UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
Not a member yet
765 research outputs found
Sort by
PENGASUHAN RESPONSIF AYAH DAN KUALITAS PERTEMANAN REMAJA
Pertemanan memiliki kontribusi terhadap perkembangan remaja tidak terkecuali perkembangan sosioemosional khususnya relasi interpersonal dengan teman sebaya. Kemampuan menjalin relasi pertemanan dengan teman sebaya tidak dapat dipisahkan dari pengalaman remaja ketika berelasi dengan orang tuanya. Mayoritas masyarakat di Indonesia masih memosisikan ibu sebagai pengasuh utama padahal ayah juga memiliki peran dalam pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara pengasuhan responsif ayah dengan kualitas pertemanan. Partisipan penelitian merupakan 362 remaja berusia 12-21 tahun yang sedang berada pada tahap remaja awal, tengah, dan akhir. Penelitian ini menggunakan alat ukur Friendship Qualities Scale dan sub skala Responsiveness dari Parenting Style yang digunakan untuk mengukur kualitas pertemanan dan pengasuhan responsif ayah. Hasil analisis korelasi menemukan bahwa pengasuhan responsif ayah memiliki hubungan positif dengan kualitas pertemanan. Selain itu, ditemukan perbedaan kualitas pertemanan ditinjau dari jenis kelamin dan kelompok usia. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan secara responsif berkaitan dengan kemampuan remaja dalam menjalin relasi pertemanan yang berkualitas dengan teman sebayanya. Karakteristik yang berbeda antar jenis kelamin dan kelompok usia dapat menyebabkan perbedaan kualitas pertemanan
RELIGIUSITAS SEBAGAI MODAL SOSIAL MAHASISWA E-PRENEUR PRODI SOSIOLOGI AGAMA IAIN KEDIRI
Technological developments have accelerated the transformation of trade patterns in Indonesia. This cannot be denied because of the incessant wave of the industrial revolution 4.0 that has infiltrated to the smallest line of production. The e-commerce system is able to accommodate most all activities of small, medium and large economic actors. In this context, students have begun to realize the important of entrepreneurial skills. This study focuses on portraying a religiosity aspect of e-preneur has been developed at the Sociology of Religion Study Program at IAIN Kediri. Through the phenomenological approach, data mining was carried out on 4 selected informants using observation, interview and documentation methods. By using James Coleman\u27s theory of social capital and the dimensions of religiosity, the following results are obtained: (1) religiosity aspect of e-preneur student is formed through the formation of education and habituation in the family environment, religion-based formal education and Islamic boarding schools; (2) the religious practices of entrepreneurship are carried out through the application of religious values, reflecting on experiences, and determining life goals after graduation; (3) religiosity is used to build social capital in the form of belief in success by applying believed in religious values. (4) The practice of e-preneur religiosity produces 3 attitudes, which consist of independence, realistic (waqi\u27iyah), and moderation (washathiyah). Perkembangan teknologi mendorong percepatan transformasi pola perdagangan di Indonesia. Hal ini tidak dapat ditolak karena gencarnya gelombang revolusi teknologi 4.0 yang telah menyusup hingga lini terkecil. Sistem e-commerce dapat mewadahi aktivitas pelaku ekonomi kecil, menegah dan atas. Kesempatan ini mulai dilirik oleh kalangan mahasiswa sebagai upaya mengasah kecakapan berwirausaha. Penelitian ini memfokuskan pada potret religiusitas mahasiswa e-preneur Prodi Sosiologi Agama di IAIN Kediri. Melalui pendekatan fenomenologi dilakukan penggalian data pada 4 subyek terpilih dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Dengan menggunakan teori modal sosial James Coleman dan dimensi religiusitas didapatkan hasil sebagai berikut: (1) religusitas mahasiswa e-preneur terbentuk melalui landasan pendidikan dan pembiasaan di lingkungan keluarga, pendikan formal berbasis agama dan pesantren. (2) praktik religiusutas berwirausaha dilakukan melalui penerapan nilai agama, merefleksikan pengalaman, dan menentukan tujuan hidup setelah lulus. (3) Religiusitas digunakan untuk membangun modal sosial berupa kepercayaan akan kesuksesan dengan menerapkan nilai-nilai agama yang diyakini. (4) Praktik religiusitas e-preneur menghasilkan 3 sikap yang mencakup kemandirian, realistis (waqi’iyah), dan moderasi (washathiyah).
DINAMIKA KONFLIK IDENTITAS PENGHAYAT SAPTA DARMA DI DESA SUKORENO, JEMBER, JAWA TIMUR
The polemic of religious identity between “penghayat kepercayaan” (believers of indigenous religion) and followers of the official religions in Indonesia is still become a sensitive issue, which adds to the long list of marginalization of indigenous believers in Indonesia. Several forms of marginalization are: forcing to choose certain official religions in their National ID Card, the pros and cons of the burial places of the deceased indigenous believers, and restrictions on the construction of their worship places. This article aims to elaborate the dynamics of identity conflict between adherents of the Sapta Darma (one of indigenous belief) and the followers of official religions in Sukoreno Village, Jember, East Java. This study uses a qualitative approach using observation, in-depth interviews with 7 (seven) informants of Sapta Darma followers, and members of FKUB (Forum of Religious Harmony) for the data collection. The results of the study reveal that this identity polemic has made it difficult for adherents of Sapta Dharma to change their religious identity on their ID cards. As a consequence, they also have difficulty in accessing public burial places. Conflict resolution efforts are carried out through FKUB by providing socialization of knowledge on nationality and cultural perspective to the interfaith leaders. Polemik identitas agama antara penghayat kepercayaan dengan pemeluk agama resmi di Indonesia masih menjadi isu yang menambah daftar panjang marginalisasi penganut kepercayaan di Indonesia. Bentuk marginalisasi ini mengarah kepada pemaksaan pencantuman agama tertentu dalam KTP dan KK warga penghayat, pro dan kontra tempat pemakaman warga penghayat yang meninggal, dan pembatasan pembangunan rumah peribadatan bagi warga penghayat. Artikel ini bermaksud untuk mengelaborasi dinamika konflik identitas antara penghayat kepercayaan Sapta Darma dengan para pemeluk agama resmi, dengan mengambil lokasi tempat di Desa Sukoreno, Jember, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam terhadap 7 (tujuh) informan warga penghayat Sapta Darma, dan anggota FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa polemik identitas ini mengakibatkan warga pengahayat kesulitan dalam mengganti identitas agamanya di KTP dan KK sehingga mereka memiliki identitas ganda dan kesulitan dalam mengakses tempat pemakaman umum. Upaya resolusi konflik dilakukan melalui FKUB dengan memberikan sosialisasi wawasan kebangsaan dan pendekatan kultural dengan tokoh lintas agama
INDONESIAN NATIONAL IDENTITY MODEL: THE IMPORTANCE OF RELIGION, SELF-ESTEEM, AND RELATIONS BETWEEN GROUPS AMONG MUHAMMADIYAH STUDENTS
National identity is a discourse that attracts a lot with diversity, religion, self-esteem, and relations between groups, both in the context of family and peers. The issue of national identity in Indonesia intersects with efforts to maintain the harmony of the nation\u27s life through the various challenges of pluralism. This study aims to analyze the importance of religion, self-esteem, negative multicultural communication in the family and on campus, and attitudes towards multiculturalism towards national identity. The participants of this study is 456 Moslem students from the Javanese tribe-Indonesia. This study uses structural equation modeling (SEM) to build empirical constructs of Indonesian national identity models. The results show some interesting findings. First, the empirical model fits into a theoretical model which means that the importance of religion, self-esteem, attitudes towards multiculturalism, and inter-group relations are able to explain the national identity of Indonesians. Second, the attitude towards multiculturalism has the strongest role in affecting the identity of Indonesians, followed by self-esteem and the importance of religion. Thirdly, the negative content of communication of diversity in family and educational settings poorly affected attitudes towards multiculturalism.Keywords: Attitude Toward Multiculturalism, Importance of Religion, National Identity, Negative Multicultural Communication, Self-EsteemIdentitas nasional merupakan diskursus menarik yang banyak dikaitkan dengan keberagaman, agama, harga diri, serta relasi antar kelompok, baik dalam konteks keluarga dan teman sebaya. Persoalan identitas nasional di Indonesia beririsan dengan usaha menjaga keharmonisan kehidupan berbangsa dalam melewati berbagai tantangan kemajemukan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pentingnya agama, harga diri, komunikasi tentang multikultural yang negatif di keluarga dan di kampus, sikap pada multikulturalisme terhadap identitas nasional. Partisipan penelitian ini berjumlah 456 orang mahasiswa beragama Islam yang berasal dari suku Jawa. Penelitian ini menggunakan structural equation modeling (SEM) untuk melakukan konstruksi empiris model identitas nasional orang Indonesia. Hasil penelitian memperlihatkan beberapa temuan menarik. Pertama, model empiris fit dengan model teoretik yang artinya bahwa pentingnya agama, harga diri,komunikasi antar kelompok, sikap pada multikulturalisme, mampu menjelaskan identitas nasional orang Indonesia. Kedua, sikap pada multikulturalisme memiliki peran terkuat dalam memengaruhi identitas nasional orang Indonesia diikuti oleh harga diri dan pentingnya agama bagi individu. Ketiga, isi komunikasi keberagaman yang negatif pada setting keluarga dan kampus berpengaruh secara negatif pada sikap terhadap multikulturalisme. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa identitas nasional Indonesia dapat dibangun dengan mengembangkan sikap terhadap multikulturalisme yang baik, yaitu dengan cara membangun komunikasi antar kelompok, memperkuat konsep harga diri dan konsep keyakinan pentingnya agama masing-masing individu.Kata kunci: Sikap terhadap multikulturalisme, Pentingnya agama, Identitas nasional, komunikasi multicultural yang negatif, Harga dir
RIKO THE SERIES: KOMBINASI MEDIA PEMBELAJARAN ISLAM, NEGOSIASI IDENTITAS MUSLIM DAN PRAKTIK DAKWAH KEKINIAN
This article examined an Islamic cartoon film represennted by a popular title of Riko The Series movie. The basic question raised in this paper is how Riko The Series is utilized as a media for teaching Islam to society? This article employs a qualitative research method, using virtual ethnography and combined with literature study. The results show that Riko the Series is not only functioning as a media of teaching Islam, but also become a way to express Islamic identity, especially through clothes wearing by the family members of Riko the Series. Besides, Riko the Series also confirm how negotiation, as well as combination, between Islamic teachings and sciences is practiced. It can be concluded that this article shows how Riko the Series has a significant contribution in developing learning media of Islam, negotiating identity, and practicing a contemporary dakwah.Tulisan ini mengkaji kartun Islami, dengan studi kasus pada kartun Riko The Series. Dasar utama dalam tulisan ini adalah menjawab bagaimana kartun Riko The Series dijadikan sebagai media pembelajaran Islami bagi masyarakat? Untuk menjawab pertanyaan mendasar ini, penulis melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan dianalisis dengan teori The Comunication Theory of Identity. Data dikumpulkan melalui virtual etnografi dan dikombinasikan dengan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kartun Riko The Series tidak hanya menjadi media pembelajaran islami, tetapi juga menjadi cara mengekspresikan identitas muslim. Muslim memiliki banyak cara untuk mengekspresikan identitasnya, salah satunya melalui busana yang dikenakan oleh anggota keluarga Riko The Series. Selain itu, melalui studi kasus Riko The Series juga menunjukkan adanya praktik negosiasi dan kombinasi antara ajaran Islam dan ilmu sains. Oleh karena itu, tulisan ini berkontribusi memperkaya wacana akademik terkait media dan totonan pembelajaran Islam, negosiasi identitas dan praktik dakwah kekinian
RELIGIUSITAS DIGITAL DAN DIMENSI PERLAWANAN MILENIAL DALAM RUANG ONLINE
This article aims to analyze the reasons behind the increasing number of expressing the religiosity on social media by the millennials, especially by discussing the preconditions those religious expressions. This study uses a qualitative approach with literature-based and netnographic study methods. It is also supported by interviews and observations on social media related to the activities of millennials in expressing their religiosity on Instagram, Facebook and WhatsApp. The results showed that the massive expression of religiosity on social media by the millennial could be considered as a "resistance" against the dominant discourse, both in virtual and in the religious spaces. These dominant discourses, such as: 1) religion is a private matter, and 2) the existence of a virtual world can only be achieved by displaying an established image, academic achievement, hedonic behavior, good looking appearance and creativity. By using the idea of mimicry by Bhabha, that massive activity of expressing religiosity in the virtual space emphasizes a counter-discourse that millennials have created. This is done in a “similar” way from common social media users, in response to the dominant discourse which tends to place their religious expression and their existence on social media as two separates aspects. Mimicry shows that anyone can show their religiosity in the same ways as the common users or celebrity on Instagram, but with a different idea and interests.Artikel ini bertujuan untuk menganalisis alasan dibalik maraknya aktivitas mengekspresikan religiusitas di media sosial oleh generasi milenial, dengan membahas bagaimana prakondisi yang melandasi aktivitas tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan dan netnografi, dibantu teknik wawancara dan observasi partisipan di media sosial untuk mengamati aktivitas para millenial dalam mengekspresikan religiusitasnya di platform Instagram, Facebook dan WhatsApp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masifnya ekspresi religiusitas di media sosial oleh generasi milenial merupakan sebuah praktik “pelawanan” terhadap wacana dominan, baik dalam ruang virtual maupun dalam ruang agama. Wacana dominan ini antara lain: 1) agama adalah urusan privat, dan 2) eksistensi dunia virtual hanya dapat dicapai dengan cara memamerkan citra kemapanan, pencapaian akademik, perilaku hedon, good looking dan kreatif. Menggunakan gagasan Mimikri Bhabha, ekspresi religiusitas yang masif di ruang virtual menegaskan adanya sebuah upaya counter wacana yang ingin dibangun oleh para milenial. Hal tersebut dilakukan dengan cara-cara yang tidak jauh berbeda dengan para pengguna sosial media lainya dalam menampilkan citra good looking, pencapaian akademik dan perilaku hedon sebagai bentuk eksistensi, demi merespon wacana dominan yang cenderung menempatkan ekspresi beragama dan eksistensi di media sosial sebagai dua hal terpisah. Mimikri menunjukkan bahwa siapapun bisa menunjukkan ekspresi religiusitasnya dengan cara-cara yang sama seperti yang dilakukan oleh artis atau selebgram di Instagram, namun dengan dasar dan kepentingan yang berbeda.
ADVERSE CHILDHOOD EXPERIENCE DAN DELIBERATE SELF HARM PADA REMAJA DI INDONESIA
Self-injurious behavior or acts of self-harm that are commonly found in adolescents are form of channeling negative emotions to deal with emotional pain. One reason for this pain was exposure to unpleasant experiences called adverse childhood experiences. This study aims to explore the detrimental effect of experience on self-harm in adolescents. This study used two measuring instruments, the Deliberate Self-Harm Inventory (DSHI) was used to measure DSH and Adverse Childhood Experience Quesionnaire (ACE.Q) was used to measure ACE. There were 168 respondents in the study who participated filling online questionnaire and they were gathered through non-probability sampling technique. The result showed that there was a positive correlation between adverse childhood experiences on self-harm with a sig value of 0.035 <0.05. This means that the higher the ACE, the higher the DSH. Perilaku melukai diri sendiri atau deliberate self-harm (DSH) banyak ditemukan pada remaja sebagai bentuk penyaluran emosi secara negatif untuk mengatasi rasa sakit secara emosional. Salah satu penyebab rasa sakit tersebut adalah adanya paparan pengalaman tidak menyenangkan yang disebut dengan adverse childhood experience (ACE). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh adverse childhood experience terhadap deliberate self-harm pada remaja di Indonesia. Penelitian ini menggunakan dua alat ukur, yaitu Deliberate Self-Harm Inventory (DSHI) untuk mengukur DSH dan Adverse Childhood Experience Quesionnaire (ACE.Q) untuk mengukur ACE. Terdapat 168 responden dalam penelitian ini yang diperoleh secara online melalui teknik non-probability sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara adverse childhood experience terhadap deliberate self-harm dengan nilai sig 0,035 < 0,05. Artinya, semakin tinggi adverse childhood experience maka semakin tinggi pula kecenderungan melakukan deliberate self-harm
VIRTUAL TOUR: TOURISM COMMUNICATION MEDIA DURING THE COVID-19 PANDEMIC IN INDONESIA
The covid-19 outbreak that currently hits Indonesia and the world has remained the community to be active to anticipate the spread of this virus. This condition certainly has an impact on tourism destinations and also stakeholders in the tourism sector with no tourist visits in the destination. To face these conditions related to The Covid-19 pandemic, tourism actors must start aggressively looking for new strategies to survive and rise from adversity. Switching to digital media and making new innovations in digital use is considered to be the most suitable choice during this pandemic. One of the digital innovations that can be made by tourism actors is creating a virtual tour. Virtual tours provide the sensation of traveling for tourists without having to leave the house so that they can prevent the spread of this virus. By using a qualitative descriptive method, this research is a phenomenological study that tries to find out about the perceptions of these virtual tourists in experiencing the virtual tour as a tourism communication medium during the Covid-19 pandemic in Indonesia. As a result, even though they cannot feel the sensation and satisfaction of carrying out real tourism activities, virtual tour phenomena activities are quite enough to foster people\u27s to be able to travel again when the conditions are back to normal
CYBERSPACE DAN POPULISME ISLAM DI KALANGAN NETIZEN: STUDI KASUS PADA AKUN MEDIA SOSIAL FELIX SIAUW
The massive use of social media has led to the increasing phenomenon of Islamic populism among netizens. This phenomenon is marked by the presence of contemporary religious actors. One of them is Felix Siauw. This paper aims to analyze the phenomenon of cyberspace and Islamic populism among netizens, especially on Felix Siauw\u27s Instagram (IG) account. This study used a qualitative approach in the form of netnography, through tracing the IG Felix Siaw account. The collected data then being analyzed using Jurgen Habermas\u27s theory of public space. The results reveal that the role and influence of the presence of contemporary religious actors, such as Felix Siauw, can be illustrated in three ways: first, the use of anti-establishment narratives; second, the use of anti-authoritarianism narratives; third, the invitation to return to the basic values of Islam (Al-Qur\u27an and Hadith) as a guidance for a whole life of a muslim, including his or her life as a citizen. To maximize his populist agenda, IG Felix Siauw\u27s account uses populist themes that are close to the daily lives of netizens, such as the Indonesian without Dating Movement, Youth Hijrah, Indonesia Bertauhid, and the Khaffah Islamic Movement.Masifnya penggunaan sosial media memunculkan fenomena populisme Islam di kalangan netizen. Fenomena ini ditandai oleh kehadiran aktor-aktor agama kekinian, salah satunya adalah Felix Siauw. Tulisan ini bertujuan menganalisis fenomena cyberspace dan populisme Islam di kalangan netizen, khususnya pada akun Instagram (IG) Felix Siauw. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berupa netnografi, melalui penelusuran akun IG Felix Siaw. Data kemudian dianalisis menggunakan teori Ruang Publik Jurgen Habermas. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa peran dan pengaruh kehadiran aktor agama kekinian seperti Felix Siauw di kalangan netizen muslim tergambar dalam tiga hal, yaitu: pertama, penggunaan narasi antikemapanan; kedua, penggunaan narasi anti-oritarianisme; ketiga, ajakan kembali ke nilai-nilai dasar agama (Al-Qur\u27an dan Hadist) sebagai pegangan hidup secara menyeluruh, bahkan dalam berbangsa dan bernegara sekalipun. Untuk memaksimalkan agenda populismenya tersebut, akun IG Felix Siauw mempergunakan tema-tema populis yang dikenal dekat dengan kehidupan netizen sehari-hari, seperti Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran, Pemuda Hijrah, Indonesia Bertauhid, Gerakan Islam Khaffah dan lain sebagainya