Jurnal Nutrisia
Not a member yet
    127 research outputs found

    Aktivitas Fisik, Kualitas Tidur Dan Asupan Zat Gizi Dengan Vo2maks Atlet Sepak Bola

    No full text
    Latar Belakang: Performa atlet  sepak bola merupakan faktor utama dalam menentukan prestasi atlet saat bertanding. Stamina atlet dapat dilihat dengan mengukur ambilan oksigen secara maksimal atau VO2 maks. Nilai VO2 maks atlet dibutuhkan atlet untuk menunjang performa saat latihan dan bertanding. Aktivitas fisik, kualitas tidur dan asupan gizi yang seimbang menjadi faktor yang dapat berpengaruh terhadap performa.  Tujuan: Mengetahui hubungan aktivitas fisik, kualitas tidur, dan asupan zat gizi dengan nilai VO2 maks pada atlet sepak bola. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan crossectional, dilaksanakan pada pada Agustus – September 2018. Subjek penelitian yaitu 16 orang atlet UKM sepak bola UNY yang bersedia mengikuti penelitian. VO2 maks diukur dengan metode yo-yo intermittent recovery test level 2. Data asupan zat gizi, cairan, kualitas tidur dan aktivitas fisik, masing-masing diukur dengan menggunakan form food recall, form semiquantitatif fluid frequency, Kuesioner Indeks Kualitas Tidur (PSQI) dan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Analisis data dilakukan dengan uji pearson correlation. Penelitian ini dilakukan setelah mendapatkan Ethical Clearance dari Komisi Etik Penelitian Universitas Respati Yogyakarta. Hasil: Rata-rata nilai VO2maks atlet adalah 52,31±1,54 ml/kg/min. Terdapat hubungan asupan energi, protein, dan kalium dengan nilai VO2 maks (masing-masing p=0,033, p=0,023, dan p=0,007). Tidak ada hubungan antara aktivitas fisik, kualitas tidur, asupan lemak, karbohidrat, dan cairan dengan nilai VO2 maks (masing-masing p=0,520; p=0,299; p=0,239; p=0,234; dan p=0,196). Kesimpulan: Ada hubungan asupan energi, protein, dan kalium dengan nilai VO2 maks, namun tidak ada hubungan aktivitas fisik, kualitas tidur, asupan lemak, karbohidrat, dan cairan dengan nilai VO2 mak

    Konsumsi Fast Food dan Aktivitas Fisik dengan Kejadian Sindrom Metabolik Di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

    Full text link
    Latar Belakang: Deteksi dini gejala gangguan metabolik dapat mencegah komplikasi penyakit cardiovaskular, diabetes mellitus tipe 2, dislipidemia dan stroke. Faktor yang mempengaruhi sindrom metabolik antara lain asupan fast food dan aktivitas fisik. Tujuan: Mengetahui hubungan konsumsi fast food dan aktivitas fisik dengan kejadian sindrom metabolik pada orang dewasa usia 20–59 tahun di pasien rawat inap penyakit dalam RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Pengambilan subjek dilakukan dengan simple random sampling, diperoleh 36 subjek penelitian. Data yang dikumpulkan adalah jenis kelamin, riwayat penyakit keluarga, pekerjaan, status gizi, konsumsi fast food dan aktivitas fisik. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Fisher Exact. Hasil: Pasien yang mengalami sindrom metabolik 30%, pasien yang mengkonsumsi fast food 66,7% aktivitas fisik 13,8%. Terdapat hubungan konsumsi fast food (p=0,010) dan tidak terdapat hubungan pada variable aktivitas fisik (p=1,000). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pola konsumsi fast food dengan kejadian sindrom metaboli

    Kebiasaan Sarapan, Aktifitas Fisik dan Overweight pada Siswa SDN Kenari 01 Jakarta Pusat

    Full text link
    Latar Belakang : Jakarta Pusat merupakan salah satu kota administrasi di Provinsi DKI Jakarta dengan prevalensi overweight anak usia 5-12 tahun tertinggi sebesar 16,02%. Faktor yang mempengaruhi terjadinya overweight pada anak yaitu kebiasaan sarapan dan aktivitas fisik pada siswa sekolah dasar. Tujuan : Mengetahui hubungan kebiasaan sarapan dan aktivitas fisik dengan kejadian overweight pada siswa SDN Kenari 01 Jakarta Pusat. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian dengan design cross sectional dilakukan pada bulan Juni-Juli 2020. Subyek penelitian siswa SD kelas 4 dan 5 berjumlah 106 siswa yang ditentukan dengan metode Simple Random Sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuisioner via daring kemudian dilakukan analisis uji chi-square. Hasil: Terdapat hubungan frekuensi sarapan (p=0,003) terhadap kejadian overweight dan tidak ada hubungan kontribusi asupan energi sarapan (p= 0,549) dan aktivitas fisik (p = 0.254) dengan kejadian overweight di SDN Kenari 01 Jakarta Pusat. Kesimpulan : Frekuensi sarapan berhubungan terhadap kejadian overweight, sedangkan kontribusi asupan energi sarapan dan aktivitas fisik tidak berhubungan dengan kejadian overweight di SDN Kenari 01 Jakarta Pusat

    Kecukupan Energi, Vitamin C, dan Air dengan Kebugaran Fisik Prajurit

    No full text
    Latar Belakang: Prajurit TNI AD dituntut memiliki kebugaran fisik prima yang disiapkan untuk tugas operasi. Nilai kebugaran fisik dapat dipertahankan apabila memiliki asupan gizi yang baik yaitu asupan energi, vitamin C, dan air. Tujuan: Menganalisis hubungan tingkat kecukupan energi, vitamin C dan air dengan kebugaran fisik prajurit. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 81 tentara yang tinggal di asrama diambil secara systematic random sampling. Analisis data menggunakan uji korelasi spearman. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecukupan energi (p=0,000), vitamin C (p=0,010) dengan kebugaran fisik. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecukupan air (p=0,311) dengan kebugaran fisik. Kesimpulan: Prajurit yang memiliki tingkat kecukupan zat gizi baik akan memiliki kebugaran fisik baik

    Keberagaman Konsumsi Pangan Rumah Tangga Di Daerah Istimewa Yogyakarta

    No full text
    Latar Belakang : Ketersediaan keberagaman pangan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun 2014 sebesar 96,9%, tetapi keberagaman konsumsi pangan riilnya baru mencapai 85,3%. Tujuan : Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberagaman konsumsi pangan rumah tangga di DIY. Metode : Penelitian menggunakan data sekunder 1.576 rumah tangga hasil Surkesnas 2015 di DIY. Data dianalisis dengan Ordinary Least Square (OLS). Hasil : Rata-rata skor keberagaman konsumsi pangan rumah tangga sebesar 65,74%. Kesimpulan : Ada pengaruh positif umur ibu, pendidikan ibu, pendapatan, dan pekerjaan terhadap keberagaman konsumsi pangan rumah tangga. Ada pengaruh negatif jumlah anggota rumah tangga dan kemiskinan terhadap keberagaman konsumsi pangan rumah tangg

    Tingkat Konsumsi Energi, Protein, dan Status Gizi dengan Produktivitas Kerja Karyawan

    No full text
    Latar Belakang: Produktivitas merupakan hal yang menentukan daya saing, baik pada tingkat individu, perusahaan, maupun negara. Produktivitas kerja dapat dipengaruhi oleh asupan zat gizi dan status gizi. Tujuan: Menganalisis hubungan tingkat konsumsi energi, protein, dan status gizi dengan produktivitas kerja karyawan PT. X. Metode: Desain penelitian adalah cross sectional. Tempat penelitian dilakukan di PT. X Lamongan di bidang produksi furniture. Penelitian dilakukan pada bulan Februari-September 2018 dengan pengambilan data dilakukan pada bulan Agustus 2018. Sampel didapat sebanyak 62 dengan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner recall makanan 2x24 jam, form status gizi, serta penilaian produktivitas kerja karyawan. Analisis statistik menggunakan uji Spearman. Hasil: Terdapat hubungan antara tingkat konsumsi energi dengan produktivitas kerja (p= 0,000), tingkat konsumsi protein dengan produktivitas kerja (p=0,000), dan status gizi dengan produktivitas kerja (p= 0,000). Kesimpulan: Karyawan dengan tingkat konsumsi energi dan protein kurang serta status gizi kurus mempunyai produktivitas kerja yang kurang dari target

    Pengaruh Intervensi Gizi terhadap Pemenuhan Zat Gizi Makro Atlet

    No full text
    Latar Belakang: Prajurit TNI AD dituntut memiliki kebugaran fisik prima yang disiapkan untuk tugas operasi. Nilai kebugaran fisik dapat dipertahankan apabila memiliki asupan gizi yang baik yaitu asupan energi, vitamin C, dan air. Tujuan: Menganalisis hubungan tingkat kecukupan energi, vitamin C dan air dengan kebugaran fisik prajurit. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 81 tentara yang tinggal di asrama diambil secara systematic random sampling. Analisis data menggunakan uji korelasi spearman. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecukupan energi (p=0,000), vitamin C (p=0,010) dengan kebugaran fisik. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kecukupan air (p=0,311) dengan kebugaran fisik. Kesimpulan : Prajurit yang memiliki tingkat kecukupan zat gizi baik akan memiliki kebugaran fisik baik

    Kepatuhan diet dan aktivitas fisik dengan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus rawat jalan di RS Harum Sisma Medika Jakarta Timur

    Full text link
    Latar belakang : Menurut data WHO jumlah penderita Diabetes Mellitus di Indonesia merupakan urutan ke-4 di dunia tahun 2016. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kadar gula darah diantaranya kepatuhan terapi diet, kepatuhan minum obat, aktivitas fisik, stres, pengetahuan. Tujuan : Untuk menganalisis hubungan kepatuhan diet dan aktivitas fisik dengan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus rawat jalan di RS Harum Sisma Medika. Metode : Desain penelitian adalah cross sectional pada 55 pasien rawat jalan diabetes melitus tipe 2. Instrumen penelitian berupa kuesioner karakteristik, kepatuhan diet DM, aktivitas fisik, dan kadar gula darah puasa. Data dianalisis dengan Kendall’s Tau B Correlation. Hasil: Kontrol gula darah yang buruk ditemukan sebesar 69,1 %, dan ketidakpatuhan diet sebesar 16,4%. Responden yang memiliki kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 38 (69,1%) dan kadar gula darah terkontrol sebanyak 17 (30,9%). Gambaran kepatuhan diet sebanyak 46 (83,6%) responden patuh terhadap diet dan 9 (16,4%) tidak patuh diet. Kepatuhan diet berpengaruh secara signifikan dengan kadar gula darah (p < 0,05; r 0,296) dengan nilai r 0,296. Aktivitas fisik berpengaruh secara signifikan dengan kadar gula darah (p < 0,05; r -0.351). Kesimpulan : Ada hubungan antara kepatuhan diet dan aktivitas fisik dengan kadar gula darah

    Analisis Kadar Protein Total pada Tempe Fermentasi dengan Penambahan Ekstrak Nanas (Ananascomosus (L.) Merr )

    Full text link
    Latar Belakang: Kacang kedelai (Glycine max L) merupakan salah satu jenis kacang-kacangan dengan kadar protein yang cukup tinggi, dengansalahsatubentukolahannyaadalahtempe. Tempe Kacang kedelai (Glycine max L) yang difermentasiselama>48 jam dapat dihidrolisis dengan penambahan ekstrakbatang buah nanas (Ananascomosus (L.) Merr.)memiliki protein total yang untuk dijadikan alternatif penyedap rasa. Tujuan :Penelitian ini bertujuanuntukmengetahuikadar proteintotal padamasing-masingperlakuan. Metode :Penelitiandibuat tiga perlakuan penambahan ekstrak batangbuah nanas (Ananascomosus (L.) Merr.)pada setiap masing-masing bahan baku yaitu tempe kacang kedelai (Glycine max L) yang difermentasi selama>48 jamdengan perbandingan 1:1, 1:2 dan 1:3 tempe kacang kedelai (Glycine max L)fermentasi>48jam: ekstrak batang buah nanas (Ananascomosus (L.) Merr.)). Desain penelitian yang digunakan adalah pra-eksperimen karena hanya mengetahui kadar protein total pada tempe kacang kedelai (Glycine max L) fermentasi>48jam yang ditambahkan ekstrak batangbuah nanas (Ananascomosus (L.) Merr.). Hasil :Hasil penelitian ini adalah kadar protein total pada campuran tempekacang kedelai (Glycine max L. Merr)fermentasi>48 jam dan ekstrak batangbuah nanas (Ananas comosus) untuk setiap komposisi adalah 27,33% untuk perbandingan komposisi 1:1, 29,80% untuk perbandingan komposisi 1:2, dan kadar protein tertinggi dihasilkan oleh perbandingan komposisi 1:3 dengan kadar protein total sebanyak 31,28%. Kadar protein total pada campuran tempe kacang kedelai (Glycine max L) fermentasi >48 jam dan ekstrak batang buah nanas (Ananas comosus) didapatkan hasil 31,90% untuk perbandingan komposisi 1:1, 36,51% untuk perbandingan komposisi 1:2, dan 29,46% untuk perbandingan komposisi 1:3

    Screen time dengan konsumsi sayur dan buah serta kenaikan berat badan pada mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan

    Full text link
    Latar Belakang: Konsumsi sayur dan buah yang kurang pada seseorang berisiko menjadi kelebihan berat badan dan obesitas dan salah satu penyebab timbulnya masalah gizi pada mahasiswa adalah screen time yang tinggi. Screen time dapat meningkatkan resiko kenaikkan berat badan dan mempengaruhi status gizi kearah obesitas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan screen time dengan konsumsi sayur dan buah serta kenaikan berat badan. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Jumlah subjek penelitian sebanyak 62 dipilih dengan metode proportional random sampling. Analisis data dengan uji Pearson Product Moment. Metode: Jenis penelitian ini bersifat observasional, dengan pendekatan cross-sectional. Besar sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini berdasarkan adalah 62 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara Propotionate Stratified Random Sampling. Analisis data menggunakan Pearson Product Moment test. Hasil: penelitian ini menunjukkan screen time 35 responden (56,5%) termasuk dalam kategori rendah, konsumsi sayur dan buah 46 responden (74,2%) termasuk dalam kategori kurang, kenaikan berat badan 32 responden (51,6%) termasuk kategori berat badan naik. Hasil uji Pearson Product Moment untuk screen time dengan konsumsi sayur dan buah memiliki nilai p = 0,025, screen time dengan berat badan memiliki nilai p = 0,06, dan konsumsi sayur dan buah dengan nilai p = 0,037. Kesimpulan: Ada hubungan screen time dengan konsumsi sayur dan buah serta konsumsi sayur dan buah dengan kenaikan berat badan, tapi tidak ada hubungan screen time dengan kenaikan berat badan nilai

    105

    full texts

    127

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Nutrisia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇