Faletehan Health Journal
Not a member yet
273 research outputs found
Sort by
Work-Family Conflict pada Pekerja Perempuan; Menyelami Peran Ganda antara Keluarga dan Tanggung Jawab Bekerja
Working women frequently encounter work-family conflict as they strive to balance career demands with domestic responsibilities. This dual role creates significant pressure, which negatively impacts their health and well-being. This study aimed to explore the experiences and challenges of working women as they navigate these dual roles. A qualitative research design with a phenomenological approach was chosen for this study. Data was collected through in-depth, semi-structured open-ended interviews with five working mothers aged 25-45 who live with their children and husbands. All participants signed an informed consent form and agreed to have the 30–45minute interviews recorded. The interview transcripts underwent participant validation before being analyzed using a thematic analysis technique. The primary findings revealed that time management is the biggest challenge for these women. The struggle to balance roles includes managing time for effective communication, selecting the right parenting style, obtaining adequate rest, and completing all tasks. Their demanding schedules, heavy responsibilities, and exhausting workloads lead to a feeling that there is not enough time to successfully manage both their roles as mothers and employees. This condition can lead to health and social problems.Perempuan yang bekerja sering menghadapi konflik kerja-keluarga (work-family conflict) karena harus menyeimbangkan tuntutan karier dan tanggung jawab rumah tangga. Peran ganda ini menciptakan tekanan yang berdampak negatif pada kesehatan dan kesejahteraan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi tentang pengalaman dan tantangan perempuan pekerja dalam menjalani peran ganda. Desain penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dipilih dalam penelitian ini. Sebanyak lima orang ibu dengan kriteria bekerja, berusia 25-45 tahun, memiliki anak, dan tinggal bersama anak dan suami, terlibat dalam pengumpulan data yang dilakukan dengan in-dept interview with semi-structured open-ended question. Seluruh partisipan telah menandatangi informed consent dan kesediaan untuk direkam selama wawancara yang berlangsung 30-45 menit. Transkrip wawancara divalidasi oleh partisipan sebelum dianalsis menggunakan teknik thematic analysis. Temuan utama menunjukkan bahwa manajemen waktu adalah tantangan terbesar bagi perempuan pekerja dalam menjalani peran ganda, yaitu mengelola waktu untuk digunakan berkomunikasi secara baik, memilih parenting yang tepat, mendapatkan istirahat yang adekuat, dan mengelola waktu untuk menyelesaikan semua tugas. Jadwal yang padat, tanggung jawab yang berat, dan beban kerja yang melelahkan membuat waktu terasa tidak cukup untuk menyeimbangkan peran ganda sebagai ibu dan pekerja. Kondisi ini dapat menyebabkan masalah kesehatan dan sosial
Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stunting pada Balita
Many toddlers in Indonesia still suffered from chronic malnutrition. The condition was still not in line with sustainable development goals (SDGs)\u27s target of eliminating all forms of malnutrition by 2030. This study aimed to analyse the influence of maternal anemia, low birth weight (LBW), and birth spacing on incidence of stunting. The study employed an analytical approach with a cross-sectional design. The research instrument was a checklist sheet with secondary data sources from monitoring the local area of maternal and child health (PWS KIA) and registers. A total of 93 toddlers were selected for this study using simple random sampling. The statistical tests used were chi-square tests. The results showed that almost all of toddlers did not have a history of anemia (79.57%). Similarly, nearly all toddlers did not have a history of low birth weight (LBW) (94.62%). Almost half of toddlers had an interpregnancy interval of two years (49.46%). Most toddlers were not affected by stunting (67.74%). The data analysis showed that a history of anemia did not affect on stunting (ρ = 0.632 and OR= 1.29). However, history of LBW did influence stunting (ρ = 0.001 and OR = 119.23). The interval between pregnancies also affected on stunting (ρ = 0.000 and OR = 25.75). Through the provision of good nutrition and proper parenting, the risk of stunting in toddlers can be reduced. History of anemia had no effect, while history of LBW and interpregnancy interval had an effect on the incidence of stunting. The next pregnancy needs to be planned by setting a minimum spacing of 2 years to 5 years.Balita di Indonesia masih banyak yang mengalami kurang gizi kronis. Kondisi ini belum sesuai dengan target tujuan pembangunan berkelanjutan/sustainable development goals (TPB/SDGs), yaitu menghapuskan semua bentuk kekurangan gizi pada tahun 2030. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh riwayat anemia ibu hamil, Riwayat bayi berat lahir rendah (BBLR), dan jarak kehamilan terhadap kejadian stunting. Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross-sectional. Instrumen penelitian menggunakan lembar ceklis dengan sumber data sekunder dari pemantauan wilayah setempat kesehatan ibu dan anak (PWS KIA) dan register. Besar sampel terdiri dari 93 balita yang dipilih menggunakan teknik pengambilan simple random sampling. Uji statistik menggunakan chi square. Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruh balita tidak mempunyai riwayat anemia (79,57%). Hampir seluruh balita tidak mempunyai riwayat BBLR (94,62 %). Hampir setengah balita mempunyai jarak kehamilan 2 tahun (49,46%). Sebagian besar balita tidak mengalami stunting (67,74%). Hasil analisis data menunjukkan riwayat anemia tidak berpengaruh terhadap kejadian stunting (ρ= 0,632 dan OR= 1,29). Riwayat BBLR (ρ= 0,001 dan OR= 119,23), jarak kehamilan berpengaruh terhadap kejadian stunting (ρ= 0,000 dan OR= 25,75). Melalui pemberian nutrisi yang baik dan pola asuh yang tepat, resiko kejadian stunting pada balita dapat diturunkan. Riwayat anemia tidak berpengaruh, sementara riwayat BBLR dan jarak kehamilan berpengaruh terhadap kejadian stunting. Kehamilan selanjutnya perlu direncanakan dengan mengatur jarak minimal 2 tahun hingga 5 tahun
Video Edukasi Range of Motion sebagai Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Family Caregiver Pasien Stroke
Previous studies have shown that the level of family knowledge increases significantly after receiving health education about the treatment of stroke patients and the use of video media is effective in increasing family knowledge, especially on how to perform range of motion (ROM). This research aims to assess how ROM educational videos impact the knowledge and skills of family caregivers in training stroke patients. It used a pre-experiment one group pretest-posttest approach. The research sample was 50 family caregivers with stroke at Ajibarang Hospital in East Java, Indonesia, selected by purposive sampling technique. The instruments used were questionnaires and checklist sheets. ROM education was conducted once via a 10-minute video. The results were analyzed using the Wilcoxon test. The research results showed an influence of ROM educational videos on the knowledge and skills of family caregivers with a p-value = 0.001. Further research could add a comparison group and increase the frequency of the intervention. The authors recommended a regular implementation of health education using video media as part of routine educational programs in healthcare facilities. This is because videos have been proven to enhance family caregivers’ understanding by combining audio and visuals and being able to replay at any time.Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan keluarga meningkat signifikan setelah mendapat edukasi kesehatan tentang perawatan pasien stroke dan penggunaan media video efektif dalam meningkatkan pengetahuan keluarga khususnya tentang cara melakukan range of motion (ROM). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh video edukasi ROM terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan family caregiver dalam melatih pasien stroke. Penelitian ini menggunakan pendekatan pre-experiment one group pretest-posttest. Sampel penelitian adalah 50 family caregiver penderita stroke di RSUD Ajibarang, Jawa Tengah, Indonesia, dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen berupa kuesioner dan lembar ceklis. Intervensi dilakukan sebanyak 1x penayangan video berdurasi 10 menit. Hasil pengukuran dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian memperlihatkan terdapat pengaruh video edukasi ROM terhadap tingkat pengetahuan dan keterampilan family caregiver dengan nilai p = 0,001. Penelitian selanjutnya dapat menambahkan kelompok pembanding serta menambah frekuensi intervensi. Penulis merekomendasikan pelaksanaan edukasi kesehatan secara berkala menggunakan media video sebagai bagian dari program edukasi rutin di fasilitas layanan kesehatan. Hal ini karena media video terbukti dapat meningkatkan pemahaman family caregiver dengan menggabungkan audio dan visual serta dapat diputar ulang kapan saja
Analisis Tindakan Pencegahan Strok pada Penderita Hipertensi
One of the non-communicable diseases that has become a major health problem in Indonesia is hypertension which can lead to dangerous complications such as stroke. Stroke patients often experience death and may also suffer from disability, so the preventions are urgently required. The purpose of this study was to identify stroke prevention practices among patients with hypertension. This research employed a cross-sectional design with a sample of 107 hypertension patients visiting the Cipayung Health Centre. The study was conducted from May to September 2024. Data were collected using a questionnaire and analysed through univariate, bivariate (chi-square test), and multivariate (logistic regression test) analysis. Based on the research findings, most respondents had good stroke prevention practices (70.1%). The variables that showed a significant association with stroke prevention practices were education (p=0.049; OR=2.603), knowledge (p=0.0001; OR=16.611), sources of information (p=0.033; OR=5.455), family support (p=0.001; OR=5.455), and support from health workers (p=0.047; OR=2.737). Age (p=0.813), gender (p=0.720), and attitude (p=0.115) were not statistically associated. The dominant factor was knowledge (OR=14.788), meaning that hypertensive patients with high knowledge were 14.788 times more likely to engage in stroke prevention practices compared to those with low knowledge, after controlling for family support and health worker support. Community health centers as primary healthcare facilities should implement various health programs that support efforts of non-communicable diseases preventions, such as health education, community service activities, and medical check-ups.Salah satu penyakit tidak menular yang menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia adalah penyakit hipertensi yang dapat mengakibatkan komplikasi berbahaya seperti strok. Penderita strok sering mengalami kematian atau kecacatan sehingga perlu dicegah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tindakan pencegahan strok pada penderita hipertensi. Jenis penelitian adalah desain cross-sectional dengan sampel penderita hipertensi yang berkunjung ke Puskesmas Cipayung sebanyak 107 orang. Penelitian dilakukan pada bulan Mei – September 2024. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat, bivariat (uji kai kuadrat), dan multivariat (uji regresi logistik). Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden memiliki tindakan pencegahan strok yang baik (70,1%). Variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan tindakan pencegahan strok, yaitu pendidikan (p=0,049; OR=2,603), pengetahuan (p=0,0001; OR=16,611), sumber informasi (p=0,033; OR=5,455), dukungan keluarga (p=0,001; OR = 5,455), dan dukungan petugas (p=0,047; OR=2,737). Umur (p=0,813), jenis kelamin (p= 0,720) dan sikap (p=0,115) tidak berhubungan secara statistik. Faktor dominan ditemukan pada variabel pengetahuan (OR=14,788), artinya penderita hipertensi yang berpengetahuan tinggi akan berpeluang melakukan tindakan pencegahan strok sebesar 14,788 kali lebih baik dibandingkan dengan penderita hipertensi yang berpengetahuan rendah setelah dikontrol oleh dukungan keluarga dan dukungan petugas. Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan primer agar dapat menjalankan berbagai program kesehatan yang mendukung upaya pencegahan penyakit tidak menular misalnya penyuluhan, kegiatan pengabdian masyarakat dan pemeriksaan kesehatan
Faktor Risiko Krisis Identitas pada Remaja
Adolescents are particularly vulnerable to experiencing identity crisis due to their inability to resolve internal conflicts effectively. The emergence of an identity crisis can be influenced by several factors, including the roles of parents, teachers, classmates, close friends, and other individuals within the school environment. This research aimed to identify the risk factors associated with identity crisis among adolescents. It used a quantitative research method with a cross-sectional design and chi-square statistical analysis. The sample consisted of 175 students of a junior high school from grades 8 and 9, selected through cluster random sampling technique. Data were collected using Child and Adolescent Social Support Scale (CASSS) and an identity crisis questionnaire. The findings indicated that 79% of respondents experienced a moderate level of identity crisis. There was a significant correlation between identity crisis and the roles of parents (p=0.001), teachers (p=0.001), classmates (p=0.001), close friends (p=0.001), and other individuals in the school environment (p=0.001). To conclude, most adolescents experience a moderate-level identity crisis. Low levels of support from parents, teachers, peers, and the school environment were correlated with the increased risk of identity crisis in adolescents.Krisis identitas pada remaja sangat rentan terjadi karena ketidakmampuan mereka dalam menyelesaikan konflik dalam dirinya dengan baik. Krisis identitas dapat dipengaruhi oleh faktor peran orangtua, peran guru, peran teman kelas, peran teman dekat dan peran orang di sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko krisis identitas pada remaja. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan rancangan penelitian cross-sectional dengan uji chi square. Sampel terdiri dari 175 siswa kelas 8 dan 9 sebuah sekolah menengah pertama yang dipilih melalui teknik cluster random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji statistik. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Child and Adolescent Social Support Scale (CASSS) dan kuesioner krisis identitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 79% responden mengalami krisis identitas sedang. Terdapat hubungan yang signifikan antara peran orangtua (p=0,001), peran guru (p=0,001), peran teman kelas (p=0,001), peran teman dekat (p=0,001), dan orang di sekolah (p=0,001) dengan krisis identitas pada siswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sebagian besar remaja mengalami krisis identitas tingkat sedang. Dukungan yang rendah dari orangtua, guru, teman, dan lingkungan sekolah berkaitan dengan meningkatnya risiko krisis identitas pada remaja
Prevalensi dan Determinan Stunting di Daerah Istimewa Yogyakarta: Analisis Data SSGI 2024
The decline in stunting prevalence nationally shows a positive trend, but challenges remain at the regional level, including in the Special Region of Yogyakarta (DIY). This study aims to analyze trends in stunting prevalence and its determinants in DIY Province, using data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI), to inform regional policy interventions. The method used is a descriptive, quantitative approach with a comparative analysis of national data. The data collection technique was carried out by accessing the 2024 SSGI Results Book in Figures at the link www.badankebijakan.kemkes.go.id. The results indicate that all districts/cities in DIY reported stunting prevalence rates below the national average in 2024, although disparities between regions are still evident, particularly in Gunungkidul Regency. Several prominent determinants include the high incidence of closely spaced pregnancies, low participation in prenatal classes, and the proportion of babies born with low birth weight and short birth length (LBW and SBL). Furthermore, access to growth monitoring, the quality of complementary feeding (MPASI), and adequate sanitation and drinking water also contribute significantly. These findings underscore the importance of sustainable, specific, and sensitive nutrition interventions, as well as a multisectoral approach involving families and communities. This study is expected to serve as a reference for local governments in developing evidence-based policies to accelerate stunting reduction in DIY.Penurunan prevalensi stunting secara nasional menunjukkan tren positif, namun masih terdapat tantangan di tingkat daerah, termasuk di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren prevalensi dan determinan stunting di Provinsi DIY berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 sebagai dasar intervensi kebijakan daerah. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan komparatif terhadap data nasional. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengakses Buku Hasil SSGI 2024 Dalam Angka pada link www.badankebijakan.kemkes.go.id. Hasil menunjukkan bahwa seluruh kabupaten/kota di DIY telah mencatat prevalensi stunting di bawah angka nasional pada tahun 2024, meskipun ketimpangan antarwilayah masih terlihat, khususnya di Kabupaten Gunungkidul. Beberapa determinan yang menonjol meliputi tingginya kejadian kehamilan dengan jarak terlalu dekat, rendahnya partisipasi kelas ibu hamil, serta proporsi bayi lahir dengan berat badan dan panjang badan rendah (BBLR dan PBLR). Selain itu, akses terhadap pemantauan pertumbuhan, kualitas MPASI, serta sanitasi dan air minum yang layak juga berkontribusi signifikan. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya intervensi gizi spesifik dan sensitif yang berkelanjutan, serta pendekatan multisektoral yang melibatkan keluarga dan komunitas. Kajian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan berbasis bukti untuk percepatan penurunan stunting di DIY
Penurunan Distres Psikologi Remaja dengan Penyakit Kronis melalui Peer Group Support: Scoping Review
Adolescents with chronic illnesses are at high risk of psychological distress such as stress, anxiety and depression that can affect their overall quality of life. One of effective approaches to reduce these impacts is peer group support. This study was to examine the effects of peer group support intervention in reducing psychological distress in adolescents with chronic illness through scoping review. The articles were obtained from SpringerLink, Science Direct, Taylor & Francis, Proquest, Scopus, BMC, and PubMed databases. Article selection was done by the PRISMA-ScR method. Searches of 7 databases obtained 1,578 articles. Based on the inclusion criteria, 291 articles were eligible. Further screening based on title, abstract, and full text selected 10 articles for analysis. Furthermore, the quality of the article was assessed using Jonna Briggs Institute (JBI). The results showed that peer group support reduced stress, anxiety, depression, and increased social support and emotional well-being. Interventions that emphasized active communication among adolescents have a positive impact on psychological disorders. Peer group support can reduce psychological distress in adolescents with chronic illness. This approach also strengthens positive social relationships among adolescents. Further research is needed to explore the factors that influence the success of this intervention and develop more adaptive support models.Remaja dengan penyakit kronis berisiko tinggi mengalami distres psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi yang dapat memengaruhi kualitas hidup mereka secara keseluruhan. Salah satu pendekatan yang efektif untuk mengurangi dampak tersebut adalah intervensi peer group support. Penelitian ini mengkaji pengaruh intervensi peer group support dalam menurunkan distres psikologis pada remaja dengan penyakit kronis melalui scoping review. Artikel didapatkan dari database SpringerLink, Science Direct, Taylor & Francis, Proquest, Scopus, BMC, dan PubMed. Seleksi artikel dilakukan dengan metode PRISMA-ScR. Penelusuran dari 7 database menghasilkan 1.578 artikel. Berdasarkan kriteria inklusi, 291 artikel memenuhi syarat. Selanjutnya skrining berdasarkan judul, abstrak, dan teks lengkap menghasilkan 10 artikel untuk dianalisis. Kualitas artikel dinilai dengan menggunakan Joanna Briggs Institute (JBI). Hasil analisis menunjukkan bahwa peer group support mengurangi stres, kecemasan, depresi, serta meningkatkan dukungan sosial dan kesejahteraan emosional. Intervensi yang menekankan komunikasi aktif antara remaja memberikan dampak positif terhadap gangguan psikologis. Peer group support dapat menurunkan distres psikologis pada remaja dengan penyakit kronis. Pendekatan ini juga memperkuat hubungan sosial positif pada remaja. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menggali faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan intervensi ini dan mengembangkan model dukungan yang lebih adaptif
Pengaruh Lactation Massage terhadap Produksi ASI pada Ibu Nifas Post Sectio Caesaria di Rumah Sakit
Postpartum mothers who have undergone Caesarean section are susceptible to delays in the lactation process. Lactation massage can be performed to overcome the obstacles in breast milk production. This study aims to analyze the effect of lactation massage on increasing breast milk production in postpartum mothers after Caesarean section. This study is a quasi-experimental type using a two-group pre-post test control group design. The samples of this study consisted of 36 respondents at Wisma Prasanthi Hospital who were selected using non-probability purposive sampling technique, a method of selecting respondent samples that match the research problem. Breast milk production was measured using a measuring cup and an observational sheet before and after the intervention was given. The statistical test used to test the hypothesis was the Mann-Whitney test. The results of data analysis obtained a p-value = 0.000 < α (0.05), which can be concluded that there is an effect of lactation massage on breast milk production in postpartum mothers after Caesarean section. The research result may have implication on professional midwifery education and midwifery service.Ibu pasca persalinan yang menjalani operasi sectio caesaria rentan mengalami keterlambatan dalam proses laktasi. Pijat laktasi dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam produksi ASI ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pijat laktasi terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu nifas pasca operasi sectio caesarea. Penelitian ini merupakan jenis kuasi eksperimental dengan menggunakan rancangan two group pre-post test control grup design. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 36 responden di Rumah Sakit Wisma Prashanti yang dipilih dengan teknik non-probability purposive sampling, yaitu cara pengambilan sampel responden yang sesuai dengan permasalahan penelitian. Produksi ASI diukur menggunakan gelas ukur dan lembar observasi sebelum dan setelah diberikan intervensi. Uji statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah Man-Withney test. Hasil analisis data memperoleh p value = 0,000 < ɑ (0,05) yang dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh pijat laktasi terhadap produksi ASI pada Ibu nifas post sectio caesaria. Hasil penelitian ini berimplikasi pada pendidikan profesi kebidanan dan pelayanan kebidanan
Meningkatkan Perilaku Pencegahan Diare pada Anak Usia Sekolah melalui Permainan Terapeutik Wayang Golek Cepak Tegalan
Diarrhoea is the leading cause of death among children both globally and nationally, can be prevented through therapeutic play using local cultural approaches such as wayang golek cepak tegalan (traditional puppet show). Nurses play an important role as health educators in improving diarrhea prevention behaviours among school-aged children through the play. This study aimed to analyse the effects of wayang golek cepak tegalan therapeutic play on diarroea prevention behaviours among school-aged children. The research design was pre-experimental with a one-group pre- and post-test design without a control group. The sampling technique used was purposive sampling with a sample size of 38 school-aged children. The research instruments were questionnaires and observation sheets on diarrhea prevention behaviour, which included knowledge, attitudes, and practices. Data analysis used a paired sample t-test. The results showed that the average score for children\u27s behaviour before the intervention was 62.11, while after the intervention was 84.82 with a p-value <0.001. There was an effect of therapeutic play with wayang golek cepak tegalan on diarrhea prevention behaviour among school-age children. Nurses can apply the therapeutic play of wayang golek cepak tegalan to improve diarrhoea prevention behaviour in school-aged children.Diare menjadi penyebab kematian utama pada anak-anak baik secara global maupun nasional dan dapat dicegah melalui bermain terapeutik dengan pendekatan budaya lokal seperti wayang golek cepak tegalan. Peran perawat sebagai edukator diperlukan untuk meningkatkan perilaku pencegahan diare pada anak usia sekolah melalui edukasi kesehatan tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh bermain terapeutik wayang golek cepak tegalan terhadap perilaku pencegahan diare pada anak usia sekolah. Desain penelitian adalah pra-eksperimental dengan one-group pre- dan post test design without control group. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan besar sampel 38 anak usia sekolah. Instrumen penelitian adalah kuesioner dan lembar observasi perilaku pencegahan diare yang meliputi pengetahuan, sikap, dan praktik. Analisis data menggunakan paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai perilaku anak sebelum intervensi sebesar 62,11 dan setelah intervensi 84,82 dengan p-value <0,001. Ada pengaruh bermain terapeutik wayang golek cepak tegalan terhadap perilaku pencegahan diare pada anak usia sekolah. Perawat dapat menerapkan permainan terapeutik wayang golek cepak tegalan untuk meningkatkan perilaku pencegahan diare pada anak usia sekolah
Hubungan Tuntutan Kuantitatif Pekerjaan dan Konflik Pekerjaan Kehidupan dengan Tingkat Distres Kerja pada Pegawai Rumah Sakit
Health care workers are at high risk of experiencing work-related distress both somatic and cognitive due to high quantitative job demands and work–life conflict. This study aimed to determine the relationship between quantitative job demands and work-life conflict with the level of work-related distress among hospital employees. This study used a cross-sectional study design. A total of 279 respondents were involved in the study through total sampling. Data were collected from April to June 2025 using the standardized questionnaire of the long version of the Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ III). Data analysis was carried out using the Spearman rank correlation test with a significance level of 5% (α = 0.05). The analysis result revealed a positive association between quantitative job demands and somatic distress (ρ = 0.35, p < 0.001) as well as cognitive distress (ρ = 0.42, p < 0.001). Work–life conflict also correlated positively with somatic (ρ = 0.44, p < 0.001) and cognitive distress (ρ = 0.41, p < 0.001). These findings indicate that the greater quantitative job demands and work–life conflicts are associated with higher levels of work-related distress among healthcare workers in hospital.Pegawai rumah sakit memiliki risiko tinggi mengalami distres kerja baik somatik maupun kognitif, disebabkan oleh tingginya tuntutan kuantitatif pekerjaan dan konflik pekerjaan–kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tuntutan kuantitatif pekerjaan dan konflik pekerjaan–kehidupan dengan tingkat distres kerja pada pegawai rumah sakit. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study. Sejumlah 279 responden dilibatkan dalam penelitian yang dikumpulkan melalui total sampling. Pengumpulan data dilakukan pada bulan April hingga Juni 2025 menggunakan kuesioner terstandar Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ III) versi panjang. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman rank dengan tingkat signifikansi 5% (α = 0.05). Hasil analisis menunjukkan adanya korelasi positif antara tuntutan kuantitatif pekerjaan dan distres somatik (ρ = 0.35; p < 0.001) serta distres kognitif (ρ = 0.42; p < 0.001). Selain itu, konflik pekerjaan–kehidupan juga menunjukkan korelasi positif dengan distres somatik (ρ = 0.44; p < 0.001) dan distres kognitif (ρ = 0.41; p < 0.001). Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan tuntutan kuantitatif pekerjaan dan konflik pekerjaan–kehidupan berhubungan dengan peningkatan distres kerja pada pegawai rumah sakit