Faletehan Health Journal
Not a member yet
273 research outputs found
Sort by
Video Animasi sebagai Media Edukasi Pencegahan Anemia pada Remaja Putri
Adolescent girls are a vulnerable group to anemia, which can increase the risk of complications during pregnancy and childbirth. This study aimed to evaluate the effects of health promotion through animated video on adolescent girls’ knowledge, attitudes, and adherence to iron supplementation in preventing anemia. A quasi-experimental design with a non-equivalent control group was employed, involving all seventh-grade students of SMP Negeri 1 Rancaekek, Bandung Regency, West Java who met the inclusion criteria (n = 152). The group allocation was conducted using purposive sampling. Data analysis included frequency distribution, T-test and Wilcoxon test for bivariate analysis, and logistic regression for multivariate analysis. The results showed a significant improvement in the intervention group: knowledge (p ≤ 0.001), attitudes (p = 0.001), and adherence to iron supplementation (p ≤ 0.001). The novelty of this study lies in the use of interactive animated video, which not only improves knowledge but also enhances attitudes and adherence among adolescent girls. The findings suggest that animated videos are effective as an educational medium for anemia prevention in adolescent girls and recommend routine monitoring as well as support from health workers to promote synchronized consumption of iron tablets at school.Remaja putri merupakan kelompok yang rentan mengalami anemia yang dapat meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan dan persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh promosi kesehatan melalui video animasi terhadap pengetahuan, sikap, dan kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsi suplemen zat besi guna mencegah anemia. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan non-equivalent control group dan melibatkan seluruh siswi kelas VII SMP Negeri 1 Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang memenuhi kriteria inklusi (n = 152). Pembagian kelompok dilakukan dengan teknik purposive sampling. Analisis data meliputi distribusi frekuensi, uji T dan Wilcoxon untuk analisis bivariat, serta regresi logistik untuk analisis multivariat. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok intervensi: pengetahuan (p ≤ 0,001), sikap (p = 0,001), dan kepatuhan konsumsi suplemen zat besi (p ≤ 0,001). Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan media video animasi interaktif yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga meningkatkan sikap dan kepatuhan remaja putri. Temuan penelitian menunjukkan video animasi efektif sebagai media edukasi pencegahan anemia pada remaja putri dan merekomendasikan pemantauan rutin serta dukungan tenaga kesehatan untuk konsumsi tablet tambah darah secara serentak di sekolah
Perbandingan Efektivitas Pemberian Madu Randu dan Sari Kurma terhadap Peningkatan Nafsu Makan Balita Stunting
One in five children under 5 years old do not grow well due to malnutrition. This condition can be overcome by giving randu honey and date juice. Honey can help with nutrient absorption, while dates have a balanced nutritional composition. This study aimed to compare the effectiveness of randu honey (Ceiba pentandra) and date juice in increasing the appetite of malnourished toddlers. The research design is pre-experimental with a two-group pre-test-post-test design. Purposive sampling was used to select 20 toddlers diagnosed with malnutrition. Data were analyzed using the paired sample t-test. Instruments included observation sheets, the Children’s Eating Behavior Questionnaire (CEBQ), and checklists. The increase in appetite had a higher mean difference in the date juice group compared to the randu honey group, which was 19.40±25.10 with a p value of 0.006. This indicates a difference in appetite increase between the randu honey and date juice intervention groups. This study recommends that toddlers should be given natural ingredients such as date juice to increase their appetite.Satu dari lima anak di bawah 5 tahun tidak tumbuh dengan baik karena kekurangan gizi. Kondisi ini dapat diatasi dengan pemberian madu randu dan sari kurma. Madu dapat membantu penyerapan gizi, sedangkan kurma memiliki komposisi gizi yang seimbang. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbandingan efektivitas pemberian madu randu (Ceiba Pentandra) dan sari kurma terhadap peningkatan nafsu makan balita malnutrisi. Desain penelitian yaitu pre-eksperimen dengan rancangan two group pre-test-post-test. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sebanyak 20 balita yang didiagnosis malnutrisi. Analisis data menggunakan uji paired sample t-test. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, lembar kuesioner children eating behaviour questionnaire (CEBQ), dan lembar check list. Peningkatan nafsu makan memiliki selisih rerata nilai lebih tinggi pada kelompok sari kurma dibandingkan dengan kelompok madu randu, yaitu 19,40±25,10 dengan nilai p 0,006. Hal ini berarti terdapat perbedaan peningkatan nafsu makan antara kelompok intervensi madu randu dan sari kurma. Penelitian ini merekomendasikan agar balita diberikan bahan alami seperti sari kurma untuk meningkatkan nafsu makan
Pengembangan Media SUMPING (SUpport SuaMi PendamPING) untuk Mengukur Kemandirian Suami dalam Mendampingi Persalinan
More than 90% of maternal deaths are caused by complications that often occur during or around childbirth. Reducing the incidence of childbirth complications requires the active participation of the family, especially the husband. The study aims to find out the use of e-modules and SUMPING videos on the independence of husbands in childbirth assistance. Observational descriptive research with a comparative design of these two groups was carried out on 100 husbands who were divided into groups e module SUMPING and video SUMPING of each 50 person. Data were collected at Midwifery Independent Practice Sites in Tanjungpinang and Bekasi City using questionnaires and observation sheets. Data were processed and analyzed using the chi-square test and Fisher\u27s exact test. The results showed that the variables of education, exposure to information, experience, knowledge, and motivation had a significant effect (p-value <0.05) on the independence of husbands in group e modules and videos, but had no effect on the variables of age and occupation (p-value > 0.05). The results of this study conclude that independence in childbirth assistance can be increased by increasing knowledge and motivation supported by higher education background, information exposure, and experience in childbirth assistance. The use of e-modules and SUMPING videos can be recommended for husbands to increase their independence in providing childbirth assistance.Lebih dari 90% kematian ibu disebabkan komplikasi yang sering terjadi pada saat atau sekitar persalinan. Penurunan angka kejadian komplikasi persalinan diperlukan peran serta aktif keluarga terutama suami. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pemanfaatan e modul dan video SUMPING terhadap kemandirian suami dalam pendampingan persalinan. Penelitian deskritif observasional dengan design komparatif dua kelompok ini dilakukan pada 100 orang suami yang dibagi dalam kelompok e modul SUMPING dan video SUMPING. Data dikumpulkan di Tempat Praktik Mandiri Bidan di Kota Tanjungpinang dan Jakarta menggunakan kuisioner dan lembar obervasi. Data diolah dan dianalisis menggunakan uji chi square dan fisher’s exact test. Hasil penelitian menunjukkan variabel pendidikan, keterpaparan info, pengalaman, pengetahuan dan motivasi berpengaruh signifikan (p value <0,05) terhadap kemandirian suami di kelompok e modul dan video, tetapi tidak berpengaruh pada variabel usia dan pekerjaan (p value > 0,05). Kesimpulan hasil penelitian ini adalah kemandirian dalam pendampingan persalinan dapat ditingkatkan dengan meningkatkan pengetahuan dan motivasi yang didukung oleh latar belakang pendidikan tinggi, keterpaparan informasi serta pengalaman dalam pendampingan persalinan. Pemanfaatan e modul dan video SUMPING dapat direkomendasikan bagi para suami untuk meningkatkan kemandirian suami dalam melakukan pendampingan persalinan
Penguatan Manajemen Laboratorium dalam Menurunkan Morbiditas dan Mortalitas Hepatitis B
Hepatitis B virus (HBV) infection is one of the threats in the medical world and requires guaranteed and valid laboratory analysis procedures, one of which is through the quality control (QC) mechanism. As part of laboratory management, QC has an impact on the validity of laboratory analysis results, especially related to HBV infection. The purpose of this study was to determine the level of knowledge of medical analysts before and after laboratory management training. The research method used comparative paired test analysis to obtain the significance and binary logistic regression to determine the most influential questions on the test. The results showed a significant increase in medical analyst knowledge after being given laboratory management material. Supported by a p value = 1.000 from the Hosmer and Lemeshow test and an overall prediction of 95.5% (positive: 92.0% and negative 97.6%), this training was very good in terms of goodness-of-fit and accurate. Material related to immunochromatography (ICT) method is an influential factor based on the analysis of test results. Medical analyst training, especially related to laboratory management in the context of HBV management, has a significant impact and can be continued and developed.Infeksi virus hepatitis B (HBV) menjadi salah satu ancaman di dunia medis dan membutuhkan prosedur analisis laboratorium yang terjamin dan valid, salah satunya melalui mekanisme quality control (QC). Sebagai bagian dari manajemen laboratorium, QC berdampak pada validitas hasil analisis laboratorium, khususnya terkait dengan infeksi HBV. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan analis medis sebelum dan sesudah pelatihan manajemen laboratorium. Metode penelitian menggunakan analisis uji berpasangan komparatif untuk mendapatkan signifikansi dan regresi logistik biner untuk menentukan pertanyaan paling berpengaruh pada tes. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dari pengetahuan analis medis setelah diberikan materi manajemen laboratorium. Ditunjang dengan nilai p=1,000 dari uji Hosmer dan Lemeshow serta prediksi keseluruhan senilai 95,5% (positif: 92,0% dan negatif 97,6%), pelatihan ini sangat baik dari segi goodness-of-fit dan akurat. Materi terkait metode imunokromatografi adalah faktor berpengaruh berdasarkan analisis hasil tes. Pelatihan analis medis, terutama terkait manajemen laboratorium dalam konteks penanganan HBV, berpengaruh signifikan dan dapat dilanjutkan serta dikembangkan
Hubungan antara Tekanan Teman Sebaya dan Kejadian Bullying pada Remaja
Aggressive behavior among peers is currently gaining renewed attention within educational institutions. Peers exerting negative pressure can influence deviant behavior, one of which is bullying. The purpose of this study was to determine the relationship between peer pressure and the incidence of bullying among adolescents at SMP X. This study employed a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. The study population comprised all adolescents at SMP X, totaling 1.047 individuals. The sample was drawn using the Slovin formula with the proportionate stratified random sampling technique, resulting in a minimum sample size of 289 individuals. Data collection utilized the peer pressure inventory and the adolescent peer relations instrument questionnaires, which were then analyzed using the Spearman rank test with the SPSS application. The results indicated that the incidence of bullying among adolescents was in the high category (54%), with a similarly high level of peer pressure (53%). Furthermore, there was a relationship between peer pressure and bullying incidence among adolescents (p=0.000) with a positive direction and a weak correlation between the variables (r=0.285). The incidence of bullying among adolescents in the school environment was influenced by peer factors. New strategies from various parties were expected to be developed to prevent bullying among adolescents.Perilaku agresif pada teman sebaya saat ini menjadi sorotan kembali dalam lingkup satuan pendidikan. Teman sebaya yang memberikan tekanan negatif akan berpengaruh pada perilaku menyimpang, salah satunya bullying. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan tekanan teman sebaya dengan kejadian bullying pada remaja di SMP X. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini yaitu seluruh remaja di SMP X berjumlah 1047 orang. Pengambilan sampel menggunakan rumus Slovin dengan teknik proportionate stratified random sampling diperoleh sampel minimal berjumlah 289 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner peer pressure inventory dan adolescent peer relations instrument kepada responden, selanjutnya dianalisis dengan uji Spearman rank test menggunakan aplikasi SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan angka kejadian bullying pada remaja berada pada kategori tinggi (54%) dengan tekanan teman sebaya yang juga tinggi (53%). Selain itu, ada hubungan antara tekanan teman sebaya dengan kejadian bullying pada remaja (p=0,000) dengan arah hubungan positif dan keeratan hubungan lemah antar variabel (r=0,285). Kejadian bullying pada remaja di lingkungan sekolah dipengaruhi oleh faktor teman sebaya. Strategi baru dari berbagai pihak diharapkan ada untuk mencegah kejadian bullying pada remaja
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi pada balita suspek campak di Puskesmas
Approximately 140,000 global child deaths each year are caused by measles, making measles a major focus in public health aspects. In 2021, there were 489 suspected measles cases in DKI Jakarta. In this case, in 2022, Cilincing District contributed 389 measles cases. Measles can be prevented by immunization. Cilincing District has an achievement of 98.3% for the measles immunization program. However, with this achievement, measles cases in Cilincing District are still quite high. This study aims to determine the factors associated with suspected measles cases in toddlers and the completeness of immunization obtained. Cross-sectional is the design in this study with a sample size of 220 taken by purposive sampling. Data analysis was carried out using the chi square test. The results of the analysis in this study found a relationship between the completeness of measles immunization with age (p-value 0.042), education (p-value 0.002), employment (p-value 0.009), attitude (p-value <0.001), availability of health facilities (p-value 0.010), and ease of access (p-value 0.049). However, it is known that the knowledge variable does not have a significant relationship with the completeness of measles immunization. The government and public health programs should target factors that have been proven to have an influence, such as increasing access to services, support for working mothers, and campaigns that form positive attitudes towards immunization.Sekitar 140.000 kematian anak global setiap tahun disebabkan oleh campak sehingga campak menjadi fokus utama dalam aspek kesehatan masyarakat. Di tahun 2021, tercatat sebanyak 489 kasus suspek campak di DKI Jakarta. Dalam hal tersebut, di tahun 2022 Kecamatan Cilincing menjadi penyumbang 389 kasus Campak. Pencegahan penyakit campak dapat dicegah dengan imunisasi. Kecamatan Cilincing memiliki capaian sebesar 98,3% untuk program imunisasi campak. Namun dengan capaian tersebut juga, kasus campak di Kecamatan Cilincing masih cukup tinggi. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan antara kasus suspek campak pada balita dengan kelengkapan imunisasi yang di dapatkan. Cross sectional menjadi desain pada penelitian ini dengan jumlah sampel yang di ambil secara purposive sampling sebanyak 220. Analisis data dilakukan dengan uji chi square. Hasil analisis pada penelitian ini didapatkan adanya hubungan antara kelengkapan imunisasi campang dengan umur (p-value 0.042), pendidikan (p-value 0.002), pekerjaan (p-value 0.009), sikap (p-value <0.001), ketersediaan fasilitas kesehatan (p-value 0.010), dan kemudahan akses (p-value 0.049). Namun, diketahui variabel pengetahuan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kelengkapan imunisasi campak. Pemerintah dan program kesehatan masyarakat harus lebih menargetkan faktor-faktor yang terbukti berpengaruh, seperti peningkatan akses layanan, dukungan bagi ibu bekerja, dan kampanye yang membentuk sikap positif terhadap imunisasi
Penentu Implementasi Skrining Hipotiroidisme Kongenital di Kalangan Ibu dengan Bayi Baru Lahir
The incidence of congenital hypothyroidism (CH) in Indonesia was estimated to be as high as 1 in 1,500 live births, significantly higher than in neighbouring countries such as Singapore, Malaysia, and Vietnam. However, despite efforts by the Ministry of Health to implement CH screening as part of maternal and child health services, the program\u27s national coverage remains limited. This study aimed to identify factors influencing congenital hypothyroidism screening (CHS) implementation among mothers with newborns. The study was conducted at the Sekarwangi Health Center area, Sukabumi Regency, in 2023. This cross-sectional study used proportional random sampling to collect data from 291 respondents. Univariate, bivariate, and multivariate analyses were performed. Bivariate analysis showed that only the mother\u27s occupation, time, and distance to healthcare facilities significantly influenced CHS implementation (p<0.05). Multivariate analysis revealed that the variables of occupation (p=0.016, PR=3.433), income (p=0.045, PR=2.348), marital status (p=0.023, PR=7.720), and accessibility of healthcare facilities (distance) (p<0.001, PR=2.055) were significant. Based on the analysis, accessibility to healthcare facilities (distance) was the most dominant factor influencing CHS implementation among newborns, followed by the variables of occupation, income, and marital status. Improving access to healthcare services is necessary, such as through the provision of mobile healthcare programs and digital-based education, to expand the coverage of screening.Kejadian hipotiroid kongenital (HK) di Indonesia diperkirakan mencapai 1 dari 1.500 kelahiran hidup, secara signifikan lebih tinggi daripada di negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Meskipun ada upaya Kementerian Kesehatan untuk menerapkan skrining hipotiroid kongenital (SHK) sebagai bagian dari layanan kesehatan ibu dan anak, cakupan nasional program tetap terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pelaksanaan SHK pada ibu yang memiliki bayi baru lahir. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sekarwangi Kabupaten Sukabumi pada tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dan sampling acak proporsional untuk mengumpulkan data dari 291 responden. Data dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa hanya variabel pekerjaan ibu, waktu tempuh, dan jarak ke fasilitas kesehatan yang berpengaruh terhadap pelaksanaan SHK (p<0.05). Hasil analisis multivariat mendapatkan p value variabel pekerjaan p=0,016, PR=3.433 (1.261-9.352), variabel pendapatan p=0,045, PR=2.348 (1.020-5.405), status perkawinan p=0,023, PR=7.720 (1.324-45.027), variabel Keterjangkauan akses fasilitas kesehatan (jarak) p= <-0.001 dengan PR= 2.055 (1.428-2.957). Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel keterjangkauan akses fasilitas kesehatan (jarak) merupakan faktor dominan yang mempengaruhi pelaksanaan SHK pada bayi baru lahir, diikuti oleh variabel pekerjaan, pendapatan, dan status perkawinan. Upaya peningkatan akses layanan kesehatan diperlukan, seperti pengadaan program layanan kesehatan keliling dan edukasi berbasis digital, untuk memperluas cakupan skrining
Analisis Dimensi dan Determinan Kualitas Kehidupan Kerja Perawat di Rumah Sakit: A Scoping Review
Nurses constituted the largest workforce in the global healthcare system but faced challenges such as high workloads, limited decision-making autonomy, and a negative public image, all of which affected their quality of work life. This study aimed to map and analyze the quality of work life among hospital nurses and its influencing factors. A scoping review method was applied using the Arksey and O’Malley framework, guided by the PRISMA-ScR checklist. Literature was sourced from PubMed, Scopus, EBSCO, ScienceDirect, and Gscholar, focusing on full-text articles in English or Indonesian published between 2020 and 2025. Ten articles were included in the final review. Findings indicated that nurses’ quality of work life was generally at a moderate level. Among the four dimensions assessed, namely work life/home life, work design, work context, and work world, the highest scores were found in the work context dimension, while the lowest appeared in work life/home life and work world. Factors influencing these outcomes included age, gender, experience, workload, family responsibilities, shift patterns, and perceptions of the profession. This review highlighted the need for targeted organizational and policy-level strategies to improve nurses’ well-being at work.Perawat merupakan tenaga kesehatan terbesar dalam sistem pelayanan kesehatan global. Namun, mereka menghadapi berbagai tantangan seperti beban kerja tinggi, keterbatasan pengambilan keputusan, dan citra profesi yang masih kurang positif yang berdampak pada kualitas kehidupan kerja. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kualitas kehidupan kerja perawat di rumah sakit beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Desain penelitian menggunakan metode scoping review berdasarkan kerangka kerja Arksey dan O’Malley serta panduan PRISMA-ScR. Artikel diperoleh dari database PubMed, Scopus, EBSCO, ScienceDirect dan Gscholar dengan kriteria inklusi mencakup artikel full-text tahun 2020–2025 dalam Bahasa Indonesia atau Inggris. Sebanyak sepuluh artikel ditelaah dan menunjukkan bahwa kualitas kehidupan kerja perawat berada dalam kategori sedang. Berdasarkan empat dimensi, yaitu work-life/home life, work design, work context, dan work world, dimensi work context merupakan yang tertinggi, sedangkan work world dan work-life/home life terendah. Faktor-faktor yang mempengaruhi meliputi usia, jenis kelamin, pengalaman kerja, beban kerja, tanggungan keluarga, shift malam, dan persepsi terhadap profesi. Hasil pencarian ini merekomendasikan perlunya intervensi berbasis organisasi dan kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan kerja perawat
Study Kualitatif Faktor Penyebab Kesepian Emosional pada Lansia
Loneliness is often experienced by elderly living in nursing homes since they do not receive support from family members. This study aimed to analyze the factors causing emotional loneliness in the elderly. This study used a qualitative approach of phenomenological study and involved 4 participants who were selected using purposive sampling techniques. The research instruments used to collect data included mobile phones, pens, books, interview guides, and checklists compiled based on the UCLA Loneliness Scale Version 3. The data were analyzed using description, data reduction, essence, intentionality, triangulation as data validity and using Open Code software. The results of the thematic analysis obtained four main themes, namely: (1) lack of emotional support from the family for the elderly in nursing homes, (2) emotional adaptation of the elderly to the changes of residence, (3) no partner figure who provides affection, and (4) the elderly\u27s perspective on social relationships with people in nursing homes. The results of the study indicated that the elderly have lack of family support which leads to the emotional loneliness. The results of this study were expected to provide additional information for developing education on the importance of family support and preventing loneliness in the elderly.Kesepian sering kali dialami lansia yang tinggal di panti wreda karena mereka tidak menerima dukungan dari anggota keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab kesepian emosional pada lansia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi fenomenologi dan melibatkan 4 orang partisipan yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data, yaitu handphone, pulpen, buku, panduan wawancara dan lembar checklist yang disusun berdasarkan Skala Kesepian UCLA 3 (UCLA Loneliness Scale Version 3). Data dianalisis dengan cara deskripsi, reduksi data, esensi, intensionalitas, triangulasi sebagai keabsahan data dan menggunakan Software Open Code. Hasil analisis tematik mendapatkan empat tema utama, yaitu: (1) minimnya dukungan emosional keluarga terhadap lansia di panti, (2) adaptasi emosional lansia terhadap perubahan tempat tinggal, (3) tidak ada sosok pasangan yang memberikan kasih sayang, dan (4) cara pandang lansia dalam hubungan sosial terhadap orang-orang di panti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lansia kurang mendapatkan dukungan penuh dari keluarga yang mengarah pada aspek kesepian emosional. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi tambahan informasi untuk pengembangan edukasi pentingnya dukungan keluarga dan mencegah kesepian pada lansia
Pendekatan Ergonomi Partisipatif untuk Pencegahan Gangguan Muskuloskeletal pada Pekerja Sektor Informal
Musculoskeletal disorders are a significant global health concern, particularly impacting informal workers who lack organized occupational health services. Participatory ergonomic approaches present a solution by engaging workers in recognizing hazards and improving their work settings. This scoping review outlines evidence on participatory ergonomic interventions for preventing MSDs in informal work environments. A search was performed across PubMed, Scopus, ProQuest, EBSCO, ScienceDirect, and Google Scholar for studies published up to 2025. Studies qualified if they focused on informal workers, used participatory ergonomic approaches, and documented MSD prevention outcomes. Ten studies were selected for analysis. Interventions primarily focused on modifying tools, workstations, and facilities based on workers\u27 body measurements and job requirements. Other approaches included ergonomic aids, stretching programs, and workplace layout reorganization. Workers participated through interviews, focus groups, observations, and risk assessments. Results showed reduced musculoskeletal complaints by up to 47.9%, improved posture, reduced workload, and increased productivity. Implementation barriers included limited finances, traditional work practices, lack of ergonomic awareness, and resistance to change. These findings highlight the need to customize interventions for specific socio-economic and cultural contexts. Participatory ergonomics can improve informal workers\u27 health, but future studies should examine methods for ensuring long-term viability and cultural adaptation of these interventions.Gangguan muskuloskeletal (Musculoskeletal Disorders/MSDs) merupakan masalah kesehatan global yang signifikan, terutama pada pekerja informal yang tidak memiliki layanan kesehatan kerja yang terorganisir. Pendekatan ergonomi partisipatif menawarkan solusi dengan melibatkan pekerja dalam mengidentifikasi bahaya dan memperbaiki lingkungan kerja. Tinjauan ini memaparkan bukti terkait intervensi ergonomi partisipatif untuk pencegahan MSDs pada lingkungan kerja informal. Pencarian dilakukan di PubMed, Scopus, ProQuest, EBSCO, ScienceDirect, dan Google Scholar untuk studi yang diterbitkan hingga tahun 2025. Studi memenuhi syarat jika berfokus pada pekerja informal, menggunakan pendekatan ergonomi partisipatif, dan mendokumentasikan hasil pencegahan MSDs. Terdapat sepuluh studi yang terpilih untuk dianalisis. Intervensi terutama difokuskan pada modifikasi alat, stasiun kerja, dan fasilitas berdasarkan ukuran tubuh pekerja serta tuntutan pekerjaan. Pendekatan lain mencakup alat bantu ergonomi, program peregangan, dan reorganisasi tata letak tempat kerja. Pekerja berpartisipasi melalui wawancara, diskusi kelompok terfokus, observasi, dan penilaian risiko. Hasil menunjukkan penurunan keluhan muskuloskeletal hingga 47,9%, perbaikan postur, penurunan beban kerja, dan peningkatan produktivitas. Hambatan pelaksanaan meliputi keterbatasan keuangan, praktik kerja tradisional, kurangnya kesadaran ergonomi, dan resistensi terhadap perubahan. Temuan ini menyoroti perlunya penyesuaian intervensi dengan konteks sosial ekonomi dan budaya tertentu. Penelitian selanjutnya perlu mengkaji metode untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang dan adaptasi budaya dari intervensi ini