Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
    604 research outputs found

    Aplikasi Jenis Teh Kompos dan Takaran Biochar terhadap Pertumbuhan Serta Produksi Biomassa Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Sasi Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten TTU yang terdiri dari 2 masa produksi yaitu pada 45 HST dan 90 HST. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi jenis teh kompos dan takaran biochar terhadap pertumbuhan serta produksi biomassa rumput gajah (Pennisetum  purpureum). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (Faktorial) dengan kombinasi perlakuan 4 x 3 dengan 3 ulangan. Faktor petama adalah teh kompos yang terdiri dari T0 = tanpa teh kompos. T1 = teh kompos berbahan dasar feses ayam, T2 = teh kompos berbahan dasar feses kambing dan T3 = teh kompos berbahan dasar feses sapi dan faktor ke dua adalah D0 = tanpa biochar, D1 = biochar 250 g, D2 = biochar 500 g. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman rumput Gajah yang mendapat perlakuan teh kompos  berbahan dasar feses ayam dan Biochar 500 g menampilkan pertumbuhan tinggi tanaman yang terbaik serta berbeda signifikan dengan perlakuan lainnya baik pada umur tanaman 24, dan 46 HST sedangkan untuk pertumbuhan jumlah helai daun yang terbaik serta berbeda signifikan dengan perlakuan lainnya baik pada umur tanaman 24, 46, 68 dan 90 HST. pertumbuhan diameter batang yang terbaik terdapat pada perlakuan teh kompos berbahan dasar feses ayam. Untuk berat segar daun terjadi interaksi antara pemberian teh kompos berbahan dasar feses ayam dan dosis biochar 500 g/pot pada berat segar daun pada pemangkasan 46 HST sedangkan berat kering daun, berat segar akar dan berat kering akar tidak terjadi interaksi antara pemberian jenis teh kompos dan biochar pada pengamatan bobot kering daun. Disimpulkan bahwa perlakuan aplikasi teh kompos berbahan dasar feses ayam dab biochar 500 g/pot mampu meningkatkan produktivitas tanaman (tinggi tanaman, jumlah helai daun, diameter batang, berat segar daun, berat kering daun) rumput gajah yang lebih baik karena dalam teh kompos berbahan dasar feses ayam mengandung unsur N sebesar 0,174%, P sebesar 0,260% dan K sebesar 0,137%, sedangkan biochar dari bahan dasar sekam padi mengandung unsur N sebesar 1,318%, unsur P sebesar 0,418%, dan unsur K sebesar 1,506% memberikan hasil yang baik namun belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap nilai parameter pertumbuhan dan produksi rumput gajah.Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Sasi Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten TTU yang terdiri dari 2 masa produksi yaitu pada 45 HST dan 90 HST. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi jenis teh kompos dan takaran biochar terhadap pertumbuhan serta produksi biomassa rumput gajah (Pennisetum  purpureum). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (Faktorial) dengan kombinasi perlakuan 4 x 3 dengan 3 ulangan. Faktor petama adalah teh kompos yang terdiri dari T0 = tanpa teh kompos. T1 = teh kompos berbahan dasar feses ayam, T2 = teh kompos berbahan dasar feses kambing dan T3 = teh kompos berbahan dasar feses sapi dan faktor ke dua adalah D0 = tanpa biochar, D1 = biochar 250 g, D2 = biochar 500 g. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman rumput Gajah yang mendapat perlakuan teh kompos  berbahan dasar feses ayam dan Biochar 500 g menampilkan pertumbuhan tinggi tanaman yang terbaik serta berbeda signifikan dengan perlakuan lainnya baik pada umur tanaman 24, dan 46 HST sedangkan untuk pertumbuhan jumlah helai daun yang terbaik serta berbeda signifikan dengan perlakuan lainnya baik pada umur tanaman 24, 46, 68 dan 90 HST. pertumbuhan diameter batang yang terbaik terdapat pada perlakuan teh kompos berbahan dasar feses ayam. Untuk berat segar daun terjadi interaksi antara pemberian teh kompos berbahan dasar feses ayam dan dosis biochar 500 g/pot pada berat segar daun pada pemangkasan 46 HST sedangkan berat kering daun, berat segar akar dan berat kering akar tidak terjadi interaksi antara pemberian jenis teh kompos dan biochar pada pengamatan bobot kering daun. Disimpulkan bahwa perlakuan aplikasi teh kompos berbahan dasar feses ayam dab biochar 500 g/pot mampu meningkatkan produktivitas tanaman (tinggi tanaman, jumlah helai daun, diameter batang, berat segar daun, berat kering daun) rumput gajah yang lebih baik karena dalam teh kompos berbahan dasar feses ayam mengandung unsur N sebesar 0,174%, P sebesar 0,260% dan K sebesar 0,137%, sedangkan biochar dari bahan dasar sekam padi mengandung unsur N sebesar 1,318%, unsur P sebesar 0,418%, dan unsur K sebesar 1,506% memberikan hasil yang baik namun belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap nilai parameter pertumbuhan dan produksi rumput gajah

    Pengaruh Pemberian Tepung Ikan dengan Level yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Itik Peking

    Get PDF
    Penelitian ini di laksanakan selama 60 hari yang berlokasi di kilo meter 7, Kelurahan Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten, Timor Tengah Utara terhitung bulan Oktober- November 2017. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan itik peking yang diberi tepung ikan dengan level berbeda. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan Ransum terdiri dari R0: Dedak padi 60% +Jagung giling 20% + 20 Tepung daun turi +Tanpa Tepung ikan R1: Dedak padi 60% + Jagung giling 20% + Tepung daun turi 20% +Tepung ikan 2% R2: Dedak padi 60% + Jagung giling 20% + Tepung daun turi 20% + Tepung ikan 4% R3: Dedak padi 60% + Jagung giling 20% + Tepung daun turi 20% + Tepung ikan 6%. Hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa Pemberian Tepung Ikan dalam ransum memberikan pengaruh sangat nyata terhadap nilai pertambahan berat badan harian, konsumsi ransum itik peking. Disimpulkan bahwa pemberian tepung ikan pada level 6% (R3) mampu menghasilkan pertambahan berat badan harian (PBBH) sebesar 20,56 g, sedangkan konsumsi ransum dan konversi ransum perlakuan R3memiliki nilai yang lebih rendah dibanding perlakuan R0, R1, dan R2, sehingga dapat dikatakan bahwa ransum R3 telah memiliki nilai gizi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ternak serta dapat meningkatkan pertambahan berat badan ternak, menurunkan nilai konversi ransum dan menekan konsumsi pakan

    Efektivitas Biolarvasida Ekstrak Daun Sirsak Dan Serai Wangi Terhadap Larva Nyamuk Aedes aegypti

    Get PDF
    This study aims to determine the activity of biolarvasida Annona muricata L leaf extract and Cymbopogon nardus L to Aedes aegypti larvae. The experimental design used was a randomized block design (RAK). Treatment of Annona muricata L leaf extract and Cymbopogon nardus L extract were 750ppm, 1000ppm, 1500ppm, 2000ppm, and 5000ppm with contact time 20min, 45min, 65min, 90min and replication counted 3 times with 15 experiments. To know the effective concentration (LC50), the data were analyzed using Minitab 16 programme. The sample of this research is Annona muricata L leaf taken in community garden of Kefa Selatan Maslete Village, Cymbopogon nardus L taken in Oenenu Village. Aedes aegypti larvae were taken at a water shelter at BTN Naiola Village, South Bikomi District. The results showed that Annona muricata L leaf extract and lemon grass have an effective killing effect against Aedes aegypti larvae. A more effective extract in killing mosquito larvae is Annona muricata L leaf extract compared to the extract of Cymbopogon nardus L fragrance seen in the percentage of larval deaths. The LC50 score reached 214 in the 90th minute. This indicates that enough toxicity. Effective concentration is found at concentration 2000ppm with contact time for 90 minutes with protection power of 96.66%.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas biolarvasida ekstrak daun sirsak dan serai wangi terhadap larva  Aedes aegypti. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK). Perlakuan konsentrasi ekstrak daun sirsak dan serai wangi yaitu 750ppm, 1000ppm, 1500ppm, 2000ppm, dan 5000ppm dengan waktu kontak 20 menit, 45 menit, 65 menit, 90 menit dan jumlah ulangan sebanyak 3 kali dengan 15 kali percobaan. Untuk mengetahui konsentrasi efektif (LC50), data dianalisis dengan menggunakan program Minitab 16. Sampel penelitian ini adalah daun sirsak diambil di kebun masyarakat Kelurahan Kefa Selatan Maslete, Serai Wangi diambil di Desa Oenenu. Larva Aedes aegypti diambil pada tempat penampungan air di BTN Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak daun sirsak dan serai wangi memiliki daya bunuh yang efektif terhadap larva Aedes aegypti. Ekstrak yang lebih efektif dalam membunuh larva nyamuk adalah ekstrak daun sirsak dibandingan ekstrak serai wangi terlihat pada jumlah persentase kematian larva. Nilai LC50 mencapai angka 214 pada menit ke 90. Hal ini menunjukan bahwa toksisitas cukup. Konsentrasi efektif terdapat pada konsentrasi 2000ppm dengan waktu kontak selama 90 menit dengan daya proteksi sebesar 96,66%

    Isolasi dan identifikasi kapang Rhizopus pada tempe gude (Cajanus cajan L.)

    Get PDF
    The research has been done to isolate Rhizopus mold in Pigeon pea tempeh, as it is known that Rhizopus is a very important mold in tempeh fermentation process. This study begins with the manufacture of tempeh using pigeon pea as a substrate, and then inoculated with molds of traditional inoculum (usar), incubated at room temperature for 48-72 hours. Mold that grows on pigeon pea isolated and identified by dilution methods and spread plates. The result showed that pigeon pea as growth substrate for Rhizopus sp. Pigeon pea tempeh’s molds was dominated by white-greyish molds and white grey brownish that identified similar to Rhizopus oligosporus.Penelitian yang telah dilakukan ini bertujuan untuk mengisolasi kapang Rhizopus pada tempe gude, seperti diketahui bahwa Rhizopus adalah kapang yang sangat penting dalam proses fermentasi tempe. Penelitian ini diawali dengan pembuatan tempe menggunakan biji gude sebagai substrat, yang diinokulasi dengan inokulum tradisional (usar), diinkubasi pada temperatur kamar sampai menjadi tempe (48-72 jam). Kapang tempe gude diisolasi dan diidentifikasi dengan menggunakan metode pengenceran berseri dan spread plate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji gude sebagai substrat pertumbuhan Rhizopus sp. Kapang tempe gude didominasi oleh kapang berwarna putih keabu-abuan dan putih abu-abu kecoklatan yang diidentifikasi mirip dengan Rhizopus oligosporus

    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Usahatani Cabe Rawit Merah di Desa Tapenpah Kecamatan Insana Kabupaten Timor Tengah Utara

    Get PDF
    Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) merupakan salah satu kabupaten yang memiliki lahan pertanian yang luas dan potensial untuk berusahatani cabe rawit merah. Desa Tapenpah merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Insana yang masyarakatnya berusahatani cabe rawit merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) gambaran usahatani; 2) faktor-faktor yang mempengaruhi produksi; dan 3) Break Event Point (BEP) usahatani cabe rawit merah di desa Tapenpah, kecamatan Insana, kabupaten TTU. Penelitian dilaksanakan di desa Tapenpah, kecamatan Insana, kabupaten TTU pada bulan Apri- Juni 2017. Metode pengambilan data yang digunakan adalah metode survei. Sampel diambil dengan metode sensus, sebanyak 15 orang dijadikan sampel. Untuk mengetahui gambaran usahatani digunakan metode analisis deskriptif kualitatif, untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi usahatani cabe rawit merah digunakan analisis Cobb-Douglas. Selanjutnya juga dihitung Break Event Point (BEP). Hasil penelitian menunjukkan usahatani cabe rawit merah di desa Tapenpah dilakukan secara monokultur dengan luas lahan yang berbeda-beda berkisar antara 9-25 are. Usahatani dilakukan dengan tahapan 1) persiapan berupa pembersihan lahan; 2) pengolahan lahan; 3) benih cabe rawit merah disemaikan; 4) penanaman dilakukan setelah bibit berumur 21 hari; 5) pemeliharaan; 6) panen; dan 7) buah cabe rawit merah disimpan pada tempat yang kering dan sejuk, kemudian cabe rawit merah dijual. Faktor modal, luas lahan, tenaga kerja, pengalaman usahatani, pendidikan petani, dan pupuk kandang secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap produksi cabe rawit merah. Secara parsial faktor pengalaman usahatani, pendidikan petani dan pupuk kandang memiliki pengaruh yang positif, faktor tenaga kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap produksi usahatani cabe rawit merah. Sedangkan modal dan luas lahan tidak berpengaruh terhadap produksi usahatani cabe rawit merah. Biaya produksi usahatani cabe rawit merah dalam satu kali musim tanam  Rp5.530.667,00 dengan harga jual ditingkat petani sebesar Rp60.000,00 per kilogram sehingga BEP rupiah sebesar Rp2.952.602,00 dan BEP unit sebesar 49 kg.&nbsp

    Faktor-Faktor Produksi yang Mempengaruhi Usaha Pembibitan Sapi Bali di Kelompok Tani Cipta Kasih Desa Kuaken Kecamatan Noemuti Timur

    Get PDF
    Sapi Bali merupakan salah satu komoditi unggulan dan penggerak roda perekonomian di Kabupaten Timor Tengah Utara. Selama ini kendala utama petani dalam meningkatkan populasi ternak sapi bali adalah keterbatasan jumlah sapi bibit. Salah satu penyebabnya adalah banyak sapi betina produktif yang dipotong, dan pengelolaan sistem usaha ternak yang masih belum dikelola dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor produksi apa saja yang berpengaruh terhadap usaha pembibitan sapi bali di Kelompok Tani Cipta Kasih, Desa Kuaken, Kecamatan Noemuti Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara. Penelitian ini dilaksanakan selama 1 (satu) bulan yakni pada bulan Mei 2018 sampai dengan selesai. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survey dan melakukan penelitian langsung di lapangan, berupa memberikan pertanyaan langsung kepada para responden. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a). Komponen modal dalam usaha pembibitan sapi bali; b). Penggunaan tenaga kerja; c). Faktor penguasaan lahan, dan d). Manajemen pemeliharaan dalam usaha pembibitan sapi bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum faktor-faktor jumlah penguasaan lahan dan manajemen pemeliharaan terutama pengelolaan aspek reproduksi (calving interval) yang mencapai 18 bulan berdampak pada rendahnya tingkat produktivitas ternak sapi bali.Sapi Bali merupakan salah satu komoditi unggulan dan penggerak roda perekonomian di Kabupaten Timor Tengah Utara. Selama ini kendala utama petani dalam meningkatkan populasi ternak sapi bali adalah keterbatasan jumlah sapi bibit. Salah satu penyebabnya adalah banyak sapi betina produktif yang dipotong, dan pengelolaan sistem usaha ternak yang masih belum dikelola dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor produksi apa saja yang berpengaruh terhadap usaha pembibitan sapi bali di Kelompok Tani Cipta Kasih, Desa Kuaken, Kecamatan Noemuti Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara. Penelitian ini dilaksanakan selama 1 (satu) bulan yakni pada bulan Mei 2018 sampai dengan selesai. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survey dan melakukan penelitian langsung di lapangan, berupa memberikan pertanyaan langsung kepada para responden. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a). Komponen modal dalam usaha pembibitan sapi bali; b). Penggunaan tenaga kerja; c). Faktor penguasaan lahan, dan d). Manajemen pemeliharaan dalam usaha pembibitan sapi bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum faktor-faktor jumlah penguasaan lahan dan manajemen pemeliharaan terutama pengelolaan aspek reproduksi (calving interval) yang mencapai 18 bulan berdampak pada rendahnya tingkat produktivitas ternak sapi bali

    Pengaruh Variasi Warna Ransum terhadap Berat Potong, Berat Karkas, Persentase Karkas dan Berat Non Karkas Ayam Broiler

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan di Kandang Percobaan milik Program Studi Peternakan pada bulan Januari sampai Februari 2018 dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh variasi warna ransum terhadap berat potong, berat karkas, berat non karkas dan persentase karkas broiler. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, yang terdiri dari RO : ransum berwarna coklat, R1 : ransum berwarna hijau, R2 : ransum berwarna merah, R3 : ransum berwarna kuning. Variabel yang di amati yakni berat potong, berat karkas, berat non karkas dan Persentase karkas. Variabel yang dilihat adalah berat potong, berat karkas, berat non karkas dan persentase karkas. Hasil analisis statistik menunjukkan variasi warna ransum berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap berat potong broiler. Hasil analisis statistik perlakuan penambahan warna dalam pakan ayam broiler tidak berpengaruh nyata terhadap berat karkas walaupun demikian terhadap berat karkas yang tertinggi dan terendah. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata warna pakan terhadap berat non karkas ayam. Hasil analisis menunjukkan bahwa persentase karkas R0 tidak berbeda dengan R1 dan R2 tapi berbeda dengan R3. Disimpulkan bahwa penambahan warna dalam pakan tidak dimaksudkan untuk menambah nilai nutrisi pakan namun berpengaruh terhadap sifat khas pakan itu sendiri baik secara langsung ataupun tidak langsung. Penambahan warna (coklat, merah, hijau dan kuning) dalam pakan tidak memberikan pengaruh secara nyata terhadap berat potong, berat karkas, berat non karkas dan persentase karkas

    Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Populasi Ternak Kerbau di Kecamatan Biboki Anleu Kabupaten Timor Tengah Utara

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat populasi ternak kerbau di Kecamatan Biboki Anleu. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara purpose sampling yang melibatkan seluruh peternak di wilayah setempat. Variabel penelitian meliputi karakteristik peternak, populasi ternak, calving rate, mortalitas, tingkat penjualan, natural increase, dan tata laksana pemeliharaan ternak kerbau di Kecamatan Biboki Anleu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan peternak  didominasi oleh Sekolah Dasar/Sekolah Rakyat (SR) sebanyak 22 orang (56,4%), dengan berprofesi sebagai petani peternak sebanyak 38 orang (97,4%).  Umur peternak sebagian besar berkisar 45-68 tahun sebanyak 22 orang (56,4%) dengan pengalaman beternak 21 tahun. Jumlah pemilihan ternak didominasi oleh  peternak yang memelihara kerbau sebesar 1-5 ekor sebanyak 21 orang (50,8%).   Tingkat populasi kerbau rata-rata sebesar 281 ± 6,39 dengan rata-rata calving rate dan mortalitas masing-masing sebesar 85±2,43 ekor (57,55%) dan 19,8±1,11. Selain itu, tingkat penjualan pada ternak muda sebesar 25± 1,17, dan ternak dewasa sebesar 28± 1,59. Perkembangan ternak kerbau di Kecamatan Biboki Anleu positif dengan persentase angka Natural Increase (NI) sebesar 19,2%, dengan  Location Quationts (LQ) sebesar 5,77. Ketersediaan pejantan untuk mengawini induk cukup memadai sebesar 32,25±5,65 dengan rasio pejantan: betina  1:5. Secara umum motivasi peternak memelihara ternak adalah untuk memenuhi biaya pendidikan anak, kebutuhan keluarga, sosial budaya (adat) dan pengadaan perlengkapan pertanian.  Dapat disimpulkan bahwa usaha pemeliharaan ternak kerbau di Kecamatan Biboki Anleu sangat potensial karena didukung oleh wilayah yang cukup luas dengan persentase angka Natural Increase (NI), Calving Rate (CR) dan Location Quationts (LQ) yang cukup tinggi, serta rasio jantan : betina yang memadai.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat populasi ternak kerbau di Kecamatan Biboki Anleu. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara purpose sampling yang melibatkan seluruh peternak di wilayah setempat. Variabel penelitian meliputi karakteristik peternak, populasi ternak, calving rate, mortalitas, tingkat penjualan, natural increase, dan tata laksana pemeliharaan ternak kerbau di Kecamatan Biboki Anleu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan peternak  didominasi oleh Sekolah Dasar/Sekolah Rakyat (SR) sebanyak 22 orang (56,4%), dengan berprofesi sebagai petani peternak sebanyak 38 orang (97,4%).  Umur peternak sebagian besar berkisar 45-68 tahun sebanyak 22 orang (56,4%) dengan pengalaman beternak 21 tahun. Jumlah pemilihan ternak didominasi oleh  peternak yang memelihara kerbau sebesar 1-5 ekor sebanyak 21 orang (50,8%).   Tingkat populasi kerbau rata-rata sebesar 281 ± 6,39 dengan rata-rata calving rate dan mortalitas masing-masing sebesar 85±2,43 ekor (57,55%) dan 19,8±1,11. Selain itu, tingkat penjualan pada ternak muda sebesar 25± 1,17, dan ternak dewasa sebesar 28± 1,59. Perkembangan ternak kerbau di Kecamatan Biboki Anleu positif dengan persentase angka Natural Increase (NI) sebesar 19,2%, dengan  Location Quationts (LQ) sebesar 5,77. Ketersediaan pejantan untuk mengawini induk cukup memadai sebesar 32,25±5,65 dengan rasio pejantan: betina  1:5. Secara umum motivasi peternak memelihara ternak adalah untuk memenuhi biaya pendidikan anak, kebutuhan keluarga, sosial budaya (adat) dan pengadaan perlengkapan pertanian.  Dapat disimpulkan bahwa usaha pemeliharaan ternak kerbau di Kecamatan Biboki Anleu sangat potensial karena didukung oleh wilayah yang cukup luas dengan persentase angka Natural Increase (NI), Calving Rate (CR) dan Location Quationts (LQ) yang cukup tinggi, serta rasio jantan : betina yang memadai

    Perubahan Kadar Vitamin Dan Mineral Pada Fermentasi Tempe Gude (Cajanus cajan L.)

    Get PDF
    Tempeh is an Indonesian traditional food rich in vitamins and minerals easily digested by the body. Materials commonly used as tempe fermentation substrate are soybean (Glicyne max), but not all areas in Indonesia can be overgrown by soybeans, therefore it is needed alternative substrates for tempeh fermentation. Pigeon pea (Cajanus cajan L.) can be used as substrate of tempeh fermentation alternative by soybean, therefore it is needed alternative substrate for tempeh fermentation. this is because pigeon pea has a fairly good nutritional content and has the content of vitamins and minerals needed by the body. However, some of these minerals are bound to phytic acid compounds which are trypsin inhibitors, so the process of processing such as fermentation is one way to decompose phytic acid compounds. In this research has been done in the form of determination testing of ash, nitrogen, vitamin and mineral content by standard method, done before and after fermentation. Ash content decreased after fermentation, nitrogen content, iron content, calcium content and phosphorus content also decreased, while vitamin B12 has increased although not significant.Tempe merupakan makanan tradisional Indonesia yang kaya akan vitamin dan mineral mudah dicerna oleh tubuh. Bahan yang lazimnya digunakan sebagai substrat fermentasi tempe adalah kacang kedelai (Glicyne max), akan tetapi tidak semua daerah di Indonesia dapat ditumbuhi oleh  kacang kedelai, oleh karena itu dibutuhkan substrat alternative untuk fermentasi tempe. Kacang gude (Cajanus cajan L.)  dapat dijadikan sebagai substrat alternatif fermentasi tempe, hal ini dikarenakan kacang gude mempunyai kandungan gizi yang cukup baik dan memiliki kandungan vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Namun demikian sebagian mineral tersebut terikat dengan senyawa asam fitat yang merupakan tripsin inhibitor, sehingga proses pengolahan seperti fermentasi merupakan salah satu cara untuk menguraikan senyawa asam fitat. Pada penelitian ini telah dilakukan pengujian berupa penentuan kadar abu, nitrogen, vitamin dan mineral dengan metode standar, dilakukan sebelum dan setelah fermentasi. Kadar abu mengalami penurunan setelah fermentasi, kadar nitrogen, kadar besi, kadar kalsium dan kadar fosfor juga mengalami penurunan, sedangkan vitamin B12 mengalami peningkatan meskipun tidak signifikan

    Strategi Pengembangan Usaha Penggemukan Ternak Sapi Potong di Kelompok Tani Nekmese di Desa Usapinonot Kecamatan Insana Barat

    Get PDF
    Agar usaha ternak sapi potong yang berkembang dengan baik dan memberikan manfaat bagi para anggota kelompok tani maka perlu ditentukan strategi pengembangan usaha yang tepat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui 1) gambaran kelompok tani usaha penggemukan ternak sapi potong; 2) mengetahui strategi pengembangan usaha penggemukan ternak sapi potong di kelompok tani Nekmese, Desa Usapinonot, Kecamatan Insana Barat, Kabupaten TTU. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan November 2017 sampai April 2018. Untuk mengetahui tujuan pertama digunakan analisis deskriptif. Sedangkan untuk mengetahui strategi yang tepat dalam pengembangan sapi potong digunakan matriks SWOT. Berdasarkan hasil penelitian, alternatif strategi S-O yang dirumuskan yaitu i) meningkatkan jumlah ternak sapi potong untuk memenuhi kebutuhan pasar; ii) mengoptimalkan kemampuan peternak dalam mengembangkan usaha penggemukan ternak sapi potong; dan iii) ciptakan suatu wadah yang dapat menampung dan mengelola sendiri modal usaha kelompok. Alternatif strategi W-O yang dirumuskan yaitu i) mengembangkan dan meningkatkan kemampuan SDM peternak dalam berusaha ternak sapi potong; dan ii) membuka peluang jaringan kerjasama dengan berbagai pihak baik dalam hal pengembangan usaha maupun pemasaran ternak. Alternatif strategi S-T yang dirumuskan yaitu i) mengadakan pelatihan pengenalan pakan dan waktu pengambilan pakan serta pemberian pakan; dan ii) pengadaan pelatihan mengenai penggunaan obat-obatan dan pemberian kekebalan tubuh serta sanitasi yang aman bagi ternak sapi potong. Alternatif strategi W-T yang dirumuskan yaitu i) mengadakan pelatihan dan pemberdayaan kepada peternak dan SDM petugas teknis peternakan di desa; dan ii) melakukan pembinaan atau pelatihan-pelatihan kepada peternak untuk meningkatkan dan mempertahankan bobot badan maupun kualitas ternak sapi potong

    564

    full texts

    604

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇