Jurnal Pertanian UMPAR (Universitas Muhammadiyah Parepare)
Not a member yet
529 research outputs found
Sort by
ANALISIS UJI TANTANG BENUR WINDU (PENAEUS MONODON FABRICIUS) YANG TELAH DIBERI PERLAKUAN PROBIOTIK DAN ANTIBIOTIK DENGAN DOSIS BERBEDA
Penelitian uji tantang benur windu (Penaeus monodon Fabricius) yang sebelumnya telah mendapatkan perlakuan pemberian probiotik Bacillus dengan dosis 0,75 mg/l, 1,0 mg/l dan 1,25 mg/l, bakteri Vibrio harveyi resisten rifamvicin 6 mg/l, serta antibiotik Oxytetracyclin, dan Erytromicin masing-masing sebesar 1 mg/l dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui ketahanan tubuh larva udang terhadap sintasan larva udang windu (Penaeus monodon Fabricius). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pada saat uji tantang larva udang dengan bakteri Vibrio harveyi pada tingkat kepadatan 105, maka perlakuan kontrol memiliki tingkat kematian tertinggi, utamanya pada awal-awal pemberian bakteri Vibrio harveyi. Sedangkan perlakuan terbaik adalah C1 (probiotik 1,25 ppm dan oxytetracycline 1 ppm) dimana pada awal perlakukan tidak banyak mengalami kematian larva, dan kematian larva tersebesar pada jam 84 setelah perlakuan
ANALISIS BUDIDAYA UDANG WINDU (PENAEUS MONODON FABR.) TEKNOLOGI SEDERHANA KE TEKNOLOGI MADYA DITINJAU DARI SEGI FINANSIAL
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Pangkep Maret sampai April 2009. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah teknologi yang digunakan untuk mengubah usaha budidaya udang windu dari teknologi sederhana ke teknologi madya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Populasi penelitian adalah pemilik penggarap usaha budidaya udang windu teknologi sederhana dan teknologi madya. Analisis data yang digunakan adalah analisis keuntungan/pendapatan dan kelayakan usaha. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan keuntungan usaha budidaya udang windu petani teknologi madya sangat berbeda nyata dengan keuntungan usaha budidaya udang windu petani teknologi sederhana (hasil perhitungan uji-t ternyata t-hitung jauh lebih besar dari pada hasil perhitungan t-tabel). Keuntungan petani teknologi madya jauh lebih tinggi dibanding dengan keuntungan petani teknologi sederhana (hasil analisis keuntungan). Peningkatan teknologi yang digunakan untuk mengubah usaha budidaya udang windu dari teknologi sederhana ke teknologi madya adalah layak untuk diterapkan. Analisis kelayakan menunjukkan cash flow sebesar Rp. 81.838.817, pay back periodenya 1 tahun 5 bulan dan Net Present Value positif (Rp. 58.129.963), serta Benefit Cost Ratio lebih besar satu, yaitu 1,734
PENGARUH PEMBERIAN PESTISIDA ORGANIK DAN INTERVAL PENYEMPROTAN TERHADAP SERANGAN HAMA PADA BIBIT TANAMAN JABON MERAH (ANTHOCEPHALUS MACROPHYLLUS)
Penggunaan pestisida organik diharapkan dapat menekan pertumbuhan serangan hama dan penyakit tanaman seperti hama belalang, semut, kepik, mengendalikan bercak daun dan keriting daun. Serangan hama dan penyakit banyak terjadi pada awal masa pertumbuhan tanaman di persemaian. Fenomena serangan hama dan penyakit tanaman terjadi pada salah satu usaha pembibitan tanaman jabon merah. Salah satu pestisida organik yang murah dan ramah lingkungan yaitu pestisida organik dari urin sapi. Hal lain yang perlu diperhatikan agar meminimalisir serangan hama pada bibit tanaman yaitu adanya pengaturan interval penyemprotan. Penelitian dilakukan di Desa Ondo-ondolu, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai pada bulan Juli – Agustus 2013. Bahan dan Alat yang digunakan yaitu bibit jabon merah, pestisida organik dari urin sapi, handsprayer, kamera, lup dan alat tulis menulis. Penelitian menggunakan Rancangan Spilt Plot, dengan faktor utama adalah pestisida organik dari urin sapi, terdiri dari 3 (tiga) level yaitu : 10 ml (al), 20 ml (a2) dan 30 ml (a3), masing-masing dicampur dengan 1 liter air. Anak petak adalah interval penyemprotan, terdiri dari 3 level yaitu : 2 hari sekali (b1), 4 hari sekali (b2) dan 6 hari sekali (b3). Semua kombinasi di ulang sebanyak 3 kali sehingga di peroleh 27 kombinasi perlakuan. Variabel yang diamati yaitu total serangan pada minggu pertama, kedua, ketiga dan keempat. Analisis data dengan Analisis of Variance (Anova). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pemberian pestisida organik dengan interval penyemprotan yang berbeda tidak memberikan pengaruh terhadap serangan hama yang menyerang tanaman bibit jabon merah
ANALISIS SWOT DALAM MENENTUKAN STRATEGI PEMASARAN UDANG BEKU PT. MUSTIKA MINA NUSA AURORA TARAKAN, KALIMANTAN UTARA
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan (lingkungan internal) serta peluang dan ancaman (lingkungan eksternal) serta merumuskan strategi pemasaran udang beku yang tepat melalui analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities dan Threats) pada PT. Mustika Mina Nusa Aurora Tarakan, Kalimantan Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, studi kepustakaan dan internet. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adalah dengan menggunakan alat analisis SWOT, maka dapat menggunakan alternatif strategi-strategi berikut : Strategi SO: Pemanfaatan produk, pengembangan SDM, Pengembangan Skala Usaha. Strategi WO: Penambahan Tenaga Ahli. Strategi ST: Mempertahankan mutu produk, menjamin kualitas produk, produksi berkelanjutan. Strategi WT: Mempertahankan mutu produk, menjaga kepercayaan konsumen
POTENSI BIOMASSA TERUBUK (SACCHARUM EDULE HASSKARL) SEBAGAI PAKAN UNTUK PERTAMBAHAN BOBOT BADAN SAPI
Selain dikonsumsi sebagai sayuran, terubuk juga mempunyai potensi sebagai pakan. Diharapkan dapat mengatasi kendala utama yang dihadapi petani dalam meningkatkan produktivitas sapi. Ini dapat menjadi salah satu alternatif dalam meningkatkan kesejahteraan petani dengan sistem usahatani terpadu. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi biomassa tanaman terubuk, menganalisis pengaruh pakan dari limbah terubuk terhadap pertambahan bobot badan sapi. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Luwuk Timur Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah dan Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Universitas Tadulako Palu. Untuk mengidentifikasi potensi biomassa terubuk yaitu dengan cara menghitung biomassa basah dan kering dengan menghitung luas lahan x jarak tanam x berat segar. Sedangkan analisis laboratorium dilakukan untuk menghitung bahan kering, protein kasar, lemak kasar dan serat kasa. Pertambahan bobot badan sapi dihitung dengan cara menimbang bobot badan sapi sebelum dan setelah pemberian pakan ternak dari terubuk. Hasil penelitian menunjukkan jika ketersediaan limbah terubuk rata-rata sebanyak 11.300 kg/ha maka limbah terubuk mampu memenuhi kebutuhan ternak 4 ekor sapi selama 90 hari. Sedangkan potensi kualitas tanaman terubuk mengandung bahan kering 13%, protein kasar 3,15% dan lemak kasar 1,28% serta mengandung serat kasar 41, 27% dan BETN 42,41%. Pertambahan berat badan ternak sapi yang diberi terubuk sebanyak 7,5 kg pagi dan sore memberikan pertambahan berat badan 0,03 kg/ekor/hari
ANALISIS BERAT DAN KUALITAS KARKAS AYAM BROILER YANG DIBERIKAN JAMU PROBIOTIK DAN TANAMAN HERBAL MELALUI AIR MINUM
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 4 taraf perlakuan. Perlakuan tersebut masing-masing sebagai berikut (1) Probiotik (Kontrol), (2) Jamu Probiotik lengkap, (3) Jamu Probiotik lengkap + Daun katuk, (4) Jamu Probiotik lengkap + Daun sirih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan jamu probiotik dan tanaman herbal pada air minum terhadap berat dan kualitas karkas ayam broiler.Analisis keragaman memperlihatkan, pemberian ramuan jamu probiotik dan tanaman herbal memperlihatkan perbedaan yang tidak nyata terhadap semua perlakuan. Berat karkas yang tertinggi diperoleh pada perlakuan pemberian jamu Probiotik lengkap terdiri dengan berat rata-rata 1,25 kg/ekor. Begitu pula dengan kualitas perlemakan sub kutan yang relatif sedikit. Pemberian ramuan jamu probiotik dan tanaman herbal (probiotik lengkap) pada air minum dapat meningkatkan berat dan kualitas karkas ayam broiler melalui zat aditif yang dikandungnya
ANALISA MUTU KIMIA CHITOSAN DARI LIMBAH KULIT UDANG WINDU (Penaus monodon) SEBAGAI BAHAN PENGAWET
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menentukan mutu chitosan yang telah dibuat untuk diaplikasikan sebagai bahan pengawet produk udang beku. serta menetukan konsentrasi chitosan yang terbaik, yang mampu mempertahankan mutu berbagai jenis produk udang selama penyimpanan pada suhu beku. Chitosan yang dihasilkan, telah memenuhi standar mutu chitosan. Kadar air sebesar 7,09%, kadar abu sebesar 0,71%, N-total sebesar 7,17% , Viscositas sebesar 825 cp, warna putih dengan rendemen sebesar 20,45%. Jenis produk udang dan konsentrasi chitosan berpengaruh terhadap mutu udang beku selama penyimpanan. Berdasarkan hasil uji lanjut LSD terhadap pH,TVB, indol, semuanya berpengaruh sangat nyata (p?0,05). Konsentrasi terbaik chitosan untuk mengawetkan ke tiga jenis produk udang (head on, head off, dan peeled) adalah 0,15%, baik dari segi efisiensi maupun dari segi parameter mutu selama penyimpanan satu bulan atau 4 pekan, yaitu total mikroba masih di bawah 5,0 x 105 cfu, pH berkisar 5-7, kadar TVB masih dalam kategori segar yaitu berkisar 10-20 mgN/100 gr, kandungan indol lebih kecil atau sama dengan 10µg/100 gr contoh berarti udang masih seg
STRUKTUR POPULASI IKAN KEMBUNG LELAKI (RASTRELLIGER KANAGURTA) YANG TERTANGKAP DI PERAIRAN PANCANA KABUPATEN BARRU
Ikan kembung lelaki telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Kabuapaten Barru dengan menggunakan alat tangkap pukat cincin, payang, dan gillnet, sehingga diduga telah mengalami lebih tangkap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur populasi ikan kembung lelaki yang meliputi struktur umur, laju pertumbuhan, panjang maksimum, mortalitas, dan tingkat pemanfaatan. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan mengikuti penangkapan langsung nelayan pukat cincin yang beroperasi di perairan Pancana Kab. Barru. Penelitian dilakukan bulan Juni sampai Juli 2013 dan pengukuran dilakukan sebanyak 8 kali. Data yang diambil berupa data panjang cagak ikan. Sampel yang diukur berjumlah 1.081 ekor dan dianalisis menggunakan program Fisat II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang cagak ikan yang berhasil diukur berkisar 110-263 mm dengan struktur populasi terdiri dari tiga kelompok umur, pada modus panjang 139,70; 199,31; dan 236,52 mm. Panjang maksimum (L?) 298,29 mm, umur teoritis pada saat panjang ikan sama dengan nol (t0) adalah -0,33 tahun. Mortalitas total (Z) 3,25 pertahun, mortalitas alami (M) 0,51 pertahun, dan mortalitas penangkapan (F) 2,73 pertahun. Tingkat eksploitasi (E) 0,84 atau lebih besar dari batas optimum 0,5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perikanan kembung lelaki di perairan Kabupaten Barru telah mengalami lebih tangkap
EVALUASI LAHAN UNTUK DASAR PENGEMBANGAN PERTANIAN TANAMAN SEMUSIM (Kasus di Raumoco Lautem Timor Leste)
Penelitian bertujuan untuk menilai kualitas, karakteristik, potensi, kendala, kesuburan dan kesesuaian lahan untuk tanaman padi (lahan kering) dan palawija (kedelai). Evaluasi lahan untuk tujuan ini telah dilakukan survei tanah dengan sistem satuan lahan di Raumoco (sub-distrik Lautem dan Luro) distrik Lautem Timor Leste sejak Oktober 2013 hingga Januari 2015. Luas lahan yang disurvei 4603,8 ha dengan 11 satuan tanah (SPT) yang peroleh melalui proses sistem digitasi overlay peta tanah, iklim dan litologi. Tiap SPT diwakili 1 profil tanah. Sampel tanah dianalisis di laboratorium Jurusan Tanah Fakultas Pertanian UGM. Hasil klasifikasi tanah berdasarkan Kys to Soil Taxonomy (SSS, 2010), sub-distrik Lautem dan Luro termasuk Haplustalf (10,7%),Ustipsament (11,1%), Ustifluvent (5,0%), Calsiustoll (14,0%), Haplustept (40,5%) dan Haplustoll (18,7%). Tanah-tanah tersebut berkembang di bawah curah hujan 1.044,7 mm/tahun, suhu udara rata-rata berkisar 22,1-30,9oC dengan regim suhu isotermik dan kelembaban tanah ustik. Aspek tanah dan iklim serta faktor lingkungan fisik lainnya (lereng, batuan, erosi dan banjir). Penilaian kesuburan tanah dengan sistem FCC, sub-distrik Lautem dan Luro tergolong rendah sampai tinggi. Persentasi luas lahan tergolong kesuburan tanah rendah (R)= 21,6%, sedang (S) = 37,9% dan tinggi (T) = 40,5%. Kendala utama kesuburan tanah adalah kekeringan kelengasan tanah; evaluasi kesesuaian lahan dengan sistem Sys dan LPT Bogor. Hasil penilaian kesesuaian lahan untuk padi, dan kedelai dengan sistim Sys masing-masing 72,5% sesuai (S) dan 27,5% tidak sesuai (N) pada kondisi aktualdan potensial. Kesesuaian lahan untuk tanaman tersebut pada kondisi aktual terdapat 16,2% S dan 83,9% N berubah menjadi 25,3% S dan 74,7% N seetelah adanya perbaikan lahan (potensial). Usaha perbaikan lahan mampu meningkatkan kelas kesesuaian lahan sebesar 9,2%. Informasi kesuburan tanah dan kesesuaian lahan sebagai dasar dalam pengembangan tanaman terpilih dalam penilitian ini di Lautem dan Luroterutama di SPT-17 dan 18 dengan mempertimbangkan kendala utama kesuburan tanah. Perlu adanya irigasi tambahan dan penanaman palawija di awal musim hujan dengan pola tanam tumpang sari
PEMANFAATAN DAN KEBERLANJUTAN GOSSE SEBAGAI SUMBER PROTEIN UNTUK MENDUKUNG PEMELIHARAAN ITIK INTENSIF DI KABUPATEN PANGKEP
Usaha ternak itik intensif mengalami kendala dalam penyediaan sumber protein secara berkelanjutan. Jika mengharapkan dari pakan buatan, maka keuntungan sangat sulit dicapai utamanya pada skala yang kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrisi dari gosse, jumlah produksi dan daya dukung terhadap ternak itik. Manfaat penelitian ini adalah ditemukannya formulasi pakan yang berbasis sumber protein dari gosse yang dapat direkomendasikan untuk para peternak itik intensif. Metode pengambilan sampel menggunakan metode bujur sangkar Latin. Parameter yang diukur adalah nilai nutrisi gosse sebagai bahan baku pembuatan pakan ternak itik. Selanjutnya menyusun formulasi pakan itik dengan target protein pakan minimal 18%. Daya dukung gosse yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein untuk ternak itik adalah 306 ekor ha-1