Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
604 research outputs found
Sort by
Studi Termodinamika Adsorpsi Pb(II) Menggunakan Adsorben Magnetik GO-Fe3O4 yang Disintesis dari Kayu Kusambi (Schleichera oleosa)
The study on the adsorption of Pb(II) using magnetic adsorbent GO-Fe3O4 that synthesized from kusambi wood (Schleichera oleosa) in the bacth system will be reported. Here, two adsorption parameters such as initial concentration and adsorption thermodynamics were thoroughly studied. The results showed that the initial concentration of the best adsorption of Pb(II) using magnetic adsorbent GO-Fe3O4 from kusambi wood (Schleichera oleosa) lasted a maximum between concentrations of 10 mg/L to 40 mg/L. In addition, based on thermodynamic studies, it is known that the adsorption of Pb(II) on the surface of GO-Fe3O4 from kusambi wood (Schleichera oleosa) has follows physisorption mechanism. Overall, this study indicates that GO-Fe3O4 magnetic material from kusambi wood (Schleichera oleosa) can be used to adsorb Pb(II) from the aquatic environment.Telah dilakukan studi mengenai adsorpsi Pb(II) menggunakan adsorben magnetik GO-Fe3O4 yang disintesis dari kayu kusambi (Schleichera oleosa) dalam system bacth. Dua parameter adsorpsi yaitu inisial konsentrasi dan termodinamika adsorpsi dipelajari secara menyeluruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inisial konsentrasi terbaik pada adsorpsi Pb(II) menggunakan adsorben magnetik GO-Fe3O4 dari kayu kusambi (Schleichera oleosa) berlangsung maksimum antara konsentrasi 10 mg/L sampai dengan 40 mg/. Selain itu, Berdasarkan kajian termodinamika diketahui bahwa adsorpsi Pb(II) pada permukaan GO-Fe3O4 dari kayu kusambi (Schleichera oleosa) berlangsung secara fisisorpsi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa material magnetik GO-Fe3O4 dari kayu kusambi (Schleichera oleosa) dapat digunakan untuk mengasorpsi Pb(II) dari lingkungan perairan
Analisis Kandungan Logam Berat Kromium (Cr) dalam Sedimen di Perairan Teluk Ambon Bagian Dalam
Analysis of Chromium (Cr) heavy metal content in sediment have been done at inner part of Ambon Bay by using Atomic Absorption Spectrofotometer (AAS). This analysis has been done in six sampling areas, they are : Galala (the first locations), Lateri (the second location), Negeri Lama (the third location), Waeheru (the fourth location), Poka (the fifth location), and Halong (the sixth location). The study aims to determine the content of chromium metal (Cr) in sediments at inner part of Ambon Bay. The analysis showed that the Cr metal content ranged from 33.68-191.74 mg/kg. The chromium (Cr) heavy metal content in sediments is mostly among the quality standards set by the ANZECC (Australian and New Zealand Environment and Conservation Council) in 2000, which is 80-120 mg/KgTelah dilakukan analisis kandungan logam berat kromium (Cr) dalam sedimen di Perairan Teluk Ambon Bagian Dalam dengan menggunakan alat Spektofotometer Serapan Atom (AAS) yang dilakukan pada 6 titik sampel, yaitu Lokasi I (Galala), II (Lateri), III (Negeri Lama), IV (Waeheru), V (Poka) dan lokasi VI (Halong). Penelitian bertujuan untuk mengetahui kandungan logam kromium (Cr) dalam sedimen di perairan Teluk Ambon Bagian Dalam. Hasil analisis menunjukkan bahwa kandungan logam Cr berkisar antara 33,68 – 191,74 mg/kg. Kandungan logam berat Kromium (Cr) pada sedimen sebagian besar berada di antara baku mutu yang ditetapkan oleh ANZECC (Australian and New Zealand Environment and Conservation Council) Tahun 2000 yaitu sebesar 80-120 mg/Kg
Karakterisasi Morfologi dan Komponen Hasil Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) Asal Pulau Timor
Cayenne pepper is one of the germplasm from the island of Timor known as un makaos, un lili, un fua melu or una. Timor cayenne has a unique form that is small in size ranging from 0.5-2 cm in length and a very spicy taste. Small in size between 0.5-2 cm long and very spicy taste. The purpose of this study was to identify the morphological characters and components of the results of cayenne pepper un makaos. The research method is based on the framework of the provisions of UPOV (International Union for the Protection of New Varieties of Plants) and the standards set by IPGRI (International Plant Genetic Resources Institute). The results showed that the characterization of the morphology of cayenne in the island of Timor was identified as having plant habitus with compact branching, cylindrical stem shape, shortening of more than three segments and having green stems. The chili leaves are ovate and green with flat leaf edges and tapered leaf tips. It has a white flower crown with anther blue flowers and an upright flower position on the cayenne tree. Green fruit color before ripe and red when cooking. Has a hornshaped fruit shape (horn shaped) with a blunt fruit tip and has the form of calix enveloping (wrapping). The character of the yield component has a measured average value of 9,47-15,08 g of fruit plant, the average number of fruit plants is 0,73-0,82 g, cayenne has a fruit length of 0,73-0,82 cm and fruit has a diameter of 0,36-0,38 cm.Cabai rawit merupakan salah satu plasma nutfah asal pulau Timor dikenal dengan sebutan un makaos, un lili, un fua melu atau un ana. Cabai rawit Timor memiliki kekhasan bentuk yakni berukuran kecil dengan panjang berkisar 0,5-2 cm dan rasa yang sangat pedas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi karakter morfologi dan komponen hasil un makaos. Metode penelitian dilakukan berdasarkan kerangka ketentuan UPOV (International Union for The Protection of New Varieties of Plants) dan standar yang ditetapkan oleh IPGRI (International Plant Genetic Resources Institute). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakterisasi morfologi cabai rawit pulau Timor teridentifikasi memiliki habitus tanaman dengan percabangan yang kompak, bentuk batang silindris, pemendekan ruas lebih dari tiga dan memiliki batang berwarna hijau. Daun cabai berbentuk ovate (bentuk bulat telur, bagian terlebar dekat pangkal daun) dan berwarna hijau dengan tepi daun rata dan ujung daun meruncing. Mahkota bunga berwana putih dengan anter bunga berwarna biru serta kedudukan bunga tegak pada pohon cabai rawit. Warna buah hijau pada saat sebelum matang dan berwarna merah pada saat masak. Memiliki bentuk buah hornshaped (berbentuk tanduk) dengan ujung buah yang tumpul serta memiliki bentuk kaliks enveloping (membungkus). Karakter komponen hasil diantaranya bobot buah per tanaman memiliki nilai rata-rata sebesar 9,47-15,08 g, rata-rata jumlah buah per tanaman sebanyak 125,67-169,67 buah, cabai rawit memiliki panjang buah 0,73-0,82 cm dan buah memiliki diameter 0,36-0,38 cm
Ekstraksi dan Identifikasi Komposisi Metabolit Fraksi Diklorometana dan Aquades Ektrak Metanol Daun Sirsak (Annona muricata Linn)
Soursop is one of the many plants found in East Nusa Tenggara (NTT). Some parts of the soursop plant are known to have been widely used as traditional medicine or as natural pesticides. The use of plants as a treatment or as a natural pesticide cannot be separated from the bioactive compounds contained therein. These compounds will be successfully isolated depending on the choice of solvent. This research was conducted with the aim of knowing the composition of the metabolites contained in each solvent used. The steps of this study include preparation of soursop leaf samples, extraction by maceration with methanol solvents, partitioning of methanol extract with dichloromethane and water solvents and identification of metabolite compositions with high-performance liquid chromatography (HPLC) instruments. The compounds identified in HPLC dichloromethane solvents are thought to be phenol, polyketide, tannin and alkaloid metabolites. Whereas HPLC identified compounds in water solvents are thought to be polar compounds which are bound to a glycoside groupSirsak adalah salah satu tumbuhan yang banyak dijumpai di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). Beberapa bagian tumbuhan sirsak diketahui telah banyak dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional ataupun sebagai peptisida alami. Pemanfaatan tumbuhan sebagai pengobatan ataupun sebagai peptisida alami tidak terlepas dari senyawa bioaktif yang terkandung didalamnya. Senyawa- senyawa tersebut akan berhasil diisolasi tergantung pemilihan pelarut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui komposisi metabolit yang terkandung dalam setiap pelarut yang digunakan. Langkah-langkah penelitian ini meliputi preparasi sampel daun sirsak, ekstraksi secara maserasi dengan pelarut metanol, partisi ekstrak metanol dengan pelarut diklorometana dan air serta identifikasi komposisi metabolit dengan instrumen kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Senyawa-senyawa yang teridentifikasi pada KCKT pelarut diklorometana diduga adalah senyawa metabolit golongan fenol, polikatida, tannin dan alkaloid. Sedangkan senyawa yang teridentifikasi KCKT pada pelarut air diduga adalah senyawa polar yang terikat dengan suatu gugus glikosida
Deteksi Plat Nomor Kendaraan Bermotor dengan Segmentasi Gambar
A lot of system with many various for plate recognition in other country and methods. This application is used to detect plate of vehicle based on image data form. It can help a bigger system that used for plate identification. Input that used is image file. The application will show user an input in image form and process it using image segmentation. Image segmentation will extract object from image that will not use and dividing an image into multiple parts. Before find the plate, application will processing image to get a better quality image with many ways including RGB and grayscale processing, image resize, area calculation, edge detection and segmentation. And the output will be view in image file.Banyak sistem dengan banyak variasi untuk pengenalan plat di negara lain dan metode. Metode ini digunakan untuk mendeteksi plat kendaraan berdasarkan pada bentuk data gambar. Ini dapat membantu sistem yang lebih besar yang digunakan untuk identifikasi pelat. Input yang digunakan adalah file gambar. Aplikasi akan menunjukkan kepada pengguna input dalam bentuk gambar dan memprosesnya menggunakan segmentasi gambar. Segmentasi gambar akan mengekstraksi objek dari gambar yang tidak akan menggunakan dan membagi gambar menjadi beberapa bagian. Sebelum menemukan pelat, aplikasi akan memproses gambar untuk mendapatkan gambar berkualitas lebih baik dengan banyak cara termasuk RGB dan pemrosesan skala abu-abu, ukuran gambar, perhitungan area, deteksi tepi dan segmentasi. Dan hasilnya akan ditampilkan dalam file juga gambar
Uji Efek Aplikasi Takaran Biochar dan Kompos Kirinyuh Tahun Ke Dua terhadap Pertumbuhan dan Hasil Selada Darat (Lactuca SativaL.)
Lactuca sativa L. is a horticultural vegetable commodity that has high prospects and commercial value. This study aims to examine the effects of biochar and second-year compost applications on soil physical properties, growth and yield of ground lettuce. The research was conducted in March-May 2018, at the experimental farm of the Faculty of Agriculture, University of Timor. The design used in the study was a 5 x 3 factorial completely randomized design which was repeated 3 times. The first factor is the biochar dose which consists of 5 levels, namely 0 t/ha, 2.5 t/ha, 5 t/ha, 7.5 t/ha and 10 t/ha. The second factor is the left compost, which consists of 3 levels, namely without compost left (0 t/ha), 5 t/ha, and 10 t/ha. The mixture of soil, biochar and leftover compost used the previous year, is dried, mashed, sifted and put back in the pot, watered and planted with Lactuca sativa L. seeds that have been sown 2 weeks earlier. Parameters observed in this study were soil temperature, moisture content, electrical conductivity, soil pH, soil volume weight, plant height, number of leaves, leaf area, fresh weight per plant, dry weight per plant, root length, fresh weight. root, root dry weight, root shoot ratio, harvest index. The results showed that biochar treatment at a rate of 2.5 t/ha yielded the heaviest fresh trubus 16.64g / plant, higher than the first year (0 t/ha), while the leftover compost at a rate of 10 t/ha produced fresh trubus weighing 15.11g. / plant higher than the first year yield (0 t/ha). These results indicate an aging effect of the application of rice husk biochar and leftover compost on the growth and yield of Lactuca sativa L.Selada darat (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu komoditi sayuran hortikultura yang memiliki prospek dan nilai komersial yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menguji efek aplikasi takaran biochar dan kompos kirinyuh tahun keduaterhadap sifat fisik tanah, pertumbuhan dan hasil tanaman selada darat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2018, dikebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Timor. Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah rancangan acak lengkap faktorial 5 x 3 yang di ulang 3 kali. Faktor pertama adalah takaran biochar yang terdiri dari 5 aras, yaitu 0 t/ha, 2,5 t/ha, 5 t/ha, 7,5 t/ha dan 10 t/ha. Faktor kedua adalah kompos kirinyuh yang terdiri dari 3 aras, yaitut anpa kompos kirinyuh 0t/ha, 5 t/ha, dan 10 t/ha. Campuran tanah, biochar dan kompos kirinyuh yang digunakan tahun sebelumnya, dikeringanginkan, dihaluskan, diayak dan dimasukan kembali ke dalam pot, diairi dan ditanami dengan bibit selada yang telah disemaikan 2 minggu sebelumnya. Parameter yang diamati dalam penelitian ini: suhu tanah, kadar lengas tanah, daya hantar listrik, PH tanah, berat volume tanah, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat segar trubus per tanaman, berat kering per tanaman, Panjang akar, berat segar akar, berat kering akar, rasio akar tajuk, indeks panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan biochar pada takaran 2,5 t/ha menghasilkan trubus segar terberat 16,64 g/tanaman lebih tinggi dibandingkan tahun pertama (0 t/ha), sedangkan kompos kirinyuh pada takaran 10 t/ha menghasilkan trubus segar seberat 15.11 g/tanaman lebih tinngi dari pada hasil tahun pertama (0 t/ha). Hasil tersebut menunjukkan adanya aging effect aplikasi biochar sekam padi dan kompos kirinyuh terhadap pertumbuhan dan hasil selada darat
Tingkat Penerapan Teknologi Pertanian dan Strategi Pengembangan Budidaya Bawang Merah (Allium cepa. L) di Desa Tes Kecamatan Bikomi Utara Kabupaten Timor Tengah Utara
This study aims to: (1) determine the level of application of shallot cultivation technology in the Tes Village of North Bikomi Subdistrict of North Central Timor Regency, (2) analyze internal and external factors and formulate a strategy for developing shallots farming in the Tes Village of North Bikomi Sub-District in North Central Timor Regency. This research was conducted in the Tes Village in September to October 2018. Data collection used the survey method. Determination of the sample was done by purposive sampling with the consideration of farmers who had cultivated shallots for 3 years in the Tes Village as many as 22 respondents. The analytical tool used in this study is Likert scale analysis and SWOT analysis. The results of the study suggest that the agricultural technology used includes equipment (tractors, cultivators, water motors), and management of onion farming. Likert scale analysis suggests that the percentage of technology use in shallot farming as recommended is 76.38% and 23.38% which is not recommended, so it is categorized as recommended. According to the SWOT analysis, onion farming is grouped in quadrant I, with alternative strategies including first a strategy to increase business capital supported by the government obtains a score (score 5.78), the second strategy for accumulating venture capital from farmers to anticipate increased seed prices (score 5.76). The three training and counseling strategies from field agriculture instructors to improve the quality of human resources farmers (score 3.48).Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui tingkat penerapan teknologi budidaya bawang merah di Desa Tes Kecamatan Bikomi Utara Kabupaten Timor Tengah Utara, (2) menganalisis faktor internal dan eksternal serta merumuskan strategi pengembangan usahatani bawang merah di Desa Tes Kecamatan Bikomi Utara Kabupaten Timor Tengah Utara. Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Tes pada bulan September sampai bulan Oktober 2018. Pengumpulan data menggunakan metode survei. Penentuan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan pertimbangan petani yang telah budidaya bawang merah selama 3 tahun di Desa Tes sebanyak 22 responden. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis skala likert dan analisis SWOT. Hasil penelitian menyakatan bahwa teknologi pertanian yang digunakan meliputi peralatan (traktor, kultivator, motor air), dan pengelolaan usahatani bawang merah. Analisis skala likert menyakatan bahwa presentase penggunaan teknologi pada usahatani bawang merah yang sesuai anjuran adalah 76,38% dan yang tidak sesuai anjuran adalah 23,38%; sehingga dikategorikan sesuai anjuran. Sesuai analisis SWOT usahatani bawang merah dikelompokkan dalam kuadran I, dengan alternatif strategi antara lain: pertama strategi peningkatan modal usaha yang didukung oleh pemerintah memperoleh nilai (skor 5,78), kedua strategi akumulasi modal usaha dari petani untuk mengantisipasi peningkatan harga benih (skor 5,76). Ketiga strategi pelatihan dan penyuluhan dari PPL untuk meningkatkan kualitas SDM petani ( skor 3,48)
Kualitas Mikrobiologis Se’i yang Dicuring Menggunakan Jus Kulit Buah Naga Merah (Hylocereuspolyrhizus) pada Penyimpanan Suhu Ruang
The skin of red dragon fruit (Hylocereus pilyrhizus) contains antiobacterial properties which can inhibit the growth of microorganisms. With the presence of these antibacterial compounds, dragon fruit skin has the potential to become a natural preservative, to replace the use of chemical preservatives such as nitrite in processing se’i (smoked meat typical of East Nusa Tenggara). The results showed that the dragon fruit peel extract inhibited the growth of pathogenic bacteria such as E. coli ATCC 25922 and S. aureus ATCC 25923. The difference in treatment of pathogen bacteria given significantly affected the inhibitory zone of activity of red dragon fruit skin juice bacteria (P<0.05). The use of dragon fruit skin juice as curing material can inhibit bacterial growth and extend the shelf life until the sixth day at room temperature. It can be concluded that the use of dragon fruit skin juice as curing material can inhibit bacterial growth so that it can extend the shelf life at room temperature.Kulit buah naga merah (Hylocereus pilyrhizus) mengandung sanyawa antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Dengan adanya senyawa antibakteri tersebut, kulit buah naga berpotensi untuk dijadikan bahan pengawet alami, untuk menggantikan penggunaan bahan pengawet kimia seperti Nitrit pada pengolahan se’i (daging asap khas Nusa Tenggara Timur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah naga mampung menghambat pertumbuhan bakteri patoogen seperti E.coli ATCC 25922 dan bakteri S.aureus ATCC 25923. Perbedaan perlakuan bakteripatogen yang diberikan berpengaruh nyata terhadap diameter zona hambat aktivitas antibakteri jus kulit buah naga merah (P<0.05). Penggunaan jus kulit buah naga sebagai bahan curing pada se’i dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan memperpanjang masa simpan sampai pada hari ke enam pada suhu ruang. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan jus kulit buah naga sebagai bahan curing pada se’i dapat menghambat pertumbuhan bakteri sehingga mampu memperpanjang masa simpan se’i pada suhu ruang
Potensi Arang Aktif dari Limbah Sabut Pinang (Areca catechu L) Provinsi Jambi sebagai Biosorben
The preliminary research was conducted to explore the potency of Areca fiber waste (Areca catechu L) from Tanjung Jabung Timur, Jambi Province as carbon source which would be used as a raw material in biosorben production. Activated carbon production was carried out using physical activation on 400 ͦ C, 300 ͦ C, and without carbonization. The collected activated carbon was sifted using 100 mesh sieve. The biosorbents were characterized by water content, ash content, functional groups, and surface area. Based on the result of this research, it could be concluded that carbonization process can disclose the material pores to increase adsorption. The water content, ash content, and surface area of 300 ͦ C sample were 2 %; 45,72 %, and 25,77 m2g-1, respectively.The functional group on the surface of biosorbent would be interacted with adsorbat in adsorption process.Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui potensi limbah sabut pinang (Areca catechu L) dari Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi sebagai sumber karbon yang akan digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan biosorben. Pembuatan arang aktif dilakukan menggunakan aktivasi fisika pada 400 ͦ C, 300 ͦ C, dan tanpa karbonisasi. Arang aktif yang diperoleh diayak menggunakan ayakan 100 mesh. Biosorben dikarakterisasi kadar air, kadar abu, gugus fungsi dan luas permukaan. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa proses karbonisasi dapat membuka pori-pori material untuk meningkatkan adsorpsi. Kadar air, kadar abu, dan luas permukaan sampel 300 ͦ C adalah 2 %; 45,72 % dan 25,77 m2g-1. Gugus fungsi pada permukaan biosorben akan berinteraksi dengan adsorbat pada proses adsorpsi
Produksi Bioetanol dari Ampas Sorgum Lahan Kering dengan Perlakuan Awal Microwave Irradiasi
One potential ingredient that has a high starch content is sorghum (Sorghum bicolor L.). Sorghum (Sorghum bicolor L.) has broad agroecological adaptability, is resistant to drought, is resistant to pests and diseases compared to other plants. The high carbohydrate content (amylose and amylopectin) of around 73 g / 100 g material from sorghum is very possible to be converted into ethanol. This study aims to determine the optimum reducing sugar concentration before and after the initial treatment by microwave and to get bioethanol with the highest levels and percent yield. A total of 10 grams of sorghum powder were suspended with an aqueous solution of H2SO4 1%, 2% and 3% as much as 250 mL and then heated using microwave irradiation at temperatures of 100, 150, 200 and 250 oC for 20, 30, and 40 minutes. The liquid fraction of hydrolysis results was analyzed by reducing sugar content by the DNS method using a UV-Vis spectrophotometer. The results of the DNS (Dinitrosalisilat) analysis showed that reducing sugar levels increased with increasing hydrolysis temperatures at 100 0C to 150 0C (2.8 - 4.4 mg / L) and decreased levels at temperatures 200 and 250 0C. The results of hydrolysis optimization with variations in concentration over 30 and 40 minutes obtained reducing sugar levels increase with increasing acid concentration at the time of hydrolysis 30 minutes ie 2.0-8.5 mg / L and experienced a significant increase when extending the hydrolysis time 40 minutes ie 19, 1-42.7 mg / L. Reducing sugar concentration for ethanol production using a temperature of 150 0C with an acid concentration of 2% at the time of hydrolysis 40 minutes which is equal to 34.3 mg / L. Bioethanol Production from Dry Soil Sorghum Waste with Initial Treatment of Microwave Irradiation.Salah satu potensi bahan yang memiliki kandungan pati tinggi yaitu sorgum (Sorgum bicolor L.). Sorgum (Sorgum bicolor L.) memiliki daya adaptasi agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, tahan terhadap hama dan penyakit dibanding tanaman lain. Kandungan karbohidrat (amilosa dan amilopektin) yang tinggi sekitar 73 g/100 g bahan dari sorgum sangat memungkinkan untuk dikonversi menjadi etanol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi gula pereduksi optimum sebelum dan sesudah perlakuan awal dengan microwave serta mendapatkan bioetanol dengan kadar dan persen rendemen tertinggi. Sebanyak 10 gram serbuk sorgum disuspensi dengan larutan H2SO4 encer 1%, 2% dan 3% sebanyak 250 mL lalu dipanaskan menggunakan iradiasi microwave pada temperatur 100, 150, 200 dan 250 oC selama 20, 30, dan 40 menit. Fraksi cair hasil hidrolisis dianalisis kandungan gula pereduksi dengan metode DNS menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil analisis DNS (Dinitrosalisilat) menunjukkan bahwa Kadar gula pereduksi meningkat seiring meningkatnya suhu hidrolisis pada suhu 100 0C ke 150 0C (2,8 – 4,4 mg/L) dan mengalami penurunan kadar pada suhu 200 dan 250 0C. Hasil optimasi hidrolisis dengan variasi konsentrasi terhadap waktu 30 dan 40 menit didapatkan kadar gula pereduksi meningkat seiring meningkatnya konsentrasi asam pada waktu hidrolisis 30 menit yakni 2,0-8,5 mg/L dan mengalami peningkatan signifikan ketika memperpanjang waktu hidrolisis 40 menit yakni 19,1-42,7 mg/L. Konsentrasi gula pereduksi untuk produksi etanol menggunakan suhu 150 0C dengan konsentrasi asam 2% pada waktu hidrolisis 40 menit yakni sebesar 34,3 mg/L