Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
604 research outputs found
Sort by
Pengaruh Lama Pengasapan Menggunakan Daun Kosambi (Schleichera Oleosa) terhadap Keempukan, Susut Masak, pH, dan Daya Ikat Air Daging Babi Pedaging
Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana Kupang, selama 10 hari terhitung dari tanggal 28 April sampai tanggal 8 Mei 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama pengasapan menggunakan daun kusambi (Schleichera oleosa) terhadap keempukan, susut masak, pH, dan daya ikat air daging babi pedaging. Dengan menggunakan metode rancangan acak lengkap ( RAL ) dengan 4 perlakuan dan di ulang sebanyak 4 kali. 4 perlakuan tersebut terdiri dari P1 dengan lama pengasapan 40 menit, P2 60 menit, P3 80 menit, dan P4 100 menit. Variabel yang diteliti yaitu keempukan P1 2,3 (40 menit) P2 2,98 (60 menit) P3 3,16 (80 menit) P4 (3,52). Susut masak P1 26,35 (40 menit), P2 32,25 (60 menit), P3 35,4 (80 menit) P4 40,77 (100 menit). pH P1 5,62 (40 menit) P2 5,21 (60 menit) P3 5,30 (80 menit) P4 5,13 (100 menit). Daya ikat air, P1 26,75 (40 menit) P2 21,5 (60 menit) P3 16,75 (80 menit) P4 14 (100 menit). Dari hasil analisis sidik ragam dan uji Duncan dapat disimpulkan bahwa pengasapan menggunakan daun kusambi dapat meningkatkan keempukan, mencegah susut masak, menjaga protein daging untuk mengikat air, menurunnya nilai pH
Pengaruh Frekuensi Penampungan terhadap Kualitas Spermatozoa Sapi Bali
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium dan kandang sapi Fakultas Pertanian Universitas Timor, Kelurahan Sasi selama 5 bulan yaitu dari awal Juli sampai November 2016, dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi penampungan terhadap kualitas spermatozoa sapi bali. Semen hasil penampungan selanjutnya langsung di bawah ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan awal. Pemeriksaan semen segar dalam penelitian ini meliputi pemeriksaan secara makroskopis dan mikroskopis, selanjutnya diberi perlakuan dengan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen yang terdiri dari 3 perlakuan dan 3 ulangan sehingga terdapat 9 unit satuan percobaan. Perlakuan yang diuji terdiri dari: R1= 1 minggu 1 kali penampungan, R2= 1 minggu 2 kali penampungan, dan R3= 1 minggu 3 kali penampungan. Hasil penelitian tersebut dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan apabila terdapat perbedaan antara perlakuan, maka akan dilanjutkan dengan Uji Duncan. Analisis deskriptif digunakan untuk menghitung volume, bau, warna, dan konsistensi (kekentalan) semen. Disimpulkan bahwa frekuensi penampungan 1 minggu 1 kali penampungan dapat menghasilkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan frekuensi penampungan 1 minggu 2 kali penampungan dan 1 minggu 3 kali penampungan, dan pada pH semen, bau semen, warna semen, dan konsistensi (kekentalan ) semen menunjukkan hasil yang tidak berpengaruh nyata
Perbandingan Penggunaan Dua Jenis Ransum terhadap Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) Konsumsi Ransum dan Konversi Ransum Broiler
Penelitian ini telah dilaksanakan dikandang milik Program Studi Peternakan, Fakultas Universitas Timor, Kabupaten Timor Tengah Utara. Penelitian ini berlangsung selama 42 hari yang mulai dari bulan Maret sampai dengan April 2016. Penelitian ini menggunakan ternak Broiler sebanyak 80 ekor. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan kualitas ransum yang dibuat sendiri dengan ransum komersial terhadap pertambahan bobot badan harian (PBBH), konsumsi ransum dan konversi ransum. Metode penelitian yang digunakan adalah data primer berupa data yang diperoleh dari pengamatan langsung yang dilakukan dengan menguji ransum buatan dan ransum komersial. Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata pertambahan bobot badan untuk perlakuan ransum buatan adalah 147,66 g dan perlakuan ransum komersial 149,90 g. Konsumsi ransum perlakuan ransum buatan 99,88 g, perlakuan ransum komersial 101,384 g. Rata-rata konversi ransum untuk perlakuan ransum buatan adalah 0,68 dan perlakuan ransum komersial adalah 0,68. Ransum buatan dan komersil memiliki keunggulan yang sama dalam menghasilkan berat badan, konsumsi ransum dan konversi ransum. Pemanfaatan bahan baku lokal seperti tepung gaplek, tepung daun turi, jagung giling, dedak padi, kunyit dan tepung ikan sangat efektif untuk dimanfaatkan sebagai ransum ternak ayam broiler.Penelitian ini telah dilaksanakan dikandang milik Program Studi Peternakan, Fakultas Universitas Timor, Kabupaten Timor Tengah Utara. Penelitian ini berlangsung selama 42 hari yang mulai dari bulan Maret sampai dengan April 2016. Penelitian ini menggunakan ternak Broiler sebanyak 80 ekor. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan kualitas ransum yang dibuat sendiri dengan ransum komersial terhadap pertambahan bobot badan harian (PBBH), konsumsi ransum dan konversi ransum. Metode penelitian yang digunakan adalah data primer berupa data yang diperoleh dari pengamatan langsung yang dilakukan dengan menguji ransum buatan dan ransum komersial. Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata pertambahan bobot badan untuk perlakuan ransum buatan adalah 147,66 g dan perlakuan ransum komersial 149,90 g. Konsumsi ransum perlakuan ransum buatan 99,88 g, perlakuan ransum komersial 101,384 g. Rata-rata konversi ransum untuk perlakuan ransum buatan adalah 0,68 dan perlakuan ransum komersial adalah 0,68. Ransum buatan dan komersil memiliki keunggulan yang sama dalam menghasilkan berat badan, konsumsi ransum dan konversi ransum. Pemanfaatan bahan baku lokal seperti tepung gaplek, tepung daun turi, jagung giling, dedak padi, kunyit dan tepung ikan sangat efektif untuk dimanfaatkan sebagai ransum ternak ayam broiler
Etnobotani Tumbuhan Upacara Adat Etnis Ngadha di Kecamatan Jerebu’u Kabupaten Ngada, Propinsi Nusa Tenggara Timur
Ethnic Ngadha is one of the largest traditional communities in Ngada District. In the middle of globalization and modernity, their lives are still held in the tradition which is a heritage from their ancestors. One of a special characteristic of this tradition is the ceremonies in their community. This research has been done in February to May 2016 at Tiwuriwu, Watumanu and Dariwali villages, Jerebu’u Sub-District, District of Ngada. The aims of this research were to inventories the species of the plant, to investigate their meaning in each ceremony and conservation efforts undertaken by the community. The methods were used to collect the data was exploratory, participant observation and interviews. Based on this research, we found 60 of plants species including 26 families were used in ceremonies of ethnic Ngadha. The Poaceae is the most used family in their ceremonies with 15 species, Fabaceae with 8 species, Arecaceae with 6 species, Musaceae and Solanaceae each of them 3 species, while other families between 1 or 2 species. Each type of species has a specific meaning in any ceremonies in accordance with the intent and purpose of the ceremony. The efforts to conserve these plants have been done by local people by cultivation the plants around their yard, garden or field.Etnis Ngadha merupakan salah satu kelompok masyarakat tradisional terbesar di Kabupaten Ngada. Kehidupan masyarakatnya ditengah arus globalisasi dan modernitas masih tetap berpegang teguh pada adat-istiadat warisan leluhur, salah satunya adalah upacara adat yang menjadi ciri khas komunitasnya. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Februari – Mei 2016 di desa Tiwuriwu, Watumanu dan Dariwali Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada. Penelitian ini bertujuan untuk mengiventarisasi jenis-jenis tumbuhan dan makna tumbuhan dalam pelaksanaan upacara adat serta upaya pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat. Metode pengumpulan data dilakukan secara eksploratif, observasi partisipatif dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 60 jenis tumbuhan yang tergolong dalam 26 famili yang digunakan dalam upacara adat. Famili yang paling banyak digunakan adalah Poaceae 15 jenis, Fabaceae 8 jenis, Arecaceae 6 jenis, Musaceae dan Solanaceae masing-masing 3 jenis, sedangkan famili lainnya antara 1 sampai dengan 2 jenis. Masing-masing jenis memiliki makna spesifik dalam setiap upacara adat sesuai dengan maksud dan tujuan upacara tersebut. Bentuk kegiatan konservasi yang dilakukan masyarakat adalah membudidayakan tumbuhan tersebut di sekitar pekarangan rumah, kebun atau ladang milik mereka
Pengaruh Takaran Arang Sekam Padi dan Bokashi Cair terhadap Pertumbuhan dan Hasil Mentimun (Cucumis sativus L.)
This study aims to determine the effect of rice husk charcoal and liquid bokashi on the growth and yield of cucumber and to know the dosage of rice husk and liquid bokashi appropriate for growth and optimum cucumber yield. The design used in this study was a Factorial Randomized Block Design consisting of two factors with three replications. The first factor is the dosage of rice husk charcoal consisting of three levels ie without rice husk or 0 t / ha, 5 t / ha and 10 t / ha. The second factor is the liquid bokashi dosage consisting of three levels ie without liquid bokashi or 0 ml, 2 ml and 4 ml. The results showed that the interaction effect between rice husk dosage and liquid bokashi occurred only on the ground temperature of 35 days after planting. The dosage of rice husk significantly affected the soil temperature of 14 days after planting, the weight per fruit, the weight of the fruit per plant, the number of fruits per plot, the fresh weight of the stover and the harvest index. The dosage of liquid bokashi has a significant effect on the weight of fruit per plot harvest I and total harvest, the fresh and dry weight of stover. Giving of rice husk 5 tons per hectare gives the best result of 55694 pieces per hectare with weight 16,250 tons. Giving a liquid bokashi of 4 ml per plant yields 53333 pieces per hectare weighing 16,931 tons. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh takaran arang sekam padi dan bokashi cair terhadap pertumbuhan dan hasil mentimun serta mengetahui takaran arang sekam padi dan bokashi cair yang tepat untuk pertumbuhan dan hasil mentimun yang optimum. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari dua faktor dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah takaran arang sekam padi yang terdiri dari tiga aras yaitu tanpa arang sekam padi atau 0 t/ha, 5 t/ha dan 10 t/ha. Faktor kedua adalah takaran bokashi cair yang terdiri dari tiga aras yaitu tanpa bokashi cair atau 0 ml, 2 ml dan 4 ml. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh interaksi antara takaran arang sekam padi dan bokashi cair hanya terjadi terhadap suhu tanah 35 HST. Takaran arang sekam padi berpengaruh nyata terhadap suhu tanah 14 HST, berat per buah, berat buah per tanaman, jumlah buah per petak, berat segar berangkasan dan indeks panen. Takaran bokashi cair berpengaruh nyata terhadap berat buah per petak panen I dan total panen, berat segar berangkasan dan berat kering berangkasan. Pemberian arang sekam padi 5 t/ha memberikan hasil terbaik berupa 55694 buah setiap hektar dengan berat 16,250 ton. Pemberian bokashi cair 4 ml per tanaman memberikan hasil 53333 buah setiap hektar dengan berat 16,931 ton. 
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Kain Tenun Songket (Lotis) di Desa Oabikase Kecamatan Insana Barat
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum pembuatan kain tenun songket serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi harga kain tenun songket di Desa Oabikase Kecamatan Insana Barat Kabupaten Timor Tengah Utara. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai bulan Juli 2017. Penentuan sampel dilakukan secara Purposive sampling dengan pertimbangan responden memproduksi kain tenun songket pada tahun 2016, sehingga dari 80 KK yang memproduksi kain tenun songket di Desa Oabikase diambil 50 responden. Analisis data dalam penelitian ini meliputi analisis deskriptif kualitatif dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan pembuatan kain tenun songket terdiri dari penggulungan benang, mengurutkan benang (Non), Naet dan menenun (Tenu). Secara simultan faktor harga produk saingan, pengalaman menenun, pendidikan formal, besaran permintaan, biaya produksi berpengaruh nyata pada harga kain tenun, dengan memiliki nilai sebesar Fhitung = 38,09 > Ftabel 2,09 pada taraf kepercayaan 10%. Secara parsial faktor-faktor yang berpengaruh pada harga kain tenun songket pada taraf kepercayaan 10% adalah faktor harga produk saingan dengan nilai thitung sebesar 1,80 > nilai ttabel sebesar 1,30, faktor besaran permintaan dengan nilai thitung sebesar 1,35 > nilai ttabel sebesar 1,30 dan faktor biaya produksi dengan nilai thitung sebesar 9,97 > nilai ttabel sebesar 1,30
Pengaruh Penggunaan Kombinasi Kompos Teh dan Arang Kusambi terhadap Pertumbuhan Tanaman Bayam Hijau (Amaranthus Sp)
Bayam hijau merupakan salah satu sayuran daun terpenting di Asia dan Afrika. Pupuk yang sangat baik bagi pertumbuhan bayam adalah pupuk organik. Pupuk organik yang dikenal salah satunya adalah teh kompos yang dapat dikombinasikan dengan arang kusambi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teh kompos dan arang kusambi terhadap pertumbuhan bayam hijau. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial. Faktor pertama adalah arang kusambi yang terdiri dari tiga level, yaitu kontrol, 5 t/ha, 10 t/ha. Faktor kedua adalah konsentrasi teh kompos yang terdiri dari tiga level, yaitu: kontrol, 1:5, 1:10. Teh kompos diberikan setiap minggu semenjak tanaman berumur 7 sampai 28 hari. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari – Februari 2017 di lahan percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Timor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian arang kusambi 5 t/ha dan teh kompos dengan konsentrasi perbandingan 1:5 secara nyata memberikan hasil tanaman terbaik yaitu pada bobot segar tanaman (122,30 g) dan bobot segar tajuk (106,24 g). Bayam hijau merupakan salah satu sayuran daun terpenting di Asia dan Afrika. Pupuk yang sangat baik bagi pertumbuhan bayam adalah pupuk organik. Pupuk organik yang dikenal salah satunya adalah teh kompos yang dapat dikombinasikan dengan arang kusambi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teh kompos dan arang kusambi terhadap pertumbuhan bayam hijau. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial. Faktor pertama adalah arang kusambi yang terdiri dari tiga level, yaitu kontrol, 5 t/ha, 10 t/ha. Faktor kedua adalah konsentrasi teh kompos yang terdiri dari tiga level, yaitu: kontrol, 1:5, 1:10. Teh kompos diberikan setiap minggu semenjak tanaman berumur 7 sampai 28 hari. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari – Februari 2017 di lahan percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Timor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian arang kusambi 5 t/ha dan teh kompos dengan konsentrasi perbandingan 1:5 secara nyata memberikan hasil tanaman terbaik yaitu pada bobot segar tanaman (122,30 g) dan bobot segar tajuk (106,24 g). 
Analisis Pendapatan Usahatani Kangkung Darat di Desa Takin Kecamatan Bikomi Tengah Kabupaten Timor Tengah Utara
Timor Tengah Utara (TTU) merupakan kabupaten yang sebagian masyarakat berusahatani sayur-sayuran untuk memenuhi kebutuhan hidup dan juga untuk diperdagangkan. Desa Takin adalah salah satu desa yang memproduksi sayur seperti sayur kangkung darat terbanyak di kecamatan Bikomi Tengah, kabupaten TTU tetapi petani di desa Takin tidak melakukan analisis usahatani untuk mengetahui besarnya biaya produksi, penerimaan dan pendapatan mereka dari usahatani kangkung darat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) gambaran usahatani kangkung darat; 2) pendapatan yang diperoleh dari usahatani kangkung darat; dan 3) keuntungan relatif yang diperoleh dari usahatani sayur kangkung darat di desa Takin, kecamatan Bikomi Tengah, kabupaten TTU. Penelitian dilaksanakan di desa Takin, kecamatan Bikomi Tengah, Kabupaten TTU, pada bulan Oktober 2017 sampai Januari 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah semua petani di desa Takin, yang mengusahakan kangkung darat yang berjumlah 150 KK dengan metode pengambilan sampel purposive sampling sehingga diambil 40 responden. Pertimbangan utama dalam penentuan sampel adalah responden telah mengusahakan sayur kangkung darat paling tidak tiga tahun atau lebih. Untuk mengetahui gambaran umum usahatani sawi maka digunakan metode analisis deskriptif kualitatif, sedangkan mengetahui pendapatan usahatani kangkung darat maka dilakukan analisis pendapatan. Untuk mengetahui keuntungan relatif dari usahatani sayur kangkung darat digunakan analisis R/C Rasio. Hasil penelitian menunjukkan tahapan usahatani kangkung darat yang dilakukan di desa Takin meliputi persiapan lahan, pemberian pupuk dasar, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen. Biaya yang dikeluarkan meliputi biaya tetap dan biaya variabel dengan rata-rata biaya sebesar Rp333.960,41 dan total biaya sebesar Rp13.358.416,67. Total penerimaan usahatani kangkung darat dalam satu kali musim tanam sebesar Rp102.250.000,00 sehingga petani memperoleh rata-rata permintaan sebesar Rp2.556.250,00. Total pendapatan kangkung darat sebesar Rp88.891.583,33 dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp2.222.289,58. Rata-rata nilai R/C Ratio adalah 7,36 sehingga kegiatan usahatani kangkung darat yang dilakukan oleh petani di desa Takin layak untuk dikembangkan karena menguntungkan secara ekonomis. 
Analisis Pendapatan Usahatani Tumpangsari Palawija di Desa Letneo Selatan dan Desa Unini Kecamatan Insana Barat
Desa Letneo Selatan dan desa Unini adalah dua desa yang terletak di dataran kaki gunung Basamtasa kecamatan Insana Barat yang masyarakatnya menjalankan usahatani palawija dengan pola tanam tumpangsari. Komoditi palawija yang ditanam adalah jagung lokal putih, jagung lokal kuning, kacang tanah, kacang hijau dan ubi kayu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) gambaran umum usahatani palawija; dan 2) pendapatan usahatani palawija di desa Letneo Selatan dan desa Unini, kecamatan Insana Barat, kabupaten TTU yang dilaksanakan di desa Letneo Selatan dan Desa Unini, kecamatan Insana Barat, Kabupaten TTU, pada bulan Agustus sampai Desember 2017. Penentuan sampel dilakukan dengan metode purposive samling dengan kriteria memiliki luas lahan >40 are dan menggunakan pola tanam tumpangsari, sehingga sampel yang digunakan adalah sebanyak 30 orang. Untuk mengetahui gambaran umum usahatani palawija maka digunakan metode analisis deskriptif kualitatif sedangkan mengetahui pendapatan usahatani palawija maka dilakukan analisis pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan usahatani palawija di desa Letneo Selatan dan desa Unini, kecamatan Insana Barat dilakukan dengan pola tanam tumpangsari tanaman jagung lokal putih, jagung lokal kuning, kacang tanah, kacang hijau dan ubi kayu. Terdapat juga kacang tali yang tidak dianalisis dalam penelitian ini. Tahap-tahap usahatani yang dilakukan meliputi persiapan lahan, persiapan benih, penanaman, penyulaman, penyiangan atau penyemprotan pestisida, panen dan pasca panen. Selama melakukan usahatani, petani mengeluarkan total biaya sebesar Rp33.565.625,00 dengan rata-rata biaya Rp1.118.854,17 yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Total penerimaan usahatani palawija dalam satu kali musim tanam sebesar Rp232.895.000,00 dengan rata-rata penerimaan setiap petani sebesar Rp7.763.167,00 sehingga petani memperoleh total pendapatan Rp.199.329.375,00 dengan rata-rata pendapatan setiap petani sebesar Rp6.644.312,50 dengan perincian pendapatan dari jagung lokal putih sebesar Rp2.342.029,17, dari jagung lokal kuning sebesar Rp1.539.529,17, dari kacang tanah sebesar Rp309.029,17, dari kacang hijau sebesar Rp261.195,83, dan dari ubi kayu sebesar Rp2.192.529,17
Pengaruh Kepadatan Kandang terhadap Konsumsi Ransum, Konversi Ransum dan Pertambahan Berat Badan Harian (PBBH) Ayam Broiler
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kepadatan kandang terhadap konsumsi ransum, konversi ransum dan PBBH ayam broiler. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai Februari 2018. Kandang komunal tipe lantai yang dibagi dalam 3 blok di mana tiap blok terdiri dari 5 m2, sehingga total keseluruhannya adalah 15 m2. Kandang dibuat dengan menggunakan bambu sebagai batas antara tiap m2. Setiap m2 dilengkapi dengan tempat makan dan minum dan ternak ditempatkan sesuai perlakuan; R0 = Kepadatan 4 ekor/m2, R1 = Kepadatan 5 ekor/m2, R2 = Kepadatan 6 ekor/m2. Lantai kandang ditaburi dengan kapur agar mengurangi dampak pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dan juga bau amonia, diikuti dengan pemberian sekam padi dengan ketebalan 5 cm sebagai liter. Kandang dan peralatan kandang disucihamakan dengan desinfektan. Variabel yang dilihat adalah konsumsi ransum, pertambahan berat badan, dan konversi ransum. Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 5 ulangan. dan data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan menggunakan software SAS versi 9.1. Dapat disimpulkan bahwa konsumsi ransum dan pertambahan berat badan terbaik adalah pada kepadatan kandang 5 tertinggi 5 ekor/m2 dan konversi ransum terbaik adalah pada kepadatan kandang 6 ekor/m2.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kepadatan kandang terhadap konsumsi ransum, konversi ransum dan PBBH ayam broiler. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai Februari 2018. Kandang komunal tipe lantai yang dibagi dalam 3 blok di mana tiap blok terdiri dari 5 m2, sehingga total keseluruhannya adalah 15 m2. Kandang dibuat dengan menggunakan bambu sebagai batas antara tiap m2. Setiap m2 dilengkapi dengan tempat makan dan minum dan ternak ditempatkan sesuai perlakuan; R0 = Kepadatan 4 ekor/m2, R1 = Kepadatan 5 ekor/m2, R2 = Kepadatan 6 ekor/m2. Lantai kandang ditaburi dengan kapur agar mengurangi dampak pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dan juga bau amonia, diikuti dengan pemberian sekam padi dengan ketebalan 5 cm sebagai liter. Kandang dan peralatan kandang disucihamakan dengan desinfektan. Variabel yang dilihat adalah konsumsi ransum, pertambahan berat badan, dan konversi ransum. Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 5 ulangan. dan data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan menggunakan software SAS versi 9.1. Dapat disimpulkan bahwa konsumsi ransum dan pertambahan berat badan terbaik adalah pada kepadatan kandang 5 tertinggi 5 ekor/m2 dan konversi ransum terbaik adalah pada kepadatan kandang 6 ekor/m2