Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
    604 research outputs found

    Persepsi Pemuda Desa terhadap Pekerjaan di Sektor Pertanian (Studi Kasus di Desa Bajang, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan)

    Full text link
    Bajang Village is a rural area where the majority of the translation are farmers. But, farmers in Bajang Village are dominated by farmers who in old age. This resulted in a lack of youth contribution to agriculture. This purpose of study are (1) to know the perception of Bajang Village youth about agricultural work (2) to know what factors have a relationship with the perception of Bajang Village youth regarding work in the agricultural sector. In this study, 40 respondents were used who were taken by accidental sampling. Data collection was carried out through observation, interviews, and dissemination of questionnaires. The data were analyzed using descriptive statistics and the Chi-square test. The results of the study showed that the perception of rural youth towards work in agriculture was in the good category. Factors related to youth's perception of employment in the agricultural sector include current employment, work experience and parental income. Meanwhile, the factors that have nothing to do with the perception of rural youth towards employment in the agricultural sector are gender, age, education and socialization.Desa Bajang adalah desa yang sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani. Akan tetapi, petani di Desa Bajang didominasi petani yang sudah berumur tua dari pada petani muda. Hal tersebut mengakibatkan kurangnya kontribusi pemuda terhadap pertanian. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui persepsi pemuda Desa Bajang tentang  pekerjaan pertanian (2) mengetahui faktor-faktor apa saja yang memiliki hubungan dengan persepsi pemuda Desa Bajang terkait pekerjaan di sektor  ini digunakan 40 responden yang diambil dengan Accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan penyebaran kuisoner. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji Chi-square. Hasil kajian menunjukkan bahwa sikap pemuda desa terhadap pekerjaan di bidang pertanian berada dalam kategori baik. Faktor -faktor yang yang berhubungan dengan persepsi pemuda terhadap pekerjaan disektor pertanian meliputi pekerjaan saat ini, pengalaman kerja dan pendapatan orang tua. Sedangkan faktor-faktor yang tidat ada kaitannya dengan persepsi pemuda desa terhadap pekerjaan disektor pertanian adalah jenis kelamin, usia, pendidikan terkhir dan sosiliasi

    Pemodelan Matematis Besaran Pengaruh pada Kasus Keputusan Pembelian Konsumen Gerai Rumah Karawo

    No full text
    The development of the business world has advanced very rapidly in the current era of globalization, where there is a lot of competition between companies that have the same business. One of the businesses that developed from the creations of children from the Gorontalo area is Karawo. Karawo is a symbol of Gorontalo's cultural identity, to this day not only has consumers in its own area but consumers outside the Gorontalo area. So it is important for companies to pay attention to attractiveness in terms of consumer purchasing decisions. Several factors that influence purchasing decisions include buyer awareness of a brand, product price and perceived quality. By using a mathematical model using a quantitative approach with a regression analysis method, it can describe whether there is an influence of brand awareness, price and perceived quality on consumer purchasing decisions at Gerai Rumah Karawo and the magnitude of the influence. The data collection technique was by distributing questionnaires to 68 respondents. The research results show that brand awareness, price and perceived quality simultaneously influence consumer purchasing decisions at the Rumah Karawo Outlet by 69.5%.Perkembangan dunia bisnis telah maju sangat pesat khusunya di era globalisasi saat ini banyak terjadi persaingan antara perusahaan yang mempunyai bisnis yang sama. Salah satu bisnis yang berkembang dari hasil kreasi anak daerah Gorontalo yaitu karawo. Karawo yang merupakan symbol identitas budaya Gorontalo hingga saat ini tidak hanya memiliki konsumen didaerah sendiri akan tetapi konsumen luar daerah Gorontalo. Sehingga penting bagi perusahaan untuk memperhatikan daya tarik dalam hal keputusan pembelian konsumen. Beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian diantaranya kesadaran pembeli terhadap suatu merek, harga produk dan persepsi kualitas. Dengan menggunakan model matematis menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis regresi dapat menggambarkan apakah ada pengaruh kesadaran merek, harga dan persepsi kualitas terhadap keputusan pembelian konsumen di Gerai Rumah Karawo beserta besaran pengaruhnya. Teknik pengumpulan data dengan melakukan penyebaran kuesioner kepada 68 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran merek, harga dan persepsi kualitas secara simultan berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen di Gerai Rumah Karawo sebesar 69,5%

    Efektivitas Biopestisida Metarhizium Sp. Dalam Mengendalikan Belalang Kembara (Locusta migratoria minilensis Mayen)

    No full text
    Locust pests are one of the most critical pests in almost every region of Indonesia. This pest phenomenon occurs because biological and environmental factors influence it. The significant use of chemical pesticides can cause environmental damage. One of the alternatives in controlling locust pests is using biopesticides Metharizium sp. This study aimed to determine the effectiveness of Metarhizium sp. biopesticides against locusts. The method used in the study was a complete randomized design (CRD), with four treatments, repeated four times to obtain 16 experimental units M0: Without biopesticide Metarhizium sp.; M1: biopesticide Metarhizium sp. 20 ml + 80 ml distilled water; M2: biopesticide Metarhizium sp. 40 ml + 60 ml distilled water; M3: biopesticide Metarhizium sp. 60 ml + 40 ml distilled water. The study results showed that Metarhizium biopesticide significantly affected mortality and feeding activity at a dose of 60 ml Metarhizium biopesticide liquid + 40 ml distilled water (M3). The observations on day three show that Metarhizium biopesticide can kill the locust pests by slowly beginning to paralyze the power of movement and the power of eating activity, causing the locust pests to experience death. Symptoms on the body of dead pests range from blackish, black hardened, and white spots. This shows that Metarhizium fungus with a dose of 60 ml is the most effective treatment in controlling locust pests.Belalang kembara merupakan salah satu hama penting hampir disetiap wilayah Indonesia. Fenomena hama ini terjadi karena dipengaruhi oleh faktor biologis dan faktor lingkungan. Besarnya penggunaan pestisida kimia dapat berdampak buruk terhadap kerusakan lingkungan. Salah satu alternatif dalam mengendalikan hama belalang dengan menggunakan biopestisida Metharizium sp. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efektivitas pemberian biopestisida Metarhizium sp. terhadap belalang kembara. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah rancangan acak lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan, diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 16 satuan unit percobaan M0: Tanpa pemberian biopestisida Metarhizium sp.; M1: biopestisida Metarhizium sp. 20ml + 80ml aquades; M2: biopestisida Metarhizium sp. 40ml + 60ml aquades; M3: biopestisida Metarhizium sp. 60ml + 40ml aquades.  Hasil dari penelitian menunjukkan biopestisida Metarhizium berpengaruh nyata pada Mortalitas, Aktivitas makan, dan tingkat kematian dengan dosis yang paling efektif 60ml cairan biopestisida Metarhizium + 40ml aquades (M3). Metarhizium dapat membunuh hama belalang kembara bisa dilihat pada hari ke-3 pengamatan yang secara perlahan-lahan jamur metarhizium mulai melumpuhkan daya aktivitas makan dan daya gerak dari hama belalang kembara yang berakhir pada kematian

    Shallot engaruh Ukuran Umbi Benih Yang Dibelah Vertikal dan Frekuensi Atonik Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Bawang Merah (Allium cepa L.)

    No full text
    ABSTRACT The research aimed to determine the effect of vertically split of the shallot bulbs size and atonic frequency on shallot growth and yield was carried out on field at the Faculty of Agriculture, Science and Health, University of Timor, using a two-factor Completely Randomized Design (CRD). The first factor is the size of the bulbs, i.e., small size (D1), medium size (D2), and large size (D3). The second factor is the frequency of Atonic PGR (plant growth regulator) application (1.5 mL/L water), i.e.; 1 (F1), 2 (F2), and 3 (F3) times.  The results of the research showed that even though there was no interaction between treatments, the use of medium sized of shallot bulbs with the frequency of Atonic PGR application 2 times was optimal to increase maximum growth and yield, including: number of leaves, leaf area, fresh weight of the plant, fresh weight of the waste, and dry weight of the waste, and dry weight of the bulbs (41.20 g). The interaction resulted in the fresh weight of the plant (59.49 g) and the fresh weight of the bulb (48.90 g) higher than other treatment. Keywords:  ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran umbi benih yang dibelah vertikal dan frekuensi atonik terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah telah dilaksanakan di lahan Fakultas Pertanian Sains dan Kesehatan Universitas Timor, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor. Faktor pertama adalah ukuran umbi benih yaitu; ukuran kecil (D1), ukuran sedang (D2), dan ukuran besar (D3). Faktor kedua adalah frekuensi aplikasi ZPT atonik (1,5 mL/L air) yaitu: 1 (F1), 2 (F2), dan 3 (F3) kali.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun tidak terjadi interaksi antar perlakuan penggunaan umbi benih ukuran sedang dengan frekuensi aplikasi ZPT atonik 2 kali sudah cukup optimal meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah yang maksimal, meliputi: jumlah daun, luas daun, bobot segar tanaman, bobot segar berangkasan, dan bobot kering berangkasan, dan bobot kering umbi (41.20 g). Interaksi antara perlakuan tersebut menghasilkan bobot segar tanaman (59,49 g) dan bobot segar bobot segar umbi (48.90 g) lebih tinggi dari perlakuan lainnya.  Kata kunci: Allium cepa L., Frekuensi Atonik, Ukuran Umbi Beni

    Analisis Potensi Usaha Pengembangan Pembibitan Sapi Peranakan Onggole (Studi Kasus di Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah, Indonesia)

    No full text
    This study aims to analyze the development potential of beef cattle breeding in Karanganyar Regency including financial business feasibility, SWOT analysis and development strategies as well. Determination of the research location in Karanganyar Regency using the location quotient (LQ) method in order to obtain 3 sub-districts including Jenawi, Jatiyoso and Mojogedang Sub-districts. Purposive sampling was used to select 40 PO (Ongole Peranakan) cattle breeders as respondents. The survey method was used to collect primary data from respondents and secondary data from related agencies. The net present value (NPV), benefit cost ratio (BCR), internal rate of return (IRR), payback period of credit (PPC), and break event point criteria were used in the feasibility analysis of the cattle feedlot business (BEP). SWOT analysis was also used in the analysis of the PO cattle development strategy. The analysis revealed that the PO cattle breeding business is not financially feasible over an 8-year period with a discount factor of 12%/year, but it is feasible if labor is not valued in money. The SWOT analysis turned out the livestock rearing system, easy to obtain forage, financially feasible conditions, and livestock breeding methods are the internal strengthsInternal weaknesses include a lack of information on beef cattle farming, farmers' lack of knowledge, and farmers' weak bargaining position. External opportunities include the supply of business capital and the use of breeding technology. External threats include livestock diseases, competition for beef cattle from other areas, and uncontrolled livestock sales. PO cattle breeding business in Karanganyar Regency is feasible.Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis potensi pengembangan usaha pembibitan sapi di kabupaten karanganyar meliputi kelayakan usaha finansial dan analisis swot serta strategi pengembangannya. Penentuan lokasi penelitian di Kabupaten Karanganyar menggunakan metode location quotient (LQ) sehingga diperoleh 3 kecamatan meliputi Kecamatan Jenawi, Jatiyoso dan Mojogedang. Pengambilan sampel responden ditentukan secara purposive sampling sebanyak 40 peternak pembibitan usaha sapi PO (Peranakan Ongole). Metode pengambilan data menggunakan metode survei untuk mengumpulkan data primer dari responden dan data sekunder dari dinas terkait. Analisis kelayakan usaha penggemukan sapi menggunakan kriteria net present value (NPV), benefit cost ratio (BCR), internal rate of return (IRR), payback period of credit (PPC), dan break event point (BEP). Analisis strategi pengembangan sapi PO menggunakan analisis SWOT. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara finansial usaha pembibitan sapi PO dengan jangka waktu 8 tahun dan discount factor 12%/tahun tidak layak diusahakan namun akan layak jika tenaga kerja tidak dinilai dengan uang. Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa kekuatan internal yaitu sistem pemeliharaan ternak, pakan hijauan mudah didapat, keadaan finansial yang layak, dan metode perkawinan ternak. Kelemahan internal meliputi informasi peternakan sapi potong masih kurang, pengetahuan peternak yang masih rendah, dan posisi tawar-menawar peternak masih lemah. Peluang eksternal terdiri dari pangsa penawaran kebutuhan modal usaha dan penggunaan teknologi perkembangbiakan. Ancaman eksternal berupa penyakit yang menyerang ternak, pesaing ternak sapi potong dari daerah lain, dan penjualan ternak yang tidak terkontrol. usaha pembibitan sapi PO di Kabupaten Karanganyar layak untuk dijalankan dan potensi pengembangan menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk memperoleh peluang agar mendapat keuntungan

    Pengaruh Takaran Pupuk Kompos Feses Kuda dan Jarak Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Daun (Allium Fistulosum L.)

    Full text link
    This research aims to determine the effect of the dose of compost mixed with horse feces and plant spacing on the growth and yield of leek plants (Allium fistulosum L.). This research was carried out in October 2022 at the Agrotechnology Study Program Experimental Field and the Laboratory of the Faculty of Agriculture, University of Timor. The design used in this research is a two-factorial split plot design. The first factor is the use of organic fertilizer mixed with horse feces, consisting of 4 levels, namely: without horse compost, 30 t/ha horse compost, 20 t/ha horse compost, and 10 t/ha horse compost. The second factor is the planting distance, which consists of 3 levels: 15 cm x 20 cm, 20 cm x 20 cm, and 25 cm x 20 cm. There were 12 treatment combinations, repeated three times, so there were 36 experimental units. The results of the research showed that there was an interaction between the treatment of giving horse compost fertilizer and the planting distance on the observed parameters of soil moisture content and root volume. The combination treatment of giving a dose of horse feces compost of 30 t/ha and a planting distance of 20 cm x 20 cm resulted in the highest number of leaves. The appropriate dose of horse feces compost for cultivating spring onions is 20 t/ha. This is proven by the highest values obtained for the harvest index parameters: economic weight per plot, economic weight per hectare, temperature, and plant height. This is proven by the highest values obtained for the harvest index parameters, economic weight per plot, economic weight per hectare, temperature, and plant height.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh takaran pupuk kompos campuran feses kuda dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang daun (Allium fistulosum L.). Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2022 di Lahan Percobaan Program Studi Agroteknologi, dan Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Timor. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu petak terbagi (Split Plot Design) 2 faktorial. Faktor pertama adalah penggunaan pupuk organik kompos campuran feses kuda terdiri dari 4 taraf yaitu: tanpa pupuk kompos kuda, kompos kuda 30 t/ha, kompos kuda 20 t/ha dan kompos kuda 10 t/ha. Faktor kedua adalah jarak tanam yang terdiri dari 3 taraf yaitu 15 cm x 20 cm, 20 cm x 20 cm dan 25 cm x 20 cm. Terdapat 12 kombinasi perlakuan, diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 36 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara perlakuan pemberian takaran pupuk kompos kuda dan jarak tanam terhadap parameter pengamatan kadar lengas tanah dan volume akar. kombinasi perlakuan pemberian takaran pupuk kompos feses kuda 30 t/ha dan jarak tanam 20 cm x 20 cm dimana menghasilkan jumlah daun dengan nilai tertinggi serta jumlah daun terbanyak. Takaran kompos feses kuda yang tepat untuk budidaya tanaman bawang daun yaitu dengan takaran 20 t/ha. Hal ini dibuktikan dengan nilai tertinggi diperoleh pada parameter indeks panen, berat ekonomi per petak, berat ekonomi per hektar, suhu, tinggi tanaman. Hal ini dibuktikan dengan nilai tertinggi diperoleh pada parameter indeks panen berat ekonomi per petak, berat ekonomi per hektar, suhu dan tinggi tanaman

    Mekanisme Akses Masyarakat Dalam Pemanfaatan Sumber Daya Hutan di Taman Nasional Lore Lindu

    Full text link
    The access that communities have to the forest is a major factor in maintaining a balanced use of forest resources. People's dependence on the forest is reflected in various aspects of their daily lives. However, when forest products are exploited without permission, the impact can be very damaging to the forest ecosystem. The purpose of this study was to analyze the mechanisms used by the community in obtaining, controlling and regulating their access to the use of forest resources around the Lore Lindu National Park area. The respondent sampling technique used is purposive sampling, which is a sampling method that is carried out deliberately or intentionally selected by researchers based on certain characteristics that are considered relevant to the research objectives. Where the population of people who utilize forest resources is 30 respondents who are sampled in this study. The data collection method used is a case study, where data collection is carried out through in-depth interviews and involved observations. The data collected was analyzed using access theory. The results showed that the Bobo Village community relies heavily on forest products for their daily lives and livelihoods, even though TNLL has been designated as a conservation area. In this case, the community has obtained forest resources for generations, but often uses unauthorized land in the TNLL area. Control and regulation efforts are carried out by TNLL management and village conservation management institutions to maintain the sustainability of the area. This research highlights the importance of systematic cooperation and regulation in maintaining the sustainability and function of TNLL in the midst of community dependence on natural resources. The community continues to access the TNLL area and continues to utilize forest resources around the area.Akses yang diberikan kepada masyarakat terhadap hutan menjadi faktor utama dalam mempertahankan keseimbangan penggunaan sumber daya hutan. Ketergantungan masyarakat terhadap hutan tercermin dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari mereka. Namun, ketika hasil hutan dieksploitasi tanpa izin, dampaknya bisa sangat merusak bagi ekosistem hutan. Tujuan Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis mekanisme yang dilakukan masyarakat dalam memperoleh, mengontrol dan mengatur aksesnya terhadap pemanfaatan sumberdaya hutan disekitar kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Teknik pengambilan sampel responden yang digunakan adalah purposive sampling merupakan metode pengambilan sampel yang dilakukan dengan sengaja atau secara sengaja dipilih oleh peneliti berdasarkan karakteristik tertentu yang dianggap relevan dengan tujuan penelitian. Dimana jumlah populasi masyarakat yang memanfaatkan sumber daya hutan yaitu berjumlah 30 responden yang dijadikan sampel penelitian ini. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi kasus, dimana pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan pengamatan terlibat. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teori akses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Bobo sangat bergantung pada hasil hutan untuk kehidupan sehari-hari dan mata pencaharian mereka, meskipun TNLL telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Dalam hal ini masyarakat memperoleh sumber daya hutan secara turun temurun, tetapi sering menggunakan lahan tanpa izin yang ada di kawasan TNLL. Upaya pengontrolan dan pengaturan dilakukan oleh pihak pengelola TNLL dan lembaga pengelola konservasi desa guna menjaga keberlangsungan kawasan. Penelitian ini menyoroti pentingnya kerjasama dan pengaturan yang sistematis dalam menjaga kelestarian dan fungsi TNLL di tengah ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya alam.masyarakat tetap mengakses kawasan TNLL dan tetap memanfaatkan sumber daya hutan yang ada di sekitar kawasan

    Tingkat Partisipasi Kelompok Tani Hutan Karava Jaya dan Kelompok Tani Hutan Sumber Hidup Di Kecamatan Gumbasa

    No full text
    The Forest Farmers Group (KTH) is an organizational entity that specifically focuses on managing forest resources through the active participation of members in planning, implementation and evaluation activities. In achieving the goals of KTH activities, participation from KTH members is required. This research aims to determine the level of participation of KTH members in KTH activities starting from the planning stage, implementation stage, utilization stage and evaluation stage. Respondents are members of two KTHs, namely KTH Jaya Karava and Sumber Hidup. Data collection was carried out through interviews and direct observation in the field. Data analysis used in this research uses quantitative descriptive analysis. The results of the research show that the level of participation of members of the KTH Jaya Karava group is relatively high, while the level of participation of KTH Sumber Hidup is relatively low.Kelompok Tani Hutan (KTH) menjadi entitas organisasi yang secara khusus berfokus pada pengelolaan sumber daya hutan melalui partisipasi aktif anggota dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Dalam mencapai tujuan kegiatan KTH diperlukan partisipasi dari anggota KTH. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat partisipasi anggota KTH terhadap kegiatan KTH mulai dari tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap pemanfaatan dan tahap evaluasi. Responden merupakan anggota dari dua KTH yaitu KTH Jarava Jaya dan Sumber Hidup. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan pengamatan langsung di lapangan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat partisipatif anggota kelompok KTH Karava Jaya tergolong tinggi sedangkan tingkat partisipatif KTH Sumber Hidup tergolong rendah

    Hubungan Antara Adopsi Teknologi Pemanenan Terhadap Tingkat Pendapatan Petani Padi Sawah (Studi Kasus di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara)

    Full text link
    The purpose of the study was to examine the differences in the amount of labor costs, farm costs and income of paddy fields with Combine Harvester and Power Thresher harvesting technology in Lamedai Village, Tanggetada District, Kolaka Regency. The method of taking the number of samples by proportionate Stratified Random Sampling method and for the determination of the type of sample by Simple Random Sampling method as many as 52 samples. Each farmer who did farming with Combine Harvester harvesting technology as many as 29 samples and Power Thresher as many as 23 samples. The method of data analysis used in this study is the analysis of different test model independent sampleT-test. The results showed that there was a significant difference in total farming costs and rice revenues with Combine Harvester and Power Thresher harvesting technology in Lamedai Village, Tanggetada District, Kolaka Regency. The results showed that there is a real difference in income received by farmers who use power trasher machine with combine harvester. However,both still provide benefits and deserve to continue their business because the value of RC and BC ratio is positive. The suggestion that can be recommended is that farmers can be more familiar with the combine harvester machine so that the productivity of rice land is higher which also affects the income received by farmers.Tujuan penelitian untuk menguji perbedaan jumlah biaya tenaga kerja, biaya usahatani dan pendapatan padi sawah dengan teknologi panen Combine Harvester dan Power Thresher Di Desa Lamedai, Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka. Metode pengambilan jumlah sampel dengan metode Proporsionate Stratified Random Sampling dan untuk penentuan jenis sampel dengan metode Simple Random Sampling sebanyak 52 sampel. Masing masing petani yang melakukan usahatani dengan teknologi panen Combine Harvester sebanyak 29 sampel dan Power Thresher sebanyak 23 sampel. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis uji beda model independent sampleT-test. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan yang nyata pada total biaya usahatani dan pendapatan padi sawah dengan teknologi panen Combine Harvester dan Power Thresher Di Desa Lamedai, Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memang terdapat perbedaan yang nyata pendapatan yang diterima oleh petani yang menggunakan mesin power trasher dengan combine harvester. Namun, keduanya masih memberikan keuntungan dan layak untuk dilanjutkan usahanya karena nilai RC dan BC ratio bernilai positif. Saran yang dapat direkomendasikan adalah petani dapat lebih terbiasa dengan mesin combine harvester agar produktivitas lahan padi lebih tinggi yang juga berpengaruh terhadap pendapatan yang diterima oleh petani

    Analisis Peran Pemangku Kepentingan Dalam Pengelolaan Rehabilitasi Hutan Daerah Aliran Sungai (DAS) Desa Beka Kecamatan Marawola Kabupaten Sigi

    Full text link
    Damage to watersheds (DAS) in many locations in Indonesia currently requires attention. Increasing pressure from population growth, urbanization, shrinking watersheds (DAS) and the expansion of critical areas and regional development have caused an increased risk of flooding, landslides and drought. Similar conditions also occur in the Beka Village River Watershed (DAS). This research aims to analyze the role of stakeholders in managing the rehabilitation of river basin (DAS). This research method uses purposive sampling and snowball sampling to determine the role of stakeholders and stakeholder analysis in managing river watershed (DAS) forest rehabilitation. Conducted through interpretation of the matrix of influences and interests in the management if River Basin (DAS) forest rehabilitation, 9 stakehokholders have been identified who have roles ranging from forest management, community empowerment and supervision. The identified stakeholders consist of government and community elements involved in the process. By identifying the role of stakeholders, analyzing the 4Rs and assessing the level of influence of their intersts, it can be seen that collaboration between stakeholders is the main key to achieving the goal of watershed forest rehabilitation management. The synerghy between various parties such as BPDAS Palu Poso and KPH Kulawi provides a solid foundation for optimizing the management potential of Beka Village Watershed Forest Rehabilitation (DAS).Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) dibanyak lokasi di Indonesia saat ini perlu mendapat perhatian. Meningkatnya tekanan dari pertumbuhan penduduk, urbanisasi, menyusutnya Daerah Aliran Sungai (DAS) dan meluasnya kawasan kritis dan pembangunan wilayah yang telah menyebabkan peningkatan risiko banjir tanah longsor dan kekeringan. Kondisi serupa juga terjadi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Desa Beka. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran pemangku kepentingan dalam pengelolaan rehabilitasi hutan daerah aliran sungai (DAS) Desa Beka. Metode penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan snowball sampling untuk mengetahui peran pemangku kepentingan serta analisis pemangku kepentingan dalam pengelolaan rehabilitasi hutan Daerah Aliran Sungai (DAS). Dilakukan melalui interpretasi matriks pengaruh dan kepentingan pengelolaan rehabilitasi hutan Daerah Aliran Sungai (DAS) telah mengidentifikasi 9 pemangku kepentingan yang memiliki peran mulai dari pengelolaan hutan, pemberdayaan masyarakat dan pengawasan. Pemangku kepentingan yang teridentifikasi terdiri dari unsur pemerintah dan masyarakat yang terlibat dalam proses tersebut. Dengan mengidentifikasi peran pemangku kepentingan, analisis 4Rs dan menilai tingkat pengaruh kepentingannya, terlihat bahwa kolabarasi antar pemangku kepentingan merupakan kunci utama mencapai tujuan pengelolaan rehabilitasi hutan Daerah Aliran Sungai (DAS). Sinergi antara berbagai pihak seperti BPDAS Palu Poso, dan KPH Kulawi memberikan landasan yang kokoh bagi optimalisasi potensi pengelolaan Rehabilitasi Hutan Daerah Aliran Sungai (DAS) Desa Beka

    564

    full texts

    604

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇