Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BPPKI) Bandung: Jurnal Elektronik
Not a member yet
    185 research outputs found

    Cover Vol. 1 No. 22 Tahun 2019

    No full text

    Appendix Vol. 1 No. 22 Tahun 2019

    No full text

    Strategi Marketing Public Relations untuk Membangun Citra Innisfree melalui Penggunaan Virtual Reality

    Full text link
    This research is about the marketing public relations strategy to build a brand image of Innisfree through the use of Virtual Reality (VR). It is essential to enhance the brand in the middle of intense competition in the beauty industry in Indonesia to gain public interest. This research aims to analyze the marketing public relations strategy to build a brand image of Innisfree through the use of VR. This research uses a qualitative method with a descriptive attribute. The collection of primary data is through in-depth interviews with the internal and external informant, dan secondary literature study. The examination of data credibility is using source triangulation. According to the result from a pull strategy i.e., performed online publications, holding media events, online competition, and carry out the survey directly as well as an online survey.Penelitian ini membahas mengenai strategi marketing public relations untuk membangun citra Innisfree melalui penggunaan Virtual Reality (VR). Meningkatkan citra brand di tengah gencarnya persaingan dalam industri kecantikan Indonesia tentunya penting dilakukan untuk memenangkan perhatian publik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi marketing public relations melalui penggunaan virtual reality untuk membangun citra Innisfree. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan sifat deskriptif. Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara mendalam (indepth interview) dengan informan internal, informan eksternal, beserta studi kepustakaan sekunder. Pemeriksaan keterpercayaan data dengan triangulasi sumber. Berdasarkan hasil temuan dari strategi pull yaitu melakukan pemberitaan online, mengadakan media event, kompetisi online, dan melakukan survei baik secara langsung maupun online

    Aplikasi Jawara: Pemandu Digital Terasa Seperti Pemandu Berbasis Komunikasi Analog?

    Full text link
    This study examined the differences between analog communication models played by human tour guides versus digital communications aided by digital guides called JAWARA applications in the guidance of the botanical garden. This study examined whether digital guide feels like a guide that communicating analogously, and observed the changes in the way they are guiding and whether it also impacts the cultural change from analog to digital. The theoretical framework used is interpersonal communication theory versus complexity theory based on communication models in digital media. Furthermore, this study is conducted from the cultural context and digital culture by descriptive qualitative research method. The primary data source is the interview with JAWARA admin and application developer. Results showed that the guidance communication model in the botanical garden underwent significant changes with the presence of JAWARA digital guide applications. These changes occur due to the analog and digital guidance communication models have different characteristics. However, the presence of digital guides has not been able to replace the analog guide completely because digital guides have not felt like analog (human) guides. However, the presence of digital guide applications brings changes to the cultural context, which was previously analogous as a whole, will gradually be displaced by the presence of digital culture and then mixed.Penelitian ini mengkaji tentang perbedaan antara model komunikasi analog yang diperankan pemandu wisata manusia versus komunikasi digital yang dibantu oleh pemandu digital bernama aplikasi JAWARA dalam pemanduan di kebun raya. Tujuan penelitian ini untuk mencermati benarkah pemandu digital terasa seperti pemandu yang berkomunikasi secara analog serta melihat perubahan cara pemanduan itu apakah membawa dampak pada perubahan budaya dari analog menuju digital. Teori yang digunakan adalah teori komunikasi interpersonal versus teori kompleksitas berlandaskan model komunikasi di media digital. Selain itu, dilakukan pula kajian dari konteks budaya dan budaya digital dengan metode penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data utama adalah wawancara dengan admin dan pengembang aplikasi JAWARA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model komunikasi pemanduan di kebun raya mengalami perubahan signifikan dengan kehadiran aplikasi pemandu digital JAWARA. Perubahan itu terjadi karena model komunikasi pemanduan analog dan pemanduan digital memiliki karakteristik yang berbeda. Namun demikian, kehadiran pemandu digital ternyata belum bisa menggantikan pemandu analog sepenuhnya karena pemandu digital belum terasa seperti layaknya pemandu analog (manusia). Meskipun demikian kehadiran aplikasi pemandu digital membawa perubahan pada konteks budaya pemanduan yang sebelumnya analog secara keseluruhan, lambat laun tergeser dengan kehadiran budaya digital dan kemudian bercampur satu sama lain

    Strategi Produk Pemasaran Produk Pertahanan dan Keamanan PT Pindad (Persero)

    Full text link
    Pindad is an only defense industry that produces weaponry in Indonesia, strives to achieve the autonomy of Indonesia’s primary weaponry defense system. In achieving those objectives, Pindad implemented a marketing communication strategy to carry out about introduction and sales activities for the product, spreading the message nationality, and corporate communication activities. The purpose of this research to see how the process of the communications strategy marketing conducted by Pindad. This research used qualitative methods with a case study approach, and data collection was carried through in-depth interviews and observation. The research showed how the planning process, organizing, actuating, and evaluation by Pindad. Marketing Communication by Pindad departs on the segmentation of different audiences, Pindad divides the company’s focus on the Marketing Departement for the special segment and the Corporate Communication Department for the general segment. In build marketing communication messages, Pindad includes nationality messages to cultivate the product user and society. The marketing communications is also used the communication business cooperation with the other government, company, and marketing sales directly to the intended segment.Pindad merupakan sebuah industri pertahanan yang memproduksi senjata satu-satunya di Indonesia, memiliki sebuah tujuan yaitu mewujudkan kemandirian alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia. Dalam mencapai tujuan tersebut Pindad melakukan upaya dalam penerapan strategi komunikasi pemasaran untuk melakukan kegiatan pengenalan dan penawaran produk, menyebarkan pesan kebangsaan, dan kegiatan komunikasi korporat. Tujuan penelitian ini untuk melihat bagaimana proses strategi komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh Pindad. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bagaimana proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan yang dilakukan Pindad. Komunikasi pemasaran yang dilakukan Pindad yang berangkat pada segmentasi khalayak yang berbeda, Pindad membagi fokus perusahaan pada Departemen Pemasaran untuk segmen khusus dan Departemen Komunikasi Korporat untuk segmen umum. Dalam mengemas pesan komunikasi pemasaran, Pindad menyertakan pesan-pesan kebangsaan untuk menumbuhkan rasa bangga bagi pengguna produk dan masyarakat. Kegiatan komunikasi pemasaran yang dilakukan juga memanfaatkan komunikasi kerjasama bisnis dengan pemerintah luar, perusahaan lainnya, dan pendekatan langsung dengan segmen yang dituju

    Ekspresi Partai Politik Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur

    Full text link
    In realizing the role of political parties, legislative members had been faced with a battle of political discourse in the courtroom. The purpose of this study is to explore the political communication performance of legislators in the NTT provincial legislature in expressing party ideology. The research method that used is qualitative approach. The results shows that the expression of political party ideology verbally and nonverbally was carried out in accordance with the context and function of political communication politics, leading to the management of audience impressions that display positive emotions, politeness, and impression management and facework strategies. Besides that, the expression of the ideology of political parties by DPRD members is carried out in the form of political lobbying, political negotiations and political rhetoric which presents three political stages as a space for communication. The three forms of political communication have different political agendas communicated among DPRD members, between DPRD members and the government so that the context of political communication often experience message distortions and message inconsistencies which have implications for the quality of communication performance of DPRD members.Dalam mewujudkan peran partai politik, anggota legislatif dihadapkan pada pertarungan wacana politik di ruang sidang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi kinerja komunikasi politik para anggota legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam mengekspresikan ideologi partai. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengekspresian ideologi partai politik secara verbal dan nonverbal dilakukan sesuai dengan konteks dan fungsi politik komunikasi politik, mengarah pada pengelolaan kesan audiens yang menampilkan emosi positif, kesantunan, manajemen kesan dan strategi facework. Selain itu, pengekspresian ideologi partai politik oleh anggota DPRD dilakukan dalam bentuk lobi politik, negosiasi politik dan retorika politik yang menghadirkan tiga panggung politik sebagai ruang berkomunikasi. Ketiga bentuk komunikasi politik tersebut memiliki perbedaan agenda politik yang dikomunikasikan sesama anggota DPRD, antara anggota DPRD dengan pemerintah sehingga konteks komunikasi politik seringkali mengalami distorsi pesan dan inkonsistensi pesan yang berimplikasi terhadap kualitas kinerja komunikasi anggota DPRD

    Preliminaries Vol. 1 No. 22 Tahun 2019

    No full text

    Modal Sosial dan Persepsi TIK dalam Pembangunan Desa Perbatasan

    Full text link
    This is an explanatory research which aims to find out the relationship between social capital – bridging and bonding – to the perception on ICT for rural community in the border area. This study uses quantitative method by using questionnaires in Kifu Village, Kupang Regency, East Nusa Tenggara. The systematic random sampling method was applied in the population of adolescent aged 16-18 years old. The result is that bridging and bonding social capital has a significant effect on the perception on ICT for rural development with R2 values of 33.2%. Non-social capital factor such as internet self-efficacy has impact on youth perception toward ICT for rural development.Penelitian ini bersifat eksplanatori dengan tujuan untuk mengetahui modal sosial, yaitu bridging dan bonding terhadap persepsi TIK dalam pembangunan desa perbatasan.  Populasi penelitian yaitu remaja dengan usia pada rentang 16 sampai 18 tahun di Desa Kifu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.  Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis jalur.  Teknik pengumpulan data penelitian dilaksanakan melalui penyebaran kuesioner secara systematic random sampling.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek hipotesis diterima yaitu bridging dan bonding modal sosial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap persepsi TIK bagi pembangunan desa dengan nilai R2 sebesar 33,2%.  Faktor-faktor non-modal sosial juga memengaruhi persepsi para remaja tersebut terhadap TIK dan dampaknya bagi pembangunan desa, misalnya faktor efikasi diri ketika menggunakan internet

    Makna Diri Penyandang Oligodaktili

    Full text link
    Indonesia is a developing country, a population of more than a quarter of a billion people with a variety of health problems, including oligodactyly sufferers in the Village of Ulutaue, Bone Regency, South Sulawesi. They are different from normal people in the surrounding environment. The symbol "self-identity" is given by a normal person in everyday life. The purpose of this research is to find out and explain the self-meaning oligodactyly sufferers. The method of this research is communication phenomenology, examines the experiences with communication and interaction of natural oligodactyly on the surrounding environment. This research uses a qualitative approach based on the subjective interpretive techniques of data collection through interviews and participatory observations with complementary data based on the perspective of the social action and symbolic interaction. This research involves fifteen subjects with ten men and five women selected by purposive. The results of this research categories such as physical abnormalities and form a physical organ. The selfmeaning of physical abnormalities on the fingers, such as spirit-self, optimistic of abandonment, despair, closed, and lazy. The self-meaning of forms a physical organ with oligodactyly sufferers since birth, such as inflicting shame-self, deserve our pity, willpower hard work, patience, and a driving passion.Indonesia merupakan negara berkembang, populasi penduduk lebih dari seperempat milliar orang dengan keberagaman masalah kesehatan, termasuk penyandang oligodaktili di Kampung Ulutaue, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan. Mereka berbeda dengan orang normal di lingkungan sekitarnya. Memiliki simbol “identitas diri” diberikan oleh orang normal dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian untuk menemukan dan menjelaskan mengenai makna diri penyandang oligodaktili. Metode penelitian yang digunakan adalah fenomenologi komunikasi, mengkaji pengalaman komunikasi dan interaksi penyandang oligodaktili yang dialami di lingkungan sekitarnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berdasarkan interpretatif subjektif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan pengamatan partisipatif dengan data penunjang berdasarkan perspektif tindakan sosial dan interaksi simbolik. Penelitian ini melibatkan 15 subjek dengan sepuluh laki-laki dan lima perempuan dipilih secara purposif. Hasil penelitian ini dikategorikan makna diri kelainan fisik dan bentuk organ fisik. Makna diri kelainan fisik pada jemari tangan atau jemari kaki, seperti diri pasrah, semangat, optimis, putus asa, tertutup, dan malas. Makna diri bentuk organ fisik penyandang oligodaktili sejak lahir, seperti diri menimbulkan rasa malu, pantas dikasihani, kemauan kerja keras, sabar, dan pendorong semangat

    Model Komunikasi Penegak Hukum dalam Ruang Persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

    Full text link
    The trial is one of the communication contexts in law enforcement. The process of law enforcement through trials contains aspects of messages, communicators, and purpose of communication as well as the unique communication events, which seen from the language and the communication process. The purpose of this study is to map the communication models for law enforcement in court as part of the law enforcement process. The approach used is qualitative research with ethnography of communication method. Data was obtained from participatory observation, interviews with informants, and document analysis in the Central Jakarta District Court. The result showed that the roles, interests, goals, and types of communication actors distinguished communication events in the trials. Communication actors as law enforcers at the trials consist of Judges, Public Prosecutors, and Legal Advisors who are interacting and communicating with each other. Interaction and communication in the trials in the study of communication ethnography theory developed communication models. The communication models are: (1) The law enforcement communication model in the courtroom consists of the communication of the judges, the communication model of the prosecutor, and the legal advisor communication model; (2) Communication model among law enforcers in the courtroom.Persidangan merupakan salah satu konteks komunikasi dalam penegakan hukum.  Proses penegakan hukum melalui persidangan mengandung aspek pesan, pelaku dan tujuan komunikasi, serta peristiwa komunikasi yang khas, dilihat dari bahasa dan proses komunikasinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan model komunikasi penegak hukum dalam persidangan sebagai bagian dari proses penegakan hukum melalui pengadilan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode etnografi komunikasi. Data diperoleh dengan melakukan observasi partisipatif, wawancara dengan informan, dan studi dokumentasi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peristiwa komunikasi dalam persidangan dibedakan berdasar peran, kepentingan, tujuan, dan tipe pelaku komunikasi. Pelaku komunikasi sebagai penegak hukum dalam persidangan terdiri dari hakim, penasihat hukum dan penuntut umum yang saling berinteraksi dan berkomunikasi. Interaksi dan komunikasi dalam persidangan dalam kajian teori etnografi komunikasi menghasilkan model komunikasi. Model komunikasi tersebut ialah: (1) Model komunikasi penegak hukum dalam persidangan, terdiri dari model komunikasi hakim majelis, model komunikasi penuntut umum, serta model komunikasi penasihat hokum; (2) Model komunikasi antarpenegak hukum dalam persidangan

    138

    full texts

    185

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BPPKI) Bandung: Jurnal Elektronik
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇