UNIDA Gontor Journals (Universitas Darussalam)
Not a member yet
4290 research outputs found
Sort by
Tingkat pengetahuan, persepsi, dan sikap konsumen terhadap kehalalan obat di Apotek UNISIA 24 Taman Sari Yogyakarta
Indonesia is one of the countries with the largest Muslim population in the world. So that public awareness and knowledge related to halal product guarantees is very important, one of which is the guarantee on pharmaceutical products. The purpose of this study was to determine the high level of knowledge, perceptions, and attitudes of consumers at the UNISIA 24 Taman Sari Yogyakarta Pharmacy. The research was conducted from March to May 2023. This research is a descriptive observational type. The data collection instrument uses a questionnaire and the data results are processed using statistical analysis applications. The results showed, at the level of knowledge it was known that 53% were categorized as good, 45% were categorized as sufficient and 2% were categorized as deficient. In perception, it is known that 92% are categorized as good and 9% are categorized as sufficient, in attitude it is known that 87% of respondents are categorized as good and 13% are categorized as sufficient. Based on this, it can be concluded that the average value of the level of knowledge (77%), perception (83%) and consumer attitudes (84%) towards the halalness of drugs at the UNISIA 24 Taman Sari Yogyakarta Pharmacy is in the good category
PENGARUH MEDIA EDUKASI BROSUR, KALENDER DAN VIDEO ANIMASI TERHADAP PENGETAHUAN, AKTIVITAS FISIK DAN ASUPAN MAKANAN
Latar belakang: Remaja mengalami berbagai perubahan fisik dan psikologis yang memengaruhi kesehatan. Banyak remaja yang cenderung mengonsumsi makanan tidak bergizi, berisiko terhadap masalah gizi seperti obesitas. Media edukasi tentang gizi seimbang menjadi penting untuk meningkatkan pengetahuan remaja obesitas. Tujuan: Penelitian ini memiliki tujuan mengetahui pengaruh media edukasi meliputi brosur, kalender dan video animasi terhadap pengetahuan, aktivitas fisik dan asupan remaja yang memliki status gizi overweight dan obesitas. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan metode Quasi Experimental Design, dan rancangan Pre-Post Test Design. Sampel terdiri dari 30 siswa SMAN 1 Telukjambe yang diambil secara purposive sampling. Terdapat tiga jenis media edukasi: brosur, kalender motivasi, dan video animasi. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner pengetahuan gizi, kuesioner IPAQ untuk data aktivitas fisik, dan 24-H Recall untuk data asupan. Data dianalisis dengan menggunakan uji paired T-Test dan Wilcoxon Hasil: Hasil analisis yang dilakukan menunjukkan terdapat peningkatan yang signifikan terhadap pengetahuan gizi setelah pemberian edukasi dengan menggunakan media edukasi seperti brosur (p value = 0,04) dan video animasi (p value = 0,018) atau (p value < 0,05) sedangkan tidak ada peningkatan pengetahuan pada media kalender motivasi (p value > 0,05). Â Tidak terdapat pengaruh pemberian media brosur, kalender dan video animasi terhadap peningkatan aktivitas fisik dan asupan (p value > 0,05). Kesimpulan: Media brosur dan animasi berpengaruh terhadap meningkatkan pengetahuan gizi remaja, tetapi tidak berpengaruh pada asupan dan aktivitas fisik. Media kalender edukasi tidak berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan, aktivitas fisik dan asupan
FORMULASI MIE KERING DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG UMBI TALAS (Colocasia esculenta L.) DAN SPIRULINA (Arthospira plantesis) SEBAGAI INOVASI MAKANAN POKOK ALTERNATIF PENCEGAHAN STUNTING
Latar Belakang: Mie kering adalah produk pangan populer karena praktis dan tahan lama, biasanya berbahan tepung terigu. Inovasi penggunaan tepung talas yang kaya karbohidrat dan spirulina sebagai sumber protein dan antioksidan diharapkan meningkatkan nilai gizi, daya tarik produk dan mendukung pengembangan produk yang sehat dan disukai masyarakat. Tujuan: Mengetahui pengaruh variabel perbandingan tepung terigu dan tepung talas dengan penambahan spirulina terhadap tingkat kesukaan masyarakat pada mie kering yang meliputi aroma, warna, rasa, kekenyalan dan kesukaan, kadar protein, kadar air dan kadar karbohidrat pada mie kering. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen dengan perbandingan tepung terigu:tepung talas dan berat spirulina. Kualitas mie kering dinilai melalui uji organoleptik dan analisis fisikokimia. Hasil: Perbedaan rasio tepung terigu dan tepung talas memengaruhi aroma, warna, rasa, kekenyalan dan Overall mie kering. Mie dengan komposisi 60%:40% dan 1% spirulina dinilai terbaik berdasarkan uji organoleptik 20 panelis. Aroma mie cukup khas dengan dominasi spirulina, warna hijau alami menarik, rasa talas lembut berpadu dengan spirulina yang tidak amis, dan tekstur lembut namun tidak mudah hancur. Mie ini mengandung 11,6% protein, 68% karbohidrat, dan kadar air tertinggi ditemukan pada komposisi 10%:90% sebesar 10,6%. Simpulan: Penambahan tepung talas dan spirulina pada mie kering memberikan pengaruh signifikan terhadap parameter kandungan gizi, warna, rasa, kekenyalan, dan tingkat kesukaan. Formulasi tersebut menghasilkan mie kering dengan kandungan protein, serat, dan mikronutrien yang lebih tinggi, menjadikannya alternatif yang lebih bergizi. Formulasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas produk tetapi juga memberikan potensi yang lebih besar dalam memenuhi kebutuhan gizi anak
Pembatasan Upaya Hukum Kasasi dalam Perkara Perdata sebagai Upaya Meningkatkan Efektivitas Peradilan di Indonesia
This article examines scholarly views on the precision (á¸abá¹) of the Prophet's Companions in narrating hadiths by comparing early and contemporary hadith literature. The aim of this research is to reveal whether the quality of precision is truly guaranteed in the Prophet's Companions as is their integrity ('adÄlah), and to explain various arguments related to this matter. This research also attempts to address criticisms questioning the validity of Companions' narrations on the grounds that they are not ma'ṣūm (infallible); as ordinary humans with the potential for error and forgetfulness, and not all Companions having the same level of intelligence (á¸abá¹). This research is library-based with a qualitative method that conducts in-depth analysis of authoritative works in hadith literature, covering phases from early to contemporary. The research finds that Imam al-ḤÄfiẓ Ibn Ḥajar al-'AsqalÄnÄ« is among the scholars who explicitly state that all Companions possess the quality of á¸abá¹, placing the status of Companions at the highest position in the levels of al-ta'dÄ«l (authentication). Meanwhile, the opinion initiated by Imam al-á¹¢an'ÄnÄ« and followed by several contemporary scholars states that the guarantee of Companions' integrity does not automatically guarantee their precision, with various arguments including the fact that some Companions had erred and forgotten when conveying hadiths. However, after conducting in-depth research on the texts of both opinions, the researcher concludes that the difference between the two groups of scholars is verbal in nature. The first group does not deny the possibility of forgetfulness and errors among the Companions, while the second group does not explicitly determine which individual Companions are considered to lack the quality of á¸abá¹. Both groups agree that errors that occurred among the Companions can still be tolerated and do not damage their overall precision.Banyaknya kasus kasasi yang masuk di Mahkamah Agung menyebabkan terjadinya ketidakefektivitas penyelesaian kasus kasasi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembatasan kasasi dalam perkara perdata di Indonesia dengan menggunakan pendekatan normatif-empiris. Pendekatan normatif dilakukan dengan mengkaji peraturan perundang-undangan yang relevan. Pendekatan empiris melibatkan wawancara dan studi kasus untuk melihat penerapan pembatasan kasasi dalam praktik. Selain itu, penelitian ini menggunakan analisis komparatif dengan membandingkan sistem pembatasan kasasi di negara lain, seperti Prancis, di mana kasasi hanya diperbolehkan dalam kasus yang melibatkan pertanyaan penting mengenai hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembatasan kasasi di Indonesia memerlukan perbaikan untuk meningkatkan efisiensi peradilan guna menciptakan asas peradilan cepat, sederhana dan ringan
The The Differences between Malay Camphor and Chinese Camphor
Malay camphor (Dryobalanops aromatica) has played a significant role in the economy, Malay culture, and international trade since ancient times. It has been used in medicine, religious rituals, and diplomatic relations between major empires. Known as al-Kafur in the Quran and Hadith, it was also referred to as camphor by European traders. However, after the Industrial Revolution in the 19th century, Malay Camphor became increasingly marginalized when Chinese Camphor (Cinnamomum camphora, also known as Xiangzhang (æ¨Ÿæ ‘)) replaced it due to its lower cost. In 1903, the production of synthetic camphor, based on the chemical formula of Chinese Camphor (C10H16O), was patented as camphor, while the chemical formula of Malay Camphor (C10H18O) was designated as borneol, leading to confusion in scientific studies, Malay scholarship, and Islamic studies. This study examines the differences between Malay Camphor and Chinese Camphor and aims to determine which type is actually referenced in the Quran and Islamic history. A qualitative approach was employed, involving a literature review, analysis of Quranic and Hadith interpretations, and interviews with historians, botanists, and cultural practitioners in Barus. The findings indicate that Malay Camphor has a more fragrant aroma, a cooling effect, refreshing, free from harm, non-toxicity, and high quality. It is also edible and can be used as a flavoring agent—aligning with the characteristics of al-Kafur in Islamic interpretation. However, trade monopolies and terminological errors have obscured its identity in modern history. This study confirms that al-Kafur in Islam refers to Malay Camphor and highlights the importance of correcting terminological errors to ensure that camphor is associated with Dryobalanops aromatica rather than Xiangzhang.Pokok kapur Melayu atau pokok kapur barus (camphor tree) atau nama saintifiknya Dryobalanops aromatica (D.aromatica) merupakan komoditi semulajadi alam Melayu yang menjadi buruan para pedagang timur tengah sejak ribuan tahun dahulu sehingga kedatangan Islam ke alam Nusantara pada abad ke-7. Selain tidak beracun dan mempunyai pelbagai kegunaan dalam budaya Melayu, kapur yang sinonim dengan nama kapur barus; sempena nama Barus iaitu sebuah pelabuhan yang mahsyur dalam sejarah silam di Sumatera Utara Indonesia, turut disebut di dalam al-Quran dan al-Hadis sebagai al-Kafur dan menjadi metafora dalam syair tasawuf Melayu Hamzah Fansuri. Namun ekslusiviti dan peranan kapur Melayu merudum pada zaman Revolusi Industri abad ke-19 kerana lambakan komoditi xiangzhang樟 atau nama saintifiknya Cinnamomum camphora (C.camphora) di pasaran antarabangsa dengan harga 100 ganda lebih murah daripada kapur Melayu. Kekeliruan terjadi apabila xiangzhang樟yang turut dilabel sebagai ‘kapur’ dari China (kapur China) ini mendapat pengiktirafan industri kimia dan dipaten secara saintifik sebagai camphor berformula C10H1602 manakala kapur Melayu pula dilabel sebagai borneol dengan formula C10H1802. Istilah saintifik ini merupakan titik tolak kepada satu masalah besar kerana telah mengelirukan para pengkaji sehingga terdapat beberapa kajian khusus berkenaan kapur pada abad ke-21 tersasar apabila menyimpulkan kapur China C.camphora itulah al-Kafur atau camphor, produk yang selama ini dimaksudkan oleh sejarah, al-Quran dan al-Hadis. Melalui kajian eksploratori dengan metodologi kualitatif menggunakan metode dokumen analisis dan kajian lapangan, artikel ini membezakan dan membuktikan bahawa al-Kafur atau camphor yang dimaksudkan oleh sejarah sebenarnya ialah kapur Melayu bukan kapur China seperti yang dipromosikan oleh strategi monopoli perdagangan serta penjenamaan baharu oleh saintis Barat dan China
PENERAPAN PRINSIP ZERO ACCIDENT DI LINGKUNGAN KERJA DALAM PERSPEKTIF HUKUM (Studi di Pelabuhan “Eâ€, Jakarta Utara)
Prinsip Zero Accident adalah pendekatan dalam manajemen keselamatan yang bertujuan untuk mengeliminasi semua kecelakaan kerja dan insiden yang dapat terjadi di lingkungan kerja. Artikel ini menggunakan penelitian hukum empiris dengan teknik pengambilan data observasi di Pelabuhan “Eâ€, dengan menarik kesimpulan menggunakan analisis kualitatif agar mendapatkan kesimpulan dari upaya penerapan prinip Zero Accident. Program Zero Accident di Pelabuhan “E†melibatkan penggunaan Hazard Observation Card (HOC), inspeksi rutin terhadap peralatan keselamatan, serta pertemuan keselamatan sebelum pekerjaan dimulai. Implementasi Zero Accident di pelabuhan ini telah menunjukkan hasil signifikan dalam mengurangi insiden kecelakaan, dengan hampir 99% pengurangan insiden setelah penerapan HOC. Selain itu, peran regulasi, seperti Undang-Undang Keselamatan Kerja, juga mendukung implementasi Zero Accident. Melalui pendekatan yang komprehensif ini, Zero Accident dapat mencapai lingkungan kerja yang lebih aman dan minim kecelakaan.Prinsip Zero Accident adalah pendekatan dalam manajemen keselamatan yang bertujuan untuk mengeliminasi semua kecelakaan kerja dan insiden yang dapat terjadi di lingkungan kerja. Pendekatan ini menekankan pencegahan, pengelolaan risiko, dan penciptaan budaya keselamatan yang proaktif di tempat kerja. Salah satu solusi yang diterapkan di beberapa sektor, termasuk di Pelabuhan “E†di Jakarta, adalah melalui pendekatan Behavior Based Safety (BBS) dan penerapan prinsip Zero Accident. Program Zero Accident di Pelabuhan “E†melibatkan penggunaan Hazard Observation Card (HOC), inspeksi rutin terhadap peralatan keselamatan, serta pertemuan keselamatan sebelum pekerjaan dimulai. Implementasi Zero Accident di pelabuhan ini telah menunjukkan hasil signifikan dalam mengurangi insiden kecelakaan, dengan hampir 99% pengurangan insiden setelah penerapan HOC. Selain itu, peran regulasi, seperti Undang-Undang Keselamatan Kerja dan Peraturan Kementerian Ketenagakerjaan, juga mendukung implementasi Zero Accident. Melalui pendekatan yang komprehensif ini, Zero Accident dapat mencapai lingkungan kerja yang lebih aman dan minim kecelakaan
Prediksi Tinggi Gelombang dan Kecepatan Angin di Pantai Menggunakan Metode BiGRU
Abstrak
Indonesia terletak di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia yang membuat Indonesia menjadi pusat jalur perdagangan internasional. Pada lokasi desa Karangduwur yang berlokasi di Jawa Tengah memiliki potensi ekonomi maritim yang kuat tetapi juga memiliki risiko cuaca yang besar juga. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memprediksi tinggi gelombang dan kecepatan angin.   Metode prediksi yang digunakan pada penelitian kali ini adalah BiGRU (Bidirectional Gated Recurrent Unit) karena BiGRU memiliki hasil prediksi yang baik dibanding metode deep learning yang lain. Penelitian ini menggunakan data time series    yang berisi data tinggi gelombang dan kecepatan angin. Data unsur cuaca diambil per 12 jam dari bulan Januari 2021 – bulan April 2024. Metode BiGRU dapat digunakan dalam memprediksi cuaca maritim dengan fungsi aktivasi paling optimal untuk prediksi tinggi gelombang dan kecepatan angin ialah Relu, serta untuk prediksi tinggi gelombang dan kecepatan angin memiliki jumlah Batch Size yang optimal terdapat pada Batch Size 16. Dengan hasil nilai MAPE untuk prediksi ketinggian gelombang sebesar 1.6434% dan untuk prediksi kecepatan angin sebesar 0.6560%. Nilai MAPE pada model BiGRU memiliki nilai yang kecil dimana kurang dari 10% maka model BiGRU dikatakan sangat baik untuk prediksi pada data cuaca maritim.
Kata kunci: Cuaca, Kecepetan angin, Tinggi gelombang, BiGRU
Â
Abstract
[Prediction of Wave Height and Wind Speed ​​on the Coast Using the BiGRU Method] Indonesia is located between the Pacific Ocean and the Indian Ocean, which makes it the center of international trade routes. Karangduwur village, located in Central Java, has strong maritime economic potential but also has great weather risks. Therefore, the purpose of this research is to predict wave height and wind speed.  The prediction method used in this research is BiGRU (Bidirectional Gated Recurrent Unit) because BiGRU has good prediction results compared to other deep learning methods. This research uses time series data containing wave height and wind speed data. Weather element data is taken per 12 hours from January 2021 - April 2024. The BiGRU method can be used in predicting maritime weather with the most optimal activation function for predicting wave height and wind speed is Relu, and for predicting wave height and wind speed, the optimal number of Batch Size is Batch Size 16. With the results of the MAPE value for wave height prediction of 1.6434% and for wind speed prediction of 0.6560%. The MAPE value in the BiGRU model has a small value which is less than 10%, so the BiGRU model is said to be very good for prediction on maritime weather data.
Keywords: Weather, Wind speed, Wave height, BiGR
Desain Web Inovasi Digital Pengaduan Pelanggaran Siaran Di Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Dengan Metode Prototyping
Abstrak
Dalam dunia penyiaran, pelanggaran siaran tidak asing lagi didengar telinga yang menampilkan hal-hal yang dilarang ditayang kepada publik. Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) sebagai lembaga negara yang mengawasi pelanggaran siaran, dimana terdapat laporan aduan siaran namun belum tertera melalui sistem berbentuk website. Melakukan pelaporan dengan melalui aplikasi whatsapp dan mendatangi langsung menjadi halangan bagi masyarakat membuat pengaduan. Demikian dianjurkan suatu inovasi berbentuk digital bagi instansi untuk layanan masyarakat membuat pengaduan dengan tidak perlu mendatangi instansi. Desain pengaduan website ini akan didampingi dan mengikuti tahapan metode prototyping dimana agar terbentuk suatu rancangan pengaduan pelanggaran siaran yang mumpuni bagi suatu instansi. Selain itu, rancangan yang akan dibuat ini tentunya dapat memberikan harapan bagi instansi untuk memiliki pengaduan yang berbasis web. Ini akan menguntungkan instansi karena bentuk pengaduan yang tersistem memungkinkan instansi maju dalam teknologi sehingga orang tidak perlu mengunjungi instansi secara langsung. Dalam penelitian mendatang, diharapkan suatu instansi dapat memiliki website pengaduan yang tertata dan teratur dalam sistem.
Kata kunci: KPID, desain web, pengaduan pelanggaran siaran, metode prototyping
Â
Abstract
[Web Design Of Digital Innovation Complaints On Broadcasting Violations At The Regional Indonesian Broadcasting Commission Using The Prototyping Method] In the world of broadcasting, broadcast violations are no stranger to the ears that display things that are prohibited from being broadcast to the public. The Regional Indonesian Broadcasting Commission (KPID) as a state institution that oversees broadcast violations, where there are reports of broadcast complaints but have not been listed through a website system. Reporting via the WhatsApp application and visiting in person is an obstacle for the public to make complaints. Thus, a digital innovation is recommended for agencies for public services to make complaints without having to visit the agency. The design of this website complaint will be accompanied and follow the stages of the prototyping method so that a draft of a qualified broadcast violation complaint is formed for an agency. In addition, the design that will be made can certainly provide hope for agencies to have web-based complaints. This will benefit agencies because the systematic form of complaints allows agencies to advance in technology so that people do not need to visit the agency directly. In future research, it is hoped that an agency can have a complaint website that is organized and organized in the system.
Keywords: KPID, web design, broadcast violation complaints, prototyping method
Penerapan Algoritma XGBoost untuk Prediksi Diabetes: Analisis Confusion Matrix dan ROC Curve
Abstrak
Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme kronis yang menjadi perhatian kesehatan global yang terus meningkat, ditandai dengan tingkat prevalensi yang terus meningkat. Prediksi dini dan diagnosis yang akurat sangat penting untuk manajemen penyakit yang efektif dan pencegahan komplikasi. Studi ini menyajikan kerangka metodologis untuk mengoptimalkan algoritma XGBoost guna meningkatkan akurasi prediksi diabetes sekaligus meminimalkan kesalahan klasifikasi, dengan penekanan khusus pada pengurangan negatif palsu karena implikasi klinisnya yang signifikan. Metodologi pembelajaran mesin kami menggabungkan praproses data yang komprehensif, pengoptimalan hiperparameter sistematis melalui pencarian grid, dan evaluasi model yang ketat menggunakan analisis matriks kebingungan dan metrik ROC-AUC. Basis Data Diabetes Pima Indians dipartisi menggunakan pemisahan uji-latihan 70:30 untuk memastikan generalisasi model yang kuat. Model XGBoost yang dioptimalkan menunjukkan metrik kinerja yang luar biasa: akurasi (96,33%), presisi (93,4%), perolehan kembali (97,16%), skor F1 (95,7%), dan skor ROC-AUC (0,99). Analisis terperinci dari matriks kebingungan mengungkapkan 205 positif benar dan 373 negatif benar, dengan hanya 16 positif salah dan 6 negatif salah, yang menunjukkan kemampuan diagnostik unggul.Temuan ini menunjukkan bahwa algoritme XGBoost kami yang dioptimalkan merupakan alat pendukung keputusan yang berharga bagi praktisi perawatan kesehatan dalam deteksi dini diabetes. Meskipun model tersebut menunjukkan kinerja keseluruhan yang luar biasa, pengurangan lebih lanjut dari hasil negatif palsu tetap menjadi target penting untuk meningkatkan keselamatan klinis. Studi ini memberikan kontribusi signifikan terhadap ilmu data medis dengan membangun kerangka kerja yang kuat dan dioptimalkan untuk prediksi diabetes menggunakan teknik pembelajaran mesin tingkat lanjut, dengan aplikasi potensial dalam sistem pendukung keputusan klinis dan strategi perawatan kesehatan preventif.
Kata kunci: Diabetes mellitus, XGBoost, confusion matrix, ROC-AUC, optimasi hyperparameter.
Â
Abstract
Diabetes mellitus is a chronic metabolic disorder that is a growing global health concern, characterized by an increasing prevalence rate. Early prediction and accurate diagnosis are essential for effective disease management and prevention of complications. The study presents a methodological framework for optimizing the XGBoost algorithm to improve the accuracy of diabetes predictions while minimizing misclassification, with a special emphasis on the reduction of false negatives due to its significant clinical implications. Our machine learning methodology combines comprehensive data preprocessing, systematic hyperparameter optimization through grid search, and rigorous model evaluation using confusion matrix analysis and ROC-AUC metrics. The Pima Indians Diabetes Database is partitioned using an 70:30 test-exercise split to ensure robust model generalization. The optimized XGBoost model shows outstanding performance metrics: accuracy (96.33%), precision (93.4%), regain (97.16%), F1 score (95.7%), and ROC-AUC score (0.99). A detailed analysis of the confusion matrix revealed 205 true positives and 373 true negatives, with only 16 false positives and 6 false negatives, indicating superior diagnostic capabilities. These findings suggest that our optimized XGBoost algorithm is a valuable decision support tool for healthcare practitioners in the early detection of diabetes. Although the model shows excellent overall performance, further reduction of false-negative results remains an important target for improving clinical safety. The study makes a significant contribution to medical data science by building a robust and optimized framework for diabetes prediction using advanced machine learning techniques, with potential applications in clinical decision support systems and preventive health care strategies.
Keywords: Diabetes mellitus, XGBoost, confusion matrix, ROC-AUC, hyperparameter optimization
The Contextualization of Catholic Theology in Vietnam: An Endeavor to Integrate Christian Faith within the Local Cultural and Religious Frameworks
The article attempts to articulate the process of contextualization of Catholic theology in Vietnam from the early period to the end of the twentieth century. Through the efforts of both missionaries and Vietnamese theologians, contextual theology was established and attained certain results in the effort to integrate the Christian faith into the Vietnamese cultural and religious contexts. To make Catholicism harmonious with and integrate it into Vietnamese cultural and religious backgrounds, Vietnamese theologians even went further by endeavoring to build a contextual theology known as “Viet-theologyâ€. In so doing, Catholic theologians contributed to effectively spreading their faith among Vietnamese people. Moreover, they help to build up religious tolerance in the context of multi-religious traditions like Vietnam.Â