Faletehan Health Journal
Not a member yet
273 research outputs found
Sort by
Kesiapsiagaan Siswa dalam Menghadapi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami
Indonesia was ranked second out of the 10 most earthquake-prone countries in the world. The impact of the earthquake was not only felt by the general public, but also affects learning activities in schools from elementary to high school levels. The purpose of this study was to determine students\u27 preparedness in facing earthquake and tsunami disasters. The samples of this study consisted of 143 respondents who were students in grades VII, VIII and IX at Madrasah Tsanawiyah Negeri 3. Determining the number of samples in each class used purposive sampling with the type of observational research. The collected data was analyzed descriptively using frequency tabulation. The preparedness was measured based on four indicators, namely level of knowledge, emergency response plan, early warning system and resource mobilization. The findings showed that the level of preparedness and level of knowledge of students was in the medium category. Emergency response plans, early warning systems and resource mobilization were in the high category. The level of students\u27 knowledge of disaster preparedness must be increased, especially in terms of knowledge of the differences in emergency response sirens. The findings in the field indicated the need to update the evacuation route map and put-up preparedness posters in each class. Mobile phones can be utilized as a medium of education and promotion regarding earthquake and tsunami disasters and evacuation mechanisms for natural disasters.Indonesia menduduki peringkat kedua dari 10 negara di dunia yang paling rawan gempa. Dampak terjadinya gempa tidak hanya dirasakan oleh masyarakat umum, namun juga berpengaruh terhadap aktivitas pembelajaran di sekolah baik dari tingkat SD sampai SMA. Penelaahan ini berupaya guna mendeskripsikan kesiapsiagaan murid ketika dihadapkan pada bencana gempa bumi dan tsunami. Sampel telaah ini berjumlah 143 murid yang merupakan anak-anak kelas VII, VIII dan IX di Madrasah Tsanawiyah Negeri 3. Penentuan jumlah sampel pada tiap kelas menggunakan purposive sampling dengan jenis penelitian observasional. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan tabulasi frekuensi. Kesiapsiagaan dalam penelitian ini diukur berdasarkan empat indikator, yaitu tingkat pengetahuan, rencana tanggap darurat, sistem peringatan dini dan mobilisasi sumber daya. Hasil studi menunjukkan tingkat kesiapsiagaan dan tingkat pengetahuan siswa termasuk kategori sedang. Rencana tanggap darurat, sistem peringatan dini dan mobilisasi sumber daya termasuk kategori tinggi. Tingkat pengetahuan siswa tentang kesiapsiagaan ketika terjadi bencana perlu ditingkatkan terutama dalam hal pengetahuan tentang adanya perbedaan sirine tanggap darurat. Hasil temuan di lapangan menunjukkan perlunya pembaharuan peta jalur evakuasi dan pemasangan poster kesiapsiagaan di setiap kelas. Handphone dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi dan sosialisasi mengenai bencana gempa bumi dan tsunami serta mekanisme evakuasi bencana alam
Analisis Sanitasi Bandar Udara Fatmawati Soekarno Bengkulu
Fatmawati Airport as a place for people entering and exiting from various destinations needs attention in the aspect of creating a healthy environment to protect airport users from the spread of disease and health problems. This research aims to analyse the sanitary conditions at Fatmawati Soekarno Airport Bengkulu and received authorization from the Class III Port Health Office in Bengkulu with permit number 238/SKTMP/KKP-BKL/VIII/2021. This research was descriptive observational. The data collection technique used a direct measurement with an observational list. The results showed that the sanitation conditions at Fatmawati Soekarno Airport Bengkulu scored 6900 (56.21%); thus, it was declared unhealthy. The efforts to implement environmental sanitation obtained a score of 54.21%, the arrangement of facilities and infrastructure 56.44%, the increase in clean and healthy living behaviors 71.42%, the improvement of occupational safety and health 85.33%, the security and order 80%, and the institutional aspect 50.26%. The health conditions of the airport environment, facilities, and the institutional efforts were categorized as not good. However, the efforts to increase clean and healthy living behaviors and to increase security and order were categorized as meeting the requirements since the officers outside the airport was mandatory to use PPE (personal protective equipment).Bandar udara Fatmawati sebagai tempat keluar masuknya manusia dari berbagai destinasi perlu mendapatkan perhatian dalam aspek penciptaan lingkungan sehat guna melindungi pengguna bandar udara dari penyebaran penyakit dan gangguan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi sanitasi di Bandar Udara Fatmawati Soekarno Bengkulu dan telah mendapatkan izin dari Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III Bengkulu dengan nomor 238/SKTMP/KKP-BKL/VIII/2021. Penelitian ini bersifat observasional deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan pengukuran secara langsung dengan daftar observasi. Hasil penelitian mendapatkan skor kondisi sanitasi di Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu 6.900 (56,21%) sehingga dinyatakan tidak sehat. Upaya penyelenggaraan penyehatan lingkungan memperoleh nilai 54,21%, penataan sarana dan prasarana 56,44%, peningkatan PHBS 71,42%, peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja 85,33%, keamanan dan ketertiban 80%, dan aspek kelembagaan 50,26%. Kondisi kesehatan lingkungan bandara, fasilitas, serta upaya kelembagaan dikategorikan tidak baik. Namun, upaya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat serta peningkatan keamanan dan ketertiban dikategorikan memenuhi syarat karena petugas di lingkungan luar bandara wajib menggunakan APD (alat pelindung diri)
Hubungan Pengetahuan dan Sikap tentang Antenatal Care (ANC) dengan Kunjungan ANC
Pregnant women at Mijen II Community Health Center, Demak Regency did not regularly attend antenatal care (ANC); although, they knew that ANC visits during pregnancy are important. Coverage of ANC visits by pregnant women to health workers is based on the standards of Health Ministry which have been set at a minimum of 6 times. The aim of the research was to determine the relationship between pregnant women\u27s knowledge and attitudes about ANC and ANC visits. The type of research used was quantitative with cross-sectional design. The samples of this study were 39 respondents selected by using purposive sampling technique. Chi Square test was used to analyze the research data. The results of data analysis showed that there was no relationship between knowledge of pregnant women (p-value 0.176) and attitudes of pregnant women (p-value 0.060) with ANC visits. The results of survey with interviews to pregnant women showed that 80% of pregnant women did not do ANC regularly for reasons of being lazy, working, having no complaints, and having a poor economy. Health workers, especially midwives, were expected to further increase the screening of pregnant women, so they can achieve the target of 100% ANC visits by health workers. The screening should not only be done by waiting for mothers’ visit at community health center or integrated service post but by making home visits.Ibu hamil di Puskesmas Mijen II Kabupaten Demak tidak teratur melakukan antenatal care (ANC) sekalipun mereka mengetahui bahwa kunjungan ANC selama kehamilan itu penting. Padahal cakupan kunjungan ANC ibu hamil ke tenaga kesehatan berdasarkan pada standar Kemenkes yang telah ditetapkan adalah minimal 6 kali. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang ANC dengan kunjungan ANC. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel dalam penelitian sebanyak 39 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Uji chi square dipakai untuk menganalisis data penelitian. Hasil analisis data menunjukkan tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu hamil (nilai p 0,176) dan sikap ibu hamil (nilai p 0,060) dengan kunjungan ANC. Hasil survey dengan wawancara terhadap ibu hamil menunjukkan 80% ibu hamil tidak melakukan ANC secara rutin dengan alasan malas, bekerja, tidak ada keluhan, dan ekonomi kurang. Tenaga kesehatan terutama bidan diharapkan agar lebih meningkatkan penjaringan ibu hamil sehingga dapat mencapai target 100% kunjungan ANC oleh tenaga kesehatan. Penjaringan tidak hanya dapat dilakukan dengan menunggu kedatangan ibu ke puskesmas atau posyandu tetapi dengan melakukan kunjungan rumah
Pengaruh Terapi BagaPule untuk Mengurangi Nyeri Kepala Lansia dengan Hipertensi
Headache is a problem complained by 20% of hypertensive patients. The pain can cause various effects ranging from mild discomfort to disrupting quality of life. BagaPule therapy is a combination of warm compress and massage on the gate of consciousness points, one of the non-pharmacological ways to reduce headaches. Hypertensive patients will feel a warm sensation in the neck to the head area after applying warm compresses. This study aimed to examine the influence of BagaPule therapy administration to reduce headaches in elderly patients with hypertension in Lhok Bengkuang, Aceh. The research design used in this study was quasi-experimental with equivalent control group design. The participants of this study were all elders suffering from hypertension, with the total of 36 participants selected by using simple random sampling technique. The statistical analysis was conducted by using Wilcoxon and Mann-Whitney test. The results of univariate analysis in the control group showed that the majority of elderly headache levels were categorized as moderate with 12 respondents (48%) and the intervention group showed that the majority of elderly headache levels were categorized as moderate with 14 respondents (51.9%). The bivariate analysis results showed that there was an influence of BagaPule therapy on reducing headaches in elderly patients with hypertension (p-value 0.032). BagaPule therapy was highly positive to reduce pain and can be recommended as an innovation in complementary health.Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah dalam arteri. Tanda dan gejala yang muncul dari penyakit hipertensi ini adalah pusing, sakit kepala, tengkuk terasa pegal (nyeri leher), mudah marah, sulit bernafas. Nyeri leher dan sakit kepala dapat menggangu aktivitas sehari-hari penderita hipertensi. Maka perlu dilakukan tindakan segera, salah satu tindakan non farmakologis untuk mengurangi atau mengatasi nyeri tersebut yaitu dengan terapi kompres hangat atau terapi akupressur. Terapi BagaPule suatu kombinasi terapi kompres hangat dengan pijat pada titik gate of consciousness yang istilahnya berasal dari bahasa Aceh “Bagah” dan “Puleh” memiliki makna “cepat sembuh” terhadap rasa nyeri. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh pemberian terapi BagaPule untuk mengurangi nyeri kepala lansia dengan penyakit hipertensi di Lhok Bengkuang Aceh. Desain penelitian ini menggunakan quasi experiment dengan rancangan equivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia yang mengalami hipertensi dan jumlah sampel berjumlah 36 responden dengan teknik probability sampling berjenis simple random sampling. Instrumen menggunakan standar operasional prosedur, tensimeter digital, skala Numeric Ranting Scale dan lembar observasi. Uji statistik menggunakan Wilcoxon test dan Mann Whitney test. Hasil analisis univariat kelompok kontrol menunjukkan tingkat nyeri kepala lansia paling banyak berkategori sedang, yaitu sebanyak 12 responden (48%) dan kelompok intervensi menunjukkan tingkat nyeri kepala lansia paling banyak berkategori sedang, yaitu sebanyak 14 responden (51.9%). Hasil analisis bivariat kelompok kontrol menunjukkan t terdapat pengaruh terapi BagaPule terhadap penurunan nyeri kepala lansia dengan penyakit hipertensi (p value, 0.032). Terapi BagaPule sangat positif untuk menjadi alternatif mengurangi nyeri yang dapat direkomendasikan di bidang kesehatan komplementer sebagai sebuah inovasi
Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stunting pada Baduta
This research aimed to identify the factors influencing stunting in children under two years in Bangendung Village, Cilegon Sub-district in 2023. The research method employed was a case control design with purposive sampling. The population of this study consisted of 54 mothers; 27 of them had stunted children under two years and 27 had non-stunted children under two years. The data collection used a questionnaire; the data analysis used chi-square test. The research results indicated that exclusive breastfeeding had a significant relationship with stunting in children under two years (p-value 0.003). Meanwhile, knowledge about exclusive breastfeeding, knowledge about complementary feeding, access to clean water, and family income do not have significant relationships with stunting in children under two years (with respective p-values of 1.000, 1.000, 0.726, and 1.000). Efforts by government and healthcare workers to educate the community, especially mothers, were carried out through the provision of information such as flyers, banners, and tutorial videos on proper exclusive breastfeeding and complementary feeding practices, disseminated in every integrated health post and auxiliary health center in Cilegon Subdistrict, Cilegon city.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi stunting pada baduta (bayi bawah 2 tahun) di Desa Bangendung, Wilayah Kecamatan Cilegon pada tahun 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah desain case control dengan purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari 54 ibu; 27 di antaranya memiliki baduta stunting dan 27 lainnya memiliki baduta tidak stunting. Pengumpulan data menggunakan kuesioner; analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting pada baduta (p-value 0,003). Sementara itu, pengetahuan tentang pemberian ASI eksklusif, pengetahuan tentang MP-ASI, sarana air bersih, dan pendapatan keluarga tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting pada baduta (p-value masing-masing adalah 1,000, 1,000, 0,726, dan 1,000). Upaya pemerintah dan tenaga kesehatan untuk mengedukasi masyarakat, terutama ibu, dilakukan melalui penyediaan informasi seperti flyer, banner, dan video tutorial tentang cara pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI yang tepat, disampaikan di setiap posyandu dan Puskesmas Pembantu (Pustu) di Wilayah Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon
Hubungan Komunikasi Interpersonal Perawat dengan Kepuasan Pasien
Health service centers in Indonesia were growing and developed rapidly, resulting on many choices in health services that patients can entrust in carrying out their health care. Patients’ expectation when choosing health services was the ability of health staff to respond quickly to patient complaints and to deal with them in a professional manner. The research objective was to determine the relationship between nurse interpersonal communication and patient satisfaction at Pontang Community Health Center in 2023. The correlation method with a cross-sectional approach was used in this research. Of the 150 inpatients as a population, 75 respondents were involved as the samples by Solvin formula. The data collection was done by interviews, observations, and a questionnaire. The research results showed that the majority of respondents stated that the interpersonal communication of nurses was good (62.7%) and the majority of respondents stated that patient satisfaction in the inpatient unit was not satisfied (54.7%). The statistical test results by using chi-square test obtained a p-value of 0.024 (p<α), which means that there was a relationship between nurse interpersonal communication and patient satisfaction at the inpatient unit of Pontang Community Health Center. The researchers concluded that there was a need of reinforcement in inpatient nurses, such as training on interpersonal communication and service excellence.Pusat pelayanan kesehatan di Indonesia semakin hari semakin bertumbuh dan berkembang secara pesat sehingga banyak pilihan pelayanan kesehatan yang dapat pasien percayakan dalam melakukan perawatan kesehatannya. Apa yang diharapkan pasien dalam memilih pelayanan kesehatan adalah kemampuan petugas yang cepat dan tanggap terhadap keluhan pasien serta mampu menghadapi keluhan pasien secara profesional. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara komunikasi interpersonal perawat dengan kepuasan pasien di Puskesmas Pontang tahun 2023. Metode korelasi dengan pendekatan cross-sectional digunakan dalam penelitian ini. Dari 150 pasien rawat inap sebagai populasi, 75 responden dilibatkan sebagai sampel dengan menggunakan rumus Slovin. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden menyatakan komunikasi interpersonal perawat baik (62,7%) dan sebagian besar responden menyatakan kepuasan pasien di unit rawat inap tidak puas (54,7%). Hasil uji statistik menggunakan uji chi-square memperoleh nilai p 0,024 (p<α), artinya ada hubungan antara komunikasi interpersonal perawat dengan kepuasan pasien di unit rawat inap Puskesmas Pontang. Peneliti menyimpulkan bahwa perlu penguatan pada perawat rawat inap seperti pelatihan tentang komunikasi interpersonal dan service excellence
Peran Aktivitas Fisik dan Sosiodemografis dalam Meningkatkan Kesejahteraan Lansia: Tinjauan Literatur
The increasing population of the elderly presents new challenges concerning quality of life. The depiction of elderly physical activity is influenced by their level of well-being. This study aimed to examine the depiction of factors influencing physical activity and independence among the elderly, which impact optimal elderly quality of life. Three journal databases, namely Scopus, Science Direct, and ProQuest were utilized for the period spanning from 2002 to 2022. The search yielded six articles meeting the inclusion criteria. Findings from the literature review indicated that elderly physical activity is associated with various aspects of their well-being, such as prosperity, social relationships, physical and mental health. Socio-demographic factors, such as gender, age, assets, and income were also linked to the elderly\u27s activity profiles. Another finding suggested the necessity for the development and implementation of technology in the planning and management of recreational and health activities for the elderly. It can enhance various aspects of elderly well-being, including physical work capacity, emotional status, somatic health, and cognitive function. In conclusion, physical activity plays a crucial role in enhancing overall elderly well-being, while socio-demographic factors and social environments also significantly influence elderly activity profiles and well-being.Peningkatan jumlah populasi lansia menimbulkan tantangan baru terkait dengan kualitas hidup. Gambaran aktifitas fisik lansia dipengaruhi oleh tingkat kesejahteraan yang dimiliki. Studi ini bertujuan menelaah gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas fisik dan kemandirian lansia yang berdampak pada kualitas hidup lansia yang optimal. Tiga database jurnal digunakan yaitu Scopus, Science Direct, dan ProQuest dalam rentang waktu tahun 2002-2022. Hasil pencarian menghasilkan enam artikel yang sesuai kriteria inklusi. Temuan dari review literatur yaitu aktivitas fisik lansia memiliki hubungan dengan berbagai aspek kesejahteraan mereka, seperti kesejahteraan, hubungan sosial, dan kesehatan fisik serta mental. Faktor sosiodemografis seperti jenis kelamin, usia, aset, dan pendapatan juga terkait dengan profil aktivitas lansia. Temuan lain yaitu diperlukan pengembangan dan penerapan teknologi dalam perencanaan dan manajemen aktivitas rekreasi dan kesehatan bagi lansia. Hal tersebut dapat meningkatkan berbagai aspek kesejahteraan lansia, termasuk kapasitas kerja fisik, status emosional, kesehatan somatik, dan fungsi kognitif. Kesimpulannya, aktivitas fisik memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan lansia secara keseluruhan, sementara faktor-faktor sosiodemografis dan lingkungan sosial juga memainkan peran yang signifikan dalam profil aktivitas dan kesejahteraan lansia
Penerapan Layanan E-health pada Puskesmas Kota Surabaya dalam Memberikan Pelayanan kepada Masyarakat: Literature Review
Globalization brought changes to traditional governance from paper-based administration to electronic governance services (e-government). The Surabaya City Government through the implementation of e-government formed e-health services to improve health services. The purpose of this study was to analyze the application of e-health services in health services at the Surabaya City Health Centers. The method of this research used a literature review study. The Publish on Perish application was used in Google Scholar searches with the keywords "implementation of E-health services", "E-health", "community health centers", and "implementation of E-health in the city of Surabaya" for the period 2016-2023 and on the https://app.covidence.org page to conduct screening so that 13 articles relevant to the topic were obtained. The implementation of e-health services had been implemented and some people and health workers felt the benefits, such as reducing queue volume, shortening patient waiting time, making it easier for patients to receive referral services, and being able to improve the performance of health center staff. However, there were still obstacles, including people who stuttered related to the use of technology, system errors, lights off, no helpdesk feature, patients did not cancel registration when they did not go to the health center, and patients who chose the wrong health centers. Based on this, the researcher concluded that the implementation of e-health had not been carried out properly and was not evenly distributed in all Surabaya City health centers.Globalisasi membawa perubahan pada tata kelola pemerintahan secara tradisional dari administrasi berbasis kertas (paper base) menjadi pelayanan tata kelola pemerintah secara elektronik (e-government). Pemerintah Kota Surabaya melalui penerapan e-government membentuk layanan e-health untuk meningkatkan pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penerapan layanan e-health pada pelayanan kesehatan Puskesmas Kota Surabaya. Metode pada penelitian ini mengunakan studi literature review. Aplikasi Publish on Perish digunakan pada pencarian Google Scholar dengan kata kunci “penerapan layanan E-health”, “E-health”, “Puskesmas”, dan “penerapan E-health di kota Surabaya” untuk rentang waktu 2016-2023 dan pada laman https://app.covidence.org guna melakukan screening sehingga didapatkan 13 artikel yang relevan dengan topik. Implementasi layanan e-health telah dilaksanakan dan sebagian masyarakat maupun tenaga kesehatan telah merasakan manfaatnya seperti mengurangi volume antrian, mempersingkat waktu tunggu pasien, memudahkan pasien dalam pelayanan rujukan, serta dapat meningkatkan kinerja petugas puskesmas. Namun masih terdapat kendala, diantaranya masyarakat yang gagap terkait penggunaan teknologi, sistem error, lampu mati, tidak ada fitur helpdesk, pasien tidak membatalkan pendaftaran ketika tidak jadi berobat ke puskesmas, hingga pasien yang salah memilih puskesmas. Berdasarkan hal tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa penerapan e-health belum terlaksana dengan baik dan belum merata di semua puskesmas Kota Surabaya
Intervensi Akupresur untuk Neuropati Perifer pada Diabetes Melitus dengan Sindrom Lembab Limpa: Studi Kasis dan Literatur Review
Spleen dampness syndrome (Pi Xu Re Yang) characterized by impaired circulation and fluid metabolism exacerbates complications of peripheral neuropathy, peripheral artery disease, and infection in diabetic patients that can lead to limb amputation. The development of diabetic foot ulcers and further nerve damage can be prevented with circulatory treatment and acupressure therapy that can maintain blood circulation to the extremities. The purpose of this case study is to describe the application of acupressure and circulatory care combination to diabetic patients with spleen dampness syndrome. This case study was conducted over three visits in three weeks, using the method of applying foot care, foot exercises, foot spa and footwear selection combined with acupressure techniques on certain meridians to 2 diabetic patients. The results achieved were in the form of decreased complaints of tingling, numbness, and pale skin tone, increased peripheral pulse strength, and improved filling of capillaries and skin turgor. This shows that acupressure-circulation treatment combination was able to reduce neuropathy score from low-risk category to very low-risk category. The case study showed that the application of acupressure-circulation combination was successful in improving peripheral perfusion. Future research was recommended to measure circulation using the Ankle-Brachial Index (ABI) and doppler methods to get an accurate evaluation.Sindrom lembab limpa (Pi Xu Re Yang) yang ditandai dengan gangguan sirkulasi dan metabolisme cairan memperburuk komplikasi neuropati perifer, penyakit arteri perifer, dan infeksi pada pasien diabetes yang dapat menyebabkan amputasi ekstremitas. Perkembangan ulkus kaki diabetik dan kerusakan saraf lebih lanjut dapat dicegah dengan perawatan sirkulasi dan terapi akupresur yang dapat menjaga sirkulasi darah ke ekstremitas. Tujuan studi kasus ini untuk menggambarkan penerapan perawatan sirkulasi kombinasi akupresur pada pasien diabetes dengan sindrom lembab limpa. Studi kasus ini dilakukan selama tiga kunjungan dalam tiga minggu, menggunakan metode penerapan perawatan kaki, senam kaki, spa kaki dan pemilihan alas kaki yang dikombinasikan dengan teknik akupresur pada meridian tertentu pada 2 pasien diabetes. Hasil yang dicapai berupa menurunnya keluhan kesemutan, mati rasa, dan warna kulit pucat, meningkatnya kekuatan nadi perifer, serta membaiknya pengisian kapiler dan turgor kulit. Hal ini menunjukkan bahwa perawatan sirkulasi kombinasi akupresur mampu menurunkan skor neuropati dari kategori risiko rendah menjadi risiko sangat rendah. Studi kasus menunjukkan penerapan sirkulasi kombinasi akupresur berhasil memperbaiki perfusi perifer. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melakukan pengukuran sirkulasi menggunakan metode Ankle-Brachial Index (ABI) dan doppler guna mendapatkan evaluasi yang akurat
Determinan Perilaku SADARI pada Wanita Pekerja Industri
Breast cancer was a serious health problem in women throughout the world. Although much research had been conducted regarding breast self-exam (BSE) behavior, there was still little research on female industrial workers. Female industrial workers had great potential for exposure to carcinogenic substances, besides their busy working hours and activities potentially became obstacles in carrying out routine checks at home. The research aimed to identify the determinants of BSE behavior among female industrial workers in the Karawang area. The study used a cross-sectional approach on 112 female workers aged > 18 years and married. The sampling technique used purposive sampling. The research instrument was a questionnaire measuring the level of knowledge, attitudes and behavior of BSE. The results showed that the majority of respondents had a high level of knowledge (60.7%), sufficient attitude (61.6%), and moderate level of BSE behavior (46.4%). The most influencing determinants of BSE behavior were family history of cancer (OR=13.490), level of knowledge (OR=11.904), attitude (OR=7.873) and education (OR=0.217) respectively. Family history of cancer gave the most significant influence because women with a family history of breast cancer can obtain information easily from the family. Individual internal factors such as knowledge and attitudes also influenced BSE behavior. Therefore, an active role from health workers and workers in industrial work areas was needed to raise awareness about breast cancer and the need for regular BSE.Kanker payudara merupakan masalah kesehatan serius pada wanita di seluruh dunia. Meskipun penelitian terkait perilaku pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) telah banyak dilakukan, namun penelitian pada wanita pekerja industri masih sedikit. Wanita pekerja industri memiliki potensi besar akibat paparan zat karsinogenik, selain itu jam kerja serta aktivitas yang padat berpotensi menjadi kendala dalam pelaksanaan pemeriksaan rutin di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi determinan perilaku SADARI pada wanita bekerja di bidang industri di wilayah Karawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional pada 112 orang pekerja wanita berusia > 18 tahun dan telah menikah. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku SADARI. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan tinggi (60,7%), sikap cukup (61,6%), dan perilaku SADARI tingkat sedang (46,4%). Determinan yang paling mempengaruhi perilaku SADARI adalah riwayat kanker pada keluarga (OR=13,490), tingkat pengetahuan (OR=11,904), sikap (OR=7,873) dan pendidikan (OR=0,217) secara berturut -turut. Riwayat kanker keluarga memiliki pengaruh yang paling signifikan karena wanita yang memiliki riwayat keluarga kanker payudara dapat memperoleh informasi dengan mudah dari keluarga. Faktor internal individu seperti pengetahuan dan sikap juga mempengaruhi perilaku SADARI. Oleh karena itu, peran aktif tenaga kesehatan maupun pekerja di wilayah kerja industri dibutuhkan untuk meningkatkan kesadaran tentang kanker payudara dan perlunya pemeriksaan SADARI secara berkala