Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
    604 research outputs found

    Tampilan Bobot Badan, Ukuran Linear Tubuh, Serta Umur dan Skor Kondisi Tubuh Ternak Sapi Bali yang Dipotong pada RPH Kota Kefamenanu

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan di RPH Kota Kefamenanu Kabupaten TTU dari tanggal 28 November 2017 sampai dengan tanggal 3 Februari 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tampilan bobot badan, ukuran linear tubuh, serta umur dan skor kondisi tubuh ternak Sapi Bali yang dipotong pada RPH Kota Kefamenanu. Dalam penelitian ini digunakan 45 ekor ternak Sapi Betina pada umur 4,5 tahun dan 5,5 tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengukuran langsung pada ternak sapi yang dipotong di RPH Kefamenanu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot badan pada umur 4,5 tahun sebesar 198,32 kg, panjang badan 96,32 cm, lingkar dada 146,59 cm, tinggi pundak 109,18 cm dan skor kondisi tubuh sebesar 4,32. Ternak umur 5,5 tahun memiliki rata-rata bobot badan 214,22 kg, panjang badan 98,22 cm, lingkar dada 149,13 cm, tinggi pundak 109,83 cm dan skor kondisi tubuh sebesar 4,00. Nilai koefisien korelasi pada tiap umur memiliki keeratan yang berbeda-beda. Keeratan antara lingkar dada dengan bobot badan pada umur 4,5 sebesar (r) 0,735. Keeratan hubungan antara tinggi pundak dengan bobot badan pada umur 4,5 sebesar (r) 0,445. Keeratan antara skor kondisi tubuh dengan bobot badan pada pada umur 5,5 tahun sebesar (r) 0,59. Secara keseluruhan lingkar dada dan bobot badan memiliki nilai korelasi lebih tinggi sebesar (r) 0,735. Dapat disimpulkan bahwa terdapat variasi bobot badan dan ukuran linear tubuh serta skor kondisi tubuh induk Sapi Bali yang dipotong pada RPH Kota Kefamenanu. Secara keseluruhan, lingkar dada memiliki keeratan yang lebih baik dengan bobot badan bila dibandingkan dengan tinggi pundak dan panjang badan.Penelitian ini dilaksanakan di RPH Kota Kefamenanu Kabupaten TTU dari tanggal 28 November 2017 sampai dengan tanggal 3 Februari 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tampilan bobot badan, ukuran linear tubuh, serta umur dan skor kondisi tubuh ternak Sapi Bali yang dipotong pada RPH Kota Kefamenanu. Dalam penelitian ini digunakan 45 ekor ternak Sapi Betina pada umur 4,5 tahun dan 5,5 tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengukuran langsung pada ternak sapi yang dipotong di RPH Kefamenanu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot badan pada umur 4,5 tahun sebesar 198,32 kg, panjang badan 96,32 cm, lingkar dada 146,59 cm, tinggi pundak 109,18 cm dan skor kondisi tubuh sebesar 4,32. Ternak umur 5,5 tahun memiliki rata-rata bobot badan 214,22 kg, panjang badan 98,22 cm, lingkar dada 149,13 cm, tinggi pundak 109,83 cm dan skor kondisi tubuh sebesar 4,00. Nilai koefisien korelasi pada tiap umur memiliki keeratan yang berbeda-beda. Keeratan antara lingkar dada dengan bobot badan pada umur 4,5 sebesar (r) 0,735. Keeratan hubungan antara tinggi pundak dengan bobot badan pada umur 4,5 sebesar (r) 0,445. Keeratan antara skor kondisi tubuh dengan bobot badan pada pada umur 5,5 tahun sebesar (r) 0,59. Secara keseluruhan lingkar dada dan bobot badan memiliki nilai korelasi lebih tinggi sebesar (r) 0,735. Dapat disimpulkan bahwa terdapat variasi bobot badan dan ukuran linear tubuh serta skor kondisi tubuh induk Sapi Bali yang dipotong pada RPH Kota Kefamenanu. Secara keseluruhan, lingkar dada memiliki keeratan yang lebih baik dengan bobot badan bila dibandingkan dengan tinggi pundak dan panjang badan

    Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Bioavailabilitas Besi bagi Tumbuhan

    Get PDF
    Iron plays an important role in plant metabolism, one of which is the forming of chloroplasts. Iron is needed in small amounts but iron deficiency can cause yellow spots on the leaves, indicating failure of chlorophyll formation or known as chlorosis. Therefore, iron becomes an essential element or micronutrients whose existence is absolute must be met by plants. Iron is very abundant in nature found in the form of minerals. However, the availability of iron for plants is very low. The availability of iron is related to the solubility of iron in soil solutions or water in nature. This paper will review factors affecting the availability of iron for plants, including the effects of soil and water pH, the role of bacteria, soil organic matter and the potential reduction of soil or water. Interaction of these factors produces a certain value of pH and reduction potential (E) in water and soil. The resulting iron specimens based on the correlation between the pH value and the environmental redox reaction value can be predicted using the pourbaix diagram of iron in water and soil.Besi berperan penting dalam metabolisme tumbuhan, yang mana salah satunya adalah sebagai pembentuk kloroplas. Besi dibutuhkan dalam jumlah sedikit tetapi defisiensi besi dapat menyebabkan muncul bercak-bercak kuning pada daun, yang menandakan gagalnya pembentukan klorofil atau yang dikenal dengan klorosis. Oleh karena itu, besi menjadi unsur esensial atau unsur hara mikro yang keberadaannya mutlak harus dipenuhi oleh tumbuhan. Besi sangat melimpah di alam yang dijumpai dalam bentuk mineralnya. Namun, ketersediaan besi bagi tumbuhan sangat rendah. Ketersediaan besi berkaitan dengan kelarutan besi dalam larutan tanah atau air di alam. Tulisan ini akan mereview faktor - faktor yang mempengaruhi ketersedian besi bagi tumbuhan meliputi pengaruh pH air dan tanah, peran bakteri, material organik tanah dan potensial reduksi tanah atau air. Faktor-faktor ini berinteraksi menghasilkan nilai pH dan potensial reduksi(E) tertentu di air maupun di tanah. Spesi besi yang dihasilkan berdasarkan korelasi antara nilai pH dan nilai reaksi redoks lingkungan dapat diprediksi menggunakan diagram pourbaix Fe dalam air dan tanah

    Identifikasi Senyawa Aktif Kulit Batang Ampupu (Eucalyptus alba Reinw. Ex. Blume) dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur Fusariummoniliforme

    Get PDF
    The fungal-related diseases were responsible as one of many reasons for low production of maize in Ind`onesia. Controlling fungal contaminants using chemical is hazardous for human nowadays. Thus the need of environmental friendly vegetative-based fungicide such as from the extract of Ampupu tree bark is important. The objective of this study was to investigate the antifungal effect from Ampupu tree bark crude extract in response to growth of Fusarium sp, which responsible as the causal agent of corncob rot. The inhibition test on growth of Fusarium sp. by Ampupu tree bark crude extract was performed with diffusion well method on PDA as media. The process involved the infusion of crude extracts at 1.5%, 3.0% and 4.5% concentration, respectively, into diffusion well on each petri disk. Gas Chromatography Mass Spectrometry (GC-MS) was used to identify any active compound contained. The result showed that by in vivo treatment, crude extract of Ampupu tree bark with concentration of 1.5%, 3,0% and 4.5%, were able to inhibit the fungal growth of Fusarium miniliforme as the causal agent of corncob rot with diameter of inhibition zone 0.18 mm, 1.85 mm and 2.01 mm, respectively. The higher the concentration of the crude extract given, the larger the diameter of inhibition zone formed. There were 11 active compound found within Ampupu tree bark methanol-based extract, which could potentially become antifungal, i.e. Ethylbenzene, o-Xylene, ALPHA.-PINENE,DELTA.3-Carene, Azulene(CAS)Cyclopentacycloheptene, Tetradecane(CAS)n-Tetradecane, 2,6-Diisopropylnaphthalene, 7,9-Di-tert-butyl-1-oxaspiro(4,5)deca-6,9-dien, Hexadecanamide, 9-Octadecenamide, (Z)-(CAS)OLEOAMIDE, 1,2-Benzenedicarboxylicacid,mono(2-ethylhexyl). Produksi jagung yang rendah di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor salah satunya adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur. Pengendalian jamur dengan menggunakan bahan kimia sangat berbahaya bagi kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan usaha pengembangan  fungisida nabati yang ramah lingkungan, misalnya dengan menggunakan ekstrak kulit batang ampupu. Tujuan penelitian untuk mengetahui efek anti jamur dari ekstrak kulit batang ampupu terhadap pertumbuhan jamur Fusarium sp. yangmenyebabkan busuk tongkoljagung. Pengujian hambatan pertumbuhan Fusarium sp. oleh ekstrak kulit batang ampupu dilakukan di laboratorium dengan metode sumur difusi pada media PDA. Ekstrak dengan konsentrasi 1,5%, 3,0%, 4,5% di masukkan dalam sumur difusi pada setiap petri. Identifikasi senyawa aktif menggunakan Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara in vitro ekstrak kasar kulit batang ampupu dengan konsentrasi 1,5%, 3,0%, dan 4,5% mampu menghambat pertumbuhan jamur Fusarium moniliformedengan diameter zona hambatan  masing-masing adalah 0,18 mm, 1,85 mm, 2,01 mm. peningkatan konsentrasi ekstrak yang diberikan menyebabkan  zona hambatan yang terbentuk lebih besar. Sebelas senyawa dalam ekstrak methanol kulit batang ampupu diketahui berpotensi sebagai anti jamur  yaitu Ethylbenzene, o-Xylene, ALPHA.-PINENE,DELTA.3-Carene, Azulene(CAS)Cyclopentacycloheptene, Tetradecane(CAS)n-Tetradecane, 2,6-Diisopropylnaphthalene, 7,9-Di-tert-butyl-1-oxaspiro(4,5)deca-6,9-dien, Hexadecanamide, 9-Octadecenamide, (Z)-(CAS)OLEOAMIDE, 1,2-Benzenedicarboxylicacid,mono(2-ethylhexyl).&nbsp

    Penyakit Bukan Utama Tanaman Gandum di Kabupaten Timor Tengah Utara

    Get PDF
    Wheat (Triticum spp.) Is a cereal plant, has a fairly high nutrient content. The area of North Central Timor has prospects for wheat development. The existence of pathogens in wheat crops has not been observed and identified because there has never been any wheat cultivation in the area. The purpose of this study is to know other diseases that attack wheat crops when introduced to North Central Timor District, East Nusa Tenggara Province. The methods used were wheat cultivation, disease observation, and non-primary disease identification. Varieties of grain grown are varieties of Dewata, Selayar, and Nias. Observation of the incidence and severity of disease performed every 4 weeks. Identification of pathogens is done by morphological characterization with the help of identification keys. Laboratory research for disease identification was done in Plant Micropology Laboratory, Department of Plant Protection, Bogor Agricultural University. Other diseases that infect wheat crops are Fusarium shoots, leaf spot, Curvularia and Helminthosporium hulls, and twisted leaves. The percentage of incidence of all four diseases is very low. Gandum (Triticum spp.) adalah tanaman serealia, memiliki kandungan gizi  yang cukup tinggi. Wilayah Timor Tengah Utara mempunyai prospek bagi pengembangan  gandum. Keberadaan patogen pada pertanaman gandum belum diamati dan diidentifikasi karena belum pernah dilakukan penanaman gandum di daerah tersebut. Tujuan  penelitian ini adalah mengetahui penyakit-penyakit lain yang menyerang tanaman gandum apabila diintroduksi ke Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Metode yang digunakan adalah penanaman gandum, pengamatan penyakit dan identifikasi penyakit bukan  utama. Varietas gandum yang ditanam adalah varietas Dewata, Selayar dan Nias. Pengamatan  terhadap  kejadian dan keparahan penyakit dilakukan setiap 4 minggu. Identifikasi patogen dilakukan dengan  karakterisasi morfologi dengan bantuan kunci identifikasi. Penelitian laboratorium untuk identifikasi penyakit dilakukan di Laboratorium Mikologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor. Penyakit lain yang menginfeksi tanaman gandum adalah busuk pucuk Fusarium, bercak daun, hawar malai Curvularia dan Helminthosporium, dan daun terpilin. Persentase  kejadian keempat penyakit tersebut sangat rendah.&nbsp

    Eksplorasi Tumbuhan Obat Tradisional Desa Blata Tatin Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka

    Get PDF
    The research was distributed by the rampant use of synthetic drugs in treating various diseases, the minimal use of traditional medicine and the lack of data on traditional medicinal plants. The purpose of this research is to explore the medicinal plants in the village of Kangae Tatin, Blata, Sikka. Samples of medicinal plants are collected by exploration survey techniques after obtaining information by interviewing key informants and respondents in the village. The data information of medicinal plants is presented in the form of tabulated and described comprehensively. Results of the study found 13 species of medicinal plants used in the village of Blata Tatin i.e. sambiloto (Andrographis paniculata), bananas (Musa sp.), Hibiscus tiliaceus L., sweet potato (Ipomoea batatas), candlenut (Aleurites moluccana L.), turmeric (Curcuma domestica Val.), Kaempferia galanga L., ginger (Zingiber officinale Rosc.), coconut (Cocos nucifera), Paederia scandens Merr, Centella asiatica L., Piper betle L. and spinach (Amaranthus spinosus L.).Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya penggunaan obat sintetis dalam mengobati berbagai macam penyakit, semakin minim penggunaan obat tradisional dan kurangnya data tentang tumbuhan obat tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi tumbuhan obat yang dimanfaatkan di Desa Blata Tatin, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka. Sampel tumbuhan obat dikumpulkan dengan teknik survei eksploratif setelah memperoleh informasi dengan mewawancarai informan kunci dan responden di desa tersebut. Data informasi tumbuhan obat disajikan dalam bentuk tabulasi dan deskripsikan secara lengkap. Hasil penelitian menemukan 13 jenis tumbuhan obat yang digunakan di Desa Blata Tatin yaitu sambiloto (Andrographis paniculata), pisang (Musa sp.), waru (Hibiscustiliaceus L.), ubi jalar (Ipomoeabatatas), kemiri (Aleuritesmoluccana L.), kunyit (Curcumadomestica Val.), kencur (Kaempferiagalanga L.), jahe (Zingiberofficinale Rosc.), kelapa (Cocosnucifera), daun kentut (Paederiascandens Merr.), pegagan (Centellaasiatica L.), daun sirih (Piperbetle L.) dan bayam (Amaranthusspinosus L.)

    Evaluasi Program Pemberdayaan Masyarakat Miskin Pedesaan

    Get PDF
    Fakta yang terjadi di desa Oenenu kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) bahwa setelah program-program pemberdayaan berjalan, pemerintah desa belum melakukan evaluasi secara sistematis sebagai pertanggungjawaban dari pemerintah desa terhadap keseluruhan program. Dengan tidak dilakukan evaluasi secara baik oleh pemerintah desa untuk melihat kembali program yang telah dilakukan sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat maka sangat sulit untuk mengetahui sejauh mana suatu program pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan memberikan dampak positif kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran sejauh mana pemerintah desa Oenenu Utara melaksanakan program pemberdayaan masyarakat miskin. Penelitian dilaksanakan di desa Oenenu, kecamatan Bikomi Tengah, kabupaten TTU pada bulan Januari sampai bulan April 2017. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan masyarakat miskin di desa Oenenu yang berjumlah 12 orang, sampel berjumlah 12 orang dengan teknik pengambilan sampel jenuh. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan, wawancara, dan studi pustaka. Data dianalisa menggunakan teknik analisa data kualitatif  yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah desa dan masyarakat desa Oenenu Utara telah bersama-sama menjalankan berbagai kegiatan dalam upaya peningkatan kesejahteraan dalam bidang pendidikan, ekonomi dan peningkatan keterampilan masyarakat. Kegiatan tersebut berjalan melalui program-program antara lain pemberantasan tuna aksara, pelatihan kader, penyuluhan tentang cara hidup sehat, penyuluhan tentang gotong royong, pembinaan kelompok usaha ekonomi masyarakat, ketrampilan menjahit, penyuluhan memelihara ternak, pemanfaatan teknologi tepat guna, pengolahan pekarangan, dan pemanfaatan hasil lokal. Pemerintah desa telah berperan aktif dan secara serius berupaya mengeluarkan masyarakat dari lingkaran garis kemiskinan yang ada di desa Oenenu Utara.&nbsp

    Analisis Pertumbuhan Ekonomi Inklusif di Kabupaten Timor Tengah Utara

    Get PDF
    Kabupaten TTU merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan berbatasan langsung dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste. Kondisi daerah yang berada di lintas batas antar negara ini memiliki potensi ekonomi yang cukup besar dalam mendongkrak perekonomian wilayah karena berada pada jalur perdagangan antar dua buah negara. Akan tetapi fakta dari berbagai indikator makro ekonomi menunjukan bahwa selama tahun 2007-2012 dengan melihat data PDRB pertumbuhan ekonomi yang terus mengalami trend positif tidak berkorelasi kuat atau berbanding terbalik (negatif) dengan penurunan angka kemiskinan, pengangguran, angka indeks pembangunan manusia yang makin membaik dan juga masih tingginya ketimpangan pendapatan yang terpresentasekan lewat ukuran indeks wiliamson. Sehingga salah satu tantangan utama yang dihadapi pemerintah Kabupaten TTU sebagai lembaga yang bertanggungjawab terhadap perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah adalah pengetahuan dan pemahaman akan potensi daerah yang dimiliki dalam upaya mewujudkan pertumbuhan yang inklusif. Metode yang dipergunakan dalam rangka menjawab rumusan masalah penelitian ini adalah dengan menggunakan Analisis Deskriptif Kuantitatif dan Kualitatif. Dimana, Analisis Tipologi Klasen mengukur pemetaan tipologi daerah Kab. TTU dalam wilayah Provinsi NTT dan juga tipologi sektoral dalam melihat hubungan antara pertumbuhan dengan penyerapan tenaga kerja tiap sektornya. Selanjutnya, untuk menjawabi strategi pembangunan pengembangan sektor yang dapat mendorong terwujudnya pertumbuhan inklusif maka digunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian berdasarkan   matriks   tipologi klassen, dapat ditarik kesimpulan bahwa selama periode analisis (2007 -2012) Kabupaten TTU terkategori sebagai daerah berkembang dan secara keseluruhan dari 9 sektor ekonomi pembentuk PDRB, yang berada dalam kuadran sektor unggulan dan merupakan sektor yang dapat mendorong terwujudnya pembangunan inklusif di Kabupaten TTU adalah sektor pertanian. Akan tetapi tingginya pertumbuhan sektor pertanian dalam menyerap tenaga kerja justru menyimpan ragam persoalan kemiskinan pada pelaku usaha tani itu sendiri. Mengindikasikan bahwa, pertumbuhan sektor pertanian masih bersifat eksklusif disebabkan karena adanya gejala disparitas kepemilikan faktor produksi yang timpang. Ketimpangan faktor produksi ini dilihat dari tiga aspek mendasar dalam pembangunan pengembangan sektor pertanian antara lain; Tingginya disparitas kepemilikan lahan, rendahnya aksebilitas pasar dan rendahnya aksebilitas teknologi

    Hidrolisis Ampas Biji Sorgum dengan Microwave untuk Produksi Gula Pereduksi sebagai Bahan Baku Bioetanol

    Get PDF
    Sorghum is a cereal plant that can grow in various environmental conditions so that it is potential to be developed, especially on dry climate marginal land in Indonesia. Sweet sorghum has great potential to be used as raw material for ethanol besides sugar cane. Cultivation of sweet sorghum has shifted from food and feed raw materials to industrial raw materials, both small and large scale. This study aims to obtain reducing sugar levels as raw material for bioethanol through hydrolysis using a microwave. As much as 10 grams of sorghum powder is suspended with dilute H2SO4 solution of 0.1 N, 0.3 N and 0.5 N as much as 250 mL and then heated using microwave irradiation at a temperature of 200 oC for 20 and 40 minutes. The liquid fraction produced by hydrolysis was analyzed by reducing sugar content with the DNS method using a UV-Vis spectrophotometer. The results obtained showed that the optimum hydrolysis conditions using microwave were achieved at concentrations of H2SO4 0.5 N at 200 oC and hydrolysis time at 40 minutes. Reducing sugar content of 42.71 mg / L. The sugar content rises by 19.95% compared to the hydrolysis time of 20 minutes.Sorgum merupakan tanaman serealia yang dapat tumbuh pada berbagai keadaan lingkungan sehingga potensial dikembangkan, khususnya pada lahan marginal beriklim kering di Indonesia. Sorgum manis mempunyai potensi yang besar digunakan sebagai bahan baku etanol selain tebu. Budidaya sorgum manis mengalami pergeseran dari bahan baku pangan dan pakan menjadi bahan baku industri, baik skala kecil maupun skala besar. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kadar gula pereduksi sebagai bahan baku bioethanol melalui hidrolisis menggunakan microwave. Sebanyak 10 gram serbuk sorgum disuspensi dengan larutan H2SO4 encer 0,1 N, 0,3 N dan 0,5 N sebanyak 250 mL lalu dipanaskan menggunakan iradiasi microwave pada temperatur 200 oC selama 20 dan 40 menit. Fraksi cair hasil hidrolisis dianalisis kandungan gula pereduksi dengan metode DNS menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kondisi optimum hidrolisis menggunakan microwave dicapai pada konsentrasi H2SO4 0,5 N temperatur 200 oC dan waktu hidrolisis 40 menit. Kadar gula pereduksi sebesar 42,71 mg/L. Kadar gula naik sebesar 19,95% dibanding waktu hidrolisis 20 menit

    Pengaruh Model Tumpangsari dan Pengaturan Jarak Tanam Kacang Nasi (Vigna angularis L.) Kultivar Lokal terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung (Zea mays L.)

    Get PDF
    Maize and bean crops are two types of plants suitable for intercropping. The objective of this research is 1) growth and yield of maize in intercropping cropping pattern; 2) the best intercropping models in improving the growth and yield of maize; and 3) good plant spacing arrangement in cropping pattern of intercropping of maize and rice beans. The experiment was conducted in experimental garden of Fakultas Pertanian, Universitas Timor from December 2016 until March 2017. All treatments of the plot experiment were arranged in a Factorial Randomized Completely Block Design (RAK) 3 × 2 + monoculture with three replicates Treatment, the first factor is intercropping models consisting of three levels: interspace intercropping; and Salome intercropping; Alternative intercropping and the second factor is the arrangement of maize cropping spacing: Single row; Double row. The results showed the interaction between intercropping model and plant spacing arrangement to observation parameter of dry seed weight per plot, dry weight of seed per hectare. Maize crops intercropped with rice beans in the treatment of intercropping model of Salome with arrangement spacing double row resulted in the highest dry weight of seeds per plot of 269.31 g and 0.89 t / ha.Tanaman jagung dan kacang nasi adalah dua jenis tanaman yang cocok diterapkan  pada pola tumpangsari.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) pertumbuhan dan hasil jagung dalam pola tanam tumpangsari; 2) model tumpangsari terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung; dan 3) pengaturan jarak tanam yang baik dalam pola tanam  tumpangsari jagung dan kacang nasi. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Timor, pada bulan Desember 2016 sampai Maret 2017, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah model tumpangsari  yang terdiri dari tiga aras yaitu tumpangsari standar nasional (sistem sela), tumpangsari salome (model timor) dan gabungan. Faktor kedua adalah pengaturan Jarak tanam yang terdiri dari dua aras yaitu single row dan doble row. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara model tumpangsari dan pengaturan jarak tanam terhadap parameter pengamatan berat kering biji per petak, berat kering biji per hektar. Tanaman jagung yang ditumpangsarikan dengan kacang nasi pada perlakuan model tumpangsari salome dengan pengaturan jarak tanam doble row menghasilkan berat kering biji per petak paling tinggi yaitu sebesar 269,31 g dan 0,89 t/ha

    Efek Model Tumpangsari dan Pengaturan Barisan Jagung terhadap Evaluasi Keuntungan Hasil Jagung dan Kacang Nasi Kultivar Lokal Timor dalam Tumpangsari

    Get PDF
    The decrease of agricultural products is currently one of the challenges for agricultural researchers because of the increasingly narrow farmland and highly not used land areas. The land productivity and crop production with utilize joined crops in some areas of both seasonal and long life crops as a solution. Cultivation of rice been is intercrop between maize crops. The objective of this research is to know the effect of intercropping models and the arrangement of maize cropping on the results and to evaluate the benefits of Timor cultivars and beans in intercropping system. All treatments of the plot experiment were arranged in a Factorial Randomized Completely Block Design 3×2+monoculture with three replicates Treatment, the first factor is intercropping model consisting of three levels: interspace intercropping; and Salome intercropping (Timor model); Alternative intercropping and the second factor is the arrangement of maize cropping spacing: Single row; Double row. The parameters observed were the weight of the maize seed per plot (t/ha), the weight of the rice beans per plot (t/ha), total LER, total ATER, crop aggressivity, Plant Competition Ratio. The data collected were analyzed using Factorial Randomized Block Design Anova and then continued with Duncan test at level α 0,05 using SAS 9.01 program. The results showed that there was an interaction of dry weight of maize kernels per plot, total LER, total ATER, and the ratio of maize competition. Intercropping yields ≥1, which is advantageous in the intercropping model treatment as well as on the arrangement of crop rows. Menurunnya produksi hasil pertanian saat ini menjadi salah satu tantangan bagi peneliti-peneliti pertanian karena lahan pertanian semakin sempit serta tingginya luas lahan tidur. Salah satu cara tepat meningkatkan produksi lahan dan tanaman adalah dengan memanfaatkan ruang antara tanaman baik pada tanaman semusim maupun tanaman umur panjang. Salah satu ruang yang memungkinkan untuk membudidayakan tanaman kacang nasi adalah sela antar tanaman jagung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek model tumpangsari dan pengaturan barisan tanam jagung terhadap hasil dan evaluasi keuntungan hasil jagung dan kacang nasi kultivar lokal Timor dalam sistem tumpangsari. Perlakuan dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial 3×2+kontrol dan diulang 3 kali, faktor pertama adalah model tumpang sari yang terdiri dari tiga aras yaitu tumpangsari sela; dan tumpangsari Salome (model Timor ); tumpangsari gabungan dan faktor kedua adalah pengaturan barisan tanam jagung: Single Row; Doblerow. Parameter yang diamati adalah berat biji jagung per petak (t/ha), berat biji kacang nasi per petak (t/ha), total LER, total ATER, Agresivitas tanaman, Rasio Kompetisi tanaman. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan Analisis Anova Rancangan Acak Kelompok Faktorial kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf α 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi terhadap berat kering biji jagung per petak, total LER, total ATER, dan rasio kompetisi jagung. Tumpangsari memberikan hasil ≥1, yang berarti menguntungkan pada perlakuan model tumpangsari maupun pada pengaturan barisan tanaman

    564

    full texts

    604

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇