Siddhayatra (E-Journal - South Sumatera Archaeological Service Office, Ministry of Education & Culture)
Not a member yet
76 research outputs found
Sort by
MENGENAL TINGGALAN ARKEOLOGI DARI SUDUT PANDANG KEKINIAN: TINJAUAN KEBERADAAN KOLEKSI MUSEUM MANUSIA PURBA GILIMANUK
Keberadaan benda-benda koleksi Museum Manusia Purba Gilimanuk tentu tidak untuk digunakan kembali, namun dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan masa kini. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka diangkat penelitian untuk mengenal tinggalan arkeologi dari sudut pandang kekinian dengan benda koleksi museum sebagai objek penelitian. Penelitian ini memanfaatkan data lapangan serta kajian pustaka untuk menjawab permasalahannya. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai asas kemanfaatan serta nilai yang dimiliki oleh benda-benda koleksi museum dalam situasi kekinian, baik sebagai objek kajian budaya maupun untuk menghargai hasil karya nenek moyang kita
GEOLOGI SITUS GUA BATU, DESA NAPAL LICIN, KECAMATAN ULU RAWAS, KABUPATEN MUSI RAWAS UTARA, PROVINSI SUMATERA SELATAN
Gua Batu merupakan gua tebing dengan dengan ketinggian 189 meter diatas permukaan air laut. Maksud dari penelitian ini adalah untuk melakukan pemetaan geologi permukaan secara umum dan tujuannya adalah untuk mengetahui kondisi geologi yang meliputi aspek geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, sumber bahan alat litik. Metode penelitian diawali dengan kajian pustaka, survei lapangan, dan interpretasi data lapangan. Situs Gua Batu dan sekitarnya terbagi atas empat satuan morfologi yaitu satuan morfologi dataran, satuan morfologi bergelombang lemah, satuan morfologi bergelombang kuat, satuan morfologi karst. Batuan penyusun adalah aluvial berumur Holosen, serpih berumur Miosen Awal, batulanau berumur Oligosen-Miosen Awal, dan batugamping berumur JuraKapur. Alat litik di Situs Gua Batu berbahan batuan chert, rijang, andesit, jasper, dan fosil kayu, bahan bakunya diperoleh dari Sungai Air Rawas. Alat litik lain yang ditemukan melimpah adalah jenis obsidian yang berlokasi di Bukit Hulu Simpang dan Bukit Legal Tinggi
NASKAH ULU KULIT KAYU LUBUK SEPANG
Naskah merupakan sebuah hasil karya tangan manusia yang dilakukan dengan cara menulis, yang isinya mengenai kehidupannya sehari-hari, baik itu mengenai perilaku terhadap manusia lain, terhadap alam dan terhadap Tuhan sang pencipta. Tulisan ini membahas tentang isi dan pesan yang terkandung dalam naskah kulit kayu atau kaghas yang ingin disampaikan oleh para leluhur. Tujuannya untuk mengetahui isi dan pesan yang terkandung di dalam naskah itu. Sedangkan sasaran yang hendak dicapai yaitu untuk diketahuinya isi dan pesan yang terkandung dalam naskah tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: observasi lapangan, wawancara untuk mencari tahu sejarah, setelah data terkumpul, dilakukan analisis data baik itu analisis deskriptif (penjelasan tentang keadaan naskah) dan dilakukan juga analisis untuk mengetahui isi naskah dengan metode filologi. Berisikan mengenai kehidupan pada zaman dahulu yang pesan moralnya sangat berguna untuk generasi penerus, baik itu tentang bercocok tanam, mantra-mantra atau rajah yang digunakan dalam berburu atau bercocok tanam, dan peringatan-peringatan kepada semua orang agar berhati-hati dalam melakukan segala hal, sehingga mereka terhindar dari bencana yang mengancam jiwa
Seni Lukis dan Seni Gores Pada Megalitik Pasemah, Provinsi Sumatera Selatan
Pada masyarakat prasejarah seni dianggap sebagai ungkapan religi mereka tehadap kekuatan roh nenek moyang dan kekuatan alam sekitar, begitu pula dengan manusia prasejarah yang hidup menetap di Dataran Tinggi Pasemah, sebagai ungkapan akan kehidupan mereka yang lebih baik, maka mereka mengungkapkannya dalam bentuk karya lukis yang menggambarkan berbagai bentuk dan corak. Keberadaan karya lukis prasejarah di Pasemah mempunyai makna tertentu yang berafiliasi dalam kehidupan relegi-magis mereka. permasalahan yang timbul terhadap karya seni prasejarah yang diciptakan parapesohor seni saat itu yakni apakah makna pola hias motif manusia, binatang, flora dan motif geometris yang menjadi obyek lukisan prasejarah di beberapa situs megalitik di dataran tinggi Pasemah, provinsi, Sumatera Selatan. Setelah melalui pengkajian pada beberapa situs maka dapat disimpulkan sementara bahwa adanya seni lukis dan seni gores pada dinding batu di Pasemah tampaknya merupakan simbol yang berkaitan dengan kepercayaan pendukungnya. Mereka percaya akan adanya arwah nenek moyang sebagaikekuatan gaib yang dapat melindungi kehidupan manusia di dunia. Bukan tidak mungkin bahwa goresan-goresan berupa manusia-manusia kecil yang ada di situs Tegurwangi dan di situs Jarakan itu dimaksudkan sebagai penambah kekuatan gaib dan digunakan sebagai sarana pemujaan untuk memohon kesuburan, keamanan, kesehatan dan lain-lai
TEMPAYAN KUBUR DI DESA TEBAT MONOK, KECAMATAN KEPAHIANG, KABUPATEN KEPAHIANG, PROVINSI BENGKULU
Budaya megalitik adalah budaya universal yang dikenal di seluruh dunia. Budaya ini berkembang dari masa prasejarah sampai saat ini. Persebaran budaya megalitik sejatinya merupakan perjalanan peradapan suatu masyarakat. Penguburan dengan tempayan merupakan salah satu bagian dari budaya megalitik yang dikenal dan berkembang di Indonesia selain bentuk-bentuk penguburan lainnya. Penguburan dengan tempayan dapat dilakukan dengan cara penguburan primer, dilakukan dengan cara memasukkan mayat dengan posisi jongkok atau dengan cara memasukkan hanya sebagian anggota tubuh saja atau biasa disebut penguburan sekunder. Setelah dilakukan penelitian di situs Tebatmonok ini telah ditemukan tempayan kubur yang berjumlah 22 buah dengan ukuran yang berbeda beda dantidak utuh lagi, akibat dari lokasi situs merupakan lokasi penambangan pasir yang masih dikerjakan. Selain tempayan juga ditemukan beliung dan belincung yang berjumlah 10 buah. Selain itu ditemukan juga wadah-wadah dari tanah liat baik polos maupun berhias yang kemungkinan merupakan bekal kubur, karena disertakan dalam penguburan. Di situs Tebatmonok ini juga ditemukan batu tegak sebanyak 3 buah yang membentuk formasi melingkar yang kemungkinan merupakan sarana pemujaan sebelum melakukan ritual yang berkaitan dengan penguburan
PEMUKIMAN ORANG MELAYU DI BANGKA
Sejarah lokal menyebutkan bahwa pemukiman Melayu yang tertua di Pulau Bangka terdapat di Kota Muntok, yaitu Kampung Tanjung. Dalam perkembangan selanjutnya pemukiman tersebut berkembang lagi ke arah timur yaitu Kampung Pekauman Dalam, Kampung Pemohon dan Kampung Petenun. Saat ini Kampung Pemohon dikenal sebagai Kampung Ulu dan Kampung Petenun dikenal sebagai Kampung Teluk Rubia; sedangkan Kampung Pekauman Dalam sudah tidak diketahui lagi. Persebaran etnis Melayu di Pulau Bangka erat hubungannya dengan sejarah pertambangan timah di pulau ini. Dengan didirikannya pusat-pusat pengawasan penggalian timah yang dinamakan pangkal yang tersebar di sejumlah wilayah Bangka menyebabkan adanya pemukiman-pemukiman baru yang salah satunya didiami oleh kelompok etnis Melayu. Hingga saat ini selain di Muntok pemukiman Melayu juga masih ditemukan di Kota Pangkalpinang dan Sungailiat
TRADISI RAJAH DI SUMATERA: SEBUAH KAJIAN TERHADAP PRASASTI TIMAH KOLEKSI YAYASAN PADMASANA JAMBI
Rajah atau lebih dikenal dengan azimat merupakan kebudayaan yang sudah dijalankan oleh pendahulu bangsa Indonesia, khususnya di Sumatra. Hal ini terlihat dari prasasti timah bernomor inventaris 01/PADMA/Sn/VIII/2019 yang ditemukan di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari. Artikel ini mengambil permasalahan mengenai isi dari prasasti, hubungan antara tulisan dan ornamen pada prasasti tersebut. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data (heuristik) melalui studi pustaka, membaca laporan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, kemudian menganalis maksud dari prasasti timah bernomor 01/PADMA/Sn/VIII/2019. Prasasti ini diawali dengan kalimat mantra, seruan terhadap sosok yang gaib yang mendiami pohon soga dan sungai yang saling berdekatan. Pohon soga yang disebutkan dalam prasasti biasanya hidup di dataran rendah, dengan curah hujan yang tinggi, dan relatif dekat dengan sumber air. Hal ini sesuai dengan konteks kalimat yang sama, pada baris kedua yang menyebutkan kata "bataṅan" yang berarti sungai. Sesuai pula dengan konteks penemuan prasasti, yaitu di daerah aliran Sungai Batanghari yang berada di wilayah Komplek Percandian Muaro Jambi
IDENTIFIKASI VARIASI FONDASI BANGUNAN TANGSI BELANDA MEMPURA, KABUPATEN SIAK, PROVINSI RIAU
Abstrak. Bangunan tangsi Belanda Mempura, di Kabupaten Siak, Provinsi Riau merupakan salah satu cagar budaya bergaya arsitektur Eropa di tepian Sungai Siak. Bahasan utama dalam tulisan ini berkenaan dengan fondasi bangunan tersebut. fondasi merupakan bagian krusial pada suatu bangunan, namun tidak banyak menjadi fokus utama penelitian. Masalah yang diselesaikan dalam kajian ini adalah variasi bentuk dan komposisi, struktur, serta fungsi fondasi Tangsi Belanda Mempura. Tujuannya untuk mengetahui variasi bentuk dan komposisi, serta fungsi struktur fondasi bangunan untuk memperkaya khasanah perbendaharaan arsitektural kolonial yang diaplikasikan pada lahan yang tidak stabil. Melalui penelitian deskriptif-analitis ini kesimpulan yang didapatkan adanya dua variasi bentuk fondasi yang mewakili bentuk, tergantung pada lokasi kompleks bangunan, luas bangunan, serta fungsinya menopang struktur bangunan berlantai satu atau dua.
PEMANFAATAN WARISAN KEDATUAN SRIWIJAYA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN
Sriwijaya Kadatuan founded by Dapunta Hiyang Sri Janayasa in 682 had been widely developed and later became as one the famous maritime kingdom in the history. Most of the people lived from sailing and trading. This fact was closely related to the availability of ample natural resources they used for trading commodities. Sumatra had been a well- known place for trading goods based on forest and mining products, as well as other natural resources. Having these wealthy commodities, many foreigners from overseas countries such as Arab, Persian, Indian, and Chinese, had been deliberately come to visit Sriwijaya for trading. The existence of Sriwijaya in Sumatera along with its rich natural resources and its vital position in regional trading had triggered the place turn out into the prominent kingdom. During 8-12 century, this kedatuan had controlled over Melaka strait; a main sailing and trading channels during the period. Moreover, Kadatuan Sriwijaya presumably had taken control over the western sea of archipelago. Although the existence of Sriwijaya have been widely known, in actual fact, most of the people have not yet well informed about its preeminence in the past. This is because a number of valuable information still tied up. The similar circumstances in educational setting, inadequate information about Sriwijaya have an effect on the childrens understanding and perception on glorious and great values of our nation in the past. Even if there were some accessible information, but they were only scrappy and extraneous historiographies. As the consequences, a number of important aspects for the historical information have faded away that brought about barriers to the children in appreciating the historical inheritances from the past. Considering the important of recognizing the historical inheritances for our national living, there should be an adequate knowledge and understanding on the historical inheritance to be passed on to children since the early beginning. So, the utilization of historical inheritance as the learning resources in education becomes a need and a necessity. Therefore, the process for digging great values from the past prominent could be used in more appropriate and meaningful for the purpose of nowadays and future needs