertama adalah jenis mulsa terdiri dari tiga taraf yaitu M0: tanpa mulsa, M1: mulsa plastik hitam perak, M2: mulsa jerami. Faktor kedua adalah jarak tanam yang terdiri dari tiga taraf yaitu JT1: 20x25 cm, JT2: 30x25 cm, JT3: 40x25 cm. parameter pengamatan terdiri dari tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang akar dan bobot segar tanaman. Analisis data dilakukan dengan menggunakan software SAS dengan analisis varian (Anova) pada taraf 5%. Apabila hasil analisis varian menunjukkan adanya beda nyata antar perlakuan, analisis dilanjutkan dengan uji jarak ganda Duncan (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemberian mulsa jerami dengan jarak tanam 30x25 cm antar tanaman menunjukkan pengaruh yang lebih baik dengan nilai yang lebih tinggi yaitu jumlah daun 13,50 helai, luas daun 63,13 cm2, panjang akar 8,18 cm dan bobot segar tanaman sebanyak 210,00 gram/tanaman dibandingkan dengan perlakuan lainnya

    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani Jagung di Desa Bannae Kecamatan Insana Barat

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) gambaran usahatani jagung; 2) pendapatan yang diperoleh dari usahatani jagung; dan 3) faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pendapatan usahatani jagung di Desa Bannae Kecamatan Insana Barat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai bulan Agustus 2017. Teknik penentuan sampel dilakukan menggunakan teknik acak sederhana sehingga dari 415 yang berusahatani jagung diambil 80 responden. Metode analisis data dalam penelitian ini meliputi metode deskriptif kualitatif, analisis pendapatan dan analisis Cobb-Douglass. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani jagung di Desa Bannae Kecamatan Insana Barat Kabupaten TTU dilakukan melalui tahapan 1) persiapan lahan; 2) pemilihan benih jagung; 3) penanaman; 4) pemeliharaan; dan 5) panen dan pasca panen. Produksi jagung digunakan untuk konsumsi (19,69%), sebagian dijual (40,08%), bibit (3,81%), lain-lain (37,14%). Modal yang dikeluarkan untuk berusahatani jagung selama satu musim tanam sebesar Rp15.200.000,00 sedangkan total penerimaan yang diperoleh petani jagung sebesar Rp42.180.000,00 dari hasil penjualan jagung dengan rata-rata penerimaan sebesar Rp527.250,00 sehingga total pendapatan petani jagung sebesar Rp26.980.000,00 dengan rata-rata pendapatan sebesar  Rp530.575,00. Secara simultan variabel modal, luas lahan, benih, tenaga kerja, pengalaman, pendidikan berpengaruh secara nyata terhadap pendapatan usahatani jagung pada α = 5%. Secara parsial variabel yang berpengaruh nyata yaitu luas lahan, pendidikan, tenaga kerja, jumlah penjualan sedangkan yang tidak berpengaruh nyata adalah benih, dan umur.&nbsp

    Analisis Pendapatan Usaha Agroindustri Minyak Kelapa Murni oleh Kelompok Wanita Tani Fau’ana di Desa Taekas

    Get PDF
    Agroindustri adalah bagian dari agribisnis yang memproses dan mentransformasikan hasil pertanian menjadi barang setengah jadi yang langsung dipakai dan bahan agroindustri yang digunakan dalam proses produksi selanjutnya. Pengembangan agribisnis kelapa berperan penting untuk peningkatan produktivitas dan sekaligus peningkatan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) proses pembuatan minyak kelapa murni; 2) pendapatan agroindustri minyak kelapa murni pada kelompok wanita tani Fau,ana di Desa Taekas Kecamatan Miomaffo Timur Kabupaten TTU. Penelitian dilaksanakan di Desa Taekas Kecamatan Miomaffo Timur Kabupaten TTU sejak bulan November sampai Desember 2017. Penentuan pemilihan sampel dilakukan secara sensus yaitu seluruh anggota kelompok wanita tani Fau’ana dengan demikian total pengusaha atau pelaku yang di ambil sebagai sampel sebanyak 20 orang. Untuk mengetahui gambaran usaha minyak kelapa murni digunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Untuk mengetahui pendapatan digunakan analisis pendapatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa agroindustri minyak kelapa murni yang dilaksanakan di Desa Taekas masih dilakukan secara alami, tanpa menggunakan alat modern, secara umum tahapan kegiatan meliputi persiapan alat dan bahan, proses pembuatan, dan pemasaran. Total biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani selama satu tahun sebesar Rp4.865.750,00 sedangkan total produksi minyak kelapa murni sebesar 784 botol, sehingga menghasilkan total penerimaan sebesar Rp19.600.000,00. Total pendapatan agroindustri minyak kelapa murni sebesar Rp14.734.250,00 dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp1.227.850,00 per bulan

    Kecernaan Nutrien Ternak Sapi Bali yang Diberi Pakan Dasar Rumput Panah dan Daun Angsana Disuplementasi Daun Sengon (Paraserianthes falcataria L.)

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok Tani-Ternak Ulnaet Tuan, Desa Letmafo, Kecamatan Insana Tengah, Kabupaten TTU selama 3 bulan yakni bulan April – Juni 2017, dengan tujuan untuk mengetahui kecernaan nutrien ransum ternak sapi bali yang diberi pakan dasar rumput panah dan daun angsana disuplementasi daun sengon (Paraserianthes falcataria L.). Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri atas 4 perlakuan ransum  dan 3 kelompok berat badan ternak  sebagai ulangan.  Sapi yang digunakan sebanyak 12 ekor dengan berat badan rata-rata kelompok I = 84,75 kg, kelompok II = 137,25 kg dan kelompok III = 164,25 kg. Keempat perlakuan ransum yang digunakan adalah: A). 80% rumput panah +20 % daun  angsana (Kontrol), B). 80% rumput panah + 20% daun angsana + 10% daun sengon, C). 80%  rumput panah + 20% daun angsana +15% daun sengon, dan D). 80%  rumput panah  + 20% daun angsana + 20% daun sengon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  pemberian daun sengon hingga 20% dalam ransum dasar rumput panah dan daun angsana mampu meningkatkan kecernaan nutrien, sehingga bakteri optimal meningkatkan pemanfaatan pakan dan menyebabkan pertambahan berat badan Sapi Bali menjadi tinggi. Untuk mendapatkan tingkat kecernaan nutrien sapi bali jantan yang baik maka disarankan pemberian  pakan dasar rumput panah 80% dan daun angsana 20% perlu disuplementasi dengan  daun sengon laut sebesar 20%.Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok Tani-Ternak Ulnaet Tuan, Desa Letmafo, Kecamatan Insana Tengah, Kabupaten TTU selama 3 bulan yakni bulan April – Juni 2017, dengan tujuan untuk mengetahui kecernaan nutrien ransum ternak sapi bali yang diberi pakan dasar rumput panah dan daun angsana disuplementasi daun sengon (Paraserianthes falcataria L.). Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri atas 4 perlakuan ransum  dan 3 kelompok berat badan ternak  sebagai ulangan.  Sapi yang digunakan sebanyak 12 ekor dengan berat badan rata-rata kelompok I = 84,75 kg, kelompok II = 137,25 kg dan kelompok III = 164,25 kg. Keempat perlakuan ransum yang digunakan adalah: A). 80% rumput panah +20 % daun  angsana (Kontrol), B). 80% rumput panah + 20% daun angsana + 10% daun sengon, C). 80%  rumput panah + 20% daun angsana +15% daun sengon, dan D). 80%  rumput panah  + 20% daun angsana + 20% daun sengon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  pemberian daun sengon hingga 20% dalam ransum dasar rumput panah dan daun angsana mampu meningkatkan kecernaan nutrien, sehingga bakteri optimal meningkatkan pemanfaatan pakan dan menyebabkan pertambahan berat badan Sapi Bali menjadi tinggi. Untuk mendapatkan tingkat kecernaan nutrien sapi bali jantan yang baik maka disarankan pemberian  pakan dasar rumput panah 80% dan daun angsana 20% perlu disuplementasi dengan  daun sengon laut sebesar 20%

    Korelasi Bobot Potong terhadap Produksi Karkas Ternak Sapi Bali di RPH Kota Kefamenanu

    Get PDF
    Penelitian ini telah dilaksanakan di RPH Kota Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara selama 2 bulan dan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan bobot potong terhadap produksi karkas Sapi Bali yang dipotong di RPH Kota Kefamenanu. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan melakukan pengukuran langsung ternak sapi yang dipotong di RPH Kota Kefamenanu. Variabel yang diukur meliputi bobot potong, berat karkas, persentase karkas, dan berat non karkas. Untuk mengetahui hubungan antar variabel, data dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi. Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata bobot potong Sapi Bali pada kisaran  bobot badan 150-199 kg adalah 177,86 kg, berat karkas 78,76 kg, persentase karkas 44,28%, berat non karkas 99,10 kg, dan persentase non karkas 55,71%. Nilai korelasi bobot potong dengan berat karkas pada kisaran bobot badan 150-199 kg adalah sebesar 0,527 (0,000); bobot potong dan berat non karkas sebesar 0,088 (0,580); bobot potong dan persentase karkas sebesar 0,327 (0,034); dan bobot potong dan persentase non karkas sebesar  0,204 (0,194).  Rata-rata bobot potong sapi bali betina kisaran bobot badan 200-250 kg adalah sebesar 226,29, berat karkas 115,10 kg, persentase karkas 50,86 %, berat non karkas 111,91 kg, dan persentase non karkas 49,13%. Nilai korelasi bobot potong dan berat karkas pada kisaran bobot badan 200-250 adalah sebesar 0,527 (0,000); bobot potong dan berat non karkas sebesar 0,088 (0,580); bobot potong dan persentase karkas sebesar 0,327 (0,034); dan bobot potong dan persentase non karkas sebesar 0,204 (0,194). Dapat disimpulkan bahwa Sapi Bali dengan bobot potong 150-199 kg memiliki hubungan yang signifikan antara bobot potong dengan berat karkas dan non karkas; sebaliknya, ternak bobot badan 200-250 kg menunjukkan korelasi positif antara bobot potong dengan berat dan persentase karkas. Semakin tinggi bobot potong Sapi Bali semakin meningkat pula produksi karkasnya

    Komposisi dan Keanekaragaman Jenis Pohon Di Hutan Lindung Lapeom Kabupaten Timor Tengah Utara

    Get PDF
    This study aims to describe the composition and diversity of tree species in Lapeom Protection Forests. The study was conducted in November to December  2009 using the quadrat method by plotting along the transect line. The number of transect 5, transect length 200 m, in each transect placed 5 plot with size 20 m x 20 m. The results showed that in the location found 22 species of trees from 17 families. The largest number of species are Caesalpinaceae family of 4 species, was Casia fistula, L, Delonix regia, Rafin, Cassia simea, Lamk, and Tamarindus indica, L. The number of individuals largest is Mangifera indica, L from Anacardiaceae family of 20 individuals. The highest important value index on the species Mangifera indica (43.7%), the species with the lowest important value index was Zizipus jujuba (1.8%,) and Jatropa Sp (1.9%). Index Diversity of tree species in lapeom protected forest including moderate category with a value of 2.7  this showing that the area of Lapeom protected forest an area that has sufficient tree productivity levels, ecosystem conditions that are sufficiently balanced and have an ecological pressures medium. concluding was there are 22 species of tree from 17 families. The species with the highest number of individuals is Mangifera indica, L from Anacardiaceae family. The species that has the highest important value index is Mangifera indica (43.7%) and the species has the lowest important value index is Zizipus jujuba (1.8%), Index diversity of tree species in Lapeom protected forest including medium category.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan komposisi dan keanekaragaman jenis pohon di Hutan Lindung Lapeom. Penelitian dilaksanakan pada bulan November sampai Desember 2009 menggunakan metode kuadrat dengan menempatkan plot disepanjang garis transek. Jumlah transek 5 buah, panjang transek 200 m, di setiap transek diletakkan 5 plot pengamatan dengan ukuran 20 m x 20 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 22 jenis pohon dari 17 famili. Famili dengan jumlah spesies terbanyak adalah famili Caesalpinaceae sebanyak 4 spesies yakni Casia fistula, L, Delonix regia, Rafin, Cassia simea, Lamk, dan Tamarindus indica, L. Jenis dengan jumlah individu terbanyak adalah Mangifera indica, L dari famili Anacardiaceae sebanyak 20 individu. Spesies dengan indeks nilai penting tertinggi adalah Mangifera indica (43,7%), sedangkan jenis yang memiliki indeks nilai penting terendah adalah Zizipus jujuba (1.8%,) dan Jatropa Sp (1.9%). Indeks Keanekaragaman jenis pohon di hutan lindung lapeom termasuk kategori sedang dengan nilai 2.7 hal ini menunjukkan bahwa wilayah hutan lindung lapeom merupakan wilayah yang memiliki tingkat produktivitas pohon yang cukup, kondisi ekosistem yang cukup seimbang dan memiliki tekanan ekologis yang sedang. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan komposisi jenis hutan laepom sebanyak 22 jenis pohon dalam 17 famili, Jenis yang paling banyak jumlah individunya adalah Mangifera indica, L dari famili Anacardiaceae Spesies yang memiliki indeks nilai penting tertinggi adalah Mangifera indica (43, 7%) dan jenis yang memiliki indeks nilai penting terendah adalah Zizipus jujuba (1.8%), Indeks Keanekaragaman jenis pohon di hutan lindung lapeom termasuk kategori sedang

    564

    full texts

    604

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇