Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara
Not a member yet
    127 research outputs found

    Tafsir Alternatif Non- Homofobik AL-Razi Terhadap Ayat-Ayat ‘Terkait’ Sejarah Homoseksualitas Dalam Alquran

    No full text
    Artikel ini hanya ingin membawa satu dari dua tafsir al-Razi terhadap al-A’raf (7):80 dan al-‘Ankabut (29):28—dua ayat Alquran yang dipahami berbicara tentang homoseksualitas, ke permukaan dan mengelaborasi kekuatan argumennya dari sisi linguistik dan sastra. Tafsir ini kemudian saya sebut tafsiralternatif al-Razi terhadap isu tersebut. Tafsir ini memungkinkan adanya homoseksualitas di era-era sebelum masa hidup Nabi Luth. Dengan kata lain, tafsir ini tidak berusaha menolak (kemungkinan) homoseksualitas di masa awal sejarah, dan oleh karenanya, eksistensi historis homoseksualitas. Karakter tafsir semacam inilah yang membuat saya menyebutnya tafsir nonhomofobik terhadap ayat-ayat (yang dianggap berbicara tentang) sejarah homoseksualitas. Tujuan kedua artikel ini adalah menguji kekuatan argumen tafsir alternatif non-homofobik ini dari sisi linguistik dan sastra—yang terakhir ini terbatas pada aspek sastra kisah dalam Alquran, mengingat dua ayat tersebut adalah bagian dari kisah. Elaborasi ini memusatkan diri pada tiga kata yang sama-sama ada dalam dua ayat tersebut; sabaqa (mendahului),bi (dengan—makna asal), fahisyah (yang buruk). Dari sisi linguistik, penggunaan kata sabaqa yang menggunakan bi sebagai penghubungnya dengan objek berupa kata sifat jarang sekali (untuk tidak mengatakan tidak pernah) dilakukan oleh masyarakat pengguna Bahasa Arab. Oleh karena itu, pemaknaannya tidak bisa disamakan, atau dengan kata lain, harus ditakwilkan. Hasil takwilfrasa ini menyamakan makna bi (yang asalnya bermakna dengan)dengan fi (yang bermakna dalam)—penggunaan umum dalam masyarakat pengguna Bahasa Arab. Pemaknaan utuhnya tidak mengarah pada “mengawali” seperti umumnya makna sabaqa, tapi “melebihi”. Dari sisi sastra, Alquran kelihatan ingin seolaholah mencela homoseksualitas dengan memutus akar historisnya dengan sejarah manusia, mengatakannya tidak setua sejarah manusia. Karena hanya seolah-olah, Alquran tidak melakukanitu. Ia ingin mengatakan bahwa perilaku homoseksualitas yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth sudah keterlaluan, dan oleh karenanya harus dihentikan. Konsekuensi logisnya, Alquran tidak mengatakan sebelum kaum Nabi Luth tidak ada homoseksualitas, dan oleh karenanya kemungkinan akan hal itu masih ada. Selain itu juga dimungkinkan ada perilaku homoseksualitas yang tidak keterlaluan, dan karenanya tidak dilarang (untuk tidak langsung mengatakan diperbolehkan)

    The ‘Discovery of Writing’ in The Qur’an: Tracing An Epistemic Revolution in Late Antiquity

    No full text
    The present article is to take the Qur’an seriously as a literary text, the first literary text in Arabic language to be almost immediately put to writing and thus to become the trigger of the Islamic “culture of the Book” that soon after was to emerge. To enter the discourse of the Qur’an as a literary text demands first of all to tackle the essential question what the Qur’an is in terms of genre: a compilation of diverse previously circulating traditions, or the transcript of a historically real drama of the emergence of a community. This paper wishes to enter the discussion from another angle, looking at the Qur’an from a perspective which makes it possible to focus its epistemic potential, the dynamics that eventually triggered a fundamental renewal of the Late Antique world. This is a cultural turn which was achieved through the Qur’anic negotiation and re-interpretation not only of the neighboring monotheist traditions but no less of the ancient Arabic lexicon of concepts

    مواقيت النزول )دراسة تحليلية حول الليلي من آيات القرآن(

    No full text
    الليلي و النهاري هو أحد التقسيمات المتعلقة بزمن نزولآيات القران، و قد اكتقى أكثر العلماء بذكر أمثلة لها في كتبعلوم القرآن دون دراستها. يحاول هذا البحث دراسة العلاقةبين مضمون أو موضوع الآية بوقت نزوله ليلا من ناحية، ونفسية المتلقي أو المخاطَب من ناحية أخرى. فهل توجد علاقةبين الثلاثي: مضمون الآيات القرآنية، وقت الليل و خصائصه، وسيكلوجية المتلقي أو المخاطب، و هل كانت هناك مواضيعخاصة في الآيات الليلية، كما هو الحال في مبحث المكي و المدنيفي القرآن. تبين في هذا البحث أن أكثر الآيات الليلية كانت لهاعلاقة بالدعوة للتفكر و التدبر في آيات الله الكونية، و بالأحوال النفسية للمخاطبين و ما يدور في خَلَد النبي و الصحابة كمجتمعأول متلق للقرآن

    Indonesia Modern Sebagai Konteks Penafsiran: Telaah Metodologi Penafsiran Alquran Nurcholish Madjid (1939-2005)

    No full text
    Nurcholish Madjid (1939—2005) merupakan seorang pemikir neo-modernis Muslim terkemuka dan berpengaruh di Indonesia. Dalam membangun pemikirannya, ia menekankan perlunya kembali kepada Alquran dan hadis sebagai metodologinya. Namun demikian, pemikirannya sering menimbulkan kontroversidi kalangan umat Islam Indonesia. Untuk itulah, pemikiran Nurcholish yang didasarkan kepada ayat-ayat Alquran —patut diduga—menyiratkan metodologi penafsiran yang berbeda dengan para pemikir lainnya. Dalam artikel ini, penulis berupaya merekonstruksi struktur metodologi penafsiran Alquran Nurcholish, posisinya dalam keilmuan tafsir, dan manfaatnya bagi pengembangan tafsir di Indonesia. Dalam kajian ini, penulis menemukan bahwa struktur bangun metodologi penafsiran Alquran Nurcholish bersifat eklektik: memanfaatkan pendekatan tekstual yang sudah mapan dalam metodologi penafsiran kaum  Sunni dan pendekatan kontekstual yang digagas oleh banyak pemikir pembaruan pada era modern

    Studi Tafsīr Jalālain di Pesantren dan Ideologisasi Aswaja

    No full text
    This article discusses Tafsi>r Jala>lain as a literature to process Aswaja ideologization in the pesantren milieu. It is the first Islamic literature introduced by Java-Muslim scholars in the institution. The motivation is not only technical (simple description) so that Indonesian Muslim can easily understand the Qur’anic interpretation, but also ideological one. To embed the ideology Tafsi>r Jala>lain were utilized because it describes ideological interpretation of Ahlus Sunnah wal Jamaah, the primary and selected ideology among figures of pesantren. About theology it refers to Asha’iran school and regarding fiqh (Islamic Jurisprudence) it points to Shafi’ian. There are two mothods to embed the ideology to the community of pesantren mil1ieu through Tafsi>r Jala>lain: First, orally, bandongan by reading or teaching it to the students. Second, literally, by translating the Tafsi>r into the local language (Indonesian, Javanese, Maduranese and Sundanese). In turn, Aswaja ideology was rooted in the pesantren and ascertained by Nahdlatul Ulama (NU) organization founded in 1926

    Hermeneutika Pesantren: Eksplorasi atas Pandangan Kyai Pesantren Terhadap Hermeneutika Sebagai Manhaj Tafsir

    No full text
    Penelitian sederhana ini berawal dari fakta yang menyebutkan bahwa kajian tafsir–apalagi tafsir kontemporer—di dunia pesantren belum sedominan fiqh, tasawuf dan ilmu alat, maka penulis beranggapan bahwa minimnya karya atau penelitian yang berkonsentrasi pada kajian dan respon pesantren terhadap tafsir kontemporer berawal dari sikap spekulasi “kebanyakan orang” yang menganggap bahwa kebanyakan pesantren tidak mengkaji apalagi merespon pemikiran tafsir kontemporer, sehingga penelitian tentang tafsir kontemporer dilingkungan pesantren dinilai sebagai penelitian yang sia-sia. Akan tetapi tidak demikian bagi penulis, karena penulis menemukan tidak sedikit kyai, ustadz atau pimpinan pesantren yang secara intens dalam pengajian tafsir yang mereka lakukan selalu menyinggung dan merespon isu-isu kontemporer. Spekulasi tersebut berlanjut ketika kebanyakan kyai menolak hermeneutika sebagai manhaj tafsir, dibuktikan dengan penolakan para kyai terhadap hermeneutika sebagai salah satu metode istinbāṭ al-ḥukm dalam komisi bahtsul masa’il pada Muktamar NU XXXI di Boyolali, Solo. Akan tetapi dari penelitian ini, didapatkan data bahwa pesantren memiliki potensi yang luar biasa dalam pengembangan tafsir kontemporer termasuk kebijakan para kyainya dalam merespon hermeneutika sebagai manhaj tafsir. Pada intinya adalah kecerdasan dalam memilah, mana konsep hermeneutika yang dapat digunakan dalam penafsiran Alquran dan mana yang tidak dapat digunakan, sehingga persandingan hermeneutika dengan berbegai manhaj tafsir yang telah digagas oleh para ulama Alquran bahkan semakin memperkaya khazanah kajian Alquran di pesantren

    Memahami Maksud dan Cita-Cita Tuhan

    No full text
    Usaha umat Islam untuk memahami maksud kalam Allah (Alquran) telah memunculkan kajian epistemologi dan tradisi penafsiran yang berproses cukup panjang sejak periode awal paska wafatnya Nabi Muhammad. Tradisi ini berproses dengan corak beragam refleksi dari kecenderungan ideologis, sosial, politik dan kultur penafsir. Setidaknya ada dua terma—dengan konsekuensi epistemologis masing-masing—yang digunakan orang untuk makna memahami ayat-ayat Alquran, yakni “tafsir” dan “takwil”. Tulisan ini berusaha mengulas diskusi epistemologis penafsiran kontemporer yang mengadopsi konsep-konsep lama dalam bidang tafsir dan ushul fiqh, namun menggunakannya untuk menghadirkan penafsiran kontekstual Alquran masa kini. Makalah ini menyoroti sejauh mana artikulasi baru konsep penafsiran lama mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan keislaman masa kini seperti universalitas dan partikularitas ajaran agama, isu-isu kebudayaan dan juga adat

    Ta’wil Muḥammad Syaḥrūr atas Al-Qur’ān

    No full text
    This article examines the thinking of Muḥammad Syaḥrūr, especially on the ta’wil methodology. In this case, ta‘wil as one method to uncover the mystery and tremendous potential in the Qur‘an (especially mutashabihat verses), still holds endless polemics up to now. On the one side, this method is applied rigorously, moreover regarded as something bad. On the other side, some people applying this method are too easy and ever ignore the structure of the text and give priority for interpreter intuitive awareness. The activity of ta’wil only brings verses to soar metaphysical reality and not much in giving the social problems solving. However, in this study, I will introduce the methodology of ta‘wil by Muḥammad Syaḥrūr, using the historis-philosophical and hermeneutical approach. For him, ta’wil is not only bring verses in the metaphysical region, but also the empirical reality of the region, that is not done by many interpreter generally

    Studi atas Tafsīr Jāmiʿ Al-Bayān Min Khulāṣat Suwar Al-Qurʾān Karya Muḥammad Bin Sulaimān Bin Zakariya Al-Solowī

    No full text
    Jika dibandingkan dengan dunia Islam di Timur Tengah, kaum muslim di Indonesia sebagai umat tergolong masih muda. Ketika ia dianggap masih muda, maka dari sisi warisan intelektual Islam pun tidaklah bisa dibandingkan dengan umat Islam yang tergolong sudah tua peradaban Islamnya. Namun, walaupun masih tergolong muda, tidaklah dapat dipungkiri bahwa umat Islam di Indonesia telah menghasilkan sejumlah karya intelektual yang patut dihargai. Di antara karya intelektual itu adalah tafsir Jāmi‘ al-Bayān min Khulāṣati Suwar al-Qur’ān karya Muhammad bin Sulaiman bin Zakarya al-Solowi Artikel ini mengkaji tafsir Jāmi‘ al-Bayān dengan memfokuskan kajiannya pada empat aspek yaitu penamaan tafsir, aspek teknis penulisan tafsir, aspek hermeneutika dan genealogi. Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa tafsir Jāmi‘ al-Bayan walaupun ditulis pada masa modern namun secara umum isinya tidak jauh berbeda dengan tafsir ulama klasik yang dirujuk penulis dan disebutkan dalam muqaddimah-nya. Perbedaannya, tafsir Jāmi‘al-Bayān mengeksplorasi intisari makna secara ringkas denganpoint-point dari ayat-ayat yang dikelompokkan

    TAFSIR ALQURAN DAN KEKUASAAN POLITIK DI INDONESIA (Persfektif Analisis Wacana Dan Dialektika)

    No full text
    Dinamika yang diperlihat kan dalam disertasi ini setidaknyamemberkan wawasan khazanah kajian Alquran yang sangat beragam.Alquran berdialektika dengan ragam domain, salah satunya domainkekuasaan. Dalam konteks kekuasaan, di indonesia sejarah tafsirAlquran telah melewati fase unik dimana ia diperlakukan olehpenguasaan dan penderita, sebagaimana juga halnya yang dialamioleh Farid Esack di Afrika Selatan. Ada banyak yang dapat di kajidari dialektika tafsir Alquran dengan praktik rezim orde baru.Diantaranya; latar belakang mufassir yang beragam, mulai dari ahliagam hingga ahli ekonomi. Identitas mufassir yang beragam, mulaidari akdemisi hingga politisi. Dan media tafsir yang beragam, mulaidari ceramah islami hingga publikasi televisi

    0

    full texts

    127

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇