Universitas Islam Lamongan, Fakultas Agama Islam: OJS
Not a member yet
744 research outputs found
Sort by
Penerapan Media Animasi terhadap Pengenalan Kosakata Bahasa Inggris Anak di Taman Kanak-Kanak Pertiwi 1 Kantor Gubernur Padang
Tugas peneliti di Taman Anak Pertiwi 1 adalah mengajarkan kata-kata baru dalam bahasa Inggris kepada anak-anak menggunakan berbagai bentuk media pembelajaran. Karena mengandalkan media tradisional, seperti kartu bergambar, Kantor Gubernur Padang kini kekurangan media pendukung yang memadai. Meskipun manfaat media pembelajaran animasi yang praktis, terutama bagi anak-anak, potensi penerapannya belum diteliti dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa baik Taman Anak Pertiwi 1 Kantor Gubernur Padang menggunakan media pembelajaran animasi untuk mengajarkan kata-kata baru dalam bahasa Inggris kepada anak-anak. Teknik kuantitatif digunakan dalam penelitian ini. Di bawah kewenangan Kantor Gubernur Padang, 89 siswa dari Taman Anak Pertiwi 1 menjadi populasi penelitian. Tiga puluh anak menjadi ukuran sampel; lima belas anak dimasukkan ke dalam kelompok eksperimen (B4) dan lima belas ke dalam kelompok kontrol (B2). Metode pengumpulan informasi meliputi wawancara, observasi terstruktur, dan dokumentasi. Kami menggunakan uji homogenitas, normalitas, dan uji hipotesis untuk menganalisis data. Survei adalah alat untuk mengumpulkan data. Setelah itu, dengan bantuan SPSS 23, kami menguji hipotesis data, khususnya menggunakan uji-t. Nilai ambang signifikansi kurang dari 0,05, dengan nilai-p 0,00. Oleh karena itu, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sangat berbeda. Baik hipotesis alternatif Ha maupun hipotesis nol Ha telah diterima. Meskipun demikian, kami menolak hipotesis nol (H0). Hasilnya, ada pengaruh animasi yang terukur terhadap perkembangan kosakata anak-anak dalam bahasa Inggris. Berdasarkan bukti ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Ha benar dan H0 salah. Perkembangan kosakata anak dalam bahasa Inggris sangat dipengaruhi oleh penggunaan media animasi.Tugas peneliti di Taman Anak Pertiwi 1 adalah mengajarkan kata-kata baru dalam bahasa Inggris kepada anak-anak menggunakan berbagai bentuk media pembelajaran. Karena mengandalkan media tradisional, seperti kartu bergambar, Kantor Gubernur Padang kini kekurangan media pendukung yang memadai. Meskipun manfaat media pembelajaran animasi yang praktis, terutama bagi anak-anak, potensi penerapannya belum diteliti dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa baik Taman Anak Pertiwi 1 Kantor Gubernur Padang menggunakan media pembelajaran animasi untuk mengajarkan kata-kata baru dalam bahasa Inggris kepada anak-anak. Teknik kuantitatif digunakan dalam penelitian ini. Di bawah kewenangan Kantor Gubernur Padang, 89 siswa dari Taman Anak Pertiwi 1 menjadi populasi penelitian. Tiga puluh anak menjadi ukuran sampel; lima belas anak dimasukkan ke dalam kelompok eksperimen (B4) dan lima belas ke dalam kelompok kontrol (B2). Metode pengumpulan informasi meliputi wawancara, observasi terstruktur, dan dokumentasi. Kami menggunakan uji homogenitas, normalitas, dan uji hipotesis untuk menganalisis data. Survei adalah alat untuk mengumpulkan data. Setelah itu, dengan bantuan SPSS 23, kami menguji hipotesis data, khususnya menggunakan uji-t. Nilai ambang signifikansi kurang dari 0,05, dengan nilai-p 0,00. Oleh karena itu, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sangat berbeda. Baik hipotesis alternatif Ha maupun hipotesis nol Ha telah diterima. Meskipun demikian, kami menolak hipotesis nol (H0). Hasilnya, ada pengaruh animasi yang terukur terhadap perkembangan kosakata anak-anak dalam bahasa Inggris. Berdasarkan bukti ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Ha benar dan H0 salah. Perkembangan kosakata anak dalam bahasa Inggris sangat dipengaruhi oleh penggunaan media animasi.
 
Development of Project-Based Learning Integrated with Local Culture to Enhance Critical Thinking Skills of Students in Fine Motor Skills Development Course
Students interest in local culture tends to decline, especially in the face of globalization's influence, which shifts cultural values. This study aims to develop a Project-Based Learning (PjBL) model integrated with local culture to enhance students' critical thinking skills in the course on the Development of Fine Motor Skills. This research is a development study or Research and Development (R&D) utilizing the 4D model (Define, Design, Development, and Dissemination). The research sample consists of third-semester students from the Early Childhood Education Teacher Program at Universitas Bengkulu for the 2024/2025 academic year. Data collection is conducted through interviews, observations, questionnaires, and documentation, while data analysis employs qualitative analysis methods. The results indicate that the local culture-based PjBL model meets the criteria of being valid, practical, and effective in improving students' critical thinking skills. This effectiveness is demonstrated through a three-phase trial showing significant differences in students' abilities before and after the implementation of PjBL. Future researchers are encouraged to implement the local culture-based PjBL model more broadly across various study programs and courses, as well as conduct further research to evaluate the long-term impact of PjBL implementation on the development of critical thinking skills and other learning aspect
Peningkatan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Mahasiswa Menggunakan Al Qur’an Model Waqfi Wal Ibtidak Melalui Metode Pembelajaran Tahsin
The aim of this research is to improve the ability to read the Al Qur'an of class 2A BK students at FKIP UNUGIRI using the Al Qur'an waqfi wal ibnot through the Tahsin learning method. The method used in this research uses the action research method (Action Research) using giving cycles and each cycle has four main activities. There are four main activities in each cycle, namely (1) planning, (2) action, (3) observation, and (4) reflection. In data analysis, researchers used a calculation of the percentage of learning completeness of at least 75% to 80%, based on the results of collaborators by looking at the results of initial observations, actions and final results of actions. The picture obtained by researchers during pre-research shows a figure of 30% for initial reading ability, so that when implementing the actions of researchers and collaborators it increases by 45% to 50%. This criterion is based on initial capabilities, availability/adequacy of infrastructure. The results of pre-research data analysis showed that the percentage of BK 2A students' reading ability was 29.87%, at the end of cycle I the percentage of reading ability was 49.81% and at the end of cycle II the reading ability was 76.88%.The aim of this research is to improve the ability to read the Al Qur'an of class 2A BK students at FKIP UNUGIRI using the Al Qur'an waqfi wal ibnot through the Tahsin learning method. The method used in this research uses the action research method (Action Research) using giving cycles and each cycle has four main activities. There are four main activities in each cycle, namely (1) planning, (2) action, (3) observation, and (4) reflection. In data analysis, researchers used a calculation of the percentage of learning completeness of at least 75% to 80%, based on the results of collaborators by looking at the results of initial observations, actions and final results of actions. The picture obtained by researchers during pre-research shows a figure of 30% for initial reading ability, so that when implementing the actions of researchers and collaborators it increases by 45% to 50%. This criterion is based on initial capabilities, availability/adequacy of infrastructure. The results of pre-research data analysis showed that the percentage of BK 2A students' reading ability was 29.87%, at the end of cycle I the percentage of reading ability was 49.81% and at the end of cycle II the reading ability was 76.88%
HOW DOES SCHOOL SOLVE LEARNING DIFFICULTIES IN THE VUCA ERA?
The big role of teachers is not only to convey knowledge, educate, direct, and teach attitudes of responsibility, but also to find solutions to learning difficulties that occur during the learning process. The current new era, namely VUCA, is a transition from traditional to digital systems that make all information can be obtained quickly. This era has both positive and negative impacts on students. Such as the negative  impact that occurs on SMPIT Insan Madani students where some students experience learning difficulties which results in decreased learning outcomes. This research aims to help solve the problem of learning difficulties there. This research was carried out using literature review methods, interview methods, and direct observation. Researchers found interesting things  in solving the learning difficulties of students at SMPIT Insan Madani in several special ways, namely: psychological approach, nature-based schooling, and constructivity approach. Researchers hope these results will continue to provide benefits in the future for readers, related schools or other schools that experience similar learning difficulties
OPTIMALISASI EVALUASI RANAH AFEKTIF DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: MEWUJUDKAN PEMBELAJARAN BERARTI
Affective domain evaluation in Islamic Religious Education is very important because it is done directly with student behavior. This study aims to determine the implementation of optimizing the evaluation of the affective domain in Islamic Religious Education and the problems faced by Islamic Religious Education teachers in the evaluation. The method used by researchers is a qualitative approach with the type of case approach. The results of this study explain that at Muhammadiyah Elementary School Ponorogo, conducting affective evaluation in four ways, namely first, through observation by observing the attitude of students directly. Second, Islamic Religious Education teachers make journals or student assessment rubrics. Third, students conduct self-assessment. Fourth, with peer assessment. In addition, there are challenges faced by Islamic Religious Education teachers in the implementation of affective domain evaluation, namely students not understanding the material taught, subject matter with abstract indicators, less than maximum time allocation, and uncertain student circumstances
Coping Stress dalam Pendidikan Islam Perspektif Neurosains: Strategi Siswa Menghadapi Ujian Sekolah: STRATEGI SISWA MENGHADAPI UJIAN SEKOLAH
Examinations are one of the methods teachers use to assess students' abilities in achieving specific learning objectives. However, it is not uncommon for students to experience anxiety or stress when facing exams. Literature reveals that students experience stress at varying levels, from mild to severe. This research is a qualitative study based on library research. The data sources are derived from publications of articles in Sinta-indexed scientific journals. The findings of this research show that students' stress coping mechanisms in facing exams, within the perspective of Islamic education neuroscience, include increasing worship and studying, especially in the last third of the night, good time management, and ensuring a comfortable and conducive study environment. The optimal brain condition for learning is at the alpha wave level. Study sessions also need not be too long to prevent brain fatigue. Ice breaking can be an effective alternative to refresh the brain when it starts to feel fatigued. By considering these factors, students can minimize stress and be better prepared to face exams.Ujian menjadi salah satu langkah guru untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Namun tidak jarang ditemukan siswa yang mengalami kecemasan atau stress ketika menghadapi ujian. Dalam literatur ditemukan siswa mengalami stress dalam menghadapi ujian dengan prosentase 24,29% mengalami stress ringan, 52,86% mengalami stress sedang, 17,14% mengalami stress berat, 1,43% mengalami stress sangat berat dan 4,29% tidak mengalami stress akademik. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif berbasis studi pustaka. Sumber data diperoleh dari publikasi dari artikel pada jurnal yang terindeks sinta 1-6. Hasil penelitian ini dapat peneliti simpulkan bahwa coping stress siswa dalam menghadapi ujian dalam pendidikan Islam perspektif neurosains dilakukan dengan memperbanyak ibadah dan belajar terutama pada sepertiga malam terakhir, manajemen waktu yang baik, serta memperhatikan tempat dan kenyamanan untuk belajar. Kondisi otak terbaik untuk belajar adalah pada gelombang alpha. Durasi belajar juga tidak perlu terlalu lama agar otak tidak lelah. Ice breaking dapat menjadi alternatif untuk menyegarkan otak Ketika mulai jenuh. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut siswa dapat meminimalisir stress serta lebih siap menghadapi ujian
Resiliensi Pendidikan Pesantren Salafiyah di Era Modern: Studi Kasus Pondok Pesantren Azzakariyyah Merangin Jambi: STUDI KASUS PONDOK PESANTREN AZZAKARIYYAH MERANGIN JAMBI
Salafiyah Islamic boarding schools, as traditional Islamic educational institutions, face various challenges in the modern era. Therefore, a balance between classical Islamic education and modern education is essential to remain sustainable, relevant, and competitive amidst modernization. This study aims to identify the resilience of the educational system at Pondok Pesantren Azzakariyyah Merangin Jambi. Employing a qualitative research design with a case study approach, the research findings reveal that integrating traditional and modern education is crucial for producing students who are well-versed in knowledge suited to the demands of the modern era. This is achieved through the preservation of traditional elements such as dormitories, mosques, yellow books, students, and scholars, as well as traditional teaching methods, which reflect a strong social capital in facing modernization challenges. Strategic initiatives such as establishing educational foundations, providing madrasah education, integrating knowledge, and revitalizing the pesantren have reinforced its role as a resilient educational institution. Traditional learning methods such as wetonan, sorogan, tahfidz, mudzakarah, and majlis ta'lim, supported by visionary leadership and management integrated with modern education, enable the pesantren to remain relevant with the times. Nevertheless, the pesantren still faces challenges such as limited financial resources, inadequate infrastructure, and other resources.Pondok Pesantren Salafiyah sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tradisional, menghadapi berbagai tantangan di era modern. Oleh karena itu diperlukan keseimbangan antara pendidikan Islam klasik dan pendidikan modern untuk tetap dapat bertahan, relevan dan kompetitif di tengah arus modernisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi resiliensi pendidikan Pondok Pesantren Azzakariyyah Merangin Jambi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan integrasi pendidikan tradisional dan modern sebagai upaya pembentukan santri yang menguasai ilmu sesuai tuntutan zaman modern, melalui pelestarian unsur-unsur tradisional seperti asrama, masjid, kitab kuning, santri, dan kyai, serta metode pengajaran tradisional, menunjukkan modal sosial yang kuat dalam menghadapi tantangan modernisasi. Strategi inisiatif seperti pendirian yayasan pendidikan, penyediaan pendidikan kemadrasahan, integrasi ilmu pengetahuan, dan penyegaran pesantren, telah mengukuhkan peran pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tangguh. Metode pembelajaran tradisional seperti wetonan, sorogan, tahfidz, mudzakarah, dan majlis ta'lim, dengan dukungan kepemimpinan visioner dan manajemen terintegrasi dengan pendidikan modern, memungkinkan pesantren tetap relevan dengan perkembangan zaman. Meskipun demikian, pesantren ini masih menghadapi tantangan seperti sumber daya finansial yang terbatas, infrastruktur yang kurang memadai, dan sumber daya lainnya. Oleh karena itu, strategi yang lebih holistik sangat penting untuk meningkatkan ketahanan jangka panjang
Analisis Pemikiran Pendidikan Multikultural Ki Hajar Dewantara dalam Tinjauan Alquran
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan menganalisis pemikiran pendidikan multikultural Ki Hajar Dewantara dalam tinjauan Alquran. Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan seseorang dalam mengembangkan dirinya menjadi insan yang sempurna, sementara keragaman masyarakat menuntut agar pendidikan mampu menyesuaikan dengan kultur yang ada sehingga memerlukan penegasan tentang pendidikan yang multikultural, hal ini juga menjadi salah satu konsen dari pemikiran Ki Hajar Dewantara. Gagasan pendidikan multikultural tersebut dielaborasi lebih lanjut dengan beberapa konsep yang terdapat pada Alquran. Penelitian ini termasuk kategori deskriptif kualitatif yang menggunakan pendekatan kepustakaan, dengan pendekatan kajian tokoh, guna mendalami dan menganalisa gagasan Ki Hajar Dewantara, khususnya tentang pendidikan multikultural. Pengumpulan datanya dengan studi dokumentasi dan kepustakaan, sedangkan untuk analisanya mengunakan analisis isi atau content analysis. Hasil penelitian ini menunjukkan: pertama, menunjukkan bahwa pendidikan multikultural adalah Pendidikan yang menitikberatkan pada penegasan, pengesahan, penanaman kesadaran, pengembangan akhlak setiap warga Negara agar memiliki adab, persaudaraan, tolong-menolong, serta menumbuhkan sikap toleransi dalam hidup berdemokrasi (musyawarah dan dialog). Pendidikan multikutural dalam pandangan Ki Hajar Dewantara merupakan pendidikan yang sangat menjunjung tinggi berbagai budaya yang terdapat di nusantara. Kedua, berbagai asas-asas pendidikan multikultur yang menjadi isi atau materi pendidikan Ki Hajar Dewantara tersebut diatas juga selaras dengan berbagai nilai yang terdapat dalam Alquran, diantaranya: QS. Ali Imron ayat 64 tentang prinsip musyawarah dan demokrasi, QS Al-Nisa ayat 131 tentang persaudaraan, QS. Al-Baqoroh ayat 256 tentang kebebasan memeluk agama, QS al-Maidah ayat 69 tentang pengakuan agama lain selain Islam, dan QS Al-Hujurat ayat 13 tentang humanis dan toleransi.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan menganalisis pemikiran pendidikan multikultural Ki Hajar Dewantara dalam tinjauan Alquran. Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan seseorang dalam mengembangkan dirinya menjadi insan yang sempurna, sementara keragaman masyarakat menuntut agar pendidikan mampu menyesuaikan dengan kultur yang ada sehingga memerlukan penegasan tentang pendidikan yang multikultural, hal ini juga menjadi salah satu konsen dari pemikiran Ki Hajar Dewantara. Gagasan pendidikan multikultural tersebut dielaborasi lebih lanjut dengan beberapa konsep yang terdapat pada Alquran. Penelitian ini termasuk kategori deskriptif kualitatif yang menggunakan pendekatan kepustakaan, dengan pendekatan kajian tokoh, guna mendalami dan menganalisa gagasan Ki Hajar Dewantara, khususnya tentang pendidikan multikultural. Pengumpulan datanya dengan studi dokumentasi dan kepustakaan, sedangkan untuk analisanya mengunakan analisis isi atau content analysis. Hasil penelitian ini menunjukkan: pertama, menunjukkan bahwa pendidikan multikultural adalah Pendidikan yang menitikberatkan pada penegasan, pengesahan, penanaman kesadaran, pengembangan akhlak setiap warga Negara agar memiliki adab, persaudaraan, tolong-menolong, serta menumbuhkan sikap toleransi dalam hidup berdemokrasi (musyawarah dan dialog). Pendidikan multikutural dalam pandangan Ki Hajar Dewantara merupakan pendidikan yang sangat menjunjung tinggi berbagai budaya yang terdapat di nusantara. Kedua, berbagai asas-asas pendidikan multikultur yang menjadi isi atau materi pendidikan Ki Hajar Dewantara tersebut diatas juga selaras dengan berbagai nilai yang terdapat dalam Alquran, diantaranya: QS. Ali Imron ayat 64 tentang prinsip musyawarah dan demokrasi, QS Al-Nisa ayat 131 tentang persaudaraan, QS. Al-Baqoroh ayat 256 tentang kebebasan memeluk agama, QS al-Maidah ayat 69 tentang pengakuan agama lain selain Islam, dan QS Al-Hujurat ayat 13 tentang humanis dan tolerans
TELA’AH ASAS ASAS PENDIDIKAN AKHLAQ ISLAM MENURUT MIQDAD YALJIN
Declining student morals is a problem in modern education. Miqdad Yaljin, in his book "Islamic Moral Education According to Miqdad Yaljin," emphasizes the importance of moral and religious education in forming individual character. This research uses the research library method to collect and analyze data. The results show that the principles of Islamic moral education according to Yaljin include aqidah, science, humanity and reciprocity. Correct faith is the main foundation, education must be scientific, cover all aspects of life, and the reciprocity between rewards and punishments is important. Yaljin's books played an important role in the development of Islamic morals
Developing a Multiliteracy Learning Model Based on Malangan Masks to Enhance Cultural Literacy and Global Diversity in Elementary Students
Abstract: This study aims to develop a multiliteracy learning model based on Topeng Malangan literature to improve literacy culture and global diversity attitude in grade IV elementary school students. This study used the ADDIE research and development method, which involved fourth-grade students at SDN Talangagung 2 Kepanjen. Data were collected through expert validation, student and teacher responses, observation, and literacy skills tests. The results showed the model's effectiveness in improving students' literacy skills with a high level of interest (80-92.3%) and understanding of the material (84.6-86.67%). The model also successfully developed students' global diversity attitudes, with 80-92.3% reporting increased knowledge. Expert validation covering readability, material suitability, and learning aspects in elementary schools showed excellent results with scores of 90.90%, 88.33%, and 86.42%, respectively. The learning model received excellent effectiveness ratings, with 91.40% and 92.47% in the two classes studied. This research contributes significantly to developing innovative and contextualized Indonesian language learning strategies at the primary school level by integrating local wisdom and multiliteracy approaches to improve literacy skills and cultural understanding