Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Not a member yet
    181 research outputs found

    PENGARUH PELUMURAN SERBUK DAUN OREGANO (ORIGANUM VULGARE) TERHADAP DAYA SIMPAN DAGING AYAM SEGAR

    Full text link
    This research is oriented to determine the effect of the shelf life of chicken meat by coating it with oregano leaf powder (Origanum vulgare). The method implemented in the research was a Completely Randomized Design (CRD) with a single factor, namely (length of storage: 0 hours, 4 hours, 6 hours, 8 hours, 10 hours and 12 hours) with repetition 3 times. The parameters observed in this research were chemical, microbiological and organoleptic parameters. Chemical parameters include pH and water content analysis, microbiological parameters include total microa tests, while oreganoleptic parameters include appearance, aroma, texture and taste. The results of the research prove that long storage treatment with a coating of Duan oregano powder can maintain the quality of chicken meat for up to 10 hours based on a pH of pH 5.64; water content 67.24%, total microbes 5.92 Log CFU/gr; with organoleptic aroma, color and texture that the panelists can accept.Penelitian ini berorientasi untuk mengetahui pengaruh daya simpan daging ayam dengan pelumuran serbuk daun oregano (Origanum vulgare). Metode yang diimplementasikan penelitian ialah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal yakni (lamanya penyimpanan: 0 jam, 4 jam, 6 jam, 8 jam, 10 jam, dan 12 jam) dengan pengulangan sejumlah 3 kali. Parameter yang diobservasi pada penelitian ini yaitu parameter kimia, mikrobiologi, dan organoleptik. Parameter kimia mencakup Analisa pH dan kadar air, parameter mikrobiologi mencakup uji total mikroa, sementara itu parameter oreganoleptik mencakup kenampakan, aroma, tekstur, dan rasa. Hasil penelitian membuktikan perlakuan lama penyimpanan dengan pelumuran Serbuk duan oregano dapat memelihara kualitas daging ayam sampai 10 jam dengan didasarkan pH pH 5.64; kadar air 67,24%, total mikroba 5.92 Log CFU/gr; dengan organoleptik aroma, warna, dan tekstur yang mampu diterima oleh panelis

    PENGARUH KONSENTRASI PELARUT TERHADAP KANDUNGAN KIMIA EKSTRAK DAGING BUAH PALA FAKFAK (Myristica argentea Warb): Effect Of Solvent Concentration On The Chemical Content Of Fakfak Fruit Extract (Myristica argentea Warb.)

    Full text link
    Pala (Myristica argentea Warb) merupakan salah satu komoditi unggulan Indonesia. Bagian pala yang diperjualbelikan oleh para petani adalah bagian biji dan fulinya baik dalam keadaan kering maupun basah, sedangkan daging buah pala pemanfaatannya masih minim sehingga menghasilkan limbah daging buah pala. Perbandingan biji pala dengan daging buah pala adalah 1:4 sehingga presentasi limbah daging buah pala yang dihasilkan tiap tahunnya mencapai 80%. Sementara itu, daging buah pala memiliki potensi untuk dimanfaatkan karena mengandung berbagai nutrisi seperti serat pangan total, protein, dan lemak. Oleh karenanya, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa kimia daging buah pala berdasarkan konsentrasi pelarut yang berbeda. Proses ekstrasi daging buah pala dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol dengan konsentrasi 40, 50, dan 60%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi etanol, rendemen dan kadar protein semakin tinggi, namun kadar air, kadar abu dan kadar karbohidrat semakin rendah. Ekstrak daging buah pala Fakfak berpotensi sebagai antioksidan yang ditandai dengan adanya kandungan fenol sebesar 12,12 mg/ml pada konsentrasi etanol 60%.Pala (Myristica argentea Warb) merupakan salah satu komoditi unggulan Indonesia. Bagian pala yang diperjualbelikan oleh para petani adalah bagian biji dan fulinya baik dalam keadaan kering maupun basah, sedangkan daging buah pala pemanfaatannya masih minim sehingga menghasilkan limbah daging buah pala. Perbandingan biji pala dengan daging buah pala adalah 1:4 sehingga presentasi limbah daging buah pala yang dihasilkan tiap tahunnya mencapai 80%. Sementara itu, daging buah pala memiliki potensi untuk dimanfaatkan karena mengandung berbagai nutrisi seperti serat pangan total, protein, dan lemak. Oleh karenanya, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa kimia daging buah pala berdasarkan konsentrasi pelarut yang berbeda. Proses ekstrasi daging buah pala dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol dengan konsentrasi 40, 50, dan 60%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi etanol, rendemen dan kadar protein semakin tinggi, namun kadar air, kadar abu dan kadar karbohidrat semakin rendah. Ekstrak daging buah pala Fakfak berpotensi sebagai antioksidan yang ditandai dengan adanya kandungan fenol sebesar 12,12 mg/ml pada konsentrasi etanol 60%

    IDENTIFIKASI KANDUNGAN DAGING SAPI MENGGUNAKAN POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR) PADA PEDAGANG BAKSO TUSUK KELILING DI LINGKUNGAN KOTA MATARAM, NUSA TENGGARA BARAT: Identification Of Beef Content Using PCR In Bakso Tusuk Roves Traders In The Mataram City Environment

    No full text
    Daging merupakan sumber protein penting dalam kehidupan sehari-hari manusia. Selain itu, dengan gaya hidup perkotaan yang sibuk dan padat, makanan olahan kini menjadi salah satu sumber protein utama dalam menu makanan seseorang. Konsumen bergantung pada pelabelan makanan untuk memutuskan apakah produk daging yang mereka beli aman dan terpercaya. Oleh karena itu, penting untuk memastikan pelabelan makanan dilakukan dengan cara yang benar untuk menghindari penipuan konsumen. Lebih banyak konsumen saat ini yang peduli dengan kualitas dan keamanan makanan daripada sebelumnya. Penelitian ini memaparkan metode untuk mengidentifikasi dan mendeteksi kandungan daging sapi menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) pada 8 produk bakso tusuk dari pedagang keliling di sekitar Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan daging sapi yang digunakan pada produk yang diuji. Temuan penting utama dalam karya ini adalah spesifisitas primer oligonukleotida untuk daging sapi olahan dan penentuan kandungan daging sapi pada bakso tusuk di sekitar Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat.Daging merupakan sumber protein penting dalam kehidupan sehari-hari manusia. Selain itu, dengan gaya hidup perkotaan yang sibuk dan padat, makanan olahan kini menjadi salah satu sumber protein utama dalam menu makanan seseorang. Konsumen bergantung pada pelabelan makanan untuk memutuskan apakah produk daging yang mereka beli aman dan terpercaya. Oleh karena itu, penting untuk memastikan pelabelan makanan dilakukan dengan cara yang benar untuk menghindari penipuan konsumen. Lebih banyak konsumen saat ini yang peduli dengan kualitas dan keamanan makanan daripada sebelumnya. Penelitian ini memaparkan metode untuk mengidentifikasi dan mendeteksi kandungan daging sapi menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) pada 8 produk bakso tusuk dari pedagang keliling di sekitar Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan daging sapi yang digunakan pada produk yang diuji. Temuan penting utama dalam karya ini adalah spesifisitas primer oligonukleotida untuk daging sapi olahan dan penentuan kandungan daging sapi pada bakso tusuk di sekitar Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat

    A Puding Kedelai Porang Instan dengan fortifikasi tepung daun kelor Sebagai Pangan Fungsional Pencegah Stunting: Instant Porang Soy Puding with Fortification of Moringa Leaf Flour as a Functional Food to Prevent Stunting

    No full text
    Stunting adalah kondisi kronis kekurangan gizi yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Tepung daun kelor dapat ditambahkan kedalam makanan selingan seperti puding untuk meningkatkan nilai gizi puding. Puding dibuat dengan penambahan glukomanan porang dan tepung kedelai. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun kelor pada formulasi pembuatan bubuk puding kedelai porang instan sebagai bahan baku pembuatan puding kedelai porang terhadap tingkat kesukaan (hedonik) dan penilaian secara organoleptic skoring serta kandungan gizi dan % Angka Kecukupan Gizi (AKG) pada formula terbaik berdasarkan uji organoleptik. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan penambahan tepung daun kelor, yaitu 0%, 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% dari jumlah tepung kedelai yang digunakan, emua perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Data yang terkumpul dianalisa menggunakan analisa keragaman dengan taraf 5%. Jika terjadi perbedaan nyata antar perlakuan diuji lanjut dengan menggunakan Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. Berdasarkan hasil uji organoleptik skoring dan hedonik perlakuan terbaik adalah pada penambahan tepung daun kelor sebanyak 3% dengan kandungan nutrisi pada bubuk puding kedelai porang instan yaitu kadar air 6.7 %, protein 36.5%, dan kalsium 419,1 mg/100 g. Kandungan nutrisi pada puding kedelai porang adalah kadar air 87.4 %, protein 4.12 %, dan kalsium 33,03 mg/100 g, serta memenuhi 7.62 % kebutuhan kalsium dan 30,9 % kebutuhan protein harian anak usia 1-3 tahun dan 4.95% kebutuhan kalsium dan 24,72% kebutuhan protein harian anak usia 4-5 tahun.ABSTRAK Stunting adalah kondisi kronis kekurangan gizi yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Tepung daun kelor dapat ditambahkan kedalam makanan selingan seperti puding untuk meningkatkan nilai gizi puding. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun kelor pada formulasi pembuatan bubuk puding kedelai porang instan sebagai bahan baku pembuatan puding kedelai porang terhadap  penilaian secara organoleptic serta kandungan gizi dan % Angka Kecukupan Gizi (AKG) pada formula terbaik berdasarkan uji organoleptik. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan penambahan tepung daun kelor, yaitu 0%, 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% dari jumlah tepung kedelai yang digunakan dengan 3 kali ualangan. Berdasarkan hasil uji organoleptik perlakuan terbaik adalah pada penambahan tepung daun kelor sebanyak 3% dengan kandungan nutrisi pada bubuk puding kedelai porang instan yaitu kadar air 6.7 %, protein 36.5%, dan kalsium 419,1 mg/100 g. Kandungan nutrisi pada puding kedelai porang adalah kadar air 87.4 %, protein 4.12 %, dan kalsium 33,03 mg/100 g, serta memenuhi 7.62 % kebutuhan kalsium dan 30,9 % kebutuhan protein harian anak usia 1-3 tahun dan 4.95% kebutuhan kalsium dan 24,72% kebutuhan protein harian anak usia 4-5 tahun   Kata Kunci: Kelor, Porang, Puding, Stunting &nbsp

    KAJIAN MUTU KIMIA DAN DAYA HAMBAT MADU LEBAH TRIGONA (Tetragonula clypearis) DARI PETERNAKAN DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR TERHADAP Pseudomonas aeruginosa SECARA IN VITRO: Study On Chemical Quality And Inhibitory Efficacy Of Trigona Bee (Tetragonula Clypearis) Honey From Breeders In East Lombok District Against Pseudomonas Aeruginosa Using In Vitro Analysis

    Full text link
    Chemical properties and antimicrobial activity of honey can be affected by geographic location. The East Lombok region has varied geographical conditions including mountains and lowlands. The aim of this study was to determine the chemical quality and inhibition activity of trigona honey bee from Breeders in East Lombok District against Pseudomonas aeruginosa in vitro. This study used a completely randomized design (CRD) with one factor, which consisted of 6 (six) locations, namely breeders Dames Damai, Bintang Rinjani, Sukarema, Bebidas, Banjar Sari and Geres. Data were analyzed by ANOVA at a significance level of 5% using Co-Stat software. Significantly different data were further tested with a Honestly Significant Difference (HSD). Data of phytochemical compounds (tannins and flavonoid) were analyzed using a descriptive method. The results showed that trigona honey obtained from 6 breeders in East Lombok had significantly different pH, water content and reducing sugar content. The pH of trigona honey obtained from 6 farms in East Lombok Regency is in the general pH range of trigona honey, which ranges from 2.99 to 3.33. Meanwhile, the water content of trigona honey obtained from 6 farms in East Lombok Regency was very high, namely 27.98 - 41.01% (bb) with very low reducing sugar levels, which only ranged from 25.22 - 30.92%. Therefore, all of these honey samples did not meet the quality standards based on SNI-8664-2018. The antimicrobial activity of trigona honey from 6 breeders in East Lombok showed very strong inhibition against Pseudomonas aeruginosa in vitro because of the flavonoids content.The chemical properties and antimicrobial activity of honey can be affected by geographic location. The aim of this study was to determine the chemical quality and inhibition activity of trigona honey bee (Tetragonulaclypearis) from Breeders in East Lombok District against Pseudomonas aeruginosa in vitro. This study was conducted using completely randomized design (CRD) with one factor, namely the location of the trigona beekeeping which consisted of 6 (six) locations, namely breeders Dames Damai, Bintang Rinjani, Sukarema, Bebidas, Banjar Sari and Geres.). Data were analyzed by analysis of variance (ANOVA) at a significance level of 5% using Co-Stat software. Significantly different data were tested with an Honestly Significant Difference (HSD). Data of phytochemical compounds (tanins and flavonoids) were analyzed using a descriptive method. The results showed that trigona honey had significantly different pH, water content, and reduced sugar content. The pH of trigona honey obtained from 6 farms in East Lombok Regency is in the general pH range of trigona honey, which ranges from 2.99 to 3.33. Meanwhile, the water content of trigona honey obtained from 6 farms in East Lombok Regency was very high, namely 27.98 - 41.01% (bb) with very low reducing sugar levels, which only ranged from 25.22 - 30.92%. However, the antimicrobial activity of trigona honey from 6 breeders in East Lombok showed the inhibition activity to Pseudomonas aeruginosa is relatively high that indicated by the formation of an inhibition zone due to the existence of flavonoid content in trigona honey as an antimicrobial agent

    Aplikasi Pengeringan Foam-Mat dengan Kombinasi Tween 80 dan Maltodekstrin pada Pembuatan Bubuk Daun Kesum (Polygonum minus Huds.): Application of Foam-Mat Drying with a Combination of Tween 80 and Maltodextrin in the Production of Kesum Leaf Powder (Polygonum minus Huds.)

    Full text link
    Daun Kesum (Polygonum minus Huds.) merupakan bumbu yang umumnya ditambahkan pada berbagai masakan khas Kalimantan Barat, Indonesia. Flavor yang dihasilkan oleh daun kesum berasal dari senyawa aktif aroma yang termasuk ke dalam senyawa volatil. Salah satu upaya untuk melindungi flavor, memperpanjang masa simpan, dan praktis dalam penggunaan adalah dengan cara pengeringan menggunakan metode foam-mat drying, sehingga diperoleh bubuk daun kesum. Metode foam-mat drying membutuhkan tween 80 sebagai bahan pembusa dan maltodekstrin sebagai bahan pengisi untuk mempercepat proses pengeringan, melindungi komponen flavor dan memperbesar volume. Penelitian ini bertujuan mendapatkan kombinasi yang terbaik dari penambahan tween 80 dan maltodekstrin pada pembuatan bubuk daun kesum dengan metode foam-mat drying berdasarkan karakteristik kimia, fisik dan sensoris. Metode penelitian menggunakan  Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang terdiri dari dua faktor perlakuan yaitu tween 80 (0,5% dan 1%) dan maltodekstrin (5%, 10%, 15%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan pembusa Tween 80 1% dan maltodekstrin 10% merupakan perlakuan terbaik, memiliki  kadar air 3,76%, aw 0,38, rendemen 10,17%, higroskopisitas 1,90%, kelarutan 91,43%, dan skor sensoris atribut aroma 4,56 (sangat beraroma), dan atribut warna 5 (putih kekuningan).Daun kesum (Polygonum minus Huds.) merupakan bumbu yang umumnya ditambahkan pada berbagai masakan khas Kalimantan Barat, Indonesia. Flavor yang dihasilkan oleh daun kesum berasal dari senyawa aktif aroma yang termasuk ke dalam senyawa volatil. Penggunaan daun kesum dalam bentuk segar memiliki kelemahan diantaranya adalah masa simpan yang relatif singkat, tidak praktis, flavor yang tidak stabil, dan mudah terkontaminasi. Pembuatan bubuk daun kesum menggunakan metode pengeringan foam-mat adalah salah satu upaya untuk mengatasi kelemahan dalam penggunaan daun kesum segar. Metode pengeringan foam-mat membutuhkan tween 80 sebagai bahan pembusa dan maltodekstrin sebagai bahan pengisi untuk mempercepat proses pengeringan, melindungi komponen flavor dan memperbesar volume. Penelitian ini bertujuan mendapatkan kombinasi yang terbaik dari penambahan tween 80 dan maltodekstrin pada pembuatan bubuk daun kesum berdasarkan karakteristik kimia, fisik dan sensoris. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang terdiri dari dua faktor perlakuan yaitu tween 80 (0,5% dan 1%) dan maltodekstrin (5%, 10%, dan 15%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan pembusa tween 80 1% dan maltodekstrin 10% merupakan perlakuan terbaik, memiliki kadar air 3,76%, aw 0,38, rendemen 10,17%, higroskopisitas 1,90%, kelarutan 91,43%, dan skor sensoris atribut aroma 4,56 (sangat beraroma), dan atribut warna 5 (putih kekuningan)

    THE EFFECT OF INSTANT BREAD YEAST AND CARRAGINAN CONCENTRATION ON THE QUALITY OF SORGUM FLOUR SUBSTITUTED BREAD: The Effect Of Instant Bread Yeast And Carraginan Concentration On The Quality Of Sorgum Flour Substituted Bread

    No full text
    The aimed of this research was to know the effect of concentrations of instant bread yeast and carrageenan on the quality of sorghum flour-substituted white bread. Theresearch methode used was an experimental method with factorial Completely Randomized Design (CRD), consiting of concenttration of yeast (2%, 4%, and 6%) and Carrageenan (0%, 0.2%). Observational data were analyzed using analysis of variance with a level of 5% using Cos-Stat, if there significantly differen data a further test was carried out usinh Honest Significant Different (BSD) at the 5% level. Parameters observed included chemical quality (fiber content, ash content, and content), physical quality (swelling power, elasticity, and bread crumbs), and organoleptic quality (aroma, taste, texture, crust color, and crumb color). The results showed that yeast formulation with at 4% and carrageenan 0.2% was the best treatment in producing white bread with a moisture content of 23.72% (according to SNI), ash content of 1.9%, crude fiber content of 5.33%, 67.83% swelling power by reducing the size of the pores so as to create uniform bread pores, 84.44% elasticity with organoleptic crust color "light brown", aroma "slightly sour", taste "not sour", texture "a bit soft" and the crumb color "yellowish white" which was liked by the panelists. The best quality bread in this study was bread treatment R2K2 with the addition of instant bread yeast and carrageenan of 4% : 0,2%, based on the result of pysicalchemical, and organoleptic with the best results.This study aimed to determine the effect of concentrations of instant bread yeast and carrageenan on the quality of sorghum flour-substituted white bread. The study was an experimental method carried out in the laboratory and designed using two-factor Completely Randomized Design (CRD), namely yeast concentrations 2%, 4%, and 6% and Carrageenan 0%, 0.2%. Observational data were analyzed using analysis of variance with a level of 5% using Cos-Stat. Significantly different data were further tested by Honest Significant Difference (BSD) at the 5% level. Parameters observed included chemical quality (fiber content, ash content, and content), physical quality (swelling power, elasticity, and bread crumbs), and organoleptic quality (aroma, taste, texture, crust color, and crumb color). The results showed that yeast formulation with at 4% and carrageenan 0.2% was the best treatment in producing white bread with a moisture content of 23.72% (according to SNI), ash content of 1.9%, crude fiber content of 5.33%, 67.83% swelling power by reducing the size of the pores so as to create uniform bread pores, 84.44% elasticity with organoleptic crust color "light brown", aroma "slightly sour", taste "not sour", texture "a bit soft" and the crumb color "yellowish white" which was liked by the panelists. &nbsp

    PENAMBAHAN TEPUNG PORANG SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI BAHAN PENGENYAL SINTETIS PADA PRODUK BAKSO IKAN KURISI: The addition of Porang Flour as an Alternative to Synthetic Gelling Agents in Kurisi Fish Balls Products

    Full text link
    Meatballs are a popular processed food product made primarily from beef, enjoyed by individuals across various age groups. In addition to beef, fish meat can also be used as a raw material for meatballs. However, the conventional production of meatballs often involves the utilization of synthetic gelling agents that pose potential health risks to consumers. This study aimed to assess the chemical, physical, and organoleptic attributes of kurisi fish balls fortified with porang flour (Amorphophallus oncophillus) as a substitute for synthetic gelling agents..  The research method used was a Group Randomized Design (RAK) comprising six treatment groups with varying proportions of porang flour 0%, 1%, 2%, 3%, 4%, and 5%  with  3 replication. Analysis of variance (ANOVA) at a 5% significance level was conducted using Co-stat software to evaluate the data, followed by Polynomial Orthogonal tests to assess chemical and physical quality parameters. Organoleptic quality was evaluated using the Honestly Significant Difference test (BNJ). The findings indicated that the addition of porang flour significantly influenced water content, ash content, protein content, as well as chewiness, color, and texture assessed hedonically. However, taste and aroma were not significantly affected. Based on the results of chemical and organoleptic analysis, the best treatment of kurisi fish balls in this study was the addition of porang flour concentration by 3%, having water content (70.25%), ash content (1.54%), protein content (15.27%) and organoleptic favored by panelists.Daging ikan dapat dipilih sebagai bahan baku bakso selain daging sapi. Namun, pembuatan bakso seringkali menggunakan bahan pengenyal sintetis yang tidak aman bagi kesehatan konsumen. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif pengganti bahan pengenyal yang aman, dimana salah satunya adalah dengan menggunakan tepung porang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu kimia, fisik dan mutu organoleptik bakso ikan kurisi dengan penambahan tepung porang (Amorphophallus oncophillus) sebagai alternatif pengganti bahan pengenyal sintetis.  Analisis hasil keragaman (ANOVA) pada taraf 5 % digunakan untuk menganalisis data hasil dengan menggunakan software Co-stat dan apabila terdapat hasil penelitian yang memberi pengaruh berbeda nyata maka selanjutnya dilakukan uji lanjut menggunakan uji Orthogonal Polynomial pada parameter mutu kimia dan fisik, sedangkan pada mutu organoleptik diuji menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan tepung porang berpengaruh nyata terhadap kadar air, kadar abu, kadar protein serta kekenyalan, warna dan tekstur yang diuji secara hedonik namun tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap rasa dan aroma. Berdasarkan hasil analisis kimia dan organoleptik didapatkan perlakuan terbaik bakso ikan kurisi pada penelitian ini yaitu penambahan konsentrasi tepun porang sebanyak 3%. Tepung porang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai alternatif pengganti bahan pengenyal sintetis pada bakso sehingga dihasilkan bakso bermutu tinggi dan sehat untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Pemanfaatan tepung porang sebagai bahan pengenyal harus tetap memperhatikan kandungan asam oksalat yang terkandung pada umbi porang sehingga produk bakso yang dihasilkan aman

    Pengaruh Rasio Bunga Rosella dan Daun Stevia terhadap Mutu Teh Rosella-Stevia: The effect of the ratio of rosella flower and stevia leaf on the rosella-stevia tea

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio bunga rosella dan daun stevia terhadap mutu dari teh rosella-stevia. Penelitian ini disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuannya yaitu rasio bunga rosella : daun stevia (100:0, 85:15, 75:25, 65:35 dan 55:45(%)) dengan 3 kali ulangan sehingga diperoleh 15 kali percobaan. Parameter yang diamati adalah aktivitas antioksidan, nilai pH, kadar air, kadar abu, warna (colorimeter) dan organoleptik (aroma, rasa, dan warna). Hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis keragaman (Analysis of Variance) pada taraf 5% menggunakan aplikasi Co-Stat. Apabila terdapat beda nyata, dilakukan uji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan rasio bunga rosella dan daun stevia memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap aktivitas antioksidan, nilai pH, kadar air, kadar abu, warna oHue, nilai *L, aroma (skor), rasa (hedonik dan skor) dan warna (hedonik dan skor) namun tidak berbeda nyata terhadap uji aroma secara hedonik. Perlakuan terbaik teh rosella-stevia yaitu S3 rasio bunga rosella dengan daun stevia (65%:35%) dengan aktivitas antioksidan sebesar 87,61%; nilai pH 3,41; kadar air 7,69%; kadar abu 7,67%; nilai L* 58,76 dan nilai oHue 6,78 berwarna merah keunguan, beraroma langu, berasa manis, disukai oleh panelis serta sesuai dengan SNI 3836 tahun 2013 tentang mutu teh kering dalam kemasan.This study was to determine the effect of the ratio of rosella flowers and stevia leaves on the quality of rosella-stevia tea. This study used a Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatments, namely ratio of rosella flowers to stevia leave  S0 (100%:0%), S1 (85%:15%), S2 (75%:25%), S3 (65%:35%) and S4 (55%:45%). These were repeated 3 times to obtain 15 trials. The observed parameters were antioxidant activity, pH value, moisture content, ash content, color (colorimeter) and organoleptic (aroma, taste and color). Observations were analyzed using analysis of variance at the 5% level using the Co-Stat application. If there was a significant difference, further tests were carried out using the Honestly Significant Difference test. The results showed that the ratio of rosella flowers and stevia leaves had a significantly different effect on antioxidant activity, pH value, moisture content, ash content, oHue color, *L value, aroma (scoring), taste (hedonic and scoring) and color (hedonic and scoring) but not significantly different on the hedonic scent test. The best rosella-stevia tea treatment was S3 ratio of rosella flowers and stevia leaves (65%:35%) with antioxidant activity of 87,41%; pH 3,41; moisture 7,69%; ash 7,67%; L* 58,76 and oHue 6,78 was red purple in color, have a slightly unpleasant flavor, taste  sweet, were somewhat favored by panelists and in there were accordance with SNI 3836 of 2013 concerning the quality of packaged dry tea

    PERBANDINGAN KONSENTRASI α-AMILASE SEBAGAI METODE ENZIMATIS TERMODIFIKASI DALAM PRODUKSI GLUKOMANAN DARI UMBI ILES-ILES (Amorphophallus oncophyllus): Comparison of α-amylase concentration as Enzymatic Modified Method in Glucomannan Production from Iles-iles Tubers (Amorphophallus oncophyllus)]

    Full text link
    ABSTRACT The glucomannan in iles-iles tubers needs to continuously develop the production procedures to increase the economic value of tubers, which are export commodities with a high level of demand. This study aimed to determine the effectiveness of increasing the α-amylase concentration on glucomannan levels, degree of whiteness (DoW), and their interactions. The method was modified to increase α-amylase concentration (2.5, 4.5, 6.5, and 8.5 % (v/v)) in 3 Litter of Water with a mixture of 100 grams of iles-iles flour. Meanwhile, the determination of DoW analyzed was used chromameter. The results showed that the best treatment was the α-amylase concentration of 2.5% (v/v) in 2 hours resulting in the highest glucomannan content compared to other concentrations. Based on the results of analysis of variance (ANOVA), it showed that the interaction between time and concentration and treatment time (2, 4, and 6 hours) and concentration (2.5, 4.5, 6.5, and 8.5% (v/v)) had a significant effect on glucomannan levels. However, the level of DoW was still experiencing an enlargement result compared with DoW of commercial glucomannan flour.   ABSTRAK             Glukomanan dalam umbi iles-iles perlu terus dilakukan pengembangan prosedur produksi untuk meningkatkan nilai ekonomis umbi yang merupakan komoditas ekspor dengan tingkat permintaan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas peningkatan konsentrasi enzim α-amilase terhadap kadar glukomanan, derajat putih dan interaksinya. Metode yang dilakukan merupakan metode modifikasi peningkatan konsentrasi enzim α-amilase 2.5, 4.5, 6.5 dan 8.5 % (v/v) dalam 3 L air dengan campuran 100 gr tepung iles-iles. Sedangkan penentuan derajat putih dianalisis dengan alat chromameter. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan terbaik didapatkan dengan konsentrasi enzim α-amilase 2.5% dengan waktu 2 jam menghasilkan kadar glukomanan tertinggi dibandingkan dengan kadar glukomanan perlakuan lainnya. Berdasarkan hasil analisis variansi (ANOVA) memperlihatkan interaksi antara waktu dan konsentrasi serta perlakuan waktu (2, 4, dan 6 jam) dan konsentrasi (2.5, 4.5, 6.5, dan 8.5 %) berpengaruh nyata terhadap kadar glukomanan. Akan tetapi tingkat keputihan masih mengalami pelebaran hasil dengan derajat keputihan tepung glukomanan komersial

    170

    full texts

    181

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇