Faletehan Health Journal
Not a member yet
    273 research outputs found

    Pengaruh Stres terhadap Kadar Glukosa Darah pada Penderita Hiperglikemia

    Full text link
    DM sufferers must change their lifestyle to remain blood glucose in their body balanced. The changes can make them vulnerable to stress. The purpose of this study was to determine the effects of stress on blood glucose levels of hyperglycemic patients at Kunciran Baru Health Center area, Tangerang City in 2023. The research method used was quantitative with a nested case control research design. The samples used were 89 respondents who were selected by simple random sampling technique. Stress was measured using the Stress Self-Rating Questionnaire-20. The data were analyzed by T-test. The results showed an increase in the average of blood glucose levels from 2022 (mean 197.97; SD 87.96) to 2023 (mean 232.55; SD 93.04). Most respondents were not stressed (57.3%), the average blood glucose level of the stress group respondents was 274.26 (SD: 97.02), while the average blood glucose level of the non-stressed group was 201.47 (SD: 77.22). The results of the analysis showed a significant difference in blood glucose levels of the two groups of respondents (p value<0.001). The results of this study corroborated previous studies that showed stress as a factor that can affect blood glucose levels of DM sufferers and the stress management ability is important to have in order to maintain normal blood glucose levels.Penderita DM harus mengubah pola hidupnya agar gula darah dalam tubuh tetap seimbang. Perubahan tersebut dapat mengakibatkan mereka rentan terhadap stres. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh stres terhadap kadar glukosa darah pada penderita hiperglikemia di area Puskesmas Kunciran Baru Kota Tangerang pada tahun 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian nested case control. Sampel yang digunakan sebanyak 89 responden yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Stres diukur dengan mengunakan Stress Self-Rating Quesioner-20. Data dianalisis dengan uji-T. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan rerata kadar glukosa darah dari tahun 2022 (mean 197,97; SD 87,96) ke tahun 2023 (mean 232,55; SD 93,04). Sebagain besar responden tidak stres (57,3%), rerata kadar glukosa darah pada responden kelompok stres adalah 274,26 (SD:97,02), sedangkan rerata kadar glukosa darah pada kelompok tidak stres adalah 201,47 (SD:77,22). Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan kadar glukosa darah yang signifikan pada dua kelompok responden (nilai p<0,001). Hasil penelitian ini menguatkan penelitian-penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa stres merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kadar glukosa darah penderita DM dan kemampuan dalam mengelola stres penting dimiliki dalam upaya mempertahankan kadar glukosa darah normal

    Pengaruh Media Edukasi terhadap Pengetahuan Remaja Putri tentang Anemia: Literature Review

    Full text link
    Anemia often occurs in female adolescents, resulting on inhibition of learning concentration, physical activity, decreased anti-bodies, and in a long-term affecting on their pregnancy. One of the causes is the lack of knowledge of maintaining a healthy diet and self-motivation of the importance of balanced nutrition in anemia prevention which is given through several researched educational media. This article aimed to determine the effects of educational media on female adolescent knowledge of anemia. The method of article searches through PubMed and Google Scholar used some keywords, namely anemia, female adolescent, educational media, and knowledge. The searches obtained 7 articles that met the writing criteria. The review results showed that some educational media of anemia can significantly affect the increase in female adolescent knowledge, namely audiovisual educational media, posters, and booklets. The results of the review also proved that the frequently used educational media in counseling is audiovisual media since it is more interesting and has a positive impact on the increase of female adolescent knowledge of anemia. Therefore, health workers should take a role in the efforts of anemia prevention in female adolescents through the provision of educational media.Anemia sering terjadi pada remaja putri yang mengakibatkan terhambatnya konsentrasi belajar, aktivitas fisik, turunnya anti bodi, hingga dalam jangka panjang dapat berpengaruh pada masa kehamilannya. Salah satu penyebabnya yaitu kurangnya pengetahuan tentang menjaga pola makan sehat dan motivasi diri akan pentingnya gizi seimbang dalam pencegahan anemia yang diberikan melalui beberapa media edukasi yang telah diteliti. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media edukasi terhadap pengetahuan remaja putri tentang anemia. Metode pencarian artikel melalui PubMed dan Google Scholar dengan menggunakan kata kunci anemia, remaja putri, media edukasi, dan pengetahuan. Pencarian ini mendapatkan 7 artikel yang memenuhi kriteria penulisan. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa beberapa media edukasi tentang anemia secara signifikan dapat berpengaruh pada peningkatan pengetahuan remaja putri yakni berupa media edukasi audiovisual, poster, dan booklet. Hasil tinjauan juga membuktikan bahwa media edukasi yang sering digunakan dalam penyuluhan adalah media audiovisual karena lebih menarik dan memberikan dampak positif pada meningkatnya pengetahuan remaja putri tentang anemia. Oleh karena itu, tenaga kesehatan perlu berperan dalam upaya pencegahan anemia remaja putri melalui pemberian media edukasi

    Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kecelakaan Kerja pada Operator Dump Truck di Bagian Produksi di Perusahaan Tambang Batubara

    Full text link
    A "Civil Work & Mining" company in Indonesia recorded 19 cases of work accidents in 2022 and 17 cases in 2023 in the production department. In 2023, 13 incidents involved dump truck operations causing property damage, of which 73% of incidents were caused by unsafe behavior and 27% by unsafe conditions. Although the number of work accidents had decreased, the company had not reached zero incidents. The purpose of this study was to find out the factors that contribute to work accidents among dump truck operators. This study used a cross-sectional design. A total of 92 dump truck operators were selected by purposive sampling and surveyed through an online questionnaire that had been tested for its validity. The data was tested using a chi-square test with a 95% confidence level. The results of the analysis showed a significant relationship between work accidents and unsafe behavior (p= 0.009), work fatigue (p=0.029) and the implementation of standard operating procedures (SOP) (p=0.014). Recommendations included the development of ongoing safety training and education to increase operator awareness of the risk of unsafe behavior, to improve supervision and control of risky activities, to implement fatigue management, and to strengthen compliance with SOPs.Sebuah perusahaan "Civil Work & Mining" di Indonesia mencatat 19 kasus kecelakaan kerja pada tahun 2022 dan 17 kasus pada tahun 2023 di bagian produksi. Pada tahun 2023, 13 insiden melibatkan operasi dump truck yang menyebabkan kerusakan properti, dimana 73% insiden disebabkan oleh perilaku tidak aman dan 27% oleh kondisi yang tidak aman. Meskipun angka kejadian kecelakaan kerja menurun, perusahaan tersebut belum mencapai zero incident. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kecelakaan kerja pada operator dump truck. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Sebanyak 92 operator dump truck dipilih dengan purposive sampling dan disurvei melalui kuesioner online yang telah teruji validitasnya. Data diuji menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil analisis menunjukkan hubungan yang signifikan antara kecelakaan kerja dengan perilaku tidak aman (p= 0,009), kelelahan kerja (p=0,029) dan penerapan standar operasional prosedur (SOP) (p=0,014). Rekomendasi meliputi pengembangan pelatihan dan pendidikan keselamatan berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran operator tentang risiko perilaku tidak aman, meningkatkan pengawasan dan kontrol terhadap aktivitas yang berisiko, menerapkan manajemen kelelahan, dan memperkuat kepatuhan terhadap SOP

    Analisis Faktor Internal, Pencahayaan, Kelembapan dan Suhu Rumah dengan Kejadian Tuberkulosis

    Full text link
    Tuberculosis cases in Semarang City were ranked sixth with the highest number of cases in Central Java, Indonesia. The aim of this research was to determine the relationship between internal factors, lighting, humidity and temperature with the incidence of tuberculosis. The type of research conducted was analytical observational quantitative research with a case-control approach. The number of samples of 104 respondents was selected using accidental sampling techniques and inclusion criteria. The data collection techniques carried out were secondary data collection, preliminary surveys, observations and interviews. The instruments included questionnaires, Lux Meter and Hygrometer. The analysis technique used a chi-square statistical test. This study found that there was a relationship between gender variables (OR 0.257; 95%CI; 0.110-0.598), education level, marital status (OR 0.229; 95%CI; 0.90-0.582), lighting (OR 0.099; 95%CI; 0.40-0.244), humidity (OR 0.082; 95%CI; 0.029-0.226), and bedding drying habits (OR 9.553; 95%CI; 3.727-24.487) with the incidence of tuberculosis in North Semarang District. The variables of income level, employment status, and temperature had nothing to do with the incidence of tuberculosis in North Semarang District.Kasus tuberkulosis di Kota Semarang berada pada peringkat ke enam angka kasus terbanyak di Jawa Tengah, Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor internal, pencahayaan, kelembaban, dan suhu dengan kejadian tuberkulosis. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif observasional dengan pendekatan case control. Jumlah sampel sebanyak 104 responden dipilih dengan menggunakan teknik accidental sampling dan kriteria inklusi. Teknik pengumpulan data yang dillakukan yaitu pengumpulan data sekunder, survei awal, obeservasi dan wawancara. Instrumen yang digunakan antara lain kuesioner, Lux Meter dan Hygrometer. Teknik analisis menggunakan uji statistik chi-square. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa terdapat hubungan antara variabel jenis kelamin (OR 0,257; 95%CI; 0,110-0,598), tingkat pendidikan, status marital (OR 0,229; 95%CI; 0,90-0,582), pencahayaan (OR 0,099; 95%CI; 0,40-0,244), kelembapan (OR 0,082; 95%CI; 0,029-0,226), dan kebiasaan menjemur alas tidur (OR 9,553; 95%CI; 3,727-24,487) dengan kejadian tuberkulosis di Kecamatan Semarang Utara. Variabel tingkat pendapatan, status pekerjaan, dan suhu tidak ada hubungannya dengan kejadian tuberkulosi di Kecamatan Semarang Utara

    Pengaruh Latihan Otot Pernafasan terhadap Peningkatan Fungsi Paru pada Periode Awal Ekstubasi

    Full text link
    There had been no structured breathing exercise intervention for patients at the beginning of post-extubation after the installation of mechanical ventilation in a hospital in Indonesia. Thus, this study aimed to determine the effects of respiratory muscle exercises on lung function in the early period of extubation. The research design used quasi experimental without control group. Respiratory muscle training intervention is carried out 1 hour after extubation through deep breathing 30 times (rest pause for 10 deep breaths) for 30-60 minutes. The exercises were given once a day for 3 days or according to the patient\u27s condition. The population of this study were all patients after installation of a ventilator at the ICU. The sampling technique was consecutive with a total of 30 respondents. The instrument was an observation sheet, the results of respiratory frequency, and oxygen saturation parameters from the bedside monitor. Bivariate data analysis used Wilcoxson test. The results of the study showed that there were effects of respiratory muscle training on lung function in the initial extubation period with a p-value of 0.000 (p-value < 0.05). The results of the study proved that respiratory muscle training can improve the oxygenation function of the lungs in the early period of extubation.Belum ada intervensi latihan nafas yang dilakukan secara terstruktur pada pasien di awal ektubasi pasca pemasangan ventilasi mekanik di sebuah rumah sakit di Indonesia. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan otot pernafasan terhadap fungsi paru pada periode awal ekstubasi. Rancangan penelitian menggunakan eksperimen kuasi tanpa kelompok kontrol. Intervensi latihan otot pernafasan dilakukan 1 jam pasca ekstubasi melalui deep breathing 30 kali (jeda istirahat 10 kali nafas dalam) selama 30-60 menit. Latihan diberikan dengan frekuensi satu kali sehari selama 3 hari atau sesuai kondisi pasien. Populasi penelitian ini adalah semua pasien pasca pemasangan ventilator di ruang ICU. Teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling sejumlah 30 responden. Instrumen menggunakan lembar observasi, hasil parameter frekuensi nafas, dan saturasi oksigen dari bedside monitor. Analisis data bivariat menggunakan Wilcoxson test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh latihan otot pernafasan terhadap fungsi paru pada periode awal ekstubasi dengan p-value 0,000 (p-value < 0,05). Hasil penelitian membuktikan bahwa latihan otot pernafasan dapat meningkatkan fungsi oksigenasi paru pada periode awal ekstubasi

    Analisis Faktor Risiko Terjadinya Stroke Serta Tipe Stroke

    Full text link
    Stroke is a disease caused by an impaired blood flow to the brain that can cause death. The risk factors of stroke can be divided into modifiable factors and non-modifiable factors. Stroke prevention can be done by avoiding modifiable risk factors. This research used a retrospective method and a total sampling technique of 200 stroke patients as the respondents. The data was taken from their medical record document at the Tulip Room of Doctor Dradjat Prawiranegara Hospital from January to March 2020. The data were analyzed by a descriptive approach which described the variables of age, sex, type of stroke (ischemic or hemorrhagic), and history of disease (hypertension, DM, and cholesterol) in-depth. The variables were considered as modifiable and non-modifiable risk factors. The risk factors in this study were determined based on the medical record data which showed the highest number. The results of this study indicated that most of the respondents experienced ischemic stroke. In addition, the most non-modifiable stroke risk factors were age > 50 years and male sex. Meanwhile, the modifiable stroke risk factor showing the highest percentage was hypertension. It was the main cause of intracerebral hemorrhage, more than 60% of stroke patients suffered from it. Further research should more emphasize on the relationship analysis of risk factors and stroke occurrence.Stroke adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah di otak yang dapat menyebabkan kematian. Faktor risiko terjadinya penyakit stroke dibedakan menjadi faktor yang dapat diubah dan faktor yang tidak dapat diubah. Mencegah terjadinya stroke dapat dilakukan dengan menghindari faktor resiko yang dapat diubah. Metode penelitian menggunakan retrospektif dan teknik total sampling sejumlah 200 responden penderita stroke. Data diambil dari dokumen rekam medis pasien di Ruang Tulip Rumah Sakit dr. Dradjat Prawiranegara dari bulan Januari sampai Maret tahun 2020. Data dianalisis dengan pendekatan deskriptif yang menguraikan secara mendalam variabel usia, jenis kelamin, tipe stroke (ischemic atau haemorrhagic), dan riwayat penyakit (hipertensi, DM, dan kolesterol). Variabel tersebut dianggap sebagai faktor resiko yang dapat diubah dan tidak dapat diubah. Faktor risiko dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan data rekam medis yang menunjukkan jumlah yang paling banyak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami stroke iskemik. Selain itu, faktor risiko stroke yang tidak dapat diubah terbanyak yaitu umur > 50 tahun dan jenis kelamin laki-laki. Sementara itu, faktor risiko stroke yang dapat diubah yang menunjukkan persentase terbanyak yaitu Hipertensi. Hipertensi merupakan penyebab utama perdarahan intraserebral, lebih dari 60% penderita stroke menderita hipertensi. Penelitian selanjutnya agar lebih ditekankan pada analisis untuk menguji hubungan antara faktor resiko dengan kejadian stroke

    Gambaran Morbiditas Premenstrual Syndrome dan Tingkat Kecemasan pada Remaja Putri

    Full text link
    Premenstrual Syndrome (PMS) is one of the most common disorders among women. The prevalence of PMS worldwide is about 48% in women of reproductive age, while in Indonesia, the prevalence reaches 80-90%, with perceived severe symptoms. Anxiety is an emotional occurrence in women and is a distinctive symptom of stress. The incidence of anxiety due to PMS is approximately 20% of the world\u27s population, and in Indonesia, anxiety related to PMS is estimated to range from 9% to 12%. This study aims to assess the morbidity of Premenstrual Syndrome (PMS) and anxiety levels in adolescent girls. The method used is quantitative descriptive with a cross-sectional approach. The sample consists of 76 female students from grade VII and VIII in SMPN 2 Sokaraja, who completed the sPAF and DASS-42 questionnaires. The results show that the respondents experienced symptoms of easy irritability/anger (61.2%), with mild (30.3%), moderate (43.4%), and severe (25%) levels of PMS, while anxiety levels varied from normal (32.9%) to mild (15.8%), moderate (17.1%), severe (15.8%), and panic (18.4%). This study recommends the necessity of health campaigns on PMS and anxiety in adolescent girls to reduce stigma and enhance public understanding.Premenstrual Syndrome (PMS) merupakan salah satu gangguan yang paling umum terhadap wanita, Prevalensi PMS di dunia sebanyak 48% dialami oleh wanita subur dan di Indonesia prevalensi PMS sebanyak 80-90% dan gejala yang dirasakan cukup berat. Kecemasan adalah kejadian emosional seorang wanita dan khas dari gejala stress. Angka kejadian kecemasan akibat dari PMS sebanyak 20% dari populasi dunia dan di Indonesia kecemasan akibat PMS diperkirakan berkisar antara 9%-12%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran morbiditas Premenstrual Syndrome (PMS) dan tingkat kecemasan pada remaja putri. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini diambil dari siswi kelas VII dan VIII SMPN 2 Sokaraja berjumlah 76 responden dengan menggunakan kuesioner sPAF dan kuesioner DASS-42. Hasil penelitian menunjukkan responden mengalami gejala mudah tersinggung/marah (61,2%), dan responden mengalami PMS ringan (30,3%), PMS sedang (43,4%), dan PMS berat (25%) dengan tingkat kecemasan responden normal (32,9%), kecemasan ringan (15,8%), kecemasan sedang (17,1%), kecemasan berat (15.8%) dan panik (18,4%). Penelitian ini merekomendasikan perlunya kampanye kesehatan tentang PMS dan kecemasan pada remaja putri untuk mengurangi stigma dan meningkatkan pemahaman masyarakat

    Faktor–Faktor yang Berhubungan dengan Keluhan Gangguan Kulit pada Nelayan

    Full text link
    Skin disease is one of the most common diseases found in tropical countries like Indonesia. The incidence of skin diseases in Indonesia is still relatively high and a significant health problem. This study aimed to determine the factors associated with complaints of skin disorders among fishermen. It was conducted from April to June 2022. The research type was descriptive with a cross-sectional design. The respondents were selected by using accidental sampling technique with 50 fishermen as respondents. The data collection technique used interviews and observations with questionnaires and observation sheets as the instruments. The data obtained were in the form of respondent characteristics and factors relating to complaints of skin disorders among fishermen. The data was then analyzed by chi-square test. This study showed that 80% of respondents experienced complaints of skin disorders, 82% of respondents had long years of service, and 96% of respondents wore complete personal protective equipment (PPE), and 56% of respondents had a good personal hygiene. The statistical test results showed years of service (p value 0.782), use of PPE (p value 1.000), personal hygiene (p value 0.198) had no significant relationship to complaints of skin disorders. Fishermen should be given promotion of personal hygiene importance and control to PPE completeness which is used to reduce the risk of experiencing skin disorders complaints.Penyakit kulit merupakan salah satu penyakit yang paling sering dijumpai pada negara beriklim tropis, termasuk Indonesia. Kejadian penyakit kulit di Indonesia masih tergolong tinggi dan menjadi permasalahan kesehatan yang cukup berarti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan gangguan kulit pada nelayan. Penelitian dilakukan pada bulan April-Juni 2022. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan desain cross-sectional. Responden penelitian dipilih dengan menggunakan teknik accidental sampling dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang nelayan. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara dan observasi dengan instrumen lembar kuesioner dan lembar observasi. Data yang didapatkan berupa data karakteristik responden dan faktor yang berhubungan dengan keluhan gangguan kulit pada nelayan. Data tersebut kemudian dianalisis dengan uji chi-square. Penelitian ini menunjukan 80% responden mengalami keluhan gangguan kulit, sebanyak 82% responden memiliki masa kerja lama, 96% responden menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap dan sebanyak 56% responden memiliki personal hygiene baik. Hasil uji statistik menunjukkan masa kerja (p value = 0,782), penggunaan APD (p value =1,000), dan personal hygiene (pvalue = 0,198) tidak berhubungan dengan keluhan gangguan kulit. Nelayan harus diberikan penyuluhan tentang pentingnya personal hygiene dan controlling kelengkapan APD yang digunakan untuk mengurangi risiko mengalami keluhan gangguan kulit

    Pengalaman Lansia tentang Kebutuhan Layanan Kesehatan pada Pos Pelayanan Terpadu: Studi Fenomenologi

    Full text link
    The rise of elderly number poses a challenge for many nations worldwide, particularly developing countries such as Indonesia. The presence of elderly integrated health post could serve as a supportive facility for elderly healthcare at community level. The optimal health services provided at integrated health post can contribute to the improvement of elderly’s wellbeing. This research aimed to explore the elderly\u27s experiences of the necessity of health services in the Elderly Integrated Health Post of Patebon II Kendal Public Health Center. A qualitative approach with phenomenological approach was used in this study. The data collection was done by using semi-structured in-depth interviews to 10 elders lasting between 45-60 minutes. To ensure trustworthiness, member checking and peer-review were conducted on all interview transcripts before the process of data analysis by qualitative thematic analysis. This study found four major themes, namely: health care experiences, not diverse integrated health post service, efficiency of services, and health provider characteristic. The elders stated that they were unable to meet all their health needs. The integrated health post must offer comprehensive services, including psychological, social, and spiritual needs, not only focusing on their physical needs. Thus, the services can have a positive impact on the improvement of elderly quality of life.Peningkatan jumlah lansia menjadi tantangan tersendiri bagi banyak negara di dunia terutama negara berkembang termasuk Indonesia. Keberadaan posyandu lansia diharapkan dapat menjadi fasilitas penunjang kesehatan lansia di tingkat masyarakat. Optimalisasi layanan kesehatan yang diberikan di posyandu berkontribusi dalam peningkatan kualitas kesehatan lansia. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi terkait pengalaman lansia terhadap kebutuhan layanan kesehatan pada Posyandu Lansia di Puskemas Patebon II Kendal. Pendekatan kualitatif dengan studi fenomenologi digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan semi-structured in-depth interview terhadap 10 orang lansia yang berlangsung selama 45-60 menit. Untuk aspek trustworthiness, member checking dan peer-review dilakukan pada keseluruhan transkrip wawancara sebelum proses analisis data dengan menggunakan qualitative thematic analysis. Penelitian ini menemukan empat tema utama, yaitu health care experiences, layanan posyandu tidak beragam, efisiensi layanan, dan karakteristik petugas kesehatan. Lansia menyatakan tidak mampu lagi untuk memenuhi semua kebutuhan kesehatannya. Posyandu harus mampu memberikan layanan yang bersifat komprehensif termasuk memperhatikan kebutuhan psikologis, sosial dan aspek spiritual bukan hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik. Sehingga, layanan dapat memberikan dampak pada peningkatan kualitas hidup lansia

    Komunikasi End of Life dengan Penyusunan Dokumen Wasiat Hidup: Qualitative Evidence Synthesis

    Full text link
    End of Life (EoL) communication is carried out when the patient\u27s condition is palliative and documented in an advance Directives (ADs) document which contains of patient\u27s preferences of treatment options. ADs are highly important documents for patients, families and health worker, but have not been applied in Indonesia. This study aimed to identify the stages of preparing ADs with qualitative evidence synthesis research design. The Data sources used several data bases, namely Sage Journals, ProQuest, Scopus, Taylor & Francis, ScienceDirect, and ClinicalKey Nursing from 2003 to 2023. The article selection was based on the category of qualitative research on EoL communication and ADs drafting. The results of the study obtained 6 out of 38,185 articles. The articles contained of the stages of preparing ADs starting with the initiation of patients or health workers, providing an explanation of ADs and the course of patient\u27s disease, discussion or EoL communication between families and health workers, reviewing the decisions in ADs according to patient\u27s condition, and making ADs according to local regulations. The researchers concluded that ADs document as the result of EoL communication should be made by health workers and patients. ADs document is important for patients, families and health workers and can help patients become calmer to face a follow-up care and end-of-life care.Komunikasi end of life (EoL) dilakukan pada saat kondisi pasien paliatif dan terdokumentasi dalam dokumen wasiat hidup/advance directives (ADs) yang berisi preferensi atau pilihan perawatan yang diinginkan pasien. ADs merupakan dokumen yang sangat penting bagi pasien, keluarga dan tenaga kesehatan tetapi belum diaplikasikan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menemukan tahapan dalam penyusunan ADs dengan desain penelitan qualitative evidence synthesis. Sumber data menggunakan beberapa database yaitu Sage Journals, ProQuest, Scopus, Taylor & Francis, ScienceDirect, dan ClinicalKey Nursing dalam rentang waktu 2003-2023. Seleksi artikel berdasarkan kategori metode kualitatif tentang komunikasi EoL dan penyusunan ADs. Hasil pencarian mendapatkan 6 artikel dari 38.185 artikel. Artikel-artikel tersebut berisi tahapan dalam menyusun ADs yang diawali dengan inisiasi pasien atau tenaga kesehatan, pemberian penjelasan tentang ADs dan perjalanan penyakit pasien, diskusi atau komunikasi EoL antara keluarga dan tenaga kesehatan, peninjauan ulang keputusan dalam ADs sesuai kondisi pasien, dan pembuatan ADs sesuai peraturan setempat. Peneliti menyimpulkan bahwa dokumen ADs sebagai hasil dari komunikasi EoL sebaiknya dibuat oleh tenaga kesehatan dan pasien. Dokumen ADs penting bagi pasien, keluarga dan tenaga kesehatan dan dapat membantu pasien menjadi lebih tenang menghadapi perawatan lanjutan dan perawatan akhir hayat

    255

    full texts

    273

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Faletehan Health Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇