Faletehan Health Journal
Not a member yet
273 research outputs found
Sort by
Pengaruh Brisk Walking Exercise terhadap Penurunan Tekanan Darah: Systematic Review
Brisk walking exercise is an intervention that can lower blood pressure in hypertensive patients. It is very effective to stimulate muscle contraction, increase heart rate and oxygen in the tissues and break down glycogen. This exercise can reduce the process of plaque formation through increased glucose and fat utilization. The research objective was to determine the effectiveness of brisk walking exercise on lowering blood pressure of hypertensive patients. This study was a systematic review. The articles were obtained from online database, namely Science Direct, Scopus, Wiley Online, Oxford Journal, Research Gate, and Google Scholar from 2010 to 2020. The search obtained 10 articles which showed that brisk walking exercise had a significant effect on lowering blood pressure in hypertensive patients. Brisk walking exercise should be developed as a clinical intervention of lowering blood pressure in health services such as hospitals and public health centers.Brisk walking exercise adalah salah satu intervensi yang dapat menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Brisk walking exercise efektif untuk merangsang kontraksi otot, meningkatkan efektivitas denyut jantung serta oksigen dalam jaringan dan dapat memecah glikogen. Latihan ini mampu mengurangi proses pembentukan plak melalui peningkatan penggunaan glukosa serta peningkatan penggunaan lemak. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas brisk walking exercise dalam menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Penelitian ini merupakan systematic review. Artikel didapat dari online data base Science Direct, Scopus, Wiley Online, Oxford Journal, Research Gate dan Google Scholar mulai dari tahun 2010 sampai 2020. Penelusuran tersebut mendapatkan 10 artikel yang menunjukkan bahwa brisk walking exercise memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi. Brisk walking exercise perlu dikembangkan sebagai salah satu intervensi klinis dalam menurunkan tekanan darah di pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas
Analisis Tingkat Pengetahuan, Sikap, Kebijakan dan Ketersediaan Sarana terhadap Perilaku Kepatuhan Menggunakan Alat Pelidng Diri (APD) pada Pengendara Go-Ride Dimasa Pandemi Covid-19
Go-Jek is an online-based service provider company. Unfortunately, Go-Ride drivers are one of the clusters for the spread of Covid-19 in Indonesia. This study analyzed the relationship between knowledge, attitudes, education, age, working period, availability of facilities, and legal regulations with compliance behavior of using personal protective equipment (PPE) during the Covid-19 pandemic era among online motorcycle taxi drivers in Tembalang area, Semarang City. The research method was quantitative with cross-sectional research design. The data collection was done by a questionnaire. The research samples were 100 drivers who were selected by using accidental sampling technique. The numerical data was analyzed by using statistical tests. The research results showed a relationship between attitudes and availability of facilities with compliance behavior of using PPE during Covid-19 pandemic era among online motorcycle taxi drivers in Tembalang area, Semarang City (p value 0.000 and 0.002). Online motorcycle taxi drivers were expected to further improve their compliance behavior of using PPE to prevent them from accidents and minimize the risk of severity in the event of an accident, and prevent from the transmission or spread of Covid-19 virus in the current pandemic era.Go-Jek adalah perusahaan penyedia layanan berbasis online. Sayangnya driver Go-Ride menjadi salah satu klaster penyebaran Covid-19 di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan, sikap, pendidikan, usia, masa kerja, ketersediaan sarana, dan peraturan hukum dengan perilaku kepatuhan menggunakan alat pelindung diri (APD) selama pandemi Covid-19 pada pengemudi ojek online di kawasan Tembalang, Kota Semarang. Metode penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner. Sampel penelitian adalah 100 pengemudi yang dipilih dengan menggunakan teknik accidental sampling. Data numerik dianalisis dengan menggunakan uji statistik. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara sikap dan ketersediaan sarana dengan perilaku kepatuhan penggunaan APD pada masa pandemi Covid-19 pada pengemudi ojek online di kawasan Tembalang Kota Semarang (p value = 0,000 dan 0,002). Pengemudi ojek online diharapkan lebih meningkatkan perilaku patuh menggunakan APD guna mencegah terjadinya kecelakaan, meminimalkan risiko keparahan jika terjadi kecelakaan, dan mencegah penularan atau penyebaran virus Covid-19 di masa pandemi saat ini
Literature Review: Masalah Psikologis pada Ibu Hamil selama Masa Pandemi Covid-19
The number of COVID-19 infection cases was increased day by day worldwide. In 2021, World Health Organization recorded that the cases reached 209,876.613 people. One of the people who were at high risk of being exposed to COVID-19 quickly were pregnant women. The purpose of this study was to determine the psychological problems of pregnant women during COVID-19 period by using a literature review research method. Searches were made on Google Scholar, NCBI, Elsevier and PubMed by using the keywords psychological problems, pregnant women, and COVID-19 and the search criteria in the year of publication 2020. The data search was carried out in English and Indonesian. Of all the articles, 6 articles met the desired criteria. Based on the literature study that had been done, the researchers concluded that the psychological problems of pregnant women during COVID-19 pandemic were increased anxiety and depression.Angka Kejadian terinfeksi COVID-19 setiap hari semakin meningkat di dunia. Pada tahun 2021 tercatat oleh World Health Organization kasus tersebut mencapai 209,876,613 jiwa. Salah satu orang yang beresiko tinggi terpapar COVID-19 secara cepat adalah ibu hamil. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui masalah psikologis ibu hamil di masa COVID-19 dengan menggunakan metode penelitian studi literatur review. Pencarian dilakukan pada Google Scholar, NCBI, Elsevier dan PubMed dengan menggunakan kata kunci masalah psikologis, ibu hamil, dan COVID-19 dan kriteria pencarian pada tahun penerbitan 2020. Pencarian data dilakukan dengan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Dari semua artikel, 6 artikel memenuhi kriteria yang diinginkan. Berdasarkan studi literatur yang sudah dilakukan, peneliti menyimpulkan bahwa masalah psikologis ibu hamil di masa pandemi COVID-19 berupa peningkatan kecemasan dan depresi
Metode Pembelajaran Klinik pada Praktik Profesi Mahasiswa Keperawatan
Clinical learning is a very important activity at the stage of professional nurse program. In this activity, the students implement theories obtained during college. The learning process requires a good method in order to achieve learning objectives. Furthermore, clinical supervisors must identify the existed obstacles so that they can determine the clinical learning method to be used. The purpose of the study was to describe some clinical learning methods in the practice of professional nurse program and the obstacles in the clinical learning. It was a descriptive analytical study with cross-sectional approach. The samples were 88 students of professional nurse program, selected by using the accidental sampling technique. The bivariate analysis used chi square statistical test. The test results showed that experiential learning method and preceptorship method was highly implemented (respectively 22.7%), observation learning method was frequently implemented (34%), the conference method was rarely used (34.0%), and the nursing clinic method was extremely sparse (64.7%). The most frequent obstacle in clinical learning came from clinical supervisors (65.9%). The statistical results obtained p value 0.001 < 0.05, which can be concluded that there was a relationship between methods and obstacles of clinical learning.Pembelajaran klinik merupakan kegiatan yang sangat penting pada tahap profesi ners. Pada kegiatan ini mahasiswa mengimplementasikan teori yang didapatkan pada saat perkuliahan. Proses pembelajaran tersebut membutuhkan suatu metode yang baik agar tujuan pembelajaran bisa tercapai. Selain itu, pembimbing kinik harus mengetahui kendala yang dihadapi sehingga dapat menentukan metode pembelajaran klinik yang digunakan. Tujuan dari penelitian ini untuk menggambarkan metode pembelajaran klinik pada praktik profesi mahasiswa keperawatan dan hambatan dalam pembelajaran klinik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 88 mahasiswa profesi ners yang dipilih dengan teknik accidental sampling. Analisis bivariat menggunakan uji statistik chi square. Hasil uji menujukkan bahwa metode pembelajaran klinik yang sangat sering digunakan yaitu metode eksperiensial dan metode preceptorship masing–masing 22,7%, metode pembelajaran observasi dengan kriteria sering dilakukan (34%), serta yang jarang dilakukan ialah metode konferensi (34,0%) dan metode nursing clinic (64,7%). Hambatan yang sering terjadi dalam pembelajaran klinik adalah hambatan dari pembimbing klinik (65,9%). Hasil uji statistik mendapatkan p value 0,001<0,05) maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara metode pembelajaran klinik dengan hambatan dalam pembelajaran klinik
Pengaruh Posisi Pronasi terhadap Derajat Keparahan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) pada Pasien Covid-19
Coronavirus disease 2019 (COVID-19) is an acute respiratory disease which can be exacerbated by Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), multiple organ failure, septic shock, and acute heart failure requiring intensive care. Prone position can play its role in the prevention of those impairments. This study aimed to describe the role of prone position in the management of Covid-19 patients. This is a quantitative study with a quasi-experimental and one group pre-test post-test design. The samples were 32 covid-19 patients treated in Intensive Care unit (ICU) with Non-Invasive Ventilation (NIV) as respondents selected by a consecutive sampling technique. The data analysis used Wilcoxon test. The instruments were Lung Injury Score (LIS) and the parameter result observation sheets from the bedside monitors. The results showed that prone position could reduce the severity of ARDS in COVID-19 patients. Prone position can be recommended as a nursing intervention in adult COVID-19 patients who experience respiratory disorders.Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit pernafasan akut yang dapat diperburuk dengan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), gagal multiorgan, syok septik, dan gagal jantung akut yang memerlukan perawatan intensif. Posisi pronasi dapat berperan dalam mencegah perburukan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran posisi pronasi dalam penatalaksanaan pasien Covid-19. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain quasi eksperimen dan one group pre-test post-test. Sampel pada penelitian ini berjumlah 32 pasien Covid-19 yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) dengan Non-Invasive Ventilation (NIV) sebagai responden yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Analisis data menggunakan wilcoxon test. Instrumen dalam penelitian ini adalah Lung Injury Score (LIS) dan lembar observasi hasil parameter dari bedside monitor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi pronasi dapat menurunkan derajat keparahan ARDS pada pasien Covid-19. Posisi pronasi dapat direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan pada pasein dewasa Covid-19 yang mengalami gangguan penapasan
Efek Fatigue terhadap Respon Time Penanganan Penderita Gawat Darurat Kategori Australasian Triage Scale 1-5 Versi Indonesia
Response time is the indicator of emergency patient management. The handling delay can be fatal, which one of the factors is a high workload causing fatigue. Fatigue was physically characterized by a decrease of movement reflex quality which results on a decrease of emergency response time. This study aimed to identify the effects of fatigue on the response time of emergency patient management. The research design was correlation with cross-sectional approach on 21 emergency department officers who were selected by total sampling technique. The instrument of fatigue measurement was the Indonesian version of Fatigue Severity Scal; while the response time was measured by an observation sheet and stopwatch. The results showed that 52.4% of respondents experienced mild fatigue, 100% response time of emergency patient management was suited to Australasian Triage Scale (ATS) category 1,2,3,4,5 with a median score of 57 seconds, and the response time of 52.4% respondents was less than 57 seconds. The value of Spearman Rank test obtained r value 0.121 which indicates statistically no correlation between fatigue and response time. The weak statistical test results still showed a value that fatigue cause the decrease of problem-solving analysis ability, reflex and movement quality which results on response time decrease. It is necessary to handle fatigue with stress management, work hours arrangement, and adequate rest time management.Kecepatan memberikan pertolongan (respon time) merupakan indikator penanggulangan penderita gawat darurat. Keterlambatan penanganan dapat berakibat fatal, dimana salah satu faktor penyebabnya adalah beban kerja tinggi yang menimbulkan fatigue. Fatigue secara fisik ditandai dengan menurunnya kualitas reflex gerak yang berakibat pada turunnya kecepatan penanganan kegawatdaruratan (respon time). Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi efek fatigue terhadap respon time penanganan penderita gawat darurat. Desain penelitian adalah korelasi dengan pendekatan cross sectional pada 21 petugas Instalasi gawat darurat yang dipilih melalui teknik total sampling. Instrumen untuk mengukur fatigue adalah Fatigue Severity Scale versi bahasa Indonesia dan untuk mengukur respon time adalah lembar observasi dan stopwatch. Hasil menunjukkan 52,4% responden mengalami derajat fatigue ringan, 100% respon time penanganan penderita gawat darurat sesuai dengan kategori Australasian Triage Scale (ATS) 1,2,3,4,5 dengan nilai median 57 detik, dan waktu kecepatan respon 52,4% responden kurang dari 57 detik. Analisis uji Spearman Rank mendapatkan nilai r 0,121, menunjukkan secara statistik tidak ada kolerasi antara derajat fatigue dengan respon time. Lemahnya hasil uji statistik tetap menunjukkan nilai bahwa fatigue menyebabkan turunnya kemampuan analisis pemecahan masalah, reflek dan kualitas gerak yang berakibat pada penurunan respon time. Perlu adanya penanganan fatigue dengan manajemen stress, pengaturan jam kerja, dan pengelolaan waktu istirahat yang cukup
Determinan Faktor Risiko Kejadian Stunting Berdasarkan Pemetaan Kasus Stunting pada Balita dengan Geographic Information System (GIS)
Stunting is an abnormality in the weight and height of babies or toddlers compared to their age. Based on the data from Basic Health Research in 2018 the number of stunting cases in Indonesia was quite high (30.8%). This study aimed to determine the risk factors of stunting based on stunting mapping data with Geographic Information System (GIS) among toddlers. It was a quantitative study and used a case control design. The statistical test used was chi-square and the sampling technique used simple random sampling. The study population was 110 toddlers and the samples were 50 toddlers as cases and 50 toddlers as controls. Legok Health Center work area had a distribution of stunting cases in Rancagong Village as many as 32 points, Serdang Wetan Village 9 points, and Legok Village 9 points. The results showed that exclusive breastfeeding (p=0.543), birth weight (p=0.093), infectious diseases (p=0.141), mother\u27s last education (p=0.830), knowledge of mother\u27s nutrition (p=1.000), feeding style (p=0.541), mother\u27s height (p=1.000), and father\u27s height (p=0.111) were not related to the incidence of stunting. Monitoring of toddlers nutritional status and prevention to the right targets should be maintained and improved to prevent from stunting.Stunting adalah kelainan pada berat badan dan tinggi badan bayi atau balita dibandingkan dengan umur. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 jumlah kasus stunting di Indonesia cukup tinggi (30.8%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko stunting berdasarkan data pemetaan stunting dengan Geographic Information System (GIS) pada balita. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan menggunakan desain case control. Uji statistik yang digunakan adalah chi-square dan teknik pengambilan sample menggunakan simple random sampling. Populasi penelitian sebanyak 110 balita dan jumlah sampel sebanyak 50 balita sebagai kasus dan 50 balita sebagai kontrol. Wilayah kerja Puskesmas Legok memiliki sebaran kejadian stunting di Desa Rancagong sebanyak 32 titik, Desa Serdang Wetan 9 titik, dan Desa Legok 9 titik. Hasil Penelitian menunjukan bahwa variabel ASI ekslusif (p=0,543), berat badan lahir (p=0,093), penyakit infeksi (p=0,141), pendidikan terakhir ibu (p=0,830), pengetahuan gizi ibu (p=1,000), pola asuh makan (p=0,541), tinggi badan ibu (p=1,000), dan tinggi badan ayah (p=0,111) tidak berhubungan dengan kejadian stunting. Pemantauan status gizi balita serta pencegahan kepada sasaran yang tepat guna perlu dipertahankan dan ditingkatkan untuk mencegah kejadian stunting
Analisis Pernikahan Usia Dini pada Wanita Usia Subur (Data SKAP BKKBN Provinsi Banten 2019)
Early marriage is a phenomenon that occurs at the national and international levels, one of which is in Indonesia, according to the results of the Banten Province BKKBN Youth SKAP data in 2019 there are still many people who marry under the age of 18. The purpose of this study was to determine the relationship between education, place of residence, and ethnicity with early marriage in women of childbearing age in Banten Province in 2019. This research was quantitative analytic with a cross-sectional approach. Independent variable; education, place of residence, and ethnicity. The dependent variable is early marriage. Respondents were all data on women of childbearing age contained in the 2019 Banten Province BKKBN SKAP data, which amounted to 1709 people. Data collection uses data from the 2019 Banten Province BKKBN SKAP which is already available. Bivariate data analysis using chi-square. The results showed that there was a significant relationship between education (P: 0.000), place of residence (P: 0.000), and ethnicity (P: 0.000) with early marriage. Education can influence a woman to delay the age of marriage. The longer a woman attends formal education, the higher the age at first marriage, and women who live in rural areas have a higher tendency to marry young than women who live in urban areas and certain ethnic groups have a very close relationship with the occurrence of early marriage.Pernikahan usia dini adalah masalah yang muncul baik di Indonesia maupun di dunia, dari data SKAP Remaja BKKBN Provinsi Banten tahun 2019 banyak yang melakukan pernikahan di bawah usia 18 tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pendidikan, tempat tinggal dan suku dengan pernikahan usia dini pada wanita usia subur di Provinsi Banten tahun 2019. Penelitian ini berjenis kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Variabel independen; pendidikan, tempat tinggal dan suku. Variabel dependen adalah Pernikahan usia dini. Responden seluruh data wanita usia subur yang terdapat pada data SKAP BKKBN Provinsi Banten tahun 2019 berjumlah 1709 orang. Menggunakan data sekunder dari SKAP BKKBN Provinsi Banten tahun 2019. Analisis data bivariat menggunakan chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara pendidikan (P:0,000), tempat tinggal (P:0,000), dan suku (P : 0,000) dengan pernikahan usia dini. Perempuan yang tidak berpendidikan formal beresiko melakukan pernikahan dini, wanita yang bertempat tinggal di pedesaan memiliki kecenderungan menikah secara dini dibandingkan dengan perempuan yang bertempat tinggal di perkotaan serta suku tertentu yang biasa melakukan pernikahan dini
Efektivitas Metode Seven Jumps dan Klasikal terhadap Pengetahuan Mahasiswa tentang Discharge Planning Postpartum
Discharge planning postpartum is a systematic planning process from the beginning of the patient\u27s arrival until the time he leaves the health service. Some health workers, especially midwives, sometimes do not run it optimally. It is predominantly done when the patient is about to go home by giving a re-control letter only. So it is necessary to explore the competence of discharge planning optimally and professionally. The purpose of this study was to determine the effectiveness of seven jumps and classical method on student knowledge of postpartum discharge planning. The research method used quasi experiment with pretest and posttest control group design. The total samples were 25 students as respondents; 14 students joined intervention group who got seven jumps method and 11 students joined control group who got classical one. The data collection technique used a questionnaire. The data analysis used Wilcoxon test and Mann Whitney test. The results of Wilcoxon test showed an improvement of knowledge of discharge planning postpartum by using seven jumps method in intervention group (p-value 0.001) and by using classical method in control group (p-value 0.003). The results of Mann Whitney test (p-value 0.285) showed no significant difference between the intervention group and the control group. To conclude, seven jumps and classical method are effective to improve student knowledge of discharge planning post partum. However, there is statistically no significant difference between both methods.Discharge planning postpartum merupakan proses perencanaan yang sistematis dari awal pasien datang hingga pada saat keluar dari pelayanan Kesehatan. Beberapa tenaga kesehatan khususnya bidan terkadang tidak menjalankannya secara optimal. Biasanya ketika pasien akan pulang hanya diberikan surat kontrol saja sehingga kompetensi discharge planning mereka perlu digali secara optimal dan profesional. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas metode seven jumps dan klasikal terhadap pengetahuan mahasiswa tentang discharge planning postpartum. Metode penelitian ini menggunakan quasi eksperimen dengan desain pretes dan postes grup kontrol. Total sampel yaitu 25 mahasiswa sebagai responden dimana 14 mahasiswa masuk kelompok intervensi dengan metode seven jumps dan 11 mahasiswa bergabung dengan kelompok kontrol dan mendapatkan metode klasikal. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan uji Mann Whitney. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan tentang discharge planning postpartum dengan menggunakan metode seven jumps pada kelompok intervensi (p=0,001) dan menggunakan metode klasikal pada kelompok kontrol (p=0.003). Hasil uji Mann Whitney (p=0,285) menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelopok kontrol. Kesimpulannya metode seven jumps dan klasikal efektif dalam meningkatkan pengetahuan tentang discharge planning postpartum. Namun secara statistik, tidak ditemukan perbedaan signifikan pada kedua metode tersebut
Efektifitas Teknik Relaksasi Napas dan Imajinasi Terbimbing terhadap Penurunan Nyeri pada Pasien Pasca Operasi di Ruang Bedah
Postoperative patients experience nociceptive pain due to wound incision. The uncontrolled pain impacts on the decrease of patients’ participation in care, the patients’ dissatisfaction, and the increase of length of stay. One of efforts in reducing the pain non-pharmacologically is by breathing relaxation technique and guided imagination. The purpose of this study was to determine the effectiveness of breathing relaxation technique and guided imagination on pain reduction of postoperative patients. This study used an experimental time series design and consecutive sampling technique. The sample size was 90 people consisting of 30 respondents in the control group, 30 respondents received breathing relaxation technique and 30 respondents got guided imagination treatment. The data analysis used Fiedman test and Wilcoxon Post Hoc test. The results of Fiedman test (p value 0.0001) showed differences in pain reduction among the control group, the breathing relaxation technique group and the guided imagination group in the 1st, 2nd and 3rd days (p<0.05). Meanwhile, the Wilcoxon test results (p value 0.302) showed no significant difference in the decrease of pain intensity between the breathing relaxation technique group and the guided imagination group (p> 0.05). The combination of breathing relaxation technique, guided imagination and pharmacological techniques can be applied as an effort of providing nursing services in pain reduction among postoperative patients.Pasca operasi pasien mengalami nyeri nosisepsi akibat insisi luka. Nyeri yang tidak terkontrol berdampak pada penurunan partisipasi pasien dalam perawatan, ketidakpuasan pasien dan bertambahnya lama rawat. Salah satu upaya untuk menurunkan nyeri tersebut secara non-farmakologi adalah dengan teknik relaksasi dan imajinasi terbimbing. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas teknik relaksasi napas dan imajinasi terbimbing terhadap penurunan nyeri pada pasien pasca operasi. Penelitian ini menggunakan desain time series eksperimen dan consecutive sampling. Jumlah sampel 90 orang terdiri dari 30 responden kelompok kontrol, 30 responden intervensi teknik relaksasi napas dan 30 responden intervensi imajinasi terbimbing. Analisis data menggunakan uji Fiedman dan uji Post Hoc Wilcoxon. Hasil uji Fiedman (p value = 0,0001) menunjukkan perbedaan penurunan nyeri antara kelompok kontrol dengan kelompok teknik relaksasi napas dan imajinasi terbimbing pada hari ke 1, ke 2 dan ke 3 (p<0,05). Sedangkan hasil uji wilcoxon (p value = 0,302) menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada penurunan intensitas nyeri antara kelompok intervensi relaksasi napas dan kelompok imajinasi terbimbing (p> 0,05). Teknik relaksasi napas dan imajinasi terbimbing yang dipadukan dengan kolaborasi teknik farmakologi dapat diterapkan sebagai upaya penatalaksanaan keperawatan dalam penurunan nyeri pada pasien pasca operasi