Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial (Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI)
Not a member yet
    83 research outputs found

    KONTRIBUSI PENGASUH DI PANTI ASUHAN MUSLIMIN DALAM PEMENUHAN DIMENSI EMOSIONAL WARMTH BERDASARKAN KERANGKA PERLINDUNGAN DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK

    Full text link
    This study aims to provide an overview of the caregiver's contribution in fulfilling child welfare in orphanages as a substitute for parents who are needed to fulfill children's development needs. This study uses the UNICEF Child Welfare and Protection Framework, namely Parenting Capacity and limits the discussion on one of the indicators, namely Emotional Warmth. This study uses a qualitative approach with a type of descriptive research. Data collection methods used are literature studies, observations and in-depth interviews. The results of this study illustrate the efforts of caregivers in fulfilling emotional warmth by showing their affection first getting closer to foster children by inviting children to talk about their daily lives, hugging children in response to hugs given by children first, listen when the children tell what they are feeling, show sensitivity to the child's condition such as when the child is alone or crying, teach independence by involving children in daily activities in the orphanage which are the duty of foster children. With the fulfillment of the emotional warmth of caregivers showing one of the parenting capacities that contribute to the welfare of foster children in the orphanage. Some of the things that support the process of fulfilling emotional warmth at the institution are, the caregiver's understanding of his work and the provisions of institutions that support caregivers to carry out their roles optimally. Several inhibiting factors were found, namely, caregivers who had other responsibilities outside the institution so that they could not always carry out their roles as caregivers in the institution, there were differences of opinion between caregivers regarding the care process, and there were no written regulations requiring caregivers to accompany children's daily lives The conclusion of this study is that caregivers strive to fulfill emotional warmth in the care process at the institution, by not only paying attention to the physical needs of the child but also paying attention to the emotional needs of the child.Penelitian ini bertujuan menggambarkan kontribusi pengasuh di Panti Asuhan Muslimin dalam hal pemenuhan dimensi emotional warmth yang merupakan salah satu kapasitas pengasuh dalam mencapai kesejahteraan anak-anak. Penelitian ini menggunakan kerangka Kesejahteraan dan Perlindungan Anak UNICEF yaitu sistem Parenting Capacity dan membatasi pembahasan pada salah satu indikatornya yaitu emosional warmth (kehangatan emosional). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur, observasi dan wawancara mendalam. Hasil penelitian ini menggambarkan upaya pengasuh dalam memenuhi emotional warmth, antara lain menunjukkan rasa sayangnya dengan terlebih dahulu mendekatkan diri pada anak-anak asuh, misalnya dengan cara mengajak anak berbincang-bincang terkait keseharian mereka, menanggapi ekspresi afeksi anak-anak, mendengarkan ketika anak-anak menceritakan perasaannya, menunjukkan kepekaan pada kondisi emosi anak seperti ketika anak menyendiri atau menangis, membentuk kemandirian dengan melibatkan anak-anak dalam kegiatan sehari-hari di dalam panti. Berdasarkan upaya pemenuhan emosional warmth tersebut, pengasuh memenuhi kapasitas dirinya sebagai pengasuh yang akan mendukung dalam mencapai kesejahteraan anak di panti. Beberapa hal yang mendukung proses pemenuhan emotional warmth di panti yaitu, pemahaman pengasuh terhadap pekerjaannya dan ketentuan lembaga yang mendukung pengasuh menjalankan perannya secaramaksimal. Ditemukan juga beberapa faktor penghambat seperti, pengasuh yang memiliki tanggung jawab lain di luar panti sehingga tidak selalu dapat melaksanakan perannya sebagai pengasuh di dalam panti, terdapat perbedaan pendapat antara pengasuh terkait proses pengasuhan, dan belum ada peraturan tertulis yang mewajibkan pengasuh untuk mendampingi keseharian anak-anak. Kesimpulan dari penelitian ini, pengasuh berupaya memenuhi emotional warmth dalam proses pengasuhan di panti, dengan tidak hanya memperhatikan kebutuhan fisik anak-anak saja tetapi juga memperhatikan kebutuhan emosional ana

    MENAKAR KEBERLANJUTAN PROGRAM KUBE: PELUANG DAN TANTANGAN PROGRAM KUBE DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MISKIN PERKOTAAN DI KELURAHAN KEPARAKAN, KECAMATAN MERGANGSAN, KOTA YOGYAKARTA

    Full text link
    KUBE is one of the poverty alleviation programs under the Directorate of Social Empowerment and Poverty Reduction, Ministry of SocialAffairs. This program aims to empower the poor groups through the financial assistance to support productivity in economy. KUBE inKeparakan Village, Mergangsan, Yogyakarta City is one of the KUBE in DIY Province which is the best KUBE candidate in DIY. Ironically,within 3 years implementation of the KUBE Program, from 6 KUBE, 4 KUBE sustainable and the other 2 was discontinued. This paperseeks to examine what are the supporting and inhibiting factors for the implementation of sustainability KUBE in Keparakan Village.SWOTanalysis and indicator of KUBE’s sustainability from the government can be used to interpret the causes of sustainable and discontinuedKUBE.This research is using descriptive qualitative method and the data is collected using observation, deep interview, documentation,and audio visual. The results show that the internal factors gave the biggest impact for the sustainability of KUBE in Keparakan Village.Allthese sustainable KUBE has strong internal factors. It is reflected by the member’s commitment to obey the rules of the group. On the otherhand, the discontinued KUBE has weak internal factors for its member ignorance to the rules. Besides, the role from KUBE facilitatorwasn’t optimal enough to solve the problems faced by two discontinued KUBE. Kelompok Usaha Bersama (KUBE) merupakan salah satu program pengentasan kemiskinan dari pemerintah di bawah Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan, Kementerian Sosial. Program ini bertujuan untuk memberdayakan kelompok masyarakat miskin melalui pemberian modal usaha sebagai dukungan dalam mengelola Usaha Ekonomi Produktif (UEP). KUBE di Kelurahan Keparakan, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta merupakan salah satu KUBE di Provinsi DIY yang mendapatkan penghargaan dari Kementerian Sosial sebagai kandidat KUBE terbaik se-DIY. Ironisnya, dalam kurun waktu 3 tahun pelaksanaan Program KUBE, dari 6 KUBE yang ada, 4 KUBE dapat berkelanjutan sedangkan 2 KUBE mati. Tulisan ini berusaha untuk memahami apa sajakah faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan Program KUBE di Kelurahan Keparakan yang berdampak pada keberlanjutan KUBE. Untuk menggali hal tersebut digunakan analisis SWOT untuk menginterpretasikan penyebab KUBE dapat berkelanjutan atau mati. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data-data dikumpulkan dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal kelompok berpengaruh besar bagi keberlanjutan KUBE. Empat KUBE berkelanjutan memiliki faktor internal yang kuat. Hal ini tercermin dari tingginya komitmen anggota dalam menjalankan peraturan kelompok. Sebaliknya, faktor internal pada kedua KUBE mati lemah karena anggota tidak menjalankan kesepakatan kelompok. Disamping itu, peran pendamping KUBE dari Dinas Sosial kurang optimal dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh kedua KUBE mati

    JURNAL ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL Oktober 2013

    No full text
    Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial adalah wahana pengembangan kajian bidang kesejahteraan sosial da-lam kerangka ilmiah akademik serta dalam kerangka pragmatis terapan. Wahana ini terwujud melalui publikasi naskah-naskah ilmiah yang terkait dengan ilmu dan praktik kesejahteraan sosial. Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial terbit secara berkala 2 kali dalam setahun, yaitu pada bulan April dan Oktober.Untuk dapat dimuat dalam Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial, sebuah naskah harus memenuhi krite-ria dasar, yaitu harus berkaitan dengan tema atau isu kesejahteraan sosial yang faktual serta harus me-menuhi kaidah penulisan ilmiah seperti segala hal yang terkait dengan identifikasi dan analisis masalah sosial beserta intervensi sosialnya. Pendekatan untuk intervensi sosial yang dimaksud mencakup pada tingkat mikro, mezzo dan makro. Selain tema-tema ilmu dan praktik, naskah-naskah yang dapat dimu-at, mencakup pula isu-isu wacana pengembangan metodologi dan kurikulum pendidikan kesejahteraan sosial di Indonesia

    PENYANDANG DISABILITAS DI INDONESIA: PERKEMBANGAN ISTILAH DAN DEFINISI

    Full text link
    Research reveal that disability awareness and public understanding of persons with disabilities closely related with discriminative behaviour that they experience in their everyday lives. Common understanding about persons with disabilities around the world, including Indonesian, mostly are negative disability awareness. This negative awareness due to public tend to define, or understand, and treat person with disability nowadays mostly with perspectives dominated by normality’s concept, that implicated to stigmatisation and discrimination towards persons with disabilities. This happened in the world, including Indonesia, caused by lack of dissemination of information and education officially from government or authorities, and also from scientific research. This article aims to describe the review of the literature about understandings of persons with disabilities. It is expected that this article would contribute to overcome a lack of information and education about disabilities and persons with disabilities, and provide appropriate understanding and behaviour that respecting the rights of Indonesian people with disabilities.Riset menunjukkan keterkaitan erat antara pemahaman publik tentang disabilitas dan penyandang disabilitas dengan perilaku diskriminatif yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman umum masyarakat di dunia, termasuk Indonesia, tentang penyandang disabilitas masih cenderung negatif. Pemahaman negatif itu karena masyarakat umumnya mendefinisikan dan memperlakukan penyandang disabilitas berdasarkan pada pola pikir yang didominasi oleh konsep kenormalan yang berimplikasi pada stigmatisasi dan diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas. Hal itu, termasuk di Indonesia terutama disebabkan masih terbatasnya diseminasi informasi dan edukasi resmi dari pemerintahan atau otoritas terkait serta hasil kajian ilmiah tentang disabilitas dan penyandang disabilitas. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan kajian literatur terkait pemahaman tentang disabilitas dan penyandang disabilitas. Diharapkan kajian ini dapat berkontribusi mengatasi kesenjangan informasi dan edukasi tentang disabilitas dan penyandang disabilitas, serta memberi pemahaman yang tepat dan perilaku yang lebih baik serta menghargai hak asasi para penyandang disabilitas di Indonesia. Dengan pemahaman dan perilaku yang tepat tersebut, maka diharapkan berkontribusi pula pada perlindungan dan kesejahteraan sosial para penyandang disabilitas di Indonesia

    MODAL SOSIAL BONDING DALAM PENGEMBANGAN KAMPUNG WISATA KREATIF DAGO POJOK KOTA BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT

    Full text link
    The development of a tourism village has become one of the primaries in community development, especially in rural areas, carried out either by the government or other parties. This is an effort to alleviate poverty in rural areas which is currently an area with a reasonably large amount of poverty with 15.15 million people. But the process of this development provides a dilemma and question about how the process can develop bonds in the community itself that are relevant to the context of bonding social capital. This article aims to explore information about how Dago Pojok creative tourism village community develops their bonding social capital for the sustainability development of Dago Pojok creative tourism village. This research uses a qualitative method with descriptive type. The data collection in this reseacrh is study of documentation, observation and interview. In this study, interview were conducted on 12 (twelve) informants with criteria based on purposive sampling. The results of this study found that there were efforts made by the community to continue to develop bonding social capital which embedded to the community.Pengembangan desa wisata menjadi salah satu primadona dalam pengembangan masyarakat. Apalagi bila pelaksanaannya di wilayah pedesaan, yang dilakukan baik oleh masyarakat itu sendiri, pemerintah maupun pihak lainnya. Pengembangan masyarakat menjadi penting sebagai upaya mengentaskan kemiskinan di wilayah pedesaan. Apalagi wilayah pedesaan memiliki jumlah kemiskinan yang cukup besar, yaitu 15,15 juta jiwa. Proses pengembangan ini menarik menjadi bagian kajian dalam Ilmu Kesejahteraan Sosial karena penelitian mengenai bagaimana proses intervensi sosial tersebut dapat mengembangkan ikatan pada masyarakat (kapital sosial bonding). Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana masyarakat Kampung Wisata Kreatif Dago Pojok mengembangkan kapital sosial bonding untuk keberlanjutan pengembangan kampung wisata kreatif Dago Pojok. Peneltian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis deskriptif. Pengumpulan data dalam penelitian inimenggunakan studi dokumentasi, obeservasi dan wawancara. Adapun Informan berjumlah dua belas orang berdasarkan purposive sampling. Hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat upaya-upaya yang dilakukan oleh masyarakat untuk tetap mengembangkan kapital sosial bonding yang melekat pada masyarakat

    KAJIAN PERMASALAHAN DAN POTENSI PERILAKU IBU DALAM PEMBERIAN MAKANAN BAGI ANAK DALAM KAITANNYA PADA KUALITAS HIDUP ANAK-ANAK YANG TIDAK BERKECUKUPAN GIZI DI KELUARGA MISKIN PERKOTAAN

    Full text link
    Artikel ini membahas mengenai permasalahan kesejahteraan anak di suatu komunitas terkait dengan permasalahan perilaku ibu dalam pemberian makanan bagi anak dalam kaitannya terhadap penciptaan kualitas hidup anak-anak mereka yang berusia 6-24 bulan yang tidak berkecukupan gizi. Artikel ini juga menggambarkan faktor-faktor yang memunculkan permasalahan serta potensi dalam komunitas sasaran yang dijadikan sebagai acuan untuk merumuskan upaya intervensi untuk mengatasi permasalahan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat faktor-faktor yang mengakibatkan munculnya permasalahan kualitas hidup anak yang tidak menyenangkan yaitu adanya faktor predisposisi dan perilaku yang dimunculkan oleh ibu sebagai pihak utama serta adanya faktor penguat, sosial, dan faktor program dan regulasi yang berasal dari luar ibu. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi potensi-potensi yang ada untuk memungkinkan terjadinya perubahan kualitas hidup yang lebih baik dalam upaya mencapai kesejahteraan anak. This article discusses about child welfare issues in a community related to mothers’ behavior child welfare issues of a community related to children of age 6-24 months with insufficient nutrition condition. It also describes about the factors which influenced to this condition that would be base of intervention design to solve the problems. This is an descriptive research. This research stated that parents, especially mother has the most important roles in determining their children’s life quality

    AKSI SOSIAL KOMUNITAS NELAYAN CANTRANG TERHADAP KEBIJAKAN LARANGAN PENGGUNAAN ALAT PENANGKAPAN IKAN

    Full text link
    This research describes the existence of interventions at the community level through social action / community action carried out by the cantrang fishing community in Tasikagung Village, Rembang Regency. This action is an effort by the cantrang fishing community to fight for their welfare after the issuance of a policy on the prohibition on the use of cantrang type fishing gear through the Minister of Maritime Affairs and Fisheries Regulation of the Republic of Indonesia. This research is a study that uses a qualitative approach, with the type of research descriptive. The results of this study show that the change in living conditions in the cantrang fishing community, as well as the differences in perceptions between the fishermen and the government, are factors that encourage cantrang fishing communities to hold confrontational protests through demonstrations, roadblocks, and negotiations. The groups or stakeholders involved in this action include the communities that have work related to cantrang vessels.Penelitian yang dilakukan ini mendeskripsikan adanya intervensi di level komunitas melalui aksi sosial/aksi komunitas yang dilakukan oleh komunitas nelayan cantrang di Desa Tasikagung, Kabupaten Rembang. Tindakan tersebut merupakan upaya komunitas nelayan cantrang untuk memperjuangkan kesejahteraan hidupnya setelah dikeluarkannya kebijakan tentang larangan penggunaan alat penangkapan ikan jenis cantrang melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini menujukkan bahwa adanya perubahan kondisi kehidupan pada komunitas nelayan cantrang, serta adanya perbedaan persepsi antara pihak nelayan dan pihak pemerintah menjadi faktor yang mendorong komunitas nelayan cantrang untuk melakukan aksi protes secara konfrontatif melalui aksi demonstrasi, blokade jalan, serta adanya proses negosiasi yang dilakukan. Kelompok atau stakeholder yang terlibat dalam tindakan ini meliputi masyarakat-masyarakat yang memiliki keterkaitan pekerjaan dengan kapal cantrang.

    BADAN USAHA MILIK DESA (BUMDES) IJEN LESTARI SEBAGAI INOVASI PELAYANAN PUBLIK UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL MELALUI COMMUNITY BASED TOURISM

    Full text link
    The proportion of rural poverty is always higher than urban poverty in Indonesia. Poverty reduction programs, especially in rural areas, should put the community as the priority subject in each program. Banyuwangi Regency in East Java Province isone of the best example in poverty reduction program. Banyuwangi succeed to reduce its poverty rate significantly from tourism sector. This tourism increases income per capita of Banyuwangi from year to year. The poverty reduction in Banyuwangi is influenced by smart kampung and local economic development through a community-based tourism. (CBT) and Initiating local industry.Based on observation and in depth interview, Village-Owned Enterprises (BUMDes) Ijen Lestari is an innovation for public services contributes to the community by giving loan fund to finance local economic activities and employment. BUMDes also provides services and a media for positive change and interaction. Thesis research, it is concluded that BUMDes gives positive impacts to provision of employment and tourism business income. However, as an innovation of public services, BUMDes also needs to enhance its networking with other stakeholders in order to develop its strategic destinations and improve the skills of their local human resources for using Information Technology to attract the tourists attention. Proporsi kemiskinan perdesaan selalu lebih tinggi dibandingkan kemiskinan perkotaan di Indonesia, program pengentasan kemiskinan, khususnya di perdesaan sudah seharusnya menempatkan masyarakat sebagai subjek dalam setiap program pengentasan kemiksinan. Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur mengalami penurunan kemiskinan yang signifikan termasuk di wilayah perdesaaan karena didukung sektor pariwisata yang mendorong peningkatan pendapatan per kapita Banyuwangi dari tahun ke tahun. Penurunan angka kemiskinan dan peningkatan pendapatan per kapita Banyuwangi tidak bisa dilepaskan dari program smart kampung dan pengembangan ekonomi lokal melalui pariwisata berbasis masyarakat yang dilakukan melalui industri lokal. Berdasarkan observasi dan wawancara mendalam, BUMDes Ijen Lestari merupakan inovasi pelayanan publik yang berkontribusi pada komunitas dalam bentuk pemberian bantuan langsung (direct), yang terdiri pembiayaan kegiatan ekonomi lokal dan lapangan pekerjaan. Kemudian kontribusi tidak langsung (in-direct), yang terdiri dari pemberian pelayanan dan media untuk perubahan dan interaksi. Penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa BUMDes Ijen lestari memberikan dampak yang positif dalam penyerapan tenaga kerja dan pendapatan dari usaha atau bisnis pariwisata. Namun demikian, BUMDes perlu juga bermitra dengan stakeholder lainnya dalam upaya pengembangan destinasi strategis serta meningkatkan sumber daya manusia lokal untuk pemanfaatan Informasi dan Teknologi (IT) melalui website dan media sosial dengan konten yang menarik perhatian wisatawan

    STRATEGI-STRATEGI PENGGALANGAN DANA PADA ORGANISASI KEMANUSIAAN BERBASIS AGAMA (Studi Deskriptif Penggalangan Dana di Dompet Dhuafa)

    Full text link
    Penelitian ini membahas strategi-strategi penggalangan dana yang dilakukan oleh Yayasan Dompet Dhuafa serta faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Dompet Dhuafa memiliki strategi penggalangan dana berupa pertama, penggalangan dana retail termasuk diantaranya adalah counter, Gerakan Donasi, Jemput Zakat dan direct mail. Kedua, penggalangan dana dengan kemitraan yaitu menjalin kerjasama dengan perusahaan, lembaga lain serta tokoh masyarakat dan artis. Ketiga, kampanye dengan berbagai macam media komunikasi baik cetak maupun elektronik. Keempat, layanan personal. Penggalangan dana yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa didukung oleh kredibilitas organisasi, sumberdaya manusia yang loyal dan berjiwa kedermawanan sosial, kualitas program, komunikasi yang baik dnegan donatur dan media kampanye yang menarik. Sedangkan hambatannya adalah kesulitan menemukan gagasasan tema, terbatasnya biaya sosialisasi, kurangnya kemauan masyarakat untuk berdonasi, kesulitan mencari karyawan yang berdedikasi tinggi dan kebijakan pemerintah.This study discuses about strategies of fundraising conducted by Yayasan Dompet Dhuafa with the supports and obstacles. This study used qualitative method and descriptive approach. The result of study show that Dompet Dhuafa have some strategies of fundraising. First, retail fundraising includes counter, Gerakan Donasi, Jemput Zakat and direct mail. Second is partnership with companies, another institutions and public figure. Third is champagne with communication media. Forth is personal services. The fundraising activities are supported by organization credibility, loyal and generous workers, best quality of programs and good relationship with donor. Whereas, the obstacles are getting some difficulties to find ideas, limited cost for socialization, less of motivation from people to donate, organization stagnation and the rules

    Pelaksanaan Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Bagi Anak Tidak Mampu Studi Deskriptif pada Program PAUD Bina Tulus Hati, Kampung Lio-Depok

    No full text
    This article describes the implementation of Early Childhood Education Program for poor children. This program is organized by community social organization (a shelter) named Bina Tulus Hati, Kampung Lio-Depok. This study used qualitative research with descriptive design. The result of study discusses about the implementation of the component comprising the system quality of services, learning time and participants' commitment to the program, learning environment, and its cooperation with the communities. This program implementation which is aimed to provide services for poor children is still showing a variety of limitation that eventually led to some constraints both internal and externa

    70

    full texts

    83

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial (Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇