Faletehan Health Journal
Not a member yet
    273 research outputs found

    Analysis of Hospital Management Information System (HMIS) Acceptance Using Technology Acceptance Model (TAM) Among Outpatients Staff

    Full text link
    Sistem informasi manajemen rumah sakit (HMIS) memiliki peran penting dalam meningkatkan efisiensi rumah sakit. Namun, kurangnya penerimaan terhadap aplikasi HMIS, terutama di unit rawat jalan, masih umum ditemukan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis penerimaan HMIS di kalangan staf rawat jalan menggunakan Technology Acceptance Model (TAM). Studi ini menggunakan desain cross-sectional dan melibatkan seluruh populasi staf rawat jalan di Rumah Sakit Angkatan Darat dr. Soepraoen dengan jumlah sampel sebanyak 107 responden yang dipilih melalui metode sampel acak proporsional. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang didasarkan pada standar yang telah ada sebagai instrumen. Analisis data dilakukan menggunakan analisis jalur. Hasil studi menunjukkan bahwa ada pengaruh (p=0.000) dari persepsi kemudahan penggunaan terhadap sikap penggunaan, persepsi kemudahan penggunaan terhadap persepsi kegunaan, persepsi kegunaan terhadap sikap penggunaan, persepsi kegunaan terhadap niat perilaku penggunaan, sikap penggunaan terhadap niat perilaku penggunaan, dan niat perilaku terhadap penerimaan penggunaan HMIS. Rumah sakit sebaiknya meningkatkan persepsi kemudahan penggunaan, persepsi kegunaan, sikap penggunaan, dan niat perilaku penggunaan HMIS guna meningkatkan penerimaan HMIS di kalangan staf rawat jalan.The Hospital Management Information System (HMIS) plays a crucial role in improving hospital efficiency. However, it is still common to find a lack of acceptance of HMIS applications, especially in outpatient units. This study aimed to analyze the acceptance of HMIS among outpatient staff using the Technology Acceptance Model (TAM). The study employed a cross-sectional design and included the entire outpatient staff population at the dr. Soepraoen Army Hospital with a sample size of 107 respondents who were selected through proportional random sampling. The data collection was done by using a questionnaire based on existing standards as the instrument. The data analysis was conducted by using path analysis. The results of the study indicated that there was an influence (p=0.000) of perceived ease of use on attitude toward usage, perceived ease of use on perceived usefulness, perceived usefulness on attitude toward usage, perceived usefulness on behavioral intention to use, attitude toward usage on behavioral intention to use, and behavioral intention on the acceptance of using HMIS. Hospitals should enhance the perceived ease of use, perceived usefulness, attitude toward usage, and behavioral intention to use HMIS in order to increase the acceptance of HMIS among outpatient staff

    Faktor Determinan Kondisi Kaki Pasien Diaetes Mellitus

    Full text link
    Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease that can lead hyperglicemia condition. Hyperglicemia can cause macrovasculer, microvascular, and neurophaty diseases which lead to foot disease. To prevent it, patients need knowledge and practice of foot care. This study aimed to find factors that contribute to patient’s knowledge and foot condition. The data were collected by a questionnaire to assess patient’s knowledge and an observation checklist to assess patient’s foot condition. The bivariate analysis used Kendall Tau test and ordinal regression for multivariate. This study had 30 respondents with characteristic of pre-elderly age (56.7%), graduating from high school (76.7%), living with DM <1 year (53.3%), hyperglicemia (53.3%), low in knowledge (73.3%), and having a bad foot condition (73.3%). The results showed that respondents’ characteristics have no significant correlation to knowledge and foot condition. The analysis results of Kendall Tau test showed that hyperglicemia (τ=0.409; p=0.012) and patients’ knowledge (τ=0.480; p=0.015) significantly related to foot condition. Hyperglicemia and patients’ knowledge became predictor of foot condition with determinant coefision of 39.5%. Thus, if patients have a good knowledge and do not have hyperglicemia, they will achive a good foot condition. Therefore, education about foot care and how to stabilize blood sugar to the patients is necessary for further study.Diabetes melitus (DM) adalah penyakit kronik yang dapat mengakibatkan kondisi hiperglikemia. Hiperglikemia dapat menyebabkan penyakit makrovaskuler, mikrovaskuler, dan neuropati yang menyebabkan penyakit kaki. Untuk mencegah ini, pasien memerlukan pengetahuan dan praktik perawatan kaki. Studi ini bertujuan untuk menemukan faktor yang berkontribusi terhadap pengetahuan pasien dan kondisi kaki. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan daftar observasi untuk menguji pengetahuan dan kondisi kaki pasien. Analisis bivariat menggunakan uji Kendall Tau dan regresi ordinal untuk multivariat. Penelitian ini melibatkan 30 responden dengan karakteristik usia pra-lansia (56,7%), pendidikan SMA (76,7%), hidup dengan DM <1 tahun (53,3%), kondisi hiperglikemia (53,3%), pengetahuan yang rendah (73,3%), dan memiliki kondisi kaki yang buruk (73,3%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden tidak memiliki hubungan yang signifikan berkontribusi terhadap pengetahuan dan kondisi kaki. Hasil analisis uji Kendall Tau menunjukkan bahwa kondisi hiperglikemia (τ= 0,409; p= 0,012) dan pengetahuan pasien (τ= 0,480; p= 0,015) signifikan berhubungan dengan kondisi kaki. Kondisi hiperglikemia dan pengetahuan pasien menjadi prediktor kondisi kaki dengan koefisien determinasi sebesar 39,5%. Sehingga, jika pasien memiliki pengetahuan yang baik dan tidak mengalami kondisi hiperglikemia, mereka akan memiliki kondisi kaki yang baik. Oleh karena itu, edukasi mengenai perawatan kaki dan bagaimana menjaga kestabilan gula darah kepada pasien menjadi penting dalam penelitian selanjutnya

    Terapi Bekam Basah guna Memperbaiki Status Hemodinamik pada Pasien Hipertensi

    Full text link
    The increasing number of patients and the threat of complications make hypertension need to be watched. Non-pharmacotherapeutic treatment of hypertension can implement wet cupping therapy. This study aimed to determine the effects of wet cupping on the pulse and blood pressure of hypertensive patients. This research used a quasi-experimental method with pretest and posttest control group design. The samples consisted of control and intervention group consisting of 40 respondents in each and were selected by consecutive sampling technique. Wet cupping intervention was carried out once by a nurse as an assistant. The instrument used standard operating procedures, cupping tools, a digital sphygmomanometer, and an observation sheet. The statistical test used paired t-test and Wilcoxon test. The difference test used independent t-test and Mann Whitney. The control group experienced an increase in pulse and diastolic (3.98 times/minute and 1.77 mmHg), while the systolic was decreased (5.9 mmHg). The intervention group experienced a decrease in pulse, systolic and diastolic (1.05 times/minute, 8.13 mmHg, and 3.75 mmHg). The bivariate test in control group on the pulse, systolic, and diastolic variable showed p value of 0.035, 0.773, and 0.106. The bivariate test in the intervention group on the pulse, systolic, and diastolic variable showed p value<0.001, <0.001, and 0.001. The difference test on the pulse, systolic, and diastolic variable obtained p value of 0,057, 0.003, and 0.079. Cupping therapy effectively reduces hypertensive patients\u27 pulse and blood pressure so that it can be used as an inexpensive therapeutic option.Jumlah penderita yang semakin meningkat dan ancaman komplikasi menjadikan hipertensi perlu diwaspadai. Penanganan non-farmakoterapi hipertensi dapat menggunakan terapi bekam basah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bekam basah terhadap nadi dan tekanan darah pasien hipertensi. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain pretest and posttest control group. Sampel terdiri dari kelompok kontrol dan intervensi dengan jumlah responden pada masing-masing kelompok sebanyak 40 orang yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Intervensi bekam basah dilakukan sebanyak satu kali oleh perawat sebagai asisten. Instrumen menggunakan standar operasional prosedur, set alat bekam, tensimeter digital, dan lembar observasi. Uji statistik menggunakan paired t-test dan Wilcoxon test. Uji beda menggunakan independent t-test dan Mann Whitney. Pada kelompok kontrol terjadi peningkatan nadi dan diastolik (3,98 kali/menit dan 1,77 mmHg), sedangkan sistolik menurun (5,9 mmHg). Kelompok intervensi mengalami penurunan nadi, sistolik dan diastolik (1,05 kali/menit; 8,13 mmHg; dan 3,75 mmHg). Uji bivariat kelompok kontrol pada variabel nadi, sistolik, dan diastolik menunjukkan nilai p 0,035, 0,773, dan 0,106. Uji bivariat kelompok intervensi pada variabel nadi, sistolik, dan diastolik menunjukkan nilai p <0,001, nilai p <0,001; dan 0,001. Uji beda variabel nadi, sistolik, dan diastolik mendapatkan nilai p 0,057, 0,003, dan 0,079. Terapi bekam efektif menurunkan nadi dan tekanan darah pasien hipertensi sehingga dapat digunakan sebagai pilihan terapi yang murah

    Artificial Intelligence (AI) in Nursing Services: A Literature Review

    Full text link
    Penelitian tentang artificial intelligence (AI) dalam layanan kesehatan telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan kualitas perawatan. Namun, penerapan AI dalam keperawatan menimbulkan kekhawatiran terkait bias data dan dampak potensial bagi pasien. Selain itu penelitian terkait AI dan manfaatnya dalam keperawatan masih terbatas. Tujuan penelitian  ini untuk menjabarkan hasil penelitian terkait teknologi AI dalam pelayanan keperawatan. Metode penelitian yang digunakan ialah literature review. Pencarian terhadap studi-studi yang relevan dilakukan di beberapa database yaitu PUBMED, Scopus dan Google Scholar dengan kata kunci serta istilah yang terkait dengan keperawatan, artificial intelligence, dan machine learning dalam rentang tahun 2012-2022. Kriteria inklusi meliputi penelitian pengembangan atau validasi teknologi berbasis AI yang digunakan dalam layanan keperawatan dan desain studi, termasuk eksperimental atau observasional dengan menggunakan pendekatan kualitatif, kuantitatif, atau gabungan keduanya. Sedangkan kriteria ekslusi yaitu artikel yang tidak relevan dengan keperawatan, non-eksperimental, non-observasional, atau artikel tinjauan literatur. Hasil penelitian menunjukkan dari total 3713 paper yang ditemukan hanya 10 paper yang masuk dalam kriteria. Penggunaan AI dalam pelayanan keperawatan dapat memberikan banyak manfaat tetapi juga memerlukan pertimbangan yang matang. Oleh karena itu, lebih banyak penelitian diperlukan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dan untuk memaksimalkan potensi AI dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan.Research on artificial intelligence (AI) in health services is increased in recent decades, demonstrating great potential for improving the quality of care. However, the application of AI in nursing raises concerns regarding data bias and the potential impacts on patients. In addition, research on AI and the benefits in nursing is still limited. The aim of this study was to outline the results of research on AI technology in nursing services. The research method was literature review. Searches for relevant studies were carried out on several databases, such as PUBMED, Scopus, and Google Scholar by using keywords and terms related to nursing, artificial intelligence, and machine learning between 2012 and 2022. The inclusion criteria included research and development or AI-based technological validation used in nursing services and the research design, including experiment or observation with qualitative, quantitative, or mixed approached. Meanwhile, the exclusion criteria were articles which are irrelevant to nursing, non-experimental, non-observational, or literature review. The results showed total of 3,713 articles found only 10 articles fulfilled the criteria. The use of AI in nursing services can provide many benefits, but it requires careful consideration too. Therefore, more research is needed to address the challenges faced and to maximize the potential of AI in improving the quality of nursing services

    Hubungan Kebiasaan Olahraga dan Pola Makan dengan Kejadian Hipertensi pada Lansia

    Full text link
    The prevalence of hypertension in elderly continues to increase annually. Hypertension in elderly is influenced by biological changes that occur in old age and other factors, including poor exercise habits and unhealthy dietary patterns. The aim of this study was to determine the correlation between poor exercise habits and unhealthy dietary patterns with the occurrence of hypertension in elderly. This research adopted a cross-sectional approach with 89 respondents selected through purposive sampling method. The analysis results showed that 50 respondents (56.2%) had poor exercise habits, 53 respondents (59.6%) experienced hypertension, and 59 respondents (66.3%) had an unhealthy dietary pattern. The bivariate analysis revealed a significant relationship between dietary patterns (p value 0.013) and exercise habits (p value 0.000) with the occurrence of hypertension in elderly. Therefore, to prevent hypertension in elderly, an appropriate education and intervention were needed to enhance awareness and promote healthy behaviors among elderly with the hope of reducing the risk of hypertension.Prevalensi hipertensi pada lansia setiap tahunnya terus meningkat. Hipertensi pada lansia dipengaruhi oleh perubahan biologis yang terjadi pada usia lanjut beserta faktor lain seperti kebiasaan olahraga yang buruk serta pola makan yang tidak sehat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kebiasan olahraga dan pola makan tidak sehat dengan kejadian hipertensi pada lansia. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional dengan 89 responden yang dipilih melalui metode purposive sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa 50 responden (56.2%) memiliki kebiasaan olahraga yang kurang baik, 53 responden (59.6%) mengalami hipertensi, dan 59 responden (66.3%) memiliki pola makan yang kurang baik. Analisis bivariat mengungkapkan hubungan yang signifikan antara pola makan (p value 0,013) dan kebiasaan berolahraga (p value 0,000) dengan kejadian hipertensi pada lansia. Oleh karena itu, untuk mencegah hipertensi pada lansia, tindakan edukasi dan intervensi yang tepat diperlukan untuk meningkatkan kesadaran dan mengubah perilaku sehat di kalangan lansia dengan harapan dapat mengurangi risiko hipertensi

    Booklet Sebagai Media Edukasi Untuk Meningkatkan Pengetahuan Remaja Putri Tentang Anemia

    Full text link
    Anemia is a nutritional problem that is often experienced by teenage girls and can decrease their reproductive health, motoric and mental development, learning achievement, fitness level, and unreached maximum height. Anemia in teenage girls is caused by a lack of nutrients consumed, especially iron and folic acid, which one of the reasons is the low level of knowledge and misperceptions related to diet. This study aimed to determine the effects of booklet on the increase of teenage girls’ knowledge of anemia. The method used was quasy experiment and a design of pretest-posttest without control group. The sample size was 57 teenage girls as respondents who were selected by purposive sampling. The respondents got a pretest, education by booklet, and a posttest. The results showed that the mean of pretest was 56.33, the minimum score of 37, and the maximum score of 85. While the mean of posttest was 86.67, the minimum score of 56, and the maximum score of 100. The data analysis by Wilcoxon test obtained a p value of 0.001. There were effects of health education by booklet on the increase of teenage girls’ knowledge of anemia. To conclude, booklet as a media of health education significantly impacts on the increase of teenage girls’ knowledge.Anemia merupakan salah satu masalah gizi yang sering dialami oleh remaja putri dan dapat menyebabkan menurunnya kesehatan reproduksi, perkembangan motorik dan mental, prestasi belajar, tingkat kebugaran, dan tidak mencapai tinggi badan maksimal. Anemia pada remaja putri disebabkan karena kurangnya nutrisi yang dikonsumsi terutama zat besi dan asam folat, yang salah satu penyebabnya adalah rendahnya tingkat pengetahuan dan kesalahan persepsi terkait dengan diet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media booklet terhadap peningkatan pengetahuan remaja putri tentang anemia. Metode yang digunakan adalah quasi eksperimen dan desain pretest-posttest without control group. Sampel berjumlah 57 remaja putri sebagai responden yang diambil dengan teknik purposive sampling. Responden mendapatkan pretest, edukasi menggunakan media booklet, dan posttest.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata pretest sebesar 56,33 dengan skor minimal 37 dan skor maksimal 85. Sedangkan skor rata-rata posttest sebesar 86,67 dengan skor minimal 56 dan skor maksimal 100. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan terdapat pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan media booklet untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang anemia (p value = 0,001). Peneliti menyimpulkan booklet sebagai media pendidikan kesehatan secara signifikan berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan remaja

    Determinan Perilaku Keselamatan dan Kesehatan Tenaga Medis Menggunakan Pemoderasi Risk-Taking Personality

    Full text link
    During pandemic the role of health workers was increasingly important. However, the risks and work responsibilities they faced became more intense; so that, hospitals should give a special attention on the health and safety of their medical personnel. The aim of this study was to partially analyze the effects of supervision, workload, and knowledge on the safety and health behavior of medical personnel with risk-taking personality as a moderator. This associative study used simple random sampling and 86 medical staff as the samples. The data analysis method used partial least square analysis with the help of SmartPLS application.  The results showed that supervision and knowledge had a significant effect with a positive relationship direction on occupational safety and health behavior. On the other hand, workload had a significant influence with a negative relationship direction towards occupational safety and health behavior. Furthermore, risk taking personality was identified to be able to weaken the influence of supervision and knowledge on occupational safety and health behavior. However, risk-taking personality was not able to moderate the effects of workload on occupational safety and health behavior.Di masa pandemi peran petugas kesehatan semakin penting. Namun demikian, risiko dan tanggung jawab tugas kerja yang dihadapi pun menjadi lebih tinggi sehingga rumah sakit perlu memperhatian kesehatan dan keselamatan kerja tenaga medisnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis secara parsial pengaruh pengawasan, beban kerja, dan pengetahuan terhadap perilaku keselamatan dan kesehatan tenaga medis dengan risk-taking personality sebagai pemoderasi. Penelitian asosiatif ini menggunakan simple random sampling dan sampel 86 tenaga medis. Metode analisis data menggunakan partial least square dengan bantuan aplikasi SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawasan dan pengetahuan memiliki pengaruh signifikan dengan arah hubungan positif terhadap perilaku keselamatan dan kesehatan kerja. Sebaliknya, beban kerja memiliki pengaruh signifikan dengan arah hubungan negatif terhadap perilaku keselamatan dan kesehatan kerja. Lebih lanjut, risk-taking personality diketahui mampu memperlemah pengaruh pengawasan dan pengetahuan terhadap perilaku keselamatan dan kesehatan kerja. Namun, risk-taking personality tidak mampu memoderasi pengaruh beban kerja terhadap perilaku keselamatan dan kesehatan kerja

    Pengembangan Dokumentasi Penskoran Early Warning System sebagai Deteksi Dini Penurunan Kondisi Pasien

    Full text link
    The implementation of a scoring warning system by nurses can determine patient safety. Early warning system (EWS) is a tool to detect patient emergencies by scoring on seven parameters. The purpose of this study was to determine the development of early warning system (EWS) documentation, the quality of format development, and the quality of format development documentation. The research method was research and development. The study was carried out in adult inpatient wards and the sample size was 62 nurses. The data collection tools were questionnaires and observation sheets. The analysis used univariate with frequency distribution. The result of this research was the development of early warning system documentation, including the parameters of mean arterial pressure (MAP), blood glucose, pain scale, and urine output. The quality of EWS documentation format development was well-functioned, efficient, and usable. In addition, the quality of EWS documentation, including completeness, accuracy, relevance, and good novelty, was in a good category. The conclusion was that the development of early warning system documentation can be used in adult inpatient wards to improve patient safety practicesPenskoran warning system oleh perawat dapat menentukan keselamatan pasien (patient safety). Early warning system (EWS) adalah suatu alat untuk mendeteksi kegawatan pasien dengan penskoran pada tujuh parameter. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengembangan dokumentasi EWS, mutu pengembangan format, dan mutu dokumentasi pengembangan format. Metode penelitian ini adalah research and development. Penelitian dilaksanakan di ruang rawat inap dewasa dengan jumlah sampel 62 perawat. Alat pengumpulan data berupa kuesioner dan lembar observasi. Analisis menggunakan univariat dengan distribusi frekuensi. Hasil penelitian ini adalah ditetapkannya pengembangan dokumentasi early warning system meliputi parameter mean arterial pressure (MAP), gula darah sewaktu, skala nyeri, dan urine output. Mutu pengembangan format dokumentasi EWS secara functionally, efficiency, dan usability dalam kategori baik. Sementara itu, mutu dokumentasi EWS yang meliputi kelengkapan, akurasi, relevansi, dan kebaruan dalam kategori baik. Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu pengembangan dokumentasi early warning system dapat digunakan di ruang rawat inap dewasa sebagai upaya meningkatkan praktik keselamatan pasien

    Deteksi Dini Faktor Risiko Terjadinya Penyakit Tidak Menular

    Full text link
    The prevalence of non-communicable diseases such as hypertension and Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) continued to increase. The purpose of this study was to early detect the risk factors of non-communicable diseases, such as hypertension and T2DM. The research design used a cross-sectional study. The samples were lecturers and educational staffs at the Faculty of Health Science and Technology, University of Jenderal Achmad Yani Cimahi who were > 35 years, namely 61 people. The sampling technique used systematic random sampling. The data analysis was univariate and bivariate by chi-square test, regression and Pearson correlation. The results showed that there were 39.3% of patients with hypertension and 9.8% of patients with T2DM. The risk factor of hypertension was overweight (p value 0.018), while the risk factors of T2DM were history of diabetes (p value 0.43) and overweight (p value 0.020). Age and Body Mass Index (BMI) were positively correlated with systolic blood pressure and blood sugar levels, meaning that the higher the age and BMI, the higher the blood pressure and blood sugar levels. Controlling the occurrence of hypertension and T2DM can be done by reducing BMI.Prevalensi penyakit tidak menular seperti hipertensi dan Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) semakin meningkat setiap tahunnya. Tujuan penelitian adalah untuk mendeteksi secara dini faktor risiko terjadinya penyakit tidak menular yaitu hipertensi dan DMT2. Rancangan penelitian menggunakan studi potong lintang. Sampel adalah dosen dan tenaga kependidikan di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kesehatan Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi yang berusia >35 tahun, yaitu sebanyak 61 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah systematic random sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji chi-square, regresi dan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita hipertensi sebanyak 39,3% dan DMT2 sebanyak 9,8%. Faktor risiko penyakit hipertensi adalah kegemukan (p-value= 0,018), sedangkan faktor risiko DMT2 adalah riwayat DM (p-value= 0,43) dan kegemukan (p-value= 0,020). Usia dan Indeks Massa Tubuh atau IMT berkorelasi positif dengan tekanan darah sistolik dan kadar gula darah, artinya bahwa semakin tinggi usia dan IMT semakin tinggi tekanan darah dan kadar gula darah. Pengendalian terjadinya penyakit hipertensi dan DMT2 dilakukan dengan menurunkan IMT

    Komitmen Manajemen dan Safety Procedure sebagai Faktor Pembentuk Safety Behavior

    Full text link
    The globalization of trade nowadays impacts on an extremely fierce industry competition in all aspects and requires companies to more optimize all their resources. In addition to optimizing labor resources, companies also need to optimize the use of machines and work equipment to guarantee workers’ safety and health. This research aimed to test the role of safety cultures as the factor mediating the influence of management commitment and safety procedures to safety behaviors. The research method was quantitative with the sample size of 117 workers as the respondents. The instrument test of hypothesis was Smart PLS (Partial Least Squares). The results showed that management commitment influenced safety cultures as much as 27.84%; safety procedures influenced on safety cultures by 20.59%; and the influence of safety cultures on safety behaviors was 38.40%. In contrast, management commitment and safety procedures did not affect safety behaviors. The researcher concluded that safety cultures can mediate the influence of management commitment toward safety procedures and safety behaviors.Globaliasasi perdagangan saat ini memberikan dampak persaingan industri sangat ketat dalam segala aspek dan menuntut perusahaan lebih mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimilikinya. Selain optimalisasi sumberdaya tenaga kerja, perusahaan juga perlu untuk mengoptimalkan penggunaan mesin dan peralatan kerja agar dapat memberikan perlindungan atas keselamatan dan kesehatan tenaga kerja. Tujuan dari peneiltian ini adalah untuk menguji peran safety culture sebagai faktor mediasi pengaruh komitmen manajemen dan safety procedure terhadap safety behavior. Metode penelitian ini bersifat kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 117 orang pekerja. Alat uji hipotesis menggunakan Smart PLS (Partial Least Squares). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komitmen manajemen terhadap safety culture memiliki pengaruh sebesar 27,84%, pengaruh safety procedure terhadap safety culture sebesar 20,59% dan pengaruh safety culture terhadap safety behavior sebesar 38,40%. Sementara itu, komitmen manajemen dan safety procedure tidak berpengaruh safety behavior. Peneliti menyimpulkan bahwa safety culture dapat memediasi pengaruh komitmen manajemen terhadap safety procedure dan safety behavior

    255

    full texts

    273

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Faletehan Health Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇