Jurnal Pertanian UMPAR (Universitas Muhammadiyah Parepare)
Not a member yet
529 research outputs found
Sort by
POLA DISTRIBUSI DAN MARGIN PEMASARAN BAWANG MERAH DI KOTA PAREPARE
Permintaan dan kebutuhan bawang merah yang tinggi menyebabkan komuditas ini memberikan keuntungan untuk diusahakan. Fluktuasi harga bawang merah cenderung mengikuti jumlah produksi, apabila produksi meningkat harga cenderung turun. Rendahnya produksi bawang merah di Kota Parepare menyebabkan pedagang harus mendatangkan dari luar kota untuk memenuhi kebutuhan konsumen, sehingga dibutuhkan pola distribusi pemasaran yang lebih efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola distribusi pemasaran bawang merah di Kota Parepare, menganalisis margin pemasaran pada setiap pola distribusi pemasaran bawang merah di Kota Parepare. Data penelitian menggunakan37responden, yang terdiri dari6 pedagang besar bawang merah di Pasar Lakessi dan 31 Pedagang pengecer bawang merah sebagai sampel yang dipilih, dengan metode penelitian langsung kelapangan dengan mengambil semua populasi yang ada dengan memakai kuisioner. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analisis margin pemasaran pada masing-masing saluran distribusi pemasaran.Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pola distribusi bawang merah yang berasal dari Kab. Enrekang terdiri atas 3 pola distribusi pemasaran sedangkan bawang merah yang berasal dari Kab. Bantaeng terdiri atas 2 pola distribusi pemasaran.Pada distribusi pemasaran bawang merah yang berasal dari Kab. Enrekang margin pemasaran tertinggi pada pola distribusi pemasaran I yaitu sebesar Rp6.250,-dan terendah pada pola distribusi pemasaran II sebesar Rp3.000,- sedangkan pada distribusi pemasaran bawang merah yang berasal dari Kab. Bantaeng margin pemasaran tertinggi pada Pola distribusi pemasaran I yaitu sebesar Rp7.438,-dan terendah pada pola distribusi pemasaran II sebesar Rp7.000,-
UPAYA PENDAMPINGAN WANITA TANI DALAM PENGEMBANGAN PRODUK KUNYIT ORGANIK DI KECAMATAN BACUKIKI KOTA PAREPARE
Tujuan dan target yang dicapai dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui skim Ipteks bagi Masyarakat (IbM) adalah (1) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani mitra dalam melakukan kegiatan usaha tani kunyit, (2) Menyediakan alat pengemas dan kemasan produk yang lebih baik (3) Menyediakan produk bubuk kunyit yang telah dikemas dalam kemasan yang baik dan menarik serta mempunyai merek produk yang menjadi ciri khas desa Ceddie, (4) Menjalin kerjasama antara mitra dengan pihak TOSERBA dalam sistem manajemen pemasaran produk dan (5) Membentuk kelompok usaha tani kunyit yang mempunyai sistem manajemen yang baik. Metode pendekatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan dan target adalah metode pendekatan perorangan yang dijabarkan dalam: (1) Metode demontrasi/praktikum, (2) Metode partisipasi, (3) Metode anjangsana, dan (4) Metode kekeluargaan. Hasil yang telah diperoleh antara lain (1) Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan petani mitra dalam melakukan kegiatan usaha tani kunyit melalui kegiatan penyuluhan dengan melibatkan penyuluh dari dinas ketahanan pangan dan penyuluhan dan melakukan ancangsana ke pasar-pasar modern, membuka wawasan mitra untuk berwira usaha dengan produk yang berbeda, (2)Tersediaya alat pengemas yang praktis dan efisien, (3) Tersedianya produk bubuk kunyit yang telah dikemas dalam kemasan plastik dengan ketebalan 0.06 mm dan memiliki merek “Kunyit Organik Instant ‘ASHLIYYUN” dalam berbagai ukuran yang disertai P-IRT No. 2.12.7372.01.0090-22 dari Pemerintah Kota Parepare Dinas Kesehatan, (4) Terjalinnya kerjasama pemasaran dengan berbagai TOSERBA dengan sistem titip jual, (5) Terbentuknya kelompok wanita tani Ar-Rahman dan Ar-Rahim Desa Ceddie
TEPUNG UBI JALAR SEBAGAI BAHAN FILLER PEMBENTUK TEKSTUR BAKSO IKAN
Tujuan dari Penelitian ini adalah melihat formulasi terbaik tepung ubi jalar untuk membentuk tekstur bakso ikan. Penelitian ini dilakukan dalam 3 tahap yaitu (1) pembuatan tepung ubi jalar; (2) pembuatan bakso ikan dengan penambahan tepung ubi jalar (0%, 4%, 6% dan 10%); (3) Pengujian bakso ikan meliputi uji Texture Profile Analysis (TPA), uji sensori, uji lipat (folding test) dan uji gigit. Hasil formulasi bakso ikan yang terbaik akan dianalisa kadar air, kadar abu, kadar protein dan kadar lemak. Analisis data dari hasil uji fisik (uji lipat dan uji, gigit) dilakukan dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA), hasil data pengujian organoleptic ditabulasi sesuai hasil rerata pada taraf kepercayaan 95% dan hasil texture profile analysis (TPA) secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis statistik Uji ANOVA pada bakso ikan dengan penambahan tepung ubi jalar tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P>0,05) terhadap uji lipat, sedangkan uji gigit bakso ikan memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05). Hasil Analisa uji TPA pada Bakso ikan dengan penambahan tepung ubi jalar (0%, 4%, 6% dan 10%) memberikan nilai hardness (202.75 - 319.75 N), Cohesiveness (0,51 – 0,75), adhesiveness (6,60 – 7,87 mJ), fracturability (62 - 233.25 N), chewiness (24.69 - 42.96 mJ), Springiness (21.13 - 23.09 mm), Gumminess (119.05- 194.25 N). Berdasarkan hasil indeks efektivitas didapat bahwa perlakuan terbaik yaitu dengan penambahan tepung tapioka 6% dan tepung ubi jalar 4%, ini dilihat dari parameter kenampakan, bau, tekstur, warna, rasa, uji TPA, uji lipat dan uji gigit.
KAJIAN UJI KONFRONTASI TERHADAP BAKTERI PATHOGEN DENGAN MENGGUNAKAN METODE SEBAR, METODE TUANG DAN METODE GORES
Peningkatan kualitas hasil pengujian konfrontasi terhadap bakteri pathogen maka dianggap perlu melakukan suatu penelitian di laboratorium untuk mengkaji lebih mendalam pengujian dengan metode sebar, metode tuang atau metode gores dengan menggunakan bahan serapan paper disk. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan yaitu : (A) Uji konfrontasi dengan metode tuang, (B) Uji konfrontasi dengan metode sebar dan (C) Uji konfrontasi dengan metode gores, masing-masing perlakuan dilakukan tiga kali pengulangan. Peubah yang diamati meliputi (1) Kerataan pertumbuhan bakteri pathogen di permukaan media, (2) Lama waktu mengkultur dan (3) Resiko kontaminasi dari setiap metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji konfrontasi dengan metode tuang adalah yang terbaik, dengan keunggulan sebagai berikut; permukaan bakteri lebih halus dan merata di seluruh permukaan media sehingga zona bening nampak lebih jelas dan pengukuran diameter lebih mudah, durasi waktu yang digunakan untuk mengkultur satu cawan petri lebih singkat dan resiko kontaminasinya lebih sedikit apabila dibandingkan dengan kolaborasi metode sebar dan gores. Dengan demikian metode tuang merupakan metode terbaik yang dapat diterapkan di laboratorium dalam melakukan uji konfrontasi terhadap bakteri pathogen
PEMANFAATAN LIMBAH CANGKANG KERANG DARAH (Anadara granosa) SEBAGAI BAHAN ABRASIF DALAM PASTA GIGI
Kerang darah (Anadara granosa) terdiri dari cangkang kerang dan daging kerang. Proses penanganan kerang menghasilkan produk ikutan (limbah) yang berupa cangkang kerang. Cangkang kerang mempunyai kandungan kimia yaitu kalsium karbonat (CaCO3). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh penambahan bubuk cangkang kerang terhadap mutu dan karakteristik pada gigi yang dihasilkan serta mencari formulasi penambahan bubuk cangkang kerang yang terbaik. Rancangan percobaan yang dilakukan adalah pemanfaatan limbah cangkang kerang dengan konsentrasi 50% dan 25% ke dalam pasta gigi. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi bubuk cangkang kerang terbaik pada uji organoleptik adalah aroma A (50%) dengan nilai 4, warna B (25%) nilai 4.11, kekentalan A (50%) nilai 3.83, busa B (25%) dengan nilai 3.7 dan rasa A (50%), B (25%) sama-sama bernilai 3.5. Jumlah mikroba terbaik yaitu B (25%) dengan jumlah 5,4x105 koloni, dan kadar karbohidrat pada sampel A (50%) dengan nilai 0,009 dan sampel B (25%) dengan nilai 0,007. Nilai pH kedua pasta gigi adalah A (50%) dengan nilai 8.37 dan B (25%) dengan nilai 8.69. Nilai tersebut berada dalam kisaran nilai pH yang terdapat pada SNI 12-3524-1995, yaitu 4.5 – 10.5 sebagai syarat mutu pasta gigi sehingga pasta gigi eksperimen yang dihasilkan relatif aman digunakan
KARAKTERISTIK IKAN TEMBANG (Sardinella gibbosa) SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN PRODUK FERMENTASI CHAO
Chao adalah produk fermentasi tradisional Kabupaten Pangkep yang menggunakan ikan dan nasi sebagai bahan baku utama. Ikan tembang (Sardinella gibbosa) merupakan salah satu jenis ikan yang sering digunakan sebagai bahan pembuatan chao, yang difermentasi terlebih dahulu sebelum diolah menjadi chao. Fermentasi menyebabkan perubahan sifat mikrobiologis, kimiawi, dan sensori daging ikan. Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik ikan tembang selama fermentasi. Fermentasi dilakukan pada suhu ruang selama 6 hari, kemudian disampling pada hari ke-2, 4, dan 6 untuk dianalisis sifat mikrobiologis, kimiawi, dan sensorinya. Kandungan bakteri aerobik ikan tembang menurun selama fermentasi dari log 5,69 CFU/ml pada hari ke-2 menjadi log 4,22 CFU/ml pada hari ke-6. Begitupun dengan kandungan jamur menurun dari log 4,20 CFU/ml pada hari ke-2 menjadi log 3,25 CFU/ml pada hari ke-6. Kandungan total bakteri asam laktat ikan tembang meningkat selama fermentasi, dari log 4,76 CFU/ml pada hari ke-2 menjadi log 5,30 CFU/ml pada hari ke-6. Kadar total asam ikan tembang meningkat selama fermentasi dari 1, pada hari ke-2 menjadi 2,7% pada hari ke-6, hal tersebut diikuti oleh penurunan nilai pH dari 6,5 menjadi 6,2. Rata-rata tingkat kesukaan panelis terhadap kenampakan, tekstur, aroma, dan rasa ikan tembang selama fermentasi masing-masing berada pada range (5,6-67), (5,67-6,68), (5,93-6,7), dan (5,92-6,90). Jumlah bakteri aerobik dan jamur ikan tembang pada hari ke-6 fermentasi berada di bawah jumlah maksimum cemaran mikroba dan jamur pada produk perikanan yang ditetapkan oleh Natural Health Products Directorate dan Badan Standardisasi Nasional. Ikan tembang yang telah difermentasi layak dan aman diolah menjadi produk chao
ANALISIS RESPON ECENG GONDOK (Eichornia crassipes) TERHADAP LIMBAH DETERJEN DI PERAIRAN DANAU TEMPE KABUPATEN WAJO
Penelitian bertujuan untuk mengetahui respon eceng gondok (Eichornia crassipes) terhadap limbah deterjen dan mengetahui perubahan pH air danau akibat limbah deterjen. Selain itu untuk fitoremediasi eceng gondok (Eichornia crassipes) terhadap limbah deterjen. Penelitian dilaksanakan pada Agustus – Oktober 2016 di Laboratorium Biologi STKIP Puangrimaggalatung Sengkang untuk analisis sampel, pengamatan dilaksanakan di Perairan Danau Tempe Kabupaten Wajo. Tanaman eceng gondok ditanam pada 9 gelas plastik berisi tanah dan air sebagai media tanam. Tanaman diaklimatisasi selama satu minggu dan dilanjutkan dengan penelitian dengan desain penelitian: a) 3 gelas plastik : eceng gondok + air danau, b) 3 gelas plastik : eceng gondok + air + deterjen, c) 3 gelas plastik : eceng gondok + air + tanah + deterjen. Setelah diaklimatisasi diberi perlakuan dengan air deterjen dan tidak diberi air deterjen mencapai tiga perempat tinggi dari gelas plastik. Perbedaan respon antar perlakuan dan antar spesies dilakukan uji Anova. Hasil penelitian menunjukkan eceng gondok mampu menurunkan konsentrasi limbah deterjen dalam perairan secara signifikan. Pemberian tanah dalam penelitian mengurangi pencemaran limbah deterjen terhadap pertumbuhan eceng gondok. Potensi eceng gondok sebagai tanaman remediasi dapat dilihat pada perubahan pH dan konduktivitas media tanam yang telah diintroduksi limbah deterjen. Pada awal perlakuan, media tanam eceng gondok yang mengandung limbah deterjen memiliki pH sebesar 8,18 dan konduktivitasnya sebesar 3,18. Sementara itu, media tanam eceng gondok yang tidak mengandung limbah deterjen (kontrol) memiliki pH sebesar 6,75 dan konduktivitasnya sebesar 0,38. Setelah dua minggu, terjadi kenaikan pH dan penurunan konduktivitas media tanam baik pada kontrol maupun padaEceng gondok. Kenaikan pH mencapai 8–8,77 dan penurunan konduktivitas mencapai 0,17. Sistem fitoremediasi yang dilakukan lebih ramah lingkungan, murah, estetik, dan dapat mengurangi masuknya kontaminan ke lingkungan melalui sistem air permukaan
EVALUASI KECERNAAN IN VITRO BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK FERMENTASI RUMPUT TAIWAN DAN KULIT PISANG DENGAN MENGGUNAKAN TRICHODERMA SP.
Tujuan dari penelitian untuk mengetahui pengaruh fermentasi rumput taiwan dan kulit buah pisang dengan penambahan Trichoderma sp. terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik secara in vitro. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan dan empat taraf perlakuan, yaitu 100% rumput taiwan, 90% rumput taiwan + 10% kulit buah pisang, 80% rumput taiwan + 20% kulit buah pisang, 70% rumput taiwan + 30% kulit buah pisang. Hasil analisis ragam daya cerna bahan kering secara in vitro fermentasi rumput taiwan dan kulit buah pisang dengan menggunakan Trichoderma sp. menunjukkan perlakuan berpengaruh nyata. Nilai rata-rata daya cerna bahan kering secara in vitro rumput taiwan dan kulit buah pisahan dan bahan organik adalah yang tertinggi adalah perlakuan 70% rumput taiwan + 30% kulit pisang, yaitu 39.61%. Perlakuan yang sama juga memberi perlakuan daya cerna tertinggi, yaitu 30.99%
STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA PENGGILINGAN DAGING DI KABUPATEN SERUYAN PROPINSI KALIMANTAN TENGAH
Pembangunan pertanian khususnya subsektor peternakan dibidang usaha penggilingan daging bertujuan untuk memenuhi kebutuhan akan konsumsi daging bagi masyarakat, pengembangan usaha yang tepat agar usaha penggilingan daging dapat berkesinambungan, dan meningkatkan perekonomian masyarakat selaku pengusaha dan pengguna jasa penggilingan daging. Tujuan penelitian adalah menganalisis strategi pengembangan usaha penggilingan daging di Kabupaten Seruyan. Jenis penelitian adalah penelitian eksplanatori, teknik pengumpulan data menggunakan beberapa metode, antara lain: observasi, wawancara (interview), kuesioner, studi literatur dan melakukan pencatatan data yang dibutuhkan penelitian. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif analitis, yaitu metode yang memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa sekarang dan pada masalah-masalah aktual. Sumber data yang digunakan terdiri dari data primer dan sekunder yang bersumber dari subyek, informan, dan arsif atau dokumen. Populasi penelitian adalah pengusaha penggilingan daging di Kabupaten Seruyan. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non probability sampling. Jenisnya adalah purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, yaitu 6 orang pekerja sekaligus pengusaha penggilingan daging di Kabupaten Seruyan. Metode analisis data untuk memformulasikan strategi pengembangan usaha digunakan analisis SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunities, Threats). Hasil penelitian menunjukkan usaha penggilingan daging di Kabupaten Seruyan berada pada kuadran pertama sehingga dapat menjalankan stratgi S-O, diantaranya meningkatkan kuantitas dan kualitas daging hasil penggilingan, dan diversifikasi produk olahan daging hasil penggilingan
PENGARUH PEMBERIAN PACLOBUTRAZOL TERHADAP INTENSITAS SERANGAN PENGGEREK BUAH KAKAO
Penggerek Buah Kakao (PBK) merupakan salah satu hama penting pada tanaman kakao di Indonesia yang menyebabkan kehilangan hasil produksi hingga 80%. Penggunaan zat pengatur tumbuh yaitu paclobutrazol dapat digunakan untuk meningkatkan ketebalan sel-sel tanaman. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai pengendalian. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian paclobutrazol pada intensitas serangan penggerek buah kakao. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan pemberian zat pengatur tumbuh dengan bahan aktif paclobutrazol pada buah kakao dengan konsentrasi yaitu kontrol, 10 ppm, 30 ppm, 50 ppm, dan 70 ppm. Evaluasi dilakukan dengan menghitung jumlah buah terserang untuk mengetahui besarnya tingkat serangan melalui metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang dilanjutkan dengan uji BNT. Intensitas serangan PBK yang paling rendah terlihat pada perlakuan 70 ppm dengan rata-rata buah terserang sebesar 41.33 buah, diikuti perlakuan 50 ppm sebesar 55.33 buah, perlakuan 30 ppm sebesar 65.33 buah, 10 ppm sebesar 82 buah, dan kontrol sebesar 95.33 buah