Jurnal Pertanian UMPAR (Universitas Muhammadiyah Parepare)
Not a member yet
    529 research outputs found

    Evaluasi Komparatif Penggunaan Tepung Cacing dan Tepung Ikan sebagai Sumber Bahan Baku Protein Pakan terhadap Performa Pertumbuhan Ikan Lele

    No full text
    Fishmeal is the primary raw material in fish feed formulations as a source of protein raw materials. Its limited availability and fluctuating prices encourage using alternative protein sources, one of which is worm meal. This study compare the use of fish meal and worm meal in catfish (Clarias sp.) feed the hepatosomatic index (HSI), blood glucose levels, and gastric emptying rate. The research was conducted using an experimental method with two treatments: fishmeal-based and worm meal-based. HSI data obtained were analyzed by independent-sample T-test analysis, while data on blood glucose levels and gastric emptying rate were analyzed descriptively. The results showed no significant difference (p>0.05) between treatments on hepatosomatic index. Fluctuations in blood glucose levels are also in line with the rate of gastric emptying, which is not too different between treatments. This study showed that worm meal has the potential to be used as an alternative to fish meal in catfish feed without causing physiological changes.Tepung ikan merupakan bahan baku utama dalam formulasi pakan ikan sebagai sumber bahan baku protein. Namun ketersediaannya yang terbatas dan harganya yang fluktuatif mendorong penggunaan alternatif sumber protein, salah satunya adalah tepung cacing. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan penggunaan tepung ikan dan tepung cacing dalam pakan ikan lele (Clarias sp.) terhadap indeks hepatosomatik (IHS), kadar glukosa darah, dan laju pengosongan lambung. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen dengan dua perlakuan, yaitu pakan berbasis tepung ikan dan pakan berbasis tepung cacing. Data IHS yang diperoleh dianalisis menggunakan independent-sampels T-Test, sedangkan data kadar glukosa darah dan laju pengosongan lambung dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapatnya perbedaan signifikan (p>0,05) antara perlakuan terhadap indeks hepatosomatik. Fluktuasi kadar glukosa darah juga seiring dengan laju pengosongan lambung yang tidak terlalu berbeda antar perlakuan. Pada penelitian ini terlihat bahwa tepung cacing berpotensi digunakan sebagai alternatif pengganti tepung ikan dalam pakan ikan lele tanpa menyebabkan perubahan fisiologis

    Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Konsentrasi ZPT Giberelin Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.)

    No full text
    Cucumber (Cucumis sativus L.) is a vegetable from the Curcubitaceae family or gourds that originated in India and has spread throughout the world including Indonesia. In Indonesia, cucumber is one of the vegetables that is much favored by all levels of society because it can be consumed and used as a cosmetic and medicinal ingredient. This study aims to determine the effect of gibberellin concentration and NPK fertilizer dosage on the growth and yield of cucumber plants. The research was conducted in Dasri Village, Tegalsari District, Banyuwangi Regency, East Java,  from August to November 2024. This research was conducted using the method of Divided Plots Design (RPT) with two treatment factors. The treatments used were concentration of gibberellin as main plot and dosage of NPK fertilizer as sub plot. The concentration of gibberellin consisted of four levels, namely: 0 ppm/plant, 100 ppm/plant, 200 ppm/plant and 300 ppm/plant. The second factor is the dose of NPK fertilizer including: 100 kg/ha, 400 kg/ha, 500 kg/ha and 600 kg/ha. The results showed that the treatment combination of gibberellin concentration of 300 ppm/plant with NPK fertilizer dosage of 600 kg/ha affected to length of plant and total of leaves.Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan sayuran dari famili Curcubitaceae atau labu-labuan yang berasal dari India dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia mentimun salah satu sayuran yang banyak digemari oleh semua lapisan masyarakat karena dapat dikonsumsi dan dijadikan sebagai bahan kosmetik serta bahan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi giberelin dan dosis pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun. Penelitian dilakukan di Desa Dasri, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur pada bulan Agustus – November 2024. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan dua faktor perlakuan. Perlakuan yang digunakan yaitu konsentrasi giberelin sebagai petak utama (main plot) dan dosis pupuk NPK sebagai anak petak (sub plot). Konsentrasi ZPT giberelin terdiri dari empat taraf, yaitu: 0 ppm/tanaman, 100 ppm/tanaman, 200 ppm/tanaman dan 300 ppm/tanaman. Faktor kedua adalah dosis pupuk NPK, yaitu: 100 kg/ha, 400 kg/ha, 500 kg/ha dan 600 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan konsentrasi giberelin 300 ppm/tanaman dengan dosis pupuk NPK 600 kg/ha berpengaruh terhadap panjang tanaman dan jumlah daun

    Keragaan Kapas Bronesia 1 dan Seleksi Beberapa Jenis Pupuk Berdasarkan Karakter Agronomi

    No full text
    Indonesia is the sixth largest cotton importer and the ninth largest cotton user in the world. Therefore, efforts are needed to form new superior varieties, starting with determining the performance of cotton as a candidate for the formation of new superior varieties.This research aims to obtain cotton seeds for seed multiplication the following year, producing good brown cotton performance based on agronomic characteristics and the best type of organic fertilizer in increasing the growth of cotton plants. This study was conducted at the KP. Faculty of Agriculture, Animal Husbandry, and Fisheries, Muhammadiyah University of Parepare from June to October 2023. This study used a randomized block design with five repetitions. The treatments used were 4 types of fertilizers, namely chemical fertilizers, cocoa shell waste compost, goat manure compost, and Eco Glasum organic fertilizer. Thus, there were 20 experimental units. The observation parameters observed and measured were plant height (cm), number of leaves (strands), number of generative branches, pollen phenotype and cotton stomata, and age of flower blooming (DAP). Observation data were processed using the SAS 9.0 and Minitab 14 applications. The results showed that agronomic characters were not significantly different except for the number of leaves. The type of eco glasum fertilizer showed the best performance for the characters of plant height, leaf greenness, number of flowers, number of flowers blooming. Direct selection using scatterplot shows the best eco glasum fertilizer on the character relationship between the number of flowers vs. leaf greenness (R = 0.049 + 2.305X) and the number of flowers vs. plant height (R = 1.427 + 36.57X). Eco Glasum is a modification of solid fertilizer consisting of three types of seaweed, namelyEucheuma cottoni, Glacilaria sp., Sargasum sp. and modified by the addition of natural ZPT (Plant Growth Regulators) which are then fermented.Indonesia merupakan negara yang pengimpor kapas terbesar keenam dan sebagai negara pengguna kapas kesembilan di dunia. Diperlukan upaya untuk pembentukan varietas unggul baru yang diawali dengan penentuan keragaan kapas sebagai calon pembentukan varietas unggul baru. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh benih kapas guna perbanyakan benih, menghasilkan keragaan kapas cokelat yang baik berdasarkan karakter agronomi, dan jenis pupuk organik yang terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman kapas. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Parepare. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok yang diulang sebanyak lima kali dengan perlakuan 4 jenis pupuk yaitu pupuk kimia, kompos limbah kulit kakao, kompos kotoran kambing, dan Eco Glasum. Parameter pengamatan yang diamati dan diukur tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang generatif, fenotipe polen, dan stomata kapas, dan umur mulai bunga mekar. Hasil penelitian menunjukkan karakter jumlah daun berpengaruh sangat nyata terhadap keragaan kapas cokelat. Jenis pupuk eco glasum menunjukkan keragaan terbaik untuk karakter tinggi tanaman, kehijauan daun, jumlah bunga, jumlah bunga mekar. Seleksi langsung menggunakan scatterplot menunjukkan pupuk pupuk eco glasum terbaik antara jumlah bunga vs kehijauan daun (R = 0.049 + 2.305X) dan jumlah bunga vs tinggi tanaman (R = 1.427 + 36.57X). Eco Glasum merupakan modifikasi pupuk padat yang terdiri atas tiga jenis rumput laut yaitu Eucheuma cottoni, Glacilaria sp., Sargasum sp dan modifikasi dengan penambahan Zat Pengatur Tumbuh alami yang kemudian difermentasi

    Evektivitas Pengolahan Tanah dan Pengapuran Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kacang Merah (Phaseolus vulgaris L)

    No full text
    Soil is an essential factor in cultivating plants, which, apart from being a planting medium, also supplies food in the form of nutrients. For successful cultivation, farmers should know the condition of the soil before planting. One of the most important things is the soil acidity level (pH) and the type of soil that will be used for planting. The research aimed to determine the effect of soil processing and liming on the growth and production of red bean plants. The research was carried out in Bontomanai Village, Bungaya District, Gowa Regency, at an altitude of ± 400 meters above sea level from May to December 2023. The research used a Factorial Randomized Block Design with 2 factors. The first factor is soil processing, with 2 treatment levels: No tillage (control) and tillage (Hoeing). The second factor is the lime dose, with 4 levels of treatment, namely without liming (control), 1 ton/ha (0.1 kg/plot), 2 tons/ha (0.2 kg/plot), 3 tons/ha (0 .3 kg/plot). There were 8 combinations, and each treatment combination was repeated 3 times, so that 24 treatment combination units were obtained. Each treatment combination unit used 10 plants and 3 sample plants. The research results showed that tillage had a better effect than no tillage at a weight parameter of 100, namely 41.30 gr. Liming at a dose of 3 tons per hectare had the best effect on plant height parameters, namely 47.68 cm. The interaction between soil processing and liming at a dose of 3 tons/ha gave the best effect on seed weight per planting, 24.93 grams, seed weight per plot of 0.28 kg, and seed production per hectare, namely 2.8 tons/ha

    Pertumbuhan dan Produksi Padi (Oryza sativa L.) Hasil Priming Berbagai Konsentrasi PEG-6000 pada Cekaman Kekeringan

    No full text
    One way to get rice that can adapt to drought stress is by providing drought tolerance in the germination phase through seed invigoration with the “Seed Priming” method. The study aimed to determine the level of adaptation and the response of growth and production of PEG-primed rice under drought-stress conditions.  The research was conducted in two stages. Phase I was in the form of rice seed priming in PEG 6000 solution arranged in a Randomized Group Design (RAK), consisting of 5 treatments, namely treatment without priming as control, PEG priming 0 gL-1, 50 gL-1, 100 gL-1, and 150 gL-1 with the length of seed priming for 36 hours. Phase II was a priming test of production levels in the field from the selected treatments in Phase I. The data were then statistically analyzed using analysis of variance (ANOVA). The results showed that priming treatment using PEG 6000 for 36 hours with a concentration of 100 gL-1 gave the best results on vegetative growth (93% germination, seedling height 28, 27 cm, leaf length 19.11 cm, number of leaves 4 cm, and root length 4.08 cm). This concentration also gave the best results on generative growth (number of productive tillers 12, and grain weight 31.71 per clump), and increased the adaptation of paddy rice to drought stress conditions.Salah satu cara untuk mendapatkan padi yang mampu beradaptasi pada cekaman kekeringan, yakni dengan upaya memberikan toleransi kekeringan pada fase perkecambahan melalui invigorasi benih dengan metode “Seed Priming”. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat adaptasi serta respon pertumbuhan dan produksi padi hasil priming PEG pada kondisi cekaman kekeringan.  Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap I berupa pemeraman benih padi pada larutan PEG 6000 yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK), terdiri dari 5 perlakuan yaitu perlakuan tanpa priming sebagai kontrol, priming PEG 0 gL-1, 50 gL-1, 100 gL-1, dan 150 gL-1  dengan lama pemeraman benih yaitu selama 36 jam. Tahap II merupakan uji priming tingkat produksi di lapangan dari perlakuan hasil seleksi pada tahap I. Data hasil penelitian selanjutnya dianalisis secara statistik menggunakan analisis ragam (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan priming menggunakan PEG 6000 selama 36 jam dengan konsentrasi 100 gL-1 memberikan hasil terbaik pada pertumbuhan vegetatif (daya kecambah 93%, tinggi bibit 28, 27 cm, panjang daun 19,11 cm, jumlah daun 4 cm, dan panjang akar 4,08 cm). Konsentrasi ini juga memberikan hasil terbaik pada pertumbuhan generatif (jumlah anakan produktif 12, dan bobot gabah 31,71 per rumpun), serta mampu meningkatkan adaptasi padi sawah pada kondisi cekaman kekeringan

    Pemanfaatan Biochar Sekam Padi, Tongkol Jagung dan Cangkang Kelapa untuk Meningkatkan Produksi Bawang Merah (Allium cepa)

    No full text
    Agricultural waste becomes a major post-harvest problem if not processed correctly. Post-harvest agricultural waste processing into biochar can be the right post-harvest handling solution and can be used to improve soil nutrient structure. This study aimed to determine the use of agricultural waste biochar to increase shallot production. This study was in the form of an experiment using a Randomized Block Design (RAK) with treatments including rice husk biochar (BSP), corn cob biochar (BTJ), coconut shell biochar (BCK), rice husk biochar + corn cob biochar (BSP + BTJ), rice husk biochar + coconut shell biochar (BSP + BCK), corn cob biochar + coconut shell biochar (BTJ + BCK), and rice husk biochar + corn cob biochar + coconut shell biochar (BSP + BTJ + BCK). The results showed that using rice husk biochar, corn cob, and coconut shell individually or in combination could increase shallot production. The highest output of shallots was demonstrated in the treatment of rice husk biochar + corn cob biochar + coconut shell biochar.Limbah pertanian menjadi masalah besar pasca panen jika tidak diolah dengan tepat. Pengolahan limbah pertanian pasca panen menjadi biochar dapat menjadi solusi penanganan pasca panen yang tepat dan dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur hara tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan biochar limbah pertanian untuk meningkatkan produksi bawang merah. Penelitian ini dalam bentuk eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan meliputi biochar sekam padi (BSP), biochar tongkol jagung (BTJ), biochar cangkang kelapa (BCK), biochar sekam padi + biochar tongkol jagung (BSP+BTJ), biochar sekam padi + biochar cangkang kelapa (BSP+BCK), biochar tongkol jagung + biochar cangkang kelapa (BTJ+BCK), dan biochar sekam padi + biochar tongkol jagung + biochar cangkang kelapa (BSP+BTJ+BCK). Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan biochar sekam padi, tongkol jagung, dan cangkang kelapa secara tunggal atau kombinasi mampu meningkatkan produksi bawang merah. Produksi bawang merah tertinggi ditunjukkan pada perlakuan biochar sekam padi + biochar tongkol jagung + biochar cangkang kelapa

    Pemanfaatan Kapur Cangkang Keong Mas pada Air Rawa Media Pemeliharaan Ikan Lele dengan Model Budikdamber

    No full text
    One of the currently developing urban farming models is budikdamber, which is a mutually beneficial combination of aquaculture and hydroponic systems with a bucket as a medium for cultivation. This research aims to find out the best dosage of golden snail shells lime for increasing the swamp water pH for rearing catfish (Clarias sp.) and kale using the budikdamber model. This research applied a completely randomized design with six treatments and three replications. The dosages of golden snail shells lime used as treatment consist of 0.00 mg L-1 equivalent to CaO (P0), 10 mg L-1 equivalent to CaO (P1), 20 mg L-1 equivalent to CaO (P2), 30 mg L-1 equivalent to CaO (P3), 40 mg L-1 equivalent to CaO (P4) and 50 mg L-1 equivalent to CaO (P5). The results of this study indicate that the best dose of golden snail shell lime is 20 mg L-1 equivalent to CaO (P2), which can optimize the swamp water pH from 4.80 to 6.78, survival rate 84 %, absolute weight growth of 18.44 g, absolute length growth of 6.15 cm and feed efficiency 132.49 %, and the total weight of the kale plant 11.33 g.  Satu dari beberapa model urban farming yang berkembang yaitu budikdamber, merupakan kombinasi sistem akuakultur dengan media ember sebagai wadah budidaya dan hidroponik yang saling menguntungkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis terbaik kapur cangkang keong mas dalam upaya meningkatkan pH air rawa lebak terhadap pemeliharaan ikan lele (Clarias sp.) dengan model budikdamber budidaya ikan dengan tanaman kangkung. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan enam perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan perbedaan dosis kapur cangkang keong mas yaitu 0,00 mg L-1 setara CaO (P0), 10 mg L-1 setara CaO (P1), 20 mg L-1 setara CaO (P2), 30 mg L-1 setara CaO (P3), 40 mg L-1 setara CaO (P4) dan 50 mg L-1 setara CaO (P5). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dosis terbaik pada pemberian kapur cangkang keong mas yaitu dosis 20 mg L-1 setara CaO (P2), yang mampu mengoptimalkan pH air rawa lebak 4,80 menjadi 6,78, kelangsungan hidup 84 %, pertumbuhan bobot mutlak 18,44 g, pertumbuhan panjang mutlak 6,15 cm dan efisiensi pakan 132,49 %, serta menghasilkan panen total tanaman kangkung sebanyak 11,33 g

    Analisis Kualitas Air dan Hubungannya dengan Pertumbuhan Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) pada Padat Tebar Berbeda

    No full text
    Due to high demand, Sangkuriang catfish (Clarias gariepinus) is a widely cultivated consumption fish. This study aimed to analyze the relationship between water quality parameters such as temperature, pH, and water brightness with catfish growth. In addition, different stocking densities on catfish growth should be analyzed. The research was conducted at Omah Lele Catfish Farm from March to May 2023. The treatments consisted of Pond A, with a stocking density of 740 fish/m3, and Pond B, with a stocking density of 864 fish/m3. Growth data such as length, average body weight (ABW), and average daily growth (ADG) were analyzed using a T-test, and the relationship between water quality and growth was regression analysis. The interaction between temperature and catfish growth showed a negative/weak relationship, while the interaction between pH and water brightness on catfish growth was dominated by positive/strong. The stocking density variation of 740 fish/m3 showed better length and weight growth compared to the higher stocking density of 864 fish/m3.Ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) merupakan ikan konsumsi yang banyak dibudidayakan karena tingginya permintaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan antara kualitas air dan pertumbuhan ikan yang dibudidayakan pada kepadatan pemeliharaan yang berbeda. Penelitian dilakukan di PT. Omah Lele Catfish Farm pada bulan Maret hingga Mei 2023. Perlakuan terdiri dari kolam A dengan padat tebar 740 ekor/m3 dan kolam B dengan padat tebar 864 ekor/m3. Data pertumbuhan seperti panjang, average body weight (ABW) dan average daily growth (ADG) dianalisis dengan menggunakan uji-T dan hubungan antara kualitas air dengan pertumbuhan dilakukan analisis regresi. Berdasarkan uji-T diketahui bahwa pertumbuhan panjang badan, ABW dan ADG tidak berpengaruh nyata terhadap perbedaan padat tebar (t-hitung > t-tabel). Analisis regresi menyimpulkan bahwa terdapat korelasi negatif/lemah antara Suhu dan Panjang (R2= 0,33%), Suhu dan ABW (R2= 0,02%), dan Suhu dan ADG (R2= 0,91%). Hubungan antara pH dan Panjang (R2= 0,02%) dan pH dan ABW (R2= 2,24%) menunjukkan korelasi negatif/lemah, sedangkan pH-ADG (R2= 5,65%) menunjukkan korelasi positif/baik. Hubungan antara Kecerahan dan Panjang (R2= 1,14%), Kecerahan dan ABW (R2= 2,25%) dan Kecerahan dan ADG (R2= 1,85%) menunjukkan korelasi positif/cukup

    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN KONSUMEN MEMBELI PAKAN TERNAK DI MAMMINASATA POULTRY SHOP (PS)

    No full text
    The purpose of this study is to ascertain the impact of feed quality, price, promotion and location factors on consumer decisions to buy animal feed at Mamminasata Poultry Shop (PSA quantitative descriptive method was used for the research which included 55 respondents as a sample. The date was collected using the questionnaire method and check information used was multiple linear regression analysis with the help of SPSS 16.0 for windows. The results of this study show that the value of product quality coefficient (X1) is 0.0017, price (X2) is 0.002, promotion (X3) is 0.283 and location (X4) is 0.886. So it can be concluded that partially the product feed factor (X1) and price (X2) have a significant effect (P<0.05) on consumer decisions while promotional factors (X3) and location (X4) do not have a significant effect (P>0.05) on consumer decisions to buy animal feed. While the results of simultaneous test (F) showed that the Fcalculate value qas 4.809 with a significant level of 0.05 and the Ftable value was 2.786. Therefore, it is concluded that product feed (X1), price (X2), promotion (X3) and location (X4) have important influence on consumers decisions to buy animal feedPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak faktor terhadap pilihan konsumen, kualitas produk, harga, promosi dan lokasi dalam membeli pakan ternak di Mamminasata Poultry Shop (PS).  Metode deskriptif kuantitatif digunakan dalam penelitian menggunakan 55 responden sebagai sampel. Data dikumpulkan menggunakan metode  kusioner dan pemeriksaan informasi yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dengan bantuan SPSS 16.0 windows. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai koefisien kualitas pakan (X1) sebesar 0.017, harga (X2) sebesar 0.002, promosi (X3) sebesar 0.283 dan lokasi (X4) sebesar 0.886. Maka dapat disimpulkan bahwa secara umum faktor kualitas pakan (X1) dan Harga (X2) berpengaruh secara signifikan  (P<0.05) terhadap Keputusan konsumen sementara faktor promosi (X3) dan lokasi(X4) tidak berpengaruh secara signifikan (P>0.05) terhadap Keputusan konsumen membeli pakan ternak. Sedangkan hasil uji simultan (F) menunjukkan bahwa nilai Fhitung sebesar 4.809 dengan tingkat siginifikan 0.05 dan nilai Ftabel sebesar 2.786. Maka dari itu disimpulkan bahwa kualitas pakan (X1), harga (X2), Promosi (X3) dan lokasi (X4) berpengaruh penting bagi Keputusan konsumen membeli pakan ternak

    Analisis Strategi Kemandirian Pangan Bidang Perikanan di Kota Bandung

    No full text
    The relationship between food and cities is complex because it covers various aspects such as production, distribution, and environmental impacts. Currently, the land area that can be used for the agricultural sector in Bandung City is only 9.6%. Most fishery commodities in Bandung City are imported from outside the region. This research aims to formulate strategies related to food independence efforts in the fisheries sector in Bandung City. This research uses a descriptive method with the tool used to analyze the data SWOT with an analysis of internal and external factors in the city of Bandung. The results obtained in this research are that the city of Bandung is in quadrant 2, which means that diversification is the right thing to implement now. The strategy used is to encourage the improvement of the social and economic status of the fish cultivator profession and also business actors in the fisheries sector in the city of Bandung by providing tax exemptions, subsidies, and technical assistance for fish cultivators who use environmentally friendly systems, providing capital loans and for fish farmers and fishery product processors, giving awards to fish farmers and fisheries business actors and developing adequate environmental protection and waste management programs to reduce water pollution by strengthening cooperation between local governments, law enforcement agencies, research institutions, and environmental organizations in monitoring and enforcing regulations related to waste management and river environmental protection.Hubungan antara pangan dengan perkotaan sangat kompleks karena mencakup berbagai aspek seperti produksi, distribusi, dan dampak lingkungan. Saat ini, luas lahan yang dapat dimanfaatkan untuk sektor pertanian di Kota Bandung hanya sebesar 9,6% sehingga komoditas perikanan di Kota Bandung mayoritas didatangkan dari luar daerah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi terkait upaya kemandirian pangan bidang perikanan di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan analisis SWOT untuk analisis faktor internal dan eksternal yang ada di Kota Bandung. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini bahwa Kota Bandung berada pada posisi kuadran 2 yang artinya diversifikasi adalah jalan yang tepat untuk diterapkan pada saat ini. Strategi yang digunakan adalah dengan mendorong peningkatan status sosial dan ekonomi profesi pembudidaya ikan dan juga pelaku usaha di bidang perikanan di Kota Bandung dengan cara memberikan pembebasan pajak, pemberian subsidi, bantuan teknis untuk pembudidaya ikan yang menggunakan sistem ramah lingkungan, memberikan pinjaman modal untuk pembudidaya ikan dan pengolah hasil perikanan. Selain itu, memberikan penghargaan kepada para pembudidaya ikan dan pelaku usaha perikanan serta mengembangkan program-program perlindungan lingkungan dan pengelolaan limbah yang efektif untuk mengurangi pencemaran air dengan cara memperkuat kerjasama kerjasama antara pemerintah daerah, lembaga penegak hukum, lembaga riset, dan organisasi lingkungan dalam melakukan pengawasan dan penegakan peraturan terkait pengelolaan limbah dan perlindungan lingkungan sungai

    0

    full texts

    529

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pertanian UMPAR (Universitas Muhammadiyah Parepare)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇