Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara
Not a member yet
    127 research outputs found

    Mitologi Naskh Intra Quranic (Studi Atas Q.S. Al-Baqarah Ayat 106 Aplikasi Teori Semiologi Roland Barthes)

    No full text
    Tulisan ini mencoba mengurai polemik tentang naskh dalam Alquran atau naskh intra Quranic. Dengan mengikuti cara baca yang ditawarkan Roland Barthes yakni melalui pembacaan atas sistem linguistik dan mitologi dapat dikatakan bahwa pada tataran sistem linguistik penanda atas term naskh adalah pembatalan dengan menandai adanya mansukh dan menjadi tanda akan adanya sesuatu yang baru yang lebih baik. Sementara pada tataran sistem mitologi dengan tanda pada sistem linguistik sebabgai penanda menandai tidak adanya ayat yang bertentang antara satu dengan yang lain dalam Alquran. Dalam pada itu term naskh pada tataran sistem mitologi menjadi tanda bahwa Alquran adalah kitab shalih li kulli zaman wa makan. Adapun sebagai tipe wicaranya dengan meniscayakan bahwa terdapat relasi antara wahyu konteks sosio-historis masyarakat arab pada saat itu

    Pandangan Abdullah Saeed Pada Konsep Nasikh Mansukh

    No full text
    Teori nasikh mansukh dari masa klasik hingga sekarang masih menjadi perdebatan antara ulama’ terkait kesepakatan dan penolakan. Dan di antara ulama’ yang sepakat adanya konsep nasikh mansukh dalam Alquran pun masing-masing memiliki kreteria sendiri-sendiri dalam menentukan konsep nasikh. Salah satu di antara ulama’ yang sepakat adalah Abdullah Saeed, beliau seorang mufasir kontemporer yang menawarkan metode baru dalam menafsirkan Alquran yakni metode kontekstualis sehingga pada makalah ini peneliti tertarik mengkaji konsep nasikh mansukh menurut Saeed, alasan Saeed sepakat dengan adanya konsep nasikh mansukh dan relavansi nasikh mansukh menurut Saeed dalam menafsiri dan memahami teks-teks Alquran. Hasil dari kajian ini, peneliti menemukan beberapa hal, yakni: konsep nasikh menurut Saeed adalah pencabutan hukum dengan hukum yang datang setelanya, alasan Saeed setuju dengan adanya nasikh mansukh dalam Alquran adalah sebagai bentuk kemudahan yang Allah berikan kepada umat sesuai dengan kondisi dan situasi kebutuhan umat, kemudian untuk relevansi nasikh menurut Saeed dalam menjadi pijakan untuk menafsiri ulang Alquran yang sudah tidak relevan agar bisa memenuhi kebutuhan umat yang sesuai dengan kondisi dan situasi

    Hubungan Kebudayaan Tafsir Indonesia Analisis Kisah Ibrahim dan Musa dalam Tafsir karya) )Mahmud Yunus, Hamka, dan M. Quraish Shihab

    No full text
    This study aims to reveal the relationship between cultural background of interpreter with the world of Alquran that is reflected in the interpretation of the story of Abraham and Moses. the research object are three interpretations Indonesia representing the first, second, and contemporary generation, namely The Interpretation of The Koran Karim works of Mahmud Yunus, Tafsir al-Azhar works of Hamka, and Tafsir al-Mishbāh works of M. Quraish Shihab. The methods to analyze the data used text analysis with explanatory analysis approach which describe the structure of the story in the books of tafsir studied and analyzed the correlation structure of the story to the cultural background of the interpreter. The results showed that all three books of commentary which analyzed had different patterns of cultural relations. Tafsir al-Azhar and the interpretation of the Koran Karim more often mentioned stories, religious system, and experiences pointing Indonesian background, while the al-Mishbāh interpretation is that at least mention the background of Indonesian cultural. In addition Tafsir al-Mishbāh also more just describe the common theme groups of verses by absurd and interesting contextuality at the Time of the Prophet, so that the story of Abraham and Moses are less contextual today

    Resepsi Estetik Terhadap Alquran pada Lukisan Kaligrafi Syaiful Adnan

    No full text
    Artikel ini menjelaskan hasil sebuah penelitian dalam bidang resepsi Alquran. Menyingkap dan mengungkapkan bagaimana teks Alqurán diterima dan direspon oleh seorang seniman lukis Muslim yang bernama Syaiful Adnan. Syaiful Adnan menekuni dunia seni lukis dengan menempatkan kaligrafi Alquran sebagai tema sentral dalam lukisannya. Ayat Alquran merupakan sumber inspirasi artistik sekaligus estetis bagi Syaiful Adnan untuk melahirkan karya-karya masterpiece-nya.Teks Alquran sendiri menawarkan sebuah ruang interpretasi yang dialogis kepada pembaca. Interaksi antara keduanya merupakan proses reproduksi makna di mana dalam proses ini subjektifitas pembaca sangat mempengaruhi proses pembacaan, meski tetap tidak dapat lepas seutuhnya dari struktur teks yang telah disusun sedemikian rupa untuk mengantarkan pemahaman pembaca. Makna (meaning) teks yang diterima Syaiful Adnan dilokalisir dalam benak dan dikonkretisasikan berdasarkan aspek estetis yang dialaminya kemudian diaktualisasikan dalam bentuk karya lukisan kaligrafi Alquran.Secara praktis Syaiful Adnan menemui proses aktualisasinya terjadi secara internal dan eksternal

    Pandangan Syafruddin Prawiranegara Terhadap Bunga Bank (Tinjauan Tafsir Kontekstual Indonesia Tentang Riba)

    No full text
    Syafruddin Prawiranegara adalah Ekonom Muslim unik, tidak pernah mengenyam madrasah, namun memiliki pandangan bahwa bunga Bank tidak bertentangan bahkan harus sesuai ajaran Islam. Pendapatnya ini menjadi pembeda dengan para ulama lain yang memandang bunga Bank itu riba. Menurutnya sistim ekonomi Islam dengan sistim ekonomi pada umumnya terdapat perbedaan. Perbedaannya terletak pada kebutuhan yang harus dipenuhi oleh ekonomi, perbedaan antara keperluan itu menyebabkan perbedaan pelaksanaan prinsip ekonomi, seperti adat kebiasaan, agama dan lain-lain. Motif ekonomi menurut Syafruddin adalah prinsip ekonomi itu relatif, maksudnya prinsip ekonomi bisa dipraktekkan sesuai dengan sebab tertentu yang mempengaruhinya. Pandangan Syafruddin terhadap bunga Bank dari kacamata modern-kontektualis, untuk mengidentifikasi makna sebuah lafal dalam sebuah ayat, dia perlu melihat lebih dulu kontek kata dan ayat tersebut, sehinga tidak terburu-buru mengidentifikasi riba sebagai bunga kredit atau pinjaman terutama oleh Bank. Menurutnya riba mirip dengan perdagangan, hanya saja karena terkandung kebatilan didalamnya maka ia diharamkan namun kata riba dalam ayat al-Qur’an tidak terkait dengan pinjaman dari lembaga keuangan seperti halnya Bank. Dengan kata lain, term riba lebih dekat dengan kontek transaksi jual beli ketimbang dengan transaksi pinjaman atau transaksi kredit dengan Bank yang notabene adalah lembaga keuangan modern. Pandangan Syafruddin ini banyak dipengaruhi oleh konsepsi kontektualis Fazlur Rahman dan Ahamad Hassan

    Potret Tafsir Ideologis di Indonesia; Kajian Atas Tafsir Ayat Pilihan Al-Wa'ie

    No full text
    Kajian tafsir di Indonesia selalu mengalami perkembangan. Berbagai karya tafsir dengan variasi metode hingga coraknya lahir di Nusantara.Tafsir Ayat Pilihan al-Wa’ie merupakan tafsir yang ditulis oleh seorang aktivis Hizbut Tahrir; sebuah gerakan yang mengusung misi penegakan kembali khilafah Islamiyyah, sehingga tafsir ini banyak mengangkat  tema-tema yang bersinggungan dengan misi penegakan khilafah Islamiyyah, dan cenderung sangat ideologis.Penulis menggunakan pendekatan tekstual dalam memahami ayat-ayat Alquran dan cenderung anti realitas.Di antara tujuan penulisan tafsir ini adalah mengkritisi pemahamanpemahaman orang Islam mengenaiayat-ayat Alquran, yang dinilainya sudah terkontaminasi dengan gagasan-gagasan barat yang merusak, seperti gagasan HAM, pluralisme agama, kebebasan beragama, dan lain-lain. Berdasarkan struktur epistemologinya, tafsir ini tergolong tafsir era afirmatif dengan nalar ideologis

    Living Qur'an di Tanah Kaili (Analisis Interaksi Suku Kaili Terhadap Alquran dalam Tradisi Balia di Kota Palu, Sulawesi Tengah)

    No full text
    Artikel ini mengelaborasi tentang living qur’an di Tanah Kaili dengan fokus kajian analisis interaksi masyarakat suku Kaili dengan Alquran dalam tradisi pengobatan Balia. Kajian ini sangat penting karena tradisi Balia merupakan ritual lokal suku Kaili yang sangat kental dengan nuansa mistis dan animisme. Di sisi lain, Alquran dalam prosesi Balia tersebut mengambil peran yang sangat besar. Melalui penelitian kualitatif, penulis ingin mendalami bagaimana bentuk interaksi mereka serta apa motivasi di balik perilaku tersebut. Dengan demikian, penulis menganalisis perilaku masyarakat dengan teori sosial seperti teori polarisasi interaksi Farid Esack, teori mitos M. Arkoun, serta teori van Voorst. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi masyarakat Kaili dengan Alquran dalam tradisi Balia nampak dalam tiga fase, yaitu di awal Balia, di tengah dan di akhir Balia. Sementara interaksi tersebut selain didasari semangat keislaman, juga acapkali sebagai bentuk adaptasi dan asimilasi nilai-nilai Alquran ke dalam tradisi. Adapun ketegorisasi mereka dari pemahaman dan perilaku terhadap kitab suci Alquran termasuk pencinta tidak kritis (the uncritical lover) dalam konsep Farid Esack, serta termasuk pengguna kognitif dalam kondisi tertentu dan di saat yang lain ia termasuk pengguna non-kognitif dalam teori van Voorst

    STUDI MUSHAF POJOK MENARA KUDUS: SEJARAH DAN KARAKTERISTIK

    No full text
    Tulisan ini mengkaji mushaf Alquran yang dicetak oleh salah satu penerbit mushaf tertua di Jawa Tengah, yang biasa dikenal dengan Mushaf Pojok Menara Kudus dari aspek sejarah penulisan dan karakteristik yang mencakup tanda baca, harakat, penentuan nama dan status surah, tanda waqf, dan lain-lain.Dalam penelitian ini penulis mengumpulkan data melalui wawancara, penelusuran referensi yang berkaitan langsung maupun tidak dengan objek penelitian, baik primer maupun sekunder,serta melakukan komparasi dengan mushaf lain guna mencari titik perbedaan. Pada akhir tulisanini penulis menyimpulkan tahun pasti penerbitan perdana, master mushaf yang digunakan dan beberapa karakteristik mushaf ini yang berbeda dengan Mushaf Standar Indonesia maupun Mushaf Madinah

    Tafsir Sosial Media di Indonesia

    No full text
    The history of contemporary exegesis sees the integration between the Quran and exegesis and social media. A statistic shows the low reading rates of Indonesians while the reading activity is dominated by social media. It leads to an assumption that the social media exegesis is the one people read nowadays. This paper takes this phenomena into account within two main concerns: (1) how is the different ways people use their social media account for the Quran related content, and (2) how is the notion of the social media exegesis as a contemporary exegesis? The article ends to the conclusion that there are at least three different shapes of the social media exegesis: textual, contextual, and tafsīr `ilmī. It marks the rise of semantic function of the Quran among the people and the shift of authority of exegesis. There are three causes for it: the platform of social media, the availability of the Quran translation, and the paradigm of al-rujū` ilā al-qur`ān wa al-sunnah

    Membaca Sirah dengan Alquran, Membaca Alquran dengan Sirah

    No full text
    Kehadiran buku ini menjadi ‘angin segar’ bagi pegiat sejarah kenabian (sirah nabawiyyah) Muhammad SAW sekaligus pegiat ilmu tafsir Alquran. Pasalnya, jika berbicara mengenai sejarah dalam litaratur yang berbahasa Indonesia, akan didapati seperti karya Ibnu Hisyam dan Ibnu Ishaq, dengan sistematika yangditebali oleh riwayat-riwayat (baca: hadis). Namun, dalam buku yang ditulis oleh Aksin Wijaya ini adalah sebuah bentuk penjelasan dari sirah yang ditulis oleh Izzat Darwazah dalam karya nya yang berjudul Tafsir al-Hadis. Tafsir al-Hadis adalah sebuah tafsir Alquran yang menggambarkan sirah Nabi Muhammad dengan menggunakan sistematika tartib an-Nuzuli Alquran. Hal ini untuk melacak sejarah Nabi dengan mengikuti alur kronologi turunnya Alquran, yakni dari surat al-Alaq hingga wahyu terakhir turun. Bukan dari sistematikatartib mushafi, yakni dari al-Fatihah hingga An-Nass. Oleh sebab itu, hal ini juga menarik perbincangan dikalangan para pegiat tafsir Alquran. Sebab mayoritas tafsir Alquran ditulis dengan merujuk pada sistematika tartib mushafi. Aksin Wijaya, tercatat sebagai dosen STAIN Ponorogo dan STAIN Kediri. Lahir di Sumenep, 1 Juli 1974. Studi S2 dan S3 nya ia tempuh di Universitas Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ia merupakan dosen dengan segudang karya. Beberapa penghargaan diraihnya seperti juara 2 dalam Thesis Award yang didakan oleh Kemenag RI pada tahun 2006 juga sebagai juara 2 dosen teladan Nasional dalam bidang Islamic Studies yang diadakan oleh Kemenag RI, pada tahun 2015. Ia memiliki 15 karya tulis dalam bentuk buku dan terjemahan, di antaranya ialah Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan: Kritik atas Nalar Tafsir Gender (Yogyakarta: Safiria Insania, 2004), Arah Baru Studi Ulum Alquran: Memburu pesan Tuhan dibalik Fenomena Budaya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), Teori Interpretasi Alquran Ibnu Rusyd: Kritik Ideologis-Hermeneutis (Yogyakarta: LKIS, 2009), Problematika Pemikiran Arab Kontemporer, terjemahan dari Isykaliyat al-Fikr al-Arabi Al-Muasyir karya Muhammad Abid al-Jabiri, filsuf asal Maroko, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015). Sedangkan karya dalam benuk artikel jurnal Ilmiah tercatat sejumlah 31 karya. Mayoritas artikel-artikel tersebut di bidang studi Islam, baik sejarah, hukum, tafsir, Alquran, maupun pemikiran Islam secara umum. Perjalanan hidupnya dengan karya yang melimpah.Jika dilihat dari reputasi dan kapasitas keilmuannya, maka dalam hal ini, ia merupakan seorang yang kompeten ketika berbicara sejarah wacana dan tafsir Alquran. Buku Sejarah Kenabian: Dalam perspektif Tafsir Nuzuli Muhammad Izzat Darwazah ini ditulis atas dorongan pribadi dengan melihat wacana tafsir Alquran yang berkembang di Indonesia. Terutama dalam segi sistematika penulisan tafsir pada umumnyaditulis berdasarkan tartib mushafi. Oleh karena itu, Aksin tertarik untuk mengkaji sejarah kenabian dalam tafsir Izzat Darwazah tersebut, yang dirasa unik. Sumber-sumber yang ia gunakan dalam hal ini yakni sumber-sumber primer dan sekunder. Ia merujuk langsung dari karya-karya Izzat darwazah, seperti al-Tafsir al-Hadis, Sirah ar-Rasul: Suwar Muqtabasah min Alquran, ‘Ashr al-Nabi wa Baiatuhu Qabla Bi’tsah, dan lain-lain. Sedangkan mengenai wacana tafsir Nuzuli ia juga merujuk langsung terhadap karya Muhammad Abid al-Jâbiri, Fahm al-Qur’ân: at-Tafsir al-Wadh Hasb Tartib an-Nuzul, Ibnu Qarnas, Ahsan al-Qashshash dan Tarikh Alquran karya Thodore Noldeke.Jenis buku (kind of book) ini tergolong pada buku tentang sejarah. Sebuah buku ilmiah yang disajikan dengan penuh analisis. Oleh karena itu, buku ini sangat direkomendasikan untuk para peneliti, mahasiswa, maupun dosen pegiat sejarah Islam awal. Dalam pengantar buku ini, dijelaskan bagaimana Aksin mencari karyakarya Izzat darwazah, selama bertahun-tahun, dari Mesir hingga ke Maroko. Rencana awal penelitian ini akan dianalisis secara kritis, namun diubah dengan analisis deskripif. Hal ini disebabkan karena karya-karya Izzat Darwazah termasuk karya-karya yang ditinggalkan, hanya segelintir orang yang menelitinya. Selain itu, karya-karya yang ditulis oleh Izzat Darwazat ditulis oleh menurut Aksin ditulis secara berkaitan dan sistematis. Keterkaitan antara sejarah dan tafsir merupakan titik tolak Aksin untuk menggali lebih dalam karya-karya lebih dalam pemikiran Izzat Dawazah ini.Al-Tafsir al-Hadis karya Izzat Darwazah ditulis dengan sistematika tartib nuzuli, tentu saja sistematika ini bisa menimbulkan kontroversi. Pasalnya, pernyataan bahwa mushaf Alquran disusun secara tauqifi dan tafsir ada sebuah tafsir yang disusun dengan tartib nuzuli, Aksin menjelaskan jika tafsir dengan metode temaik (maudhu’i) dibenarkan maka tentu saja tafsir dengan semacam ini juga dapat dibenarkan. Izzat Darwazah sendiri membedakan, antara Alquran sebagai objek bacaan, yang sudah semestinya dibaca dengan sesuai dengan tartib ustmani dan sebagai objek tafsir, yang mengandung nilai dan seni untuk dikaji, sehingga tidak ada hubungannya antara bacaan dan tartib Alquran. Dari sini dapat disimpulkan bahwa karya yang ditulis Aksin ini menemukan bahkan mendorong untuk memicu adanya ide baru (logic of discovery) dalam pasar raya intelektual indonesia, bahwa membaca membaca sirah kenabian bisa dilakukan dengan cara mengikuti arus kronologi turunnya Alquran.Adapun sturktur bahasan (method of organization), disusun dengan sangat sistematis dan logis. Buku ini terdiri dari enam bab. Bab pertama berisi pendahuluan dan kerangka teori. Bab dua, berisi mengenai biografi intelektuan Izzat Darwazah. Bab tiga, berisi tentang metode tafsir nuzuli Izzat Darwazah. Pada bab ini Ia terlebih dahulu menjelaskan metode tafsir nuzuli dari beberapa tokoh, baik dari  Muslim (insider) mapun non-Muslim (outsider). Hal ini ditujukan untuk memahami ideal tafsir Alquran dan menafsirkan sejarah kenabian Muhammad. Pada bab keempat, berisi inti pembahasan sejarah kenabian Muhammad pespeksif tafsir nuzuli. Kemudian pada bab terkahir, enam,berisi kesimpulan sekaligus saran untuk peneliti selanjutnya. Buku ini dilengkapi tabel susunan Alquran mushafi dan nuzuli, antara mushaf ustmani, Theodore Noldeke, Muhammad Abid al-Jabiri, Ibnu Qarnas, Khattat Qudur Ugly, dan Muhammad Izzat Darwazah. Hal ini sangat membantu untuk melihat perbandingan susunan Alquran nuzuli antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Buku ini juga dilengkapi glosairum dan indeks, yang bisa membantu pembaca untuk memahami istilah-istilah yang jarang digunakan dan tokoh yang belum dipahami. Menengei kualitas penulisan (quality of writing), buku ini kemas dengan format baik, terstruktur secara sistematis sebagaimana baiknya karya ilmiah. Dilengkapi juga dengan trasliterasi, pilihan kata (diksi) yang baik sehingga tidak mengulang-ulang, catatan kaki untuk mempermudah pembaca, serta daftar pustaka. Aksin juga mengatakan bahwa tema bahasan ini juga memberi ruang untuk dianalisis kembali (further research) karena buku ini hanya menyajikan sejarah objek kenabian dalam pandangan Izzat Darwazah, selebihnya kajian kritis terhadap sejarah kenabian Muhammad dipersilahkan kepada peneliti selanjutnya.Oleh karena itu, Aksin banyak menginspirasi penulis untuk meneliti lebih lanjut tentang sejarah kenabian dalam tafsir-tafsir yang ditulis secara nuzuli. Buku ini amat penting untuk dikonsumsi oleh para pegiat sejarah dan atau tafsir Alquran. Penilaian umum (overall-judgement) dari buah karya Aksin Wijaya ini, ialah sebuah karya sejarah objektif yang mengantarkan kita terhadap diskusidiskusi menarik selanjutnya, hasil-hasil kreatif dari setiap analisisnya memberikan catatan penting mengenai sejarah Islam awal. Menurut saya, karya sejarah kenabian perspektif tartib nuzuli berbahasa Indonesia yang cukup panjang dan lengkap, sehingga informasinya akan memenuhi kebutuhan para peneliti, dosen, maupun mahasiswa

    0

    full texts

    127

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇