Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara
Not a member yet
127 research outputs found
Sort by
مصحف عبد الله بن مسعود دراسة حول حذف الفاتحة والمعوذتين والقراءات الشاذة المنسوبة لمصحف ابن مسعود
يعتبر مصحف الصحابي عبد الله بن مسعود من أهم المصاحف القديمة التي ذكرتها المراجع الإسلامية، حيث يظهر وجود اختلافات متعددة بينه وبين المصاحف العثمانية، من أهمها اختلاف ترتيب السور وعدم وجود الفاتحة والمعوذتين، واختلاف في جملة من القراءات. اختلفت آراء العلماء حول هذه القضية، حتى إن تيودور نولدكه شكك في أن ابن مسعود يعتبر بصحة تلك السور الثلاث الغير موجودة في مصحفه. يحاول هذا البحث باستخدام المنهج التحليلي-المقارن تحليل هذه الآراء حول قضية مصحف ابن مسعود، ويقسمها إلى: المثبتين ما نسب إلى ابن مسعود، والنافين لها، والمأولين. ويرجح البحث بأن ابن مسعود كان يرى بقرآنية السور الثلاث، الفاتحة والمعوذتين.
TULANG SULBI DALAM TINJAUAN TAFSIR DAN OSTEOLOGI
Tulang sulbi mempunyai keistimewaan dan keajaiban, yaitu tentang kebenaran tulang sulbi yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an (yakhruju min bain ash-Sulbi wa at-Tharā’ib), Al-Qur’an Surat. Ath-Thariq [86]:7, dan hadits Nabi Muhammad SAW 1400 tahun silam, serta penelitian yang telah dilakukan oleh para ilmuwan tentang fakta tulang sulbi tersebut. Dilihat dari sisi anatomi tubuh manusia, ash-Shulbi wa at-Tarā’ib (tulang punggung dan tulang dada) ini mencakup tulang belakang yang terdiri dari 7 tulang belakang leher, 12 tulang dada, 5 tulang lumbar, 5 tulang ekor, dan 5 tulang pinggul. As-Solb (tulang sulbi) dimulai dari pundak.Tulang sulbi adalah: tulang belakang dada + tulang lumbar + pangkal punggung, setara: 12+5+5= 22 tulang belakang. Adapun at-Tarā’ib bukan merupakan tulang rusuk dada sebagaimana diketahui pada umumnya, melainkan pengkhususan, 4 tulang rusuk dari bagian kanan dada, 4 tulang rusuk dari bagian kiri dada yang mengikuti tulang selangka ditempat pemakaian kalung. Kemudian yang paling menarik adalah, tulang sulbi mempunyai keistimewaan dan keajaiban, yaitu tentang kebenaran tulang sulbi yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan yang telah disabdakan Nabi Muhammad SAW di dalam hadits, serta penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para ilmuwan tentang fakta tulang sulbi tersebut
KHUSYUK DALAM ALQURAN (KajianTemtatik)
Khusyuk merupakan hal dasar yang harus diterapkan dalam menjalankan berbagai hal,terutama dalam salat, begitu juga dalam berbaga iaktifitas sehari-hari. Melihat pentingnya pengetahuan tentang konsep khusyuk,maka tulisan ini akan membahas khusyuk dalam alquran dan para mufasir, serta berbagai cara untuk dapat mencapai kekhusyukan tersebut. Hasil dari pembahasan ini adalah bahwa kata khusyuk dalam Alquran ditemukan sebanyak 17 kali dalam bentuk kata yang berbeda-beda, mayoritas lafal khusyuk ditujukan kepada manusia namun ada juga sebagian ayat yang ditujukan kepada benda-benda yang lain seperti gunung dan bumi. Dari berbagai pengertian dari kata khusyuk secara global arti khusyukmerujuk kepada merendahkan diri,dalam artian bahwa khusyuk adalah merasa bahwa dirinya tunduk dan merendahkan diri ketika berada dihadapan Tuhannya.Khusyuk tempatnya di dalam hati,apabila hati khusyuk maka seluruh anggota tubuh akan khusyuk karena kekhusyukan hatinya. Kekhusyukan seseorang tidak dapat dinilai dari gerakan ataupun prilakunya, karena tempatkhusyuk di hati bukan di gerakan.
Posisi Al-Qur`an DalamIntegrasi Ilmu : Telaah Terhadap Pemikiran Kuntowijoyo dan M. Dawam Rahardjo
The integration of knowledge has become a central issue emerging among scholars in Indonesian Islamic universities. Some ideas have been proposed to make “bridge” between religious and secular knowledge, as we can see, for instance, in the thought of Kuntowijoyo on “prophetic social sciences”, M. Dawam Rahardjo on “decolonization of social sciences”, M. Amin Abdullah on “spider web of knowledge”, and Mulyadhi Kartanegara on “holistic reconstruction of knowledge”.The researches conducted so far have not touched the core problem in all these proposed ideas yet, namely the place of the Qur`an as a revelation in the integration of knowledge. In fact, the Qur`an constitutes a source of knowledge and, at the same time, an inspiring and guiding scripture, for Moslem’s beliefs, praactices, and thought. Therefore, neglecting the Qur`an in constructing Moslem’s thought on the integration of knowledge will make our understanding the issue artificial. The present article is aimed at studying the thought of Kuntowijoyo and M. Dawam Rahardjo by focusing the discussion on main points: firstly, on the place the Qur`an in the integration of knowledge (as inspiration,source of knowledge, or starting point in building theory) (and the present author will describe data as they are); secondly, intellectual and social background that play important role behind the ideasand modes of use of the Qur`an for intellectual enterprises (and the present author will go into deep analysis on factors or contexts in which the ideas formed); thirdly, the originality, strength, and weakness of the ideas (and the present author will examine the ideas in accordance with some standards)
Kepribadian dalam Perspektif Sigmund Freud dan Al-Qur’an : Studi Komparatif
Human personality depicts an individual’s behavior and it is a formal object of psychology. Understanding human behavior is a vital and fundamental subject to understand human’s essence. The typology of behavioral concept is multifaceted and varied. In fact, various definitions of personality arrive at a single substance. This paper analyses Sigmund Freud’s concept on personality through the eye of Qur’an. The Qur’an made a personality concept as part of its focus. Through a comparative method, this study concludes that both Freud and the Qur’an argue that human personality consists of three components or potentials with different characteristics, yet integrated, to create human behavior and its personality. Freud calls them consecutively as Id, Ego and Superego; while the Quran calls them as Nafs, Akal and Kalbu. The difference between Freud and Quran on personality concept lies on the source where these three potentials came from. In Freud’s view, they came from the human being themselves internally or being influenced by their surroundings. Freud did not count God’s influence in his theory. According to Quran, however, the third potentials (Kalbu)depicts God’s values embedded in human being. Kalbu is called as a God’s disposition (tendency). Thus, Quranic concept on personality is theocentric while Freud’s is anthropocentric which is much dependent on rationality and morality of human being.
Relasi Estetika dengan Kebenaran: Kajian Integrasi Teori Simetri Sains Fisika dan Al-Qur’an
Dalam artikel ini dijelaskan bagaimana kaitan antara kebenaran dan keindahan, tentunya keterkaitannya sangatlah erat dalam perkembangan sains modern, khususnya dalam kajian ilmu fisika. Bahasa keindahan itu dalam fisika diungkap dalam formulasi matematis teori grup dan ungkapan simetri-simetrinya. Ada sebuah ungkapan dalam fisika kontemporer bahwa hukum fisika didikte oleh simetri yang berati simetri yang merupakan bahasa keindahan dalam sains menentukan sebuah strategi bagi sains untuk merunut hukum baru yang lebih mempunyai skala aceptabilitas yang luas. Kenyataan ini memberikan sebuah pengayaan wacanan sangat luas bagaimana integrasi sains dan agama adalah sebuah keniscayaan penting, meningkat elemen penting yang sangat dihargai internalisasinya dalam agama adalah keindahan. Dalam kajian ini juga diberikan tinjauan soal konsep keindahan dalam Islam dan interelasinya yang erat dengan kebenaran. Oleh karena itu integrasi sains dan agama dapat dipandang sebagai sebuah jalan mencapai keindahan tertinggi yang berarti usaha mencapai kebenaran tertinggi. Suatu hal yang merupakan bagian penting dari pandangan universal manusia
Tafsir Esoterik Kiai Shaleh Darat Tentang Salat
Menjadi satu dari tiga ulama-pejuang kepercayaan Pangeran Diponegoro dan mendapat gelar “guru para ulama Jawa” dengan tiga muridnya menjadi pahlawan nasional (Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ahmad Dahlan, Raden Ajeng Kartini) menjadikan Kiai Shaleh Darat tokoh yang penting dikaji (untuk kemudian diteladani) pemikirannya. Dari sekian banyak karya beliau, Faid} al-Rah}ma>n fi> Tarjamah Kala>m Malik al-Dayya>n dan Kitab Lat}a>if al-T}aha>ra wa Asra>r al-S|ala>h adalah dua kitab yang menjelaskan salat secara sufistik-lokalistik. Dikatakan sufistik karena terdapat usaha serius untuk mengungkap makna isyari, dan lokal karena ada ungkapan ‘atine ... ingdalem pasar’ dan beberapa lainnya dalam usaha melakukan ‘pembumian’ makna ayat. Terlebih lagi, kedua kitab tersebut ditulis dengan aksara pegon yang jika dihubungkan dengan track record beliau baik dalam penyebaran Islam dan perlawanan kolonialisme akan memunculkan indikasi vernakularisasi dan penumbuhan anti-kolonialisme. Dengan itu, penulis memiliki beberapa pertanyaan untuk ditindak lanjuti; bagaimana pemikiran Kiai Shaleh Darat mengenai salat? Bagaimana dinamika pemikiran beliau dalam memaknai salat? Dalam menjawab keduanya, penulis akan dibantu oleh teori Hermeneutika Filosofi
STRUKTUR CINCIN DALAM AL-QUR’AN (Perspektif Orientalis - Nicolai Sinai)
Sejak al-Qur’an diturunkan hingga dewasa ini, kajian tentang susunan bahasa al-Qur’an masih terus menjadi bahan diskusi yang menarik. Salah satu hasil diskusi tersebut adalah dari kalangan ilmuwan modern yang belakangan menemukan sebuah struktur al-Qur’an dengan sebutan ring structure. Struktur ini dipopulerkan oleh Raymond Farrin dan Michel Cuypers melalui karya mereka yang kemudian direview oleh seorang orientalis bernama Nicolai Sinai. Ring Structure atau struktur cincin di sini merupakan sebuah struktur al-Qur’an yang dibangun atas susunan koherensi ayat dan surah yang membentuk lingkaran dengan inti di tengahnya sebagaimana bentuk cincin. Sinai melakukan kritik atas teori struktur cincin al-Qur’an yang ditawarkan Farrin dan Cuypers melalui sebuah artikel review. Penulis dalam hal ini mencoba menganalisa pemikiran Sinai dalam kritiknya tersebut, dengan kata lain penulis menggunakan metode explanatory analysis dalam tulisan ini. Hasil temuannya adalah bahwa Nicolai Sinai menganggap struktur cincin al-Qur’an yang mereka tawarkan terlalu berlebihan karena ia menemukan beberapakali Cuypers ataupun Farrin kehilangan dalam analisanya. Tidak hanya sebatas mengkritik, tetapi kemudian Sinai menawarkan sebuah struktur al-Qur’an yang menurutnya lebih sesuai dibandingkan dengan ring structure. Sinai juga mencoba mengaplikasikan struktur al-Qur’an tersebut pada beberapa ayat dan surah dalam al-Qur’an, salah satunya pada surah An-Najm
Penerapan Hukum Allah : Studi Pribumisasi HAMKA terhadap QS. Al-Ma>’idah: 44, 45, dan 47 dalam Tafsir Al-Azhar
Penerapan hukum-hukum Allah adalah dua satu isu problematik dalam konteks hubungan antar agama dan negara bagi umat Islam Indonesia. Letak problematiknya adalah, agama (tekstualitas Al-Qur’an) menyeru umatnya untuk berhukum dengan hukum Allah, akan tetapi negara (sekalipun mayoritas penduduknya beragama Islam) dalam perundangannya justru tidak menggunakan hukum (Syari’at) Islam, melainkan UUD 1945. Bagaimanakah HAMKA -sebagai seorang muslim Indonesia- merespon dan menjawab problematika tersebut? Melalui telaah penafsirannya terhadap ayat-ayat penerapan hukum Allah dalam Tafsir al-Azhar, diperoleh jawaban bahwa umat Islam memang, semuanya wajib menerapkan hukum Allah, akan tetapi Indonesia (negara bangsa) adalah bentuk terbaik untuk umat Islam Indonesia. Negara ini menjamin setiap warganya bebas melaksanakan ajaran agama dan kepercayaannya masing-masing, prinsip ini tidak bertentangan dengan spirit hukum Islam ‘mendatangkan manfaat dan menolak bahaya’. Dengan ini umat Islam bisa menjadi muslim yang baik, sekaligus menjadi warga negara yang baik pula
Resepsi Terhadap Alquran Dalam Riwayat Hadis
Pembacaan Alquran yang dilakukan oleh umat Islam tidak hanya bertujuan untuk beribadah atau kepentingan akhirat semata, akan tetapi juga memiliki kepentingan lain. Di satu sisi terdapat pembacaan yang bersifat formal-subtantif yaitu pembacaan yang dilakukan dalam konteks ibadah yang lebih berorientasi pada keuntungan atau pahala akhirat. Di sisi lain, pembacaan Alquran juga dilakukan secara fungsional yang orientasi keuntungannya lebih bersifat duniawi. Fenomena pembacaan Alquran dalam berbagai bentuknya ini masuk dalam salah satu bidang kajian living Qur’an atau resepsi Alquran. Dalam tulisan ini, peneliti akan berusaha melihat beragam resepsi dalam Alquran dengan menjadikan hadis sebagai objek formal penelitian. Dengan memetakan riwayat-riwayat tentang resepsi Alquran yang dilakukan oleh generasi awal Islam yang terekam dalam riwayat hadis, selanjutnya tulisan ini juga akan melihat proses transmisi dan tranformasi riwayat hadis sehingga sampai saat ini resepsi Alqurantetap eksis dan variatif