Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
    604 research outputs found

    Membran Nanofiltrasi untuk Aplikasi Pemisah Zat

    Get PDF
    The mechanism of nanofiltration separation is largely based on the size and difference in diffusion rates for organic molecules and electrostatic effects for ions. However, because the molecules are not more charged, the mechanism based on molecular size is more widely used. Nanofiltration membranes operate without phase changes and usually have a high rejection of multivalent inorganic salts and small organic molecules at moderate pressure. This makes the separation process very competitive in terms of selectivity and cost when compared to traditional separation. Nanofiltration membranes have been applied in various industrial sectors namely wastewater treatment, pharmaceutical processes and biotechnology, and food engineering. This article is expected to provide ideas and recommendations regarding the innovation of making nanofiltration membranes for dyestuff waste separators.Mekanisme pemisahan nanofiltrasi sebagian besar didasarkan pada ukuran dan perbedaan tingkat difusi untuk molekul organik dan efek elektrostatik untuk ion. Namun, karena molekul yang tidak bermuatan lebih banyak, mekanisme berdasarkan ukuran molekul lebih banyak digunakan. Membran nanofiltrasi beroperasi tanpa perubahan fasa dan biasanya memiliki penolakan tinggi terhadap garam anorganik multivalen dan molekul organik kecil pada tekanan sedang. Hal ini membuat proses pemisahan sangat kompetitif dalam hal selektifitas dan biaya bila dibandingkan dengan perpisahan tradisional. Membran nanofiltrasi telah diaplikasikan di berbagai sektor industri yaitu pengolahan air limbah, proses farmasi dan bioteknologi, serta rekayasa pangan. Artikel ini diharapkan dapat memberikan ide dan rekomendasi mengenai inovasi pembuatan membran nanofiltrasi untuk pemisah limbah zat warna.&nbsp

    Identifikasi Model Pengelolaan Lahan Kering Dataran Tinggi Berbasis Agroforestri Tradisional di Pulau Timor

    Get PDF
    The purpose of the study are; (i) to identify the traditional management models based on dry upland agroforestry; (ii) to measure the value of community household income on each traditional agroforestry model based on dry upland management. The research was conducted in West Miomaffo, North Timor Tengah, Timor Island, East Nusa Tenggara in October-December 2016. The method used descriptive exploratory, date collected by observation techniques, questionnaires, and direct interviews toqey person. Sample determined by land use existing map based on overlaying the landsat image and the ecological agroforestry distribution on the Timor Island. To find the economic contribution of the community (The number of) respondents determined by snowball sampling. The results of the study there are three traditional agroforestry models that are developed by the community; (a) namely kono agrosilvicultur model which is a practice of sedentary cultivation with the composition of woody, annual trees, and crops; (b) agrosilvopasture poan model which is a permanent forest garden practice with a high variety of plant species (Polycultur) as well as management forms that resemble the shape of forest gardens with diverse canopy stratification; (c) silvopastural suf model, is a practice of natural grazing in the savanna region, which is used as a natural livestock ranch. The household income contribution analysisis known to be above 50%, means that the three traditional agroforestry models has the opportunity to be developed. The needs of intensive interference to sustainable management by considering the regional ecology, socio-economic and local wisdom.Tujuan diadakannya penelitian ini untuk; (i) mengidentifikasi model pengelolaan lahan kering dataran tinggi berbasis agroforestri tradisional; (ii) mengukur seberapa besar kontribusi pendapatan rumah tangga masyarakat yang diperoleh pada masing-masing model pengelolaan lahan kering dataran tinggi berbasis agroforestri tradisional. Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Timor khususnya di kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur pada bulan Oktober-Desember 2016 menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, kuesioner, dan wawancara langsung pada tokoh kunci (Qey person). Penentuan sampel dalam penelitian ini berdasarkan peta existing conditions penggunaan lahan yang merupakan hasil overlay data Citra landsat serta data persebaran ekologi agroforestri di pulau Timor. Penentuan responden guna mengetahui kontribusi ekonomi masyarakat ditentukan secara snowball sampling. Hasil penelitian diketahui bahwa terdapat tiga model agroforestri tradisional yang dikembangkan masyarakat di lokasi penelitian yaitu; (a) model agrosilvicultur Kono yang merupakan praktik perladangan menetap dengan komposisi jenis tanaman berkayu (Kehutanan), tahunan dan tanaman semusim; (b) model agrosilvopasture Poan yang merupakan praktik kebun hutan tetap dengan variasi jenis tanaman yang tinggi (Polycultur) serta bentuk pengelolaan yang menyerupai bentuk kebun hutan (Forest Garden) dengan stratifikasi tajuk yang beragam; (c) model silvopastural Suf, merupakan praktik penggembalaan alam pada kawasan padang savana, yang dimanfaatkan sebagai ranch peternakan alami. Analisis kontribusi pendapatan rumah tangga masyarakat diketahui di atas 50%. Artinya bahwa secara kontribusi ketiga model agroforestri tradisional yang ditemukan berpeluang untuk dikembangkan dengan perlu adanya intervensi intensif dalam hal pengelolaan yang berkelanjutan dengan pertimbangan pada aspek ekologi wilayah, sosial ekonomi serta budaya atau kearifan lokal masyarakat setempat

    Sintesis Senyawa C-2,8,14,20-TETRA-(2,4,5-Trimetoksi)Fenil Kaliks[4] Resorsinarena dari Senyawa 2,4,5-Trimetoksi Benzaldehida

    Get PDF
    The synthesis of C-2,8,14,20-tetra-(2,4,5-trimethoxy)phenyl calix[4] resorcinarene from 2,4,5-trimethoxy  benzaldehyde has been done. Through isolation of asaron from Timor Genoak (Acorus calamus) followed by its oxidation with K2Cr2O7, the C-2,8,14,20-tetra-(2,4,5-trimethoxy)phenyl calix[4] resorcinarene has, therefore, been accessed over reflux. The asaron has been isolated as 3.05% of yellow oil whilst, the oxidation produced 2,4,5-trimethoxy benzaldehyde with the yield of 49.49%. The C-2,8,14,20-tetra-(2,4,5-trimethoxy) phenyl calix[4]resorcinarene has been yielded as 89.29% of a brown solid.Telah dilakukan sintesis senyawa C-2,8,14,20-tetra-(2,4,5-trimetoksi)fenil kaliks[4] resorsinarena dari 2,4,5-trimetoksi benzaldehida. Penelitian ini dilakukan dengan tahapan isolasi senyawa asaron dari tanaman genoak (Acorus calamus) asal pulau Timor, oksidasi asaron menggunakan K2Cr2O7 dan terakhir sintesis C-2,8,14,20-tetra-(2,4,5-trimetoksi)fenil kaliks[4]resorsinarena dengan metode refluks. Isolasi senyawa asaron menghasilkan produk berupa minyak berwarna kuning dengan rendemen 3,05%. Hasil oksidasi senyawa asaron menghasilkan senyawa 2,4,5-trimetoksi benzaldehida dengan rendemen 49,49% dan sintesis senyawa C-2,8,14,20-tetra-(2,4,5-trimetoksi)fenil kaliks[4]resorsinarena menghasilkan padatan cokelat dengan rendemen 89,29%

    Model Pembobotan Maks-Min Termodifikasi untuk Menyelesaikan Masalah Pemilihan Supplier Multi-Objektif Fuzzy dengan Fungsi Objektif Fuzzy dan Kendala Fuzzy pada Rantai Supply

    Get PDF
    Supplier selection is one of the most important activities in supply chain network of a company. Supplier selection can be seen as a multi-objective problem because it is a multi-criteria problem that includes qualitative and quantitative factors. In fact, information relating to the objectives and constraints faced in the supplier selection problem are not known with certainty. Fuzzy set theory can be used in the obscurity and inaccuracy of information. So then the problem of supplier selection can be seen as a fuzzy multi-objective linear program. In business activities in general, between one goal with another goal has a different level of importance for decision makers so that the fuzzy decisions used are non-symmetrical fuzzy decisions. Previously there was a model developed to solve a non-symmetrical fuzzy multi-objective supplier selection problem, namely the weighted additive model. In this paper, the weighted max-min method is developed to deal with the deficiencies of the weighted additive model. In determining the objective function weights, the Analytic Hierarchy Process approach is used. This proposed model can help decision makers find out the right order for each supplier, and enable purchasing managers to manage supply chain performance on cost, quality and service. Finally, a numerical example is given to explain the differences of the two modelsPemilihan supplier merupakan salah satu kegiatan terpenting dalam jaringan rantai supply dari sebuah perusahaan. Pemilihan supplier dapat dipandang sebagai masalah multi-objektif karena merupakan masalah multi kriteria yang mencakup faktor kualitatif dan kuantitatif.  Pada kenyataannya informasi yang berkaitan dengan tujuan dan kendala yang dihadapi dalam masalah pemilihan supplier tidak diketahui dengan pasti. Teori himpunan fuzzy dapat digunakan pada ketidakjelasan dan ketidaktepatan informasi. Sehingga kemudian masalah pemilihan supplier dapat dipandang sebagai program linear multi-objektif fuzzy. Dalam kegiatan-kegiatan usaha pada umumnya, antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lain memiliki tingkat kepentingan yang berbeda bagi pengambil keputusan sehingga keputusan fuzzy yang digunakan adalah keputusan fuzzy nonsimetris. Sebelumnya telah terdapat sebuah model yang dikembangkan untuk menyelesaikan masalah pemilihan supplier multi-objektif fuzzy nonsimetris yaitu model pembobotan aditif. Pada tulisan ini dikembangkan metode pembobotan maks-min untuk menangani kekurangan-kekurangan yang dimiliki oleh model pembobotan aditif. Dalam menentukan bobot fungsi objektif digunakan pendekatan Analytic Hierarchy Process. Model yang diusulkan ini dapat membantu pengambil keputusan untuk mengetahui pesanan yang sesuai untuk setiap supplier, dan memungkinkan manajer pembelian mengelolah kinerja rantai supply pada biaya, kualitas dan pelayanan. Pada akhirnya diberikan contoh numerik untuk menjelaskan perbedaan dari kedua model

    Pengaruh Penambahan Probiotik dalam Pakan terhadap Pertambahan Berat Badan, Konsumsi Pakan dan Konversi Pakan Ayam Broiler

    Get PDF
    This study aimed to determine the effect of pro-bio addition in the feed to weight gain, feed consumption, and feed conversion of broilers. This study was carried out in the cage’s of the Animal Husbandry Study Program, Faculty of Agriculture, Timor University from September to November, 2018. A total 80 day-old broilers (DOC) were used in the study.The feed utilized were BR1, BR2 and pro-bio. The experiment was designed as a Complete Randomized Design (CRD) consisting of 4 treatments and 4 replications. The treatments consisted of P0 (commercial feed without probio), P1 (99,7% commercial feed +0.3% probio), P2 (99,5% commercial feed +0.5% probio) and P3 (99.3% commercial feed + 0,7% probio). The variables observed were weight gain, feed consumption, and feed conversion. The data of weight gain of P0, P1, P2 and P3 were 49,05; 52,53; 48,80 and 53,42 g/bird/day, respectively. The feed consumption were 134,74; 137,21; 138,16 and 139,52 g/bird/day, respectively. The feed conversion were 2,75; 2,62; 2,83 and 2,61, respectively. The results of the statistical analysis showed that the addition of pro-bio had a very significant effect (P<0.01) on feed consumption, whereas weight gain and feed conversion had not significant effect. It was concluded that the addition of probiotics in feed had no effect on weight gain, feed conversion but could have a significant effect on feed consumption.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan probiotik dalam pakan terhadap pertambahan berat badan, konsumsi pakan, dan konversi pakan ayam broiler. Penelitian ini telah dilaksanakan di kandang Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Timor sejak bulan September sampai November 2018. Ternak yang digunakan adalah ayam broiler berumur 1 hari berjumlah 80 ekor. Pakan yang digunakan adalah BR1, BR2 dan probiotik. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan4 ulangan. Perlakuan yang diberikan masing-masing: P0= pakan komersial tanpa probiotik, P1= 99,7% pakan komersial + 0,3% probiotik, P2= 99,5% pakan komersial + 0,5% probiotik, P3= 99,3% pakan komersial + 0,7% probiotik. Variabel yang diamati adalah pertambahan berat badan, konsumsi pakan, dan konversi pakan. Data pertambahan berat badan masing-masing P0 P1 P2 dan P3 adalah 49,05; 52,53; 48,8 dan 53,42 g/ekor/hari. Konsumsi pakan 134,74; 137,21; 138,16 dan 139,52 g/ekor/hari. Konversi pakan 2,75; 2,62; 2,83 dan 2,61. Analisis statistik menunjukkan bahwa penambahan probiotik berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi pakan, sedangkan pada pertambahan berat badan dan konversi pakan berpengaruh tidak nyata. Disimpulkan bahwa penambahan probiotik dalam pakan tidak berpengaruh terhadap pertambahan berat badan, konversi pakan tetapi dapat berpengaruh nyata terhadap konsumsi pakan

    Pengaruh Bagian Organ dan Persentase Ekstrak Tanaman Kayu Putih (Melaleuca leucadendra L.) terhadap Perkecambahan Benih Jagung (Zea mays) dengan Metode Bioassay

    Get PDF
    Maize production has recently declined. This is as a result of shifting the utilization of productive lands into unproductive lands. Therefore, intercropping becomes one of alternative food production. The most potential land for growing food crops is the kayu putih based production forest. This study aims to determine the effect of organ parts and the percentage of kayu putih extracts on germination of maize seeds by bioassay method and determine the level of germination level resistance to allelopathy. The study was conducted in March-May 2015 in Bangun Tapan, Bantul, Yogyakarta. The design used in this research is Completely Randomized Design (CRD) Factorial. The first factor is the parts of the plant organ (E) used as the extract, consisting of 9 levels, namely: root 1 zone extract, 2 zone root extract, bark extract, fresh leaf extract, leaf litter extract, root 1 zone extract + bark extract + extract fresh leaf + litter extract, 2 zone root extract + bark extender + fresh leaf extract + litter extract, bark extract + fresh leaf extract + litter extract, fresh leaf extract + leaf litter extract and a second factor is an extract concentration of 6 levels i.e control, 20 % extract, 40 % extract, 60 % extract, 80 % extract, 100 % extract with 10 mL size. There are 54 treatment combinations each repeated 3 times so the total research unit is 162 trays. Variable observation in this research is counting seed vigor and stress tolerance index on seed vigor. Research results indicates that there is no interaction between part treatment and percentage of kayu putih extract to germination of maize seeds, all parts of fresh organs of kayu putih plants at various concentrations are able to inhibit the growth and development of sprouts and put the maize sprouts at moderate level until susceptible in grouping stress tolerans index.Produksi tanaman jagung akhir-akhir ini terus mengalami penurunan. Hal ini sebagai akibat dari pergeseran pemanfaatan lahan-lahan produktif menjadi lahan tidak produktif. Oleh karena itu, tumpangsari menjadi salah satu alternatif produksi bahan pangan. Lahan yang paling berpotensi untuk menanam tanaman pangan adalah hutan produksi berbasis kayu putih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bagian organ dan persentase ekstrak tanaman kayu putih terhadap perkecambahan benih jagung dengan metode bioassay serta menentukan tingkat ketahanan kecambah terhadap alelopati. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2015 di Bangun Tapan, Bantul Yogyakarta. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial. Faktor pertama adalah bagian organ tanaman (E) yang digunakan sebagai ekstrak, terdiri dari 9 aras yaitu ekstrak akar zona 1, ekstrak akar zona 2, ekstrak kulit batang, ekstrak daun segar, ekstrak serasah daun, ekstrak akar zona 1 + ekstrak kulit batang + ekstrak daun segar + ekstrak serasah, ekstrak akar zona 2 + ekstrak kulit batang + ekstrak daun segar + ekstrak serasah, ekstrak kulit batang + ekstrak daun segar + ekstrak serasah, ekstrak daun segar + ekstrak serasah daun dan faktor kedua adalah konsentrasi ekstrak yang terdiri dari 6 level yaitu kontrol, ekstrak 20%, ekstrak 40%, ekstrak 60%, ekstrak 80%, ekstrak 100% dengan ukuran 10 mL. Terdapat 54 kombinasi perlakuan masing-masing diulang 3 kali sehingga total unit penelitian adalah 162 nampan. Variabel pengamatan dalam penelitian ini adalah menghitung vigor benih dan stress tolerance index pada vigor benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara perlakuan bagian organ tanaman dan persentase ekstrak kayu putih terhadap perkecambahan benih jagung, seluruh bagian organ segar tanaman kayu putih pada berbagai konsentrasi mampu menghambat pertumbuhan dan perkembangan kecambah dan menempatkan kecambah jagung pada level moderat sampai rentan dalam pengelompokan stress tolerance index

    Pengaruh Takaran Biochar Sekam Padi dan Kompos Kotoran Ayam terhadap Pertumbuha dan Hasil Kubis Bunga (Brassica oleraceae, L.)

    No full text
    Cabbage flower (Brassica oleracea, L.) or cauliflower is a vegetable commodity consumed by curd. This type of vegetable is very appreciated by the general public because it tastes good and delicious to make soup and also contains high nutrition. The purpose of this study was to determine the effect of biochar dosage of rice husk and compost of chicken manure on the growth and yield of flower cabbage. This research was carried out in August to October 2017, in the experimental garden of the Faculty of Agriculture, University of Timor, Sasi village, Kefamenanu city District, TTU Regency. Using a 3x3 factorial Randomized Block Design (RBD) repeated 3 times. The first factor was rice husk biochar consisting of 3 levels, namely without the use of biochar, biochar 2.5 t/ha, biochar 5 t/ha and the second factor was chicken manure compost consisting of three levels, namely without compost, 2.5 compost t/ha, compost 5 t/ha. The results showed that there was no interaction between parameters in both environmental parameters and yield parameters, but the administration of 5 t/ha biochar treatment and 5 t/ha chicken manure compost provided the best growth of flower cabbage plants.Kubis bunga (Brassica oleracea, L.) atau kembang kol merupakan komoditas sayur yang dikonsumsi massa bunganya (curd). Jenis sayuran ini sangat di gemari masyarakat umum selain karena cita rasanya enak dan lezat untuk di buat sop dan juga mengandung gizi yang cukup tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh takaran biochar sekam padi dan kompos kotoran ayam terhadap pertumbuhan dan hasil kubis bunga. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2017, di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Timor, Kelurahan Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial 3x3 yang diulang 3 kali. Faktor pertama adalah biochar sekam padi yang terdiri dari 3 aras yaitu tanpa penggunaan biochar, biochar 2,5 t/ha, biochar 5 t/ha dan faktor kedua adalah kompos kotoran ayam yang terdiri dari tiga aras yaitu tanpa kompos, kompos 2,5 t/ha, kompos 5 t/ha. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terjadi interaksi antar parameter baik pada parameter lingkungan maupun pada parameter hasil, namun perlakuan biochar 5 t/ha dan kompos kotoran ayam 5 t/ha memberikan pertumbuhan tanaman kubis bunga terbaik

    Pengaruh Jenis Biochar terhadap Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Jenis Cover Crop dalam Tumpang Sari dengan Jagung Varietas Lokal (Zea Mays L)

    No full text
    This study aimed to learn various types of biochar that affect on the growth and yield of cover crops plants in intercropping with local maize varieties, and to study the effect of cover crops plants on soil moisture content and bulk density. This research was conducted on January to July 2018 at the faculty of agriculture demo-plot, Universitas Timor. The intercroping study design used a Strip Plot Design. The first factor is the type of cover crops (C) consisting of 3 levels, i.e lima bean (Phaseolus lunatus) (C1), velvet bean (Mucuna pruriens) (C2), and red mung bean (Vigna anggularis L.) (C3). The second factor is the type of biochar (B) which consists of 4 (four) levels namely without biochar (B0), sawdust biochar (B1), rice husk biochar (B2), siam weed biochar (B3). The results showed that there was no interaction between the legume cover crops with the type of biochar. M. pruriens cover crops has highest soil coverage, lowest soil temperature, and able to maintain soil moisture better than other cover crops. V. angularis cover crops has highest yield productivity while the M. pruriens has not yet produced but had a great soil coverage and highest thicknes which is very well to used as soil cover crops.Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari beberapa jenis biochar yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman cover crop pada tumpang sari dengan tanaman jagung lokal kuning, dan untuk mengkaji efek jenis cover crop terhadap kadar lengas dan berat volume tanah. Penelitian ini dilaksanakan pada pada bulan Januari 2018–Juli 2018 di kebun percobaan Fakultas Pertanian (belakang Perpustakaan Universitas Timor). Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Beralur (Strip Plot Design). Faktor pertama adalah jenis cover crop (C) terdiri dari 3 aras, kacang arbila (Phaseolus lunatus) (C1), kacang nipe (Mucuna pruriens) (C2), dan kacang nasi (Vigna anggularis L.) (C3). Faktor kedua adalah jenis biochar (B) yang terdiri dari 4 (empat) aras yakni tanpa biochar (B0), serbuk gergaji (B1), sekam padi (B2), kerinyuh (B3). Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya interaksi pengamatan antara legume cover crop dan jenis biochar. Cover crop M. pruriens memiliki luas penutupan tanah tertinggi dan memberikan suhu tanah terendah dan dapat mempertahankan kadar lengas tanah. Produktivitas Cover crop V. angularis memberikan produktivitas hasil terbaik sedangkan M. pruriens belum berproduksi namun memiliki luas penutupan tanah yang besar dan ketebalan yang tinggi yang mana sangat baik digunakan sebagai tanaman penutup tanah

    Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Sayuran Daun Oleh Rumah Makan di Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara

    Get PDF
    This study aims to: (i) find out the description of demand for leaf vegetables by restaurants in Kefamenanu City District, Timor Tengah Utara Regency, (ii) to find out factors that greatly affected the demand for leaf vegetables by restaurants in Kefamenanu City District, Timor Tengah Utara Regency. The study was conducted from January to September 2017. Determination of the study area was determined purposive. The sampling method was done by incidental sampling method, where the meaning of sampling was based on the thought that, the entire population unit the same opportunity to be sample. The results showed that the factors that affected the demand for vegetables (cassava, mustard, celery) were expenditures on vegetables purchases while the other independent variables in this study had no significant effected on the demand for leafes vegetables by the restaurant.Penelitian ini bertujuan untuk : (i) mengetahui gambaran permintaan sayuran daun oleh rumah makan di Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara, (ii) untuk mengetahui faktor – faktor yang sangat mempengaruhi permintaan terhadap sayuran daun oleh Rumah makan di Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai bulan September 2017. Penentuan daerah penelitian ditentukan secara sengaja. Metode penarikan sampel dilakukan dengan metode incidental sampling, dimana artinya penarikan sampel didasarkan atas pemikiran bahwa, keseluruhan unit populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dijadikan sampel.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi jumlah permintaan sayur – sayuran (singkong, sawi, seledri) adalah pengeluaran pembelian sayur – sayuran sedangkan variabel independen lainya  pada penelitian ini tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap jumlah permintaan sayuran daun oleh rumah makan

    Pengaruh Level Pemberian Bokashi Cair Berbahan Dasar Limbah Biogas (Slurry) dan Ekstrak (Chromolaena odorata) terhadap Pertumbuhan Awal Lamtoro (Leucaena leucocephala)

    Get PDF
    This study aims to determine the effect of liquid bokashi based on waste Biogas (Slurry) and Chromolaena odorata extract on the growth rate of lamtoro (Leucaena leuccephala). Nutrient requirements (N, P, K) available from both the soil and liquid bocation are sufficient and can cause high growth of lamtoro plants. The study used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 16 replications, with a total design of 64 poly bags. The treatment given is R0 = Without liquid bokashi, R1 = Giving bokashi liquid with a dose of 50 ml / 1 liter of water, R2 = Giving bokashi liquid with a dose of 150 ml / 1 liter of water, R3 = Giving bokashi liquid with a dose of 250 ml / 1 liter of water. The variables observed were plant height, stem diameter, number of leaf stalks, fresh weight, and dry weight. It can be concluded that the level of liquid bokashi based on biogas (Slurry) and Cromolaena odorata waste of 250 ml / 1 liter of water can or can increase the highest growth including plant height: 91.03 cm / 56 days, plant stem diameter: 0.97 cm / 56 days, number of leaf stalks: 19.46 stalks / 56 days, fresh weight: 26.74 grams / 56 days and dry weight: 8.58 grams / 56 days.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bokashi cair berbahan dasar limbah Biogas (Slurry) dan Ekstrak (Chromolaena odorata) terhadap tingkat pertumbuhan awal lamtoro (Leucaena leuccephala). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yaitu dengan 4 perlakuan dan  yang diulang sebanyak 4 kali sehingga di dapat 64 ulangan. Adapun perlakuan yang diberikan adalah R0 = Tanpa pemberian bokashi cair, R1 =  Pemberian bokashi cair dengan dosis 50 ml/1 liter air, R2 =  Pemberian bokashi cair dengan dosis 150 ml/1 liter air, R3 = Pemberian bokashi cair dengan dosis 250 ml/1 liter air. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, diameter batang, jumlah tangkai daun, bobot segar tanaman, dan bobot kering. Dari hasil analisis dan pembahasan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pemberian bokashi dengan level (250 ml/1 liter air) memberikan tinggi tanaman tertinggi, diameter batang terbesar, jumlah tangkai daun terbanyak, berat segar tanaman terberat dan berat kering tanaman terberat

    564

    full texts

    604

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇