UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
Not a member yet
765 research outputs found
Sort by
Adversity Quotient pada Siswa Tunanetra dalam Meningkatkan Literasi
Obstacles in visionary function in blind student impacts on limitedlearning process, mainly in literacy activities such as reading, writing, andcounting. In preventing such obstacles, they need adversity quotient forenhancing literacy skill at school. Adversity quotient is very important sothat they could get through the difficulties in the process, not depend ontheir parent and teacher to counter society’s stigma on the issues, likesnormal student. The objective of research is to explore the meaning ofadversity quotient on blind student in improving their literacy.This studyused a qualitative method with phenomenological approach. Four blindstudents who study in Special Needs School of Prof. Sri Soedewi Jambibecame the subject of this study. Data collecting was carried out throughin-depth semi-structured interviews. An interpretative phenomenologicalanalysis was used as the data analysis technique. Study results indicate thatthe adversity quotients of blind students in improving literacy skillsencompass origin and ownership, motivation, perseverance, independence,and control. Factors affecting adversity quotients include parentalencouragement, social support, facilities, and future orientation.Abstrak. Hambatan fungsi penglihatan pada siswa tunanetra berdampakpada keterbatasan dalam proses pembelajaran, terutama pada aktivitasliterasi seperti membaca, menulis, dan berhitung. Dalam mengatasihambatan tersebut mereka membutuhkan kecerdasan daya juang (adversityquotinet) untuk meningkatkan kemampuan literasi di sekolah. Daya juangsangat penting agar mereka mampu mengatasi berbagai kesulitan dalammembaca, tidak bergantung pada orang tua dan guru, serta mengubahstigma masyarakat bahwa mereka tidak mampu belajar di sekolah sepertisiswa normal. Tujuan penelitian ini untuk menggali makna adversityquotient pada siswa tunantera dalam meningkatkan kemampuan literasi.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatanfenomenologi, subjek penelitian ini adalah siswa tunanetra yang menuntutilmu di Sekolah Luar Biasa (SLB) Prof. Sri Soedewi Jambi sebanyakempat orang, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semistruktursecara mendalam. Teknik analisis data menggunakan interpretativephenomenological analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adversityquotient siswa tunanetra dalam meningkatkan kemampuan literasi berupamengatasi kesulitan, motivasi, ketekunan, kemandirian, dan kontrol.Adapun faktor yang memengaruhi adversity quetiont yaitu dorongan orangtua, dukungan sosial, fasilitas, dan orientasi masa depan
Relaksasi dan Katarsis Singkat Daring bagi Peningkatan Kebersyukuran dan Penurunan Stres Pengasuhan
Parenting stress risks causing traumatic events, even complex, in the child which further hinder their development. The psychological burdens that cause parenting stress can be released with gratitude and through relaxation and catharsis techniques. This study aims to examine the effect of online brief interventions of relaxation and catharsis on gratitude and parenting stress. The research was conducted with a quasi-experimental one-group pretest-posttest design and instruments of the Gratitude (α=0,765; D= 0,455-0,620) and the Parenting Stress Scale (α=0,800; D= 0,283-0,693). Participants were 7 parents of elementary school students obtained by convenience sampling (MAge=41,14; SDAge= 4,95; Female=85,71%). The results of the Wilcoxon Signed Rank Test inferential statistical test showed no significant increase in gratitude as well as decrease in parenting stress. However, further data analysis found an outlier among participants. Reexamination by removing an outlier showed a significant effect of the intervention on reducing parenting stress.Abstrak. Stres pengasuhan berisiko mengakibatkan peristiwa traumatik, bahkan kompleks, pada anak yang selanjutnya menghambat tumbuh kembangnya. Beban psikologis penyebab stres pengasuhan dapat dilepaskan dengan kebersyukuran dan melalui teknik relaksasi dan katarsis. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh intervensi relaksasi dan katarsis singkat daring terhadap kebersyukuran dan stres pengasuhan. Penelitian dilakukan dengan eksperimen kuasi one-group pretest-posttest design serta instrumen Skala Kebersyukuran (α=0,765; D= 0,455-0,620) dan Skala Stres Pengasuhan (α=0,800; D= 0,283-0,693). Partisipan adalah 7 orangtua dari siswa sekolah dasar yang diperoleh secara convenience sampling (MUsia=41,14; SDUsia= 4,95; Perempuan=85,71%). Hasil pengujian statistik inferensial Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan tidak adanya peningkatan kebersyukuran dan penurunan stres pengasuhan secara signifikan. Meski demikian, analisis data lebih lanjut menemukan pencilan di antara partisipan. Pengujian ulang dengan menghilangkan data pencilan menunjukkan pengaruh signifikan intervensi terhadap penurunan stres pengasuhan
Hubungan Dukungan Sosial, Keseimbangan Kerja-Keluarga, dan Lama Pernikahan dengan Kepuasan Pernikahan Istri pada Pasangan bekerja (Dual-Earner Couple)
In working couples, the wife’s responsibility looks heavier because she has several roles. Women who have had children face role tension which can eventually lead to marital dissatisfaction. Factors such as social support from husband, family, and children; also work-family balance are important. The length of marriages is one of determinants to the length of adaptation that carried out marital satisfaction. The sampling technique was purposive random sampling. The were working women aged 20-50 years, had a working husband. The data were analyzed by using multiple linear regression analysis method. The result, there is a significant relationship between social support, work-family balance, and length of marriage with marital satisfaction with a sig value 0.000 and F value 39.970. The major hypothesis in this study is acceptable. Social support and work-family balance have a positive and significant relationship with marital satisfaction; while length of marriage has no relationship with marital satisfaction (has a negative relationship direction). Marital satisfaction can be explained by social support and work-family balance by 36%, both of these factors have the same contribution 18%. Pada pada pasangan bekerja, tanggung jawab istri lebih berat karena memiliki beberapa peran. Faktor seperti dukungan sosial dan keseimbangan kerja-keluarga menjadi penting. Lama pernikahan merupakan salah satu penentu lamanya adaptasi yang dilakukan untuk mencapai kepuasan pernikahan. Penelitian ini mengungkap hubungan dukungan sosial, keseimbangan kerja-keluarga, dan lama pernikahan dengan kepuasan pernikahan. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, subjek wanita bekerja (20-50 tahun), telah menikah, dan memiliki suami bekerja. Metode analisis regresi linear berganda yang digunakan mendapatkan hasil hubungan yang signifikan antara dukungan sosial, keseimbangan kerja-keluarga, dan lama pernikahan dengan kepuasan pernikahan dengan sig. 0,000 dan nilai F 39,970. Hipotesis mayor dalam penelitian ini dapat diterima. Dukungan sosial dengan kepuasan pernikahan r 0,447 dan sig. 0,000<0,05, keseimbangan kerja-keluarga r 0,454 dan sig. 0,000<0,05 keduanya memiliki hubungan positif yang signifikan dengan kepuasan pernikahan, sedangkan lama pernikahan tidak memiliki hubungan dengan kepuasan pernikahan, r 0,142 dan sig. 0,863>0,05) dengan arah hubungan negatif. Kontribusi variabel dukungan sosial dan keseimbangan kerja-keluarga sebesar 36%.
Wisata Virtual Sebagai Sarana Pengenalan dan Pelestarian Budaya Di Tengah Pandemi
The spread of Covid-19 has yet to subside. Many sectors of the economy were forced to stagnate due to the presence of Covid-19. In fact, according to data from the Ministry of Tourism and Creative Economy, the existence of large-scale social restrictions or commonly called PSBB and the closure of access to and from Indonesia, resulted in a significant decrease in state revenue, especially in the tourism sector by Rp20.7 billion. However, as the essence of humans as social beings, it is necessary to continue to be active, socialize, and fulfill needs. In this case, social change will always exist, as the view of Talcot Parson. Therefore, it is necessary as a human being to always be able to innovate to answer the challenges of the situation. Space restrictions due to the presence of a pandemic and the incessant development of technology make the topic of Virtual Tour so interesting for researchers. Then, the main discussion of this research is whether the presence of this Virtual Tour can replace the original function of offline tourism, which is still able to introduce and preserve culture to the community. then, this research is focused on using qualitative research and is supported by interview data and case studies. Through the results of interview data and case studies, this research then produces an answer that Virtual Tour is able to replace offline tourism functions. Where, Virtual Tour is able to be an alternative to introduce and preserve culture in the midst of a pandemic.Keywords: Virtual Tour, Tour, Pandemic
SENTRALITAS JARINGAN TEMAN DAN ADAPTASI PSIKOLOGIS MAHASISWA BARU: IMPLEMENTASI SOCIAL NETWORK ANALYSIS
Salah satu tuntutan psikologis yang dihadapi mahasiswa baru adalah adaptasi pada lingkungan barunya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh sentralitas jaringan sosial terhadap adaptasi psikologis pada mahasiswa baru dalam dua tahap analisis. Tahap pertama dilakukan dengan implementasi Analisis Jejaring Sosial (AJS) untuk memperoleh data jaringan sosial, berupa sentralitas closeness, betweenness, eigenvector, information, dan power. Tahap uji pengaruh dilakukan dengan menggunakan regresi berganda dan regresi non-linier model kuadratik. Pengambilan data dilakukan terhadap 47 mahasiswa (Musia = 18,7 tahun; 81% wanita), yang baru menempuh satu setengah semester perkuliahan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner terbuka tentang lima teman terpercaya di kelas untuk analisis jejaring sosial dan kuesioner adaptasi Brief Psychological Adaptation Scale (BPAS) untuk mengukur adaptasi psikologis (8 aitem; α = 0,73). Hasil analisis jejaring sosial menunjukkan dominasi aktor-11 dan aktor-12 pada dua dari lima sentralitas jaringan sosial. Berdasarkan pengaruhnya, secara bersama-sama sentralitas mempengaruhi adaptasi psikologis pada mahasiswa baru, namun hanya sentralitas closeness dan power yang berkontribusi secara signifikan. Pengujian pengaruh tunggal, sentralitas information menjadi satu-satunya sentralitas jaringan yang berpengaruh secara signifikan terhadap adaptasi psikologis
KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS DITINJAU DARI REGULASI EMOSI PADA IBU YANG MENDAMPINGI ANAK SEKOLAH DARI RUMAH
The increasing burden of mothers during the pandemic by accompanying children\u27s learning during school from home in the pandemic is an additional burden that teachers have previously done in schools. The increasing responsibility of the mother stimulated a decrease in the feeling of well-being in mother. The purpose of this study was to test the hypothesis that there is a positive relationship between emotional regulation and the psychological well-being of mothers who accompany their children to study from home during Covid 19 pandemic. Participants of this study were mothers who had children at the formal education stage in elementary school. A total of 110 mothers became participants in the scale try out of research instruments and 152 mothers joined as participants in the study. Two measuring instruments used in this research were emotional regulation scale and emotional well-being scale. Test result of emotional regulation scale obtained internal consistency α=0,77 and emotional well-being scale obtained internal consistency α=0,85. Hypothetical test by biserial correlation Pearson result found that emotional regulation correlated with emotional well-being. This study implies that better regulation of emotions that mothers have will contribute to improve psychological well-being.Bertambahnya beban ibu selama pandemi Covid-19 dengan mendampingi belajar anak selama bersekolah dari rumah merupakan beban tambahan yang sebelumnya banyak dilakukan oleh guru di sekolah. Bertambahkan tanggung jawab ini memungkinkan terjadinya penurunan perasaan sejahtera pada ibu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji hipotesis penelitian yaitu ada hubungan positif antara regulasi emosi dengan kesejahteraan psikologis pada Ibu yang mendampingi anak sekolah dari rumah selama masa pandemic Covid-19. Partisipan penelitian ini yaitu 110 ibu sebagai partisipan uji coba alat ukur dan 152 ibu sebagai partisipan penelitian. Dua alat ukur digunakan dalam penelitian ini yaitu skala regulasi emosi dan skala kesejahteraan emosi. Hasil uji coba skala regulasi emosi diperoleh internal konsistensi α=0,77 dan skala kesejahteraan emosi diperoleh internal konsistensi α=0,85. Hasil uji hipotesis dengan menggunakan korelasi dari pearson menemukan bahwa regualsi emosi berkorelasi dengan kesejahteraan emosi. Penelitian ini memiliki implikasi bahwa semakin baik regulasi emosi yang dimiliki ibu akan memiliki kontribusi terhadap terbentuknya kesejahteraan psikologis yang semakin baik pula
SEKOLAH MENYENANGKAN: KONSEP SEKOLAH YANG MEMPROMOSIKAN WELL-BEING BERDASARKAN SUARA ANAK-ANAK, ORANGTUA DAN GURU DI INDONESIA: GROUNDED ANALISIS
Many studies emphasized the importance on how schools expand their role beyond the academics improvement, particularly in terms of improving and creating children\u27s wellbeing. Unfortunately the system in Indonesia has not been able to bridge the gap even though the research concept of \u27how can schools promote children\u27s wellbeing\u27 is widely offered. This research aims to explore the concept of a well-being school, considering the voices of children, teachers, and parents as the most important aspects in basic education. The participants involved 30 children, 30 parents, and 30 teachers from 3 types of schools (public, private, non-religious, and private Islam) in Yogyakarta Province. Collecting data used Focus Group Discussion and the analysis used Grounded Analysis to create concepts theories. The research showed that schools in Indonesia functioned as the second home after the family. It was found that the term \u27fun school\u27 is a model of school which is expected to create happiness and function optimally. The main principles of fun school development are: 1) creating a positive and ethical learning environment, 2) problem-based relevant learning, 3) human and digital interactions, 4) character development through emotional social learning. The foundation of the five principles uses the main values unique to Indonesia, kinship and mutual cooperation. The concept is carried out through the \u27Fun School Movement\u27 and is able to create hundreds of model schools in the Yogyakarta, Central Java, Tangerang, Tangsel region, and thousands of school networks in Indonesia with a grassroots approach, has also been adopted by several local governments and is recognized by the Indonesian Ministry of Education and Culture. Banyak penelitian menekankan pentingnya sekolah meluaskan perannya lebih dari sekadar meningkatkan akademik, juga menciptakan well-being anak. Sayangnya sistem di Indonesia belum mampu menjembatani meski konsep penelitian ‘bagaimana sekolah mampu mempromosikan wellbeing anak’ banyak ditawarkan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi konsep sekolah well-being, yang mempertimbangkan suara anak, guru, dan orangtua sebagai hal terpenting pendidikan dasar. Partisipannya melibatkan 30 anak, 30 orangtua, dan 30 guru dari 3 tipe sekolah (negeri, swasta nonagamis, dan swasta Islam) di Provinsi Yogyakarta. Pengambilan data menggunakan Focus Group Discussion dan analisisnya menggunakan Grounded Analysis untuk menciptakan konsep/teori. Hasil penelitian menemukan, sekolah di Indonesia berfungsi sebagai rumah kedua setelah keluarga. Ditemukan term ‘sekolah menyenangkan’ sebagai model sekolah diharapkan menciptakan kebahagiaan dan berfungsi optimal. Prinsip utama pembangunan sekolah menyenangkan: 1) penciptaan lingkungan belajar positif dan etis, 2) pembelajaran relevan dengan problem based, 3) interaksi manusia dan digital, 4) penumbuhan karakter melalui pembelajaran sosial emosi. Fondasi kelima prinsip menggunakan nilai utama khas Indonesia, kekeluargaan dan gotong-royong. Konsep dijalankan melalui ‘Gerakan Sekolah Menyenangkan’ dan mampu menciptakan ratusan sekolah model di wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah, Tangerang, Tangsel, dan ribuan jejaring sekolah di Indonesia dengan pendekatan akar rumput, juga sudah diadopsi beberapa pemerintah daerah dan diketahui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia
SUMBANGSIH FREUD BAGI KEHIDUPAN SOSIAL-KEAGAMAAN: TELAAH ATAS KARYA TOTEM AND TABOO (1912-1913)
One of Sigmund Freud\u27s most famous works in the field of religion is Totem and Taboo (1912-1913). In this work, Freud uses psychoanalytic theory to dissect the genealogy of socio-religious phenomena in the form of totems and taboos from a philosophical-anthropological point of view, especially through his research on Aboriginal tribes in Australia. This article aims to examine Freud\u27s contribution in the field of religion, and how it is contextualized in the socio-religious life of today\u27s society. This study uses a qualitative approach by exploring various literatures that examine Freud\u27s work on Totems and Taboos. The results of the study reveal that although this work tends to be problematic and particular in interpreting religion through the concepts of Totem and Taboo. However, there is a contribution from the series of arguments presented by Freud. This contribution is an invitation to purify one\u27s intentions in carrying out religious rites, especially in today\u27s modern society. Religious activity is no longer seen as a mechanistic ritual, but it has to be rooted from the deepest heart. Salah satu karya Sigmund Freud dalam bidang agama yang paling terkenal adalah Totem and Taboo (1912-1913). Dalam karyanya tersebut, Freud menggunakan teori psikoanalisis untuk membedah genealogi fenomena sosial keagamaan berupa totem dan taboo dari sudut pandang filosofis-antropologis, khususnya melalui penelitiannya tentang suku Aborigin di Australia. Artikel ini bertujuan untuk menelaah sumbangsih Freud dalam karya tersebut, dan bagaimana kontekstualisasinya dalam kehidupan sosial-keagamaan masyarakat saat ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menelusuri berbagai literatur yang mengkaji karya Freud tentang Totem dan Taboo. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa meskipun karya ini cenderung problematis dan partikular dalam memaknai agama melalui konsep Totem dan Taboo, namun terdapat sumbangsih dari rangkaian argumentasi yang disampaikan oleh Freud tersebut. Sumbangsih tersebut adalah ajakan untuk memurnikan intensi diri dalam melaksanakan ritus-ritus beragama, khususnya dalam masyarakat modern saat ini. Aktivitas beragama bukan lagi menjadi ritual yang mekanistis, melainkan harus bersumber dari hati yang terdalam
FATHER’S ROLE IN PARENTING: A CASE STUDY FROM GAY STUDENT PERCEPTION
Despite reaping the pros and cons of the community, the presence of gay students continues to increase. This study aims to see how the role of fathers in parenting and education from the perception of gay students. The method used is qualitative with a case study approach, with analysis using coding techniques. The subjects of this study were two students who claimed to be gay. Based on the results of the analysis of the two participants, it shows that fathers have a minor role in parenting and education. The father\u27s role is decreased because the work location is far away. The interaction of the participants becomes dominant with the mother and older sister. The mother figure becomes the only role model who sets an example, disciplines, controls, and monitors. The dominance of the mother\u27s role made both participants more comfortable communicating with the mother than the father. The lack of father involvement in parenting and education makes the chosen activities, role models, and role replication depend on the mother figure and older sister. The condition of the lack of paternal care and the dominant role of the mother strengthen the risk of gender identity perplexing that occurs in gay students.Keywords: Gay Student, Parenting, Fatherless, Gender IdentityMeskipun menuai pro dan kontra dari masyarakat, keberadaan mahasiswa gay terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana peran ayah dalam pengasuhan dan pendidikan dari persepsi mahasiswa gay. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus, dengan analisis menggunakan teknik koding. Subjek penelitian ini adalah dua orang mahasiswa yang mengaku sebagai gay. Berdasarkan hasil analisis kedua partisipan, menunjukkan bahwa ayah mempunyai peran yang kurang dalam pengasuhan dan pendidikan. Peran ayah menjadi berkurang karena lokasi kerja yang jauh, sehingga interaksi partisipan menjadi dominan dengan ibu dan kakak perempuan. Figur ibu menjadi satu-satunya role model yang memberi contoh, mendisiplinkan, mengontrol, dan memantau. Dominasi peran ibu membuat kedua partisipan lebih nyaman untuk berkomunikasi dengan ibu dibandingkan ayah. Kurangnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan menjadikan aktivitas yang dipilih, teladan, hingga replikasi peran bergantung pada sosok ibu serta kakak perempuan. Kondisi kurangnya pengasuhan ayah dan dominannya peran ibu memperkuat risiko kebingungan identitas gender yang terjadi pada mahasiswa gay.Kata kunci: Mahasiswa Gay, Pengasuhan, Peran Ayah, Identitas Gende
THE ROLE OF SOCIAL SUPPORT ON THE STUDENT ADVERSITY QUOTIENT IN ISLAMIC BOARDING SCHOOL
Students who live in boarding schools often face different challenges, including strict rules in the dormitory, limited interaction with family, and the ability to deal with adversity in their daily lives. This research aimed to determine the correlation between social support and adversity quotient on Islamic Senior High School "X" students in Ponorogo East Java. This research used quantitative method. Sarafino\u27s (1994) social support scale and Stoltz\u27s (2000) adversity quotient scale were used as data collection tools. The sampling technique used in this research was a non-random sampling techniques-accidental sampling technique with a total sample of 120 students. Data analyzed used Pearson product-moment analysis.The research results indicated a significant correlation between social support and adversity quotient, with a coefficient value of r = 0.597, p = 0.000 (p <0.05). It means that the higher the social support, then the higher the adversity quotient of students. The effective contribution of social support to the adversity quotient in students is 37.9%, divided from parental social support, ustadz or ustadzah social support, and peer social support. This result concluded that social support need to be strengthened as it is an important factor for students adversity quotient development.Keywords: Social Support, Adversity Quotient, Students Siswa yang tinggal di pondok pesantren seringkali menghadapi tantangan yang berbeda antara lain aturan yang ketat, aturan yang ketat di asrama, interaksi yang terbatas dengan keluarga, dan kemampuan menghadapi kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan adversity quotient pada siswa Madrasah Aliyah Negeri “X” di Pondok Pesantren “X” Ponorogo Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Skala dukungan sosial Sarafino (1994) dan skala adversity quotient Stoltz (2000) digunakan sebagai alat pengumpulan data. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik non random sampling-teknik accidental sampling dengan jumlah sampel 120 siswa. Analisis data menggunakan analisis product moment dari Pearson.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dengan adversity quotient, dengan nilai koefisien r = 0,597, p = 0,000 (p < 0,05). Artinya semakin tinggi dukungan sosial maka semakin tinggi adversity quotient siswa. Hasil sumbangan efektif dukungan sosial terhadap adversity quotient pada siswa adalah 37,9% yang terbagi atas dukungan sosial orang tua, dukungan sosial ustadz atau ustadzah dan dukungan sosial teman sebaya. Hasil ini pada akhirnya meneguhkan bahwa perlu adanya penguatan dukungan sosial karena hal tersebut menjadi faktor yang penting bagi pengembangan adversity quotient siswa.Kata kunci: Dukungan Sosial, Adversity Quotient, Sisw