Portal Journal Unimor (PTU - Timor University)
Not a member yet
604 research outputs found
Sort by
Model Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Peternakan Sapi Potong Kepemilikan Rakyat pada Wilayah Lahan Kering Sekitar Pinggiran Hutan (Studi Kasus pada Kampung Maslete, Kecamatan Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur).
This study aims to determine the potential for developing people's beef cattle farming business, to determine the livelihood capital assets of farmers including social capital, human capital, and physical capital, and the level of involvement and empowerment of farmers in the process of empowerment in dryland areas and to formulate an empowerment model in Maslete Village. This research was completed from July until August 2023 in Maslete Village, Kefamenanu District, North Central Timor Regency. The research used a purposive sampling method (intentionally) by taking all beef cattle breeders in Maslete village as many as 28 respondents. The data collection technique uses the Participatory Rural Appraisal (PRA) technique. Model formulation using Focus Group Discussion (FGD). The results showed that physical capital includes an assessment of the availability of medium production facilities (53.57%), an Assessment of the Availability and Ease of Access to medium educational facilities (67.86%), an Assessment of the status of livestock ownership, an assessment of good (100%), Assessment of inadequate communication facilities. good (12%) and the assessment of transportation facilities as poor (96.43%). Human capital includes an assessment of the level of education as poor (71.43%) and an assessment of the level of health as good (71.43%). Social Capital includes a moderate assessment of involvement in social organization activities (71.43%) and a good social network assessment (92.86%). The level of farmer empowerment includes moderate knowledge (75%), medium attitude (24%), and medium skills (82.14%). Community empowerment model with an integrated system on agricultural land, livestock, and land around the edge of the forest.Penelitian bertujuan untuk mengetahui potensi pengembangan usaha peternakan sapi potong rakyat, mengetahui modal aset penghidupan peternak meliputi modal sosial, modal manusia, dan modal fisik, tingkat keterlibatan dan keberdayaan peternak dalam proses pemberdayaan di daerah lahan kering serta merumuskan model pemberdayaan di Kampung Maslete. Penelitian ini telah selesai dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2023 bertempat di kampung maslete, Kecamatan Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara. Penelitian menggunakan metode purposive sampling (sengaja) dengan mengambil seluruh peternak sapi potong dikampung maslete sebanyak 28 respoden. Teknik pengambilan data menggunakan teknik Participatory Rural Appraisal (PRA). Perumusan model dengan cara Focus Group Discussion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal fisik meliputi penilaian ketersediaan sarana produksi sedang (53,57%), Penilaian Ketersediaan dan Kemudahan Akses sarana penilaian pendidikan sedang (67,86%), Penilaian Status kepemilikan ternak penilaian baik (100%), penilaian sarana komunikasi kurang baik (12%) dan penilaian sarana transportasi kurang baik (96,43%). Modal manusia meliputi penilaian tingkat pendidikan kurang baik (71,43%) dan Penilaian Tingkat kesehatan Baik (71,43%). Modal Sosial meliputi Penilaian keterlibatan dalam kegiatan organisasi sosial sedang (71,43%) dan Penilaian Jaringan kerja sosial Baik (92,86%). Tingkat keberdayaan peternak meliputi penilaian pengetahuan sedang (75%), Sikap sedang (24%), dan Ketrampilan sedang (82,14%). Model pemberdayaan masyarakat dengan sistem integrasi pada lahan pertanian, peternakan dan lahan disekitar pinggiran hutan
Analisis Kelayakan Usaha Pemindangan Ikan di UD. Samudra Pasai Desa Sumberanyar Kabupaten Situbondo
Pindang fish is a type of traditional processing that functions to extend the relatively short shelf life of fish. Fish farming has the potential to increase national fish consumption and can also improve the community's economy, especially in Sumberanyar Village, Situbondo Regency. Thus, it is necessary to carry out an income analysis to determine whether the business activity is feasible or not. The aim of this research is to determine the revenue value, total costs, profits, and feasibility of fish farming businesses based on the R/C ratio and payback period. The sampling method used in this research is the purposive sampling method. Data collection methods include observation, interviews, literature study, and documentation. Respondents in this research were fish entrepreneurs at UD. Samudra Pasai, Sumberanyar Village, Situbondo Regency. The results of the financial analysis show that the average income is 66,436.000/month, and the average total costs incurred are 55.015.248/month, so the average profit is The average obtained was 11.420.752. Based on the business feasibility analysis, it is known that the R/C ratio is 1.2 and the payback period is 5,7 years. These results indicate that the fish farming business is feasible but requires business development to increase profits so that the payback period is <5 years.Ikan pindang merupakan salah satu jenis pengolahan tradisional yang berfungsi untuk memperpanjang umur simpan ikan yang relatif pendek. Usaha pemindangan ikan memiliki potensi dalam meningkatkan konsumsi ikan nasional dan juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya di Desa Sumberanyar Kabupaten Situbondo. Dengan demikian, perlu dilakukan analisis pendapatan untuk mengetahui layak atau tidak kegiatan usaha tersebut dijalankan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai penerimaan, total biaya, pendapatan serta kelayakan usaha pemindangan ikan berdasarkan R/C ratio dan payback period. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling. Metode pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, survey, studi pustaka dan dokumentasi. Responden dalam penelitian ini adalah pengusaha ikan di UD. Samudra Pasai Desa Sumberanyar Kabupaten Situbondo. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa penerimaan rata-rata usaha pemindangan ikan sebesar 66.436.000 per bulan. Total Biaya rata-rata yang dikeluarkan sebesar 55.015.248 per bulan, sehingga jumlah keuntungan rata-rata yang diperoleh sebesar 11.420.752. Berdasarkan analisis kelayakan usaha diketahui nilai R/C ratio sebesar 1,2 dan nilai payback period 5,7 tahun. Hasil tersebut menunjukkan bahwa usaha pemindangan ikan layak dijalankan namun butuh pengembangan usaha untuk meningkatkan keuntungan agar nilai payback period < 5 tahun
Pengaruh Formulsi Nutrisi Hidroponik pada Sistem Drip Terhadap Pertumbuhan dan Potensi Hasil Melon
The study aimed to determine the growth and yield of melon using a hydroponic drip irrigation system with the nutritional formulation AB Mix manufacturer and AB Mix self formulation. The research was carried out in the Banaran plastic house, Somokaton, Ngluwar, Magelang. This study was a single-factor experiment arranged in a Completely Randomized Design (CRD) with two replications. The treatments tested consisted of two types of nutritional formulas, namely concoction AB mix and manufactured AB mix. Data were analyzed by independent sample t-test at a 5% significance level. The results showed that the growth of melon plants fed with AB mixed nutrition and manufactured AB mix was not significantly different, except for the number of leaves. The yield parameters showed that the weight and diameter of the melon fruit in the plants that were given the AB mix self formulation were higher than the AB mix of the manufacturer. But the thickness of the fruit flesh and the sugar content in the plants that were given with the AB mixed nutrition were higher than the AB mix self formulation.Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil melon secara hidroponik sistem irigasi tetes dengan formulasi nutrisi AB Mix pabrikan (goodplant) dan AB Mix racikan. Penelitian telah dilaksanakan di rumah plastik Banaran, Somokaton, Ngluwar, Magelang. Penelitian ini merupakan percobaan faktor tunggal yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua ulangan. Perlakuan yang diujikan formula nutrisi terdiri atas dua jenis yaitu AB mix racikan dan AB mix pabrikan. Data dianalisis dengan independen sampel t-test pada taraf signifikan 5%. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan tanaman melon yang diberi nutrisi AB mix racikan dan AB mix pabrikan tidak berbeda nyata, kecuali pada jumlah daun, tanaman melon yang diberi perlakuan nutrisi AB mix pabrikan jumlah daunnya lebih banyak daripada AB mix racikan. Pada parameter hasil menunjukkan bobot dan diameter buah melon pada tanaman yang diberi AB mix racikan lebih besar daripada AB mix pabrikan, sedangkan ketebalan daging buah dan kadar gula pada tanaman yang diberi nutrisi AB mix pabrikan lebih besar daripada AB mix racikan
Pola Komunikasi Penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL) pada Kelompok Tani Karya Baru di Desa Suanae Kecamatan Miomaffo Barat Kabupaten Timor Tengah Utara
This research focuses on communication patterns, especially communication built within the Karya Baru farmer group to support farming and the development of the farmer group. The aim of this research is to find out the description of the internal and external factors of farmers in the Karya Baru farmer group, to know the picture of field agricultural extension (PPL) communication in the Karya Baru farmer group, and to find out what factors influence field agricultural extension (PPL) communication in the Karya Baru farmer group. The methods used in this research are mixed methods. Determining informants used the purposive sampling method with the technique of taking respondents by census (saturated sampling). The population and sample in this study used a purposive sampling technique, namely all members of the "Karya Baru" farmer group in Suanae Village, West Miomaffo District, North Central Timor Regency, with 23 members. Data collection was carried out using survey methods, observation, and data collection using questionnaires given directly to respondents. The results of this study state that the characteristics of respondents are internal factors that have a real influence on communication patterns, namely length of farming and cosmopolitan, while external factors, namely the role of farmer groups and agricultural extension methods, have a real influence on communication, namely the individual approach and group approach, which also have a real influence on communication.Penelitian ini berfokus pada pola komunikasi khususnya komunikasi yang dibangun dalam kelompok tani Karya Baru dalam mendukung usahatani dan pengembangan kelompok tani tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran faktor internal dan faktor eksternal petani dalam kelompok tani Karya Baru, mengetahui gambaran komunikasi Penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL) dalam kelompok tani Karya Baru, dan mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi komunikasi penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL) dalam kelompok tani Karya Baru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran (mix methods). Penentuan informan menggunakan metode purposive sampling dengan teknik pengambilan responden secara sensus (sampling jenuh). Populasi dan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yaitu seluruh anggota kelompok tani “Karya Baru” di Desa Suanae, Kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara yang beranggota 23 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei, observasi dan pengambilan data menggunakan kuesioner secara langsung kepada responden. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa karakteristik responden sebagai faktor internal yang berpengaruh secara nyata terhadap pola komunikasi yaitu lama berusahatani, kosmopolitan, sedangkan faktor eksternal yaitu peran kelompok tani dan metode penyuluhan pertanian yang berpengaruh secara nyata terhadap komunikasi yaitu pendekatan individu dan pendekatan kelompok juga berpengaruh nyata terhadap komunikasi
Pemanfaatan dan Nilai Ekonomi Hasil Hutan Bukan Kayu di Wilayah Kerja Kesatuan Pengelolaan Hutan Kulawi (Studi Kasus Desa Walatana Kecematan Dolo Selatan)
Effective and sustainable management of Non-Timber Forest Products (NTFPs) plays an important role in supporting the local economy, reducing pressure on primary forests, and maintaining biodiversity. This research aims to determine the use of NTFPs and the economic value of NTFPs in Walatana Village, South Dolo District. The research was carried out by applying survey methods to respondents and observations, using an analytical approach to the use of Non-Timber Forest Products (NTFPs) resources. Respondents are residents of Walatanana Village who have interactions with forest resources. The general problem faced in this research is the lack of understanding and awareness of the community regarding the potential of Non-Timber Forest Products (NTFPs) in Walatana Village, South Dolo District. The research results show that the people of Walatana Village have utilized various types of NTFPs, including rattan, candlenuts, bamboo, honey and firewood. With the economic value of NTFPs reaching Rp. 515,484,000,- per year, of which rattan contributes Rp. 220,200,000,-, this research highlights the great potential of NTFPs in supporting the local economy. These findings emphasize the importance of involving the community in efforts to sustainably manage NTFPs, while increasing their understanding of the economic potential that can be generated. This research indicates the need for an educational and participatory approach to increase public awareness of the importance of NTFPs in the context of sustainability. This effort is expected to create a balance between the use of NTFPs as a source of income and maintaining the sustainability of forest ecosystems.Pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang efektif dan berkelanjutan memegang peranan penting dalam mendukung perekonomian lokal, mengurangi tekanan terhadap hutan primer, dan menjaga keanekaragaman hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan HHBK dan nilai ekonomi HHBK di Desa Walatana, Kecamatan Dolo Selatan. Penelitian dilaksanakan dengan menerapkan metode survei terhadap responden dan observasi, menggunakan pendekatan analisis pemanfaatan sumberdaya Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Responden merupakan masyarakat Desa Walatanana yang memiliki interaksi dengan sumber daya hutan. Masalah umum yang dihadapi dalam penelitian ini adalah kurangnya pemahaman dan kesadaran Masyarakat mengenai potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di Desa Walatana, Kecamatan Dolo Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Walatana telah memanfaatkan beragam jenis HHBK, termasuk rotan, kemiri, bambu, madu, dan kayu bakar. Dengan nilai ekonomi HHBK mencapai Rp. 515,484,000,- per tahun, dimana rotan menyumbang sebesar Rp. 220,200,000,-, penelitian ini menyoroti potensi besar HHBK dalam mendukung perekonomian lokal. Penemuan ini menekankani pentingnya melibatkan masyarakat dalam upaya pengelolaan HHBK secara berkelanjutan, sambil meningkatkan pemahaman mereka terkait potensi ekonomi yang dapat dihasilkan. Penelitian ini mengindikasikan perlunya pendekatan edukatif dan partisipatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya HHBK dalam konteks keberlanjutan. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara pemanfaatan HHBK sebagai sumber pendapatan dan menjaga keberlanjutan ekosistem hutan
Efisiensi Teknis dan Sumber Inefisiensi Teknis Pada Usahatani Bawang Merah di Kabupaten Kupang (Pendekatan Maximum Likelihood Estimation)
Kupang Regency is one of the red onion producers in the East Nusa Tenggara Province. The red onion production in Kupang Regency from 2020 to 2022 experienced a yearly decline. The issue of decreasing productivity in red onion farming is related to the inefficiency in the use of production inputs. This research aims to analyze the level of technical efficiency and sources of technical inefficiency in red onion farming in Kupang Regency. The sampling technique was done purposively, with a sample size of 64 farmers from three villages: Tarus Village, Uiboa Village, and Uitiutuan Village. Snowball sampling was used for sample selection. The analysis method employed was the stochastic frontier Cobb-Douglas production function, estimated using Maximum Likelihood Estimation (MLE). The research results indicate that the average level of technical efficiency achieved by red onion farmers in the research locations is 0.7864, or an average technical efficiency value of 78.64%. Sources of technical inefficiency in red onion farming include income, age, education, farming experience, family size, planting distance, and farmer groups. Positive influences on inefficiency are income, age, planting distance, and farmer groups, while education, farming experience, and family size have negative influences on red onion farming efficiency.Kabupaten Kupang merupakan salah satu penghasi bawang merah di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Produksi bawang merah di Kabupaten Kupang pada tahun 2020 hingga 2022 mengalami penurunan setiap tahunnya. Permasalahan menurunnya produktivitas usahatani bawang merah berkaitan dengan belum efisiennya dalam penggunaan input-input produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efisiensi teknisl dan sumber inefisiensi teknisl pada usahatani bawang merah di Kabupaten Kupang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive, jumlah responden yang dijadikan sampel yaitu 64 petani yang berasal dari 3 desa yaitu Desa Tarus, Desa Uiboa danl Desa Uitiutuan. Penarikan sampel menggunakan snowbal. Metode analisis yang digunakan adalah fungsi produksi stokastik frontier Cobb-Douglass dan diestimasi menggunakan Maximum Likelihood Estimation (MLE). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat efisiensi teknis yang dicapai oleh petani bawang merah di lokasi penelitian adalah sebesar 0,7864 atau rata-rata nilai efisiensi teknis di lokasi penelitian sebesar 78,64%. Sumber-sumber inefisiensi teknisl usahatani bawang merah adalah pendapatan, umur, pendidikan, pengalaman usahatani, jumlah anggota keluarga, jarak tanam, kelompok tani. Sumber inefisiensi yang berpengaruh positif adalah pendapatan, umur, jarak tanam dan kelompok tani, sedangkan Pendidikan, pengalaman usahatani, jumlah anggota keluarga berpengaruh negatif pada usahatani bawang merah
Kajian Pengaruh Dosis Atonik dalam Perlakuan Pembelahan Umbi Bibit terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah (Allium cepa L.)
Studies were carried out in KM 9 Sasi Village, Kota District, North Central Timor Regency (TTU) to test the effect of atonic doses in the distribution of seed tubers on the growth and yield of shallots (Allium Cepa L.). A fully randomized design (CRD) was used. ) Faculty 7 repetitions. The first factor is tuber cleavage (B), namely: without cleavage (B0), halved (B1), the second factor is the concentration of the atonic ZPT doses (D), which consists of 4 steps, namely: control without atonic D0), 0.5 ml / L liter of water (D1), dose of 1 ml / L liter of water (D2), dose of 1.5 ml / L liter of water (D3). The results of the study showed that treatment of tuber division tended to decrease the number of tubers per lump, but increased tuber weight per lump and weight per tuber. Treatment of semen cleavage by immersion in an atonic solution of 1.5 ml / l increases the yields per lump by 14.78% higher than treatments without tuber division.Penelitian yang bertujuan untuk menguji Pengaruh Dosis Atonik Dalam Perlakuan Pembelahan Umbi BibitTerhadap Pertumbuhan Dan Hasil Bawang Merah(Allium Cepa L.) telah dilaksanakan di KM 9 Kelurahan Sasi, Kecamatan Kota, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 7 kali ulangan. Faktor Pertama adalah Pembelahan Umbi (B) yaitu:Tanpa Dibelah (B0), Dibelah Dua(B1), faktor kedua adalah konsentrasi Dosis ZPT Atonik (D) terdiri dari 4 taraf yaitu:Kontrol tanpa atonik(D0), 0,5 mL/L liter air(D1), Dosis 1mL/L liter air(D2),Dosis 1,5 mL/L liter air (D3).Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perlakuan pembelahan umbi cenderung menurunkan jumlah umbi per rumpun, tetapi meningkatkan bobot umbi per rumpun dan bobot per umbi.Perlakuan pembelahan umbi bibit dengan perendaman pada larutan atonik konsentrasi 1,5 mL/L meningkatkan hasil panen per rumpun sebanyak 14,78% lebih tinggi dibanding perlakuan tanpa pembelahan umbi
Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Kulit Bawang Merah Terhadap Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Detektor Kesegaran Berbasis Selulosa -Antosianin
Chicken meat spoilage during storage can be monitored and prevented using smart packaging that contains active antioxidant and antibacterial compounds. This research aims to determine the effect of shallot skin extract concentration on the antioxidant and antibacterial activity of anthocyanin cellulose films for active packaging development. The method used to test antioxidant activity was the DPPH (1,1-diphenyl-picrylhydrazyl) method, while the antibacterial activity test used the liquid diffusion method. Antioxidant activity test results showed that the cellulose-anthocyanin film has an IC50 value of 1.36 µg/mL which was classified as very strong antioxidant activity. The antibacterial activity thest showed that overall the cellulose-anthocyanin film could inhibit the growth of bacteria, both Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacteria. Shallot skin extract can be used as anthocyanins source which have antibacterial and antioxidant activity for smart packaging development.Kerusakan daging ayam selama masa penyimpanan dapat dipantau dan dicegah menggunakkan kemasan pintar yang mengandung senyawa aktif antioksidan dan antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak kulit bawang merah terhadap aktivitas antioksidan dan antibakteri dari film selulosa antosianin untuk pengembangan kemasan aktif. Metode yang digunakan untuk uji aktivitas antioksidan adalah metode DPPH (1,1-diphenyl-picrylhydrazyl), sedangkan uji aktivitas antibakteri menggunakkan metode dilusi cair. Hasil pengujian aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa film selulosa-antosianin memiliki nilai IC50 sebesar 1,36 µg/mL yang tergolong ke dalam aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Pada pengujian aktivitas antibakteri menunjukan bahwa keseluruhan film selulosa-antosianin dapat menghambat pertumbuhan bakteri baik Staphylococcus aureus maupun bakteri Esherichia coli. Ekstrak kulit bawang merah dapat digunakan sebagai sumber antosianin yang memiliki aktivitas antibakteri dan antioksidan untuk pengembangan kemasan pintar
Kelayakan Finansial Budidaya Tanaman Rimpang di Masa Pandemi Covid 19
The agricultural sector is one of the supporting sectors of the Indonesian economy during the Covid-19 pandemic. Horticulture is one of the agricultural sub-sectors that contributes significantly to the national economy. Biopharmaceutical plants are part of the horticulture sub-sector and are used as raw materials for health products. Ginger, turmeric, galangal, kencur, and temulawak are five biopharmaceutical plants of the rhizome group that can be used as herbal medicines to anticipate some symptoms of Covid-19. One of the cultivators of these five biopharmaceutical plants is Taman Sringganis. The problem faced is that the cultivation of medicinal plants in the rhizome group is not optimal due to the many types of medicinal plants being cultivated. The financial feasibility of cultivation must be known To optimize the cultivation of rhizome plants. This research was conducted to determine the feasibility of cultivating medicinal plants in the rhizome group. As a result, during the Covid-19 pandemic, the cultivation of Taman Sringganis rhizomes was still feasible. Based on the calculation results of the four investment feasibility criteria, it is known that the Net Present Value (NPV) is positive or more than equal to zero, namely Rp. 258,213,256, the Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio) is more than one, namely 1.79, the Internal Rate of Return (IRR) is more than the predetermined social interest rate (10.1%), namely 36% and Payback Period (PP) is faster than the business age (5 years) which is 3 years 4 months. Rhizome, medicinal plant cultivation, supports the 8th SDGs.Sektor pertanian menjadi salah satu sektor penopang perekonomian Indonesia di masa pandemi Covid-19. Hortikultura merupakan salah satu subsektor pertanian yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional. Tumbuhan biofarmasi merupakan bagian dari subsektor hortikultura dan digunakan sebagai bahan baku produk kesehatan. Jahe, kunyit, lengkuas, kencur, dan temulawak adalah lima tanaman biofarmasi dari kelompok rimpang yang dapat digunakan sebagai obat herbal untuk mengantisipasi beberapa gejala Covid-19. Salah satu pembudidaya kelima tanaman biofarmasi tersebut adalah Taman Sringganis. Permasalahan yang dihadapi adalah budidaya tanaman obat kelompok rimpang belum optimal karena banyaknya jenis tanaman obat yang dibudidayakan. Untuk mengoptimalisasi budidaya tanaman rimpang harus diketahui kelayakan finansial budidayanya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kelayakan budidaya tanaman obat pada kelompok rimpang. Hasilnya, saat pandemi Covid-19 budidaya rimpang Taman Sringganis masih layak dilakukan. Berdasarkan hasil perhitungan empat kriteria kelayakan investasi diketahui Net Present Value (NPV) bernilai positif atau lebih dari sama dengan nol yaitu Rp. 258.213.256, Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio) lebih dari satu yaitu 1,79, Internal Rate of Return (IRR) lebih dari tingkat bunga sosial yang telah ditentukan (10,1%), yaitu 36%, dan Payback Period (PP) lebih cepat dari umur usaha (5 tahun) yaitu 3 tahun 4 bulan. Budidaya tanaman obat rimpang mendukung SDGs ke-8
Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor Pendorong Serta Penghambat Pengelolaan Usahatani Kopi di Kabupaten Toba Samosir
The low use of farming technology, lack of knowledge of coffee farmers causes the productivity of this farming to be not optimal. This study aims to analyze the income of coffee farming and the factors driving and inhibiting the management of coffee farming in Districtc of Toba Samosir, which was carried out from January to April 2023. The data used were primary data and secondary data which were analyzed descriptively. The results showed; a) The average production cost of coffee farming is IDR3,385,056.00/year and the average income of farmers is IDR14,963,610.67/year/ha; b) The most dominant driving factors for coffee farming management are; coffee farming as a support source of family income and high motivation of farmers, c) The most dominant inhibiting factor in the management of coffee farming is the limited capital for farming and the lack of mastery of technology. In accordance with the results of the study suggested; a) So that farmers carry out optimal maintenance of their farms, b) So that local governments provide counseling to farmers, provide capital assistance and subsidies for fertilizers and medicines for farmers and provide technology training for farmers including the establishment of farming cooperatives.Rendahnya penggunaan teknologi usahatani, kurangnya pengetahuan petani kopi menyebabkan produktivitas usahatani ini tidak optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan usahatani kopi dan faktor pendorong dan penghambat pengelolaan usahatani kopi di Kabupaten Toba Samosir, yang dilaksanakan Januari s/d April 2023. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder yang dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan; a) Rata-rata biaya produksi usahatani kopi sebesar Rp3.385.056,00/tahun dan rata-rata pendapatan petani sebesar Rp14.963.610,67/tahun/ha; b) Faktor pendorong pengelolaan usahatani kopi yang paling dominan adalah; usahatani kopi sebagai penopang sumber pendapatan keluarga dan tingginya motivasi petani, c) Faktor penghambat pengelolaan usahatani kopi yang paling dominan adalah terbatasnya modal usahatani dan minimnya penguasaan teknologi. Sesuai dengan hasil penelitian disarankan; a) Agar petani melakukan perawatan usahataninya secara optimal, b) Agar pemerintah daerah memberikan penyuluhan kepada petani, memberikan bantuan modal dan subsidi pupuk dan obat-obatan bagi petani serta memberikan pelatihan teknologi bagi petani termasuk pembentukan koperasi usahatani