Jurnal Pertanian UMPAR (Universitas Muhammadiyah Parepare)
Not a member yet
529 research outputs found
Sort by
EFEKTIVITAS MOL DAUN GAMAL DAN ABU SEKAM PADI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN KANGKUNG DARAT (IPOMOEA REPTANS POIR)
Kangkung darat merupakan salah satu sayuran yang mempunyai potensi pemasaran yang luas. Tidak hanya dijual di pasar tradisional, akan tetapi sudah menembus pasar swalayan di kota-kota besar. Penelitian dilaksanakan pada Maret sampai Mei 2015, di lahan praktik Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Gowa. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu: P0 (Kontrol), P1 (Mol 5 mL/L air), P2 (Mol 15 mL/L air), P3 (Abu sekam padi 1.000 g/plot setara 5 ton/ha), dan P4 (Abu sekam padi 1.600 g/plot setara 8 ton/ha). Adapun parameter pengamatan, yaitu: (1) Tinggi tanaman (cm), diukur mulai dari permukaan tanah sampai pucuk tanaman, (2) Jumlah daun (helai), dihitung mulai dari terbentuknya daun pertama sampai panen, dan (3) Berat basah (kg), yaitu berat basah setelah panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pemberian Mol daun gamal dan abu sekam padi memberikan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan berat basah tanaman pada setiap waktu pengamatan. Perlakuan Mol daun gamal 15 mL /L air (P2) memberikan hasil yang terbaik pada setiap parameter pengamatan
KUALITAS TAIWAN GRASS (PENNISETUM PURPUREUM CV. TAIWAN) PADA UMUR DEFOLIASI DAN KONSENTRASI EFFECTIVE MICROORGANISMS 4 (EM4) YANG BERBEDA
Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap pemeliharaan Taiwan grass dan tahap penentuan kualitas Taiwan grass. Kualitas hijauan berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan analisis proksimat meliputi kadar protein kasar, serat kasar, kalsium dan fosfor. Dilaksanakan dalam bentuk percobaan eksperimen menggunakan Rancangan Faktorial dua faktor dengan dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor pertama yaitu adalah umur defoliasi (P) yaitu 35 hari (P1), 45 hari (P2), dan 55 hari (P3). Faktor kedua adalah konsentrasi EM4 (M) yaitu tanpa pemberian EM4 (M0), 5cc EM4 /liter air (M1), dan 10 cc EM4/liter air (M2). Hasil penelitian menunjukkan umur defoliasi yang baik dilakukan adalah pada umur 55 hari dengan konsentrasi EM4 10 cc. Pada perlakuan tersebut, kandungan protein kasar 11.42; serat kasar 29.41; kandungan Ca (0,37%) dan P (0,29%). Interaksi antara umur defoliasi (pemotongan) dan konsentrasi EM4 tidak berpengaruh nyata terhadap kualitas Taiwan Grass
FORMULASI BARUASA KAYA GLUKOMANAN BERBASIS UMBI UWI (DIOSCOREA ALATA L.)
Baruasa merupakan produk pangan lokal Sulawesi yang dibuat dari tepung beras. Baruasa dibuat dengan mensubstitusikan tepung beras oleh tepung umbi Dioscorea alata L.(tepung uwi) yang memiliki kandungan serat pangan total yang tinggi. Baruasa dibuat dengan substitusi tepung beras oleh tepung uwi yang difortifikasi dengan tepung glukomanan yang berperan sebagai serat larut yang dapat menurunkan indeks glikemik. Penelitian ini bertujuan menentukan variasi komposisi baruasa terbaik dari substitusi tepung beras oleh tepung umbi Dioscorea alata L. dan menganalisis pengaruh penambahan tepung glukomanan terhadap kualitas baruasa. Pembuatan baruasa menggunakan variasi komposisi tepung beras dan tepung uwi (%) dengan perbandingan yang digunakan berturut-turut 0:100, 20:80, 40:60, 60:40, 80:20 dan 100:0. Selain itu dibuat pula baruasa dengan komposisi tepung yang sama namun ditambahkan tepung glukomanan dalam jumlah yang sama untuk tiap variasi. Parameter yang diukur pada kualitas baruasa yang dihasilkan adalah kadar abu, air, protein, karbohidrat, lemak, serat kasar, nilai aw, tekstur serta uji sensorik. Hasil penelitian menunjukkan tepung uwi dapat dijadikan sebagai pengganti tepung beras pada pembuatan baruasa dalam semua perbandingan, bahkan dapat dibuat dari 100% tepung uwi. Segi sensorik perbandingan yang paling baik adalah 20% tepung uwi dan 80% tepung beras. Baruasa dengan adanya penambahan tepung glukomanan dapat menurunkan kadar lemak, kadar air, dan sedikit aw, tetapi tidak mempengaruhi kadar karbohidrat, kadar protein, kadar abu, dan kadar serat baruasa
ANALISIS PENGARUH LIMBAH CAIR UREA YANG DIAPLIKASI SECARA LANGSUNG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI CABAI
Limbah cair urea adalah limbah buangan dari pabrik pembuatan pupuk urea dalam bentuk cair. Pupuk urea merupakan salah satu kebutuhan dalam jumlah yang cukup besar bagi petani. Berdasarkan survei lapangan sering ditemukan distribusi pupuk urea pada masa tanam biasanya menghilang dari pasaran, sehingga para petani bercocok tanam hanya mengandalkan unsur hara yang masih tertinggal di dalam tanah. Akibatnya produksi yang dihasilkan semakin berkurang. Selain itu, harga pupuk urea semakin tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi limbah cair urea terhadap pertumbuhan tanaman cabai. Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat untuk petani dimana limbah pupuk cair urea dapat dimanfaatkan secara langsung tanpa proses lebih lanjut sehingga dapat membantu mengatasi permasalahan persediaan pupuk. Spesifikasi pupuk urea yang dipasarkan mengandung unsur hara nitrogen sebesar 46% dan merupakan pupuk yang mudah larut dalam air. Limbah cair urea masih mengandung urea sekitar 10%. Penelitian ini untuk melihat pengaruh pemanfaatan kembali larutan dengan kandungan urea 10% sebagai pupuk cair terhadap tanaman cabai dengan konsentrasi larutan; 0 g, 0.2 g, 0.35 g dan 0.5 g. Kemudian dilakukan pengamatan pada pertumbuhan dan jumlah cabai yang dihasilkan. Selain itu dilakukan analisis kandungan tanah. Hasil penelitian menunjukkan pemberian larutan urea pada konsentrasi 0.2 g memberi pengaruh terbaik terhadaptinggi tanaman dan jumlah buah cabai
KARAKTERISTIK SUBSTRAT UNTUK PENEMPELAN TELUR CUMI-CUMI DI PULAU PUTE ANGING KABUPATEN BARRU
Cumi-cumi adalah salah satu sumberdaya hayati laut yang bernilai ekonomis penting dan merupakan komoditi ekspor. Cumi-cumi biasanya memilih kedalaman dan berbagai tipe substrat untuk menempelkan telurnya. Letak substrat yang dipilih adalah pada tempat yang agak samar dan tersembunyi pada kedalaman 1-7 meter. Telur cumi-cumi di Pulau Pute Anging Kabupaten Barru, ditemukan pada kedalam 5 dan 7 meter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik substrat penempelan telur cumi-cumi di perairan Pulau Pute Anging Kab. Barru. Pengumpulan data dilakukan pada Januari hingga Juni 2013 dengan pengamatan langsung. Data dianalisis deskriptif dengan cara tabulasi berdasarkan karakteristiknya untuk memberikan gambaran situasi tentang substrat penempelan telur cumi-cumi yang sebenarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik substrat penempelan telur yang mempengaruhi cumi-cumi untuk menempelkan telurnya adalah keadaan substrat aman, terlindung dan tersamar, bentuk dan model substrat bulat batangan. Faktor Oseonografi yang berpengaruh adalah suhu 29-30°C, salinitas 31-32 per mil, kecepatan arus 0.02-0.05 m/detik, jarak pandang 4-5 meter, kedalaman 3-7 meter dan dasar perairan berpasir sedikit lumpur
PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP GOOD AGRICULTURAL PRACTICE (GAP) UNTUK PERTANIAN BERKELANJUTAN DI KECAMATAN TINGGI MONCONG KABUPATEN GOWA
Pertanian berkelanjutan dengan pendekatan prinsip-prinsip Good Agricultural Practice (GAP) sangat sulit diterapkan secara komprehensip pada suatu area atau wilayah pertanian, meskipun upaya kearah pendekatan tersebut terus dilakukan. Untuk terus menggiatkan prinsip pertanian berkelanjutan, maka dilakukan penelitian yang bertujuanuntuk mengetahui tingkat pemahaman petani tentang prinsip-prinsip GAP dan pengaruhnya terhadap nilai ekspektasi manfaat GAP untuk pertanian berkelanjutan pada usaha taninya, serta tingkat implementasi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Tinggi Moncong Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan sebagai sentra produksi tanaman sayuran. Pada petani yang mengusahakantanaman sayuran. Sampel petani dipilih secara acak sederhana (simple random sampling) dari desa yang dipilih secara sengaja. variabel ekosistem adalah lahan miring dan lahan datar. Data ditabulasi dan dianalisis sesuai tujuan penelitian menggunakan analisis data kuantitatif, Analisis regresi berganda dan Independent sampel t test. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pemahaman petani hortikultura di kecamatan Tinggi Moncong Kabupaten Gowa tentang prinsip-prinsip dan manfaat penerapan GAP masih sangat kurang, dimana aspek yang paling dipahami hanya aspek Lingkungan. Pemahamanpetani mengenai Prinsip-prinsip GAP yang rendah menyebabkan nilai ekspektasi manfaat penerapan prinsip-prinsip GAP untuk mendukung Pertanian Berkelanjutan diyakini hanya berpengaruh menghasilkan produk pertanian yang aman dikonsumsi dan bermutu lebih baik, sementara aspek berkurangnya serangan OPT, jaminan keselamatan petani dankepastian keberlangsungan usaha tani diyakini tidak banyak pengaruhnya. Tingkat penerapan prinsip-prinsip GAP petani pada Usahataninya pada dua ekosistem lahan miring maupun lahan datar berbeda tidak nyata. Adapun Faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap tingkat Implementasi prinsip-prinsip GAP adalah Luas lahan dannilai ekspektasi terhadap manfaat penerapan prinsip-prinsip GA
PENGARUH SALINITAS TERHADAP SINTASAN DAN PERTUMBUHAN LARVA UDANG WINDU (PENAEUS MONODON)
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang pengaruh salinitas terhadap sintasan dan pertumbuhan larva udang Windu (Penaeus monodon). Diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan perbenihan larva udang windu khususnya pada stadia post larva.Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan, tiap perlakuan diulang 3 kali, sehingga terdiri atas 12 satuan percobaan. Perlakuannya adalah salinitas a) 25 ppt,b) 30 ppt (Kontrol), c).35 ppt dan d).40 ppt. Peubah yang diamati adalah sintasan dan pertumbuhan larva udang windu mulai post larva 1 (PL 1) sampai pada stadia post larva 15 (PL 15). Selain itu dilakukan pengukuran parameter kualitas air lainnya seperti suhu, pH dan oksigen terlarut sebagai data pendukung penelitian.Hasil penelitian menunjukkan tingkat sintasan post larva udang windu tertinggi diperoleh pada salinitas 25 ppt sebesar 84,67 % dan terendah pada salinitas 40 ppt sebesar 49,33 %.Pertumbuhan post larva udang windu tertinggi juga diperoleh pada salinitas 25 ppt sebesar 0,44 g dengan laju pertumbuhan 14,15% dan terendah pada salinitas 40 ppt sebesar 0,20 g, dengan laju pertumbuhan sebesar 9,83%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa salinitas 25 ppt adalah salinitas yang menghasilkan tingkat sintasan dan pertumbuhan post larva udang Windu yang terbaik. Sedangkan salinitas 40 ppt menghasilkan tingkat sintasan dan pertumbuhan yang lambat dan kematian yang tinggi
ANALISIS BERBAGAI KADAR PROTEIN TERHADAP KONSUMSI DAN EFESIENSI PAKAN PADA BUDIDAYA IKAN SIDAT (ANGUILLA MARMORATA)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai kadar protein terhadap konsumsi dan efesiensi pakan pada pemeliharaan ikan sidat (Anguilla marmorata).Penelitian dilaksanakan pada Oktober-Desember 2013. Ikan uji adalah ikan sidat yang berukuran rata-rata 70±1,53 g/ekor. Pakan berbentuk pellet, dan menggunakan air sumur yang disaring dengan menggunakan filter bag. Penelitian ini berbentuk eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), denganperlakuan kadar protein pakan, yaitu: A = kadar protein 35%, B =40%, C = 45%, dan D = 50%. Peubah yang diamati adalah konsumsi pakan, efisiensi pakan, Hepato Somatik Indeks, dan kualitas air. Analisis data yang digunakan adalah analisis ragam, dan deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan jumlah konsumsi pakan ikan sidat pada penelitian ini, tertinggi pada perlakuan pakan dengan kadar protein 50% sebesar 844,48 g, namunjumlah pakan yang dikonsumsi relatif sama untuk semua perlakuan. Selanjutnya, efesiensi pakan tertinggipada perlakuan pakan dengan kadar protein sebesar 45% dengan rata-rata sebesar 16,01%
KAJIAN PEMIJAHAN BERULANG TERHADAP KUALITAS TELUR KUDA LAUT (Hippocampus barbouri) DALAM WADAH TERKONTROL
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang perbedaan kualitas telur yang dihasilkan oleh induk kuda laut (H. barbouri) terhadappemijahan berulang di dalam wadah terkontrol. Hasilnya diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan perbenihan dan restocking. Indicator yang menunjukkan kualitas telur kuda laut antara lain diameter telur, jumlah telur matang dan komposisi kimia telur telah diamati selama penelitian berlangsung. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan sehingga terdapat 12 satuan percobaan, menggunakan 36 buah akuarium dan mengorbankan 36 induk betina dengan ukuran 12 – 13 cm. pengamatan diameter telur dilakukan setelah induk betina mencapai TKG akhir (sebelum induk betina mentransfer telurnya ke dalam kantung pengeraman jantan), dan setelah induk betina memijah (memeasukkan telurnya ke dalam kantung pengeraman jantan). Diameter telur yang diperoleh sebelum memijah berkisar 0.05 – 2.875 mm dan diameter telur yang diperoleh setelah memijah berkisar 0.05 – 1.25 mm. Jumlah telur yang dihitung adalah jumlah telur yang sudah matang dan telah mencapai TKG IV ditandai dengan terbentukny kuning telur, terkumpulnya butiran minyak yang massanya semakin besar dan nucleus tepat pada sentral Oosit. Jumlah telur matang diperoleh dengan kisaran 32 – 148 butir. Pengukuran komposisi kima telur dilakukan setelah induk mencapai TKG IV dengan cara membedah kuda laut betina sebanyak 3 ekor untuk diambil gonadnya kemudian disimpan dalam freezer, selanjutnya dilakukan analisis proksimat guna melihat berapa besar kandungan asam lemak yang dikandung telur induk kuda laut (H. barbouri) yang terbaik diperoleh pada pemijahan IV berdasarkan rata-rata diameter telur, jumlah telur matang dan kandungan asam lemaknya. Meskipun demikian perlakuan pemijahan berulang samapai empat kali belum cukup untuk menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap diameter telur, jumlah telur matang dan kandungan asam lemaktelur kuda laut (H. barbouri) dibuktikan dengan adanya fluktuasi pada setiap gambar yang diperoleh.Kata kunci : Pemijahan berulang, Diameter telur, Jumlah telur matang dan Kanduangan asam lemak
OPTIMASI PROSES EKSTRAKSI MINYAK IKAN METODE SOXHLETASI DENGAN VARIASI JENIS PELARUT DAN SUHU BERBEDA
Lipid merupakan senyawa organik yang tidak larut dalam air. Lipid larut pada pelarut organik non polar, seperti aseton, alkohol, eter, benzena, dan kloroform. Keberadaan lemak dalam suatu bahan pangan perlu dipertimbangkan konsentrasinya. Selain memiliki fungsi yang penting bagi tubuh, lemak juga memiliki efek negatif. Reaksi oksidasi dan hidrolisis hingga menyebabkan ketengikan pada ikan dan bahan pangan lainnya adalah efek negatifnya. Ekstraksi dilakukan untuk mengetahui konsentrasi lemak bahan pangan. Ekstraksi dengan soxhlet merupakan cara ekstraksi yang efisien dan efektif untuk menentukan kadar minyak atau lemak suatu bahan. Proses ekstraksi dipengaruhi oleh metode, pelarut, suhu, serta waktu ekstraksi yang akan berpengaruh terhadap konsentrasi serta kualitas ekstrak minyak yang dihasilkan. Tujuan penelitian ini adalah penggunaan beberapa jenis pelarut dan suhu ekstraksi yang berbeda dengan menggunakan metode soxhletasi. Untuk mendapatkan konsentrasi minyak ikan yang optimal serta kualitas minyak ikan terbaik berdasarkan kadar asam lemak bebas dan bilangan peroksida. Variabel pada penelitian ini adalah jenis pelarut (n-heksan, dietil eter, kloroform dan benzen) dan suhu ekstraksi (50oC, 60oC, 70oC, 80oC, 90oC). Hasil penelitian menunjukkan pelarut dietil eter pada suhu 80oC adalah perlakuan terbaik, yang menghasilkan konsentrasi minyak ikan sebesar 18,27%, bilangan peroksida 0,200 mek/kg, dan kadar asam lemak bebas 0,07% b/b