Faletehan Health Journal
Not a member yet
273 research outputs found
Sort by
Determinan Sosial Terhadap Tingkat Literasi Kesehatan Pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Kota Cilegon: literasi kesehatan
Studi terdahulu telah menunjukkan hubungan yang positif antara literasi kesehatan dengan status kesehatan serta pemanfaatan layanan kesehatan, namun belum banyak penelitian mengenai literasi kesehatan pada penderita hipertensi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan sosial yang mempengaruhi tingkat literasi kesehatan pada pasien hipertensi di Kota Cilegon, Banten. Dengan menggunakan disain potong lintang, penelitian ini mengambil data dari pasien hipertensi di delapan puskesmas di Kota Cilegon (n=138). Pengukuran literasi kesehatan dilakukan menggunakan instrumen Health Literacy Scale European Union dengan 16 pertanyaan yang telah diadaptasi. Analisis dilakukan menggunakan model regresi linier ganda dengan literasi kesehatan sebagai variabel dependen dan determinan sosial seperti jenis kelamin, kelompok usia, pendidikan, penghasilan, dan pekerjaan sebagai variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan rerata skor literasi kesehatan pada penderita hipertensi adalah 58.4 (SD=14.2) dari skala 100. Hasil analisis regresi linier ganda menunjukkan hubungan yang bermakna antara skor literasi kesehatan dengan usia (b=-6.1, SE=1.8, p=0.01), pendidikan (b=12.5, SE=2.7, p<0.001), dan penghasilan (b=9.1, SE=2.2, p<0.001). Hasil ini mengindikasikan perlunya penanganan ekstra pada penderita hipertensi yang berusia lanjut, berpendidikan kurang dari SMA, dan berpenghasilan di bawah upah minimum regional
Hubungan Pengetahuan, Pendidikan dan Dukungan Keluarga dengan Pemberian ASI Eksklusif
Breastfeeding is an ideal source of nutrition with a balanced composition and adapted to the baby\u27s growth needs. Based on data from the 2012 IDHS, babies who exclusively breastfed up to 6 months were 42 percent. The main causes are low maternal knowledge and lack of family support in breastfeeding. Peucangpari Village is one of the villages in the working area of Cigemblong Health Center, Lebak, Banten, where the coverage of exclusive breastfeeding is still low, which is only 11.9%. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge, education and family support with exclusive breastfeeding. This study is a correlation with a cross sectional approach. The population in this study were mothers who had babies aged 6-24 months in Peucangpari Village, Cigemblong Lebak as many as 42 people, the study sample was taken using a total population technique. The results showed that there was a relationship between knowledge, education, and family support with exclusive breastfeeding in Peucangpari Village, Cigemblong Lebak in 2018. Researchers suggested the need to provide health education to all communities, especially mothers who have babies about the benefits of exclusive breastfeeding, so that the community or mother those who have not given exclusive breastfeeding to their babies can increase their knowledge and will give exclusive breastfeeding to their babies.ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. Berdasarkan data SDKI 2012, bayi yang menyusui eksklusif sampai 6 bulan yaitu sebesar 42 persen. Penyebab utama adalah rendahnya pengetahuan ibu dan kurangnya dukungan keluarga dalam pemberian ASI. Desa Peucangpari adalah salah satu desa di wilayah kerja Puskesmas Cigemblong Kabupaten Lebak Banten yang cakupan pemberian ASI eksklusif masih rendah, yaitu hanya sebesar 11,9%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan, pendidikan dan dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini bersifat korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 6-24 bulan di Desa Peucangpari Kecamatan Cigemblong Lebak sebanyak 42 orang, sampel penelitian diambil dengan menggunakan teknik total populasi. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan, pendidikan, dan dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif di Desa Peucangpari Kecamatan Cigemblong Lebak Tahun 2018. Peneliti menyarankan perlu memberikan pendidikan kesehatan pada seluruh masyarakat, khususnya ibu yang memiliki bayi tentang manfaat ASI eksklusif, sehingga masyarakat atau ibu yang belum memberikan ASI eksklusif pada bayinya bisa bertambah pengetahuannya dan akan memberikan ASI eksklusif pada bayinya
Implementasi Manajemen Risiko Berdasarkan ISO 31000:2009 pada Program Perawatan Mesin di Area Workshop PT. X
Machine maintenance programs in workshop area are high risk working units in terms of work accidents. This research purpose was to explore implementation of risk management based on ISO 31000:2009 of machine maintenance program in workshop area. This research was a qualitative research according to ISO 31000:2009. The informants in this research were head workshop as main informant, maintenance department head as key informant and worker in workshop as supporting informant. The engine maintenance program in the workshop area consists of 3 work stages namely fabrication, assembly and service (finishing). The results showed that from hazard identification results found physical hazard, chemical hazard, biological hazard, ergonomic hazard and psychological hazard. Risk analysis results were not found to be hazards with extreme risk, 3 dangers on the level of high risk, 13 dangers in the level of moderate risk hazards and 11 dangers in the level of low risk. Forms of risk treatment is in the initial treatment using risk mitigation methods for each of the risks faced, then the next treatment includes risk transfer, avoiding risk and accepting risks. Based on the result of a defined risk treatment, the recommendation or treatment of possible risks is an effective control measure and appropriate treatment in dealing with various possible risks.Program perawatan mesin di area workshop merupakan unit pekerjaan yang berisiko tinggi dalam hal kecelakaan kerja. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui implementasi manajemen risiko berdasarkan ISO 31000:2009 pada program perawatan mesin di area workshop. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif menurut ISO 31000:2009. Informan penelitian adalah head workshop sebagai informan utama, maintenance department head sebagai informan kunci dan pekerja di workshop sebagai informan pendukung. Program perawatan mesin di area workshop terdiri dari 3 tahapan pekerjaan yaitu fabrikasi, perakitan dan service (finishing). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil identifikasi bahaya ditemukan bahaya fisik, bahaya kimia, bahaya biologis, bahaya ergonomi dan bahaya psikologi. Hasil analisis risiko tidak didapati bahaya dengan risiko sangat tinggi, 3 bahaya dengan risiko tinggi, 13 bahaya dengan risiko sedang dan 11 bahaya dengan risiko rendah. Bentuk perlakuan risiko yaitu pada perlakuan awal menggunakan metode mitigasi risiko untuk setiap risiko yang dihadapi, kemudian perlakuan berikutnya antara lain transfer risiko, menghindari risiko dan menerima risiko. Berdasarkan hasil dari perlakuan risiko yang ditetapkan, adanya rekomendasi atau penanganan dari risiko yang mungkin terjadi yaitu berupa tindakan pengendalian yang efektif serta perlakuan yang tepat dalam menangani berbagai kemungkinan risiko
Rebusan Buah Asam dan Jahe Sebagai Upaya Mengurangi Dismenore
Every healthy woman will get experience a menstruation cycle every month. More than 50% of women in each country experience dysmenorrhea. One way to deal with dysmenorrhea is by using decoction. The purpose of this study was to determine the differences of the tamarind decoction and ginger decoction in reducing on dysmenorrhea. The design of this study was quasi experiment pre and post test with a sample of 30 students which was divided into two groups. Each group was given extract water of tamarind and ginger decoction in the morning and evening during menstruation first day to third day. Respondents were assessed for pain before and after intervention. Data was analyzed by using independent T-Test. The results of the study showed that respondents who were given tamarind decoction before intervention 60% experienced moderate pain and after the intervention 87% experienced mild pain, while respondents who were given ginger decoction before intervention 67% experienced moderate pain and after intervention 73% experienced mild pain. This study concluded that ginger decoction was more effective than tamarind decoction. It is recommended that future researchers conduct research to reduce dysmenorrhea with another herbal besides tamarind decoction or ginger decoction.SSetiap wanita sehat akan mengalami siklus menstruasi pada setiap bulannya. Lebih dari 50% wanita di setiap negara mengalami nyeri menstruasi atau dismenore. Cara mengatasi dismenore yang aman adalah dengan rebusan herbal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan efektivitas asam dan jahe dalam mengurangi dismenore. Desain penelitian ini menggunakan quasi eksperimen pre dan post test dengan sampel 30 mahasiswa yang dibagi dua kelompok. Masing-masing kelompok diberikan rebusan asam dan rebusan jahe pada pagi dan sore hari selama menstruasi hari pertama sampai hari ketiga. Responden dilakukan pengkajian nyeri sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Analisis dengan menggunakan independent T-Test. Hasil didapatkan responden yang diberikan rebusan buah asam sebelum intervensi 60% mengalami nyeri sedang dan setelah intervensi 87% mengalami nyeri ringan, sedangkan responden yang diberikan rebusan jahe sebelum intervensi 67% mengalami nyeri sedang dan setelah intervensi 73% mengalami nyeri ringan sehingga disimpulkan rebusan jahe lebih efektif dibandingkan rebusan asam. Diharapkan peneliti selanjutnya melakukan penelitian mengurangi dismenore dengan rebusan herbal selain buah asam dan jahe
Studi Fenomenologi: Pelaksanaan Patient Center Care Perspektif Pasien dan Perawat di RS dr. Dradjat Prawiranegara Serang
Nursing service is one of the requirements that must be implemented in a health care service provider in Indonesia. Patient-centered care (PCC) is an approach that fosters patient-centered health care. It is an approach to fostering reciprocal relationships between service providers and patients. The aim of the study was to determine the phenomenon of the implementation of PCC in the perspective of patients and nurses. The design in the study used a descriptive narrative qualitative design. The results of the study found the themes that emerged from patient participants consisted of: lack of health information received and treatment that lacked care in care; patients are not familiar with their condition and suggestions with traditional medicine; family support needed by patients. While the themes that emerged from nurse participants consisted of: Less recognition of PCC and less optimal nursing care; special team for patient referrals / referrals to the next level; delivering health information from health workers. This study concluded that it was necessary to increase the understanding of PCC to service providers and patients. So that hospitals can form a special referral system for patients to further services.Pelayanan keperawatan merupakan salah satu kebutuhan yang harus dilaksanakan dalam sebuah organisasi pelayanan kesehatan di Indonesia. Pelayanan keperawatan yang berfokus pada pasien atau biasa disebut PCC (Patient Centered Care) merupakan pendekatan membina hubungan timbal balik antara penyedia pelayanan dan pasien. Tujuan penelitian untuk mengetahui fenomena pelaksanaan PCC perspektif pasien dan perawat. Desain dalam penelitian menggunakan kualitatif dengan pendekatan deskriptif naratif. Hasil penelitian mendapatkan tema yang muncul dari partisipan pasien terdiri dari: kurang informasi kesehatan yang diterima dan perlakuan yang kurang care dalam perawatan; pasien kurang mengenal kondisi diri dan sugesti dengan pengobatan tradisional; dukungan keluarga yang dibutuhkan pasien. Sedangkan tema yang muncul dari partisipan perawat terdiri dari: pengenalan yang kurang mengenai PCC dan asuhan keperawatan kurang optimal; tim khusus untuk referral/ rujukan pasien ke tingkat selanjutnya; penyampaian informasi kesehatan dari tenaga kesehatan. Penelitian ini merekomendasikan perlu peningkatan pemahaman PCC kepada pemberi pelayanan dan pasien, agar RS bisa membentuk sistem rujukan khusus untuk pasien ke pelayanan selanjutnya
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Respon Keluarga Penderita Gangguan Jiwa Rawat Jalan di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sulawesi Tenggara
People with mental disorders often get greater stigma and debate from their respective communities than individuals who suffer from other diseases. Not only does it attract negatives towards sufferers, but also for family members, asking for tolerance, denial, and exclusion. This study discusses factors related to family response. This type of research is observational analytic using a cross sectional design with a total sample of 43 respondents. The sample is determined using purposive sampling. The technique of collecting data using questionnaires and collecting with chi square (X2) statistics. The results showed that there was a weak relationship between knowledge and family responses of outpatients with mental disorders (X2hit = 7.467, phi = 0.477), there was a moderate relationship between family structures and responses of street mental health nurses (X2hit = 10.356, phi = 0.557) , there is a strong relationship between the support system with outpatient emergency response families (X2hit = 16,320, phi = 0,675), There is a strong relationship between family resources and the outpatient family response (X2hit = 10,689, phi = 0,557). This study can conclude that family respondents to mental problems are related to knowledge, family structure, support systems and family resources
Pengaruh Pengetahuan Tentang Dampak Gadget Pada Kesehatan Terhadap Perilaku Penggunaan Gadget Pada Siswa SDN Kebun Bunga 6 Banjarmasin
The progress of the age in the field of technology is growing. The technology that is very popular in this era of globalization is a gadget. The use of gadgets in children is increasing. The Academy of American Pediatricians and the Canadian Pediatricians Association stresses the need for limitations in the use of technology in children, children aged 6-18 years are limited to using only 2 hours per day. Children and adolescents who use technology exceed the recommended time limit have health risks. Lack of understanding about the impact of using gadgets makes children behave using it excessively. The purpose of this study was to determine the effect of knowledge about the impact of gadgets on health on the behavior of gadget use in students of Kebun Bunga 6 Banjarmasin Elementary School. This study is an analytical survey research with a cross sectional approach. The population in this study were all students of class VI SD Negeri Kebun Bunga 6 Banjarmasin. The sample in this study is the total of the population as many as 50 students. The results of a simple Linear Regression analysis show the influence of knowledge about the impact of gadgets on health on the behavior of gadget use in students (p value = 0.002) with a large influence of 18.9%. In this case it is necessary to increase students\u27 knowledge about the impact of gadgets on health, because the higher the knowledge will be followed by a decrease in the behavior of using gadgets.Kemajuan zaman di bidang ilmu teknologi semakin berkembang. Teknologi yang sangat popular di era globalisasi ini adalah gadget. Penggunaan gadget pada anak semakin meningkat. Akademi Dokter Anak Amerika dan Perhimpunan Dokter Anak Kanada menegaskan perlu adanya batasan dalam penggunaan teknologi pada anak, anak umur 6-18 tahun dibatasi menggunakan hanya 2 jam perhari. Anak-anak dan remaja yang menggunakan teknologi melebihi batas waktu yang dianjurkan memiliki resiko kesehatan. Kurangnya pemahaman tentang dampak penggunaan gadget menjadikan anak berperilaku menggunakannya secara berlebihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengetahuan tentang dampak gadget pada kesehatan terhadap perilaku penggunaan gadget pada siswa SDN Kebun Bunga 6 Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VI SDN Kebun Bunga 6 Banjarmasin. Sampel pada penelitian ini adalah total dari populasi yaitu sebanyak 50 siswa. Hasil analisis Regresi Linear sederhana menunjukkan adanya pengaruh pengetahuan tentang dampak gadget pada kesehatan terhadap perilaku penggunaan gadget pada siswa (p value = 0,002) dengan besar pengaruh 18,9%. Dalam hal ini perlu adanya peningkatan pengetahuan siswa tentang dampak gadget pada kesehatan, karena semakin tinggi pengetahuan akan dikuti dengan penurunan perilaku penggunaan gadget
Analisis Penggunaan Gadget Terhadap Pola Komunikasi Keluarga
Indonesia is a country that ranks second in the world in the use of gadgets. The increasing number of users of gadgets in this modern era, many cause negative effects for humans, one of which is the decline in effective communication patterns between adolescents with parents. The purpose of this study is to determine the relationship between the use of gadgets to the pattern of communication with family on the students of class x in SMK Yabhinka Kota Cilegon. The cross sectional study design, the study was conducted in June 2018, and 77 respondents. The results showed that from 45 respondents with the use of gadget often there are 44 people (97,8%) that communication pattern with family is less good and 1 (2,2%) that communication pattern with good family. 32 respondents with the use of gadget sometimes there are 5 people (15,6%) that communication pattern with her family is not good and 27 people (84,4%) that communication pattern with her family is good. Based on the results of chi square test shows that the value of p = 0,000 (<0.05) and the value of OR (Odss Ratio) 237. The conclusion of the relationship between the use of gadgets to the pattern of communication with the family because it found a lot of respondents who misuse gadgets, namely addicted gadgets games during school hours), have individual soul, lack of effective communication, and interaction of all-needed gadgets as media.Indonesia merupakan negara yang menempati urutan kedua didunia dalam penggunaan gadget. Semakin meningkatnya jumlah pengguna gadget di era modern ini, banyak menyebabkan efek negatif bagi manusia, dimana salah satunya yakni menurunnya pola komunikasi efektif antara anak remaja dengan orang tua. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara penggunaan gadget terhadap pola komunikasi dengan keluarga pada siswa-siswi kelas x di SMK Yabhinka Kota Cilegon. Desain penelitian cross sectional, penelitian dilakukan pada bulan juni 2018, dan responden 77 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 45 responden dengan penggunaan gadget sering terdapat 44 orang (97,8%) yang pola komunikasi dengan keluarganya kurang baik dan 1 (2,2%) yang pola komunikasi dengan keluarganya baik. 32 responden dengan penggunaan gadget kadang-kadang terdapat 5 orang (15,6%) yang pola komunikasi dengan keluarganya kurang baik dan 27 orang (84,4%) yang pola komunikasi dengan keluarganya baik. Berdasarkan hasil uji chi square menunjukan bahwa nilai p = 0,000 (< 0,05) dan nilai OR (Odss Ratio) 237. Kesimpulannya adanya hubungan antara penggunaan gadget terhadap pola komunikasi dengan keluarga karena ditemukan banyaknya responden yang menyalahgunakan gadget, yakni kecanduan gadget (bermain game disaat jam pelajaran berlangsung), mempunyai jiwa individual, minimnya komunikasi yang efektif, dan interaksi yang serba membutuhkan gadget sebagai mediany
Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Kelas Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional
At the end of 2004, the government established a law No.40 year 2004 about National Social Insurance System, with one of the program is National Health Insurance (JKN). This program is expected to carried out the financing of public health services in insurance system and becomes a mandatory insurance system. The data from branch of BPJS Kesehatan on Tarakan city showed the highest registered village on BPJS Kesehatan is SeiPancang village north Sebatik district with 1017 people of independent participants. The purpose of this study was to determine the factors that influenced people in SeiPancang village to choose JKN’s membership class. This study used observational study method with cross sectional study design. Population in this study is people in SeiPancang village north Sebatik district who registered as independent participants of BPJS Kesehatan, with a sample of 156 selected respondents from simple random sampling. The data was analyzed using univariate test and bivariate test with chi square. The chi square analysis showed a correlation between income (p value = 0,001) with choices of JKN’s membership class, and no correlation between accessibility (p value = 0,131) and services quality (p value = 0,091) with choices of JKN’s membership class. In this case, it is expected that the health bureau socializes to the public about the benefits and facilities obtained in each JKN participation class and it is expected that the community to choose the JKN membership class is in accordance with the income earned to achieve fair health financing.Akhir Tahun 2004 pemerintah menetapkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, dengan salah satu programnya adalah Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Diharapkan dengan adanya JKN pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat dilaksanakan dalam sistem asuransi dan JKN menjadi sistem jaminan yang bersifat wajib. Data dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Kota Tarakan diketahui bahwa desa tertinggi yang terdaftar dalam BPJS Kesehatan adalah Desa Sei Pancang Kecamatan Sebatik Utara sebanyak 1.017 jiwa peserta mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi masyarakat Desa Sei Pancang dalam pemilihan kelas kepesertaan JKN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah warga Desa Sei Pancang yang terdaftar sebagai peserta Mandiri BPJS Kesehatan dengan sampel sebanyak 156 responden yang dipilih secara simple random sampling. Data dianalisis menggunakan uji univariat dan uji bivariat dengan Chi Square. Hasil analisis Chi Square menunjukkan adanya hubungan antara pendapatan (p value = 0,001) dengan pemilihan kelas kepesertaan JKN dan tidak ada hubungan antara aksesibilitas (p value = 0,131) serta mutu pelayanan (p value = 0,091) dengan pemilihan kelas kepesertaan JKN. Dalam hal ini, diharapkan pihak BPJS Kesehatan melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang manfaat dan fasilitas yang didapatkan dalam setiap kelas kepesertaan JKN dan diharapkan masyarakat untuk memilih kelas kepesertaan JKN sesuai dengan pendapatan yang didapatkan demi terwujud pembiayaan kesehatan secara adil
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kegemukan Pada Balita di Kelurahan Warnasari Kecamatan Citangkil Kota Cilegon
More nutritional status is a condition where body weight exceeds the normal weight standard. More nutrition can occur at all ages, from babies, toddlers, children, adults and the elderly. Nutritionists association of Cipto Mangun Kusumo Hospital (RSCM), said that more nutrition that can cause obesity at the age of toddlers, has the potential to cause an increased risk of degenerative diseases, respiratory problems, heart problems and can be at risk of developing diabetes. This study aims to determine the relationship of fatigue in toddlers in Warnasari Village, Citangkil Subdistrict, Cilegon City. The sample in this study were toddlers aged 24-59 months, obtained as many as 94 toddlers. The results of this study showed that there were 18 children under five or 19.1% of children under five in the obese category, there were 60.6% of children under five who were male, birth weight at risk there were 16.0% of children under five, and 13.8% of children under five who works, 76.6% of education for under-five mothers who have higher education, and 75.5% of under-five families who have a family of <4 or a small family. There is a relationship between sex (pv: 0.003), birth weight (pv: 0.00), maternal work (pv: 0.00) with obesity in children under five. There is no relationship between education and the number of family members with obesity in children under five. It was suggested that the Health Service should make an effort to prevent obesity in children under five through monitoring and evaluating obesity.Status gizi lebih merupakan kondisi dimana berat badan melebihi standar berat badan normal. Gizi lebih dapat terjadi pada semua lapisan umur, dari mulai bayi, balita, anak-anak, orang dewasa, dan lansia. Persatuan ahli gizi rumah sakit Cipto Mangun Kusumo (RSCM), mengatakan gizi lebih yang dapat menyebabkan kegemukan pada usia balita, kegemukkan berpotensi menyebabkan terjadinya peningkatan resiko penyakit degeneratif, gangguan saluran pernafasan, masalah jantung serta dapat beresiko terjadinya diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kegemukkan pada balita di Kelurahan Warnasari Kecamatan Citangkil Kota Cilegon. Sampel pada penelitian ini adalah balita yang berusia 24-59 bulan, diperoleh sebanyak 94 balita. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat 18 balita atau 19,1% balita yang termasuk dalam kategori gemuk, terdapat 60,6% balita yang berjenis kelamin laki-laki, berat badan lahir beresiko terdapat 16,0% balita, dan 13,8% ibu balita yang bekerja, 76,6% pendidikan ibu balita yang memiliki pendidikan tinggi, dan 75,5% keluarga balita yang memiliki jumlah keluarga <4 atau keluarga kecil. Terdapat hubungan anatara jenis kelamin (pv: 0,003), Berat badan lahir (pv: 0,00), pekerjaan ibu (pv:0,00) dengan kegemukan pada anak balita. Tidak ada hubungan antara pendidikan dan jumlah anggota keluarga dengan kegemukan pada balita. Disarankan agar Dinas Kesehatan mengadakan upaya untuk mencegah kegemukan pada balita melalui monitoring dan evaluasi terhadap kegemukan Balita