Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BPPKI) Bandung: Jurnal Elektronik
Not a member yet
    185 research outputs found

    Table Top Exercise Disaster Communication Model in Reducing Disaster Risk

    Get PDF
    Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Sumatera Utara masih aktif, sehingga diperlukan pelatihan untuk kesiapan pemerintah dan warga di sekitar gunung guna mengurangi risiko bencana melalui pelatihan penerapan model rencana kontinjensi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model komunikasi kesiapsiagaan bencana melalui pelatihan gladi meja atau disebut table top exercise (TTX). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pengumpulan data dengan wawancara, dokumentasi, observasi, dan focus group discussion (FGD). Peserta FGD dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil perencanaan sektoral, yang dibagi menurut bidang masing-masing yaitu: sub bidang manajemen dan penanganan bencana pascabencana, SAR dan evakuasi, kesehatan dan psikososial, evakuasi dan tempat tinggal sementara, air dan sanitasi, transportasi, distribusi dan logistik, keamanan dan ketertiban, pencarian, dan sub bidang ternak khusus. Hasil penelitian menemukan model komunikasi kesiapsiagaan bencana erupsi Gunung Sinabung melalui gladi meja dinilai optimal. Komunikasi inilah yang perlu ditingkatkan saat terjadi erupsi. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi berupa kebijakan untuk penyempurnaan Dokumen Rencana Kontinjensi sebagai Peraturan Bupati Karo.Mount Sinabung in Karo Regency of North Sumatera is still active.  Training required for government and residents readiness of surrounding mountain to reduce disaster risk through the training of contingency plan model implementation.  This study aims to find a model of communication disaster readiness through the Table Top Exercise or TTX.  This research uses the descriptive qualitative method and data collection with interview, documentation, observation, and focus group discussion (FGD).  FGD participants divided into eight sectoral planning small groups, that divided according to their respective fields: a subdivision of disaster and post-disaster management, SAR and evacuation, health and psychosocial, evacuation and temporary shelter, water and sanitation, transportation, distribution and logistics, security and order, searching, and subdivision of special cattle.  The results of the study found that the implementation of disaster readiness communication model of Mount Sinabung eruption is optimal.  This communication is what needs to be improved when the eruption occurs.  The results of the study contributed as a policy for improvement for Contingency Planning Document as the Regulation of Head of Karo Regency that will be implemented at the end of 2018.

    Kesiapan Daerah Menuju Jawa Barat Smart Province

    Get PDF
    The West Java Provincial Government initiated West Java Smart Province (JSP), which began with Jabar Cyber Province. In its development, the concept of smart province developed at the provincial level, and it was interpreted at the regional level so that there were views from regions related to JSP. Therefore, it is necessary to look at other perspectives of the smart province from the local perspective as an enrichment for the province to obtain a comprehensive description of JSP implementation from the local government’s side and how the readiness of the region towards JSP. This study uses a qualitative approach, with three critical aspects of concern in smart province, namely: governance, infrastructure, and ICT services/applications in each region. This readiness was described descriptively from data and information through interviews with informants in six areas. The results of the analysis provide an overview of the readiness of each region in West Java towards JSP. The readiness of Banjar City, Garut Regency, and Purwakarta Regency are the change from manual to digital, and development of ICT infrastructure and service, although it is still partial. Meanwhile, Bogor City, Cimahi City, and Cirebon Regency readiness is a developed ICT-based service even though development between services are doing separately, but data sharing has been carried out.Pemerintah Provinsi Jawa Barat menginisiasi Jawa Barat Smart Province  (JSP) yang diawali dengan Jabar Cyber Province.  Dalam perkembangannya, konsep  berkembang di tingkat provinsi dan diinterpretasi di tingkat daerah, sehingga ada pandangan-pandangan dari daerah yang muncul terkait JSP.  Oleh karena itu perlu ditinjau smart province dari sudut pandang daerah sebagai pengayaan bagi provinsi dalam implementasi JSP, agar diperoleh gambaran secara komprehensif dari sisi penyelenggara pemerintahan terhadap JSP serta bagaimana kesiapan daerah menuju JSP. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan tiga aspek penting yang menjadi perhatian dalam smart province, yaitu: tata kelola, infrastruktur, dan layanan/aplikasi TIK di masing-masing wilayah. Gambaran kesiapan ini diuraikan secara deskriptif dari data dan informasi melalui wawancara kepada informan di enam wilayah. Hasil analisis memberikan gambaran kesiapan masing-masing wilayah di Jawa Barat menuju JSP. Kesiapan Kota Banjar, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Purwakarta yaitu adanya perubahan dari manual ke digital serta sudah ada pengembangan infrastruktur dan layanan TIK walaupun masih parsial. Sementara itu, kesiapan Kota Bogor, Kota Cimahi, dan Kabupaten Cirebon yaitu telah dikembangkan layanan berbasis TIK walaupun pengembangan antarlayanan masih ada yang dilakukan secara terpisah, namun sudah dilakukan sharing  data

    Disinformasi Terkait Ridwan Kamil dan Sikap Pemilih Pemula pada Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat

    Get PDF
    The phenomenon of disinformation in the context of regional head elections is a big phenomenon in Indonesia. Social media is the target of the most widespread hoax, one of which was in the regional head election in West Java period 2018-2023. The targets of hoax messages were beginner voters and swing voters, considering that most social media users in Indonesia are young people with age range of 15-35 years. The purposes of this study are (1) to determine the effect of exposure to hoax news on social media on perceptions of beginner voters in determining choices in West Java Province regional head elections, (2) to find out how the influential aspects of hoax news on social media affects the perceptions of beginner voters in determining choice in West Java Province regional head elections. The research method used was quantitative explanatory survey. Results indicate that there are effects of hoax news which spread through social media for beginner voters in making choices in the West Java regional head election 2018. However, the effect is not significant. This is because beginner voters tend to see tangible evidence of the success of Rdwan Kamil while in office as Mayor of BandungFenomena disinformasi dalam konteks pemilihan kepala daerah menjadi fenomena yang besar di Indonesia. Media sosial menjadi target paling banyak tersebarnya konten yang bersifat disinformasi, salah satunya dalam pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) Jawa Barat periode 2018-2023. Sasaran pesan disinformasi yang tersebar merupakan pemilih pemula dan swing voters mengingat pengguna media sosial terbanyak di Indonesia adalah anak muda dengan rentang usia 15-35 tahun. Adapun tujuan penelitian ini yaitu (1) untuk mengetahui pengaruh terpaan disinformasi pada media sosial terhadap persepsi pemilih pemula dalam menetukan pilihan pada Pilakada Jawa Barat, (2) untuk mengetahui bagaimana pengaruh aspek penonjolan konten pesan yang bersifat disinformasi pada media sosial terhadap persepsi pemilih pemula dalam menetukan pilihan pada Pilkada Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif survei eksplanatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh dari disinformasi yang tersebar melalui media sosial bagi pemilih pemula dalam menentukan pilihan di Pilkada Jawa Barat tahun 2018. Akan tetapi pengaruh yang dihasilkan tidak begitu signifikan. Hal tersebut dikarenakan para pemilih pemula cenderung melihat bukti nyata keberhasilan Ridwan Kamil saat menjabat sebagai Walikota Bandun

    Pola Komunikasi Guru kepada Siswa Penyandang Disabilitas

    Get PDF
    Seringkali stimulus verbal dan nonverbal dari lingkungan gagal ditransfer dengan baik oleh anak penyandang disabilitas. Keterbatasan ini tentu saja akan berpengaruh pada pola komunikasi yang digunakan oleh guru dan murid penyandang disabilitas dalam membangun hubungan yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk membahas komunikasi verbal dan nonverbal dalam proses pembelajaran seni musik Degung di SLB Negeri Kota Depok. Penelitian ini menggunakan studi kasus dengan metode kualitatif serta menggunakan teori interaksionisme simbolik. Adapun hasil dalam penelitian ini adalah: 1) Bentuk komunikasi yang digunakan untuk penyandang disabilitas adalah komunikasi verbal dan nonverbal. Penggunaan komunikasi verbal oleh guru berupa pemilihan kata yang sesederhana mungkin, sehingga pesan verbal dapat dipahami secara baik oleh siswa. Komunikasi nonverbal terdiri dari emblem, illustrator, effect display, regulator, dan adaptor; 2) Pola komunikasi yang digunakan dalam proses pembelajaran seni musik Degung menggunakan dua pola komunikasi yaitu pola komunikasi interaksional dan pola komunikasi transaksional; 3) Hambatan yang dihadapi saat proses pembelajaran seni musik Degung ini meliputi hambatan proses penyampaian, hambatan fisik, hambatan semantik, hambatan psikologis, dan hambatan fisiologis

    Preliminaries Vol. 2 No. 22 Tahun 2019

    No full text

    Agenda Setting Penyebaran Hoaks di Media Sosial

    Get PDF
    The purpose of this study is to get an overview of the agenda-setting for the spread of hoax on social media. The method used is quantitative content analysis. The results found that there were three themes of the most prominent hoax issues, namely politics, health, and governance issues. In this case, the media setting agenda on hoax was formed by the users of social media itself. Hoax themes about politics such as Elections have increased in a certain period because social media users or netizens have relatively the same concentration and attention about it. There have also been attempts by certain parties to neutralize a theme hoax for a specific purpose, such as to overthrow each presidential candidate who is fighting in the Election process, including to topple incumbent presidential candidates who are still in power. Likewise, with a content hoax, the media agenda formed on social media represents the interests of netizens. Even in health hoax content that includes the most hoax content, the agenda of social media settings is built because netizens consider the content important to be immediately known by other audiences regardless of whether or not the content is true.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang agenda setting penyebaran hoaks di media sosial. Metode yang digunakan adalah analisis isi kuantitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat tiga tema isu hoaks yang paling menonjol yaitu politik, kesehatan, dan isu pemerintahan. Dalam hal ini, agenda setting media tentang hoaks dibentuk oleh para pengguna media sosial itu sendiri. Tema hoaks tentang politik seperti pemilu meningkat dalam kurun tertentu, dikarenakan pengguna media sosial atau netizen memiliki konsentrasi dan perhatian yang relatif sama tentang hal tersebut. Ada juga upaya dari pihak-pihak tertentu untuk memviralkan sebuah tema hoaks untuk tujuan tertentu semisal untuk menjatuhkan masing-masing kandidat presiden yang sedang bertarung dalam proses pemilu. Termasuk untuk menjatuhkan kandidat presiden petahana yang masih berkuasa. Begitu pula dengan konten hoaks, agenda media yang terbentuk di media sosial merepresentasikan kepentingan para netizen. Bahkan pada konten hoaks bidang kesehatan yang termasuk konten hoaks terbanyak, agenda setting media sosial yang terbangun karena netizen menganggap konten tersebut penting untuk segera diketahui oleh khalayak lainnya terlepas dari benar tidaknya konten tersebut

    Komunikasi Nonverbal Calon Kepala Daerah dalam Pilkada di Wilayah Jawa Barat 2018

    Get PDF
    The face of politics in Indonesia is enlivened by the hustle and bustle of non-verbal communication games as part of political discourse. Also through non-verbal communication, politicians mobilize all potential to strengthen the message and political meaning. West Java is one of the regions that will hold the Simultaneous Local Election in 2018. Non-verbal communication is certain to be present as a form of imaging and voice pulling by the candidates who will fight in the West Java regional election. This study defines the meaning behind nonverbal communication displayed by candidates in West Java. This research analyzes various forms of nonverbal communication, visual cultural codes, and refers to the design of visual communication texts. The purpose of this study is to identify nonverbal communication skills of regional head candidates, to identify interpretations of political constituents on nonverbal communication presented by regional head candidates, to identify the KPU's rules and understanding as regulators in interpreting nonverbal communication presented by candidate pairs of regional heads in 4 the location of the 2018 West Java Regional Election. The method used is semiotic analysis of Roland Barthes is to dismantle denotations, connotations and myths by showing every aspect of the symbol that is raised. The conclusions in the nonverbal communication research that are most appropriate in the contestation of the election of the Governor and Deputy Governor of West Java 2018 are the most natural communication and represent the pockets of voters while negating who they are in the political arena of the 2018 West Java Election.Wajah politik di Indonesia diramaikan oleh hiruk-pikuk permainan komunikasi nonverbal sebagai bagian dari wacana politik. Melalui komunikasi nonverbal pula, para politisi mengerahkan segala potensi untuk memperkuat pesan dan makna politik. Jawa Barat adalah salah satu wilayah yang akan menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak di tahun 2018. Komunikasi nonverbal dipastikan akan hadir sebagai bentuk pencitraan dan penarik suara oleh para kandidat yang akan bertarung di Pilkada Jawa Barat. Penelitian ini mengartikan makna di balik komunikasi nonverbal yang ditampilkan oleh kandidat-kandidat di Jawa Barat. Penelitian ini melakukan analisis berbagai bentuk tanda komunikasi nonverbal, kode budaya visual, serta merujuk pada desain teks komunikasi visual. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kemampuan komunikasi nonverbal dari kandidat kepala daerah, untuk mengidentifikasi interpretasi dari konstituen politik terhadap komunikasi nonverbal yang dihadirkan pasangan calon kepala daerah, untuk mengidentifikasi aturan dan pemahaman KPU sebagai regulator dalam memaknai komunikasi nonverbal yang dihadirkan pasangan calon kepala daerah di empat lokasi Pilkada Jawa Barat 2018. Metode yang digunakan adalah analisis semiotik dari Roland Barthes adalah untuk membongkar denotasi, konotasi, dan mitos dengan menunjukkan setiap aspek dari simbol yang dimunculkan. Simpulan dalam penelitian komunikasi nonverbal yang paling tepat dalam kontestasi pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2018 adalah berupa komunikasi yang paling natural dan merepresentasikan kantong pemilih sekaligus menegasikan siapa diri mereka di kancah politik Pilkada Jawa Barat 2018

    Appendix Vol. 2 No. 22 Tahun 2019

    No full text

    Preliminaries Vol. 1 No. 21 Tahun 2018

    No full text

    Cover Vol. 2 No. 21 Tahun 2018

    No full text

    138

    full texts

    185

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BPPKI) Bandung: Jurnal Elektronik
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇