Rumah Jurnal Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA)
Not a member yet
209 research outputs found
Sort by
Tradisionalisme dan Rasionalisme dalam Pemikiran Teologi Islam
This research aims to reveal three main problems; First, what is the history of the emergence of traditionalism and rationalism in the thinking of Islamic theology? Second, what are the characteristics of traditionalism and rationalism in Islamic theology? Third, what are the concepts of traditionalism and rationalism in Islamic theology? The approach used in this research is descriptive and analytical, even to get an ideal picture, the author also does not escape using historical methods, especially when discussing the history of the emergence of traditionalist and rationalist theology. The results obtained from this study reveal that, the emergence of traditional and rational theology originated from the polemic between the Mu'tazilah and Asy'ariyah who opposed the problems of the kafir and mu'min, but eventually turned into a problem of the superiority of the Mu'tazilah to the label rational theology, and inferiority of reason to the Asy'ariyah so that it is labeled with traditional theology. In this way, the implication, for Rational Theology, holds that knowledge of God and good and bad can be obtained by reason. Whereas in traditional theology is that human reason does not have any ability except to know God alone
Studi Komparasi Hukum Islam dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (Human Trafficking)
Human Trafficking atau perdagangan manusia menyalahi kodrat kemanusiaan, hal ini tidak dibenarkan baik didalam hukum islam maupun undang-undang nomor 21 tahun 2007. Hukuman bagi pelaku tindak pidana perdagangan orang (Human Trafficking) adalah dengan hukuman ta’zir, dimana jenis hukuman ta’zir ditentukan oleh hakim dan jenis hukumannya meliputi: hukuman mati, penjara, cambuk, denda, dan pengasingan, hal tersebut ditentukan berdasarkan jenis perbuatan serta akibat dari apa yang di lakukan tindak pidana perdagangan orang. Undang-undang nomor 21 tahun 2007 memberlakukan hukuman penjara bagi pelaku dan denda sebagai bentuk pemberantasan bagi pelaku tindak pidana perdagangan orang (Human Trafficking). Penelitian ini akan menjelaskan tentang komparasi antara hukum Islam dan undang-undang tentang hukuman untuk pelaku human trafficking
Perkawinan Antar Agama dan Dampaknya Terhadap Psikologi Pendidikan Anak
Penelitian ini akan membahas tentang bagaimana konsep pendidikan anak yang didalam keluarganya terdapat dua keyakinan dan bagaimana dampak perkawinan antar agama terhadap perkembangan pendidikan anak. Penelitian ini menggunakan metode Library Reasearch (Penelitian Kepustakaan) yaitu penelitian yang memfokuskan pembahasan pada literature-literatur baik berupa buku, jurnal, makalah, maupun tulisan-tulisan lainnya. Sedangkan pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kualitatif dengan metode non interaktif. Adapun jenis penelitiannya adalah menggunakan analisis konsep yaitu menganalisis dan mengkaji konsep-konsep penting kemudian diinterpretasikan sesuai dengan judul penulis. Penulis dapat menyimpulkan bahwa perkawinan beda agama dapat menyebabkan konsekuensi jangka panjang dari sisi psikologis. Ada banyak tantangan yang dihadapi oleh keluarga yang di dalamnya terdapat perbedaan agama antara pasangan. Mulai dari konflik antara pasangan, konflik dengan orang-orang di luar pasangan, penentuan agama anak dan cara anak dibesarkan.hidup
Analisis Terhadap Kurikulum Pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren Cilik Al-Amien (Poncila) Tegal Prenduan
Guru merupakan salah satu faktor penting dalam implementasi kurikulum pendidikan Islam, khususnya di pesantren, karena kurikulum di pesantren menggunakan kurikulum klasik, seperti istilah sorogan atau bendongan yang dijadikan salah satu metode pembelajaran agama Islam. Kurikulum klasik saat ini dipadukan dengan kurikulum modern, karena jika dipadukan kedua model tersebut, maka peran kurikulum dapat dipersiapkan dan dikembangkan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam, yakni mempersiapkan peserta didik agar mereka dapat hidup di masyarakat, hingga anak didik dapat memiliki kebijaksanaan menurut ajaran Islam, memiliki kebebasan yang terpimpin, berkemampuan mengatur diri sendiri, memilki rasa kebersamaan yang tinggi, menghormati orangtua dan guru, cinta kepada ilmu, mandiri, dan kesederhanaan
Pudarnya Kharisma Kiai dalam Kontestasi Politik Lokal di Madura
Artikel ini menjelaskan pudarnya kharisma kiai dalam percaturan politik lokal di Madura. Meskipun kiai, bagi orang Madura adalah tokoh sentral dalam segala aspek kehidupan, namun masyarakat mulai apatis dengan permainan politik kiai yang tidak ada bedanya dengan para politisi tulen. Sekarang ini, uang telah menjadi panglima, dan kharisma kiai mulai tergadaikan dengan permainan politik yang semakin kotor. Meskipun masih banyak kiai yang masih bertahan dengan idealisme keagamaan dan kejujuran, akan tetapi tidak sedikit pula yang terjebak dengan politik uang dalam pesta demokrasi. Maka dari itu, para kiai harus kembali meneguhkan nilai-nilai dan tradisi pesantren yang mulai ditinggalkan, seperti kesederhanaan, kejujuran, tanggung jawab, dan keterbukaan. Kiai harus menjadi garda terdepan dalam mengubah paradigma masyarakat tentang politik yang selalu dipahami dengan keculasan, korupsi, permainan anggaran, dan lain sebagainya
Urgensi Pendidikan Islam Tradisional Dalam Menciptakan Manusia Ideal
Melihat keadaan saat ini dengan berkembangnya tekhnologi dan jaman yang semuanya serba modern nilai-nilai kemanusian yang dulunya sangat religius seakan-akan pudar mengikuti arus modernisasi, untuk itu kita sebagai seorang pelajar (mahasiswa) dan calon seorang pendidik wajib untuk menanggulangi perubahan tersebut dan mempertahankan nialai-nilai keagamaan dalam kehidupan, salah satunya dengan cara melalui pendidikan islam tradisional. Maka dari itu, rumusan masalah yang akan diiteliti oleh peneliti adalah Bagaimana Manusia Ideal Dalam Perspektif Pendidikan Islam Tradisional, Bagaimana Strategi Pendidikan Islam Tradisional Dalam Menciptakan Manusia Ideal, Dan Bagaimana Kontribusi pendidikan islam tradisional dalam menciptakan manusia ideal. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif pustaka (libary research). Setelah data terkumpul dengan baik, langkah yang dilakukan oleh penulis ialah mengkaji data-data tersebut dengan cermat. Dari data tersebut, penulis melakukan analisa yakni dengan cara menelaah data kemudian mengombinasikannya dengan dari berbagai sumber. Setelah itu, penulis mendipenelitiankan hasil dari data tersebut dengan memberikan penjelasan beserta uraian untuk memudahkan pemahaman. Dari keseluruhan data tersebut dapat di tarik kesimpulan. Berdasarkan hasil research dari berbagai literatur, dapat disimpulkan bahwa manusia ideal dalam persepektif pendidikan islam tradisional itu ialah manusia yang tertanam dalam dirina sifat-sifat ketuhanan dan kerasulan. Strategi pendidikan islam tradisional dan kontribusi pendidikan islam tradisonal dalam menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berakhlaq mulia, bermanfaat bagi masyarakat atau berkhidmat pada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau abdi masyarakat sekaligus menjadi rasul, yaitu menjadi pelayan masyarakat sebagaimana kepribadian nabi Muhammad saw.
Poskolonialisme dan Spiritualisme Timur: Upaya Menuju Universalitas Ilmu Pengetahuan Era Posmodern
Saat ini kita sampai pada era baru yaitu posmodern. Lembaran ini sekaligus menutup modern dengan kekuatannya yang hegemonik yaitu berupa arus logosentrisme dari ilmu pengetahuan. Ilmu pada saat modern haruslah berparadigma positivistik. Artinya yang menjadi pijakan dalam ilmu tersebut adalah logika rasionalisme serta logika empirisme. Fakta tersebut berarti bahwa pengalaman manusia itu dijadikan sebagai tolak ukur dari ilmu pengetahuan. Hal ini berawal dari pemikir Perancis, Rene Descartes, awalnya ia meragukan secara metodis tentang sesuatu yang ada, akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa yang berpikirlah yang ada dengan sebenarnya. Ia mengatakan cogito ergo sum, dengan pikirannyalah manusia dapat berpijak. Babak ini berawal sejak abad ke 15 hingga penghujung abad 20. Ini merupakan era keemasan dari modernisme. Nah hingga pada akhirnya modernisme ini digeser oleh posmodern yang mengkritiknya. Ilmu pengetahuan ternyata “melingkarâ€. Ia bisa berada dimana saja. Seperti juga yang diungkap oleh Derrida, sang raja dekonstruksi, bahwa segalanya adalah teks. Tak ada sesuatu di luar teks. Alam semesta merupakan teks yang selalu melingkar. Tak ada kebenaran hakiki yang ada hanyalah interpretasi. Selain itu ada bahasa oposisi biner dalam modernitas. Sesuatu itu berlawanan secara pasti; kaya-miskin, penguasa-rakyat jelata, hitam-putih, dan sebagainya. Dari itu, maka ada sebuah teori dalam posmodern yaitu poskolonialisme. Paham ini hendak mengkritik bahwa ideologi pengetahuan adalah berakar dari kekuasaan. Namun bukan demikian adanya tetapi masalah pengetahuan adalah masalah sumber mengetahui itu sendiri
Doktrin Islam dan Doktrin Pra-Islam (Apresiasi terhadap Ritus dan Dasar-Dasar Keyakinan)
Islam diturunkan di tengah masyarakat yang telah berbudaya dan beragama, yaitu masyarakat Arab dan sekitarnya baik Arab paganis atau penganut agama Yahudi dan Nasrani yang disebut ahlul kitab. Dengan demikian, tentu saja Islam berdialog dan memberikan apresisasi terhadap tradisi dan agama yang ada. Dalam konteks ini, ada tiga hal yang menjadi sorotan: (1) ‘aqidah (keyakinan), (2) ‘ibadah (ritus), (3) khuluq moral dan pranata sosial. Islam memberikan apresiasi terhadap tradisi dan agama sebelumnya di bawah kendali wahyu, tidak berdasar proses-proses sosial budaya. Dalam hal ini Islam menyikapinya dengan empat bentuk apresiasi: (1) apresiasi duplikatif, (2) apresiasi modifikatif, (3) apresiasi purifikatif, (4) apresiasi negatif. Dengan itu, banyak bagian dari tradisi dan agama sebelumnya yang menjadi bagian integrasi dari agama Islam baik melalui duplikasi atau modifikasi. Tapi ada juga ajaran dan tradisi yang dikembalikan ke aslinya karena mengalami penyimpangan melalui aparesiasi purifikasi. Ada juga tradisi dan ajaran yang sama sekali ditolak melalui apresiasi negatif, karena tak ada kesesuaian secara prinsip. Bentuk-bentuk apresiasi tersebut didasarkan pada kontruksi dan formulasi Islam yang jelas sebagai agama terakhir yang sempurna tapi tetap terbuka dengan tradisi dan ajaran lain jika bisa mengikuti konstruksi dan formulasinya
Analisis Dampak Maklumat Kapolri Nomor MAK/2/III/2020 terhadap Sektor Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19 di Desa Rombiya Timur
Penelitian ini membahas tentang dampak maklumat Kapolri nomor MAK/2/III/2020, yang salah satunya adalah larangan untuk melakukan kegiatan yang membuat berkumpulnya massa, untuk mengantisipasi penyebaran dan penularan virus covid 19 semakin meluas. Akibatnya proses KBM di berbagai sekolah tidak diperbolehkan dilaksanakan secara tatap muka. Pemerintah menganjurkan KBM dilakukan sistem daring, termasuk juga di yang terjadi di Desa Rombiya Timur. Berbagai persoalan mulai muncul seiring dengan diberlakukannya aturan dari pemerintah. Dampak dari maklumat Kapolri tentang larangan berkumpul secara massal telah merembet ke berbagai lini kehidupan masyarakat, baik ekonomi, sosial, politik, dan termasuk juga pendidikan. Dampak dalam sektor pendidikan ini yang menjadi fokus penelitian dalam tulisan ini, baik dampak bagi guru, siswa, orang tua atau pendidikan secara lebih luas. Termasuk juga bagaimana langkah strategis dalam menghadapi persoalan tersebut
Strategi Kiai dalam Pembinaan Moral Santri di Ma’had Tahfiz Al-Qur’an (MTA) Zainul Ibad Prenduan
Ulama (kiai) merupakan lambang kesinambungan misi kenabian, yang tidak boleh tercemar oleh kepentingan individu, ras, dan kepentingan temporal. Selain itu mereka bertanggung jawab atas kelangsungan nilai-nilai moralitas untuk terwujudnya masyarakat yang adil, dan sejahtera di bawah perlindungan Tuhan. Masalah moral terjadi di berbagai daerah dan mendapat respon dari berbagai lini, baik oleh pakar pendidikan/ ilmuwan, bahkan para kiai yang memiliki andil dalam memimpin dan menegakkan moral siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana strategi kiai dalam membentuk moral siswa yang terbentuk sejak dini. Bentuk penelitian ini adalah pendekatan kualitatif/ studi kasus, yang menggunakan metode komparatif konstan. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa strategi yang digunakan oleh para ulama (kyai) dalam membentuk akhlak santri menggunakan strategi penguatan dan strategi tajribah atau pembiasaan untuk tindakan kebaikan (mustahsin al-'adab). Karena kedua strategi tersebut dapat menjadikan siswa memiliki akhlak yang baik dan terpuji (al-akhlaqul karimah wal mahmudah)