Faletehan Health Journal
Not a member yet
273 research outputs found
Sort by
Manajemen Kemitraan dalam Peningkatan Mutu Lulusan Diploma Tiga Kebidanan
The increasing number of midwifery colleges has not been matched with the quality due to lack of facilities and infrastructure to support clinical practices. The purpose of this study was to identify: 1) the purpose of partnership, 2) partnership program, 3) implementation of partnership program, 4) problems and challenges faced in partnership, 5) further improvement steps, and 6) qualities of partnership graduates. The object of this study were Aisyiah Midwifery Academy, Dr Drajat Prawiranegara Hospital, Bina Husada Midwifery Academy, and Kencana Hospital. Data were collected through observations, interviews and documentation study. Research results showed that: 1) the purposes of partnership in improving the quality of education and the quality of graduate competence, establishing long-term partnerships and implementing threefold missions of higher education, have the form of midwifery partnership activities and competency support training, 2) the implementation of partnership still needs improvement starting from organizing to partnership strategies, 3) partnership issues and challenges in the management and leadership implementation, 4) further improvement steps including management, activities, budget, human resources, other related parties, and partnership. This study recommended lecturers to be able to alocate their time for academic duties and student coaching duties and midwifery colleges to plan operational strategies in collaboration.Meningkatnya jumlah perguruan tinggi kebidanan belum diimbangi dengan kualitas akibat minimnya sarana dan prasarana penunjang praktik klinik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi: 1) tujuan kemitraan, 2) program kemitraan, 3) pelaksanaan program kemitraan, 4) masalah dan tantangan yang dihadapi dalam kemitraan, 5) langkah perbaikan ke depan, dan 6) kualitas lulusan kemitraan. Objek penelitian ini adalah Akbid Aisyiah, RS Dr Drajat Prawiranegara, Akbid Bina Husada dan RS Kencana. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) tujuan kemitraan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan mutu kompetensi lulusan, menjalin kemitraan jangka panjang dan melaksanakan tridarma PT, berupa kegiatan kemitraan kebidanan dan pelatihan penunjang kompetensi, 2) pelaksanaan kemitraan masih perlu perbaikan mulai dari pengorganisasian sampai ke strategi kemitraan, 3) masalah dan tantangan kemitraan dalam pengelolaan kemitraan dan pelaksanaan kepemimpinan, 4) langkah-langkah perbaikan ke depan yang meliputi pengelolaan, kegiatan, anggaran, sumber daya manusia, pihak terkait lainnya, dan kemitraan. Penelitian ini merekomendasikan dosen perlu dapat membagi waktu antara tugas akademik dengan tugas pembinaan mahasiswa dan perguruan tinggi kebidanan sebaiknya dapat merencanakan strategi operasional secara kerjasama
Peningkatan Keterampilan Klinik Melalui Penerapan Mini-CEX pada Mahasiswa Keperawatan
Lack of nursing competencies in Indonesia is still happened. The university or nursing high school who provided nursing education is one who responsible on this situation. Nursing skill should be achieved by nursing student to improve clinical skills. Mini-CEX is one of method which can be improve nursing student’s skilss. Objective of this study to identify effectiveness of mini-CEX on improvement nursing student’s clinical skills. Quasi experiment was conducted to reach 49 nursing student divide to 25 student as an intevention group and 24 student as a control group by total sampling. Mini-CEX form was applied to measure clinical skill. This study found that nursing student’s clinical skills before and after intervention was signficant different with pvalue =0.000 (< 0.05). After student getting feedback, they were improve their skills (Mean=35.24), this showed that significant different from before intervention (Mean= 25.56). Therefore, Mini-CEX is a great clinical evaluation method to encourage and help student for improving their clinical skills. Mini-CEX should be applied contuniously in hospital.Kompetensi keperawatan yang masih terbatas dibeberapa wilayah Indonesia menjadi tantangan bagi penyelenggara pendidikan keperawatan. Kompetensi keperawatan harus dicapai oleh perawat melalui peningkatan keterampilan klinik. Mini-CEX salah satu metode yang mampu membantu mahasiswa keperawatan meningkatkan keterampilan kliniknya. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi pengaruh mini-CEX terhadap peningkatan keterampilan klinik pada mahasiswa keperawatan Universitas Sari Mutiara Indonesia. Metode penelitian ini adalah quasi experimen dengan teknik pengambilan total sampling terhadap 49 sampel yang terbagi menjadi 25 sampel kelompok intervensi dan 24 sampel kelompok kontrol. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner mini-CEX yang telah dimodifikasi. Hasil penelitian menunjukan ada perbedaan signifikan keterampilan mahasiswa keperawatan sebelum dan setelah dilaksanakan metode Mini-CEX (p-value= 0,000). Keterampilan mahasiswa dalam praktek klinik setelah mendapatkan feedback melalui metode Mini-CEX meningkat (mean= 35,24) signifikan dibandingkan sebelum mendapatkan perlakukan mini-CEX (mean= 25,56). Maka dari itu, mini-CEX sangat membantu mahasiswa keperawatan meningkatkan keterampilan klinik. Metode ini seharusnya diterapkan secara berkelanjutan di lahan praktek klinik mahasiswa
Determinan Terjadinya Infeksi Luka Operasi (ILO) Post Sectio Caesarea
One of efforts in saving the lives of mothers and babies as the main goal of the delivery process can be through obstetric surgical procedures of caesarean section. The surgical procedures of cesarean section delivery can cause several complications, one of which is surgical site infection (SSI). The purpose of this study was to determine the factors associated with the incidence of surgical site infection (SSI) of post caesarean postpartum mothers at Berkah General Hospital Pandeglang in 2017. This study used an analytical survey research method with a cross-sectional approach. This research was conducted from May to June 2017 at the postpartum room. The research samples were 96 respondents. The sampling technique is accidental sampling. The data collection technique used a questionnaire and direct observations. The data analysis used chi square test. The results showed that out of 96 post cesarean postpartum, 77.1% did not experience SSI. There was a relationship among nutritional status (Pv 0.000; OR 1.8), hemoglobin level (Pv 0.003; OR 8.9), wound care (Pv 0.000) and the incidence of SSI. However, there was no relationship between maternal age (Pv 0.327) and parity (Pv 0.889) and the incidence of SSI. The risk factors of post caesarean section surgical site infection are nutritional status, hemoglobin level, and wound care.Menyelamatkan jiwa ibu dan bayi sebagai tujuan utama dari proses persalinan salah satunya dapat ditempuh melalui prosedur bedah kebidanan melalui operasi sectio caesaria. Prosedur pembedahan pada persalinan sectio caesaria dapat menyebabkan beberapa komplikasi, yang salah satunya adalah infeksi luka operasi (ILO). Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan yang berhubungan dengan ILO pada ibu nifas post SC di RSUD Berkah Pandeglang tahun 2017. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Mei–Juni 2017 di ruangan nifas. Sampel penelitian sebanyak 96 responden, pengambilan sampel secara accidental sampling. Teknik pengumpulan data, menggunakan kuesioner dan melalui pengamatan langsung, analisis data menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 96 ibu nifas post SC diketahui sebagian besar (77,1%, ) ibu nifas tidak mengalami ILO, ada hubungan antara status gizi (Pv=0,000; OR 1,8), kadar Hb (Pv=0,003; OR 8,9), perawatan luka (Pv=0,000) dengan kejadian ILO. Tidak ada hubungan antara umur ibu (Pv=0,327) dan paritas (Pv=0,889) dengan kejadian ILO. Faktor resiko kejadian infeksi luka operasi pada post SC di RSUD Berkah Pandeglang adalah status gizi, kadar haemoglobin, dan perawatan luka
Pengaruh Latihan Peregangan Perut Terhadap Karakteristik Nyeri Menstruasi Remaja Awal
Menstrual pain tends to interfere with daily activities and academic appearance in teenage girls. Stretching exercise is one of the nonpharmacological interventions in dealing with pain. The main purpose of this research was to analyze the effect of abdominal stretching exercise on the characteristics of painful menstruation in early adolescents at SMP Negeri Subdistrict of Palu City. The design of this study was a quasi-experimental pre-test and post-test design. The sample was obtained by using purposive sampling with 41 respondents involved (between 12-14 years old with painful menstruation) for the treatment group and control group. The instrument used in this study was a questionnaire, characteristics of painful menstrual checklist and exercise guide booklet. Statistic test used the Wilcoxon test by 95% of a significant level. The Wilcoxon test shows that are significant difference on duration and radiation of painful menstruation before and after abdominal stretching. There is no significant difference in rhythm and menstruation painful quality (ρ> 0.05). Based on the result, it can be concluded that abdominal stretching exercises affect the decrease of duration and radiation of painful menstruation, it has not yet an effect on rhythm and menstruation painful quality.Nyeri menstruasi cenderung mengganggu aktifitas sehari-hari dan penampilan akademik pada remaja putri. Latihan peregangan merupakan salah satu intervensi nonfarmakologi dalam mengatasi nyeri. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh latihan peregangan perut terhadap perubahan karakteristik nyeri menstruasi remaja awal di SMP Negeri Kecamatan Tatanga Kota Palu. Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experimental pre-test dan post test design. Pengambilan sampel secara purposive sampling, masing-masing 41 responden (usia 12-14 tahun dengan nyeri menstruasi) untuk kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Instrument penelitian adalah kuesioner, checklist karakteristik nyeri menstruasi dan booklet panduan latihan. Uji statistik yang digunakan adalah uji Wilcoxon dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan bermakna antara durasi dan radiasi nyeri menstruasi sebelum dan setelah latihan peregangan perut. Tidak ada perbedaan bermakna pada irama dan kualitas nyeri menstruasi (ρ>0,05). Kesimpulan penelitian adalah latihan peregangan perut mempengaruhi penurunan durasi dan radiasi nyeri menstruasi, namun belum berefek maksimal terhadap penurunan irama dan kualitas nyeri menstruasi
Determinan Pemanfaatan Jamban Keluarga pada Keluarga
Latrines are one of the basic human needs, it is expected that each individual uses the toilet facilities for defecation. Based on data from the Cipanas Inpatient Health Center as many as 1,502 people have access to 4,237 latrines. This study aims to determine the factors associated with the use of family latrines in the Cipanas Village Cipanas Inpatient Health Work Area Cipanas District Lebak Regency in 2019. The research design is cross-sectional. The study population was all family heads in Cipanas Village, amounting to 1.158 families with a sample of 101 households, where the sample was taken by a simple random sampling method. Primary data collection using questionnaires by interview, while secondary data were obtained from the Cipanas Health Center. Analysis results showed that out of 101 respondents 45.4% did not use latrines, 82.2% had high incomes, 58.4% had poor attitudes, 62.4% did not have latrines, 71.3% had the role of health workers, and 61.4% had community leaders. The correlation analysis shows that there is a significant relationship between attitudes, latrine ownership, the role of health workers (Pv = 0.000), the role of community leaders (Pv = 0.005) and the use of family latrines. Suggestions for this research are the need to increase the knowledge and awareness of family heads in the use of family latrines.Jamban merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, diharapkan tiap individu untuk memanfaatkan fasilitas jamban untuk buang air besar. Berdasarkan data dari Puskesmas DTP Cipanas sebanyak 1.502 jiwa yang akses jamban dari 4.237 jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor–faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan Jamban keluarga di Desa Cipanas Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Cipanas Kecamatan Cipanas Kabupaten Lebak Tahun 2019. Desain Penelitian bersifat cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh kepala keluarga di Desa Cipanas yang berjumlah 1.158 kepala keluarga dengan jumlah sampel sebanyak 101 kepala keluarga, dimana sampel diambil dengan metode simple random sampling. Pengumpulan data primer menggunakan kuisioner dengan cara wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dari Puskesmas Rawat Inap Cipanas. Hasil analisa menunjukan dari 101 responden sebanyak 45.4% tidak memanfaatkan jamban, 82.2% memiliki pendapatan tinggi, 58.4% memiliki sikap yang kurang baik, 62.4% tidak memiliki jamban, 71.3% adanya peran petugas kesehatan, dan 61.4% adanya peran tokoh masyarakat. Uji hubungan data penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara sikap, kepemilikan jamban, peran petugas kesehatan (Pv = 0.000), peran tokoh masyarakat (Pv = 0,005) dengan pemanfaatan jamban keluarga. Saran untuk penelitian ini adalah perlunya peningkatan pengetahuan dan kesadaran kepala keluarga dalam pemanfaatan jamban keluarga
Inisiasi Menyusu Dini dan Pencapaian Involusi Uterus pada Ibu Postpartum
Postpartum hemorrhage gets the highest rank in the maternal mortality rate. One of the causes is uterine atony. Early initiation of breastfeeding can induce posterior lobe of pituitary gland to secret oxytocin. Oxytocin accelerates the involution process and minimizes blood loss. The research aims to identify the effects of early initiation of breastfeeding on uterine involution process in post-partum mothers. It is a quantitative research with quasi-experimental research design. The samples are postpartum mothers, 16 cases and 16 controls. The sampling technique used consecutive sampling. The data analysis used independent t-test. The results of the research found that the post-partum mothers who did early initiation of breastfeeding after two hours had the average of fundal height 3.13 cm below bellybutton and after twelve hours had the average of 2.13 cm below bellybutton. The group that did not do early initiation of breastfeeding after two hours and twelve hours got the same result of average 1.63 cm below bellybutton. The results of the bivariate analysis in both groups after two hours got p-value 0.000 and after twelve hours obtained p-value 0.030. It can be concluded that there is an effect of early initiation of breastfeeding on uterine involution process in post-partum mothers. Thus, the researchers suggested to make early initiation of breastfeeding as a standard operational procedure in childbirth service.Perdarahan portpartum menempati peringkat tertinggi pada angka kematian ibu. Salah satu penyebabnya adalah atonia uteri. Inisiasi menyusu dini (IMD) akan merangsang lobus posterior kelenjar pituitary untuk mensekresi hormon oksitosin. Oksitosin mempercepat proses involusi dan meminimalkan kehilangan darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh inisiasi menyusu dini terhadap pencapaian involusi uterus pada ibu postpartum. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain penelitian quasi eksperimen. Subjek penelitian yaitu ibu postpartum dengan sampel penelitian sebanyak 16 kasus dan 16 kontrol. Teknik sampling concecutive sampling. Analisa data menggunakan uji t independent. Hasil penelitian didapatkan bahwa ibu postpartum yang melakukan IMD setelah 2 jam didapatkan rata – rata tinggi fundus 3,13 cm dibawah pusat dan setelah 12 jam didapatkan rata – rata 2,13 cm dibawah pusat dan kelompok yang tidak IMD yaitu setelah 2 jam dan 12 jam didapatkan hasil sama yaitu rata – rata 1,63 cm dibawah pusat. Hasil analisa bivariat pada kedua kelompok setelah 2 jam dilakukan IMD didapatkkan p-value = 0,000 dan setelah 12 jam IMD didapatkan p-value = 0,030. Hal ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan inisiasi menyusu dini terhadap pencapaian involusi uterus pada ibu postpartum, sehingga peneliti menyarankan untuk menjadikan IMD sebagai SOP dalam setiap pelayananan persalinan
Hubungan Sikap Asertif dan Konsep Diri Dengan Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja di SMP Negeri 17 Kota Serang
Sexual behavior aims to attract the attention of the opposite sex and was related to sexual activity. Sexual behavior in adolescent come from phenomenon of courtship among teenagers which is very common. This research want to know the relationship between assertive behavior and self-concept with premarital sexual behavior adolescents at SMP Negeri 17 Kota Serang. This research was conducted using quantitative methods with a cross sectional approach. The sample in this study was obtained by purposive sampling with a total of 48 students in grade VII and 52 students in grade VIII who were chosen randomly. The result was a relationship between assertive behavior and premarital sexual behavior with p value 0,000 and there was a relationship between self-concept and premarital sexual behavior with p value 0,000. Adolescents must be responsible and firm in maintaining their sexual rights and can make decisions with values that arise from conscience and not coercion from outside.Perilaku seksual merupakan perilaku yang bertujuan untuk menarik perhatian lawan jenis dan terkait dengan aktivitas hubungan seksual. Perilaku seksual remaja tidak luput dari fenomena pacaran di kalangan remaja yang sudah sangat umum terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku asertif dan konsep diri dengan perilaku seksual pranikah pada remaja di SMPN 17 Kota Serang. penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini diperoleh secara purposive sampling dengan jumlah 48 siswa-siswi kelas VII dan 52 siswa-siswi kelas VIII yang dipilih secara random. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara perilaku asertif dengan perilaku seksual pranikah dengan p value 0,000 dan terdapat hubungan antara konsep diri dengan perilaku seksual pranikah dengan p value 0,000. Remaja harus bersikap tanggung jawab dan tegas mempertahankan hak seksualnya untuk tidak dilecehkan dan dapat mengambil keputusan seksualnya dengan nilai-nilai yang timbul dari hati nurani dan bukan paksaan dari luar
Determinan Personal Hygiene Pada Anak Usia 9–12 Tahun
Primary school-age children are good growth periods, children need to be monitored for their health. Personal hygiene is very important for children because the child is affected by the disease because of bad in personal hygiene. The purposes of this research is to find the factors associated with personal hygiene of 9-12 years old children in Kalanganyar Village, Puskesmas Pancur in 2018. The design of this research is cross sectional. The population of this research is all children in 9-12 years who living in Kalanganyar Village with a sample of 73 respondents that has been taken using total sampling. Primary data collection using questionnaire and interview method. Data analysis was done univariat and bivariate. The result obtained 30,1% less good in personal hygiene, 38,4% have lack of knowledge, 42,5% have a negative attitude, and 72,6% are not exposed to social media access. The result of analysis showed there was no significant correlation between knowledge and personal hygiene (p=0,623), there was significant correlation between attitude (p=0,032) and social media access (p=0,044) with personal hygiene of 9-12 years children in Kalanganyar Village. The suggestion of this research is are children adopting a good clean and healthy lifestyle and repeating it continuously, and practicing good examples of good health and life behaviors with complete and orderly stages.Anak usia sekolah dasar merupakan masa tumbuh kembang yang baik, sehingga diperlukan pengawasan terhadap kesehatannya khususnya personal hygiene. Personal hygiene sangat penting bagi anak karena seringkali anak terkena penyakit akibat tidak memperhatikan personal hygiene. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor–faktor yang berhubungan dengan personal hygiene pada anak usia 9–12 tahun di Kelurahan Kalanganyar Wilayah Kerja Puskesmas Pancur tahun 2018. Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional. Populasi penelitian ini adalah semua anak usia 9–12 tahun yang berada di Kampung Kalanganyar dengan jumlah sampel 73 responden yang diambil secara total sampling. Pengumpulan data primer menggunakan kuesioner dan wawancara. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 30,1% kurang baik dalam melakukan personal hygiene, 38,4% memiliki pengetahuan kurang, 42,5% memiliki sikap negatif dan 72,6% tidak terpapar akses media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan personal hygiene (Pv=0,623), ada hubungan antara sikap (Pv=0,032) dan akses media sosial (Pv=0,044) dengan personal hygiene pada anak usia 9–12 tahun. Diharapkan anak menerapkan pola hidup bersih dan sehat yang baik dan mengulangnya terus menerus
Penggunaan Billy Blanket Pada Neonatus Dalam Menurunkan Kadar Bilirubin
Hyperbilirubinemia is increased levels of bilirubin in the blood, which is on the mark with icteric. The condition can lead to prolonged hyperbilirubinemia kernicterus that is the state of the damage to the brain due to adhesions of bilirubin levels in the brain. This research aims to know the description of bilirubin levels decrease with the use of a Billy Blanket in neonates at X hospital Jakarta. The research method used is descriptive analytic with quantitative design. This research population numbered 60 respondents. The sampling techniques used are the total sampling. The secondary data were obtained from patients’ medical records and were analyzed through an analysis univariate to find out the frequency distribution of characteristics and decreased neonates bilirubin levels using Billy Blanket. Majority of respondents characteristic sex male were 51.7%, respondents was born at ≥ 37 weeks gestational age were 73.3%, respondents aged 2 days were 40% and all of the respondents have BBL≥2500 grams. The results showed that levels of bilirubin after using a Billy Blanket for 24 hours and 48 hours of 100% of the respondents have the levels of bilirubin > 10 g/dl during the 72 hours while most respondents 51.7% had levels of bilirubin 5-10 g/dl. The use of a Billy Blanket may be considered to be one of the nursing interventions nursing care so that more optimal.Hiperbilirubinemia adalah peningkatan kadar bilirubin dalam darah, secara klinis di tandai dengan ikterus. Kondisi hiperbilirubinemia yang berkepanjangan dapat mengakibatkan kernikterus yaitu keadaan kerusakan pada otak akibat perlengketan kadar bilirubin pada otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penurunan kadar bilirubin dengan penggunaan Billy Blanket pada neonates di RS X Jakarta. Metode penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik. Populasi penelitian ini berjumlah 60 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Data yang dikumpulkan merupakan data sekunder yang berkaitan dengan karakteristik dan kadar bilirubin neonatus yang diperoleh melalui catatan rekam medik. Analisis data dengan menggunakan analisis univariat untuk mengetahui gambaran distribusi frekuensi dari karakteristik dan penurunan kadar bilirubin neonatus yang mengunakan Billy Blanket. Responden sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (51,7%), responden dilahirkan pada usia kehamilan ≥ 37 minggu sebanyak 73,3%, responden berusia 2 hari sebanyak 40%, dan seluruh responden memiliki BBL≥2500 gram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar bilirubin setelah menggunakan Billy Blanket selama 24 jam dan 48 jam memiliki kadar bilirubin > 10g/dl sedangkan penggunaan Billy Blanket selama 72 jam menunjukkan 51,7% memiliki kadar bilirubin 5-10 g/dl. Penggunaan Billy Blanket dapat dipertimbangkan menjadi salah satu intervensi keperawatan sehingga asuhan keperawatan lebih optimal
Hubungan antara Konsumsi Makanan Kariogenik dan Risiko Kejadian Karies Gigi pada Anak Usia Sekolah di Kabupaten Tangerang
Dental caries among school-age children is a health problem that often occurs, but lack of optimal treatment. One of factor that might influence dental caries is cariogenic food, which sweet and sticky. The study aimed to identify the relationships between cariogenic food consumption and risk of dental caries among school-age children. The methods of this study was descriptive analytic with cross sectional approach. The sample of this study were 163 school-age children selected by using random sampling technique. The analysis technique used was chi square. The result showed that most of respondents had high consumption of cariogenic food (55,8%) and high risk of dental caries (76,7%). It showed the relationships between consumption of cariogenic food and risk of dental caries (p-value < 0,05). The study suggest that health care provider need to prevent risk of dental caries by minimizing the consumption of cariogenic food among school-age children.
Karies gigi pada anak usia sekolah merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi, tetapi kurang mendapat penanganan yang optimal. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya karies gigi, yaitu makanan kariogenik yang bersifat manis dan lengket. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui hubungan antara konsumsi makanan kariogenik dan risiko kejadian karies gigi pada anak usia sekolah. Metode penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini sebanyak 163 anak usia sekolah yang dipilih dengan teknik random sampling. Teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini, yaitu chisquare. Hasil menunjukkan bahwa tingkat konsumsi makanan kariogenik yang tinggi sebanyak 55,8% responden, sedangkan tingkat konsumsi makanan kariogenik rendah sebanyak 44,2% responden dan responden yang berisiko tinggi karies gigi sebanyak 76,7% responden, sedangkan responden yang berisiko rendah karies gigi sebanyak 23,3% responden. Hasil analisis penelitian menunjukan bahwa ada hubungan antara konsumsi makanan kariogenik dengen risiko kejadian karies gigi dengan nilai (p value < 0,05). Hasil penelitian menyarankan tenaga kesehatan untuk mencegah kejadian karies gigi dengan menurunkan tingkat konsumsi makanan kariogenik.