Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BPPKI) Bandung: Jurnal Elektronik
Not a member yet
185 research outputs found
Sort by
Presentation Skills In Marketing Business Product
Salah satu aspek pendukung dalam kemajuan bisnis antara lain kemampuan pengusaha memppresentasikan produk atau jasa yang ditawarkan, sebagai calon konsumen merasa yakin membeli atau menggunakan produk atau jasa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persiapan presentasi, penyajian pesan presentasi, dan unsur pendukung presentasi untuk memasarkan produk usaha. Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan teknik analisis data berupa studi kasus. Informan penelitian adalah wanita pengusaha pengurus Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Jawa Barat. Penelitian ini menemukan presenter mempresentasikan produk usaha melalui persiapan, penyajian pesan, dan unsur pendukung presentasi. Persiapan presentasi di dalamnya ditemukan presenter menyiapkan materi presentasi secara tertulis atau spontan, membuat headline. Pada penyajian pesan presentasi terdiri dari pengantar, isi, dan simpulan. Presenter memelihara kontak visual dengan audiens, menggunakan gerakan tubuh (wajah dan tangan), selain itu pada proses penyajian pesan presentasi menggunakan artikulasi kata yang teratur dan jelas. Sedangkan pada penutupan presentasi, presenter menyimpulkan ikhtisar presentasi dan mendorong audiensaudiens untuk membeli atau menggunakan produk usaha yang ditawarkan. Pada unsur pendukung presentasi, peneliti menemukan presenter menggunakan demonstrasi produk atau jasa, melibatkan kesaksian pelanggan dan penggunaan video serta foto dalam presentasi.One aspect of supporting the advancement of the business including the ability of employers to present products or services offered, as potential consumers to feel confident to buy or use the product or service. This study aimed to analyze the preparation of the presentation, the presentation of the message presentation and supporting elements presentations to market the business. Qualitative research methods used in this study with data analysis techniques in the form of case studies. The informants were women entrepreneurs officials Indonesian Business Women Association (IWAPI), West Java. This study found the presenter presenting business products through the preparation, presentation of the message, and the presentation of the supporting elements. Preparation presentation presenter recovered had to prepare a presentation in writing or spontaneously, to make headlines. At the presentation of the message consists of an introductory presentation, content, and conclusions. Presenter maintains visual contact with the audience, using the motion of the body (face and hands), in addition to the process of presenting the message presentation using word articulation orderly and clear. Meanwhile, at the close of the presentation, the presenter concluded overview presentation and encouraged the audience to buy or use the product business has to offer. In the presentation supporting elements, the study found the presenter using the product or service demonstrations, customer testimonials and involves the use of video and images in the presentation
Public Relations Process In Bandung City Government Program "Gerakan Pungut Sampah"
Program GPS diluncurkan guna meningkatkan peran aktif masyarakat, menciptakan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan, dan membangun budaya baru memungut sampah. Komunikasi dan penyampaian pesan program dilakukan melalui sosialisasi dan media sosial, twitter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses PR (Public Relations) yang terdiri dari pengumpulan fakta dan perumusan masalah, perencanaan dan pemrograman, tindakan dan komunikasi, dan evaluasi pada program GPS yang dilakukan oleh penyelenggara. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumen. Pengumpulan fakta yang dilakukan oleh penyelenggara dimulai dengan mendengarkan komentar dan keluhan yang dikemukakan pihak eksternal, juga turun ke lapangan melihat langsung kondisi lingkungan Kota Bandung. Penyelenggara menyusun program meliputi pengenalan situasi, penetapan tujuan, definisi khalayak, pemilihan media dan teknik-teknik PR, serta perencanaan anggaran. Aksi yang dilakukan penyelenggara dalam program GPS adalah bertindak responsif dan bertanggung jawab, sementara komunikasi dalam program mencakup kredibilitas, konteks, isi, kejelasan, kontinuitas dan konsistensi, saluran, dan kapabilitas atau kemampuan audiens. Evaluasi yang dilakukan penyelenggara program mencakup evaluasi untuk pengambilan keputusan, evaluasi pencapaian tujuan, evaluasi atas hasil dan dampak dan evaluasi pelaksanaanGPS program was launched in order to improve people's active participation, creating awareness of the importance of protecting the environment, and build a new culture picking up trash. Communications and delivery of messages is done through socialization programs and social media, twitter. The purpose of this study to find out the Public Relations process that consists of collecting of facts and formulation of the problem, the planning and programming, the action and communication, and the evaluation of GPS program that has been done by the organizers. This study used descriptive method. Data collected were through interviews, observation and documents. The organizers of GPS program begins by listening to the comments that raised by external parties, also took to the field looking directly environmental conditions in Bandung to collecting the facts. Organizers prepared GPS program includes the introduction of the situation, goal setting, audience definition, selection of media and techniques of Public Relations, as well as budget planning. Action taken in the program organizers GPS is acting responsive and responsible, while communication in the program include Credibility, Context, Content, Clarity, Continuity and consistency, Channel, and Capability of the Audience. Evaluation program providers include evaluation for decision-making, evaluation of the achievement of objectives, evaluation of results and impact and evaluation of the implementation
The Interpersonal Communication Of Spouse Through Taaruf Online Dating
Perkembangan jejaring sosial telah membuka banyak peluang baru untuk beragam situs internet yang menawarkan layanan biro jodoh secara daringonline/online dating. Salah satunya adalah situs rumahtaaruf.com. Selama menjalani proses perjodohan di rumahtaaruf.com, setiap calon pasangan didampingi oleh satu mediator yang bertindak sebagai perantara kedua belah pihak. Peran mediator rumahtaaruf.com untuk mengatur serta memantau jalannya proses taaruf agar berjalan sesuai syariat Islam. Penelitian ini berfokus pada motif-motif yang mendasari sikap wanita dan pria memilih pasangan hidup menggunakan layanan situs rumahtaaruf.com. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi. Informan penelitian ini adalah pasangan suami istri yang telah menikah setelah dipertemukan oleh administrator rumahtaaruf.com. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif calon pasangan suami istri memilih pasangannya di rumahtaaruf.com berdasarkan pendidikan, usia, pekerjaan, daya tarik fisik, respons keluarga, dan suku budaya. The development of social networking has revealed new opportunities for all varieties of internet sites that offer online dating services/online dating . One of them is the site of rumahtaaruf.com. During the process of matchmaking in rumahtaaruf.com., each candidate areis accompanied by a mediator who acts as an intermediary for both parties. Their role are job of mediator is to regulate and monitor the way of taaruf based on Islamic shari'a. This study focuses on the motive that underlying the attitudes of women and men who chosen spouses under the site services of rumahtaaruf.com. This study used a qualitative method with phenomenological approach. The data were obtained through interviews and observations. The informants were couples who have been married once brought together by Rrumahtaaruf.com administrator. The results showed that the motive prospective couples to choose rumahtaaruf.com was based on education, age, occupation , physical attraction, response of family and culture
Design An Adaptive Information Technology Infrastructure At National Nuclear Energy Agency Of Indonesia
Perancangan infrastruktur TI adaptif pada Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dipandang perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan terkait penelitian dan kemitraan yang merupakan fungsi utama BATAN. Penelitian ini menggunakan kerangka kerja The Open Group Architecture Framework Architecture Development Method (TOGAF ADM). Penelitian ini menghasilkan rancangan infrastruktur ITeknologi Informasi adaptif di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Hasil penelitian yaitu terdapat 5 (lima) aplikasi yang dipertahankan dan 5 (lima) aplikasi yang diganti. Terdapat aplikasi dan infrastruktur tambahan, yaitu: Sistem Informasi Penelitian Online (SIPO), Sistem Informasi Kemitraan Online ( SIKO), dan Simple Object Acsess Protocol (SOAP).Design an adaptive IT infrastructure in BATAN is needed to solve problems related to research and partnerships, which is the main function of BATAN. This research uses TOGAF ADM framework. Result of this research is a design of an adaptive IT infrastructureat BATAN. The results of research, there are fives applications were retained and fives applications were replaced. There are additional applications and infrastructure: SIPO, SIKO, and SOAP
Construction Meaning of Mixed Marriages for Indonesian Muslim Women
Latar belakang masalah penelitian ini adalah semakin banyaknya Warga Negara Indonesia (WNI) yang melakukan perkawinan campuran terutama kaum perempuan yang menikah dengan Warga Negara Asing (WNA). Hal ini, mengakibatkan terjadinya masalah dimulai dari perbedaan agama atau keyakinan, budaya serta pola hidup yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan dan menjelaskan motif, makna dan pengalaman perempuan muslim Indonesia sebagai pelaku perkawinan campuran. Metode penelitian ini menggunakan metode fenomenologi yang berfokus pada kajian pemaknaan pada kehidupan sehari-hari dari sudut pandang orang yang mengalaminya. Teknik pengumpulan data yang digunakan observasi partisipan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Subjek penelitian adalah perempuan muslim Indonesia berusia 30-40 tahun yang menikah dengan Warga Negara Asing (WNA) dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan campuran memiliki motif “karena” yaitu motif trauma dan ketertarikan, sedangkan motif “untuk” terdiri dari motif impian, beribadah, dan memperbaiki keturunan. Begitupun pengalaman perkawinan campuran menunjukkan saling menyesuaikan budaya, beradaptasi multikultural, sikap terbuka dan romantis. Sedangkan makna perkawinan campuran ini adalah menarik, bahagia, penggabungan dua budaya, menghargai perbedaan, saling pengertian, kompleks, indah. Konstruksi makna yang terbentuk bahwa perkawinan campuran adalah perkawinan yang menarik, indah, penuh tantangan dalam menghadapi perbedaan dari sisi kebudayaan, kebiasaan dan pola pikir dalam menjalankan kehidupan berkeluarga.The background of this problem is the increasing number of Indonesian citizens who perform mixed marriages, especially women who are married to foreign nationals. This, resulted in the problem starts from differences of religion or belief, culture and lifestyle are different. The purpose of this study is to find and explain the motives, meaning and experience of Indonesian Muslim women as perpetrators of intermarriage. This research method using the phenomenological method that focuses on the study of meaning in everyday life from the perspective of those who experience it. Data collection techniques used participant observation, interview and documentation study. Subjects were Indonesian Muslim women aged 30-40 years, were married to foreign nationals by purposive sampling technique. The results showed that mixed marriages have a motive "because" that is the motive trauma and interest, while the motive "for" consists of the dream motive, worship and repair descent. Likewise intermarriage experience demonstrated mutual culturally adjust, adapt to a multicultural, open and romantic attitude. While the meaning of marriage is an interesting mix, happy, merging two cultures, respect for differences, mutual understanding, complex, beautiful. Construction of meaning formed that a mixed marriage is a marriage of attractive, beautiful, full of challenges in the face of differences in terms of culture, habits and mindset in running family life
Effectiveness Of Interpersonal Communication In The Prevention Of Violence Against Children
Banyak anak yang menjadi korban kekerasan, tidak menerima rasa sayang, dilindungi, termasuk juga tidak bersekolah. Salah satu upaya dalam mencegah tindakan kekerasan terhadap anak dimulai dari keluarga. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan melihat efektivitas komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh orang tua dengan anak di Kota Bandung dalam rangka mencegah kekerasan terhadap anak. Studi kasus digunakan pada penelitian ini, dengan alasan bahwa setiap daerah berbeda satu sama lain karena tentunya memiliki budaya yang berbeda. Responden penelitian berjumlah 100 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orangtua di Kota Bandung sebagian besar melakukan keterbukaan dalam berkomunikasi dengan anak, khususnya berkaitan dengan kekerasan yang mungkin ada di lingkungan anak. Selain itu mereka memiliki sikap positif terhadap pergaulan anak. Rasa empati pada anak juga ditunjukkan orangtua dalam mencegah tindak kekerasan pada anak. Kesetaraan dalam keluarga juga dilakukan oleh orangtua di Kota Bandung untuk membuka ruang partisipasi anak, sehingga anak akan terbuka pada orangtua untuk bercerita berbagai hal. Many children have become violence victim, not receive affection, protected including not attending school. Some of effort in preventing from violence is starting from the family. Therefore, this study is aimed for the effectiveness of interpersonal communication that is conducted by the parents with children in Bandung city, in order to prevent the violence against children. The case study used in this research, on the grounds that every area is different to each other because it certainly has a different culture. The respondent sample that we made a survey is 100 people. Results showed that parents in Bandung city are doing most of openness in communicating with their children, particularly related to violence that might exist in the child’s environment. In addition, they have a positive attitude towards the association of children. Empathy in children is showing from their parents in order to prevent from violence. Equality in family is done by their parents in Bandung city to open the space for child participation, so that the children will open to their parents for asking something or to tell a various things
Analisis Percakapan Program Indonesia Lawyer Club Episode "Negara Paceklik, Perokok Dicekik?"
This study aims is to identifying the structure of conversation and application of cooperative principle as a prerequisite for good conversation in the discussion on Indonesia Lawyers Club (ILC) talk show episode "Negara Paceklik, Perokok Dicekik?" Which aired on August 23, 2016 at TVOne. The data analyzed by using conversation principles as suggested by D. Hymes in the ethnography of speaking, and cooperative principles as suggested by H.P. Grice. This research reveals that as a live broadcast event, ILC talk show episode "Negara Paceklik, Perokok Dicekik?" has form a good structure and meet SPEAKING scheme. However, in terms of the cooperative principle, ILC talk show still needs an evaluation. This study confirms Garfinkel concepts about creativity of human actors, who in the context of ILC conversation are modifying goals, rules, structure and style, also effects of the discussion according to his interests.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur percakapan dan penerapan prinsip kerjasama sebagai prasyarat percakapan yang baik dalam diskusi di program talk show Indonesia Lawyers Club (ILC) edisi “Negara Paceklik, Perokok Dicekik?” yang ditayangkan pada tanggal 23 Agustus 2016 di TVOne. Analisis yang digunakan adalah prinsip percakapan dalam ethnography of speaking seperti yang disarankan oleh D. Hymes dan analisis prinsip kerjasama sebagaimana dilakukan oleh H.P. Grice. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagai sebuah acara yang disiarkan secara langsung, struktur diskusi pada program ILC edisi “Negara Paceklik, Perokok Dicekik?” telah cukup baik dan memenuhi skema SPEAKING. Namun, dari sisi pelaksanaan prinsip kerjasama, acara ini masih perlu dibenahi lagi. Penelitian ini meneguhkan pendapat Garfinkel mengenai manusia sebagai aktor kreatif, yang dalam konteks percakapan ILC adalah dengan memodifikasi tujuan, aturan, struktur, dan gaya bahasa, serta efek diskusi sesuai dengan kepentingannya
National Figure Leadership Construction In The Movie "Ketika Bung Di Ende"
Penelitian ini membahas mengenai konstruksi kepemimpinan Soekarno sebagai tokoh bangsa yang dibingkai dalam film Ketika Bung di Ende sebagai film yang mengangkat fase penting yang jarang diteliti dalam kehidupan Soekarno. Penelitian ini bersandar pada teori Konstruksi Sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckman melalui film sebagai media massa. Framing dipilih sebagai metode untuk mengetahui realitas yang dipilih untuk ditampilkan dalam film ini. Menggunakan analisis framing dari William A. Gamson dan Andre Modgliani untuk melihat bagaimana gagasan yang mengatur cara memaknai kejadian dan apa yang menjadi permasalahan, dengan menggunakan perangkat framing (framing devices) melalui metaphors, catchphrases, exemplar, depiction dan visual images serta perangkat penalaran (reasoning devices) dengan menggunakan roots, appeals to principle dan consequences sebagai Framing Devices. Strategi framing tersebut digunakan untuk membentuk konstruksi yang ingin dibentuk oleh sutradara dan penulis skenario. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah bahwa sebagai dalah satu media komunikasi, film memberikan konstruksi atas kepemimpinan Soekarno sebagai pemimpin yang berjiwa bebas dan anti imperialisme; bersemangat dan gandrung pada persatuan; merangkul semua kalangan; dan ideolog religius. Jika ditarik pada konsep kepemimpinan, maka kepemimpinan Soekarno adalah constellation of traits yang demokratis, transformasional dan menganut falsafah Pancasila.This research discusses Soekarno’s leadership construction as a national figure framed in the movie “Ketika Bung di Ende” as a film that raised the critical phase which rarely examined in the life of Soekarno. This study rests on the theory of Construction Reality Peter L. Berger and Thomas Luckman through movie as a mass media. Using the framing analysis of William A. Gamson and Andre Modgliani to see how the events are governed by the ideas and its problems, by using Metaphors, Catchphrases, Exemplar, Depiction and Visual Images as well as reasoning devices with the use of roots, appeals to principle, and consequences as Framing Devices; the director and the screenwriter then form their intended construction on Soekarno’s leadership. The conclusions obtained from this study are as a medium of communication,, the movie can be used to construct Soekarno as a free-spirited leader and anti imperialism; eager and devoted to unity, embracing all people, and religious ideologues. Soekarno is a leader with democratic and transformational constellation of traits that still adheres to the philosophy of Pancasila
Characteristic, Aspirations, Information Media In Development Planning Consultation Forums At The Banjar City, West Java Province
Tuntutan dan tantangan di era demokratisasi dan otonomi daerah telah terjadi perubahan paradigma pembangunan dari sentralistik menjadi partisipatif yang memberikan kesempatan lebih luas dan terbuka bagi aspirasi masyarakat di tingkat lokal. Hal tersebut diwujudkan melalui forum komunikasi antar stakeholder dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan dan menganalisis karakteristik, aspirasi, dan askses media informasi dalam Musrenbang desa/kelurahan. Penelitian menggunakan metode campuran sekuensial (sequential mixed methods) dengan tahap pertama dan ketiga proses penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data kualitatif melalui observasi langsung, analisis dokumentasi dan wawancara dengan pemilihan informan secara purposive sampling serta menggunakan analisis interaktif dan analisis SWOT. Tahap kedua menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Data kuantitatif melalui kuesioner dengan pengambilan sampel secara bertahap yaitu sampling klaster, rumus Slovin dan sampel berstrata serta menggunakan analisis deskriptif. Lokasi penelitian di Desa Balokang, Desa Rejasari, Kelurahan Mekarsari dan Kelurahan Muktisari Kota Banjar Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukan karakteristk stakeholder memiliki kategori usia tua, tingkat pendidikan rendah, tetapi sangat berpengalaman berorganisasi dan mengikuti Musrenbang serta motif yang kuat untuk mengikuti Musrenbang desa/kelurahan. Aspirasi paling penting adalah hasil Musrenbang desa/kelurahan dan stakeholder memiliki intensitas tinggi pada media informasi melalui surat resmi dari pemerintahan desa/kelurahan.Demands and challenges in the era of democratization and decentralization have been a paradigm to change centralized development to participatory which gave more opportunities to aspirations of the people at local level. This is realized through a communication forum between stakeholders in the development planning consultation forum (Musrenbang). This study was aimed to describe and analyze the characteristics of stakeholder, aspirations and access to information media in Development Planning Consultation Forum (Musrenbang) at the village/urban village. This study used sequential mixed methods through the first and third stages of the research process using the descriptive qualitative method. Qualitative data were collected through direct observation, analysis of documents, and interviews, the informants had been chosen through purposive sampling, as well as the use of interactive analysis and SWOT analysis. The second stage uses the descriptive quantitative method. Quantitative data were collected through questionnaires and samples were taken gradually by using cluster sampling, Slovin formula, and stratified sampling and used descriptive analysis. The results showed the stakeholders have old age category and fairly low educational status, but they have a lot of experience in organizing and participating in Musrenbang and also have strong motive to participation in Musrenbang. The aspirations of the Musrenbang sub-villages/suburban villages result have important category and stakeholders have the intensity of information media access through the letter from the local governance
Governance of Information And Communication Technology (ICT) System Planning
Intensitas penggunaan TIK di instansi pemerintah terus meningkat.Salah satu komponen prosesTIK yang cukup penting adalah pengelolaan perencanaan sistem TIK, jika pengelolaan TIK baik maka perencanaan sistem TIK juga akan memberikan manfaat yang signifikan terhadap organisasi. Penelitian ini akan menlusuri dan mengukur sampai di mana dan bagaimana penerapan tata kelola perencanaan sistem TIK di Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bitung. Tujuannya adalah untuk mengetahui kondisi penerapan tata kelola TIK yang ada di Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bitung Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif, instrumen yang diadaptasi dari Panduan Umum Tata Kelola TIK Nasional dan Framework COBIT serta teknik analisis data yang diadopsi dari Cobit Maturity Model, penelitian ini mencoba mengeksplorasi panduan tersebut untuk kemudian digunakan sebagai tools evaluasi tata kelola perencanaan sistem TIK terhadap Dinas Kominfo Kota Bitung. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa Dinas Kominfo Kota Bitung dari sisi tata kelola perencanaan sistem TIK masih berada pada level rendah, yaitu level 1 dengan nilai tingkat kematangan sebesar 0.63.The intensity of ICT usage continues to increase. This should be accompanied by the increase of the government's performance, and one of the important components is governance of the ICT system planning. The ICT system planning with a good management will provide significant benefits to the organization. One cause of insignificant benefits ICT to the organizational goals is there is no ICT governance applied. It can be caused by many things, one of them is the lack of knowledge and awareness about the ICT governance, so there are still many government agencies which have not yet implemented properly the ICT governance. By using quantitative approaches, questionnaire instrument was adapted from the General Guide of the National ICT Governance. Framework COBIT and data analysis techniques adopted from the COBIT Maturity level. This study aims to explore the guidelines as an evaluation tool for the governance of the ICT system planning in Department of Communications and Information Technology in Bitung City. The results of this study found that the institution is still at low level, level 1 with 0,63 maturity level in governance planning of ICT system