Faletehan Health Journal
Not a member yet
    273 research outputs found

    Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibu tentang Responsive Feeding Bayi dengan Status Gizi Anak Balita

    Full text link
    During the age of under five, nutritional issues such as malnutrition are prone to occur. Thus, mothers’ role in providing meals through responsive feeding is important. This research was to investigate the correlation between the level of maternal knowledge and attitude towards responsive feeding with the nutritional status of children under five. It was a correlational study with a cross-sectional approach. The population consisted of mothers with children under five attending the Posyandu (Integrated Health Service) in Arcawinangun Village, East Purwokerto District, totaling 211 individuals. The sampling technique used was cluster sampling. The instruments were questionnaires related to knowledge and attitudes towards responsive feeding. Data analysis used the Spearman rank correlation test. The results showed that most of maternal knowledge was good (77%); the maternal attitude was good (67.1%); and the nutritional status of children under five was normal (78.9%). The results of data analysis showed there was a significant relationship between the level of maternal knowledge and the attitude of responsive feeding with the nutritional status of children under five (p value = 0.000). Education about responsive feeding to mothers who have less knowledge and attitudes was needed to improve the nutritional status of children under five.Pada usia balita masalah gizi, seperti gizi kurang, rentan terjadi sehingga peran ibu dalam pemberian makanan melalui responsive feeding menjadi penting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap responsive feeding ibu dengan status gizi anak balita. Desain penelitian adalah studi korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah ibu dengan anak balita di Posyandu Kelurahan Arcawinangun, Kecamatan Purwokerto Timur sejumlah 211 orang. Teknik sampling menggunakan cluster sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner terkait pengetahuan dan sikap responsive feeding. Analisis data yang digunakan uji korelasi Spearman rank. Hasil penelitian menunjukkan sebagain besar pengetahuan ibu adalah baik (77%), sikap ibu adalah baik (67,1%), dan status gizi balita dalam kategori normal (78,9%). Hasil analisis data menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan responsive feeding ibu dan sikap responsive feeding ibu dengan status gizi anak balita (p value = 0,000). Edukasi mengenai responsive feeding pada ibu yang memiliki pengetahuan dan sikap yang kurang diperlukan untuk meningkatkan status gizi balita

    Aplikasi Mobile untuk Rehabilitasi Pasca Operasi pada Pasien Fraktur Ekstremitas yang Ditangani dengan ORIF: Systematic Review

    Full text link
    Extremity fractures are a significant health problem. This study aimed to analyze the effectiveness of mobile applications in post-operative Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) education for patients with extremity fractures, focusing on improving functional status and preventing post-operative complications. This systematic review study searched for Articles from the PubMed, Cochrane, ProQuest, EBSCOhost, and ScienceDirect databases. Of the 518 articles found, 69 met the inclusion criteria, and 10 were further analyzed. The results of the review indicated that the use of mobile applications for post-operative ORIF education can improve functional status and prevent complications compared to standard care. Several studies showed that mobile applications can enhance adherence to treatment regimens, reduce complications, and accelerate the healing process. The development and implementation of mobile applications for post-operative ORIF education hold significant potential for improving functional status and preventing the risk of complications in patients. A comprehensive evaluation of application design, intervention effectiveness, patient adherence, user satisfaction, cost-effectiveness analysis, as well as program sustainability and scalability is essential to ensure the long-term success and benefits of this intervention.Fraktur ekstremitas merupakan masalah Kesehatan yang signifikan. Studi ini bertujuan menganalisis efektivitas penggunaan aplikasi mobile dalam edukasi pasca operasi Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) pada pasien dengan fraktur ekstremitas, dengan fokus pada peningkatan status fungsional dan pencegahan komplikasi pasca operasi. Studi sistematik review ini mencari artikel dari database PubMed, Cochrane, ProQuest, EBSCOhost, dan ScienceDirect. Dari 518 artikel yang ditemukan, 69 artikel memenuhi kriteria inklusi dan 10 artikel dianalisis lebih lanjut. Hasil review menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi mobile untuk edukasi pasca operasi ORIF dapat meningkatkan status fungsional dan mencegah komplikasi dibandingkan dengan perawatan standar. Beberapa studi menunjukkan bahwa aplikasi mobile dapat meningkatkan kepatuhan terhadap regimen pengobatan, mengurangi komplikasi, dan mempercepat proses penyembuhan. Pengembangan dan implementasi aplikasi mobile untuk edukasi pasca operasi ORIF memiliki potensi besar untuk meningkatkan status fungsional dan mencegah risiko komplikasi pada pasien. Evaluasi yang komprehensif terhadap desain aplikasi, efektivitas intervensi, kepatuhan pasien, kepuasan pengguna, analisis biaya-efektivitas, serta keberlanjutan dan skalabilitas program sangat penting untuk memastikan keberhasilan dan manfaat jangka panjang dari intervensi ini

    Hubungan Pengetahuan, Motivasi dan Dukungan Rumah Sakit terhadap Penrapan Keselamatan Kesehatan Kerja Perawat

    Full text link
    Occupational Health and Safety (OHS) is a crucial aspect in the hospital environment to protect health workers from various occupational risks. The implementation of hospital OHS not only aims to prevent occupational accidents and occupational diseases but also creates a safe and comfortable hospital environment for patients, all employees, and visitors. This study aims to analyze the relationship between knowledge, motivation, and hospital support to the implementation of hospital OHS. This study used a descriptive method with a cross-sectional approach. The research instrument was a closed questionnaire. The research sample amounted to 42 nurses at Dr. Drajat Prawiranegara Hospital who were selected through total sampling techniques. Bivariate analysis was carried out using chi-square test. The results showed that 54.8% of nurses had a poor level of knowledge, 76.2% had high motivation, 52.4% stated that hospital support was still lacking, and 69.0% of nurses had not fully implemented OHS. The results of the statistical test showed a significant relationship between knowledge (p=0.002), motivation (p=0.018), hospital support (p=0.014) and the implementation of OHS. Routine OHS-related training programs, the reward system to motivate nurses, and the commitment of hospital management in providing facilities and policies that support the implementation of OHS in a sustainable manner should be strengthened.Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek krusial dalam lingkungan rumah sakit guna melindungi tenaga kesehatan dari berbagai risiko kerja. Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) tidak hanya bertujuan mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, tetapi juga menciptakan lingkungan rumah sakit yang aman dan nyaman bagi pasien, seluruh karyawan, dan pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan, motivasi, dan dukungan rumah sakit terhadap penerapan K3RS. Desain penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner tertutup. Sampel penelitian berjumlah sebanyak 42 perawat di RSUD Dr. Drajat Prawiranegara yang dipilih melalui teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 54,8% perawat memiliki tingkat pengetahuan yang kurang baik, 76,2% memiliki motivasi yang tinggi, 52,4% menyatakan bahwa dukungan dari rumah sakit masih kurang, dan 69,0% perawat belum sepenuhnya menerapkan K3RS.” Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p=0,002), motivasi (p=0,018), serta dukungan rumah sakit (p=0,014) dengan penerapan K3RS. Program pelatihan rutin terkait K3RS, penguatan sistem penghargaan untuk memotivasi perawat, serta komitmen manajemen rumah sakit dalam menyediakan fasilitas dan kebijakan yang mendukung implementasi K3 secara bekelanjutan diharapkan meningkat

    Pencegahan Stunting: Pemenuhan Nutrisi, Pendidikan Kesehatan dan Sosial Ekonomi dalam Upaya Penanggulangan Masalah Gizi pada Balita

    Full text link
    Around 7.8 million of the 23 million children under five in Indonesia were stunted. The Indonesian government was committed to overcoming stunting, as stated in the national strategy plan for stunting prevention by 2018-2024. This study aims to examine stunting prevention strategies through the integration of nutrition, health education and socio-economic status in a vulnerable group, namely toddlers, in priority locations. The research method used is qualitative descriptive. The data were collected through interviews, documentation and observations to informants who were considered to know the importance of nutrition in the first 1000 days of birth as an effective intervention on child growth. Education and parental involvement in managing children\u27s diets have an effect on stunting risk. Nutritional education to parents can play an important role in changing family eating behaviors. Successful interventions in addressing stunting involve a combination of strategies, including supplementation, nutritional supplementation, dietary changes and educational campaigns. Stunting prevention through improving nutritional fulfillment requires a holistic approach that involves various aspects, including nutritional education, access to quality food sources, supportive nutrition policies, and public understanding of the importance of a balanced diet.Sekitar 7,8 juta dari 23 juta balita di Indonesia mengalami stunting. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengatasi stunting, tertuang dalam rencana strategi nasional pencegahan stunting per 2018-2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi pencegahan stunting melalui integrasi nutrisi, pendidikan kesehatan dan sosial ekonomi pada kelompok rentan, yaitu balita, di lokasi prioritas. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu wawancara, dokumentasi dan observasi kepada informan yang dianggap mengetahui pentingnya gizi pada 1000 hari pertama kelahiran (HPK) sebagai intervensi efektif pada pertumbuhan anak. Pendidikan dan keterlibatan orang tua dalam pengelolaan pola makan anak berpengaruh pada risiko stunting. Edukasi gizi kepada orang tua dapat memainkan peran penting dalam perubahan perilaku makan keluarga. Intervensi yang berhasil dalam mengatasi stunting melibatkan kombinasi strategi, termasuk pemberian makanan tambahan, suplementasi gizi, perubahan praktik pangan, dan kampanye edukasi. Pencegahan stunting melalui peningkatan pemenuhan nutrisi memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan berbagai aspek, termasuk edukasi gizi, akses terhadap sumber makanan berkualitas, kebijakan gizi yang mendukung, dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pola makan seimbang

    Pengaruh Pemberdayaan terhadap Self-Efficacy pada Pasien Kanker Payudara: Systematic Review

    Full text link
    Breast cancer is the second most prevalent type of cancer and one of the leading causes of mortality. Efforts to reduce mortality rates can be achieved by empowering patients to manage symptoms caused by cancer and the side effects of treatment therapies. This study aimed to evaluate the effectiveness of empowerment education in increasing self-efficacy in breast cancer patients. The study employed a systematic review of eight articles sourced from various databases, including ProQuest, SpringerLink, ScienceDirect, Sage Journal, Google Scholar, and PubMed. A total of 8,693 articles were retrieved from seven databases. After screening based on inclusion criteria, 638 articles were deemed eligible. Based on the selection of titles, abstracts, and full texts, 22 articles were chosen, and after duplicate elimination, 10 articles were analyzed using the Joanna Briggs Institute (JBI) quality assessment tool. The analysis results indicated that the empowerment approach is effective in improving self-efficacy and quality of life in breast cancer patients. By utilizing empowerment education, healthcare professionals can provide holistic support to patients, improve therapeutic outcomes, and reduce breast cancer mortality rates. This study recommended the integration of empowerment education as an essential component of breast cancer management in various healthcare facilities.Kanker payudara merupakan jenis kanker dengan prevalensi tertinggi kedua di dunia dan menjadi salah satu penyebab utama kematian. Penurunan angka kematian dapat dicapai melalui pemberdayaan pasien untuk mengelola gejala kanker serta efek samping dari terapi pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas edukasi pemberdayaan dalam meningkatkan self-efficacy pada pasien kanker payudara. Peninjauan sistematis dilakukan terhadap delapan artikel yang diperoleh dari beberapa basis data, yaitu ProQuest, SpringerLink, ScienceDirect, Sage Journal, Google Scholar, dan PubMed. Penelusuran pada tujuh basis data menghasilkan 8.693 artikel. Penyaringan menggunakan kriteria inklusi mendapatkan 638 artikel yang memenuhi syarat. 22 artikel terpilih berdasarkan seleksi judul, abstrak, dan teks penuh. Setelah eliminasi duplikasi, 10 artikel dianalisis berdasarkan penilaian kualitas artikel menggunakan instrumen Joanna Briggs Institute (JBI). Hasil analisis menunjukkan bahwa pendekatan pemberdayaan efektif dalam meningkatkan efikasi diri dan kualitas hidup pasien kanker payudara. Dengan menggunakan pendidikan pemberdayaan, tenaga kesehatan dapat memberikan dukungan holistik kepada pasien, meningkatkan keberhasilan terapi, dan menurunkan angka kematian akibat kanker payudara. Penelitian ini merekomendasikan integrasi pendidikan pemberdayaan sebagai bagian penting dari manajemen kanker payudara di berbagai fasilitas kesehatan

    Persepsi Penyakit dan Kualitas Hidup di Kalangan Wanita dengan Kanker Payudara: Analisis Multivariat dari Indonesia

    Full text link
    Breast cancer profoundly affects patients’ quality of life (QoL), yet the relative impact of illness perception compared to demographic factors remains underexplored. This study sought to identify key determinants of QoL using a comprehensive multivariate approach, aiming to examine how illness perception influences the QoL of patients with breast cancer in Indonesia. A cross-sectional study was conducted, involving 167 patients with breast cancer from the hospital\u27s cancer unit who were selected by purposive sampling. Demographic data, illness perception, and QoL were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Measurement models assessed reliability (Cronbach\u27s α, CR) and validity (AVE), while structural models evaluated path coefficients (β) and predictive power (R²) using SmartPLS 4.0. Research results showed illness perception emerged as a strong predictor of QoL (β = -0.558, p < 0.001; R² = 0.360), with emotional response (loading = 0.796) and perceived consequences (loading = 0.727) identified as key dimensions. Demographic variables showed negligible influence (R² = 0.0003). Reliability was acceptable for illness perception (α = 0.699, CR = 0.794) but poor for demographic factors (α = 0.248). Model fit indices suggested moderate adequacy (SRMR = 0.104, NFI = 0.515). Illness perception, especially emotional response and perceived consequences, strongly determines QoL. Psychological interventions, education, and emotional support should be prioritized over demographic factors in breast cancer care.Kanker payudara berdampak besar terhadap kualitas hidup, namun pengaruh relatif persepsi penyakit terhadap demografi masih kurang dipelajari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi determinan utama kualitas hidup menggunakan pendekatan multivariat, menganalisis persepsi penyakit mempengaruhi kualitas hidup pada pasien kanker payudara di Indonesia. Sebuah studi potong lintang dilakukan terhadap 167 pasien kanker payudara dari unit kanker rumah sakit yang dipilih dengan purposive sampling. Data demografi, persepsi penyakit, dan QoL dianalisis dengan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Model pengukuran menilai reliabilitas (α Cronbach, CR) dan validitas (AVE) sementara model struktural menguji koefisien jalur (β) dan daya prediktif (R²) menggunakan SmartPLS 4.0. Hasil penelitian menunjukkan persepsi penyakit secara kuat memprediksi kualitas hidup (β = -0,558; p < 0,001; R² = 0,360), dengan emosi (loading = 0,796) dan konsekuensi (0,727) sebagai dimensi utama. Demografi menunjukkan efek yang dapat diabaikan (R² = 0,0003). Model ini memiliki reliabilitas yang dapat diterima untuk persepsi penyakit (α = 0,699, CR = 0,794) tetapi kurang sesuai untuk demografi (α = 0,248). Indeks kesesuaian menunjukkan keselarasan sedang (SRMR = 0,104, NFI = 0,515). Persepsi penyakit, terutama aspek emosi dan konsekuensi, menjadi penentu utama kualitas hidup. Intervensi psikologis, edukasi, dan dukungan emosional perlu diprioritaskan dibanding karakteristik demografi dalam perawatan kanker payudara

    Resiliensi dan Perilaku Merokok pada Remaja: Tinjauan Sistematis

    Full text link
    The high prevalence of smoking among adolescents poses a significant global health challenge. While resilience has been identified as a protective factor against risky behaviors, the underlying mechanisms and influencing factors have not been comprehensively synthesized. This study aimed to examine the relationship between resilience and smoking behavior among adolescents and to identify the mediating factors of this relationship through a systematic review. A systematic review design was employed following the PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) guidelines. A comprehensive literature search was conducted across ScienceDirect, PubMed, ProQuest, and Scopus databases without publication year restrictions. The methodological quality of the included studies was assessed using the Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Checklist for Analytical Cross-Sectional Studies. Of the 326 articles identified, 10 studies met the inclusion criteria. The results indicated that high levels of resilience were significantly associated with lower rates of smoking behavior among adolescents. Resilience functions as a protective factor through the interaction between internal assets and external resources. Family support, school connectedness, positive peer support, and mental well-being were identified as key mediating factors that strengthen resilience in preventing smoking initiation. This study concludes that health promotion strategies and nursing interventions should not only focus on the dangers of smoking but also integrate resilience-building through a holistic approach involving family and school environments.Tingginya prevalensi merokok pada remaja menjadi tantangan kesehatan global. Resiliensi diidentifikasi dapat memproteksi remaja dari perilaku berisiko, namun mekanisme dan faktor-faktor yang memengaruhinya belum sepenuhnya disintesis secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah hubungan antara resiliensi dan perilaku merokok pada remaja serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memediasi hubungan tersebut melalui tinjauan sistematis. Desain systematic review digunakan dengan mengikuti pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Pencarian literatur dilakukan secara komprehensif pada database ScienceDirect, PubMed, ProQuest, dan Scopus tanpa batasan tahun publikasi. Kualitas metodologis artikel dinilai menggunakan instrumen the Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal Checklist for Analytical Cross-Sectional Studies. Dari 326 artikel yang diidentifikasi, 10 studi memenuhi kriteria inklusi. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa tingkat resiliensi yang tinggi berhubungan signifikan dengan rendahnya perilaku merokok pada remaja. Resiliensi berperan sebagai faktor pelindung melalui interaksi antara faktor internal dan faktor eksternal. Dukungan keluarga, koneksi sekolah (school connectedness), dukungan teman sebaya yang positif, dan kesejahteraan mental teridentifikasi sebagai faktor mediator utama yang memperkuat resiliensi dalam mencegah inisiasi merokok. Penelitian ini menyarankan strategi promosi kesehatan dan intervensi keperawatan yang tidak hanya berfokus pada bahaya rokok tetapi juga mengintegrasikan penguatan resiliensi melalui pendekatan holistik yang melibatkan keluarga dan lingkungan sekolah

    Hubungan antara Resiliensi dan Self-Efficacy dengan Burnout Syndrome pada Perawat Ruang Rawat Inap Rumah Sakit

    Full text link
    As the largest professional health workforce in Indonesia, nurses face high demands and responsibilities in hospitals, making them vulnerable to burnout syndrome. Resilience and self-efficacy are considered important factors that may mitigate this risk. This study aimed to analyze the relationship of resilience, self-efficacy, and burnout syndrome among nurses. This study used a descriptive correlational design with a cross-sectional approach. The population consisted of 140 inpatient nurses, from which a sample of 100 respondents was selected using stratified random sampling with a 5% significance level. The majority of nurses had high levels of resilience (58%) and self-efficacy (55%). However, a high level of burnout syndrome was also found in 55% of the nurses. The Spearman Rank correlation test revealed no significant relationship between resilience and burnout syndrome (p=0.968), nor between self-efficacy and burnout syndrome (p=0.921). No relationship was found between resilience, self-efficacy, and burnout syndrome in the nurse population of this study. Further research is recommended to explore other contributing factors or to investigate this phenomenon in different contexts, such as among nurses in the education sector.Perawat sebagai tenaga kesehatan profesional terbesar di Indonesia menghadapi tuntutan peran dan tanggung jawab yang tinggi di rumah sakit sehingga rentan mengalami burnout syndrome. Resiliensi dan self-efficacy dianggap sebagai faktor penting yang dapat memitigasi risiko ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara resiliensi dan self-efficacy dengan burnout syndrome pada perawat. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah 140 perawat ruang rawat inap dengan sampel sebanyak 100 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling dengan tingkat signifikansi 5%. Mayoritas perawat memiliki tingkat resiliensi tinggi (58%) dan self-efficacy tinggi (55%). Namun, tingkat burnout syndrome yang tinggi juga ditemukan pada 55% perawat. Uji korelasi Spearman Rank menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara resiliensi dengan burnout syndrome (p=0,968), serta tidak ada hubungan signifikan antara self-efficacy dengan burnout syndrome (p=0,921). Penelitian ini tidak menemukan hubungan antara resiliensi dan self-efficacy dengan burnout syndrome pada populasi perawat. Peneliti menyarankan penelitian lebih lanjut yang mengeksplorasi faktor-faktor lain atau pada konteks yang berbeda seperti pada perawat di bidang pendidikan

    Hubungan antara Risiko 4 Terlalu dan Kepatuhan Antenatal Care (ANC) dengan Komplikasi Persalinan

    Full text link
    Complications during childbirth are one of the leading causes of maternal mortality in Indonesia. This condition arises from high-risk pregnancies or deliveries and can threaten the lives of both the mother and the fetus, necessitating appropriate obstetric management. This study aims to determine the relationship between the 4 too much (4T) risks and antenatal care (ANC) compliance with labor complications at Baros Health Center in Serang Regency, Banten Province, Indonesia. This research employed an analytical design with a case-control framework. A total of 292 respondents were randomly selected as samples. Data were collected from annual report books, delivery registers, and e-cohorts. Data analysis was conducted using the chi-square test. The results indicated that the incidence of childbirth complications occurred in 55.5% of the total respondents, with hemorrhage being the most common type of complication (34% of 162 complication cases). The occurrence of complications had a significant relationship with being too young (p=0.000; OR=9.8), being too old (p=0.000; OR=16.9), having too many children (p=0.000; OR=20.3), too close birth distance (p=0.000; OR=7.5), and ANC compliance (p=0.000; OR=62.2). The most significant risk factor was ANC compliance. Based on the study\u27s findings, promotional and preventive efforts need to be enhanced through education on the importance of ANC compliance for pregnant women. Additionally, family planning programs should be strengthened to prevent pregnancies at too young or too old ages, manage the number of children, and ensure ideal birth spacing.Komplikasi persalinan merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu di Indonesia. Kondisi ini terjadi akibat kehamilan atau persalinan yang berisiko tinggi dan dapat mengancam nyawa ibu maupun janin, sehingga memerlukan penanganan kebidanan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara risiko 4 Terlalu (4T) dan kepatuhan antenatal care (ANC) dengan komplikasi persalinan di Puskesmas Baros, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan rancangan case-control. Sebanyak 292 responden dipilih secara acak sederhana sebagai sampel. Data dikumpulkan dari buku laporan tahunan, register persalinan, dan e-kohort. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan kejadian komplikasi persalinan terjadi pada 55,5% dari total responden, dengan perdarahan sebagai jenis komplikasi tertinggi (34% dari 162 kasus komplikasi). Kejadian komplikasi memiliki hubungan signifikan dengan usia terlalu muda (p=0,000; OR=9,8), usia terlalu tua (p=0,000; OR=16,9), jumlah anak terlalu banyak (p=0,000; OR=20,3), jarak kelahiran terlalu dekat (p=0,000; OR=7,5), dan kepatuhan ANC (p=0,000; OR=62,2). Faktor risiko paling signifikan adalah kepatuhan ANC. Berdasarkan hasil penelitian, upaya promotif dan preventif perlu ditingkatkan dengan edukasi mengenai pentingnya kepatuhan ANC kepada ibu hamil. Selain itu, program Keluarga Berencana perlu diperkuat untuk mencegah kehamilan pada usia terlalu muda atau terlalu tua, mengatur jumlah anak, dan memastikan jarak kelahiran yang ideal

    Efektifitas Pendidikan dan Pelatihan Daring untuk Penanggulangan Wabah pada Tim Aksi Gerak Cepat

    Full text link
    Ministerial Regulation No. 1501 of 2010, Article 21(2), highlights the formation of a Rapid Action Team (RAT) as a part of Indonesia\u27s outbreak control strategies. However, due to the massive spread and increase in Covid-19 cases, the education and training for RAT was carried out online. This study aims to identify determinant factors influencing the effectiveness of education and training using the online method for RAT community health centers. It employed a quasi-experimental design one-group pretest-posttest. The sample consisted of all training participants, totaling 60 individuals, from 12 health centers in the Special Region of Yogyakarta. Data analysis involved both simple and multiple linear regression tests. Research findings indicated that: 1) a significant difference existed in participants\u27 knowledge scores before and after receiving education and training using the online method; 2) Determinant factors related to effectiveness included the quality of assignments, participant satisfaction with facilitator performance, and participant engagement. Continuation of online education and training methods can be achieved through ongoing monitoring of task quality, participant engagement, and facilitator performance. Technical challenges can be addressed by recording activities, testing content, and preparing contingency plansPermenkes Nomor 1501 Tahun 2010 pasal 21(2) menyatakan bahwa salah satu upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB) dan wabah di Indonesia adalah pembentukan Tim Gerak Cepat (TGC). Namun, wabah dan peningkatan kasus Covid-19 menyebabkan pendidikan dan pelatihan TGC dilakukan secara daring. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor determinan yang mempengaruhi efektivitas pendidikan dan pelatihan dengan metode daring pada TGC puskesmas. Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimen one-group pretest-posttest. Sampel adalah seluruh peserta pelatihan yang berasal dari 12 puskesmas Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebanyak 60 orang. Analisis data menggunakan uji regresi liner sederhana dan berganda (α=0,05). Hasil penelitian menujukkan bahwa: 1) Ada perbedaan signifikan nilai pengetahuan peserta sebelum dan setelah diberikan pendidikan dan pelatihan dengan metode daring; 2) Faktor determinan yang berhubungan dengan efektivitas kegiatan adalah kualitas penugasan peserta, kepuasan peserta terhadap performa fasilitator, dan keaktifan peserta. Pendidikan dan pelatihan metode daring dapat tetap dilanjutkan dengan monitoring terhadap kualitas tugas dan keaktifan peserta serta performa fasilitator. Kendala teknis dapat diselesaikan dengan merekam selama kegiatan berlangsung, menguji konten, dan menyiapkan rencana cadangan

    255

    full texts

    273

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Faletehan Health Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇